Ilusi

Ilusi
BAB 25 (Part 2)


__ADS_3

"Dekk! Sadar! Kakak tau kalau kamu pasti udah tau yang sebenarnya. Mereka udah bunuh temen kamu! Vyora udah mati dek! Dia udah mati. Kamu harus terima hal itu" ucap Rasya, sambil memegang kuat pundak Angeline.


"Gak, gak mungkin. Gak mungkin kak. Vyora gak mungkin matiii! Dia masih hidup kak!" ucap Angeline, membentak dengan tangisan.


"Huhuu... Gak mungkinn~" Angeline terus menangis.


Sementara Rasya langsung menarik tangan Angeline untuk masuk ke dalam mobilnya.


Di perjalanan Angeline terus menangis. Ia terus membayangkan saat-saat bersama sahabatnya Vyora.


Sesampainya di rumah mereka. Angeline masih saja menangis. Ia lari ke kamarnya dan membanting pintu.


"Dek....!" teriak Rasya.


Dor.......!


Pintu di banting secera kasar. Rasya hanya menghela napas pelan.


********


Sementara itu. Di dalam kamarku.


"Ra, kamu tau? Tadi aku sempet ngecek penyedap suara dari rumah Cassie. Malam ini mereka udah bunuh orang lagi. Aku udah tau di mana mereka ngebuang mayatnya" ujar Greysie, memberi tahu.


Benar sekali. Rumah Cassie telah kami sadap, begitu juga dengan Cctv rumah mereka.


Di ruangan rahasia rumahku, tempat yang tidak di ketahui Greysie. Terdapat lebih banyak Cctv yang telah aku bobol sebelumnya.


"Aku, cappek" batinku.


"Kita kesana sekarang" perintahku, segera beranjak dari tempat tidur.


Greysie membawa mobil sementara aku malah tertidur. Sekarang sudah pukul 03:03 pagi. Aku tak terbiasa tidur siang, jadi sebenarnya ini adalah jam tidurku. Tetapi karena terus saja melakukan aksi di malam hari membuatku jadi kurang tidur.


Sesampainya di sebuah hutan. Greysie segera mencari mayat Vyora sendiri. Ia sengaja tak membangunkan aku.


"Hm, mukanya udah penuh darah gini. Apa ini? banyak banget bekas tembakan" ucap Greysie, sambil memeriksa semua luka di badan Vyora .


"Hm, kalau mayatnya remaja kek gini pasti masalahnya ada di Cassie" lanjut Greysie berucap sendiri.


Greysie segera mengeluarkan pisau. Dia ingin memotong jari tangan Vyora. Namun,


"Stop! Grey Stop!" ucapku, menahan tangan Greysie.


Greysie terhenti dan langsung mendongak untuk melihatku.


"Kenapa, Ra?" tanya Greysie, heran.


"Kita gak suah ninggalin jejak sama dia" larangku, masih menahan tangan Greysie.


"Alasannya?" tanya Greysie, semakin heran.


"Emm.. Aku gak tau, tapi aku gak tega sama dia" jelasku.

__ADS_1


"Puffft. heh, hahahahaha. Gak tega? Sejak kapan Cara Callista gak tegaan gini?" tanya Greysie, sedang ia berdiri untuk menatap wajahku.


Wajahnya di dekatnya pada wajahku untuk menelusuri setiap inci wajahku. Aku terkadang menutup mata jika cahaya senter yang ia arahkan terkena pupil mataku.


Kemudian Greysie membuka kaus tangannya dan menaruh tangannya di keningku.


"Kamu sakit?" tanya Greysie, memegang keningku.


"Hm, enggak keknya" jawab Greysie, sendiri.


Greysie kemudian kembali berjongkok dan memakai kaus tangannya. Lalu ia segera memegang tangan Vyora untuk memotong jari Vyora.


"Grey, tunggu" ucapku, menahannya lagi.


"Apalagi sih, Ra. Hey, hey lihat aku. Kenapa kamu akhir-akhir ini jadi lemah kek gini? Hah? Kenapa? Kamu bilang ke aku kalau kita gak boleh lemah. Tapi, ini kok kamu jadi gini? Udah berapa orang yang kita bunuh? Hm? Lagian ini bukan kita yang bunuh, Ra. Kita cuman ninggalin jejak aja, supaya bisa ngejebak keluarga Cassie nanti" ujar Greysie.


"Aku cuman pengen lihat muka dia bentar" ujarku, lalu melihat wajah Vyora dengan seksama.


Melihat wajah Vyora entah mengapa membuat hatiku sangat sakit, tak sadar juga air mataku ternyata sudah menetes. Lalu aku menundukan kepalaku, sedangkan Greysie langsung memotong dua jari Vyora.


Isak tangisku mulai terdengar. Sedangkan Greysie yang telah memasukan jari Vyora ke dalam kantungan langsung mengangkat wajahku untuk melihatnya.


"Kamu nangis, Ra?" tanya Greysie, keheranan.


Di dalam mobil.


Aku terus saja menangis, entah mengapa dadaku terasa sangat sesak. Aku seperti mengenal mayat sebelumnya.


Aku tak menjawab Greysie, malah terus sibuk menangis sampai dadaku sesak sendiri.


"Cara kok gini? Ini bukan Cara yang aku kenal. Cara gak pernah nangis soal yang kek gini, dia biasanya lemah cuman gara-gara aku. Atau.. Maybe masa lalu keluarganya. Tapi.. ini.." batin Greysie.


"Grey, tadi itu.. Kamu tau gak namanya siapa?" tanyaku, masih dengan isak tangis.


"Em, V. Vi siapa.. Emm, ooh Vyora" jawab Greysie.


Mendengar ucapan Greysie membuat napasku semakin terengah-engah. Dadaku sangat sesak yang membuat aku sampai memukul dada dan terbatuk-batuk.


"Haaaa, huuu, haaa, huuu. Uhuk, uhuk, uhuk," memukul dada.


Greysie terkejut. Ia lalu menghentikan mobilnya dan berusaha menenangkan aku.


"Ra, Raa, tarik napas Ra. Ra, huhuuu, Ra kamu kenapa Ra, kamu kenapa" ucap Greysie menangis sambil memeluk erat.


Greysie lalu mengambil masker oksigen Bag Valve Mask (BVM) yang biasa aku gunakan untuk Greysie jika ia terkena pannic attact secara berlebihan sampai tak mampu benapas sendiri.


Greysie memompa masker BMV tersebut secara terus, sementara aku seperti hampir saja kehabisan napas.


Wajahku tadinya memerah, sedang mataku melihat ke atas.


Setelah Greysie memberikan oksigen bantuan melalui BMV, aku mulai tenang dan mulai bisa menarik napas sendiri.


"Haaa, huu, haaa, huu" napas lemah.

__ADS_1


"Kamu kenapa Ra? Huhuuu~" tanya Greysie, masih menangis.


Beberapa tahun lalu, setelah kejadian mencekam yang aku alami. Sebelum aku bertemu dengan Greysie.


Saat itu Vyora adalah teman sekelasku. Ia selalu diam sama sepertiku. Kami tak begitu akrab. Tapi aku selalu memperhatikan perilakunya. Ia sangat mudah marah, aku ingin mendekati dirinya namun saat itu aku baru saja kehilangan semua keluargaku di malam yang sama. Sehingga aku hanya memperhatikan dirinya dan tak mau tau, serta tak mau peduli.


Beberapa minggu setelahnya. Setelah bell pulang sekolah. Aku melihat Vyora sedang menghajar anak-anak kelas lain.


Di saat Vyora ingin memukul lagi, aku langsung menahan tangannya sambil menatap dingin. Hal itu karena mereka menghalangi jalanku, dan aku sangat tidak menyukainya.


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Vyora langsung beralih menghajarku. Aku yang di hajarnya tentu saja menghajar balik. Jadilah kami berdua bertarung dalam diam. Tatapan kami sama-sama dinginnya. Tak ada suara rintih kesakitan yang tertdengar, yang ada hanya kesunyian dan suara pukulan yang terdengar.


Anak-anak yang melihat kami ketakutan luar biasa, lalu mereka memilih untuk berlari. Sementara aku dan Vyora terus saja saling membalas pukulan, tak ada yang mengalah. Kami sama-sama kuat.


Sampai pada saat kami sama-sama marasa lelah yang mana membuat kami berbaring dengan kepala berdekatan, namun dengan posisi badan yang berlawan arah.


Napas kami sama-sama terengah, sambil kami menatap langit biru yang cerah, di mana angin terkadang membawa awan yang melintas.


"Huff, huff, huff. Vyora" ucap Vyora.


"Huff, huff. Cara" ujarku.


Beberapa saat setelahnya. Kami berdua pun berjalan pulang berdampingan.


"Tatapan mata kita sama" ujar Vyora.


"Ternyata kamu juga sadar" sambungku.


"Kamu kenapa gitu?" tanya Vyora.


"Karena benci" jawabku, singkat.


"Aku juga benci semuanya" sambung Vyora.


Setelah itu, kami mulai berteman dekat. Perlahan kami berdua juga mulai tersenyum bahkan tertawa. Jujur saja Vyora adalah orang pertama yang berhasil membuatku tertawa tulus setelah malam mencekam saat itu. Meskupun terkadang aku juga sering memakai topeng ceria tiap saat.


Kami sama-sama menyimpan rahasia dan saling memahami. Tak pernah menanyakan alasan kenapa perilaku kami sebelumnya sangat dingin. Tak ingin bergaul, bahkan membenci semuanya.


Satu bulan. Kami berteman hanya sebulan. Vyora pindah sekolah. Ia pergi tanpa pamit padaku. Aku sempat menangisi kepergiannya yang tiba-tiba itu. Aku pikir dia tak mengggapku sebagai teman. Padahal sejatinya Vyora tak sanggup untuk memberitahuku.


Vyora harus mengikuti Ibunya. Orang tuanya sepertinya akan segera bercerai. Namun pernikahan mereka tetap bertehan setahun kedepan. Orang tua Vyora selalu bertengkar, dan mereka juga terkadang memukuli Vyora.


Saat itu, sebulan sebelum Vyora lulus dari bangku Smp. Ibu dan Ayahnya bercerai, sedangkan Angeline terus berusaha untuk mendekati Vyora.


Awalnya Vyora tak ingin didekati oleh siapapun. Akan tetapi sifat Angeline mengingatkan Vyora padaku. Menurut Vyora, Angeline adalah Cara Callista versi baik. Karena ia tau betul dengan tatapan mataku yang mengandung banyak kebencian.


Sementara itu aku, beberapa bulan setelah kepergian Vyora yang tiba-tiba. Aku masih saja memakai topeng palsuku. Aku masih tertawa seperti karakterku yang dulu, selalu membuat lolucon, dan terkadang menjadi gila sendiri di hadapan teman-teman sekelasku.


Sampai pada saat aku bertemu dengan Greysie. Topeng yang kupasang di wajahku terkadang terdapat ketulusan di dalamnya.


Sama seperti saat aku tertawa tulus bersama Vyora sebelumnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2