Ilusi

Ilusi
BAB 36 (Part 2)


__ADS_3

"Apa gua harus...?" batin Greysie.


"Gak, gak. Cara masih belum sadar dari komanya" batin Greysie.


"Lo gak nyembunyiin sesuatu kan?" tanya Riska, curiga.


Greysie melihat Riska dengan wajah datarnya. Ia pun hanya menggeleng dan segera masuk ke dalam ruangan Icu.


"Thank u udah bantuin gua" ucap Greysie, berdiri.


"Rasya, Aric. Makasih udah dateng. Kalian boleh pulang sekarang. Aku mau jagain Cara" ujar Greysie, melangkah masuk ke dalam ruangan.


"Grey, kamu..." ujar Aric dan Rasya, bersamaan.


Kemudian mereka pun saling melihat, sementara Riska berdiri dari duduknya dan pamit pada mereka.


"Gue balik duluan" ucap Riska, tersenyum dan melangkah pergi.


"Emm, iy-ya... Hati-hati..." ujar Aric dan Rasya, bersamaan.


Setelah Riska pergi.


"Bro, gua juga harus pergi untuk nyelidiki lagi tentang keluarga mereka" ujar Rasya.


"Iya, hati-hati lo. Gua tau kalau keluarga mereka itu bahaya banget" sambung Aric, menepuk pundak Rasya.


"Iya, thank u. Kalau gitu gua pergi" pamit Rasya, melangkah pergi.


Sedangkan Aric tersenyum, kemudian ia masuk ke dalam ruang Icu. Greysie melihat Aric yang baru masuk.


"Emm, aku mau meriksa keadaan Cara lagi" ucap Aric, berjalan mendekati tempat tidur.


Greysie hanya mengangguk dan berdiri dari duduknya untuk memberikan ruang.


"Kamu gak pp Grey?" tanya Aric, melihatnya.


"Gak pp" jawab Greysie pelan, sambil tersenyum kecil. Aric juga ikut tersenyum.


"Apa ada kemajuan dengan kondisi Cara Ric? Cara bisa sadar dari komanya gak?" tanya Greysie.


"Emm... Itu... Kondisi Cara masih sama belum ada kemajuan dan untuk... Cara bisa sadar atau gak, aku gak bisa jawab" ujar Aric.


"Biasanya berapa lama seseorang koma gini? Apa banyak kasus orang koma bisa sadar dari komanya?" tanya Greysie.


"Emm... Semua itu tergantung si pasien. Kalau di lihat dari kasus-kasus lainnya mereka bisa koma sampai bertahun-tahun, tapi ada juga yang hanya memakan waktu beberapa bulan, ataupun beberapa hari" jelas Aric.


"Makannya aku bilang kalau kamu harus sering ngajak ngomong Callista. Karena meskipun dia koma, dia tetap bisa dengar kita" lanjut Aric.


"Emm, makasih Aric" ucap Greysie.


"Iya, sama-sama. Kalau gitu aku pergi dulu. Kamu jaga kesehatan" ujar Aric, tersenyum.


Greysie juga membalas senyum pada Aric. Kemudian Aric segera pergi. Ia pergi untuk membelikan makaman untuk Greysie.


Di dalam ruangan Icu, Greysie kembali duduk sambil menatapku dengan tatapan sedih.


"Raa, aku sayang kamu. Kamu tau itu kan? Pliss banguunnn... Bangun Raaa" ujar Greysie, dengan isak tangis.


"Maafin aku karena udah jahat sama kamu. Aku sama sekali gak benci sama kamu. Aku lakuin semua itu karena harus ikutin permainan mereka. Maafin akuu.... Aku minta maaf" ujar Greysie, lirih dan gemetar.


Beberapa saat kemudian. Aric datang dan membawakan makanan untuk Greysie. Ia melihat Greysie tertidur di sofa.


"Grey?" ucap Aric, menepuk tangan Greysie.


"Aah?" ucap Greysie, membuka mata dan terbangun.


"Ini aku bawain makanan buat kamu. Kamu harus makam dan jaga kesehatan kamu juga" ujar Aric.


Greysie melihatku, diikuti Aric. Lalu Aric segera membuka mengambil sesendok makanan.


"Kamu harus sehat kalau nanti Callista udah sehat juga. Kan gak bagus kalau dia bangun terus kamu sakit" ujar Aric, menyuapi Greysie.


Greysie melirik makanan di dekat mulutnya. Kemudian ia membuka mulut dan memakan makanan tersebut. Aric terus menyuapi Greysie sampai makanannya habis. Sedari tadi mereka saling memandang, lalu Aric memberikan minuman pada Greysie.


Greysie segera meminumnya sementara Aric mengambil tisu untuk mengelap sekitaran mulut Greysie, hal itu menimbulkan situasi awkard di antara mereka berdua.


"Emm... Ehh, maaf, maaf" ucap Aric, kaku.


Greysie juga merasa bingung harus bereaksi seperti apa, ia hanya lanjut mengelap mulutnya sendiri dengan bertingkah kaku.


Setelah beberapa menit dengan situasi canggung. Aric pamit pergi karena harus mengecek kondisi pasien lain.


#


Sementara itu, di rumah Cassie. Mereka sedang menunggu orang tua mereka. Beberapa saat kemudian mereka datang.


"Mama.... Ayah...." teriak Cassie, berlari menghampiri mereka.


"Aku kangen banget sama Mama dan Ayah" ujar Cassie, memeluk erat kedua orang tuanya.


"Ayah sama Mama juga kangen banget sama kamu sayang" ucap org tuanya, serempak.


Bryan tersenyum dan juga berpelukan pada mereka. Kemudian mereka pun masuk ke dalam rumah. Di dalam mereka duduk di sofa.


"Terima kasih Bryan, kamu memang bisa di andalkan" ucap Ayah Cassie.


"Semua ini juga berjalan lancar seseuai rencana Cassie, dia yang mulai rencananya" ujar Bryan, tersenyum melirik Cassie.


Sementara Cassie juga tersenyum pada Bryan sambil memeluk erat ibunya yang berada di dekatnya.


"Ayah bangga sama kamu" ucap Ayahnya, tersenyum mengelus rambut putrinya.


"Mama juga... Thank u sayang" ujar Ibunya, memeluk erat anaknya.


"Tapi... Maafin aku Yah, Mah... Aku gak bisa bunuh dia karena kecerobohan aku" ujar Cassie, cemberut.


"Gk pp sayang. Semua ini lebih dari cukup. Ayah makasih banget sama kalian berdua. Dan untuk urusan anak itu, Ayah punya rencana untuk dia" ujar Ayah Cassie.


"Apa rencananya Ayah?" tanya Ayah Cassie.


"Emm, kita gak perlu ngotorin tangan untuk ngebunuh dia. Biarkan dia yang membunuh dirinya sendiri sama seperti keluarganya. Dia bakalan menderita seperti Ayahnya. Itu lebih baik dari pada harus cepat-cepat membunuhnya. Kita siksa dia sepuasnya sampai dia memilih untuk mengakhiri hidupnya" ujar Ayah Cassie.


"Ayah memang yang terbaik untuk urusan seperti ini. Aku setuju banget" ujar Cassie, senang.


Mereka pun merencanakan semuanya untuk memasukannku ke dalam penjara jika aku bangun dari koma.


Beberapa hari berlalu dengan kondisiku yang masih sama seperti sebelumnya. Greysie terus saja mengatakan semua hal yang hanya kami ketahui. Ia terus memintaku untuk segera bangun dari koma.


Sementara itu, kaluarga Cassie dan Bryan selalu mengadakan pesta untuk kemenangan mereka. Mereka juga membiarkan Greysie untuk merasa tenang sebentar karena menungguku untuk sadar dari koma. Setelah aku sadar, barulah mereka akan memulai rencananya.


*Di rumah sakit.


"Caraa... Banguuuunnn... Aku harus gimana Raaa? Aku harus gimanaaaa....?" ujar Greysie, gemetar menahan tangis.


"Kamu udah janji kalau kita bakalan sama-sama terus Raaaa.... Aku gak ijinin kamu ninggalin aku... Pliss cepetan banguuunnn...." ujar Greysie, dengan isak tangis.


"Mereka semua lagi seneng-seneng di atas penderitaan kamu... Aku gak bisa biarin semua itu berlangsung lama. Aku harus bales dendam atas perbuatan mereka. Pliss bangun Raa... Kamu udah lupa dengan perbuatan mereka sama kamu dan keluarga kamu? Kamu udah lupa janji kita? Banguunnn Raaa.... Pliss banguhuhuun...." ujar Greysie, langsung menangis terseduh.


Hal itu membuat air mata kiriku menetes. Greysie terus menangis sambil melihat wajahku. Ia melihat air mataku menetes, dan segera menggengam tanganku erat-erat.


"Hnmff, kamu denger aku Ra? Aku di sini selalu jagain kamu... Kamu bangun yaa... Aku janji akan bales perbuatan mereka. Tapi sebelum itu kamu harus bangun... Kamu harus bangun dulu baru aku bisa gerak... Maafin aku karena udah jahat ke kamu... Sekali lagi maafin akuuu" ujar Greysie, dengan isak tangis pilu.

__ADS_1


Besoknya, tepatnya dua minggu kemudian. Aku terus mendengarkan suara Greysie di kepalaku. Ia menyuruhku untuk bangun dan aku terus berusaha mememaksa diriku sampai aku mendengar Greysie berteriak padaku, padahal itu hanyalah ilusi yang di ciptakan otakku untuk membantuku segera bangun.


"Ra, bangun Raaa....!" teriak Greysie


"Haaaaa, huh, huh," kaget, membuka mata, bernapas cepat.


Mataku melirik sekitar, sementara badanku ikut miring ke kanan sedang tanganku melepas masker oksigen dari wajahku.


Perlahan aku beranjak dari tempat tidur. Namun aku terjatuh karena badanku masih merasa lemas dan kepalaku juga sangat pusing. Di waktu yang sama, Greysie membuka pintu kamar rumah sakit dan melihatku terjatuh.


"Raa!" teriak Greysie, menghampiriku.


"Ra, you okay? Kamu udah sadar, aku... kira kamu bakal tinggalin aku," memeluk, "Kita ke tempat tidur ya, aku bakal manggil dokter" ujar Greysie, memapah, lalu membaringkanku ketempat tidur.


Dokter Aric datang. Ia mengecek mata, tekanan darah, denyut nadi, denyut jantung, dan juga komputer detak jantung.


"Lihat jari aku," (dua). "Ada berapa?" tanya dr. Aric.


"Dua" jawabku, lirih.


"Ini sebuah keajaiban, kamu bisa bangun dari koma Callista. Semuanya terlihat normal kecuali darah kamu. Darah kamu sedang naik, apa kamu sedang marah sekarang?" tanya dr. Aric.


Mataku pelan melirik Greysie. Aku menatap benci padanya. Sedangkan Greysie melihatku dengan ekspresi datar. Lalu aku menggeleng untuk berkata tidak pada Aric.


"Sebaiknya kamu jangan terlalu banyak mikir sekarang Callista. Stress adalah penyebab utama setiap penyakit menyerang seseorang" jelas dr. Aric, memberitahu.


Beberapa saat kemudian setelah Aric pergi. Aku tak mau melihat wajah Greysie karena masih marah dengannya terkait kejadian sebelum ini, tepatnya saat kami bertengkar di museum elecktrikal.


"Aku seneng banget kamu udah sadar Ra. Tapi maafin aku karena harus bersikap kek gini lagi sama kamu. Aku udah janji akan selesain semuanya. Kamu sabar ya Raa..." batin Greysie.


Malamnya. Greysie menyuapiku bubur. Sementara aku terus menatap wajahnya dengan tatapan sayu.


"Apa masih benci?" batinku.


Besoknya. Polisi datang, mereka langsung memintai keterangan dariku mengenai video yang tersebar di media sosial, serta bukti yang mereka temukan di dalam rumahku, yakni tas hitam yang berisikan jubah, topi, kaus tangan, sepatu dan masker serba hitam, serta pisau dan perlatan tajam lainnya.


"Saat malam pembunuhan korban Simon Hiller dan korban Hartono pada jam 01:00- 03:00. Kamu sedang berada di mana?" tanya Polisi tersebut.


"Pak, apa ini gak kelewatan? Sahabat aku barusan sadar dari koma!" ujar Greysie, sedikit membentak.


"Kamu tenang dulu, kami hanya ingin mengonfirmasi semua kasus yang melibatkan Cara Callista" ucap Polisi, menenangkan.


"Apa kamu bisa menjelaskan pada kami? tanya Polisi padaku.


"Gua yang udah bunuh Simon Haller tapi Hartono di bunuh keluarga Cassie," melirik Greysie, "Apa rencananya masih berjalan? Grey... Bukannya saat itu gua nemuin video dan foto di dalam flashnya. Dia masih mikir kalau semua itu gua atau gak? Apa gua boong aja ke polisi?" batinku.


"Pagi sampai jam 11:23 malam aku ada di rumah Grey. Terus aku pulang ke rumah jam 12 malam, dan tidur di rumah aku sampai pagi" jawabku,lirih.


"Tapi kata saudari Greysie saat itu kamu bersama dengannya semalaman" ujar Polisi bertanya, lalu melirik Greysie.


"Grey lagi tidur dia gak tau aku pulang" jawabku,lirih.


"Kenapa kamu pulang? Apa alasannya?" tanya Polisi, sedang tangannya terus mencatat.


"Gak ada. Aku cuman ingin pulang" jawabku, singkat.


"Kamu bisa membuktikan bahwa kamu benar-benar berada di rumah kamu semalaman?" tanya Polisi, sedang tangannya menunggu mencatat.


"Di rumah aku gak ada siapa-siapa" ucapku, lirih.


"Baik. Saat malam pembunuhan korban Kesya, apa benar kamu sedang berada di kantor polisi?" tanya Polisi.


"Iya, aku di tahan semalaman karena mukul mereka" jelasku, lirih.


Polisi mengangguk, serta mencatat. Kemudian ia lanjut bertanya.


"Malam pembunuhan korban Vanya, teman kelas kalian. Saat itu kamu sedang berada di mana?" tanya Polisi lagi.


"Baiklah. Pertanyaan terakhir, saat malam pembunuhan korban Arya Allen Wijaya, malam itu kamu sedang berada di mana?


"Ah? Aku.. Aku..," melirik Greysie, "Aku sama sekali gak inget. Ingatan aku gak sepenuhnya kembali saat aku sembuh dari sakit" jawabku, lirih.


Greysie terus menatapku dengan wajah datarnya. Hal itu terus membuatku melihat kearahnya dengan perasaan aneh.


"Aku hanya ingat Grey terus-terusan kasih aku obat dan sekilas aku hanya ingat mukanya yang lelah dan ben, ci" ucapku, suaraku mengecil.


"Mohon maaf, perkataan kamu yang terakhir bisa di ulangi?" tanya Polisi.


"Em, maksud, a.. ku.., Grey.. dia natap aku," melihat mata Greysie, "Kenapa kamu natap aku kek gitu lagi?" ujarku, langsung bertanya.


"Maafin aku Ra. Aku lakuin semua ini demi kamu" batin Greysie.


"I'm sorry Ra. Maafin aku juga pak, aku bohong soal pernyataan aku sebelumnya. Aku cuman ingin ngelindungi sahabat aku, meskipun dia udah ngebunuh Papa aku, tapi aku gak tahan lagi. Maafin aku. Malam saat papa aku di culik, aku lihat Cara juga gak ada di rumah aku. Dia pergi entah kemana. Aku juga tau kalau malam pas pembunuhan pak Hartono dan Simon Hiller Cara gak ada di kamar aku saat itu. Saat pembunuhan temen sekolah kami Vanya, Cara juga gak ada lagi di kamar aku malam itu" jelas Greysie, menatapku.


Sementara aku yang mendengar perkataannya nampak syok berat, rasanya seperti di khianati oleh dunia juga sahabtku sendiri.


"You really did this to me, Grey?" tanyaku, lirih. Sedangkan air mataku menetes. Greysie hanya diam sambil menatapku.


"Grey if you hate me, just kill me. Don't did this to me, pliss. I'm beggin you" ujarku dengan air mata dan menatap pilu.


Greysie hanya diam dengan wajah datarnya. Sementara aku terus meneteskan air mata dan polisi terus mencatat semuanya.


"Grey, aku cuman punya kamu sebagai sahabat aku di dunia ini. Kalau kamu giniin aku, aku... ak, aku gak bis.., aku gak bisa. Pliss don't did this to me.... Why kamu gak biarin aja aku mati sebelumnya kalau kek gini jadinya Grey?" tanyaku, lirih. Sedang aku juga sibuk menahan air mata yang mencari jalan untuk keluar, membuat mulutku ikut gemetar.


Greysie hanya melihatku dengan ekspresi, aku tak bisa lagi menebak ekspresi dari wajahnya. Yang aku simpulkan hanyalah ia menatap benci padaku. Kemudian aku menatapnya lesuh, terasa seperti tubuhku kehilangan sebagian kekuatannya. Lalu aku mencabut infus dari tanganku.


Tanganku bergerak cepat ke leherku karena aku ingin mengiris leherku dengan jarum infus tersebut. Namun dengan ceketan Greysie langsung menahan tanganku. Aku menatapnya dengan tatapan sayu, sambil menahan isak tangis yang keluar dari mulutku yang gemetar. Air mataku juga tak henti mengalir. Sementara polisi juga segera memborgol tangan kananku agar aku tak bisa lagi melakukannya.


"Kamu gak boleh mati, Ra. Kamu harus tanggung jawab atas semuanya. Kamu harus tanggung jawab atas perbuatan kamu" ucap Greysie melihatku, kami beradu pandang.


"Grey, pliss jangan hianatin aku kek gin- nnnii... Apa janji kita saat itu cuman perkataan belaka? Kenapa lakuin ini ke aku? Itu bukan aku Grey, bukan... aku yang udah bun- nuh papa kamu" ucapku lirih, tersentak karena isak tangis.


"Kamu gak inget kan? Gimana kamu bisa yakin kalau itu bukan kamu? Semua bukti juga tertuju sama kamu" ujar Greysie, melepas genggaman tangannya dariku.


"Ja, ha- at. I hate yo- u, i hate m- e. Why am, i living i, n this hell, world" ujarku lirih, tersentak sambil menangis.


"Jaa-haat... Kamu jahaat... Hmfhuhuuuu... Grey jahat... Jahat bangetthuhuuu.... Jahatt....," menangis dan memberontak.


"Aku mau mati aja, lepasin inii...... Lepassiinn.... Aku gak mau matii.... Lepassiinnn Pakk.... Huhuu... Lepasin akuu.... Grey jahatt banget, aku mau mati aja... Kenapa aku gak mati aja sebelumnya? Kenapa...? Huhuuu, bunda jemput aku sekarang... Aku mau ikut bundaa....," terus menangis sampai pingsan.


Greysie segera memanggil dokter. Kemudian dokter memeriksaku, sementara itu Greysie melirik dua polisi di sana.


"Emm, kalau begitu kami pamit" ujar Polisi, pergi dari sana.


Beberapa jam kemudian, malam ini hujan deras. Hujan seperti menutupi air mata, di mana gemuruh layaknya amarah. Angin membawa suara memasuki gendang telinga seperti bisikan, tawa dan hinaan. Aku bangun dan melihat Greysie sedang berdiri menatapku.


Namun saat aku bengun, ia segera melangkah pergi sedangkan aku bangun dan beranjak dari tempat tidur langsung memegang erat kakinya


"Grey, aku mohon. Jangan giniin aku. Aku beneran gak... Aku.." ucapku, lirih. Memohon dengan isak tangis.


"Why u so evil to me? Aku salah apa Grey sampai buat kamu kek gini? Pliss maafin aku, jangan hianatin aku kek gini" ujarku, masih memohon dengan isak tangis.


"Udah Ra! Lo ngapain pegang-pegang. Mending lo bangun. Bangun Ra!" ucap Greysie berusaha membuatku berdiri dan menyuruh duduk di tempat tidur.


"Lo duduk! Lo juga gak usah ngelag terus, Ra!" bentak Greysie, memaksaku duduk. Namun, aku langsung berdiri lagi sambil menatapnya lesuh.


"Hohohhn," gemetar menahan tangis, "Fuc*k this shitt, you so meannn! You fuc*ing evil! Why you doing this to me? Why Grey? aaah," memegang kepala, lalu berjongkok, "I hate, i hated it" ujarku, lirih gemetar dengan isak tangis pilu. Greysie hanya diam, menatapku yang jongkok di depannya.


"I hate you so much. I hate yyou. Kita bukan sahabat lagi mulai saat ini," mendongak "Aku gak mau anggep kamu sahabat lagi. I really, really hate you Grey" ujarku, lirih masih dengan isak tangis, menatap dengan tatapan sayu.


"Aahhhahaaaa," memegang kening kiri dengan tangan kiri.

__ADS_1


"Huhuuu, bundaa, haayaah, jemput aku sekaraang aaaammff. Tiyaa.. jemput kakak dek... haaamff. Bawa akuu, aku," menelan ludah, "Aku mau ikut kalian aja, huhu....hmm ahahAaa, bundaa... ak, uu gak punya hemm... Aku gak punya siapa-siapa lagii... Bundaaa...," terus menangis dengan rasa sakit mendalam.


Tangisku pecah saat itu. Suaraku kadang tersentak karena melap air mata dan menarik ingus. Sedangkan Greysie hanya terus diam sambil menatapku, tangannya sedari tadi mengepal, lalu Greysie tak mau lagi melihatku, ia selalu membuang muka.


"Bundaa, haya, aah... Jemp, uut, haakuu... Bundaa, bundaaa hmz," menelan ludah, "Hmm... bundaa... Cara gak mau hidup lagi... Grey jahat, dia jahat bangett... Grey jahat banget sama Carahuhuu... Bundaa...." ucapku, lirih masih menangis.


Kepalaku menjadi sangat pusing karena menangis terseduh-seduh. Lalu aku pingsan saat itu juga. Greysie yang tadinya hanya diam langsung berjongkok untuk menahanku.


"Bundaa..." ucapku, lirih dengan isak tangis. Lalu mataku terpejam sempurna.


Greysie segera mengangkatku ke tempat tidur. Lalu ia memanggil dokter untuk memeriksaku.


Sejak kata-kata itu keluar dari mulutku, aku menjadi diam dari biasanya, tak mau makan sedangkan mulutku selalu terkunci dan aku tak peduli dengan polisi yang selalu datang untuk memintai keterangan.


Rasya dan Aric kebingungan, sedangkan Greysie hanya diam. Selama berhari-hari aku tak mau makan, terus menangis dan selalu mencabut infus dari tanganku. Aku juga menyiksa diriku sendiri dengan cara menggenggam bagian lukaku sampai darahnya terus mengalir. Itu aku lakukan sampai berkali kali sampai pada hari berikutnya aku melakukannya, kondisiku sudah semakin parah. Karena lemah, tak mau makan, selalu mencabut infus, dan selalu menyakiti diri sendiri sehingga membuat jahitan-jahitan lukaku terbuka lagi.


Sabtu, malam. Greysie menyuapiku bubur untuk makan. Satu suapan itu berada di bibirku, sedang mulutku masih tertutup. Aku duduk dan melihatnya dengan tatapan lesuh sedang mataku terlihat bengkak karena menangis tiap malam.


"Ra, lo harus makan! Gua gak ijinin lo mati. Makan Ra! Makan!" ucap Greysie menyuapiku sesendok berisi bubur ke mulut.


"Huk," hampir muntah.


"Hueghh....," memuntahkan darah.


Darahku terkena wajah Greysie sedangkan aku langsung mengalami kejang-kejang. Sementara Greysie merasa panik dan langsung memanggil dokter Aric.


"Dokter! Dokter...!" teriak Greysie, melihat keluar pintu, sesekali ia memencet tombol darurat.


Dokter Aric datang dan langsung memeriksaku. Para suster juga menyiapkan masker oksigen untuk membantuku bernapas. Aric memeriksa denyut nadi, jantung, mata juga komputer detak jantung, lalu aric menggelengka kepala sambil melihat Greysie.


Greysie hanya menangis kecil, wajah cemasnya baru terlihat lagi. Setelah itu Aric langsung menghampiri Greysie, memegang pundakknya.


"Grey, hey? Kamu.. Ini.. Callista kenapa sampai gini? Dia gak mau hidup lagi. Kamu ngomong apa ke dia Grey? Kamu beneran udah gak peduli lagi sama dia? Kalian sebenarnya kenapa Grey? kenapa?" tanya Aric, serius. Greysie hanya diam sambil melirikku.


"Apa kamu sebegitu bencinya sama Callista, Grey?" tanya Aric, menatap tanya.


"Aku gak benci sama Cara" jawab Greysie, lirih.


"Terus kalian kenapa sampai jadi gini Grey? Aku bingung sama kalian berdua. Kalian ada masalah apa?" tanya Aric dengan mimik serius.


"Cara gak salah apa-apa. Aku cuman harus.. Aku harus.." jawab Greysie, lirih.


"Kamu harus apa? Harus apa Grey?" tanya Aric, tangannya masih memegang pundak Greysie.


"Aku harus lakuin ini" batin Greysie, sambil menatap Aric. Mereka beradu pandang.


"Grey... Kondisi Callista... Kamu gak mau dia sakit kan? Jangan buat dia stress kek gini Grey..." ujar Aric, dengan suara pelan.


"Jahitannya juga ke buka terus. Kenapa? Callista banyak gerak? Bahaya kalau lukanya sampai infeksi Grey..." ujar Aric, menatap Greysie.


"Maafin aku... Huhuuumm...," Greysie malah menangis sampai terseduh-seduh.


Besoknya, setelah aku sadar dari pingsan. Aku melihat tanganki sudah di borgol atas permintaan Greysie. Hal itu juga karena aku telah resmi menjadi tersangka kasus pembunuhan berantai selama dua setengah tahun terakhir. Berhari-hari itu, aku selalu menangis. Sedangkan Greysie hanya diam melihatku.


Dua minggu kemudian, aku telah di perbolehkan untuk pulang tetapi aku harus tetap banyak beristrahat, jika tidak kondisiku akan kembali parah seperti sebelumnya. Dokter Aric menyarankan agar aku di rawat jalan.


"Grey... Inget... Callista gak boleh stress... Kalau dia stress kondisinya malah akan makin parah" ujar Aric, di angguki Greysie.


Setelah Aric pergi Greysie menyuruhku untuk mengganti pakaian.


"Polisi bentar lagi sampai" ujar Greysie, tiba-tiba.


Greysie sedang berdiri berdekatan dengan pintu kamar rumah sakit. Setelah memberitahukan tentang polisi padaku, ia segera memutar gagang pintu dan tak mau melihat wajahku.


Sementara itu, tanganku yang sedang mengancing baju kemejaku terhenti setelah mendengarnya. Bibirku gemetar menahan tangis, aku pun mengejarnya sebelum ia pergi.


"Grey...." panggilku, menahan tangannya.


"Kamu gak serius kan? Pliss... Cara mohon... Bilang kalau semua ini bohongan... Hm? Aku bener-bener minta maaf. Grey pliss maafin Cara? Aku gak bisa gini Grey... Aku bertahan selama ini cuman demi kamu, kalau kamu giniin aku... Aku... Aku gak bisa... Pliss maafin aku?" ujarku, menatap dalam.


Lalu aku memeluknya sangat erat dengan isak tengis kecil. Air mataku tak henti menetes, aku melihat wajah Greysie lagi. Namun ia masih saja tetap diam dengan wajah datarnya, seakan tak peduli denganku. Karena tak menemukan perubahan ekspresi dari wajah Greysie, aku pun secera pelan melepas pelukan dan memegang pundaknya sambil menangis menatap wajahnya dengan tatapan memohon.


"Aaah...," mendongak, "Huhuuu...fuuuuh.... "Fuuuhhh...huhuuu...fuuuhhh...," menarik hembuskan napas dengan air mata.


Kemudian aku melihat wajah Greysie lagi sambil meraba kantung celenanya, langsung mengambil pisau lipat di dalamnya. Lalu dengan cepat tangaku membuka pengaman pisau sampai aku arahkan ke jantungku. Namun sebelum pisau itu menusuk janjungku, Greysie terlebih dahulu menghentikan pergerakan tanganku. Ia membuka paksa tanganku untuk melepaskan pisau dan langsung membuang pisau dengan tatapan marah, seakan tak suka dengan perbuatanku.


Sementara aku yang melihatnya nampak kesulitan untuk menahan tangis. Bibirku semakin gemetar, aku pun terduduk dan menangis terseduh-seduh sampai napasku terasa sesak sendiri. Rasanya aku seperti akan kehabisan napas, sementara Greysie langsung memapahku, membawaku ke tempat tidur, dan memakaikan masker oksigen ke wajahku.


"Haaaa.... Fuuuuhhh.... Haaaa.... Fuuuuhh," bernapas lemah.


Masker oksigen itu membantuku bernapas dengan normal kembali, sementara tubuhku terasa lemah. Setelah pernapasanku membaik, aku pun memegang kepala dan kembali menangis kecil. Isak tangis dariku memenuhi ruangan saat itu. Sementara Greysie, ia masih menatapku dengan wajah datarnya.


Beberapa menit berlalu dalam kehingan ruangan. Hanya suara sisa-sia tangisanku yang terdengar di dalam ruang. Kemudian Greysie segera melepas masker oksigen dan memaksaku bangun, ia membawaku keluar kamar.


Di luar kamar, polisi baru saja tiba. Mereka pun segera menghampiri kami.


"Jangan mati" bisik Greysie padaku.


"Cara Callista. Anda di tuduh atas kasus pembunuah berantai selama ini. Silahkan ikut kami ke kantor polisi" ujar Polisi.


Dua polisi segera memegang kedua tangan kiri/kananku secara bersamaan. Kemudian aku melihat Greysie dengan tatapan sendu, sementara ia menatapku biasa.


"Grey, Grey! Grey! Pliss" ucapku memanggil, sedang polwan memegang tanganku untuk membawaku pergi.


"Tunggu pak, bu. Biarin aku bicara bentar sama Grey. Pliss, bentar aja" ucapku, sedikit memberontak.


"Mohon maaf. Anda harus ikut kami sekarang ke kantor polisi. Kalian bisa bicara nanti" ucap seorang polisi berumur 40-an tahun.


"Lepasinn, pliss pak bentar aja. Grey! Grey pliss. Grey! Lepasin pak, lepasin!" ucapku, badanku terus memberontak ingin melepaskan diri.


Polisi terus melangkah pergi. Sementara aku merasa harus memastikan sesuatu pada Greysie saat ini. Perasaan di hatiku membuat aku selalu gelisah dan tak tenang. Aku pun melepas paksa dan mendorong kedua polisi yang memegangku, lalu berlari menghampiri Greysie.


Kemudian aku membuka paksa lengan baju kemeja Greysie dan melihat sangat banyak luka sayatan yang berada di tangan kanannya. Melihat hal itu, aku pun terdiam sedangkan polisi langsung memborgol kedua tanganku dan segera membawaku pergi.


Setelah aku menghilang dari pandangan Greysie. Ia lalu masuk ke dalam kamar, bersender ke dinding yang berdekatan dengan pintu dan menangis sesegukan sampai ia terduduk lemas.


"Pliss maafin akuhuhuu... Maafin aku... Maafin aku Raaa..." ucap Greysie, lirih dengan isak tangis.


Isak tangis kecil Greysie terdengar memenuhi ruangan rumah sakit, tempat aku di rawat sebelumnya.


#


Sementara itu, di depan rumah sakit telah banyak wartawan dari berbagai stasiun televisi. Mereka menunggu sedari pagi hanya untuk merekamku agar menjadi berita besar bagi stasiun tv mereka.


"Mbak Cara. Apakah mbak Cara mengakui kalau semuanya adalah ulah mbak Cara?" tanya wartawan wanita, ikat rambut, kemeja hitam.


"Mbak Cara. Mbak Cara" teriak semua wartawan serempak, sedang polisi terus membawaku menuju mobil mereka.


"Mbak Cara. Apa benar Mbak Cara telah membunuh ayah dari sahabat mbak Cara sendiri? tanya wartwan cewek, kemeja merah.


"Mbak, mbak. Apa alasan mbak Cara sampai membunuh semua korban? Apa hanya karena ingin membalaskan dendam kepada perusahaan Electrikal atas perbuatan mereka pada keluarga mbak Cara?" tanya reporter cewek, berkacamata.


"Iya, dan apa alasan mbak Cara juga membunuh teman sekolah mbak Cara sendiri? Apakah karena sebelumnya mereka telah membully mbak Cara?" lanjut reporter jilbab hitam, bertanya.


Kami terus berjalan pelan, di kerumuni reporter dari berbagai stasiun televisi. Kemudian, setelah sampai di depan mobil, polisi langsung membukakan pintu mobil, menyuruhku masuk.


Setelah itu, aku melirik keluar jendela untuk melihat setiap sorotan kamera yang di arahkan padaku. Semuanya nampak sangat silau, membuat mataku terpejam. Aku berpaling kedepan dengan mata masih terpejam.


Kemudian, air mata kiriku menetes, sedang bibirku ikut gemetar karena manahan tangis pilu yang berusaha keluar.


"Aku... Gak bisa mikir jernih Grey... Apa kali ini dugaan aku bener atau salah?" batinku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2