
"Yaaah, okk, hati-ha..," melihanya berlari, "aneh banget. Pasti dia ngerjain Riska tadi" batinku.
Kemudian, aku segera masuk ke dalam toilet. Setelah beberapa menit kemudian, aku kembali ke tempat makan. Wajah Greysie terlihat sangat kesal, sepertinya terjadi sesuatu saat aku pergi ke toilet tadi.
"Kamu kenapa?" tanyaku duduk di kursi.
Sementara itu, Greysie langsung memberikan hp miliknya padaku.
"Haaa, what thee?", terkejut, "omaygatt udah berapa kali dia hubungin kamu?" tanyaku.
"Tiga minggu terakhir ini dia sering banget hubungin aku, dan yang lebih parahnya lagi, tadi pas kamu pergi ke toilet dia kesini nyamperin aku" jelas Greysie, kesal.
"Ooh maayy gatt, kok baru bilang sekarang?" tanyaku heran.
"Hm, aku gak mau kamu pergi nyamperin dia lagi" jawab Greysie.
"Terus, tadi dia ngapain?"
Setelah Greysie selesai menceritakan semuanya padaku.
"Oh may gat, Grey. Aku pikir dia udah ngalah sama sikap kamu" ujarku, membulatkan mata.
"Kann?" ucap Greysie, mengkode.
"Btw, tadi pas aku ke toilet, aku ketemu sama Cassie and Riska" ucapku memberitahu Greysie.
"Hah? mereka kesini berdua?" tanya Greysie.
"Gak sih" jawabku, lalu menjelasakan kejadian tadi pada Greysie.
"Keknya si Cassie itu ngerjain Riska, hahaha" celetuk Greysie, tertawa.
"Hm, ya. Mungkin, soalnya muka Riska kelihatan kek ketakutan gitu. Dari kejadian ini juga tandanya Cassie masih pengen masuk ke circle mereka. Kalau gak ke halang alasan itu pasti udah lama si Cassie ngebunuh mereka ber enam" ujarku.
"Hmm, gak peduli sih aku" cetus Greysie.
"Lo Grey, gua masih marah sama elo soal Vanya kemarin. Ngapain sih Grey? Kenapa harus banget kek gitu? Kamu... Aku gak tau lagi cara untuk ngomong ke kamu Grey, pasti gak bakalan di dengerin juga. Capek tau Grey, aku capek ngadepin sikap kamu yang kek gini" ujarku.
"Ckk! Seharusnya gua yang marah bukannya elo!" bentak Greysie.
"Lo pikir gua gak tau kalau elo ngelindungin mereka selama ini? Ngapain lakuin hal itu? Ngelindungin si Riska dan temen-temennya itu dari gua? Kek... Emang gua seburuk itu ya di mata lo, Ra?! Sampai gak percayaan gitu sama gua? Lo sebenarnya ada hubungan apa sama mereka sampai buat lo harus benget ngelindungin mereka dari gua, hah?! Ngeselin banget, temanan aja sekalian sama mereka gak usah sama gua!" ujar Greysie, emosi.
Greysie berhenti makan, dengan mimik kesalnya ia bersilang tangan dan tak mau melihatku. Sedangkan aku hanya menaruh kedua telapak tanganku di wajahku sambil terus menghela napas pelan.
"Kenapa gua harus terlibat dalam situasi ini?" batinku.
Di perjalanan pulang. Kami sudah tak mood untuk makan. Jadi kami memutuskan untuk segera pulang ke rumah Greysie.
"Grey, aku cuman gak mau kamu lepas kendali kek kemarin. Semuanya harus di pertimbangkan Grey. Gak semua orang harus kita bunuh, mereka gak salah apa-apa. Kita bergerak itu semuanya berdasarkan rencana Grey, semua harus di pertimbangin bukan main bunuh-bunuh orang sembarangan, Grey. Kenapa aku malah jadi gini ya tuhan. Seharusnya gak gini, maafin aku Grey. Kamu jadi gini itu karena aku" ujarku, lalu mulai menangis.
"Maafin, akuu... Aku beneran minta maaf" ucapku, masih menangis kecil.
Beberapa saat kemudian. Sesampainya di rumahku. Aku masih menangis kecil dan langsung berbaring karena merasa lelah.
"Raa... Udah dong jangan nangis lagi. Aku minta maaf, aku janji gak akan kek gitu lagi. Tapi kamu harus jauhin mereka" ujar Greysie.
"Aku gak temenan sama mereka, Greyy... Aku cuman... Emang kamu gak lihat selama ini? Mereka bakal ngebully aku kalau gak ada kamu, Grey. Aku gak temanan sama mereka" jelasku, berbicara berat karena wajahku berada di bantal.
"Hn, yaudah gak usah nangis lagi. Kek anak kecil jadinya. Tidur aja, kan gak biasa tidur siang. Jadi jangan begadang" perintah Greysie.
"Luka kamu. Aku ffperlu gantighin perbannya" ucapku, tak jelas.
Wajahku masih berada di atas bantal karena aku berbaring dengan posisi tengkurap.
Selang beberapa menit kemudian, telpon Greysie berbunyi, dia pergi keluar untuk menjawabnya. Sementara aku sudah berlayar di dalam mimpi.
"Ya om, halo" ucap Greysie, sambil menutup pintu kamarnya.
"Grey, om udah selidiki mengenai keluarga dari temen kamu itu, ada yang janggal dari kasus yang menimpa keluarganya" balas Hendry.
"Janggal gimana om?" tanya Greysie.
"Menurut keterangan polisi, keluarga temen kamu di bunuh oleh pembunuh berantai, tapi sampai detik ini pembunuh itu gak mau mengakui kalau dia yang udah membunuh keluarga Cara, and... senjata yang digunakan untuk membunuh keluarganya adalah pisau dapur dan juga pistol jenis caliber 32, tapi.. sidik jari dari pembunuh berantai gak ditemukan di kedua benda itu, malah hanya ada sidik jari ibunya Cara di pistol, terus sidik jari Cara dan ayahnya juga di temukan di pisau itu, hm.. mungkin karena pembunuh berantai selalu memakai kaus tangan, makannya sidik jarinya gak ada" jelas Hendry.
"Terus menurut catatan polisi ini. Yang mengatakan pada polisi bahwa semua itu adalah ulah pembunuh berantai adalah Cara, katanya saat itu dia lagi sembunyi dan melihat pembunuh berantai menghabisi semua anggota keuarganya. Tapi menurut om, kok Cara bisa tau kalau orang itu adalah seorang pembunuh berantai? bagaimana bisa seorang anak berumur 12 tahun menjelaskan kejadian mengerikan seperti itu secara detail? Menurut om ini mungkun saja ulah seseorang yang menaruh dendam pribadi sama keluarganya, tapi karena saat itu juga banyak terjadi kasus pembunuhan berantai, jadi polisi langsung mengambil kesimpulan seperti itu" jelas Hendry.
"Terus om, gimana bisa sampai pembunuh itu di tangkep polisi? tanya Greysie.
"Katanya sih Cara yang ngasih tahu polisi lokasi dari pembunuh berantai itu, selain itu juga telapak tangan ayah Cara di temukan di tempat kediaman pembunuh berantai" jawab Hendry.
"Kok Cara bisa tahu tempat pembunuh berantai itu om?" tanya Greysie lagi.
"Menurut keterangan polisi ini, katanya setelah keluarga temen kamu di bunuh, dia mengikuti pembunuh itu secara diam-diam, tapi..." ujar Hendry.
"Tapi apa om?" tanya Greysie, penasaran.
"Laporan polisi ini tertulis, kalau Ayah Cara sedang mabuk berat malam itu. Dan menurut pernyataan para tetangga, orang tua Cara sedang bertengkar hebat malam itu. Yang makin membuat janggal adalah si pembunuh berantai itu juga gak mau mengakui kalau dia sudah membunuh mereka, katanya dia emang pembunuh yang sudah membunuh korban-korban sebelumnya, tapi bukan dia yang udah ngebunuh keluarga Cara temen kamu itu, kamu mau tau apa kata psikopat itu? tanya Hendry.
"Iya om, jelasin aja semua" jawab Greysie.
"Om bacain ya," mulai membaca, "Hm, gitu ceritanya.." ujar Hendry.
"Di sini tertulis dia mulai tertawa, "Hahaha, rupanya penerusku sudah berbakat sejak dini, hmm gimana ya, bukan saya yang sudah membunuh anggota keluarganya, jika itu perbuatan saya, maka dengan senang hati saya akan mengakui seberapa hebat kemampuan saya dalam membunuh mereka," selesai membaca, "and.. selanjutnya dia malah terus tertawa" jelas Hendry.
Mendengar penjelasan Hendry membuat pikiran Greysie menjadi semakin menduga-duga dengan perasaan takut dan cemasnya.
"Kalau gitu makasih om" ucap Greysie segera menutup telponnya.
"Grey?" panggil Hendry.
"Iya om?" sahut Greysie.
"Om gak mau nuduh temen kamu, tapi.. kamu hati-hati yaa, om gak mau kamu kenapa-kenapa" pinta Hendry.
"Iya om, and makasih sebelumnya" balas Greysie segera menutup telepon.
Greysie gemetar saat membuka pintu kamarnya, dia diliputi perasaan cemas tapi juga takut.
Saat Greysie masuk, ia melihatku sudah tertidur dengan posisi tidak teratur.
"Raa?" panggil Greysie.
Aku tak menjawabnya karena sudah tertidur. Greysie kemudian memperbaiki posisi tidurku, namun aku terbangun karenanya.
"Hmfff," menggosok mata, "kamu gak tidur?" tanyaku.
"Belum ngantuk" jawab Greysie, sedang wajahnya terlihat pucat.
"Kamu kenapa?" tanyaku, segera bangun dari baringku.
"Aku nanya ke kamu boleh gak?" tanya Greysie.
"Soal?" ucapku.
"Kamu gak benci sama pembunuh keluarga kamu?" tanya Greysie.
Mendengar pertanyaan yang di lontarkan Greysie padaku, aku langsung terdiam sambil menatapnya. Kemudian, aku berdiri dan bergegas keluar dari kamarnya.
"Kamu trauma kan, Raa" ucap Greysie menatapku dari belakang. Aku meliriknya, tapi tetap berjalan.
"Kamu trauma karena orang tua kamu juga dulu sering berantem kan?," teriak Greysie beranjak dari tempat tidur.
"Kamu pingsan karena lihat orang tua aku berantem kan? kok gak pernah cerita kalau kamu punya trauma? aku baru ingat kalau selama ini kamu gak pernah lihat orang tua aku berantem secara langsung, iya kan?" ucap Greysie menaikan volume suaranya.
Mendengarnya, sontak langkah kakiku terhenti dan mulai mengepalkan tanganku.
"Grey, stop! aku gak mau bahas soal ini!" bentakku sambil mengepalkan tangan.
"Gimana aku gak bahas, Ra. Aku khawatir sama kamu, kamu gak pernah cerita ke aku, kalau cerita pun pasti masih nyembunyiin yang lain, aku sahabat kamu loh!" ucap Greysie mengeraskan suaranya.
Sementara aku tak memedulikannya dan hanya bejalan keluar kamar.
"Ra, Raa, Raaa, kamu mau kemana?" panggil Greysie mengejarku.
Greysie menghentikan langkahku, dia menarik tanganku tetapi aku melepaskannya dengan kasar. Aku terus berjalan menuruni tangga, keluar dari rumahnya, kemudian menyalakan motorku lalu pergi begitu saja.
"Raaaa, mayyy gatttt" teriak Greysie memegang kepalanya, dia terlihat sangat cemas.
Motorku melaju menyalip setiap kendaraan yang ada, aku di penuhi perasaan gusar, sedih dan marah tercampur menjadi satu.
Kemudian aku berhenti di sebuah pantai, tempat di mana keluargaku dulu sering menghabiskan waktu bersama.
Angin sejuk meniup terasa masuk ke dalam daging. Suara deburan ombak laut malam menenangkan hatiku. Aku melihat sekitar memastikan bahwa tidak ada siapapun di sana selain diriku. Setelah memastikannya aku mulai berteriak dan menangis sampai suaraku serak menghilang.
Beberapa saat yang lalu, Greysie masih mencari kunci mobil miliknya. Setelah menemukannya dia langsung menyalakan mobilnya dan mengikutiku melalui Gps miliknya. Kami memasang Gps untuk mengetahui lokasi kami masing-masing.
Beberapa saat kemudian, Greysie berhenti di pantai, dia melihat motor milikku lalu mencariku. Aku sedang duduk di salah satu batu di sana. Greysie melihatku diam menatap laut dan sekitar. Saat ia ingin menghampiriku, ia mendengarku berteriak meluapkan amarah.
Langkah kakinya terhenti setelah mendengarku berteriak, ia pun ikut menangis mendengarku.
"Kenapa selama ini gua jadi sahabat yang gak bisa peka sih" gumam Greysie menyalahkan dirinya sendiri.
Greysie perlahan berjalan menghampiriku dan langsung memeluk erat diriku. Aku menangis sejadi-jadinya karena teringat malam mencekam saat itu, setiap tarikan napasku terasa amat sakit, sampai aku merasa seperti tak sanggup lagi untuk bernapas.
"Hey, hey Ra, Raa. Look at me, look at me," memegang wajahku, "tarik napas dalam-dalam Ra, tarik, keluarin, fuuhh, ikutin aku" ucap Greysie.
Beberapa saat kemudian, aku mulai berhenti menangis dan melihat Greysie. Saat melihatnya, aku berusaha melepaskan tangannya yang memelukku dan ingin segera pergi dari sana.
"Hey," memegang tanganku, "kamu mau kemana lagi Ra?" tanya Greysie.
__ADS_1
"Grey," gemetar menahan tangis, "aku lagi mau sendiri, pliss" ucapku, memohon.
"Raa, gak mungkin aku biarin kamu sendiri dengan keadaan seperti ini" ucap Greysie lembut.
Mendengarnya, sontak membuatku langsung memegang kepala karena menahan amarah.
Aku duduk menunduk sambil menarik rambut. Suara isak tangis masih terdengar namun tercampur dengan perasaan marah.
Greysie memegang tanganku, dia perlahan melepaskan genggaman tanganku yang menarik rambutku. Aku masih gemetar karena menahan amarah dalam diriku, sampai aku tenggelam di dalam pikiranku sendiri.
Suara anak-anak tertawa bahagia memenuhi isi kepalaku, telingaku berdengung, lalu aku teringat kembali kenangan indah bersama keluargaku di pantai saat itu (Bab 4, Part 1).
Suara tawa bahagia kami saat itu perlahan larut di dalam pikiranku. Suasana yang tadinya nampak cerah dan damai berubah menjadi gelap dan mencekam, lalu terdengar suara napas gemetar.
Saat itu aku memeluk adikku sangat erat. Mengingat hal itu, membuatku semakin kehilangan kendali atas diriku sendiri.
"Hey, hey, Ra, Raaa" ucap Greysie, berusaha menyadarkanku.
"Maafin Grey, maafin Grey. Grey gak akan bahas soal ini lagi. Cara tenang ya, Cara tenang" ucap Greysie, memeluk erat.
Beberapa saat kemudian. Kami menginap di sebuah apartemen. Sekarang waktu menunjukan pukul 02:30 malam.
Setelah sampai di kamar apartemen, aku langsung berbaring, rasanya sangat capek, tak lama kemudian aku pun langsung tertidur pulas.
Sementara itu, Greysie menatapku prihatin. Ini adalah hal yang tak biasa baginya. Karena selama ini aku jarang terkena pannic attact seperti itu.
"Cara, aku harus gimana? Aku pengen bantuin kamu tapi kalau kamu gak biarin aku tau tentang masalah kamu, gimana caranya aku bisa bantuin kamu, Ra?" batin Greysie.
Besoknya, jam 14:20 siang. Nada dering panggilan telpon terus berbunyi. Aku terbangun karena mendengarnya.
"Omayy gatt, aku lupa kalau ada janji sama dia" gumamku, lalu aku menjawab telpon Rasya.
Telpon.
"Halo Sya" ujarku menaruh telpon di telingaku.
"Halo Lista, em, jadi.. hari ini kitaa.. kamu bisa gak?" tanya Rasya, canggung.
"Em, iya Sya. Maaf aku ketiduran lagi karena kecapean semalam" jawabku pelan.
"Emm, kalau kamu gak bisa hari ni gak pp" ucap Rasya, khawatir.
"Bisa kok, aku lagi di apart sekarang, aku mau mandi dulu, nanti bakal aku kirim alamatnya" sambungku.
Greysie keluar dari kamar mandi, dia terus melihatku dengan wajah yang sedih dan khawatir.
"Ok, aku siap-siap jemput kamu" balas Rasya.
"Iyaa, nanti call aku kalau kamu udah sampai" sahutku.
"Okey, see you..." pamit Rasya di telpon.
"See you" balasku dan menutup telepon.
Setelah itu, aku langsung pergi ke kamar mandi melewati Greysie tanpa sepatah kata, dia melihatku lalu menghela napas pelan.
Beberapa menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi. Greysie sedang duduk di tempat tidur sambil melihat hp miliknya, kemudian ia melihat kearahku. Aku berjalan menghampirinya, lalu mengecek laci dan terus melihat kearahnya.
Setelah mengecek laci, aku langsung berdiri di depan Greysie dengan tangan bersilang sambil terus memandangnya. Dia juga terus melihatku tanpa berkata apapun. Kemudian, aku mulai memeriksa kantung celananya dan mengambil kunci mobil miliknya.
Saat aku mendapatkan kunci mobil milik Greysie, aku langsung keluar dan mengambil baju dari dalam mobilnya, untung saja dia membawa baju.
Setelah beberapa menit kemudian, aku kembali ke dalam kamar, Greysie masih dengan aktivitasnya, mengotak-atik hp miliknya.
Sebenarnya terlihat jelas di wajahnya jika dia sangat ingin berbicara denganku mengenai kejadian semalam, akan tetapi dia berusaha keras untuk menahan pertanyaanya.
Suara telpon milikku berbunyi lagi, aku segera menjawabnya.
"Halo Lista, aku udah di depan apart" ucap Rasya.
"Oke, bentar lagi aku turun" sambungku.
"Ok, aku tungguin kamu di sini ya" balas Rasya. Lalu aku menutup telpon.
"Grey..." panggiku, sontak dia langsung melihat kearahku.
Sebenarnya aku tertawa melihat kelakuannya, akan tetapi wajahku terlihat biasa saja.
"Hmff, aku keluar bentar sama Rasya" pamitku tersenyum padanya lalu pergi begitu saja.
"Hmfff" ucap Greysie menghela napas pelan, sedang ia menatapku berjalan keluar.
Di luar Rasya sedang menungguku. Aku melihatnya dan melambaikan tangan padanya.
"Haii" sapaku, tersenyum.
"Hai..." balas Rasya tersenyum.
"Kamu udah makan belum?" tanya Rasya.
"Belum" jawabku spontan.
"Kita makan dulu gimana?" saran Rasya.
"Mm, yeahh" jawabku.
"Oh yaa, kamu beneran gak pp kan? soalya tadi.. di telpon..." tanya Rasya, masih canggung.
"Aku baik kok, don't worry" jawabku, tersenyum.
Kami kemudian pergi ke restoran untuk makan. Setelah selesai makan, Rasya mengajakku untuk pergi ke taman.
Di taman, kami berjalan berdampingan. Banyak orang di sana. Anak-anak terlihat sangat bahagia, ada juga orang yang sedang berlari untuk olahraga sore.
Rasya melihat penjual es krim, dia mengajakku untuk membelinya. Kemudian kami memakan es krim itu bersama.
Saat sedang memandang sekitar taman, aku melihat ada keluarga yang terlihat sangat bahagia. Mereka tertawa lepas membuatku teringat akan kenangan bersama keluargaku, aku tersenyum melihat mereka, lalu Rasya melihatku tersenyum.
"Kamu kangen sama keluarga kamu?" tanya Rasya pelan.
"Hmff, yaah sometimes" jawabku, tersenyum.
"Hmm," melihat pemandangan, "aku juga" balas Rasya.
"Siapa?" tanyaku padanya.
"Adik aku, namanya Angeline, Anneke Angeline" jawab Rasya melihatku.
"Angeline?" batinku.
"Namanya cantik, pasti orangnya juga cantik" ucapku, tersenyum padanya.
"Yaa.. mirip seperti," memandangku, "kamu.. Cantik..." sahut Rasya.
"Hn, yaa, kalau kamu? Nama asli kamu siapa kalau aku boleh tau?" tanyaku, masih tersenyum.
"Hmm, Aku.. Aku Rasya Fernandes" jawab Rasya sambil mengulurkan tangan.
"Hm," tersenyum, "aku... Cara Callista" ucapku berjabat tangan dengannya.
"Nama kamu juga cantik" sambung Rasya, ia tersenyum padaku.
"Emm," tersenyum, "btw dia di mana sekarang?" tanyaku.
"Mm? Siapa?" tanya Rasya.
"Adik kamu" jawabku.
"Emm, dia... dia udah gak ada" jelas Rasya tersenyum, namun wajahnya terlihat sedih.
"I'm so sory" ucapku sedih.
"Mmm ya, yaa gak pp" ujar Rasya, tersenyum.
"Adik kamu sakit?" tanyaku lagi.
"Mmm," menggelengkan kepala, "dia... dia di bunuh, sampai sekarang aku gak tau siapa pembunuhnya, tapi aku yakin kalau itu adalah ulah pembunuh berantai, entah apa salah adik aku sampai..." jelas Rasya menunduk.
Setelah mendengarnya, jantungku mulai berdetak cepat dan terus menatapnya. Sementara itu, tanganku juga mulai gemetar.
"Kamu kenapa?" tanya Rasya, cemas.
"Em," menelan ludah, "Ng-gak, gak pp. Aku... Cuman...," sedikit menjauh darinya, "Aku... Em, aku permisi ke toilet bentar" ujarku, segera pergi.
Di dalam toilet umum. Aku segera mengecek handhpone milikku dan mencari sebuah artikel tentang keluarga Rasya.
Di dalam artikel itu menjelaskan bahwa Rasya Fernandes dan Anneke Angline adalah saudara kandung kakak beradik, anak dari seorang Jendral TNI dan Brigjen Pol.
Setelah membacanya, tanganku makin gemetar. Dan aku langsung membasuh wajahku berkali-kali.
Beberapa saat kemudian, setelah membasuh wajahku terus-menerus. Aku tersenyum saat melihat wajahku sendiri di dalam cermin, kemudian air mata kiriku menetes.
"Maaf..." ucapku, tersenyum dengan wajah palsu.
Saat ini aku sangat marasa bersalah atas apa yang telah aku lakukan terhadap adik Rasya. Namun karena terlanjur keluar bersamanya, aku harus tetap tersenyum dan bersikap seperti biasa saja padanya.
Setelah selesai menenangkan diri, aku langsung menghampiri Rasya. Ia masih setia menungguku.
"Lama ya?" tanyaku.
__ADS_1
"Nggak juga" jawab Rasya, tersenyum.
"Emm. Sya, aku boleh nanya soal kasus yang melibatkan Grey waktu itu gak?" tanyaku.
"Mm, Iya.. tapi aku jawab seadanya aja yaa, karena.. kamu tau kan kalau aku polisi" jelasnya.
"Iya, gak pp, jadi.. aku mau nanya soal pak Hartono yang nemuin mayat saat itu, apa dia melihat sesuatu yang mencurigakan?" tanyaku.
"Emm... waktu itu pak hartono mendengar suara saat menemukan korban pembunuhan" ujar Rasya.
"Suaraa?," tatapan penasaran, "aku boleh tau gak suara apaan?" tanyaku.
"Em, katanya dia dengar suara seperti gesekan besi, jadi.. kami melakukan reka adegan untuk menyeledikinya," mengambil telpon, "untuk lebih jelasnya, kamu dengarin aja, ini adalah rekaman (reka adegan) seperti yang di dengar pak hartono saat itu" jelasnya. Rasya mendekatkan telpon di telingaku.
Mendengar rekaman itu, membuat mataku membulat, aku sedikit terkejut, karena suara rekamam itu hampir mirip dengan nada dering panggilan telpon milik Greysie. Rasya melihatku, aku malah melamun setelah mendengar rekaman darinya (Bab 6, Part 1).
Rasya terus menatapku yang sedang melamun, ia lalu menjentik jarinya di depan wajahku.
"Grey ngapain ke situ lagi?" batinku.
"Apa jangan-jangan dugaanku bener lagi kalau Grey emang sengaja naruh darah manajer itu di dalam rumahnya?" lanjutku, masih membatin.
"Lis," menjentik jari, "ta?" panggil Rasya.
"Hah?," melihatnya, "eh sory-sory" ucapku, lalu tersenyum.
"You okay?" tanyanya.
"Yaah" jawabku, masih tersenyum.
"Jadi.. gimana? kamu pernah dengar sesuatu yang seperti itu?" tanya Rasya lagi.
"Em," menggeleng, "gak, gak pernah," menatap ragu, "em, boleh nanya lagi gak, waktu itu gimana reaksi Grey pas denger suara itu?" tanyaku.
"Hmm?" ucap Rasya, dengan tatapan bingung.
"Bukannya.. kamu yang lebih tau soal sahabat kamu itu ya? malah kamu yang jawab pertanyaan untuk Greysie saat itu" jelasnya.
"Aah... eh, iya, iya aku lupa, hahaha" jawabku tertawa. Rasya melihatku dengan tatapan curiga.
Berapa saat kemudian. Kami pergi ke sebuah tempat untuk bermain game layaknya couple. Rasya mulai menembak dan mendapatkan banyak hadiah.
"Hm, dia sangat mahir, mungkin karena polisi" batinku, aku tersenyum sambil melihatnya.
Semuanya terlihat sangat menyenangkan. Kami hampir memainkan semua jenis permainan yang ada di tempat ini. Karena merasa lapar, kami pun memutuskan untuk pergi mencari makan.
Rasya sangat pandai memilih tempat, suasananya sangat bagus. Angin sejuk berhembus sambil menikmati pemandangan rerumputan.
Tak lama kemudian, aku memeriksa telpon genggam milikku dan segera mengirim chat untuk Greysie.
I'm Okay. And keknya aku bakalan pulang malem banget.
Sementara itu, di dalam kamar. Suara notifikasi hp berbunyi. Greysie memeriksa telpon miliknya, dia membaca pesan masuk lalu tersenyum.
Greysie merasa lega karena membaca chat dariku, rasa cemasnya padaku mulai mereda.
Beberapa jam kemudian. Sekarang pukul 01:11 tengah malam, aku perlahan membuka pintu kamar. Greysie sudah tertidur pulas. Kemudian, aku merapikan posisi tidurnya lalu duduk sambil memikirkan sesuatu, aku terus memandangnya yang sedang tertidur.
"Aku gak seharusnya nerima ajakan Rasya kemarin" batinku.
Tak lama kemudian, notifikasi berbunyi, chat masuk.
Kamu udah tidur?
Belum
Kami saling mengirimkan chat selama beberapa menit. Kemudian karena aku sudah merasa sangat mengantuk, aku pun tertidur dengan posisi duduk.
Sementara itu, di rumah Andrian. Di sana juga ada teman-teman Kesya bersama pacar mereka masing-masing.
"Klii them both" perintah Andrian, memperlihatkan foto aku dan Greysie.
"Okay" jawab seorang lelaki berbadan kekar.
Andrian sudah memberitahu pria suruhannya tentang lokasi aku dan Greysie. Ia juga menggunakan status miliknya dan bekerja sama dengan pihak apartemen untuk mematikan kamera cctv.
Tiba di apartemen. Pria berbadan kekar itu langsung masuk ke dalam aparteman kami dengan cara membobol pintunya/meretasnya.
Pukul 02.40 Malam. Greysie terbangun, ia melihatku tertidur dengan posisi duduk.
"Hmff" ucap Greysie tersenyum, dia memperbaiki posisi tidurku, lalu pergi ke dapur untuk minum.
Di saat pria itu masuk. Ia melihat gagang pintu kamar perlahan di buka. Kemudian, ia pun segera bersembunyi. Sementara itu, Greysie keluar dari kamar dan langsung pergi ke dapur.
Di saat Greysie sedang minum, tiba-tiba saja terdengar suara barang yang terjatuh.
Brakk.......!
Bayangan hitam lewat. Greysie melihat dan mengecek sekitar, tetapi tak bisa menemukan apapun. Namun, tiba-tiba saja lampu apartemen kami mati, itu adalah ulah orang suruhan Andrian juga yang berada di apertemen ini.
Greysie tak bisa melihat apapun karena gelap, lalu ia mulai meraba sekitar. Namun, di saat Greysie sedang mencari hp/alat penerang, tiba-tiba saja pantulan cahaya dari benda logam mengenai matanya, itu adalah pisau.
Greysie menangkap pisau dengan tangan kanannya. Pisau itu hampir menusuk matanya, jarak antara mata Greysie dengan ujung pisau hanya sekitar 0,5 mm saja.
Tak berselang lama. Mereka berdua terlibat dalam perkelahian sampai membuat semua barang di apartemen jatuh dan pecah.
Sementara itu, di dalam kamar. Aku terbangun karena mendengar suara barang yang berjatuhan.
"Kok gelap banget" batinku.
"Grey?," meraba tempat tidur, "Kok gak ada. Grey? Grey..." panggilku, tanganku terus meraba dan mencari telpon miliku.
Saat menemukan telpon miliku, aku langsung menyalakan lampu senternya. Aku melihat tempat tidur tetapi Greysie tidak ada di sana.
"Grey, kamu di mana?" paggilku.
"Ini lampu apartemen kok mati sih" gumamku, keheranan.
Kemudian, aku berjalan keluar kamar. Mataku membulat ketika melihat seseorang berusaha untuk menyakiti Greysie. Orang tersebut ingin menyayat leher Greysie sedang Greysie berusaha keras untuk menahannya.
Posisi orang itu berada di belakang Greysie, sedang tangan kanannya yang memegang pisau melingkar di leher Greysie untuk mmenyayatnya.
"Grey?" ucapku, membulatkan mata.
Refkleks aku bergerak untuk memukul orang itu. Sementara itu, hpku terjatuh.
"Grey, kamu gak pp?" tanyaku.
"Gak..," melirik ke atas, "awas Caraa!" teriak Greysie.
Refleks aku mendorong Greysie sampai ia sedikit menjauh dariku. Secera bersamaan, aku menoleh ke belakang sambil mendongak dan segera menahan tangan orang itu sampai membuatku terbaring ke lantai.
"Ekhhh....," berusha menahan tangannya yang hampir menusuk jantungku.
Greysie segera berdiri dan kami lagi-lagi terlibat dalam perkelahian sengit. Dia sangat kuat sehingga kami merasa sangat kuwalahan saat melawannya.
Saat perkelahian masih berlangsung, pisau yang di pegang oleh pria berotot besar itu terjatuh dari tangannya, dia pun mengambil kesempatan saat kami lengah.
Pria berjubah hitam itu mencekik aku, Greysie yang melihat hal itu berusaha untuk mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk memukulnya.
Greysie mengambil vas bunga yang berada di dekat jendela, kemudian dia memukul kepala pria itu sehingga membuatnya tak sadarkan diri.
"Uhuk, uhuk, haaa" menarik napas pendek, "uhuk, uhuk, uhuk," memegang leherku.
"Kamu gak pp, Raa?" tanya Greysie langsung memelukku.
Sementara Greysie memelukku, aku melihat kesamping dan terkejut.
"Grey, orang tadi kemana?" tanyaku panik.
Sontak Greysie langsung melihat kesamping. Lampu senter dari telpon milikku masih menyala sedari tadi.
Kemudian Greysie mengambilnya untuk mencari pria itu, akan tetapi seorang pria berotot dengan tinggi dua meter yang menggunakan jubah berwarna hitam tersebut telah pergi.
"Dia udah pergi, Ra" ucap Greysie, menyamai posisinya denganku.
Lampu aperteman pun kembali menyala tanpa di suruh. Sementara itu, aku masih terus memegang leherku dan berbatuk kecil.
"Uhkhm, huk, uhuk"
"****!" umpatku, dalam hati.
"Coba aku lihat leher kamu" ujar Greysie, melihat leherku.
Leherku memerah, meninggalkan bekas tangan di sana. Cengkraman tangannya sangat kuat. Hampir saja aku mati, atau kemungkinan terburuknya bisa saja leherku patah akibatnya.
"Ekhm, ekghmff," masih terbatuk lemah sambil memegang leher.
"Uhukk, uhuk, uhukk, Fuckk!" umpatku, terbatuk-batuk.
Greysie lalu memberikanku air putih. Sementara itu, aku langsung mengambil dan meminumnya sambil menutup mata.
"Sial, sakit leher gua, uhuk, uhuk" ujarku, terbatuk.
"Ra, gak usah ngomong dulu ntar tambah sakit" pinta Greysie.
Beberapa saat kemudian. Leherku sudah membaik. Lalu aku melirik tangan Greysie yang sedang mengeluarkan darah sedari tadi.
"Tangan kamu, ekhmm. Tangan kamug" ujarku, suara serak.
__ADS_1
Bersambung...