Ilusi

Ilusi
BAB 37 (Part 2)


__ADS_3

"Ra, kamu di mana?" batin Greysie.


Beberapa saat kemudian, tiba di sekolah tepatnya di kelas 12 A. Mata Greysie melirik sekitar, mencari keberadaan seseorang yang ia tunggu-tinggu. Siapa lagi kalau bukan diriku karena setelah aku di penjara selama 2 minggu, kemudian di bebaskan sekitar 1 minggu yang lalu, aku langsung menghilang bagai di telan bumi, seperti tak ada tanda-tanda dari diriku.


Greysie juga telah meminta bantuan dari Hendry, namun ia tetap tak bisa menemukan keberadaanku. Sedangkan Rasya dan Heafen juga sibuk mencariku dengan cara mereka sendiri. Bibi dan Lia sudah tak bisa di pungkiri, mereka masih diliputi perasaan sedih yang mendalam serta cemas akan keadaanku.


Di dalam kelas, guru segera membagikan soal ujian pada seluruh siswa di bantu oleh ketua kelas kami. Riska, Alfie dan Greysie bersamaan melirik tempat dudukku yang kosong. Sementara itu, aku berjalan pelan ke arah kelasku.


"Permisi bu. Maaf saya terlambat" sapaku pelan, membuat seluruh siswa di dalam kelas terfokus padaku. Sedangkan Greysie langsung berdiri sambil melihatku.


"Ra" ucap Greysie lirih, bernapas legah.


Seluruh siswa/siswi di kelas malah menjadi sangat berisik, mereka berbisik bagai pasar malam.


"Greysie, kamu ngapain berdiri? Ujian sebentar lagi akan dilaksanakan. Kamu duduk, kalian juga ssstt... Diam. Sekarang saatnya ujian" ujar Guru cewek berkacamata.


"Cara kamu silahkan masuk" ucap Guru, mempersilahkan.


Kemudian aku berjalan pelan ke tempat dudukku, sedangkan semua siswa masih terfokus padaku. Aku hanya diam dengan ekspresi datar, tak ingin melihat sekitar dan tak mau peduli.


"Ra, kamu dari mana aja? Aku cariin kamu" bisik Greysie, melihatku.


Sedangkan aku tak memedulikannya. Riska juga ingin bertanya, namun aku melirik pelan guru yang duduk di depan kelas sambil mengeluarkan headsed bluetooth, lalu segera memutar musik dengan volume 99%. Karena aku masih saja mendengar suara, aku lalu menaikan lagi volume musik menjadi 100%, guru tak tau, aku juga tak begitu peduli.


Beberapa jam pelaksanaan ujian. Bell istirahat pun berbunyi, aku langsung berdiri dan mengumpulkan lembar jawabanku di atas meja guru tersebut. Greysie segera mengejarku, tangannya berusaha memegangku. Namun, tanpa melihat dirinya aku selalu menghindar sehingga membuat Greysie belum juga bisa menyentuh apalagi sampai memegang tanganku.


"Ra, Raa. Ra tunggu. Tunggu Ra, kita perlu bicara. Ra, Ra tunggu" panggil Greysie, sedang aku mengabaikan.


Greysie terus mengejarku sampai ke tempat yang sunyi. Setelah itu, ia menghentikan pergerakanku dengan cara memeluk erat aku dari belakang. Aku hanya diam membiarkan dirinya sampai ia merasa capek sendiri, lalu aku segara pergi meninggalkan dirinya lagi. Namun Greysie langsung berada di depanku untuk menghalangi, sedang aku tak mau melihat wajahnya, terus berpaling melihat ke arah yang lain.


"Ra, maafin aku. Maafin aku pliss, maafin aku. Maafin aku, maafin aku. Maafin aku Ra. Maafin aku, aku minta maaf. Maafin aku" ucap Greysie lirih, memeluk dari depan sedang air matanya terus menetes.


Sementara aku tak membalas pelukannya dan hanya diam dengan ekspresi biasa seakan tak mau peduli, dan tak mau tau.


"Raa, maafiin aku. Pliss maafin aku. Aku gak mau kamu hilang respect gini ke aku. Jangan gituin aku Ra, aku tau aku jahat, maafin aku" ujar Greysie memegang kedua lenganku.


Sedangkan aku hanya melihatnya dengan ekpresi biasa. Mulutku juga selalu terkunci, lalu aku pergi meninggalkan Greysie lagi. Sehingga membuat Greysie langsung terjongkok sambil menangis terseduh-seduh.


Sementara itu, di dalam kelas. Riska menyadari jika aku dan Greysie sedang bertengkar. Ia teringat saat aku masih berada di rumah sakit saat itu.


Flashback, di rumah sakit saat itu. Riska datang untuk mengunjungiku. Ia melihatku berbaring membelakangi Greysie.


"Ra...?" panggil Riska.


Sementara Greysie hanya berdiri melihat kami. Wajahnya terlihat datar, lalu Riska melirik Greysie dengan tatapan marah.


"Ra, ini gue Riska" ucap Riska.


Aku masih tak mau berbalik badan, kemudian Riska melangkah untuk melihatku dari arah depan. Ia melihat tanganku di borgol dan terdapat bekas memerah di pergelangan tanganku.


"Ra, lo kenapa?," mepirik tanganku, "Tangan lo luka Ra, lo kenapa? Lo marahan sama Grey?" tanya Riska.


Aku bangun dari baringku karena Riska duduk di tempat tidur, ia melihat mataku bengkak karena terus saja menangis. Lalu bibirku gemetar menahan tangis sedang air mata kiriku menetes sampai aku menangis lagi.


"Pliss bunuh aku sekarang... Aku gak mau hidup lagii.... Plis bunuh aku..." pintaku dengan tangisan pada Riska.


Riska lalu melirik Greysie dengan wajah marah. Ia pun beranjak dari tempat tidur dan memegang kerah baju Greysie sampai membuat belakang Greysie membentur dinding.


"Lo apain Cara hah?! Lo apain Cara sampai dia gak mau hidup lagi?!" tanya Riska, emosi.


Sementara aku yang melihat mereka berusaha untuk menarik-narik tanganku lagi yang sedang terborgol tersebut.


"Jawab anj*ng!" cela Riska, sedang tangannya berada di atas mengancam akan memukul Greysie.


Sementara wajah Greysie nampak datar. Ia tak merespon apapun.


"Hnhuhuu... Kaa... Riska berhentii... Udah... Jangan lakuin hal ituhuhuu..." larangku, lirih dan makin menangis.


"Lo kenapa nuduh Cara yang udah ngebunuh bokap elo hah?! Dia itu sahabat lo gila! Tega banget sama sahabat sendiri. Kalau lo gak mau ngurusin Cara lagi biar gua aja! Lo bener-bener keterlalian! Buat gua emosi aja. Atau lo sengaja bohong soal cctv di rumah Cara? Udah jelas si Cassie punya videonya, masa lo lebih percaya sama dia di banding sahabat lo sendiri. Sinting kali lo!" maki Riska, emosi.


"Riskaahahaaa.... Hudahh....," ujarku, menarik-narik tanganku.


"Lo masih belain dia ini Ra?! Dia itu udah jahat banget sama elo!" ujar Riska.


"Lo sebaiknya jangan ikut campur. Ini urusan gua sama Cara" ujar Greysie, dengan wajah datar khas miliknya yang dingin.


Plakk......!


Tamparan keras melayang di wajah Greysie. Hal itu membuat Greysie tak kalah emosi. Ia pun ingin mengambil pisau dari kantung celananya.


"Greymm... Aku mohon..., aku mohonnn.... Aku mohon jangan lakuin hal ituhuhuu.... Aku mohon Grey.... Grey huhuuu...." ujarku, berusaha untuk turun dari tempat tidur namun malah terjatuh.


Brakk....!


Sementara itu, lengan tangan kiriku mengeluarkan darah akibat terus tergeser borgol. Aku terus menangis sampai terseduh-seduh. Sementara Riska segera menghampiriku dan Greysie berusaha untuk menahan dirinya sendiri.


"Ra, Ra... Kamu gak pp? Aku bantuin, aku bantuin...." ujar Riska, membantuku berdiri.


Setelah membantuku berbaring di tempat tidur. Riska berusaha untuk menenangkan aku karena aku terus saja menangis.


"Maafin gue, Ra. Lo tenang aja, mulai sekarang gue yang bakalan jagain lo" ujar Riska.


Sementara itu, aku terus saja menangis dan Riska mengelap air mataku. Sedangkan Greysie ia hanya berdiam diri dan membiarkan Riska.


Besoknya, sampai beberapa hari di rumah sakit. Riska selalu datang, dan ia selalu menyuapiku bubur meskipun hanya beberapa sendok saja. Sementara Greysie membiarkan hal itu karena jika ia yang menyuapiku aku tak mau memakannya.


Saat ini, Riska tersadar dari lamunannya. Ia lalu bersender di kursi dan mendongak untuk melihat plafon kelas.


"Hmmff... Gue juga harus ngomong sama Cara. Dia udah seminggu lebih menghilang. Apa perlu gue halangin Grey? Dia udah keterlaluan banget sama Cara. Sekarang saat semuanya udah terbukti kalau Cara bukan pelakunya baru dia ngejar-ngejar Cara. Pasti mau minta maaf, hnh.. Lebih baik lo gak perlu maafin dia Ra" batin Riska.


Beberapa saat kemudian. Bell pulang berbunyi. Kami pulang ke rumah masing-masing. Dan aku segera melaju dengan motor milikku, sementara Greysie juga mengejarku menggunakan mobilnya.


Beberapa saat kemudian, setelah sampai di rumahku. Aku masuk ke rumahku sampai di dalam kamarku, lalu aku berbaring sampai tertidur.


Sementara itu, Greysie yang baru sampai berusaha untuk masuk namun aku mengganti pin di sistem smart door pintu rumahku sehingga membuatnya tak bisa membukanya.


"Caraaa... Bukain pintunyaa Raaa... Kita perlu ngomong.... Aku... Aku beneran minta maaf sama kamu... Maafin aku..." ujar Greysie, berteriak dengan tangisan.


Setelah Greysie menggedor-menggedor pintu rumahku dan terus berteriak, ia memutuskan untik pergi karena aku tetap tak membukakan pintu untuknya.


Malamnya, di dalam kamarku. Aku masih tertidur dengan wajah yang terlihat sangat pucat.


"Huk, uhuk," terbatuk sampai membuatku terbangun.


"Uhuk, uhuueggh," memegang mulut dan melihat darah di tanganku sangat banyak.


Aku kemudian berlari ke toilet dan memuntahkan darah di wastafel.


"Hueeghh huk, uhuuggghh... Aarhghh," bernapas lemah dan bersender ke dinding.


Setelah tenang, aku kemudian berdiri lagi dan mencuci darah di tangan dan mulutku, lalu terhenti karena isak tangis.


"Eghmm... Ssskk... Huhuu...," menangis pelan.


Kemudian aku menandang dinding, memukul kaca dan juga berteriak sambil membanting semua barang yang ada di dalam kamar mandi.


#


Beberapa saat kemudian. Aku kembali ke tempat tidur, dan kembali tidur. Entah mengapa aku terus saja merasa kantuk meskipun sudah tertidur dari tadi siang.


Besoknya, aku terbangun dan segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Di sana telah ada semua siswa/siswi yang datang sebelumku.


Semua mata kini tertuju lagi padaku. Aku sangat tidak menyukai hal itu. Apa mereka tidak punya kegiatan lain selain melihatku?


Beberapa saat kemudian, setelah bell istrahat. Riska ingin mengirimi chat whattsap padaku, tetapi ia melihat aku menggunakan hp baru. Tentu saja hp sebelumnya tak aku gunakan dan ku simpan di dalam laci rumahku. Greysie lalu mendekat di tempat duduk. Ia melihatku dengan tatapan memohon.


"Pucet banget muka kamu Raaa... Pliss maafin akuu..." batin Greysie.


"Raa, maafin ak..." ujar Greysie, tak selesak karena aku langsung pergi dari sana.


Bibir Greysie gemetar menahan tangis sampai air matanya pun kembali menetes. Sementara Riska juga berusaha mengejarku.


"Raa... Tunggu! Gue mau ngomong sama lo" ujar Riska, terus mengejar.


Kini kami sudah berada jauh di antara kerumunan para siswa-siswi sekolah kami.


"Muka lo kok pucet banget? Lo kemana aja Ra? Gue cariin lo tiap hari. Lo gak pp kan?" tanya Riska, dengan wajah cemasnya.


Aku tak menjawab, kemudian melepas paksa tangan Riska dari tanganku dan segera pergi dari sana.


"Raa! Ra wait...!" panggil Riska, namun aku malah terus melangkah pergi.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian. Bell masuk berbunyi dan kami melanjutkan ujian, setelah selesai aku pun segera pergi dan melaju dengan motor milikku.


Sementara itu, Greysie semakin merasa bersalah terhadapku. Selama beberapa hari kemudian sampai kami selesai melaksanakan ujian sekolah, aku tetap mengabaikan Greysie dan Riska.


Selama 1 minggu pelaksanaan ujian sekolah, aku juga sudah terbatuk darah sampai tiga kali saat berada di rumahku karena di sekolah aku selalu menahannya.


Hari berikutny, tepatnya sudah seminggu kemudian setelah pelaksanaan ujian sekolah. Malamnya, aku pergi ke sebuah gedung sementara Greysie mendapat informasi dari Hendry dan segera menyusulku.


Di gedung tinggi, aku berdiri di atapnya sambil melihat pemandangan kota jakarta saat malam, di mana lampu kota memenuhi area, terasa sangat menangkan hati bersama angin yang berhembus.


"Bunda, Ayah, Tiya. Kalian tenang aja, aku bakal nyusul kalian" ucapku, tersenyum.


Greysie melihatku sedang berdiri di tepi atap bangunan tinggi tersebut, ia segera berlari tanpa berteriak dahulu. Ia langsung menarik tanganku, membuatku terjatuh dari tembok pembatas tersebut. Aku menatapnya heran, lalu segera berdiri, ingin pergi dari sana.


Menurutku Greysie sangat menganggu, padahal aku hanya ingin melihat pemandangan kota saja sambil menikmati melodi indah di telingaku.


Aku segara bangkit, ingin berdiri. Namun, Greysie menahan tanganku dengan tatapan sedih, di mana air bening memenuhi pipinya.


"Ahh, meganggu orang saja" batinku.


"Lo kenapa?" tanyaku singkat, sontak membuat Greysie berdiri, langsung memelukku lagi.


"Kamu udah maafin aku, Ra?" tanya Greysie, lirih.


"Haah? Emang lo siapa sampai gua marah ke elo. Maaf gua gak punya waktu. Permisi" ucapku segera pergi.


Namun, lagi, lagi dan lagi. Greysie menahan, menggenggam erat tanganku sampai membuatku marah dan menatap tajam padanya.


"Nying" gerutuku kecil, menatap kesal.


"Ra. Jangan gini, aku minta maaf. Aku beneran minta maaf Raa" ucap Greysie, lirih.


Ingatan juga terlintas di pikiran Greysie, di mana aku berkata bahwa kami sudah bukan sahabat lagi, dan aku amat sangat membencinya.


Greysie juga tak bisa membela dirinya yang sudah benar-benar jahat, keterlaluan, menuduh bahkan memfitnahku, sahabatnya sendiri. Padahal Greysie tahu benar kalau aku sedang sakit karena ulahnya sendiri, bisa-bisanya dia menuduhku membunuh ayahnya.


"Aah sial. Kalau gua gak di semester akhir pasti dari kemarin gua udah pindah sekolah. Males banget ngadepin orang kek kalian. Tenaga gua terkuras abis, capek Anj*ing. Kalian pikir gua gak capek ngadepin kalian semua, hah?!" ujarku, mengeluh berusaha melepaskan genggaman tangan Greysie.


"Lepasin njing!" bentakku, berusaha melepas tangan Greysie. Namun ia tak mau melepasnya, malah genggaman tangannya semakin kuat.


"Aahh, fuc*k this shitt. Lihat muka gua! Lihat! Lo kira gua lagi becanda sekarang?! Gak usah natap-natap. Gak usah nangis-nangis, gua gak peduli!. Emang lo siapa? Hah?! Siapa anji*ng?! ganggu ketenangan hidup orang aja, kek gak punya pekerjaan lain. Lepasin gak!" ujarku, mencela sambil melepas paksa tangan Greysie.


Tangannya memerah, begitu juga dengan tanganku. Tak ada yang mau mengalah antara kami. Karena aku merasa sangat kesal, aku lalu menamparnya dengan tamparan yang sangat termat kuat sehingga meninggalkan bekas memerah di wajahnya.


"Plaaaak..........!"


Greysie memalingian wajah karena terkena tamparan keras dari tanganku.


"Denger gak lo?! punya telinga gak sih?! aah sial banget hidup gua harus ketemu orang kek gini" ujarku, mengeluh dengan emosi.


"Lepasin gak?!" ucapku, lalu mengambil pisau lipat dari kantung celanaku.


"Lepasin atau gua iris tangan lo!" ancamku, serius menatapnya.


Namun, Greysia tak bergeming sedikitpun. Ia hanya menampilkan wajah dengan ekspresi biasa, seakan tak peduli. Sehingga membuat aku benar-benar mengiris tanganya.


Darah berwarna merah mengental mengalir dari tangannya. Tetapi, hal itu tetap membuatnya tak mau melepaskan tanganku.


"Aaahh siaal. Gua bunuh juga lo sekarang. Lo mau gua bunuh elo kek bokap lo, hah?! mau lo?!" celaku, menaruh bagian tajam pisau di lehernya.


"Siaall!" batinku, menatap kesal.


"Keknya lo emamg gak bakal peduli kalau gua ngelukain diri elo. Kalau gitu," mengiris tanganku, "lo lebih suka ini kan?!" ujarku, sambil mengiris tanganku.


Mata Greysie seketika membulat terkejut sambil ia melepaskan genggaman tangannya dariku. Matanya melotot melihatku juga tangannku, ia tak menyangka bahwa perubahan sikapku akan benar-benar seperti ini.


"Raa!" ucap Greysie.


Kemudian aku segera pergi meninggalkan Greysie. Ia ingin mengejarku, namun aku langsung mengancam dirinya dengan menaruh bagian tajam pisau ke leherku.


"Mundur loo!" ucapku, menunjuk Greysie dengan jari telunjuk kiri sambil menaruh pisau ke leherku dengan tangan kanan.


Langkah Greysie terhenti seketika karena melihat leherku sudah sedikit teriris di mana darah juga ikut mengalir. Sedangkan mimik wajahku sangat serius, aku benar-benar akan melakukannya.


"Lo diam di situu atau gua iris leher gua," berjalan mundur, "Jangann ii, kuutin guaa!" ucapku berjalan mundur.


Kemudian aku segera berlari menuruni tangga, meninggalian Greysie sendiri.


Sementara itu, aku sudah melaju dengan motorku sampai di rumahku. Setelah itu, aku melepas jaketku dan duduk di tempat tidur sampai aku termenung.


Di dalam kamar hanya suara detak jam dinding yang menemani kesunyian malamku. Ingatan mulai terlintas di pikiranku, di mana aku melihat Greysie tergeletak lemas di dalam kamar mandi sedang darahnya terus mengalir karena tertusuk benda tajam.


Saat itu kami berada di hotel Pavillion, aku masih tertidur namun telingaku mendengar penjelasan berita di tv, di mana pelaku pembunuhan berantai di tangkap oleh polisi, lalu aku terbangun karena mendengar berita.


Setelah itu terdengar suara seperti orang yang terjatuh dari dalam kamar mandi. Di dalam Greysie sudah tergeletak di lantai dalam artian pingsan sedangkan darahnya bercucuran. Aku segera menelpon ambulance.


Beberapa saat kemudian, kami tiba di rumah sakit. Dokter langsung mengobati luka Greysie. Pikiranku juga sangat kacau saat itu karena terus mencari tau alasan Greysie sampai terluka.


Malamnya pada jam 01:03 tengah malam. Greysie sedang tidur. Aku meninggalkannya sendiri karena harus mengurus sesuatu.


Di dalam rumahku (ruangan rahasia). Aku sedang fokus melihat komputer, sedangkan tanganku terus bergerak mengetik keyboard komputer.


Ting nung, Ting nung, Ting nung....


Saat ini, aku tersadar dari lamunan panjangku karena mendengar suara bell rumahku terus berbunyi. Kemudian aku melangkah, berjalan ke arah pintu, membuka pintu ruangan dan segera pergi ke lantai satu untuk membukakan pintu.


Pintu terbuka, wajah seseorang yang tak asing berdiri tepat di hadapanku.


Tangannya memegang sebuah pistol yang di arahkan ke kepalaku, tepatnya di keningku. Aku mengerytkan kening, menatap heran dengan ekspresi biasa saat melihatnya.


Perlahan tangannya memindahkan pistol yang tadinya mengarah padaku menjadi arah kepalanya. Ia menarik pelatuk sedang jari telunjuknya bersiap untuk menembak. Secara bersamaan, tanganku refleks menghentikan hal tersebut, sehingga membuat suara pistol berbunyi keras. Mataku membulat, tekejut. Namun, aku berhasil mengarahkan pistol tersebut ke atas.


"Anj*ing! fuc*k! Lo ngapain?!" ucapku, membentak.


Greysie hanya diam sedang air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Aku segera merebut pistol dari tangannya dan menariknya masuk ke dalam rumahku.


Kemudian, aku melirik sekitar sebelum mengunci pintu rumahku rapat-rapat. Aku menarik tangan Greysie, lalu mendorongnya duduk di sofa, kemudian aku bercekak pinggang, mengibas rambut kebelakang sambil mondari mandir sedari tadi, sesekali aku melirik Greysie dan menghela napas panjang lagi berat sambil mendesik kesal.


"Aaaah, siall" teriakku sambil membanting vas bunga dengan kasar.


"Lo! aaahh," memegang rambut, "Lo gak pernah berubah! selalu gini! lo gak bisa apa biarin hidup gua tenang sebentar, hah?!," menghampiri, "hah?! jawabb! jawab anj*ing!" ucapku, memegang kasar pundak Greysie. Sedangkan Greysie hanya diam sambil menangis.


"Aaah," berdiri, "fuckk!," meninju semua benda yang bisa pecah, "fuckk Grey! fuc*k!" teriak sambil melempar, dan meninju barang.


Lama aku membanting semua barang di dalam rumahku karena perasaan marah menyeliputi. Setelah itu, aku terduduk bersandar di antara pecahan kaca sambil melihat Greysie. Tanganku gemetar karena marah sedang tanganku juga ikut mengeluarkan darah membasahi lantai rumahku.


Napasku terengah karena merasa capek. Lalu, aku memegang rambutku sambil menangis kecil. Suara isak tangis antara aku dan Greysie saling sahut-menyahut seperti sama-sama tersakiti.


Setelah itu, kami sama-sama tertidur. Greysie tertidur duduk di sofa, sedangkan aku tertidur duduk sambil bersender di dinding.


Besok paginya. Mataku pelan terbuka, lalu aku melirik sekitar di mana rumahku terlihat berantakan akibat ulahku sendiri. Barang berserakan pecah di mana-mana. Greysie masih tertidur sedangkan aku langsung berdiri, menghampirinya dan duduk bersebelah dengannya.


"Emf, ergh~" merintih sambil memegang perut.


"Erg, pasti gara-gara semalam, huff" batinku sambil menghela napas berat.


"Apa luka dalemnya masih belum sembuh juga" batinku lagi-lagi bertanya.


Greysie terbangun, terkejut langsung melihatku. Sedangkan aku hanya menatapnya biasa dan segera berdiri, namun.


"Argh~" merintih sakit, memegang bagian perut.


"Ra, Ra kamu kenapa. Luka kamu masih sakit?" tanya Greysie cemas, lalu menyuruhku duduk.


"Hmfz," masih merintih sakit.


"Kok ini sakit banget anj*ing, perasaan tadi gak sakit sama sekali" batinku, bertanya.


"Raa, kita ke rumah sakit ya, kita ke rumah sakit sekarang" ujar Greysie, menaruh lengan kananku di bagian lehernya untuk membantuku berdiri. Namun, aku melepaskan dengan kasar.


"Aah, hmz," makin merintih, "oh my gat fuc*k! fuc*k! erg, fuc*k!" ucapku, memaki rasa sakit yang luar biasa.


Tanganku makin meremas bagian perut di mana asalnya rasa sakit itu datang. Greysie kemudian menggendongku di bagian belakangnya, ia membawaku ke kamar. Sementara aku makin merintih manahan rasa sakit.


Di dalam kamar, Greysie langsung membaringkan aku dan segera mencari obat milikku. Ia mengambil sebungkus obat dari dalam laci yang masih terlihat penuh seperti tak pernah tersentuh olehku.


"Aaah, fuc*k! argh" tariakku, merintih sakit.


Greysie juga segera mencari kotak P3k. Setelah menemukan kotak p3k, ia langsung menghampiriku dan segera membuka kancing baju kemejaku, alasannya karena lukaku berada di sekujur tubuh akibat ulah Cassie, jadi Greysie harus melihat semuanya.


Sebenarnya aku ingin menahan tangan Greysie, namun rasa sakit terlalu mendominasi membuatku terus merintih sakit sambil memegang perut.

__ADS_1


Setelah kemejaku terbuka. Terlihat darah ternyata sudah menembus perban. Mata Greysie membulat karena tekejut melihatnya.


"Ini semua pasti gara-gara aku. Aric udah pernah bilang kalau luka kek gini harus bener-bener di rawat sampai berbulan-bulan supaya luka luar dan dalemnya bener-bener udah sembuh. Tapi.. aku malah buat Cara nyakitin dirinya sendiri, bahkan dia sampai di penjara gara-gara aku" batin Greysie, menatap bersalah.


"Ra, obat kamu kenapa gak pernah di minum? ini obatnya kek gak pernah di sentuh. Kamu kenapa gak minum obatnya, Ra?" tanya Greysie, cemas.


"Ergh, berisik lo! gara-gara lo tauk! gua gak mau minum obat itu gara-gara elo, lo pikir gua mau jadi orang gila lag.., erg fuc*k! argh," makin merintih.


Greysie juga membuka baju kaos dalamku dengan mengguntingnya. Aku ingin memarahinya karena bertindak seenak jidat menggunting baju orang, namun rasa sakit yang kurasakan tak tertahankan, bahkan tubuhku mulai lemas sedang bibirku gemetar dan memucat.


Tubuhku di penuhi perban di semua bagian dada dan perut. Lalu Greysie melepas perban yang sudah bercampur darah merah tersebut.


Lukaku membiru, sedangkan di sela-sela jahitan keluar darah. Luka itu berdobel karena tempatnya sama dengan luka yang aku dapatkan (waktu yang sama dengan kejadian yang menimpah ayah Greysie di saat dia bertemu dengan Bryan).


Greysie juga terus membuka semua perban di bagian dadaku, di mana dua lobang akibat tembakan yang hampir mengenai jantungku tertutup oleh jahitan. Sedangkan tembakan lain terkena di bawah jantung, bagian luka atas perut, tengah dada bagian bawah dan tengah perut.


Luka tusukan lain berada di bagian dada kanan, kiri dan perut kiri yang berdobel dengan luka sebelumnya. Jahitan luka akibat tembakan juga masih sangat membiru sampai keunguan seperti tak terawat.


"Ra! kamu gak pernah rawat luka kamu?!" tanya Greysie, sedikit membentak.


"Obat kamu juga gak pernah di minum, Ra!" lanjutnya, mengomel.


"Argh... be, rrii ssik" ucapku, melemas sambil memegang bagian perut yang sakit.


Greysie kemudian segera mengobati lukaku. Cairan putih di dalam botol kecil tersebut langsung di siramnya ke dalam lukaku yang mengeluarkan darah, sehingga membuat aku berteriak kesakitan.


"Aargh, perih anj*ing! itu sakit anj*ing! haah fuc*k! fuc*k!" ucapku, mencela, dan memaki sambil menahan tangan Greysie.


Namun Grsysie malah balik menahan tanganku, dia menindis tangan kananku dengan kakinya. Sedangkan tangan kiriku di tahannya dengan tangan kirinya. Aku tak bisa banyak melawan karena tubuhku sedari tadi melemas karena menahan sakit.


"Ergh, Grey perr, riih, gak uu, ssah di, obatt, inn, argh, hmf" ucapku lirih, namun Greysie terus saja memberi obat di bagian lukaku. Sedangkan aku merasa semakin lemas.


Greysie lalu melepaskan genggaman tangannya pada tanganku. Kemudian aku pingsan, namun Greysie merasa legah, ia merasa lebih leluasa saat aku pingsan karena ia bisa dengan cepat, mengobati dan membalut lukaku dengan perban.


Greysie juga telah mengobati lukaku yang lain karena terlihat memerah, membiru, bahkan keunguan.


"Kalau aja kamu gak ngilang selama seminggu lebih, Ra. Mungkin luka kamu gak bakal separah ini. Aku bakal ngerawat kamu sampai sembuh. Selama itu kamu kemana Ra?" batin Greysie.


Beberapa saat kemudian, aku terbangun. Mataku pelan terbuka.


"Ergh," memegang perut. Aku bangun, sedang Greysie yang baru saja membuka pintu kamar langsung membantuku duduk.


"Ra, kamu makan dulu terus minum obat" ujar Greysie mengambil sesendok bubur di atas meja.


"Lo masih di sini? kok gak pergi. Gua gak mau lihat muka lo!" ucapku, menepis sendok.


"Besok udah penguman kelulusan. Aku gak bakal pergi dari sini karena aku yakin kamu pasti bakalan pergi lagi entah kemana" ujar Greysis, menatapku.


"Lo! lo kenapa lakuin hal itu, hah?!" ucapku, kesal melihatnya.


"Maafin aku, Ra. Aku gak maksud buat jahatin kamu, aku sama sekali gak mau nyakitin kamu. Semuanya berubah, aku harus mutar otak lagi setelah aku tau semuanya. Maafin aku karena udah nyaki.." ucap Greysie tak selesai.


"Stop! stop di situ! gak usah ngomong lagi. Gua gak peduli Grey lo mau bunuh gua atau gak. Lo mau apain gua, gua sama sekali gak peduli. Tapi gua gak suka lo ingker janji ke gua, gua gak suka tau gak! Lo udah.. lo udah buat gue," gemetar, "lo ceroboh banget tau gak, aaah. Gua gak mau lo, ckk! gua gak mau lo kenapa-kenapa ngerti gak! bisa-bisanya lo, bisa-bisanya elo sampai segitunya Greyy. Lo buat gua mikir kek orang gila Grey, lo buat gua mikir kalau lo udah hianatin gua, lo juga buat gua mikir kalau lo benci banget sama gua, lo buat gua, lo buat gua sakit banget, sakiitt Grey, sakiitt" ujarku, lirih dengan isak tangis.


"Aku udah bilang jangan mikirin itu Grey, aku ngelarang kamu buat jangan mikirin itu" tuturku, lirih sambil menutup wajah dengan telapak tangan.


"Aku udah ngelarang kamu, tapi kamu malah lakuin semuanya sampai aku bener-bener udah, aku bener udah gak tau lagi mana yang benar dan mana yang salah. Aku bingung harus percaya sama yang mana, Grey. Otak dan hati aku sama sekali gak selaras, aku gak bisa mikir jernih. Aku gak tau, aku sama sekali gak tau. Maafin aku, maafin aku, huhuu. Maafin aku" lanjutku, lirih masih dengan isak tangis.


Sedangkan Greysie langsung memeluk erat diriku seakan tak mau melepaskan.


"Aku yang harusnya minta maaf, Ra. Maafin aku" ujar Greysie, pelan dengan air mata yang menetes.


"Kita udah janji, hmf. Kamu udah janji Grey. Tapi kamu malah buat aku jadi jahat banget, aku seharusnya gak mikir gitu. Bodoh banget, aku bener-benar goblok, bodoh, tolol," memukul kepala, "bodoh, bodoh!" ucapku sambil terus memukul kepala.


"Ra, Ra ini bukan salah kamu. Ini salah aku, aku yang harusnya minta maaf ke kamu. Seharusnya aku ngomong dulu ke kamu, maafin aku. Kamu harus ngelewati semuanya gara-gara aku" ujar Greysie, berusaha menenangkan.


Malamnya. Aku dan Greysie sudah tertidur. Greysie dalam posisi tidur menyamping sambil memelukku dan aku tertidur dengan posisi terlentang.


"Uhuk, eghmm...," aku terbatuk, masih dengan mata terpejam.


"Uhuk, uhuk, uhuk, egmm...," terbatuk lagi masih dengan mata terpejam.


Greysie terbangun. Sementara aku langsung berbalik badan ke samping. Greysie juga segera mengusap-usap belakanganku.


"Uhuk, uhuk, uhuk...."


Greysie masih mengusap-usap belakangku. Sementara itu aku memegang dadaku, berusaha untuk berhenti batuk-batuk. Namun hal itu malah membuat batukku semakin parah dan aku pun bangun dari baringku sambil berlari ke toilet.


Greysie mengikutiku dari belakang. Aku ingin mengunci kunci pintu toilet, namun ia tak membiarkan aku melakukannya.


Sementara itu, tanganku masih berada di mulutku dan menatapnya dengan tatapan sayu. Kemudian aku segera berlari ke wastafel, lalu memuntahkan darah di sana. Mata Greysie membulat, ia nampak sangat terkejut. Jantungnya berdegup sangat kencang, sedang ia masih mengusap-usap belakangku dengan perasaan takut.


"Uhukeeghh, hueggg...hugh, uhugk...," bernapas cepat dan lemah.


"Uhugh, hueggrrgg... Uhuk, uhuk, uhuk, ergggh...," melihat wajah sendiri di depan cermin.


Setelah itu, aku melirik Greysie dan segera mencuci mulutku. Air matanya sudah memenuhi pipinya sedari tadi. Ia sangat takut, dan terus mengusap belakangku dengan tangan gemetar.


"Harusnya Grey gak lihat ini" batinku.


Kemudian aku menarik dirinya sampai ke tempat tidur. Di tempat tidur, aku langsung duduk menyender sambil menatap wajahnya yang sedang di penuhi air mata itu. Perlahan bibirku terangkat, dan aku pun tersenyum tulus.


"Aku gak pp" ujarku, lirih.


"Apa kamu jadi gini gara-gara aku, Ra?" tanya Greysie, berlinang air mata.


"Don't blame yourself. It's not your fault" kataku, berusaha menangkan dirinya sambil menghapus air matanya.


"Maafin aku, huhuuuu.... Maafin aku..." ujar Greysie, menangis terseduh-seduh.


Setelah itu, Greysie malah menangis terseduh-seduh di pangkuanku. Sementara aku mangusap lengan atas dan juga kepalanya.


"Gua bakal mati ya?" batinku.


Beberapa saat setelah Greysie berhenti menangis. Ia duduk, menatapku penuh harap dengan tatapan sendu.


"Ra, janji jangan tinggalin aku" ujar Greysie, lirih.


"Hmm" jawabku, tersenyum sambil mengangguk.


"Bilang janji" ucap Greysie, sedang bibirnya gemetar manahan tangis.


"Iya, aku janji" ujarku, lirih sambil tersenyum lembut padanya.


"Kenapa?" tanyaku, tak beruara.


Greysie hanya diam dengan mimik wajah sedih bercampur takut.


"Kenapa nyuruh aku janji kek gitu?" tanyaku, lirih.


"Aku takut kamu bakal ninggalin aku sendiri" jawab Greysie, gemetar.


"Harusnya aku yang nyuruh kamu janji kek gitu" ujarku, menatapnya.


"Alasannya?" tanya Greysie.


"Emm, gak tau. Tapi... Kek ada yang aneh" ujarku.


"Aneh gimana?" tanya Greysie, lirih.


"Gak pp, udah kamu jangan nangis lagi. Aku gak papa. Masih jam 3, mending tidur lagi" ujarku, tersenyum.


"Raa, kita ke rumah sakit cek keadaan kamu" pinta Greysie, menatap penuh harap dengan mimik sedihnya.


"Emm, aku gak suka di rumah sakit Grey. Beberapa hari lagi sekolah kita bakalan adain camping kan? Aku pengen banget ikut" ujarku, masih tersenyum.


"Tapi Ra, gimana kalau kamu..." ujar Greysie tak selesai karena aku langsung menyelanya.


"Pengen banget aku untuk nikmatin semuanya saat ini. Selama aku di penjara aku gak bisa kemana-mana. Nanti kalau aku ke rumah sakit aku malah jadi ngerasa kek kepenjara lagi" ujarku.


Sementara itu, Greysie nampak menahan tangisan sampai akhirnya tangisannya pecah. Ia menangis sambil memeluk erat diriku.


"Maafin hakuuu huhuuu... Maafin aku Raaa... Maafin akuu... Ini semua karena akuu...." ujar Greysie, menangis terseduh-seduh.


Beberapa saat kemudian, setelah Greysie tertidur aku membaringkannya ke tempat tidur.


"Ergghh," sedikit merintih karena tak bisa mengangkat beban yang berat.


Aku kemudian menatap Greysie sambil meneteskan air mata.


"Aku gak tega... Gua harus deketin Grey sama Aric sebelum Grey milih untuk bunuh diri kalau aku emang beneran bakalan mati. Dia pasti mau ikut gua kemanapun gua perg. Kalau kek gitu gua malah gak tenang jadinya dan akan terus merasa bersalah" batinku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2