Ilusi

Ilusi
BAB 14 (Part 3)


__ADS_3

Diam bukan berarti takut. Ada saatnya seseorang lebih memilih diam karena sedang berusaha untuk mengontrol amarahnya.


Apa yang akan terjadi, jika ia tak bisa mengontrolnya?


********


Greysie keluar dari ruangan icu. Wajahnya terlihat sangat lesu. Namun, ia juga diliputi perasaan marah dan benci akan sesuatu.


Riska, Heafen, Rasya, Bibi Nur, Lia, Aric dan Aaron langsung terfokus melihat wajah lesu Greysie.


"Kamu gak pp, Grey?" tanya Aric, memegang lengan Greysie.


"Kalian jagain Cara, aku mau ngurus sesuatu" lirih Greysie, pelan. Sedang matanya tak melihat Aric, ia terlihat seperti orang yang sedang kehilangan pijakan.


Rasya dan Aric saling lirik, sedang Rasya langsung menggeleng kepala pada Aric, seolah mengkode Aric agar tak membiarkan Greysie untuk pergi.


"Kamu jangan pergi ke mana-mana. Di saat seperti ini, Cara lagi butuh banget kamu. Kalau Cara kenapa-kenapa terus kamu lagi gak ada, jangan sampai itu terjadi" ujar Aric, memegang pundak Greysie.


Kaki Greysie melemas seketika, membuat ia duduk tersungkur. Sedangkan Aric berusaha memegangnya. Air mata Greysie lagi-lagi jatuh bagai hujan badai yang tak tau kapan akan berhenti. Ia menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Aku.. gak mau sahabat aku, jangan ngo, mong gitu ke aku, huhuu, kita udah janji bakal sama-sama terus, kenapa Cara janji kalau dia gak bisa tepatin janjinya? kenapa? Cara udah dua kali ucap janji yang sama ke aku, aku gak mau, gak mauu" ujar Greysie, dengan tangisan serta kepedihan mendalam.


Tak lama setelah itu, mereka bergantian untuk melihat keadaanku di ruangan Icu.


"Siapa yang udah tega lakuin ini ke kamu, Ra?" ujar Heafen bertanya, sedang air matanya menetes.


Mereka bergantian. Riska masuk.


"Raa, maafin gua soal kemarin, gua udah bully lo. Padahal selama ini lo udah baik banget sama gua. Tapi gua malah bales kebaikan lo dengan jahatin elo, maafin gua" ucap Riska, lirih. Air matanya tak henti menetes, sedang ia diliputi perasaan bersalah.


Mereka bergantian. Rasya masuk.


"Kenapa bukan cuman karakter kalian aja yang mirip? Apa kalian berdua sengaja lakuin ini ke aku? Pliss, jangan tinggalin aku juga. Aku baru aja ngerasa bahagia lagi saat ada kamu" ujar Rasya, meneteskan air mata.


Mereka bergantian. Bibi Nur masuk.

__ADS_1


"Kasihan banget kamu neng. Keluarga neng semua udah gak ada dan sekarang neng malah..." ucap Bibi Nur tak selesai, karena air matanya terus mengalir, membuat ia tak sanggup lagi berbicara.


Mereka bergantian. Lia masuk.


"Kak, kakak yang kuat. Aku tau kalau hidup kakak udah hancur banget, tapi aku mau kakak bertahan. Aku sayang kak Cara" ucap Lia, diiringi air mata yang tek henti mengalir.


Besoknya.


Greysie sedang berada di pantai. Ia melihatku sedang menatap laut. Lalu segera menghampiriku. Ia duduk di sebelahku sambil memeluk erat seakan tak ingin melepaskan.


"Melihat laut yang tenang seperti ini.." ujarku, membuat Greysie melepaskan pelukannya, lalu melihat laut juga diriku.


"Rasanya buat aku tenang banget. Tapi.. dia bisa tenang mungkin karena amarahnya tentang dunia sedikit meredah karena melihat sinar mentari yang indah" ujarku, tersenyum pada Greysie. Sedang ia menatapku.


"Grey, kalau kamu ninggalin aku sekarang. Mereka akan datang lagi buat nyakitin aku. Kamu lebih milih untuk balas dendam atau jagain aku? Kalau kamu lebih milih untuk balas dendam, berarti kamu siap untuk ngelepas kepergian aku" lanjutku berkata, sambil menatap Greysie.


"Ra..." panggil Greysie, ia ingin memegang tanganku, namun aku menghilang dari hadapannya.


Saat ini. Greysie terbangun dari mimpinya. Ia langsung melihat kearahku. Ruangan itu sangat sunyi, hanya terdengar suara komputer detak jantung yang berbunyi menemani kesunyian Greysie. Ia tak biasa dengan keadan saat ini, rasanya seperti ia masih bermimpi, tetapi semuanya adalah nyata.


Beberapa saat kemudian, Greysie keluar ruangan. lalu, ia pergi ke toilet. Di dalam toilet Greysie masih sedikit termenung mengingat perkataanku di dalam mimpinya.


"Monsiour Milstone dan Rallenda Lubis telah di bebaskan karena polisi sebelumnya ternyata salah menangkap pelaku. Mereka bukanlah pelaku pembunuhan berantai, melainkan seorang.." (suara berita tersebut mengecil karena orang tersebut terus berjalan).


"Siswa bernama Cara Callista yang sebelumnya menjadi korban kejahatan seseorang yang belum di ketahui identitasnya. Menurut keterangan polisi..." (suaranya menghilang bersamaan orang tersebut semakin menjauh).


Namun, Greysie segera mengejarnya dan merebut hp milik orang tersebut, membuat orang itu kaget sambil menatap keheranan.


"Orang yang telah menembak Cara Callista adalah seseorang yang telah menaruh dendam padanya karena membunuh keluarga mereka. Berikut video Cara Callista yang sedang membawa sebilah pisau, juga memakai jubah dan pakaian serba hitam. Di dalam rumahnya juga telah di temukan tas hitam yang berisikan jubah hitam serta peralatan yang di gunankan pelaku untuk membunuh semua korban. Menurut keterangan polisi, pelaku ini juga yang telah membunuh korban Arya Allen Wijaya, pemilik perusahaan terbesar di indonesia"


Jantung Greysie semakin cepat saat memompah darahnya, membuat ia sempat kehilangan keseimbangan, lalu ia pergi begitu saja.


Greysie terus menelpon Rasya, namun tak di jawab sama sekali. Kemudian setelah ia sampai di depan ruangan Icu, ternyata sudah ada polisi yang berdiri di sana.


Seorang polisi dengan model rambut bowl cut tersebut sedang mengintrogasi Bibi Nur dan Lia. Polisi itu juga di temani seorang rekannya.

__ADS_1


"Greysie? kamu temennya Cara Callista?" tanya Polisi tersebut.


"Ada apa ini, pak?" tanya Greysie, cemas.


"Kami ingin memintai keterangan dari kamu terkait Cara Callista. Sekarang status Cara Callista sudah menjadi seorang tersangka. Kami harap bantuannya" ujar Polisi.


"Tapi pak, temen aku sekarang lagi koma!" ucap Greysie, sedikit membentak.


"Kamu tenang dulu, kita hanya ingin bertanya pada kamu saat ini. Ayo, silahkan duduk dulu" seru Polisi, mempersilahkan. Greysie kemudian duduk sedang polisi mengikutinya.


"Saat malam pembunuhan korban Simon Hiller. Apa kamu tau Cara Callista ada di mana saat itu?" tanya Polisi.


"Iya, Cara lagi sama aku. Malam itu dia lagi nginep di rumah aku. Apa itu udah menjelaskan?!" ucap Greysie dengan mimik marah. Polisi mencatat penjelasan Greysie.


"Kamu tenang dulu, kita cuman mau minta keterangan. Keterangan kamu juga bakal ngebantu temen kamu, kalau emang bukan dia pelakunya" ujar Polisi, menenangkan Greysie.


"Apa kamu yakin saat malam itu dia bersama kamu semalaman?" tanya Polisi lagi.


"Iya, aku yakin!" ucap Greysie. Polisi masih mencatat.


"Okey, em.. terus saat malam pembunuhan korban Kesya dan Hartono, kamu tau dia lagi di mana malam itu?" tanya Polisi lagi.


"Dia ada kantor polisi malam itu. Kalian mau ngefitnah temen aku?! tanya aja sama detektive Rasya dan temennya. Mereka nahan Cara semalaman di kantor polisi" ujar Greysie, masih dengan nada emosi.


"Hm, baiklah. Satu pertanyaan lagi. Saat malam pembunuhan ayah kamu, kamu tau dia lagi ada di mana?" tanya Polisi lagi.


"Ah? Hm, dia.. malam itu.. Cara.. dia lagi tidur, gak-gak. Dia lagi sakit. Cara gak tau apa-apa soal papa aku, karena aku udah.. Maksud aku dia sakit gara-gara aku" ucap Greysie, sedikit tersentak saat menjelaskan.


********


Malam pada pukul 01:02. Seorang yang memakai pakaian seperti dokter berjalan memasuki ruangan Icu rumah sakit. Perlahan ia membuka pintu ruangan Icu tersebut.


Kemudian, ia mencabut masker oksigen (Masker Venturi) yang terpasang di bagian mulut dan hidungku. Membuat suara komputer detak jantung berbunyi keras.


"Tit, Tit, Tit"

__ADS_1


"Tit.. Tit.. Titt.. Titt..Titt.. Tiiiiiiiiiiiiiiiiit...........!"


Bersambung...


__ADS_2