
"You have to die, now!" ujarku dengan nada suara berat, sambil berlari ke arahnya untuk menyerang, begitupun dengannya.
Kami saling tatap, menggeram, dan menguatkan cengkraman tangan kami pada pisau untuk saling menyerang.
Sedikit lama kami berada dalam posisi sama sampai akhirnya aku menendang kemal**nya. Namun, ia dengan ceketan menghindar. Hal itu membuat tangan kami saling terlepas dari cengkraman masing-masing.
Mataku dengan cepat menelusuri seluruh tubuhnya untuk mencari titik kelemahanya, karena ia bukanlah lawan yang biasa bagiku. Jika di lihat dari caranya bertarung, ia sepertinya sangat terlatih dalam ilmu bela diri.
Perkelahian masih berlangsung sangat sengit, di mana sesekali terdengar suara pisau kami yang saling membentur saat menahan serangan masing-masing. Ini sangat melelahkan, tak ada yang kalah di antara kami, sedangkan aku mulai merasa kelelahan di karenakan tubuhku memang belum sepenuhnya pulih akibat perbuatan Cassie sebelumnya.
Beberapa kali aku berhasil menghindari serangan pisau dari tangannya yang lincah, bagitu juga tendangan atau tinjunya yang mengarah pada perutku di mana lukaku sebelumnya belum sembuh total.
Serangan berikutnya, kami saling mendorong yang membuat tubuh kami saling berjauhan.
Napasku terengah, mulai tak beraturan. Sedangkan keringatku terus mengalir.
"You look tired" ejek orang tsb.
"Not of your business! Haaaa, hah" ucapku langsung menyerang lagi.
Kami saling menyerang lagi sampai pada saat ia menendang kuat perutku, hingga aku terpental jauh darinya sampai terkena salah satu pohon di hutan tsb.
Hal tersebut membuat aku kehilangan sebagian kekuatanku, sehingga aku merasa tak mampu lagi untuk bangun, meskipun aku memaksa diriku. Lalu, ia segera menghampiriku, dan berkata.
"Ct, ct, ct," menggeleng, "look at your self. You look helpless. Where was your spirit? don't you want to kill me?" ujarnya, dengan tatapan ejek sambil berjongkok.
Setelah itu, ia berdiri lagi sambil kakinya bergerak untuk menginjak perutku. Hal itu membuat aku berteriak kesakitan.
"Arghh," mencoba menahan kakinya. Namun kakinya makin meremas perutku sampai berdarah.
"Haah, aaahg," menahan napas, "aarghh, emff, huh, huh, huh" napas cepat.
"Aaaarghh, haaa," menarik napas panjang, "hmhuk, uhuk, uhuk, huuk," berbatuk dengan napas tersentak.
Kemudian, ia berhenti menginjakku dan kembali berjongkok, sedang pisau di tangannya di taruhnya di bagian leherku.
Lalu, aku menengok ke samping untuk mencari pisau milikku namun tak bisa menemukannya. Aku berpikir untuk menggunakan pistol meskipun harus membuat keributan dengan suara yang akan di timbulkan. Namun, sebelum aku sempat mengambil pistol milikku, ia sudah lebih dulu mengentikan pergerakan tanganku dan mengambil pistol tersebut.
__ADS_1
"Ct, ct, ct. You don't know the word to give up, do you?" tanyanya, merebut pistol dariku.
Kedua tangannya memegang benda yang sama-sama di arahkannya padaku. Ia memegang pistol dengan tangan kiri dan pisau dengan tangan kanan.
Kemudian, ia membuka pengaman pistol. Lalu di letakannya tepat di keningku. Jari telunjuknya pelan bergerak untuk menarik pelatuk pistol. Sedangkan aku hanya menutup mata karena pasrah dengan keadaan.
"Maafin aku, Grey" ucap batinku, diiringi air mata kiriku yang menetes.
Lama ia berdiam diri, sedang jari telunjuknya seperti ragu-ragu untuk menarik pelatuk pistol tersebut.
"Hm, I was ordered to torture you first before killing you. So sadly this gun is of no use to me" ujarnya, sedang tanganya segera membuang pistol tersebut.
Mendengar hal itu membuat mataku terbuka lebar, sedangkan tangan kananku langsung meraba kantung celanaku untuk mengambil sebuah pulpen.
Sementara orang tersebut juga langsung mengambil pisau lipat milikknya. Kemudian, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk membuat tusukan yang dalam padaku.
"Now, you must die" ucapnya, mengayunkan pisau ke arah jantungku.
Mataku membulat, sedangkan kepalaku sedikit terangkat. Di sisi lain, terdengar suara napas yang tertahan, seperti sedang kehilangan napas.
Pisau menusuk tepat di leher orang tersebut. Itu adalah pisau pulpen yang sebelumnya aku ambil dari kantung celanaku.
Aku menarik napas lega sambil menatap langit di sela-sela dedauan rimbun pohon di hutan tersebut.
Beberapa saat kemudian, aku segera bangun sambil mencari pistol dan pisau milikku.
Setelah menemukannya, aku langsung berdiri di sebelah mayat tersebut sambil mengelap darah yang terkena wajahku. Namun, di saat aku ingin melangkah pergi, cahaya dari lampu senter berhasil menghentikan langkahku. Seseorang berdiri di antara pohon-hon besar di hutan. Sedangkan aku tak melihat wajahnya karena terhalang oleh pepohonan, bahkan ia juga berada sedikit jauh dari tempatku berada.
Sementara cahaya bulan juga tak mengenainya, di mana membuat aku tak bisa menebak siapa orang tersebut.
Tak lama setelah itu, ia semakin mendekat padaku. Sedangkan aku juga telah bersembunyi di balik pohon sebelumnya, tempat aku terpental dan mayat orang asing tersebut berada.
Lampu senter di arahkannya pada pohon-pohon di sebelahku sampai pada pohon tempat aku bersembunyi. Aku sedikit bergeser untuk menghindari sorotan lampu senter tsb, namun secara tak sengaja kakiku malah menginjak ranting pohon yang jatuh, sehingga menciptakan suara seperti sesuatu yang patah.
Hal itu membuat Greysie segera menghampiri sumber suara. Sedangkan aku langsung berlari sekuatnya dengan sisa-sisa tenagaku.
"Hey, berhenti lo!" panggil Greysie, berteriak.
__ADS_1
Mendengar suara tak asing, membuat diriku hampir saja berhenti berlari. Namun, aku tak mau mengambil resiko. Bagaimana jika aku salah, bisa-bisa semuanya akan terbongkar. Aku juga merasa tak sanggup jika harus berkelahi lagi, jadi aku lebih memilih untuk melarikan diri.
Sesampainya di tepi jurang, aku mulai mengambil ancang-ancang untuk melompat. Lalu melompat.
"Hey, berhenti lo!" teriak Greysie sambil melepas pengaman pistol.
"Grey?" batinku.
Kemudian aku tersenyum sambil melirik kebelakang.
"Sia-sia gua lari. Ternyata yang ngejar gua cuman Grey" batinku.
Sementara itu, tanganku mengambil pistol milikku dari balik jubah. Lalu aku balik badan untuk melihatnya dan mulai ber- acting.
"Hey, my bestie, you did it, kau berhasil menemukanku," sapaku sopan dengan senyuman manis yang terukir di bibirku.
********
Saat ini, aku telah selesai menjelaskan kejadian sebelumnya pada Greysie. Namun hal itu membuatnya benar-benar sangat marah.
"Whattt?!" ucap Greysie, berdiri.
"Berani-beraninya! gua harus bunuh mereka semua sekarang!" ucap Greysie, ia ingin segera pergi. Namun aku langsung berdiri sambil menarik tangannya.
"Grey, udahh. Aku gak pp. Orang tadi juga udah mati" ucapku, melarangnya.
"Gak bisa, Ra!" bentak Greysie, menepis tanganku.
"Mereka semua harus di kasih pelajaran, Ra! Berani-beraninya mereka nyuruh orang buat nyelakain kamu lagi. Minta di bunuh juga ternyata" ujar Greysie dengan nada emosi.
"Grey, jangan sekarang, nanti aja. Aku gak pp, pliss. Kamu jangan gegabah lagi kek sebulumnya. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa, Grey" larangku, memohon.
"Tapi, Ra.. mereka itu udah keterlaluan! aku bakal bunuh mereka semua dengan cara yang sama seperti aku bunuh keluarga Milstone dan Walker. That's final, ti- tik!" ujar Greysie dengan nada emosi.
"Tapi, Grey..." ucapku, lirih.
"No, stopp! That's final! Understand?!" sela Greysie, membentak.
__ADS_1
Bersambung...