
"Baiklah. Kalau begitu terima kasih. Mari bu" pamit Polisi pada mereka.
"Kak Grey. Kenapa semua ini harus terjadi sama kak Cara. Dia lagi sakit sekarang, tapi semua orang jadi ngehujat kak Cara. Mereka doain supaya kak Cara mati aja, huhuu" ujar Lia, menangis.
"Iya neng. Kasian banget neng Cara. Dia cuman sendiri, gak ada siapa-siapa lagi. Tapi.." sambung Bibi Nur, sedang ia juga menangis pilu.
Greysie hanya diam, namun, air matanya juga ikut menetes. Kemudian, mereka bertiga berpelukan dengan tangis menggebu seperti menusuk pada hati terdalam mereka.
Di saat mereka sedang berpelukan. Tiba-tiba telpon Greysie berbunyi, ia pun menjawab telpon dengan nomor yang tak di kenal tersebut.
"Apa kamu tidak membenci sahabatmu? dia telah membunuh ayahmu sendiri" ujar Seseorang di telpon, membuat mimik wajah Greysie seketika berubah menjadi tatapan benci.
"Lo yang udah buat Cara jadi kek gini? gua bakal cari lo sampai dapat, lo bakal terima akibatnya berkali-kali lipat!" ujar Greysie, membentak.
"Sanntaii, kalau kamu ingin membalas perbuatanku. Sebaiknya temui aku di tempat ayahmu di bunuh oleh sahabatmu. Hahaha" ucap seseorang, langsung mematikan telpon.
"Ergraaaaaah! fuc*k you, bi*ch! you fuc*ing ash*le, fuc- kk yyou!" teriak Greysie, membanting hp miliknya.
"Itu siapa yang nelpon neng?" tanya Bibi, sedangkan Lia penasaran menunggu jawaban.
"Dia yang udah buat Cara jadi kek gini. Aku bakal bales dia" ujar Greysie, memberitahu dengan mimik wajah kesal.
"Dia bilang apa sama neng?" tanya Bibi, penasaran.
"Dia nyuruh aku nemuin dia" jawab Greysie.
"Apa neng? Neng Greysie jangan kesana. Bisa jadi itu cuman jebakan aja buat neng. Sebaiknya neng Greysie jangan kesana. Kita jagain neng Cara aja neng. Neng Cara lagi butuh kita semua sekarang" ujar Bibi, memohon.
"Tapi Bi, aku.." ucap Grsysie tak selesai.
"Pliss neng, ini demi neng Cara. Bibi juga gak mau neng Greysie sampai kenapa-kenapa" pinta Bibi, memohon.
********
Sementara itu, di kantor polisi. Rasya sedang berdebat dengan senior Polisinya.
"Pak, pak pliss, saya mohon, biar saya aja yang nangenin kasus ini pak. Saya udah deket sama pembunuhnya. Ini bukan perbuatan Lista pak. Mereka sengaja ngejebak Lista buat ngebebasin orang tua mereka. Keluarga mereka yang salah pak, mereka udah hancurin keluarga Lista" ujar Rasya, memohon.
"Maaf pak Rasya. Saya tidak punya wewenang mengenai hal ini. Semua ini atas perintah Bu Elba Ritter. Saya hanya menjalankan perintah atasan" ucap Senior polisi tersebut.
Kemudian Rasya mengamuk, menendang meja di kantor polisi tersebut. Ia segera pergi untuk menemui ibunya.
Di dalam ruangan.
"Mahh! kenapa mama pindahin kasus aku sama polisi yang lain?" tanya Rasya, membentak.
"Kamu gak beri hormat ke mama? di kantor ini mama adalah atasan kamu. Mama juga lakuin itu karena kamu terlalu terobsesi sama pembunuh berantai, mama gak mau kejadian lagi kek adik kamu. Lebih baik polisi lain yang menyelesaikan kasus ini" ujar Ibunya.
"Ma, pliss, aku gak bisa biarin ini semua. Lista udah.. dia gak perlu nanggung beban baru lagi maa, pliss. Dia sekarang koma ma, komma!" ucap Rasya, memohon.
"Kamu kenapa sampai segitunya belain dia? Bukannya buktinya sudah ada?" ujar Ibunya, bertanya.
"Semua itu bukti gak langsung. Mama harusnya juga udah tau. Di foto itu wajahnya gak kelihatan jelas. Sedangkan di video juga gak ngelihatin kalau Lista yang udah lakuin hal itu. Bisa jadi seseorang sengaja ngejebak dia ma. Terus tas yang di temuin dalam rumahnya juga aku yakin kalau itu cuman jebakan. Rumah Lista pernah di geledah sama orang, bisa jadi mereka yang udah simpen tas itu di dalam rumahnya. Mama pliss, satu kali ini aja, aku beneran gak.. dia udah ngalamin banyak hal ma, keluarga dia udah gak ada semua. Bahkan sekarang dia koma malah di fitnah kek gini" ujar Rasya, memohon sambil memegang tangan Ibunya.
Sedangkan ibunya hanya diam menatap wajah sedih Rasya.
"Maa pliss. Kali ini aja. Pliss. Aku janji setelah nangkep pelaku yang udah buat Lista kek gini. Aku bakalan turutin kemauan mama. Mama boleh pindahin aku kemana aja" seru Rasya, tatapan penuh harap.
"Okey, okey. Sekali ini aja. Setelah kasus ini selesai. Kamu harus pindah ke bagian pelayanan masyarakat aja. Jangan kriminal lagi. Nanti kamu malah tetep terobsesi buat nengkep semua pembunuh berantai. Ingat kali ini aja!" jelas Ibunya, tegas.
"Iya, iya.. thank banget Ma, thank u" ucap Rasya, mencium tangan Ibunya.
********
Rasya segera berlari ke arah mobil milknya. Ia melihat tiga panggilan tak terjawab dari Greysie, kemudian ia segera menelpon balik.
(Beep telpon).
"Halo, Grey" sapa Rasya di telpon.
"Iya, halo Sya" sahut Greysie, menjawab.
"Gimana keadaan Lista?" tanya Rasya.
"Masih sama kek kemarin. Rasya aku mau nanya, gimana kabar kasus papa aku. Kenapa malah jadi Cara yang... Cara gak tau apa-apa soal papa aku yang udah meninggal. Cara lagi sakit saat itu, dan itu gara-gara aku. Pliss, kamu bantuin Cara" ujar Greysie, memohon.
"Iya, aku tau, kamu tenag aja. Aku bakal cari pelaku yang sebenarnya. Kalau gitu aku tutup dulu, aku harus selidiki kembali tempat papa kamu di sekap, sepertinya aku ngelewatin sesuatu. Oh ya, aku mau nanya, di sekolah kamu ada gak teman kamu yang memakai gantungan kunci boneka beruang kecil?" ujar Rasya, bertanya.
"Gantungan kunci?" tanya balik Greysie.
"Em, aku gak yakin ini gantungan kunci atau bukan. Tapi kalau kamu pernah lihat temen kamu yang punya gantungan boneka beruang. Kamu kasih tau aku, ya" ujar Rasya.
"Em, iya. Nanti aku inget-inget lagi" sambung Greysie.
"Ok, kalau gitu aku tutup dulu. Telpon aku, kalau keadaan Lista udah membaik" ucap Rasya.
********
Malam pada pukul 21:30. Riska sedang membaca artikel berita tentang kasus yang menimpah aku. Kemudian, ia teringat akan video yang di perlihatkan Cassie padanya.
"Gua yakin si Cassie yang udah ngefitnah Cara. Dari mana dia dapet semua foto dan video itu, pasti dia pelakunya" batin Riska, sedang jarinya masih menggeser layar telpon milknya.
Kemudian Riska segera menelpon Greysie untuk memberitahukan padanya.
__ADS_1
(Beep telpon).
Di rumah sakit. Greysie melihat telpon miliknya, ia merasa heran saat membaca nama seseorang yang sedang menelpon dirinya.
"Ngapain dia nelpon gua" batin Greysie, kemudian ia menjawab telpon.
"Ya" ucap Greysie singkat.
"Gua mau ngomong sesuatu sama elo" ujar Riska.
"Soal?" tanya Greysie singkat.
"Ini soal Cara. Rumah Cara pernah di geledah sama orang gak?" tanya Riska.
"Kok lo tau?" tanya Greysie lagi.
"Waktu itu si Cassie kasih lihat video ke gua. Dia nyuruh seseorang buat geledah rumah Cara. Terus orang suruhan Cassie nemuin tas hitam di dalam rumah Cara yang isi dalem tasnya kek peralatan gitu, lo tau lah perlatan apa. Tapi gua yakin pasti si Cassie yang udah nyuruh orang buat simpen tas hitem itu di rumah Cara. Di dalam rumah Cara ada Cctv kan? Lo sebaiknya cek Cctv rumahnya. Siapa tau ada bukti yang bisa buktiin kalau Cara lagi di fitnah sekarang" jelas Riska.
"Kok lo peduli banget? bukannya selama ini elo benci banget sama Cara" ujar Greysie, bertanya.
"Itu.. Lo tau kan kalau temen lo itu baik banget sama semua orang. Lo pikir aja. Gua juga sebenarnya kepengen bantuin cari buktinya, tapi gua gak bisa akses rumah Cara. Cuman elo yang bisa, karena lo sahabat dia. And, kalau lo butuh bantuan, telpon aja gua" seru Riska, serius.
Riska menutup telpon. Sedangkan Greysie masih memproses informasi yang ia dapatkan.
"Gua harus cek Cctv di rumah Cara" batin Greysie, sedang ia melihatku.
Tak lama setelah itu Greysie bergegas pergi ke rumahku. Dia menancap gas mobil miliknya selaju mungkin. Sekitar satu jam dia berada di dalam mobil, tak henti dia juga melihat jam tangan miliknya.
Sesampainya di depan rumahku. Greysie langsung membuka pintu rumahku. Membuka kunci pintunya, kemudian memasukan pin pada sistem smart door lock. Pintu terbuka.
Greysie segera berlari, mencari ruang kontrol Cctv di setiap ruangan di dalam rumahku. Namun, ia tak juga menemukan ruang kontrol tersebut.
Kemudian Greysie berjalan pelan keluar rumah dengan perasaan kecewa. Ia menangis, sedang tangannya menutupi wajahnya. Namun, ia tiba-tiba teringat sesuatu. Itu adalah saat Greysie sedang melihat tombol misterius di sebuah lorong rumahku.
Mengingat hal itu, Greysie segera berlari mencari lorong tersebut. Ia berjalan pelan memasuki lorong yang gelap, kemudian menyalakan senter hp miliknya untuk menerangi jalan.
Tangan Greysie meraba dinding untuk mencari tombol misterius. Tak lama kemudian, ia menggeser penutup tombol yang warnanya terlihat sama seperti dinding di lorong tersebut.
Tombol berwarna merah terlihat. Greysie segera memencet tombol itu. Lalu, pintu yang warnanya sama seperti dinding juga terbuka, kemudian pintu lain terlihat setelah pintu pertama.
Pintu ke dua itu membutuhkan pin untuk bisa membukanya. Greysie kemudian segera memasukan pin. Namun, pin yang ia masukan selalu salah. Kemudian percobaan kedua, Greysie memasukan pin lagi, namun tetap salah.
Greysie sempat termenung, sedang jarinya berada di sekitar angka pintu tersebut.
Greysie terlihat berpikir, lalu dengan tatapan penuh harap ia memasukan lagi pin pada sistem pintu tersebut.
"C' mon, c'mon Ra, gua harap kali ini bener" batin Greysie.
Setelah pintu kedua tersebut terbuka, Greysie segara masuk dan mengecek komputer untuk melihat rekaman Cctv.
Video Cctv terputar. Ada seseorang masuk membawa sesuatu ke dalam rumahku, wajahnya tak terlihat, karena ia menggunakan masker dan jubah hitam untuk menutupi wajahnya.
Orang tersebut menaruh tas hitam di dalam kamar, tepatnya di bawah tempat tidurku. Setelah selesai, orang tersebut mulai memvideokannya.
Tak lama setelah memvideokan tas hitam tersebut, orang itu mulai menggeledah rumahku seperti sedang mencari seseuatu. Ia juga membanting barang-barang, seperti sedang marah.
Setelah itu, seorang berjubah hitam kemudian mengambil sesuatu dari dalam laci meja riasku.
Telpon Greysie tiba-tibe berbunyi, lalu Greysie menjawabnya.
"Apa?!" ucap Greysie, terkejut.
Setelah menerima telpon, Greysie segera berlari keluar dari ruangan, sampai masuk ke mobilnya. Mobil Greysie melaju dengan kecepatan tinggi, ia tak peduli dengan lampu merah. Hampir saja ia menabrak kendaraan lain, namun ia langsung pergi begitu saja, menancap gas mobil miliknya.
Sesampainya di rumah sakit. Aric, Rasya, dan Riska sudah berada di sana. Sedangkan Greysie masih dengan perasaan tercampur aduk antara cemas dan takut berlari menghampiri mereka.
"Cara. Cara gimana? dia gimana?" tanya Greysie, gemetar, sedang wajah cemasnya terlihat jelas.
"Dia gak papa Grey. Ini semua berkat kamu" ucap Aric, memegang kedua pundak Greysie.
Mendengar perkataan Aric, membuat Greysie langsung terduduk lemas. Ia merasa bersyukur setelah mendengarnya.
"Pelakunya. Pelakunya gimana? udah ketangkep?" tanya Greysie.
"Aku ngejar dia tadi. Tapi, dia berhasil kabur. Sepertinya dia udah menduga hal ini. Saat aku ngejar dia, banyak orang yang menghalangi aku seperti udah di rencakan. Keknya mereka orang sewaan. Tapi, aku gak punya bukti, jadi mereka gak bisa di tahan" ujar Rasya, menjelaskan.
Flashback. Saat Greysie sedang menelpon dengan Riska.
"Itu.. Lo tau kan kalau temen lo itu baik banget sama semua orang. Lo pikir aja. Gua juga sebenarnya pengen bantuin cari buktinya, tapi gua gak bisa akses rumah Cara. Cuman elo yang bisa, karena lo sahabat dia. And, kalau lo butuh bantuan, telpon aja gua. Kalu gitu gua tutup" ujar Riska, serius.
"Tunggu dulu. Jangan di tutup. Gua mau ngomong sesuatu" ucap Greysie.
"Ya?" tanya Riska, singkat.
"Gua butuh bantuan elo sekarang. Lo ke sini jagain Cara, tapi dari jauh. Gua bakal pergi buat meriksa Cctv di rumah Cara" ujar Greysie.
"Lo punya rencana buat nangkep orang itu?" tanya Riska.
"Iya, gua yakin mereka mau gua ninggalin Cara saat ini. Supaya mereka bisa nyakitin Cara lagi. Tapi gua punya rencana. Biarin aja pelakunya masuk, gua bakalan nelpon Rasya supaya dia bisa jaga-jaga kalau orang itu kabur. Aric juga bakalan ada kalau-kalau terjadi sesuatu, dia dokter yang udah ngerawat Cara" ujar Greysie.
"Lo yakin? ini beresiko banget buat Cara. Lo yakin mau lakuin ini?" tanya Riska, memastikan.
"Iya gua yakin. Lo ke sini aja sekarang. Tapi, kita jangan ketemuan. Lo telpon gua aja kalau udah di depan rumah sakit, dan gua bakalan langsung pergi ke rumah Cara" jelas Greysie, serius.
__ADS_1
"Oky gua otw" ucap Riska.
Satu jam kemudian. Riska sampai di depan rumah sakit, ia menelpon Greysie. Kemudian, Greysie langsung bergegas pergi, melaju dengan mobilnya. Riska kemudian masuk ke dalam rumah sakit, ia memakai topi juga masker.
Di perjalanan, Greysie segera menelpon Rasya dan Aric.
"Halo, sya" ucap Greysie.
"Iya, Grey. Ada apa?" tanya Rasya.
"Em, kamu ke rumah sakit sekarang. Aku yakin orang yang udah nyelakain Cara bakal muncul" jelas Greysie.
"Emang kamu kemana? ini maksudnya gimana aku gak ngerti" ujar Rasya, bertanya.
"Nanti bakal aku jelasin. Kamu ke rumah sakit aja cepetan. Aku yakin pelakunya bakal muncul" ucap Greysie, yakin.
Greysie kemudian menutup telpon, lalu segera menelpon Aric.
"Halo, Ric" sapa Greysie, di telpon.
"Iya, Grey. Kenapa?" tanya Aric.
"Kamu lagi di mana sekarang?" tanya Greysie.
"Lagi di rumah. Emang kenapa Grey? kamu butuh sesuatu?" tanya Aric.
"Aku mau minta tolong. Kamu ke rumah sakit sekarang. Aku takut Cara kenapa-kenapa. Aku yakin bakalan ada orang yang dateng buat nyakitin Cara lagi. Di sana juga ada temen sekolah aku yang lagi liatin situasi" pinta Greysie, memohon.
"Kamu lagi di mana sekarang, Grey? kamu gak lakuin sesuatu yang berbahaya kan?" tanya Aric, cemas.
"Gak Ric, aku cuman pergi ke rumah Cara buat ngecek sesuatu. Pliss, kamu ke rumah sakit sekarang" pinta Greysie.
"Okey, okey. Aku kesana sekarang" ucap Aric.
Beberapa saat kemudian. Seseorang yang memakai pakaian layaknya seorang dokter berjalan memasuki ruangan Icu, tempat aku rawat. Riska melihatnya dan segara mengirim chat pada Greysie.
"Orang itu udah masuk. Dia pakai baju kek dokter. Lo udah nelpon dokter yang lo bilang?" (mengirim chat wattshapp).
Di dalam, ruang icu. Orang tersebut segera mencabut masker oksigen (Masker Venturi) yang terpasang di bagian mulut dan hidungku. Sehingga, membuat suara komputer detak jantung berbunyi keras.
"Tit, Tit, Tit"
"Tit.. Tit.. Titt.. Titt..Titt.. Tiiiiiiiiiiiiiiit.........!"
Riska kemudian berinisiatif untuk memvideo orang tersebut dari luar ruangan.
Sementara itu di dalam mobil, Greysie membaca chat dari Riska, ia juga sudah dekat dengan rumahku.
Greysie segera mengirim chat pada Rasya dan Aric untuk memberitahukan situasi.
"Orang itu udah sampai" (chat).
Kemudian, Greysie keluar dari mobilnya dan segera membuka pintu rumahku untuk mencari ruang kontrol Cctv.
Sementara itu, di dalam rumah sakit. Orang tersebut keluar ruangan. Riska juga segera memvideonya.
Kemudian Aric datang, membuat Aric dan orang tersebut saling melewati dengan arah berlawanan. Riska segera menghampiri Aric untuk memberitahukannya.
"Kamu dokter Aric kan, cepetan tolong Cara sekarang. Orang itu barusan keluar, dia pasti udah ngelakuin sesuatu" ujar Riska, cemas.
Di lain sisi, Rasya melihat Aric dan Riska berjalan berdampingan, mereka berlari kecil menuju ruang Icu. Rasya juga melihat seorang dokter yang memakai masker, terlihat sangat mencurigakan. Lalu Rasya langsung mengejarnya.
Seseorang tersebut menyadarinya, ia segera berlari menaiki lift. Rasya hampir saja menangkapnya. Namun, lift itu sudah tertutup.
Kemudian, Rasya segera berlari menuruni tangga sampai laintai satu. Di lantai satu seseorang tersebut segera mempercepat langkah kakinya, sedangkan Rasya yang baru saja sampai langsung berlari lagi untuk mengejarnya.
Suasana rumah sakit nampak sunyi karena sudah tengah malam. Namun, setelah mengejar orang tersebut sampai di depan rumah sakit, Rasya tak bisa lagi mengejarnya karena banyak pengamen yang menghalangi dirinya.
"Pak, mohon kasihani pak. Kami belum makan selama berhari-hari" ujar pengamen bersaman. Mereka terlihat seperti anak usia remaja.
"Hey, hey! aahh, hey berhenti lo, hey!" teriak Rasya ingin mengejar, Namun, pengamen masih menghalanginya.
Sementara itu. Di dalam ruangan Icu, komputer detak jantung terus berbunyi keras. Aku hampir saja kehabisan napas.
Seluruh tubuhku bergetar karena tak bisa menghirup oksigen. Kemudian, Aric yang baru saja tiba, segera memakainkan kembali masker oksigen di wajahku. Lalu, ia segera memeriksa infus, mencek denyut nadi, mata dan juga komputer detak jantung.
********
Setelahnya. Mereka sedang berbicara. Riska memperlihatkan video yang ia dapatkan. Lalu memberikannya pada Rasya.
Di dalam video itu, terlihat jelas postur tubuh seorang lelaki. Namun, wajahnya tak begitu jelas di dalam video, karena hanya terekam sekilas, sekitar 0,1 detik saja.
Sedangkan, Aric juga tak terlau memperhatikan. Namun, ia sempat melirik orang tersebut saat mereka saling melewati. Ingatannya lumayan kuat. Ia memberitahu Rasya bahwa tinggi lelaki tersebut sekitar 175 cmn. Tatapan matanya sangat tajam, sedang alisnya juga sedikit tebal.
Riska melihat Greysie sedang duduk diam di kursi. Kemudian, Riska langsung mendekatinya untuk bertanya terkait Cctv di rumahku.
"Jadi gimana Grey? Lo udah nemuin buktinya?" tanya Riska, melihat Greysie duduk. Ia pun ikut duduk di sebelahnya.
"Gak, gua gak nemuin apa-apa di rumah Cara" jawab Greysie, tak melihat Riska.
Sedangkan, tangan kiri Greysie mengusap-usap tangan kanannya yang mengepal. Bibirnya juga mendesik menggerutu kecil.
Bersambung...
__ADS_1