
Di rumah mewah milik keluarga Walker, Cassie bersama dengan pacarnya Bryan. Mereka sedang berbincang serius.
"Babe, aku pengen ngerusak hubungan si Greysie dan Cara. Pertemanan mereka harus hancur, aku gak bisa biarin mereka menang dan seneng-seneng di atas penderitaan aku. Gara-gara mereka orang tua aku di tangkep polisi" ujar Cassie, dengan wajah sedih dan kesalnya.
"Kamu punya rencana, babe?" tanya Bryan.
"Iya, barusan aku kepikiran babe. Gimana kalau aku ngejebak si Cara sebagai seorang pembunuh berantai? Terus kalau mereka saling curiga pasti hubungan mereka bakalan hancur. Dan kita juga bisa manfaatin hal itu buat ngebebasin orang tua aku, babe?" ujar Cassie, penuh harap.
"Hm, aku suka ide itu babe. Rencana kamu bagus banget. Rencana itu bisa buat kita balikin keadaan sekarang. Sesuai perkataan kamu tadi, gimana kalau si Cara punya alasan ingin bales dendam sama orang tua kamu karena udah buat bisinis ayahnya bangkrut. Nah, si Cara sengaja ngejebak keluarga kamu dengan kasus pembunuhan berantai supaya keluarga kamu menderita dengan iming pembalasan dendam, Gimana babe? Bagus gak skenarionya?" tanya Bryan, tersenyum licik.
"Hm, iya babe. Aku suka benget itu. Kalau gitu gimana kalau sekarang aja kita mulai rencana buat ngerusak hubungan mereka berdua? Mereka udah sengaja ngejebak Ayah sama Mama dengan kasus pembunuhan berntai. Aku juga pengen balik balas ngejebak mereka secepatnya, babe" ujar Cassie.
"Hm, emamg kamu udah punya rencana lagi babe?" tanya Bryan.
"Iya, gimana kalau aku masuk ke rumah si Cara? Terus aku simpen alat-alat pembunuh berantai gitu di rumahnya?" saran Cassie.
"Hm, pacar aku kok pinter banget cih?" ucap Bryan, meremas pipi Cassie.
"Kalau gitu aku mau ke rumah si Cara sekarang, babe. Aku mau meriksa rumahnya sendiri" pinta Cassie, memohon.
"Janganlah, babe. Biarain anak buah aku aja yang ngurus semuanya" ujar Bryan.
"Babe, plisss," tatapan memohon, "Aku pengen banget ngelihat dan hancurin rumahnya pakai tangan aku sendiri" pinta Cassie.
"Hm, yaudah, yaudah kalau kamu maksa terus. Nanti kamu di temenin sama anak buah aku, ya?" ujar Bryan, mengusap pipi Cassie.
"Hmm" jawab Cassie, mengangguk.
"Kalian...! Cepat kesini...!" panggil Bryan.
Kemudian, sekitar 10 anak buah Bryan langsung menghampiri Bryan dan Cassie
"Jagain pacar saya. Awas aja kalau sampai dia lecet dikit. Kalian bakal kena akibatnya" ancam Bryan.
"Babe, mereka kebanyakan. Nanti malah ngundang perhatian orang-orang. Aku mau dua orang aja yang ikutin aku. Kamu pilihin mana yang lebih berguna di antara mereka" ujar Cassie.
"Tapi, babe. Nanti kalau ada sesuatu yang gak di duga terjadi gimana?" ujar Bryan, khawatir.
"Sesuatu apa, babe? Si Cara itu kan cewek, babe. Mana bisa dia ngelawan semuanya. Lagi pula dia masih di rumah Grey kan?" ujar Cassie
"Tapi kan, babe..." ucap Bryan tak seleselai.
"Pliss...." pinta Cassie, memohon.
"Hmf," menghela napas pelan, "yaudah, kalau gitu kamu hati-hati ya? Telpon aku kalau ada apa-apa" ujar Bryan. Cassie mengangguk.
"Kamu dan kamu. Jagain baik-baik pacar saya" perintah Bryan.
"Baik, tuan" jawab mereka serempak.
Tak lama setelah itu, mereka segera menyiapkan alat-alat pembunuhan berantai. Seperti sebuah sepasang sepatu berwarna hitam, kaus tangan, beberapa jenis pisau.
Jubah hitam, masker hitam, topi hitam, jaket hitam dan juga tas berwana hitam yang berukuran sedang.
Setelah itu, Cassie bersama kedua Bodyguard Bryan segera pergi ke rumahku.
Sesampainya di depan rumahku, mereka langsung membobol/meretas pintu rumahku.
Setelah masuk, mereka langsung mengacak-acak rumahku sampai berantakan. Mereka juga menaruh tas hitam ke bawah tempat tidurku.
Sedangkan Cassie membanting semua foto di dalam kamarku, lalu ia mengambil anting milikku dari dalam laci. Ia terpikirkan sebuah ide licik untuk memfitnahku lagi nantinya.
********
Sementara, itu di dalam apartement. Aku duduk bersender di tempat tidur.
"Tangan kamu, ekhmm. Tangan kamugh, uhukkghmm" ujarku, suara serak.
Greysie melihat tangannya, ia lalu duduk di tempat tidur. Sementara itu, aku langsung berdiri.
"Kamu gak pp Grey?" tanyaku, melihat tangannya.
"Hm" jawab Greysie mengangguk.
"Biar aku obatin tangan kamu" ucapku, lalu pergi mengambil kotak P3K.
Setelah mengambil kotak P3k. Aku langsung mengobati luka di tangan Greysie.
"Ekghm, eghm. Kamu beneran gak pp?" tanyaku, masih dengan suara serak.
"Gak pp, Ra. Aku yang harusnya nanya, masih sakit leher kamu?" tanya Greysie.
"Udah gak terlalu. Ekghm... Siapa orang itu" ujarku, mengelap darah dari tangan Greysie.
"Grey, kita keknya udah ketahuan sama mereka. Tapi keknya mereka cuman tau tentang masa lalu keluarga aku dan hubungan pertemanan kita" lanjutku.
"Maafin aku, Ra. Keknya ini salah aku deh. Waktu aku masuk ke rumah Cassie saat itu, aku gak sadar kalau masker dan tudung kepala aku udah kelepas. Pasti mereka lihat aku di cctv. Tapi kenapa sampai sekarang mereka belum juga lapor ke polisi? Padahal itu bisa di jadiin bukti untuk ngebebasin orang tua mereka" batin Greysie.
"Tapi... kita pura-pura gak tau aja dan bersikap seperti biasa kalau ketemu sama Cassie nanti" ujarku.
"Ra, aku punya ide. Katanya kamu mau buat polisi curiga sama kamu kan? Kita buat aja si Rasya itu curiga ke kamu dulu, dia udah lumayan deket sama kamu kan?" saran Greysie, lalu bertanya.
Mendengarnya, aku berhenti memasang pelekat perban di tangan Greysie, kemudian merenung.
"Ra?" panggil Greysie.
"Emm.. Iya, kita buat aja dia curiga ke aku" ujarku.
"Lagi pula ini emang udah rencana dari dulu supaya buat polisi curiga sama gua" batinku.
Kemudian, aku segera melanjutkan memasang pelekat perban di tangan Greysue. Lalu aku menelpon Rasya untuk memberitahukan terkait situasi yang terjadi di apartemen kami.
Beberapa saat kemudian, polisi datang. Mereka mulai memeriksa apartemen kami dan sekitarnya.
"Kalian gak pp?" tanya Rasya, khawatir.
"Iya kita gak pp" jawabku.
"Kalian.. bisa jelasin kejadiannya kek gimana?" tanya Rasya, lalu mengambil buku catatan
Sementara itu, Greysie menjelaskan semuanya dan Rasya mencatat setiap penjelasan darinya.
"Lista, aku boleh minta keterangan dari kamu? tanya Rasya.
"Mm, yaa" ucapku, lalu menjelaskan.
"Ada gak orang yang kalian curigai?" tanya Rasya.
"Hmm, gak tau juga sih, maybe seseorang yang kesal sama aku" jelasku, biasa.
"Kita gak tau pasti, mungkin ada orang yang gak suka sama sikap kita" sambung Greysie, lalu tersenyum.
"Untuk saat ini siapa yang kalian curigai?" tanya Rasya lagi.
"Gak ada sih, kita gak tau juga" jawabku.
"Hm, okey... terus kalian tau dari mana kalau orang yang nyerang kalian itu adalah cowok?" tanya Rasya.
"Hm," mengerutkan bibir, "bagi kita mudah sih untuk bedain antara cowok sama cewek. Selama ini kita juga sering latihan bela diri, jadi.. kita tau betul gimana bentuk tubuh mereka, and lagi pula badan orang yang nyerang kita sebelumnya itu badannya kekar dan tinggi" jelas Greysie.
Rasya mencatat semuanya, namun ia masih terlihat sedikit curiga akan sesuatu. Kemudian polisi memeriksa sekitar dan Cctv.
"Cctv di dekat kamar apartemen kalian katanya lagi rusak. Tapi untung aja orang itu kerekam di cctv lain. Kalian tenang aja, aku bakal berusaha untuk nyari dia sampai dapet" ujar Rasya.
"Em, thank u" ucapku.
"Gua masih heran kenapa mereka selalu terlibat dalam masalah seperti ini?" batin Rasya.
"Ok, baiklah... nanti kami akan memintai keterangan lebih lanjut kepada kalian. Sebaiknya kalian lebih berhati-hati mulai sekarang," melihat kearahku, "Kalian mau kemana sekarang? nanti biar aku yang anterin" saran Rasya.
"Kita mau ke rumah Grey, tapi kita gak pp kok, kita pergi sendiri aja, soalnya Grey bawa mobil dan aku juga bawa motor" jelasku menolak usul Rasya.
"Hm, iya tapi... takutnya nanti pas kalian di jalan orang itu bakal nyerang kalian lagi" pinta Rasya kekeh.
"Hm, gak pp Sya. Kita juga bisa jaga diri kok" tolakku lagi.
"Okey, tapi aku jagain kalian dari belakang yaa" pinta Rasya lagi.
"Hm," mengerutkan bibir, "iya, okey kalau kamu maksa" jawabku mengangkat kedua alis.
********
Beberapa saat kemudian, tiba di depan rumah Greysie, Rasya berpamitan. Kami pun masuk ke dalam rumah.
Di dalam kamar Greysie, aku langsung berbaring, sedangkan Greysie masih diluar kamar menelpon dengan seseorang.
"Dia adalah orang suruhan Andrian Morris, Ayahnya Ketua MPR dan Ibunya adalah Walikota di Jakarta Pusat. Orang suruhannya berasal dari Amerika, dia baru setahun tinggal di indonesia. Dan orang itu memang di latih untuk hal-hal seperti ini, dia menjadi kaki tangan Ayah dari Andrian Morris untuk melakukan hal-hal kotor" jelas seseorang, di telpon.
Seseorang yang menelpon itu adalah kaki tangan Hendry (tak berhubungan langsung) yang di mana, ia sebelumnya membantu Greysie pada kejadian Angeline setahun yang lalu.
"Kerja bagus," ucap Greysie menutup telpon.
Selesai menelpon, Greysie melihat kebelakang dan terkejut karena aku sudah berada di sana.
"U okay?" tanyaku, keheranan.
"Emm, ya" jawab Greysie, gugup.
"Owwhkeyy," menaikan satu alis, "kamu gak tidur lagi? sekarang udah jam 04:10," melihat jam tangan, "besok kita sekolah, nanti ngantuk lagi" ujarku.
"Emm, ok" ucap Greysie berjalan ke kamar. Sementara itu, aku mengikutinya dari belakang.
Di dalam kamar.
"Grey..." panggilku.
"Hmm?" jawabnya.
"Besok aku bakalan pulang ke rumah aku" ucapku.
"Hm, why?" tanya Greysie, lagi.
"Gak pp sihh, cuman... aku kan udah kelamaan disini" jelasku.
"Hm, tapikan Ra... di rumah kamu juga gak ada siapa-siapa, mending kita bareng kan?" saran Greysie, kekeh.
"Iya, tapi.. ada yang mau aku urus di sana" jelasku.
"Kalau gitu aku bakalan ikut, aku nginep sama kamu lagi aja" pinta Greysie.
"Hm, up to you Grey" balasku.
"Tadi yang nelpon siapa?" tanyaku.
"Em, dia orangnya om Hendry. Btw orang yang nyuruh buat nyerang kita bukan si Cassie atau Bryan, tapi Andrian pacarnya Kesya" jelas Greysie.
"What? Hm, nambah musuh baru lagi. Heh... Hehahahahahaha. Hahahaha, sialan. Hahahaha" ujarku, tertawa lepas.
Greysie langsung membukam mulutku. Sementara aku menatapnya.
"Berisik, Raaa" ucap Greysie, heran.
Kemudian, aku membuka paksa tangan Greysie lalu bangun dari baringku sambil menatap wajahnya dari dekat.
"Hn, hehahahahaha. Aaiishh, sialan" ujarku, masih dengan wajah tersenyum.
"Huuuu....fff, hehehehehahaha," tertawa pelan.
"Hnhnhenhnhhehnhe," masih tertawa pelan, "Hehehnhikhikhik, sialan!" umpatku, lalu berhenti tertawa sedang wajahku berubah datar.
"Dateng lagi gilanya" batin Greysie.
__ADS_1
"Hnh, tapi gua lebih suka Cara yang kek gini daripada nangis mulu kek anak kecil" lanjut, Greysie membatin. Ia tersenyum senang.
"Huuuu.... Hahahaha. Grey...! temenin aku karokean... Hm, tunggu dulu. Gua boseeennnnn....!! Gua harus cari sesuatu yang baru dan bisa buat gua seneeeng...! Adu pisau gimana, hm?," mengkode dengan alis, "Kalau nolak berarti takut. Aku dari dulu penasaran kalau kita satu vs satu siapa yang bakalan menang?" ujarku, masih dengen ekspresi tak terdeskripsikan.
"Ntar luka" ucap Greysie.
"Aelah masa takut. Kalau salah satu di antara kita mati, ya gak pp. Yang hidup tinggal bundir aja" ujarku, dengan ekspresi biasa sambil senyum-senyum tak jelas.
"Aduhh, Cara kenapa gila lagi, hm? Kita karokean aja ya gak usah mainin benda tajem. Ntar kalau sama-sama luka bakalan nyesel juga akhirnya" ujar Greysie.
"Grey....! Aku mau....! Aku mau bunuh orang sekarang!," wajah datar, "Henhehehehehe. Hahahahahaha. Emm, siapa ya? Siapa yang harus matii?! Lo mau mati gak Grey? Gak pp, gak sakit kok, Hmmm...," tersenyum lebar, "Mau ya?" ujarku.
"Hn, yaudah. Mau bunuh aku? Hn, silahkan" ucap Greysie, dengan ekspresi biasa.
Greysie lalu merentangkan kedua tangannya sambil menutup mata. Sementara aku langsung mengambil pisau milikku.
"Yakin?" tanyaku, masih tersenyum gila.
"Iya, Raa" jawab Greysie, lembut.
"Tapi Cara gak mau kehilangan Grey. Grey tega ninggalin Cara sendiri?" tanyaku, cemberut.
"Hmmf," Greysie menghela napas pelan. Lalu membuka matanya.
"Yaudah, mau Cara apa sekarang?" tanya Greysie.
"Gak tau. Gua ngantuk. Mau tidur. Lo jangan ganggu. Gua lagi bad mood" ujarku, berjalan ke tempat tidur.
Setelah berbaring sambil menutup mata. Beberapa menit kemudian, aku pun tertidur.
"Kemasukan apa lagi Cara kali ini?" batin Greysie.
"Hmmhghmhm... Pengen mbunuh hmorang. Aku kesselm bnanget" ujarku, mengigau.
"Mau bunuh siapa?" bisik Greysie, di telingaku.
"Penhgenm bunuh smuamnyaaa... Semuahyang hudah buat Grey luka, hmmmm... PapaGreymmn jugaa, tapi Caragakbissmmm" ujarku, berhenti berbicara ngelantur.
"Hm?" batin Greysie.
Greysie terlihat sedang berpikir. Tak lama setelah itu, ia pun berbaring dan tertidur.
Satu jam lebih kemudian. Sekarang waktu sudah pukul 07:03 pagi. Aku terbangun karena suara alarm di hpku terus berbunyi.
Kemudian, aku beranjak dari tempat tidur dengan mata masih tertutup. Aku lalu mandi, setelah itu aku segera memakai seragam sekolah.
"Grey... Greyy... Bangun, huaaaaa. Bangun sekolah" ujarku pelan, sedikit tertidur sambil menindih tubuhnya.
"Gak! Bangun, Ra" batinku. Aku membuka mata lagi dan segera menyuruhnya untuk bangun.
"Grey... Banguuunn" ucapku, mengoyangkan badannya dengan mata yang masih mengantuk.
"Hmmm, ughhkkk... gak mauuu. Gak mauuuu, hmhhhgggm" ujar Greysie, memberontak dengan menendang tempat tidur.
"Cara bakal temenan sama Riska kalau Grey gak sekolah, hnhehehehaha" bisikku, dengan mata mengantuk. Lalu tertawa kecil mengejek.
Mendengarku membuat Greysie segera bangun dengan wajah kesal bukan main. Ia lalu pergi ke kamar mandi, lalu mandi.
Beberapa saat kemudian. Setelah selesai mandi, ia keluar dan segera memakai seragam sekolah. Sementara itu, aku sudah tertidur dengan posisi duduk di tempat tidur.
"Ra, aku udah siap-siap. Ayo ke sekolah" ucap Greysie, membangunkanku.
"Hmm, dikit lagi... Aku ngantuk banget" ujarku, pelan dengan mata terpejam.
Greysie lalu menggendongku di bagian belakangnya sampai di mobilnya, ia lalu memakaikan sabuk pengaman dan segera menancap gas mobil miliknya.
Di perjalan, Greysie juga masih mengantuk dengan terus menguap.
Sesampainya di sekolah. Kami hampir saja terlambat. Lalu Greysie memarkirkan mobilnya di parkiran.
"Ra, bangun. Kita udah sampai. Raa, Raa" ujar Greysie, menggoyangkan badanku.
"Hm, iya, iya. Ini bangun" ucapku, membuka mata.
Kami pun segera masuk ke dalam kelas. Tak lama setelah itu bell masuk berbunyi. Di dalam kelas aku malah merenung saat guru menjelaskan, sesekali mataku seperti akan menutup saja.
Sementara itu, Guru melihatku dan mulai memanggil namaku.
"Callista, coba jelaskan kembali bagian ini" panggil Guru menunjuk papan tulis, aku diam tak menjawab.
"Cara Callista!" panggil Guru mengeraskan suaranya.
"Ehh, ya bu?" ucapku terkejut.
"Hm, kamu gak perhatikan saya ngajar? coba jelaskan kembali bagian ini" keluh Guru menunjuk papan tulis.
"Hm, eehh maaf bu, eeh" ucapku meminta maaf, lalu menjelaskan kembali penjelasan guru.
"Hm, lain kali jangan bengong lagi" tegur Guru.
"Iya, baik bu" jawabku.
"You okay?" tanya Greysie.
"Yeeaa," menelan ludah, "i'm good" jawabku.
Kemudian, aku segera membuka mataku lebar-lebar untuk melihat guru menjelaskan tentang pelajaran.
Baiklah... Kali ini ibu akan memberikan tugas kelompok pada kalian. Kumpulnya nanti minggu depan saat pelajaran ibu. Kelompoknya beranggotakan dua orang. Dan kali ini ibu yang akan menentukan anggota kelompoknya kerena biasanya kalian malah bergaul sama yang itu-itu aja.
Clara Jacqueline dengan Ratu Adelia.
Alfie Jourell Walton dengan Chloe Nayra Putri.
Cara Callista dengan Alesya Riska.
Mendengarnya sontak membuat mataku terbelalak. Aku kemudian melirik Greysie dengan ekspresi takut.
Ivey Jean Ellzey dengan Ainsley Anika.
Freya Valerie Greysie dan Athan Delano.
(Yess, gua sekelompok sama Grey. Kesempatan emas) Athan bergumam.
(Ckk! Gua juga pengan sekelompok sama Cara) Alfie kesal sendiri.
Yara Vindiya Zelene dengan Dion Loye.
Mindy Mackenzie dengan Andre Amero.
Cassie Marletta Milstone dengan Axel M. Ryan.
Guru terus membacakan nama kelompok. Setelah selesai, bell pulang pun berbunyi dan semua murid pulang masing-masing.
Di dalam mobil Greysie. Wajahnya sangat masam bukan main. Ia sangat kesal apalagi masalah kemarin juga masih belum kelar, malah nambah masalah baru lagi.
"Grey, bukan salah aku. Kan guru yang bagi kelompoknya tadi. Lagian aku suka kamu sama Athan, dia udah lama suka sama kamu. Cuman dulu kehalang sama Rendi aja. And karena sekarang kamu udah gak sama si brengs*k itu lagi, lebih baik kamu sama dia aja. Menurut aku Athan tuh orangnya baik. Dulu aku kepengen larang kamu sama Rendi, tapi ya mau gimana lagi. Aku coba untuk ngasih kesempatan sama dia buat buktiin dirinya, tapi... Ternyata kamu emang gak suka sama orang yang udah buat kesalahan" jelasku, panjang bagi tinggi.
"Cara kalau lagi cerewet berisik amat" batin Greysie.
Sesampainya di depan rumah Greysie. Kami bermain suit untuk mentukan pemenang. Siapa yang kalah, maka dialah yang akan mengambil semua barang-barang di dalam rumah Greysie.
"Batu gunting... Kertas" ujarku, bersamaan dengan Greysie.
"Hn, hahaha. Kamu gak akan pernah bisa ngalahin aku Grey. Insting aku kuat soalnya, hahaha" ledekku, dan tertawa.
"Hnh," ucap Greysie, memanyunkan bibirnya.
Kemudian, ia segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya. Beberapa menit berlalu, Greysie kembali dengan membawa banyaknya barang-barang kami. Sedangkan aku masih menunggunya di luar rumah, bersender di mobil.
"Barang-barang aku udah semua, Grey?" tanyaku tersenyum, meledeknya.
"Hm, yaahh... masa aku sendri yang siapin barang-barang, udah gitu tangan aku masih sakit" jawab Greysie, kesal.
"Hm, kan udah perjanjian tadi siapa yang kalah suit dia yang bakalan ngambil barang" ejekku.
"Yaa, yaa, yaaaaa" gerutu Greysie menaruh koper di bagasi mobil.
"Hahaha, sini aku bantu" ucapku, masih meledeknya.
"Hnh, lambat kamu" ujar Greysie, menutup bagasi mobil dengan mimik kesal.
"Hahahaha, aku naik motor ya Grey" pamitku masih meledeknya.
"Gak usah ahh, lagi pula di rumah kamu masih ada tuh motor kamu yang satunya lagi" keluh Greysie, dia sepertinya merajuk.
"Hm, yaudah, yaudah okey," tersenyum ejek, "biar aku yang nyetir," merebut kunci mobil, "tangan kamu masih sakit kan?" ujarku.
"Hnh" gerutu Greysie, masih sama kesalnya.
Kami masuk ke dalam mobil, aku terus melihat Greysie, wajahnya sangat kesal, dia terus menghela napas berat, bersilang tangan.
"Hnn" ucapku, tesenyum melihatnya.
Wajah kesal Greysie sangat tak enak jika di pandang. Karena melihatnya terus cemberut, aku memutuskan untuk menghiburnya agar ia tak merasa kesal lagi padaku.
"Ekstrovert kok cemberut sih, harusnya ceria dong" ujarku melihat Greysie.
"Aku Entp bukan ekstrovert" jawab ketus Greysie.
"Hnn," tersenyum, "Entp kan ekstrovert Grey" sambungku.
Greysie hanya diam, dia melirik kesal padaku. Kemudian, aku tertawa melihatnya.
"Hahaha, sorry Grey" ucapku.
Sementara itu, tanganku bergerak lalu memencet sebuah tombol pemutar musik.
"Thiss iss, your favorite songg" teriakku melihatnya.
Aku menyetel lagu yang berjudul I Wanna Be Your Slave dan mulai berjoget juga bernyayi.
"And if you want to use me, i could be your puppet," bisikku padanya. Dia tersenyum, lalu.
"Cause I'm, the, devil who's searching for redemption" teriak kami bernyanyi dan berjoget bersama.
Dua jam kemudian. Ini dia rumahku, dimana segala kenangan indah dan buruk tercampur menjadi satu.
Greysie keluar dari mobil untuk membuka pintu gerbang rumahku, karena tidak seperti di rumahnya, di sini tidak ada satpam untuk membukakan pintu. Aku keluar dari mobil dan mengambil koper dari dalam bagasi.
Di depan pintu rumah, aku mengeluarkan kunci dari kantung celanaku, lalu membuka kuncinya. Kemudian aku memasukan pin pada sistem smart door lock. Perlahan aku memutar gagang pintu untuk membuka pintu. Pintu terbuka.
"Haaa," menarik napas, "oh may gattt!" ucapku terkejut membulatkan mata.
"What the fuckk?!" ucapku, tak percaya.
Greysie juga sama terkejutnya saat melihat seisi rumahku, semuanya terlihat sangat berantakan seperti baru saja kemasukan maling.
Sepertinya sesorang menggeledah rumah ini. Barang berserakan di mana-mana.
"Aku harus," melirik Greysie, "periksa sesuatu" batinku.
"Grey, kamu ke kamar aja dulu, aku mau meriksa sesuatu" kataku padanya.
"Hmm, okeyy" jawab Greysie.
Di dalam sebuah ruangan. Aku berjalan perlahan, melihat sekitar dan mulai mencari sebuah tombol di sekitaran dinding.
Saat menemukan tombol itu, aku langsung memencat-nya. Pintu yang berwarna sama dengan dinding rumahku terbuka, ada satu pintu lagi yang terlihat, kemudian aku memasukan pin pada sistem pintu ke dua tersebut, lalu pintunya terbuka.
Setelah aku memeriksa ruangan rahasia tersebut, aku merasa legah dan segera menutup pintunya.
__ADS_1
Kemudian, aku berjalan keluar ruangan, lalu menelpon bibi Nur. Ia dulunya bekerja pada keluargaku.
Satu jam kemudian. Bibi Nur sudah berada diluar rumahku, ia membuka pintu.
"Assalamu'alaikum neng" ujar Bibi Nur membuka pintu.
"Wa'alaikumsallam bi" jawabku, melihat kearahnya.
Bibi Nur terkejut saat melihat rumahku yang berantakan. Sedangkan aku dan Greysie masih membersihkan barang-barang yang berserakan.
Kemudian aku menjelaskan semuanya pada bibi Nur. Ia pun meletakan barang bawaannya dan segera membantu kami untuk membersihkan semuanya.
Kami berbicara mengenai banyak hal termasuk Nur Iliana, anak dari bibi Nur. Dia sangat pandai melukis, karyanya sudah banyak di sukai banyak orang. Setelah itu, aku menelpon Lia untuk datang ke rumahku.
Empat jam kemudian. Sekarang pukul 20:17 malam. Bibi sedang memasak di dapur, tak lama kemudian suara bell rumah berbunyi.
Ting nung..., ting nung...
Suara bell rumah berbunyi, aku sedang duduk di ruang tamu saat mendengar suara bell rumah. Kemudian aku pergi untuk membukakan pintunya.
"Hai, kok baru dateng?" tanyaku menyuruhnya masuk.
"Maaf kak, tadi aku ke tempat lest bentar" jawab Lia berjalan masuk.
"Hm, kakak kan udah bilang, kamu libur aja dulu, bentar lagi kan udah mau ujian" balasku.
"Hm, hehehe" ucap Lia tertawa.
"Haiii, Lia" sapa Greysie.
"Hai kak" balas Lia menyapa.
Di dapur. Bibi Nur berhenti dengan aktivitasnya, lalu berjalan keluar menghampiri kami.
"Lia di sini?" tanya bibi.
"Iya, hehe, aku nelpon Lia tadi supaya ke sini" ucapku berjalan ke arah dapur.
"Udah masak bi? kita makan bareng ya" ujarku melihat mereka.
"Ooh, iya neng udah, bibi siapin dulu" jawab bibi berjalan ke dapur.
"Biar kita bantu siapin bi" pintaku.
"Gak usah neng, bibi aja yang siapin" balas bibi.
"Gak pp bi, kita juga mau bantuin" sahut Greysie menarik tangan Lia.
"Ayoo, Lia" ajak Greysie.
Kami mulai mengatur meja makan dan menyiapkan semuanya. Aku tersenyum saat melihat mereka karena teringat kembali akan kenangan bersama keluargaku.
Setelah selesai mengatur meja makan, aku dan Greysie duduk di kursinya, tetapi bibi dan lia hanya berdiri dan melihat kami.
"Bibi sama Lia kok cuman berdiri?," melihat mereka, "duduk bi, Lia?" ujarku menarik tangan Lia menyuruhnya duduk.
"Iya, ayoo duduk sini Lia, bibi juga sini" sambung Greysie memanggil bibi dan lia.
"Bibi dan lia nanti makan di dapur aja neng" jawab Bibi.
"Nur Iliana?" panggilku melihatnya, ia menatapku dengan senyuman canggung.
Kemudian aku berdiri, berjalan menghampiri bibi nur, memegang pundakknya dan menyuruhnya duduk, begitu juga dengan Lia.
"Okkee, gini kan bagus" ujarku berjalan duduk di tempatku.
Greysie tersenyum melhatku, ia tahu kalau aku tidak terlalu menyukai basa-basi, lebih baik langsung selesaikan dengan tindakan.
"Neng mau ini gak? biar bibi ambilin" tanya bibi menawarkan makanan padaku.
"Hm," tersenyum, "gak pp bi sumpah, aku bisa ambil sendiri kok" jawabku.
"Emm, neng Greysie?" tanya bibi juga menawarkan makanan.
Kami makan lalu mambahas banyak hal termasuk kelulusan aku dan Greysie. Lia ingin segera lulus untuk mengikuti kami.
Malam ini kami tertawa bahagia layaknya keluarga harmonis pada umumnya.
Setelah selesai makan, aku meminta bibi dan lia untuk menginap karena sudah terlalu malam untuk pulang.
"Bibi sama lia tidur di kamar ayah dan bunda aja" pintaku.
"Gak pp neng, bibi dan lia biar tidur di kamar bibi yang dulu aja" tolak bibi, sopan.
"Hm, kalau bibi gak mau, Lia aja" ajaku, menarik tangan Lia.
"Lia tidur di kamar Tiya aja yaa" ujarku, lalu mengantarnya ke kamar Tiya.
"Emm," melihat bibi, "eee" ucap Lia bingung.
Di dalam kamar Tiya, aku langsung menyuruh Lia untuk duduk.
"Okeyy," berjalan, "aku ke kamar aku ya" pamitku padanya.
"Mm, iya makasih kak" sambung Lia.
Aku kemudian tersenyum sambil menutup pintu kamar. Sementara itu, tiba di dalam kamarku. Greysie sudah tertidur, aku melihatnya dan memperbaiki posisi tidurnya, tetapi ia malah terbangun.
"Lahh kok bangun?" tanyaku.
"Hmff, aku belum terlalu tidur, jadi kebangun" jawab Greysie.
"Aku bangunin kamu yaa? sorry Grey, kamu tidur lagi aja" pintaku padanya.
"Mm, gak pp" balas Greysie, matanya masih terlihat ngantuk.
"Hm" ucapku beranjak turun dari tempat tidur.
Kemudian, aku mengambil kotak P3k lalu aku langsung mengganti perban di tangan Greysie.
Setelah mengobati luka Greysie, aku pergi keluar kamar dan segera mengecek kembali ruangan rahasia di rumahku.
Di dalam ruangan rahasia, aku memeriksa rekaman cctv. Di cctv terlihat tiga orang masuk ke dalam rumahku, aku juga bisa menebak salah satu di antara mereka adalah Cassie.
Dua orang mencari sesuatu dan mengacak-acak rumahku. Sementara itu, Cassie masuk ke dalam kamarku dan mengobrak-abriknya.
Cassie melihat foto keluargaku dan membantingnya. Ia membanting semua foto yang ada di dinding kamarku.
Kemudian, salah seorang anak buah Bryan masuk ke dalam kamarku untuk menaruh tas hitam yang berisikan benda simpanan mereka, lalu di simpan bawah tempat tidurku. Mereka juga merekam dan mengambil gambarnya.
Setelah melihat hal itu, aku perlahan menunduk dan tertawa pelan sampai terbahak-bahak.
"Hnhnhnhnheheheha. Hnhenhenehaahaha. Hahahahahahaiiiisshh. Hahahahahahaaa, hnh" tertawa lepas, lalu tersenyum smrik.
Setelah puas tertawa, aku pergi kamarku. Di sana Greysie masih tertidur. Kemudian, aku segera mengambil perlatan pembunuh berantaiku seperti gregaji, palu, kunci inggris, gunting, kapak dan benda-benda tajam lainnya untuk aku masukan ke dalam tas hitam itu.
Beberapa jam kemudian, aku tak tidur dan malah sibuk mendengar percakapan Bryan dan Cassie.
"Hm, mereka mau ngancurin hubungan gua dan Grey? Hnh, hah, hehnhehenhenhahaha. Hahahahaha," aku terlau tertawa sampai membangunkan Greysie.
"Ra?" panggil Greysie, bangun.
"Grey...," ujarku, menghampirinya dengan wajah senang sambil tersenyum tak jelas.
"Si Cassie mau ngehancurin hubungan kita tau gak? Hnhnhhehehehahaha. Hahahaha" ujarku, lalu tertawa lagi.
"Oh, ya? Gimana caranya?" tanya Greysie.
"Kamu gak perlu tau. Nanti juga kamu tau sendiri, untuk sekarang lebih bagus kek gini. Natural, siapa tau ntar rencana dia berhasil. Aku bakal nilai sikap kamu ke aku gimana nantinya" ujarku.
"Hnh, ngeremehin gua lo, Ra? Lo pikir segampang itu bagi mereka untuk ngebuat gua benci sama lo" ujar Greysie.
"Okey, kalau gitu.. Yaudah, biarin aja dulu gini. Oh ya, btw ternyata si Cassie yang udah geledah rumah aku. Aku lihat di cctv dia ngambil anting dari meja rias aku. Keknya dia bakal ngefitnah aku sama Riska, deh" jelasku pada Greysie.
"Kok, Riska?" tanya Greysie, heran.
"My insting, Grey. Gak pernah salah. Dia pasti nyadar kalau selama ini Riska sering ngebelain aaaak..." ujarku tak selsai.
Greysie menaik turunkan alisnya dengan wajah datar khas miliknya yang dingin.
"I mean... Si Cassie... Dia kan selama ini mau masuk ke circle si Riska kan? Nahh terus aku halangin dia terus, and... Si Riska gak pernah..." ujarku, tak selesai.
"Aduh, mati gua. Gak ada alasan yang bisa gua pakai untuk ngehindarin ini" batinku.
"Emm, maksud aku tuh... Si Cassie pasti ngerasa kalau Riska itu ngebelain aku... Git-ttuu... Em, iya pokoknya gitu. Makannya dia pengen banget ngefitnah aku supaya dia bisa deket sama Riska" jelasku, dengan mimik takut.
"Iya, maksud pertanyan gua itu... Kenapa harus elo? Dan kenapa juga harus Riska? Emang kalian berdua ada hubungan apa sampai si Cassie harus ngefitnah elo demi buat deketin si Riska? Jelasin maksud elo gimana?" tanya Greysie, masih dengen mimik kesalnya.
"Ya, aku... Aku juga gak tau Grey. Mungkin aja si Cassie ngerasa gua deket..." jelasku tak selesai.
"No, no. Gua gak boleh pake alesan itu. Kalau Grey nyadar gimana? Kalau dia nyadar selama ini Riska selalu diem aja saat gua ikut campur sama urusan mereka gimana? Terus juga Riska gak pernah ngebully gua, bisa gaswat hidup gua" batinku.
"Grey... Temenin Cara ya? Ini udah jam 1 malam. Aku mau temuin Raya di rumah sakit buat ngasih anting aku yang sebelah ini" ujarku, memperlihatkan anting.
"Cassie bakalan fitnah aku makai anting ini. Dia pasti bakalan mulai dari Riska. Kamu tau kan kalau Riska dan temen-temennya yang nguasain sekolah? Pasti Cassie bakalan makai cara itu buat masuk ke cicle mereka. Dan kalau sampai semua itu terjadi, semua anak-anak di sekolah bakalan ikut ngebully aku juga" jelasku.
"Mau, ya?" tanyaku, memohon.
Greysie menghela napas pelan. Kemudian, ia segera menyiapkan peralatan serta memakai jaket hitam.
Sementara itu, aku tersenyum dan segera mempersiapkan peralatan milikku.
Kami pergi ke rumah sakit menggunakan mobil Greysie. Ia memarkirkan mobilnya sedikit jauh dan kami memilih untuk berjalan kaki untuk menghindari kamera cctv jalanan.
Setelah dekat di rumah sakit. Kamu menyelinap masuk. Di sana sudah sangat sunyi karena waktu sudah menunjukan pukul 01:58 tengah malam.
Di depan pintu rumah sakit, kami masuk ke dalam kamar Raya. Ibunya sedang tidur di sofa, dan kami segera mematikan lampu di dalam kamar tersebut. Kemudian, Greysie berjalan kesana kemari sampai mengelilingi kamar Raya.
Sementara itu, aku tetap diam sambil bersender di dinding sedang tanganku bersilang. Kerena mendengar suara langkah kaki Raya terbangun dari tidurnya.
Setelah Raya terbangun, aku langsung berjalan pelan mendekatinya sampai menyamai posisi badan kami.
Raya melihat ibunya tidur di sofa, sinar bulan berhasil membuat kamar ruangan itu nampak sedikit terang.
Di saat Raya menoleh ke kanan, ia terkejut melihat wajah seseorang sudah berada tepat di depan wajahnya. Sedangkan aku langsung membukam mulut Raya agar ia tak jadi berteriak.
"Sssstttt......!" ujarku, menaruh telunjuk kananku ke bibirku yang berlapis masker hitam tsb.
Pisau di tanganku menunjuk seorang wanita yang berumur sekitar 38 tahunan di sofa. Sementara itu, di belakang sofa Greysie sudah berdiri di belakang ibu Raya sambil memegang pisau.
Pisau Greysie berada di sekitaran leher ibu Raya. Jika Raya berteriak maka ibunya akan mati dalam sekejap di tangan Greysie.
"Kalau kau tak mau dia celaka. Ikuti perintahku" ucapku, berbisik.
Raya ingin menangis. Keringat dinginnya mengalir deras membasahi tubuhnya. Kemudian, aku meraba kantung celanaku dan memperlihatkan anting tepat di wajah Raya.
"Kasih ini ke temenmu yang bernama, Riska. Bilang padanya kau menemukannya di dalam toilet, tempat dia di teror seseorang saat itu. Terserah kau ingin memakai alasan seperti apa saat memberikan anting ini padanya" perintahku pelan, namun tegas.
"Tapi... Jika kau tak mau melakukannya, maka orang yang sedang tertidur lelap di sofa itu...," aku menunjuk sofa. Sementara itu, Greysie menggerak-gerakan tangannya, mengancam akan mengiris leher ibu Raya.
"Akan segera mati. Jangan pernah berpikiran untuk melapor ke polisi atau... Semua anggota keluargamu akan mendapat hukuman mati dariku. And... Satu hal lagi, ini adalah anting milik Cassie, orang yang pernah kau bully saat itu. Jadi kau mengerti maksudku kan?" tanyaku, menatap matanya tajam.
Raya hanya bisa menganggukan kepalanya. Sedari tadi air mata serta keringatnya tak berhenti mengalir.
Setelah itu, aku melepas tanganku dari mulut Raya kemudian berjalan pelan ke arah pintu. Sedangkan Greysie menghampiri Raya lalu berbisik padanya.
"Jangan berisik saat kami pergi" ancam Greysie, menatap tajam sambil menjambak rambut Raya.
Setelah kami pergi. Raya masih menangis kecil sambil menutupi mulutnya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1