
Tiba di kantor polisi. Aku berada di ruang introgasi, bersama seorang senior polisi dan rekan satu timnya.
"Anda kenapa diam saja dari tadi?" ucap Polisi dengan nada suara yang naik.
"Hey!" teriak rekan polisi berjaket hitam sambil memukul meja. Aku hanya diam, menunduk melihat kedua tanganku yang di borgol.
Selama berjam-jam di dalam ruangan introgasi polisi, aku tak pernah membuka mulut dan hanya terkaget sesekali jika kedua polisi itu kehilangan kesabarannya dengan memukul meja, membentak, juga berteriak padaku.
Setelah itu, mereka membawaku keluar ruangan. Rasya sedang berdiri menugguku. Kami hanya melewatinya. Sedangkan aku juga tak mau melihat Rasya sedikitpun.
"Lista, Lista" panggil Rasya, mengejar.
"Pak, pak. Aku mau ngomong bentar aja ke Lista" ujar Rasya, memohon pada seniornya.
Polisi melirikku, sedang aku langsung menggeleng dengan artian tak ingin berbicara dengan siapapun.
"Pak, tolong biarkan kami melaksanakan tugas kami. Pak Rasya bisa bicara nanti" ujar senior Polisi.
"Tapi, pak.." ucap Rasya tak selesai.
"Permisi" pamit Polisi, langsung membawaku.
Mereka lalu memasukanku ke ruangan yang berlapiskan jeruji besi. Dua hari lagi sidang akan di laksanakan, di karenakan masyarakat mendesak negara, presiden juga polisi untuk segera menjatuhi hukuman padaku. Mereka ingin aku di berikan hukuman mati, atau paling tidak penjara seumur hidup.
Tiga hari kemudian, sidang di laksanakan. Aku di bawah ke ruang sidang. Tak jarang juga ada warga yang melempar batu, membuat kepalaku sampai mengeluarkan berdarah.
Di dalam ruangan, telah banyak keluarga korban yang menungguku, mereka memaki, dan mendoakan yang buruk.
Tiba di ruangan sidang, aku duduk di tengah-tengah antara hakim, jaksa penuntut umum, pengacara dan orang-orang yang datang. Nampak suasananya juga sangat tegang.
Di kursi penonton, aku menoleh ke belakang dan melihat Greysie sedang melihatku. Sedangkan Rasya, Heafen, Riska, Aaron, Bibi dan Lia dengan wajah sedih mereka yang tak bisa di hilangkan.
Wajah tak asing juga terlihat sedang duduk di kursi penonton, dia adalah Mela. Aku hanya melihatnya sebentar, lalu balik badan sambil menunduk.
Beberapa jam pelaksanaan sidang. Hakim resmi menjatuhkan hukuman selama 25 tahun penjara padaku. Sidang selesai, polisi langsung membawaku pergi.
Beberapa jam di perjalanan, aku sampai di penjara khusus untuk kejahatan paling fatal, di ruangan khusus untuk orang-orang jahat berkumpul.
Saat itu, aku langsung duduk di pojok dinding sambil memegang kepala. Sedangkan tahanan beberapa semua tahanan yang satu sel denganku langsung menhajarku. Mereka di sewa oleh keluarga Milstone untuk menyiksaku. Sementara aku hanya pasrah dan membiarkan mereka memukuliku sesuka hati. Toh aku juga memang ingin segera mati.
Namun dengan ceketan polisi datang untuk menghentikan mereka. Hal itu membuatku sangat kesal, sehingga aku berteriak pada polisi.
"Fuckk! Biarain aja mereka bunuh guaa! Fuckk! Fuc*k! Aaaahh... Anj*ing!" teriakku, mencela sambil memukul dada polisi, juga mendorong mereka.
Aku telah kehilangan kendali, tubuhku memberontak ingin memukul semua orang di dalam penjara itu agar mereka segara membunuhku.
Polisi kemudian memasukanku ke dalam sel khusus sendiri untuk merenung. Mereka mendorngku masuk. Lalu mengunci pintu besi tersebut.
Ruangan khusus itu nampak sangat kecil dengan lebar 2 meter, dan panjang 3 meter saja. Hanya ada jendela kecil yang tertutup dengan jeruji besi.
Kemudian, aku meraba kantung celana tahananku untuk mengambil sikat gigi milik salah satu tahanan sebelumya. Aku duduk bersandar di dinding, lalu menggosok sikat gigi tersebut sampai benar-benar runcing.
Setelah sikat gigi itu runcing, perlahan senyuman terukir di bibirku. Aku langsung mengarahkan bagian tajam tepat di leherku, lalu aku memejamkan mata sementara air bening ikut menetes mengaliri pipiku.
Di saat aku ingin mengiris leherku dengan sangat dalam, ingatan tiba-tiba terlintas di pikiranku. Itu adalah saat di mana aku melihat tangan Greysie yang membuat kami beradu pandang sebelumnya.
Setelah teringat hal itu, aku menjadi tak bisa menggerakan tangan untuk mengiris leherku. Sehingga membuatku lagi, lagi dan lagi menangis pilu sambil memukul kepala.
"Grey, aku sama sekali gak tau lagi. Apa aku terlalu luput sama perasaan sedih aku? apa dugaan aku kali ini bener Grey? Aku bingung Grey, aku bingung. Kamu bakal lukain diri kamu sendiri kalau kamu emang bener-bener tersiksa sama sesuatu, aku cuman ingat itu sekarang Grey. Tapi.. kalau aku salah gimana Grey? aku gak mau hidup lagi kalau kamu beneran hianatin aku" batinku, bertengkar. Sedang isak tangis terdengar memenuhi ruangan tersebut.
Setelah beberapa hari berada di dalam sel khusus tsb. Aku di keluarkan dan polisi memasukanku ke dalam sel sebelumnya namun pidana lainnya kembali memukuliku sementara aku hanya membiarkannya. Kali ini tak ada polisi yang menghentikan mereka karena mereka juga telah di suap oleh keluarga Milstone dan Walker.
Setelah memukuliku, mereka lalu membiarkan diriku terbaring begitu saja di lantai. Wajahku lebam sementara lukaku terasa sangat nyeri. Aku melihat tanganku sudah ada darah di sana.
Besoknya, mereka memukuliku lagi. Namun kali ini aku sengaja melawan mereka kembali karena melihat mereka sepertinya bekejerja sama dengan polisi. Hal itu membuatku berpikir jika mereka di sengaja di perintahkan oleh keluarga Walker dan Milstone untuk menyiksaku. Dan aku sangat tidak sudi jika harus membiarkan mereka semena-mena terhadapku.
Aku terus menghajar mereka. Namun tak menutup kemungkinanan aku juga di keroyok oleh mereka. Kemudian polisi datang dan langsung menghentikan kami, lalu aku di masukan kembali ke sel khusus sendiri.
"Uhuk, uhuk... Eghmm," merintih dan terus terbatuk.
Aku mendekati toilet, sementara tanganku menopang diriku di dinding sel.
"Uhuk huuegrhh...," memuntahkan darah.
"Hueghhrr.... Eghhuhuukk...."
Aku melihat darah dan mulai tertawa tak jelas karena merasa gila sendiri.
"Uhueggh... Hnhhikhikhik... Hahahaha.... Hehehehehikhikhik....," berhenti tertawa dan berseder ke dinding.
Beberapa hari kemudian, aku di bebaskan keluarkan dari sel khusu tsb dan kembali di keroyok oleh mereka sampau jahitanku kembali terbuka dan aku terus memuntahkan darah.
__ADS_1
Hal itu terus berlangsung sampai dua minggu kemudian. Sementara itu, Greysie masih menyiapkan rencananya, malam ini dia akan mengeksekusi keluarga Milstone dan Walker bersamaan. Dia sudah menuggu momen pas ini sejak seminggu yang lalu di mana keluarga mereka berkumpul di satu tempat.
Di sekolah, seperti biasanya semua siswa sedang bergosip tentangku, sehingga membuat telinga Greysie sakit saat mendengarnya, dia tak tahan lagi dan langsung pergi begitu saja.
Sementara itu Rasya juga berada di ruangan tempat pembunuhan ayah Greysie sebelumya, sudah beberapa minggu ia terus saja pergi ke tempat itu untuk memeriksa kembali, semua cctv jalanan, ataupun cctv mobil/motor.
Sebelumnya, Greysie menelpon kantor polisi untuk memberikan rekaman cctv yang sebelumnya ia pasang di bangunan tua pada saat Ayahnya di bunuh oleh Bryan dan Cassie.
"Saya punya bukti tentang Cassie dan Bryan. Mohon maaf, saya baru bisa memberanikan diri karena takut akan di bunuh juga oleh mereka. Saya tau kalau mereka selalu membunuh orang-orang yang punya bukti tentang perbuatan buruk mereka. Saat itu saya bersama teman-teman saya sedang merekam video untuk konten youtube, kami menyimpan kamera ke bangunan tua. Dan saat kami mengambil kamerarnya kami melihat ada mayat di sana dan kabur begitu saja sambil membawa kamera kami. Setelah itu, kami memberanikan diri untuk menonton rekamannya dan melihat mereka telah membunuh orang kaya itu" ujar Greysie, memakai telpon sekali pakai.
"Nama anda siapa?" tanya operator polisi.
"Saya gak bisa kasih tau. Tolong rahasiakan ini, saya gak mau mati cuman gara-gara memberanikan diri untuk ungkapin kebenaran" jawab Greysie.
"Buktinya bentar lagi akan sampi di kantor polisi" ujar Greysie, menutup telpon.
Kemudian polisi itu segera memberitahukan pada kepala polisi dan mereka pun menunggu bukti yang di katakan Greysie sebelumnya. Rasya, Agus dan Antony berada di sana. Namun polisi lain berusaha untuk melacak Greysie.
Kemudian Greysie membuang hp sekali pakai itu di tempat besi di mana nyala api akan membakarnya habis. Greysie kemudian menelpon Rasya.
"Iya, Grey?" tanya Rasya, di telpon.
"Aku udah inget Sya. Ada temen sekelas aku yang punya gantungan kunci beruang. Namanya Cassie, aku pernah lihat setelah ngecek-ngecek foto di hp aku" ujar Greysie.
"Aku boleh lihat fotonya gak?" tanya Rasya.
Greysie kemudian mengirimkan fotoku pada Rasya. Itu adalah hasil foto Greysie memotretku. Di dalam foto itu terlihag ada Cassie sedang tertawa di dalam kelas sementara tas yang berada di sampingnya terdapat gantungan boneka beruang kecil.
Rasya melihat foto itu dengan seksama dan mencocokan kembali boneka yang ada dengannya saat ini.
Sementara itu, Greysie menutup telpon. Kini ia sudah berada di sekitaran rumah mewah milik keluarga Milstome.
Pada pukul 11:02 malam. Keluarga Walker dan keluarga Milstone sedang berpesta ria untuk merayakan kemenangan besar mereka.
"Bro. Kita balik dulu" ucap Andrian, bersamalan dengan Bryan.
Di samping Andrian terlihat sahabat-sahabat Kesya, serta pacar mereka masing-masing.
"Iya, kita balik dulu Cas" pamit Zwetta, bersama ke empat teman satu gengnya yang lain.
Sedangkan para cowok berjabat pelukan pria dengan Bryan.
"Thanks bro, kalian udah bantuin kita buat ngerusak hubungan mereka" ucap Bryan, berpeluk ala pria.
Mereka ber sebelas kemudian pamit pada Bryan dan Cassie. Kedua orang tua Bryan dan Cassie juga masih berbicara sampai tertawa terbahak-bahak.
"Gimana kalau setelah Cassie lulus mereka segera kita nikahkan saja" ujar Ayah Cassie.
"Hmm, saya setuju saja jika mereka berdua sama-sama mau" sambung Ayah Bryan.
Ayah Bryan lalu memberikan beberapa selembaran kertas pada Ayah Cassie yang bertuliskan kerja sama mereka kedepannya.
Sementara itu, Greysie telah menyelinap masuk ke dalam rumah mewah mereka. Ia juga telah mematikan semua cctv rumah mereka dan membunuh Bodyguard mereka satu persatu. Greysie menembak mereka semua menggunakan pistol milik keluarga Walker/Bryan. Ia juga menggunakan alat perdam suara.
Sesampainya di taman keluarga Milstone, Greysie menintip mereka dan melihat pelurunya, ia terus mengambil pistol milik Bodyguard keluarga Milstone dan Walker.
Setelah itu, Greysie menarik napas panjang-panjang dan segera menampakan dirinya sambil menembak semua Bodyguar keluarga Milstone dan Walker tanpa memberikan mereka kesempatan untuk menambek balik.
Kini hanya tersisa Cassie dan Bryan serta Ayah dan Ibunya. Karena semua Bodyguar mereka telah di bunuh oleh Greysie.
"Elo....!" ucap Cassie, emosi.
Dor....!
Greysie menembak lengan Cassie. Sementara mereka yang ingin mendekati Greysie tak bisa karena Greysie mengancam dengan pistol di tangannnya.
"Berani-beraninya kalian sakitin sahabat gua. Kalian mau tau apa yang bakalan gua lakuin kalau ada orang yang berani nyentuh sahabat gua?!" ujar Greyie, dengan wajah datarnya.
"Guaa bakalannn... Bunuh merekaaa...!" teriak Greysie, langsung menembak Ayah dan Ibu Cassie di kepala mereka.
"Ayahh....! Mamaa....!" teriak Cassie, menangis.
Sementara itu, Bryan dan orang tuanya segera mengambil pistol dari kantung baju mereka dan segera menembak Greysie sedangkan Greysie sudah menghindar. Ia sengaja membiarkan mereka menambak. Secera bersamaan Greysie juga langsung menerik Cassie sambil menaruh pistol di kepalanya.
"Lempar pistol kalian semua sekarang atau mau kepala dia berlubang juga?" ancam Greysie.
"Babe..." ucap Cassie, gemetar dengan isak tangis.
"Pah, Mah... Lepasin pistol kalian. Aku gak mau Cassie..." ujar Bryan, takut.
"Bryan...! Jangan lemah kamu. Dia itu hanya mengancam saja" ujar Ayah Bryan.
__ADS_1
"Oh... Kalian pikir gua gak berani nembak kepala dia? Lihat dua mayat di belakang kalian itu... Kalian lupa siapa yang menembaknya?" ujar Greysie.
"Babe...." ucap Cassie, gemetar.
Lalu Bryan mengambil paksa pistol milik kedua orang tuanya dan melemparkannya pada Greysie. Sementara itu, Greysie tersenyum sambil mendorong Cassie pada mereka. Akhirnya Bryan dan Cassie berpelukan. Namun tak di sangka Ayah Bryan menyimpan pistol cadangan dan bergerak cepat untuk menembak Greysie. Tetapi sebelum Ayah Bryan bisa menarik pelatuk pistol, Greysie langsung menmbak kedua orang tuanya di kepala menggunakan pistol yang mereka buang sebelumnya.
Sekarang hanya tinggal Bryan dan Cassie saja. Sementara Bryan sangat marah dan ingin membunuh Greysie saat ini sedang Cassie hanya terus menangis.
"Berani-beraninya lo!" ucap Bryan, emosi.
"Owhh fuckk Bryan... You're so patethic loser" ejek Greysie.
"Kalian mau tau gak siapa pembunuh berantai yang sebenarnya?" ujar Greysie, tersenyum ejek
"Kalian itu salah nyari musuh... Seharusnya kalian jangan main-main sama kita. Hnh, mau ngerusak hubungan gua sama sahabat gua? Hah, hahahahahaha... Hahahahaha... Asal lo tau aja kita berdua udah tau rencana kalian dari awal. Rumah kalian udah lama kita sadap. Lo mau tau alasannya kenapa?! Itu karena gua sama Cara pembunuh berantai yang sebenarnya. Hnh, hahahahahaha.... Hahahahaha.... You both.. So fuc*king funny... Hahahaha...." ujar Greysie, tertawa terbahak-bahak.
"Sialan lo Greysie...!" umpat Bryan, mengambil pistol milik Ayah Cassie.
Bryan sedari tadi berjalan mundur secara pelan untuk mengambil pistol milik orang tua Cassie. Sementara Greysie membiarkannya menembak.
Dor....!
Satu tembak di lepaskan hampir mengenai Greysie. Sementara Bryan memberikan pistol pada Cassie dari belakangnya.
"Babe... Kita cari cara untuk ngalihin perhatian dia dan nembak dia sama-sama. Kamu sembunyiin pistol ini dulu" ujar Bryan.
"Rencana lo adalah akhir dari riwayat hidup lo Bryan" batin Greysie.
"Babe... Ayo... Pancing dia..." bisik Bryan.
"Lo mau tau rasanya nembak dan nusuk temen lo itu? Hnh, hahahaha.... Rasanya kek tai! Sekarang sahabat lo itu pasti lagi tersiksa. Bokap sama nyokap gua udah nyewa orang buat mukulin si Cara di dalam penjara supaya hidup dia tersiksa kek Ayahnya. Gua yakin gak lama lagi dia bakalan milih untuk bunuh diri ataupun mati sendiri karena ngerasa tersiksa di penjara, hnhahahahaa" ujar Cassie, mengejek sambil tertawa.
"Sialan...!" batin Greysie.
Sementara itu, Bryan terlihat sedang menarik pelatuk untuk menembak Greysie.
"Sekarang babe" ujar Bryan.
Dor...!
Dor...!
Dor...!
Tiga tembakan berbunyi secara bersamaan. Bryan dan Cassie menembak Greysie, dan membuat Greysie terjatuh.
"Hnh, hahahahaha... Hahahaha, rasain bit*ch!" cela Cassie, tertawa terbahak-bahak.
Sementara itu, bibir Greysie pelan bergerak membuat ia tersenyum kecil. Lalu Bryan perlahan memegang tangan Cassie dan terjatuh ke pelukannya.
"Hnh, hahahahahaha.....," giliran Greysie yang tertawa terbahak-bahak.
"Babe...? Gak, gak mungkin... Babe... Huhuuuu Babee... Babe banguhuhuuuunnn" Cassie, menangis.
Sementara itu, Greysie berdiri dan segera menghampiri Cassie. Ia menaruh pistol ke kepala Cassie.
"Sekarang lo yang bakalan mati" ucap Greysie, berjongkok di hadapan Cassie.
Sementara itu, tangan Cassie bergerak ingin menembak Greysie namun Greysie menembaknya terlebih dahulu. Cassie pun mati.
Setelah membunuh keluarga Milstone dan Walker, Greysie segera mengambil pistol dari tangan Bryan dan memindahkannya ke tangan Cassie. Ia juga mengatur semuanya agar terlihat seperti telah terjadi aksi tembak-menembak antara keluarga Cassie dan Bryan.
Setelah selesai dengan semuanya, Greysie segera mengambil semua alat sadap yang kami simpan di rumah keluarga Milstone. Ia juga memeriksa kembali cctv dan menghilangkan semua bukti yang menyangkut aku dan Greysie. Kemudian ia segera pulang ke rumahku dengan perasaan senang bukan main. Akhirnya dendamnya pada keluarga terbalaskan.
Sementara itu, di kantor polisi. Bukti yang di kirimkan oleh Greysie baru sampai di sana. Mereka juga segera mengintrogasi orang yang mengantarnya tetapi dia tak mengetahui apa-apa selain mengantar paket itu.
Semua polisi melihat rekaman itu yang memperlihatkan Cassie dan Bryan sedang asyik membunuh Ayah Greysie.
#
Besoknya. Stasiun tv memberitakan berita terbaru yang mengejutkan setiap orang.
"Keluarga Milstone atau pemilik perusahaan Electrikal Group yakni Monsior Milstone dan Rallenda Lubis membunuh rekan bisnis mereka sendiri yang tak lain adalah keluarga Walker pemilik perusahaan W. Electrik dengan cara menembak mereka di bagian kepala"
"Sedangkan anak mereka Cassie yang merupakan tunangan dari Bryan Walker, membunuh kedua orang tuanya karena tak terima jika tunangannya di bunuh oleh kedua orang tuanya sendiri. Setelah membunuh kedua orang tuanya, Cassie lantas membunuh dirinya sendiri.
"Menurut keterangan polisi, alasan mereka saling membunuh adalah karena saling memperebutkan perusahaan. Kaluarga Walker yang sebelumnya mengambil alih perusahaan milik keluarga Milstone saat mereka masih di penjara, ternyata ingin mengambil alih perusahaan itu sepenuhnya. Namun, kaluarga Milstone menentang hal tersebut, sehingga membuat mereka membunuh rekan bisnis sekaligus calon besan mereka tersebut.
Sementara itu, aku juga telah di keluarkan dari penjara dan di bebaskan dari semua tuntutan.
Wajahku terlihat sangat lesuh, aku berjalan pelan dengan badan yang terasa sakit dan lemas.
__ADS_1
Bersambung...