
"Tungguuuu! Lo jangan lari, lo harus matiiii!! Harusss matiiiii!!! Lepas! Lepasiinnnn guaaaa!" teriak Greysie.
Angeline berlari sekuat tenaga. Dia terus melihat kebelakang. Saat ini Angeline sangat takut luar biasa, dia tak pernah berhadapan dengan seseorang dengan nafsu membunuh seperti Greysie.
"Greyy...." ucapku, lirih sambil menangis.
"Lepasin gua! Lepasssssss!!!" teriak Greysie memberontak.
Aku menangis terseduh-seduh sambil menguatkan pelukanku pada Greysie agar ia tak terlepas dariku.
Beberapa saat kemudian, Angeline sudah sampai di rumahnya. Ia langsung berlari ke kamarnya, sementara Rasya yang sudah menunggu kedatangan adiknya terlihat cemas.
Sementara itu, di hutan. Kami masih dalam posisi yang sama. Saat ini Greysie sudah mulai tenang. Namun aku bisa merasakan bahwa dia masih ingin membunuh Angeline.
Tak lama setelah itu, aku melonggarkan pelukannku. Namun hal itu malah membuat Greysie melepas semua tanganku dan langsung mengarahkan pisau yang ada di tangannya ke leherku.
"Lo! loo! Looooo!" ucap Greysie dengan napas yang memburu karena emosi.
Aku hanya menutup mata, pasrah jika dia akan membunuhku saat ini.
"Loo! Raaaa!! Fuckkkkk!!" teriak Greysie.
Greysie ingin menusuk leherku, namun tak bisa. Ia pun berdiri dan terus berteriak di dalam hutan tersebut sambil menendang semua pohon-pohon di sana.
Aku berdiri sambil mengambil borgol miliku, lalu aku menghampiri Greysie, segera memborgol tanganku dengannya.
Setelah itu, kami kembali ke dalam mobil Greysie. Sedangkan motorku aku biarkan berada di sana.
Aku telah menelpon seseorang untuk mengambil motorku, dia adalah seseorang yang biasanya membetirikan iformasi penting padaku. Namun kami tak pernah bertemu secara langsung, bisa di bilang dia adalah seseorang yang bekerja denganku hanya melalui telpon.
********
Tiba di rumahku.
Greysie saat ini masih di liputi emosi. Namun ia membiarkan diriku. Aku sudah menduganya, jika Greysie sedang berencana untuk melakukan sesuatu.
Tiba di dalam kamar. Aku segera berbaring dan Greysie hanya mengikuti. Sekarang sudah pukul 01:20 tengah malam.
Besok. Pada pukul 08:30 pagi. Aku terbangun dan langsung melihat ke samping. Borgol yang ada di tangan Greysie terbuka dan ia tak ada di tempat tidur saat ini.
"Grey, noo" batinku.
Aku segera beranjak dari tempat tidur. Di saat aku akan membuka pintu kamarku, namun Greysie sudah membukanya terlebih dulu dari luar.
"Mau kemana?" tanya Greysie, biasa.
"Kamu dari mana, Grey? Pliss bilang kalau kamu gak bunuh dia kan?" tanyaku, dengan mimik cemas.
"Gak" jawab Greysie singkat, sambil berjalan masuk.
"Bener Grey?" tanyaku, memastikan.
"Cek aja berita" jawab Greysie, biasa. Ia lalu berbaring di tempat tidur.
Wajah Greysie saat ini, entahlah mengapa aku menjadi sulit menebak ekspresi wajahnya. Namun perasaanku selalu benar. Aku yakin jika dia sedang merencanakan dan menyembunyikan sesuatu dariku saat ini.
Setelah mendengarnya, aku langsung memutar tv dan mencari siaran berita. Memang benar, tak ada satupun berita yang membahas tentang pembunuhan seseorang yang bernama Angeline.
__ADS_1
Tak puas melihat Tv, aku pun mencari artikel di hanphoneku. Namun yang muncul hanya nama keluarga Graham Friedman dan Elba Ritter pasangan suami istri yang memiliki anak bernama Rasya Fernandes dan Anneke Angeline.
Tak ada satupun Artikel yang membahas tentang kematian Angeline, itu artinya dia masih hidup saat ini.
********
Sementara itu, di rumah Angeline. Dia nampak pucat dan terus saja mengingat tatapan iblis di mata Greysie.
Saat sedang mengambil air putih di kulkas, Angeline tak sengaja menjatuhkan gelasnya.
"Dek? kamu kenapa?" tanya Rasya menghampiri, ia juga terlihat sangat cemas.
"Biar bibi yang berisihin ini, kamu duduk dulu.Tenangin diri" ujar Rasya, membawa Angeline duduk di sofa.
"Kamu kenapa dek? Ada masalah? Atau.. Jangan-jangan keluarga Milstone udah ngancem kamu?" tanya Rasya, cemas.
Angeline hanya diam, wajahnya sangat pucat bukan main.
"Dek? Pliss cerita ke kakak. Kamu kenapa? Apa ini karena temen kamu Vyora? Soal itu.. Serahin aja semuanya sama kakak. Kakak janji bakal hukum mereka semua" ujar Rasya, lalu memeluk adiknya.
Angeline terlihat sedang bingung saat ini. Dia tau siapa pembunuh berantai yang seberanya, dia juga tau siapa yang telah membunuh sahabatnya.
Akan tetapi, Angeline tak mungkin menceritakan semuanya pada Rasya. Apalagi setelah ia mendengar rekaman suara dariku.
Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Angeline juga sangat ingin membunuh keluarga Milstone.
Tetapi, saat ini Angeline juga sangat takut dengan Greysie. Bagaimana jika Greysie akan membunuh kakak, atau ayah dan ibunya juga?
********
Malamya. Pada pukul 18:30. Di dalam rumahku, Greysie masih bertingkah seperti biasa saja. Namun entah mengapa perasaanku sangat tidak enak. Aku tidak bisa mempercayainya saat ini.
Greysie membawa dua minuman merah di gelas untukku dan dirinya. Sedangkan aku sedang duduk di tempat tidur sambil membaca sesuatu.
"Kamu gak campur sesuatu di dalam minuman ini, kan?" tanyaku, menatapnya.
Greysie memasang wajah datar, ia lalu meminum minuman yang akan dia berikan padaku sebelumya sampai habis.
Setelah itu, Greysie memberikan minumannya untukku, namun aku tentu saja masih ragu.
"Gimana kalau sebenarnya minuman yang ini yang ada seseuatu di dalamnya?" tanyaku, dengan ekspresi takut.
Saat ini, aku tak ingin membuat Greysie marah kembali. Namun aku juga tengah curiga padanya.
"Ckk!" garutu Greysie, ia ingin membanting minuman yang berada di tangannya.
"Grey, tunggu- tunggu. Sini biar aku minum. Habis nanti barang-barang aku di banting mulu. Semua barang di kamar aku baru aku beli semua, aduhh habis duit gue kalau gini terus" ujarku, lalu mengambil minuman di tangan Greysie.
Sebelum aku meminumnya, aku menatap wajah Greysie terlebih dahulu. Aku ingin melihat apakah dia sedang tersenyum saat ini. Namun entahlah, wajahnya terlihat sama di bagiku.
Setelah itu, aku langsung meminumnya sampai habis. Kenapa aku meminumnya sampai habis? Entahlah aku juga tak tahu.
Setelah selesai meminumnya. Aku teringat kembali saat menatap mata Greysie sebelumnya. Matanya terlihat jelas tersenyum licik saat aku akan meminum minuman ini, namun mengapa sebelumnya aku tak bisa melihatnya?
Aku harus membantu sahabatmu untuk membunuh dia. Membunuh dia. Membunuh dia. Membunuh dia. Membunuh dia. Hehahahaha. Hahahahahah. Hahahahaha. Hahahahaha.
"Ss- sialll" batinku, sedang mataku sesekali terpejam.
__ADS_1
Kemudian, aku terbaring di tempat tidur. Sedangkan Greysie mendekatkan mulutnya padaku.
"Malam ini dia bakalan mati, Ra" bisik Greysie.
Kemudian Greysie segera pergi dari kamarku. Bibirnya tersenyum, sedang matanya menatap penuh dengan napsu untuk membunuh.
"G, rr-rey... Jj..." ucapku, lirih.
********
Saat ini, waktu menunjukan pukul 19:02 malam. Angeline sedang makan malam bersama keluarga besarnya di sebuah restaurant.
"Sayang, kenapa gak di makan makanannya?" tanya Ibu Angeline.
"Em, ini aku makan mah" jawab Angeline segera makan.
"Kamu kenapa sayang. Ada masalah? Cerita sama ayah" ujar Ayah Angeline.
Sementara Rasya yang sedang makan juga nampak penasaran.
"N- gak pp Yah, mah" jawab Angeline, tersenyum dan kembali melahap makanannya.
Angeline melahap habis semua makanannya. Sementara kedua orang tua dan kakaknya nampak bingung. Makanan mereka masih banyak di meja itu.
"Yah, Mah, Kak. Aku mau pulang dulu gak pp kan? aku capek pengen tidur tidur" pamit Angeline, segera berdiri.
"Kamu sakit? Makanan kita masih banyak ini" tanya Ayahnya.
"Iya, sayang. Hari ini kita kan udah rencana bakal makan sama-sama di luar. Udah lama kita gak ngumpul dan makan diluar bareng kek gini" sambung Ibunya.
"Em, tapi makanan aku udah habis, yah, mah. Aku juga udah capek banget. Aku pengen istirahat, pliss" ujar Angeline, memohon.
Ayah dan Ibunya saling melihat, begitu juga dengan Rasya.
"Hm, ok, ok. Ayah nelpon pak Roy dulu supaya dia jemput kamu pakai mobil satunya" ujar Ayahnya, segera menelpon.
"Gak usah, Yah. Aku udah mesen taksi tadi. Kalau gitu aku pamit. Bye Yah, Mah. Aku sayang kalian" ucap Angeline, memeluk dan mencium ayah dan ibunya.
"Aku pulang dulu, kak" lanjut Angeline, memeluk Rasya.
"Hati-hati kamu" ujar mereka serempak.
"Iya, dahh" ucap Angeline, melambai.
Angeline sekarang tengah menunggu taksi yang sudah ia pesan sebelumya. Namun chat dari nomor tak di kenal tiba-tiba masuk di telponnya.
"Gue perlu bicara. Ini soal Vyora. Temui gua di xxxx. Cara." (chat).
"Dia mau bicara apa? Jangan-jangan ini jebakan, tapi..." batin Angeline.
"Alamatnya gak jauh dari sini, hm.. Gue pergi aja kali ya. Siapa tau dia mau ngomong penting" batin Angeline.
Angeline kemudian pergi dengan berjalan kaki. Ia sampai pada tempat yang di tujukan.
Tak ada siapapun di sana. Tiba-tiba dari arah belakang seseorang membukam mulut Angeline dengan kain yang bercampur dengan obat bius.
"Hmm, hmm, hmm," Angeline ingin berteriak, namun tak bisa. Ia pun melemas dan pingsan.
__ADS_1
Bersambung...