Ilusi

Ilusi
BAB 29 (Part 1)


__ADS_3

Rasya sedang berbicara serius dengan supir pribadi Bryan di kantor polisi.


"Bukan saya yang sudah membunuh adik pak Rasya. Mereka juga sudah membunuh anak perempuan saya. Tolong bantu saya, Pak. Hari itu pak Bryan meliburkan saya, dan pak Bryan yang membawa mobil itu. Mereka mengancam akan membunuh anak-anak dan istri saya jika saya tidak menuruti perkataan mereka, Tapi... Mereka malah membunuh anak saya sekarang" ujar Setiawan, memohon sambil menangis.


"Bisa kamu ceritakan lebih detail tentang keluarga mereka?" tanya Rasya.


"Emm, itu..." ujar Setiawan, terlihat berpikir.


"Pak, keluarga mereka sangat berbahaya. Kita ngomong saat ini pun mungkin sudah di ketahui oleh mata-mata mereka. Saya tidak bisa menjelaskan kepada bapak tentang ini. Jika saya menjelaskan.., anak saya yang masih kecil dan istri saya akan di bunuh oleh mereka. Saya sudah lama bekerja dengan mereka, mata-mata mereka ada di mana-mana. Kekuasaan mereka sangat tinggi, mereka bisa mengontrol beberapa media televisi, polisi, hakim, bahkan pejabat tinggi sekaligus" bisik Setiawan, menjelaskan.


"Tapi... Saya memiliki sesuatu yang bisa di jadikan sebuah bukti. Saya menyimpannya di mainan milik anak saya, bapak bisa melihat buktinya di situ. Tapi.. Pak Rasya jangan menemui istri dan anak saya secara langsung atau berkunjung ke rumah saya karena itu akan membuat mereka curiga dan akan langsung membunuh anak dan istri saya. Anak saya selalu membawa mainan itu, bapak bisa mencari cara sendiri untuk mengambilnya tanpa harus membuat kecurigaan pada mereka" lanjut Setiawan, masih berbisik.


"Terima kasih" ucap Rasya, berdiri.


"Pak, pak tunggu" ujar Setiawan, juga ikut berdiri.


Rasya memakai menaruh kembali telpon berkabel itu ke telinganya.


"Jika saya nantinya akan mati. Pak Rasya tolong lindungi anak dan istri saya. Saya hanya bisa meminta tolong kepada bapak" pinta Setiawan, berkaca-kaca.


"Baiklah" ucap Rasya, singkat.


"Satu lagi pak, saat pak Rasya keluar dari sini, mereka akan langsung menaruh perhatian penuh pada pak Rasya. Pak Rasya jangan sampai..." ujar Setiawan, tak selesai.


"Waktu berkunjung telah selesai" ucap Polisi segera menarik Setiawan.


"Jangan lupakan perkataan saya, Pak!" ujar Setiawan, berteriak.


Kemudian, Rasya segera pergi dari sana dengan terburu-buru. Tangan Rasya mengepal, ia sangat marah saat ini.


"Bryan... Lo dan keluarga lo harus terima akibatnya!" batin Rasya.


********


Sementara itu, di rumahku. Aku dan Greysie sedang membuat rencana untuk perburuan kami selanjutnya.


Di papan itu, terlihat foto seseorang memakai pakaian rapih. Ia adalah Simon Hiller, manajer dari perusahaan Mekar J.


"Dia, target kita berikutnya. Udah terlalu banyak korbannya" ujarku, menunjuk foto.


Greysie melihat foto itu, dan melihatku sambil bersilang tangan.


"Rencana gua bentar lagi bakal selesai. Gua harus masuk penjara setelah keluarga Milstone dan Walker masuk penjara. Dan gua bakal bunuh mereka di penjara. Setelah pembunuhan Simon Hiller, gua bakalan mulai rencana sebelumnya untuk menjebak keluarga Milstone dan Walker atas kasus pembunuhan berantai ini" jelasku, lalu duduk di meja.


Greysie menatapku, ia tersenyum dan menunduk lalu melihatku lagi.


"I'm sorry, Ra. Aku gak bisa biarin kamu lakuin hal itu. Mulai saat ini, aku yang bakal pegang kendali atas rencana kamu" batin Greysie.


"Aku gak bakalan biarin kamu hancurin diri kamu sendiri kek gitu" lanjut Greysie, membatin.


Aku kemudian menghampiri Greysie dan mendekatkan wajahku padanya sambil menatap matanya dalam-dalam.

__ADS_1


"Dia ngerancanain sesuatu. Tapi... Lebih baik gua biarain aja dulu" batinku.


Greysie hanya tersenyum saat menatapku, ia lalu mendekatkan mulutnya ke telingaku.


"Kamu tenang aja. Aku bakal bantuin kamu" bisik Greysie, tersenyum sambil matanya melirikku.


********


Beberapa hari berlalu. Rasya telah merencanakan akan mengambil bukti yang di sebutkan Setiawan sebelumnya.


Istri dan anak Setiawan sedang berjalan, ingin menyebrang jalan. Mereka baru pulang dari taman bermain.


Rasya yang melihat istri dan anak Setiawan segera berjalan cepat untuk menghampiri mereka. Terlihat anak setiawan sedang memegang sebuah boneka hello kitty yang berukuran sedang.


Ciiiiiiiiiitttt.............!


Bruukk.................!


Sebelum Rasya bisa menghampiri anak dan istri setiawan, mereka lebih dulu tertabrak mobil truk.


Sedangkan Rasya segera berlari, namun entah mengapa telah banyak orang yang berkerumun pada tempat itu.


Rasya juga melihat seseorang di dalam kerumunan tersebut yang memakai topi, masker, dan pakaian serba hitam sedang mengambil boneka milik anak setiawan.


Setelah mengambil boneka itu, orang tersebut segera pergi dan menghilang di antara kerumunan.


Kini Rasya telah berhenti untuk melihat anak dan istri setiawan. Mereka telah meninggal saat itu juga. Rasya merasa bersalah ataa kejadian ini.


Tiba-tiba telpon Rasya berdering dan ia segera menjawabnya. Terlihat di layar hp milik Rasya nama dari Antony, rekan detektivenya.


"Apahh?!" ucap Rasya, terkejut.


Rasya segera berlari ke mobilnya.


"Bagaimana bisa?" tanya Rasya, mengeraskan suaranya.


"Sebelumnya dia terkena tusukan entah dari mana, dan tusukan itu mengenai organ-organ vitalnya. Setiawan sempat di bawa ke rumah sakit, tapi dia kehilangan banyak darah dan organ-organ vitalnya telah rusak. Jadi.. Dia tidak bisa selamat dan meninggal di rumah sakit" jelas Antony.


Rasya segera menancap gaa mobilnya. Ia di liputi perasaan marah, benci, sedih dan juga rasa bersalah.


"Fuckk, fuckk, fuckk!" ucap Rasya sambil memukul setiran mobilnya.


Mata Rasya berkaca-kaca. Ia juga terus teringat dengan adiknya, Angeline.


"Kakak, kakak yang bahagia ya. Sepertinya aku gak bakalan bisa lihat kakak saat kakak udah nikah nanti" ujar Angeline.


"Kok ngomong gitu?" tanya Rasya, heran.


"Gak pp. Firasat aku... I mean, meskipun begitu aku tetap berharap kakak bahagia sama istri kakak nanti. Hahahaha" ujar Angeline, tertawa.


Setelah mengingat hal itu, Rasya malah meneteskan air mata.

__ADS_1


"Dek..." ucap Rasya, gemetar.


"Maafin kakak. Kakak belum bisa bales perbuatan mereka sama kamu" lanjut Rasya, berkata sendiri.


******


Satu bulan kemudian. Aku dan Greysie sudah berencana dari jauh-jauh hari untuk membunuh Simon Hiller.


Kami telah memata-matainya selama sebulan penuh. Jadi kami sudah mengetahui jadwal dan kegiatan dia sehari-hari, dan kami pun telah siap untuk mengeksekusinya.


Greysie sedang menungguku di sekitaran rumah Simon Hiller. Sedangkan aku masih mengamati sebuah hotel bintang lima.


Beberapa saat kemudian, Simon Hiller keluar dari sebuah hotel tersebut, aku pun mengikuti mobilnya.


Sampai di jalanan yang sunyi aku langsung menancap gas mobilku untuk mendahului mobil miliknya, lalu berhenti mendadak di depannya.


Ciiiiiiiiiiit...........!


"Siall, siapa orang ini" batin Simon Hiller, ia segera keluar dari mobil.


"Hey! Keluar kamu! siapa kamu?! sudah gila ya?!" tanya Simon, berteriak menghampiri mobil di depannya.


Perlahan pintu mobilku terbuka dan aku keluar dari mobilku. Mata Simon Hiller langsung terpesona saat melihatku, padahal tadinya ia terlihat sangat marah, tetapi setelah melihatku ia langsung terdiam sambil menatapku.


Padahal aku sedang memakai jubah hitam yang membuat seluruh tubuhku tertutup kecuali wajahku. Tetapi ia malah terus menatapku, tepatnya di bagian bibir dan leherku setalah aku membuka tudung kepalaku.


"Kamu siapa?" tanya Simon pelan.


"Em," menggerutkan bibir, "Aku Cara Callsita" jawabku, tersenyum sambil mengulurkan tangan.


Simon Hiller mengulurkan tangan untuk bersalaman denganku. Senyuman terus mengukir wajahnya sedang tangannya langsung meraba kulit lembutku, dan aku hanya tersenyum padanya.


Di saat ia tak melihatku lagi, wajahku langsung berubah menjadi ekpresi dingin.


"Umur kamu berapa?" tanya Simon meraba tanganku sampai atas sampai meraba pelan ke leherku. Aku hanya tersenyum.


"Em, aku 19 tahun. Btw rumah om di mana?" tanyaku masih tersenyum.


"Haah, kamu masih muda banget pasti.." ujarnya mendekatkan dirinya padaku.


"Pasti apa om?" tanyaku memberikan tatapan manis.


"Em, kamu pasti masih ****. Rumah om ada di perumahan indah, emang kenapa? kamu mau ikut om kesana?" tanyanya meraba bagian punggungku.


Wajah kami semakin mendekat sedangkan tanganku berada di bagian dadanya untuk menghalangi itu membentur karena ia menarikku padanya. Tangannya di lilitkannya di area punggung serta pinggangku. Sedangkan aku juga mendekatkan wajahku padanya, membuat ia terlihat sangat bernafsu ingin segera menciumku.


Di saat wajahku semakin mendekat pada wajahnya, aku langsung mempelesetkan wajahku ke telinganya dan berbisik.


"Aku boleh ke rumah om, gak?" bisikku pelan sambil tersenyum.


Setelah aku berbisik, ia langsung memeluk erat diriku sambil meraba bagian belakangku.

__ADS_1


Sedangkan aku yang telah mengambil pisau sedari tadi dari kantung jubahku langsung menggenggam erat pisau tersebut dan menatap dingin lurus kedepan.


Bersambung...


__ADS_2