
Sebelumnya. Setelah Vyora mengantar Dela dan adiknya ke rumah mereka. Saat itu waktu sudah menunjukan pukul 17:21 sore.
Di dalam mobil. Telpon Vroya berbunyi lagi, dia pun menjawabnya.
"Kenapa?" tanya Vyora.
"Vi... Kamu kesini pliss. Perasaan aku gak enak banget. Nginep aja ya di rumah aku. Pliss" pinta Angeline, memohon.
"Kenapa sihh? Gua pengen jenguk adik gua ini" jelas Vyora.
Adik Vyora yang di maksudkan adalah salah satu anak panti asuhan yang dulunya tak sengaja bertemu dengan Vyora, sehingga menjadi dekat dengannya dan Vyora sudah menganggap menjadi adiknya sendiri.
"Emm. Tapi.. Kalau setelah itu? Pliss Vi, aku gak tenang. Aku mau lihat muka kamu. Vc sekarang" ucap Angeline, lalu ia mematikan telpon.
Angeline segera melakukan panggilan video pada Vyora dan Vyora pun mau tak mau harus mengangkat telpon darinya.
"Vi...?" tanya Angeline melihat layar hpnya.
"Ck, iya apasihh. Manggil mulu" sahut Vyora.
Lalu Vyora meletakan Hpnya bersejajar dengan wajahnya agar Angeline bisa melihatnya.
"Hufff" ucap Angeline, bernapas lega setelah melihat wajah Vyora.
"Lo kenapa sih, dari tadi khawatir gak jelas" tanya Vyora.
"Perasaan aku gak enak banget dari kemarin. Pliss nginep di rumah aku Vi. Pliss" pinta Angeline, memohon.
Vyora tak menjawab Angeline, dia hanya terus fokus mengemudi, sesekali ia juga melihat kaca mobilnya.
"Vii? Plissss" pinta Angeline, dengan wajah memohon ala-ala cemberut anak remaja.
"Ckk! Ya, ya ok. Udah diem sih, males gua dengernya" jawab Angeline, dengan mimik jijiknya.
"Emm, thank uuuu" ucap Angeline, dengan wajah imutnya.
"Ni anak mau masuk tentara tapi sifat dia kek gitu" batin Vyora, namun jauh di lubuk hatinya ia merasa senang.
"Habis jenguk adik kamu, kamu langsung ke sini ya Vi, awas aja gak. Aku bakal nelpon terus" ancam Angeline.
"Serah lo. Gua tutup" ucap Vyora langsung menutup telpon dari Angeline.
Vyora tersenyum tipis. Begitu juga dengan Angeline yang berada di kamarnya, ia tersenyum senang sambil rebahan di tempat tidurnya.
Waktu menunjukan pukul 18:03 malam. Vyora masih mengendarai mobilnya menuju panti asuhan tempat adiknya berada.
"Kangen banget sama Salsa" batin Vyora.
Mobil Vyora masuk ke jalanan yang terlihat sunyi. Vyora telah menyadari sedari tadi, setelah ia mengantar Dela dan Dion, ada satu mobil yang selalu mengikuti dirinya. Ia sengaja berbelok untuk melihat mobil itu apakah tetap mengikutinya dan ternyata benar.
__ADS_1
Kemudian Vyora segera mencari tempat yang sunyi agar ia bisa menghajar orang di dalam mobil tersebut.
Ciiiittt......!
Vyora mengerem mendadak. Hal itu membuat mobil di belakangnya juga merem mendadak. Lalu Vyora segera keluar dari mobil dan mengetuk jendela mobil hitam tersebut secara kasar.
"Keluar kalian!" ucap Vyora, emosi.
Sementara di dalam mobil, ke enam anak buah keluarga Milstone telah menyiapkan peralatan seperti pemukul besi, pisau dan juga pistol.
Salah seorang anak buah keluarga Milstone yang mengemudikan mobil perlahan membuka pintu mobil, diikuti rekan-rekannya.
Tangannya telah membuka pengaman pistol. Setelah ia keluar dari mobil, pistol itu langsung di arahkannya pada kening Vyora. Sementara rekan-rekannya telah berada di belakang Vyora dengan peralatan milik mereka masing-masing.
Kaki Vyora berjalan mundur, matanya melirik satu persatu anak buah keluarga Milstone. Lalu Vyora dengan ceketan merebut pistol di tangan anak buah keluarga Milstone tersebut. Merebut pistol adalah hal yang mudah bagi Vyora, mengingat dia adalah calon pasukan Khusus TNI.
Anak buah keluarga Milstone nampak terkejut karena mereka terlalu meremehkan Vyora. Mereka pikir Vyora adalah korban yang mudah, dan mereka terlalu percaya diri dengan ilmu bela diri masing-masing karena merasa bahwa selama ini mereka telah berhasil melakukan semua tugas yang di berikan oleh keluarga Milstone.
Pistol itu di arahkan Vyora pada kepala seorang yang memegang pistol itu sebelumnya. Vyora melingkari tangan kirinya dengan kuat ke leher orang itu.
Wajah orang tsb nampak memerah karena kesakitan dan kesusahan bernapas. Bagaimana tidak, kekuatan fisik Vyora jangan di ragukan lagi. Apalagi jika iblis sudah menguasai dirinya, Vyora benar-benar akan menghabisi semua orang yang berani mengganggunya.
Jika sudah di kuasai iblis, kekuatan fisik Vyora bisa setara denganku, Cara Callista. Tak ada ampun bagi mereka, mereka akan segera mati setelah kami puas bersenang-senang.
"Hn, hahahaha. Maju lo semua, hahaha. Kepala teman lo bakalan.. puww, berlubang. Hahahaha" ejek Vyora, menodongkan pistol pada mereka semua.
Wajah Vyora saat ini sangat menakutkan, iblis telah menguasai dirinya. Di saat dia ingin menarik pelatuk pistol, tangan Vyora terhenti seketika karena ia mengingat seseuatu.
"Huff. Hm, ya ok" ucap Vyora singkat.
Angeline tersenyum, lalu ia menarik tangan Vyora agar ia bisa mengaitkan jari kelingking mereka berdua.
"Kamu udah janji kan Vi, jadi temperamennya bisa gak di hilangin juga? Kan kalau jadi tentara gak boleh mukul orang sembarangan" ujar Angeline.
"Ya, okey, okey, okey. Gua janji, janji, janji, janji" ucap Vyora yang menggema di dalam kepalanya.
Hal itu membuat Vyora tersadar, dia hampir saja menembak orang yang berada di cengkramannya.
Kemudian Vyora segera mendorong orang itu dan mengarahkan pistol pada mereka ber 6.
"Mending kalian semua pergi sebelum kena akibatnya. Lo semua selamat kali ini" ujar Vyora, membuang pistol di tangannya jauh-jauh.
Melihat hal itu anak buah keluarga Milstone malah tersenyum dan segera menghajar Vyora yang berjalan ke mobilnya tersebut.
"Anj*ing! Batu banget, okey gua ladenin kalian" ucap Angeline, dan segera memukul balik.
Mereka terlibat dalam perkelahian. Semuanya sangat kuat, namun wajah Vyora nampak biasa saja, tak ada kelelahan terukir di sana. Ia hanya seperti sedang menikmati pertarungan itu, sama halnya sepertiku biasanya.
Anak buah keluarga Milstone mulai kelelahan. Sampai Vyora memukul rata mereka semua, dan jadilah mereka tergeletak lemah tak berdaya layaknya cacing yang akan segera mati.
__ADS_1
"Hahahaha. Hahahah. Mati! Mati! Mati! Heh, hehahahahahaha, Mati!" ucap Vyora.
Matanya seperti sedang kemasukan iblis, itu sekaan bukan dirinya saja. Orang yang dipukulnya pun hampir mati, darah memenuhi wajah orang itu, lalu menyiprat ke wajah Vyora.
Hal itu malah membuat Vyora semakin tertawa dan bersemangat untuk memukul lagi.
Di saat Vyora ingin memukul lagi, tangannya seketika terhenti karena mengingat sesuatu.
"Gue janji" ucap Vyora (Ingatan).
Seketika tangan Vyora yang berada di atas terhenti dan mengepal. Lalu ia memegang kerah baju orang tersebut.
"Lo semua selamat hari ini" ucap Vyora, dingin.
Setelah itu, Vyora berjalan ke arah mobilnya. Sedangkan salah satu anak buah yang masih bisa mempertahankan kesadarannya segera meraba jaketnya dan mengambil sebuah pistol. Dia baru bisa menggunakan pistol itu karena sebelumnya Vyora tak memberikan mereka kesempatan untuk bergerak cepat.
Kemudian orang itu mengerahkan pistol pada Vyora, lalu.
Dorr......!
Satu tembakan di lepaskan. Tembakan itu tepat mengenai bagian belakang perut Vyora di sebelah kiri, sehingga darahnya menembus perut depan kirinya. Hal itu karena pelurunya juga menembus sampai membuat lubang di mobil Vyora.
Kaki Vyora terhenti, ia melihat perutnya di mana darah keluar dan mengalir. Lalu Vyora dengan wajah emosinya bukan main, iblis telah benar-benar menguasainya.
Badan Vyora berbalik, ia ingin membunuh mereka semua sekarang. Di saat Vyora berbalik, orang yang menembaknya tadi segera menembak lagi.
Dor, Dor, Dor, Dor, Dor, Dor, Dor, Dor, Dor.....!
Tembakan mengenai seluruh Tubuh Vyora, namun tak mengenai organ Vital, hal itu karena orang yang menembaknya sengaja. Mereka harus menangkap Vyora hidup-hidup.
Seperti tak memedulikan jika seluruh tubuhnya terkena tembakan, Vyora terus berjalan menghampiri orang yang menembaknya.
Dor...!
Tembakan itu tepat mengenai lutut Vyora yang membuat dia sampai menekuk lutut dan sempat terjatuh seperti posisi aba-aba pertama lomba berlari.
Vyora segera berdiri lagi, tatapan matanya layaknya iblis. Dia segera mengeluarkan pisau dari kantung celananya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk membunuh orang yang menembaknya.
Namun, sebelum pisau sampai pada jantung orang tersebut. Tembakan terakhir di lepaskan kembali.
Orang itu menaruh pistol di dada tengah Vyora, lalu menembaknya.
Dor.......!
Itu adalah peluru terakhir. Napas Vyora tersentak sedang ia memuntahkan darah. Tangannya terhenti, lalu ia terjatuh.
Matanya sesekali terpejam. Sementara mulut Vyora tak henti memuntahkan darah.
"Angeline, Salsa" batin Vyora.
__ADS_1
Bersambung...