
Hidup ini sangat bergelombang seperti lautan ombak. Tidak perlu mencoba untuk mengarunginya karena kita sudah berada di tengah-tengah gelombang itu, sama seperti kehidupan saat ini. Semua tergantung dirimu, kau akan membiarkan dirimu tenggelam? atau kau akan berusaha sedikit lebih keras dari biasanya untuk sampai di daratan.
*******
Semuanya hanya seperti gelombang suara yang memasuki telingaku, rasanya seperti aku tak sadar. Aku benar-benar tersesat di dalam pikiranku sendiri.
Saat hati terasa lelah. Pikiran tak terarah. Jalan tak tau arah, dengan sendirinya ia menetes mengalir deras di pipi. Hati menjadi sangat hampa, terasa bagaikan semuanya tidak akan pernah berlalu. Aku meninggalkan Greysie sendiri.
Malam ini sangat nenyakitkan bagi kami. Tak kusangka persahabatan kami selama ini akan hancur karena kesalahpahaman yang tak berujung. Selama ini aku selalu mempercainya, tetapi mengapa ia tak begitu padaku.
Setelah aku meninggalkan Greysie sendiri. Ia mulai merasa bersalah dan cemas terhadapku. Greysie segera berlari untuk mengejarku. Namun ia tak bisa menemukanku. Karena merasa cemas ia mulai menelponku. Aku yang sedang berjalan terus mengabaikan telepon darinya.
"Apa ada orang yang udah buat Grey sampai jadi kek gitu? kenapa sikapnya berubah? jangan-jangan Grey emang sengaja buat aku tidur, kapan papa Grey meninggal? sebelum aku sakit atau sesuadah aku sakit? aku gak bisa inget, jangan-jangan Grey sengaja buat aku kek gini karena dia udah benci ke aku? atau karena dia udah tau tentang aku, makannya dia nuduh aku sekarang? apa aku mati aja kali ya? tapi urusan aku belum selesai, aku harus gimana?" batinku tak henti bertanya.
"Kamu tatap mata aku, Raa" ingatan tiba-tiba terlintas di pikiranku.
"Tatap mata aku, tatap, tatap mata aku, tatap mata aku, tatap mata aku, tatap mata aku, tatap, tatap, tatap" bisikan suara itu mengema di kepalaku, sepertinya itu adalah ingatanku. Aku kemudian memegang kepala dengan kedua tanganku, berusaha untuk mengingat semuanaya kembali.
"Aaaaaaaargh, shitt! aaaarghh.....! " teriakku sambil membanting telpon milikku.
Malam ini rasa kesal dan sedih menyelimuti diriku. Aku tak tahu lagi harus bagaimana.
"Mengapa dunia sangat tidak adil padaku? mengapa harus aku? mengapa harus aku yang melewati semua ini? semua orang sangat jahat, aku benci semua orang" batinku tak henti bertengkar dengan diriku.
Kakiku terus melangkah, berjalan menuyusuri jalanan kecil. Aku masih setengah sadar, sehingga tidak memperhatikan ada seseorang dari depan berjalan menghampiriku. Ia memakai topi dan pakaian serba hitam.
Sekitar tiga meter dari arahku, ia mulai mengeluarkan sebuah pistol dari jaket miliknya. Saat itulah aku tersadar, membuat mataku membulat karena terkejut melihatnya. Ia tersenyum, lalu menembakku berkali-kali.
"Dorr, dorr, dorr, dorr, dorr"
Sementara itu Greysie masih terus mencariku menggunakan Gps. Ia mengikuti arah dari Gps. Beberapa saat kemudian ia tiba di lokasi tempat di mana aku membanting hp milikku. Ia terus mencariku namun tak bisa menemukanku di sana.
Tak lama setelah itu, ia melihat telpon milikku dan mengambilnya. Di waktu yang sama aku mulai terjatuh. Orang tersebut menghampiriku sedang aku melihatnya. Ia tersenyum lebar menandakan rasa puas yang mendalam. Greysie tak mendengar suara tembakan karena pistol yang di gunakan memakai alat peredam suara.
"Hgssf, hegh, Ca.. Cas.. ssiee" ucapku dengan napas tersentak, aku memegang kakinya.
Cassie merasa kesal melihatku memegang kakinya. Ia pun menginjak-injak tanganku, lalu menendangku. Setelah itu, ia mengambil pisau miliknya dan menusukku berkali-kali.
"Hahahaha, mati loe! mati! mati!" ujar Cassie wajah tersenyum puas. Namun tiba-tiba seseorang berteriak.
"Heyy, stopp!" teriak Greysie, ia segera berlari.
Cassie terhenti, ia berusaha untuk menutupi wajahnya. Kemudian ia berlari menjauh dari tempat aku berada. Sedangkan Greysie yang melihat hal itu segera menghampiriku.
"Raaaa!" teriak Greysie menghampiriku.
"No, no, no, no, nooo, no Raaaa, Ra bangun Raa" ujar Greysie, menangis.
"Ahahaagshmff, no, no pliss, i'm sorry, i'm so sorry..." ucap Greysie, memeluk erat, air matanya tak henti mengalir.
"Help! help me!" teriak Greysie gemetar.
"Huhuuuu, ahagsshfmf, i'm sorry.. plis don't leave me, Raa" ucap Greysie dengan isak tangis.
__ADS_1
"Plisss, don't leave me alone, don't leave me, it- it, it's not over, it's not over Raaa, plis, pliss, we have to finish it Raa, you have to, pliss don't leave me, i need you... i need you to be here, with me Raa, we promise, you promise... kamu janji Raa, kamu udah janji sama aku, pliss jangan tinggalin aku, maafin aku, maafin aku, huhuuu" ujar Greysie, ia menangis terseduh-seduh.
Sementara itu Cassie sedang berlarian dengan perasaan senang. Ia tak berhenti tertawa.
"Hah, hahhaha, haaaaa, rasain itu bi*ch!" maki Cassie, tertawa puas.
********
Beberapa saat kemudian. Mobil ambulance datang bersama dengan polisi. Mereka segera membawaku ke rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, suster segera membawaku ke ruang unit gawat darurat (UGD).
Di dalam ruang (UGD) dokter Aric memimpin operasi dan berusaha untuk menyelamatkaku. Dengan hati-hati para dokter mengeluarkan satu per satu peluru dari tubuhku. Tetapi kondisiku sangat kritis. Aku kehilangan banyak darah dan rumah sakit kehabisan stok golongan darah (O-).
Tit... Tit.. Tit... Tiiiiiiiiiiit... (Komputer detak jantung berbunyi keras).
"Siapkan AED!" ujar dr. Aric mencek nadi di tanganku. Ia juga memeriksa mataku, lalu.
"CPR satu..., Duk, Duk, Duk..." Alat pengejut jantung itu di gunakan membuat Greysie kehilangan kendali. Ia menangis sampai kehilangan suaranya.
"No respon dok!" tegas suster.
Greysie menatapku dari balik kaca itu. Jantungnya berdetak cepat sedang air matanya mengalir deras.
"CPR dua tambah..., "Duk, Duk, Duk..., Alat pengejut jantung itu sekali lagi membuat seluruh tubuh Greysie terasa lemas hingga membuatnya tak mampu lagi untuk berdiri.
Tit... Tit... Titt.. Tit Tit Tit Tiiiiittt......!
"Sekali lagi...!" ucap dr. Aric memegang erat alat pengejut jantung di tangannya.
"Sudah diisi dayanya dok" ucap suster mengkode dokter.
"Satu, dua, tiga, Shock..., Tet nutt..." (bunyi *Pea\= perangkat pengukur seberapa cepat seseorang dapat memindahkan udara keluar dari paru-paru dalam napas tunggal).
"Pijat jantungnya dan segera ambilkan kantung darah!" tegas dr. Aric.
"Darah sedang tidak tersedia dok" jawab suster panik.
Kemudian dengen ceketan, suster keluar untuk memberitahu Greysie terkait situasi yang sedang terjadi.
"Pasien membutuhkan donor darah segera. Saat ini rumah sakit tidak bisa menyediakan golongan darah tipe (O-). Pasien harus segera di operasi. Apakah ada dari keluarga pasien yang memiliki golongan darah yang sama?" tanya suster.
"G.. gak ada sus, keluarga Cara semuanya..." jawab Greysie, menangis. Tak lama setelah itu, Rasya datang.
"Grey, Grey gimana keadaan Lista?" tanya Rasya, cemas.
"Syaaa," menangis, "Cara butuh donor darah untuk ope- rasi..." jelas Greysie sedikit tersentak.
"Ambil darah aku aja sus, golongan darah aku (O+). Apa bisa sus?" tanya Rasya.
"Mohon maaf, meskipun golongan darahnya sama-sama O, tetapi golongan darah O- tidak bisa menerima darah tipe (O+). Seseorang bergolongan darah O- hanya bisa menerima transfusi dari golongan darah yang sama" Ujar suster, menjelaskan.
Mendengar hal itu, membuat Greysie semakin melemas. Kemudian mereka mulai menelpon semua kerabat serta teman-teman mereka satu per-satu. Mereka juga meminta bantuan teman mereka untuk mencari serta menghubungi setiap markas PMI.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian. Bibi Nur dan Lia datang. Greysie menceritakan keadaan saat ini kepada mereka berdua.
"O-?" tanya Bibi.
"Iy- a bi..." jawab Greysie, gemetar.
"Golongan darah bibi O- neng, Lia juga" sambung Bibi, ia sedikit lega.
Mereka semua merasa sangat bersyukur mendengarnya. Kemudian Bibi Nur dan Lia segera di periksa untuk mengecek keadaan mereka.
Sayangnya hanya Lia yang bisa mendonorkan darahnya karena Bibi Nur sedang kurang sehat.
Setelah mendapatkan donor darah dari Lia, dokter langsung memulai operasi. Aku kehilangan banyak darah sehingga membutuhkan tiga kantung darah. Sedangkan Lia hanya bisa memberikan satu kantung darah saja untukku. Untung saja Rasya sudah menemukan markas PMI yang masih memiliki stok darah tipe (O-).
Operasi dilakukan selama berjam-jam, sampai sekarang dokter belum juga keluar dari ruang operasi tersebut. Greysie merasa sangat gelisah. Ia sedari tadi hanya mondar mandir di depan pintu ruang operasi.
Beberapa jam kemudian. Dokter keluar dari ruang operasi. Rasya, Bibi Nur dan Lia seketika berdiri melihatnya. Sedangkan Greysie langsung bertanya pada Aric.
"Gimana Ric keadaan Cara?" tanya Greysie. Wajah cemasnya terlihat sangat jelas.
"Operasinya berjalan lancar, pasien sudah melewati masa kritisnya. Tapi..." ujar Aric, ia merasa berat untuk menyampaikan hal itu pada Greysie.
"Tapi apa, Ric?" tanya Greysie, penasaran.
"Pasien sekarang koma, untuk kondisi koma.. hal ini merupakan tingkat kesadaran yang paling rendah dari seorang pasien" jelas dr. Aric.
Greysie malah menangis setelah mendengarnya. Aric kemudian melanjutkan perkataannya.
"Kalian harus sering berbicara dengan pasien tentang hal-hal baik dan menyenangkan, untuk keadaan koma seperti ini yang kami takutkan adalah pasien tidak akan pernah bangun kembali, mungkin jika kalian memiliki sesuatu yang bisa membuat pasien bersikeras, berusaha untuk bangun, mungkin... hal itu bisa membuat pasien memaksa dirinya untuk bangun" jelas Aric.
Greysie melihat Aric dengan tatapan penuh harap, ia lalu bertanya.
"Apa itu bener, Ric?" tanya Greysie.
"Mari kita berharap bagitu, semua ini tergantung Callista. Jika dia tidak menyerah, bersikeras untuk bangun ataupun menyelesaikan sesuatu, mungkin... itu bisa terjadi, mari kita berdo'a agar alam bawah sadar Callista bisa memaksa dirinya untuk bangun" ujar Aric, ia juga menatap penuh harap.
"Kalau janji, Ric?" tanya Greysie lagi.
"Hm, yaa, mungkin jika itu adalah sesuatu yang menjadi pegangan Callista selama ini, mungkin.. Itu bisa terjadi, mari kita berharap, semoga Callista mau berusaha untuk bangun, semoga Callista gak nyerah gitu aja" ungkap Aric.
Aric juga sedikit termenung, ia mengingat permintaanku padanya untuk menjaga Greysie, jika sesuatu yang buruk terjadi padaku.
Setelah mendengar penjelasan dari Aric, Greysie juga ikut termenung, ia membayangkan saat dimana kami membuat janji bersama.
Flashback. Sekitar dua setengah tahun yang lalu di dalam sebuah apartemen.
"Kamu janji?" ujarku, mengaitkan jari kelingking.
"Iya, aku janji" sambung Greysie, membalas kaitan jari kelingking.
"Ingat! kamu udah janji sama aku, ini bukan permainan. Kamu harus ingat itu, aku gak lagi main-main" tegasku padanya.
"Iya aku janji, and... kamu juga harus janji kalau kita bakalan selesaikan semuanya sama-sama" ucap Greysie.
__ADS_1
"Aku janji" ujarku, tegas.
Bersambung...