Ilusi

Ilusi
BAB 29 (Part 3)


__ADS_3

Sebelumnya, setelah Riska menelponku. Aku pergi ke rumah Greysie, melewati belakang rumahnya.


Setelah itu, aku membuka semua pakaian pembunuh berantai, membasuh wajah dan segera pergi dengan motor milikku.


Beberapa saat kemudian, aku telah sampai di depan rumah Riska dan segera memencet bell rumahnya. Kemudian, Art datang untuk membukakan pitu untukku.


"Ehh, neng Cara. Mari neng masuk. Neng Riska ada di dalam kamarnya" ujar Art,mempersilahkan.


"Thank u, bi" masuk, "dia beneran sakit bi?" tanyaku, melangkah ke dalam rumah.


"Iya, neng Riskanya lagi gak enak badan, dari tadi pagi neng belum makan. Padahal bibi udah masakin makanan kesukaan neng Riska" jelas bibi, sedih.


Kami berjalan menaiki tangga, sampai di depan pintu kamar Riska. Bibi segera mengetuk.


Tuk, tuk, tuk.


"Permisi neng. Bibi mau ngasih tau kalau neng Caranya udah sampai" ujar Art.


Riska yang mendengarnya tersenyum lebar dan segera beranjak dari tempat tidurnya untuk membukakan pintu kamar.


"Gue kira gak bakalan dateng. And thank u bi, bibi boleh pergi" ujar Riska, menarik tanganku masuk.


"Eh, eh, eh" ucapku.


"Katanya sakit, tapi semangat bener" batinku.


Riska lalu menyuruhku duduk bersama untuk beristirahat dahulu.


"Gua ke dapur" pamitku, segera berdiri.


Di dapur,


Aku segera memasak sup untuk Riska, itu karena dia sedang sakit. Tak lupa juga makanan lain.


Setelah selesai memasak, aku langsung mengantarkannya ke kamar Riska.


Di dalam kamar,


Riska sedang duduk menyender di tempat tidurnya sambil bersilang tangan. Sedangkan aku langsung menaruh makanan ke atas meja.


"Hm, emang anget badannya" batinku, sementara tanganku memegang kening Riska.


Riska mengkerutkan alisnya saat aku memegang keningnya.


"Darah?" batin Riska, melihat sekitaran pergelangan tangan kananku.


Ekspresi Riska sangat mudah untuk di baca, aku pun segera menurunkan tanganku.


Riska kemudian mendekatkan wajahnya padaku untuk melihat bagian leherku. Sedangkan aku berusaha untuk menjauh.


"Ini.. Darah, Ra?" tanya Riska, menyentuh letak darah tersebut.


"Hah?," memegang leher, "emm, gak, i mean.. Yaahh, Grey..." jelasku, terhenti.


"I'm sorry, Grey" lanjut batinku.


"Em, Grey... lukain dirinya sendi-ri" ujarku, pelan.


"Hm? Iyakah? Kalau iya ngapain Cara di sini" batin Riska, menaik turunkan alisnya.


"Kok lo di sini? Owhh, apa gue lebih penting dari sahabat elo?" tanya Riska, tersenyum licik.


"Udah lo diam. Mending makan, ntar dingin lagi makanannya." ucapku, menutup mulutnya.


Kemudian aku segera mengambil makanan dan menyupainya.


"Lah? Kok malah gua suapin?" batinku, heran.


Setelah selesai makan, aku lalu mengambil obat Riska dan memberikan padanya.


"Tau dari mana dia tempat obat gue?" batin Riska.


"Nih, minum" ucapku, memberikan obat.


"Thank u" ucap Riska, segera meminum obat tsb.


"Kalau gitu gua balik dulu" pamitku, berdiri.


"Ra" ucap Riska, menahan tanganku.


"Nginep di rumah aku gimana?" tanya Riska, mendongak.


"Hah? Aku?" batinku, menatap heran.


"Ka, ntar temen-temen lo pada menggila semua kalau tau tentang hal ini. Lo mau gua jadi bahan bullyan temen-temen lo selanjutnya?" jelasku, bertanya.


"Ya gak akan tau lahh, orang ini rumah gue. Lagian siapa yang bakal ngasih tau. Yang tau kan cuman elo sama gue. Iya kan? Grey juga gak tau soal ini kan?" tanya Riska, kekeh.


"Iya, kalau dia sampai tau gua yang bakalan gawat. Bisa abis gua sama Grey kalau dia tau soal ini. Lo gak tau aja sih kalau tu anak anti sosial banget, mana kejam gak mandang bulu lagi. Lo juga bisa mati di tangan dia" batinku.


"Lo bisa mati di tangan Grey kalau dia sampai tau" ucapku, tiba-tiba.


"Hah? Pufft, hehahahaha. Mati? Emang si Greysie mau ngapain? Ngebunuh gue?" tanya Riska, mengejek.


"Ckk! Di kiranya gua lagi becanda kali ya" batinku.


"Ka," mendekat, "gue gak sebaik yang lo kira" bisikku di telinga Riska.


"Gua sendiri juga bisa bunuh elo, tau gak?" lanjutku, berbisik.


Riska menatapku datar, kemudian ia juga berbisik padaku.


"Kalau gitu.. Coba bunuh gue sekarang" bisik Riska, tersenyum ejek.

__ADS_1


Aku meliriknya datar, kemudian aku mengambil pisau dari kantung celanaku, langsung aku arahkan ke leher Riska.


"Mau mati dengan cara apa? Hm?" ucapku, pelan mengancam dan tersenyum.


Riska menelan ludahnya, sementara keringat dinginnya ikut mengalir.


"Puftt, hehahahahaha. Takut lo?" ejekku.


"Nj*ing" ucap Riska, sedikit mendorongku.


"Kalau gitu, gua pamit" pamitku, segera membuka pintu kamar.


Sementara Riska segera beranjak turun dari tempat tidurnya, lalu merebut pisau dan menahan tanganku.


"Udah tengah malam banget. Gue gak bakalan biarain lo pulang" ujar Riska, menahanku.


"Alasannya apa Riskaaa??" tanyaku, sedikit kesal padanya.


"Yaelah udah di bilangin. Ini udah tengah malam, Raaa. Lihat itu jam berapa," menunjuk jam, "udah jam dua lewaatt, kalau lo kenapa-kenapa di jalan gimana? Ntar gua yang ngerasa bersalah secara gua yang udah nyuruh lo buat kesini" jelas Riska.


"Ckk!! Sial!" batinku.


"Okay, okay. Gua nginep di sini. Udah lepasin tangan lo" ujarku, melepas tangan Riska.


"Ni anak kalau di lihat-lihat sifatnya mirip bener sama Grey. Sama-sama hobi buat gua kesel, mana sering ngatur gua lagi. Udah tau gua orangnya gak suka di atur, taikk lah" batinku, terus mengomel sendiri.


Di tempat tidur,


"Btw, lo gak mau ganti baju tidur? Masa pakai baju gitu pas tidur, gak gerah emangnya?" tanya Riska.


"Gak, gak perlu" ucapku, menolak.


"Hnh, okay" ucap Riska, segera berbaring. Aku pun ikut berbaring setelah melepas jaket kulitku.


"Mmm, btw lo kok bisa jago banget masaknya?" tanya Riska. Aku menoleh ke kiri untuk melihatnya.


"Karena orang tua gua udah gak ada. Gak ada yang masakin gua, jadi gua harus bisa ngurus makanan sendiri" jawabku, lalu melihat plafon.


Riska nampak bingung akan bereaksi seperti apa, ia tak tau harus berkata apa.


"Em, aduhh sial" batin Riska.


"Tumben banget Grey gak chat atau nelpon. Apa semua baik-baik aja? Dia bisa beresin kan? Ckk! Harusnya gua gak ninggalin Grey sendiri tadi. Kalau terjadi sesuatu gimana?" batinku.


Aku segera bangun dari baringku, di ikuti Riska dengan raut wajah herannya. Kemudian aku mengambil telpon dan segera menelpon Greysie.


"Grey.. Angkat, angkat pliss" batinku.


"Lo kenapa, Ra?" tanya Riska, cemas.


Sementara itu, di rumah Greysie. Ia baru selesai membersihkan dirinya di kamar mandi, lalu segera keluar.


"Cara kah yang nelpon?" batin Greysie, berjalan mengambil hp miliknya.


"Hm, bener dia" batin Greysie.


"Hmm" jawab Greysie, singkat.


"Haah? Di jawab, jangan hm, hm aja" ujarku, kesal.


"Iya, gak ada. Kenapa? Siapa suruh main pergi gitu aja ninggalin gua. Biasanya kalau gua pergi sendiri marah-marah, ehh tadi malah ninggalin gua. Masih waras lo? Siapa sih yang nelpon. Penting banget sampai harus ninggalin gua, sahabat elo" jelas Greysie, memarahikku.


"Iya, iya sorry. Maafin aku. Tadi...," melirik Riska," tadi itu..." ujarku, terhenti.


"Lah iya? Kok gua mau sih? Gak, gak. Omaygat, Riska itu terlalu berbeda antara Gua dan Grey. Gua mikirin apaansih? Kok bisa gua gini ke dia? Apa jangan-jangan karena kita udah deket selama dua setengah tahun ini, dan maybe temenan. Temen? Temen? Hah? Gak, gak. Gua udah terlalu buka diri sama dia," melirik Riska, "kalau Grey sampai tau bisa habis gua atau dia. Gua sebaiknya menjauh dari Riska, cukup Grey aja yang kejebak sama gua dan kegelapan gua ini. Grey aja kalau dia gak ngancem gua pengen bundir, mana mau gua libatin dia yang udah jelas-jelas bakal ngancurin masa depan dan bahayain nyawa dia sendiri" batinku.


"Tadi itu apa, Ra?" tanya Greysie, menyadarkanku.


"Ah? Emm, gak. Gak ada. Kalau gitu gua tutup" ujarku, menutup telpon.


"Lo kenapa, Ra? Greysie ada masalah lagi?" tanya Riska.


"Gak, gak ada. Udah gua mau tidur. Ngantuk" jawabku, berbaring.


"Hnh, ngeselin" batin Riska.


Besok, pada jam 05:40 pagi. Aku terbangun, lalu melihat Riska masih tertidur. Kemudian aku segera beranjak turun, dan keluar dari kamar Riska, sampai di depan rumahnya.


Setelah itu, aku segera menyalakan motor milikku dan pergi ke rumahku.


Beberapa saat kemudian, setelah sampai di rumahku. Aku langsung mandi dan berangkat ke sekolah.


Tiba di sekolah, Greysie tak ada di sana. Hal itu membuatku merasa sangat cemas terhadapnya.


Aku berbikir mungkin saja dia telah melakukan sesuatu yang gila lagi terhadap dirinya sendiri, sehingga aku memutuskan untuk mengecek rumahnya.


Sesampainya di depan gerang rumah Greysie. Terlihat sangat banyak polisi. Hal tersebut semakin membuatku merasa cemas.


"Polisi? Kenapa banyak polisi di depan rumah Grey? Bukannya harusnya di rumah manajer sombong itu aja? Kenapa rumah Grey juga? Jangan-jangan. Owh, fuckk!" batinku.


Aku langsung berlari ke depan pintu gerbang rumah Greysie dan berteriak. Tak kupedulikan polisi-polisi yang ada di sana.


"Tolong buka pintunya! Grey? Greysiee!" ujarku, berteriak.


Tak lama setelah itu, satpam membukakan pintu untukku dan aku segera berlari masuk ke dalam.


"Hey, hey. Heyy!" teriak Rasya.


"Apasih anj*ing berisik banget teriak-teriak" batinku.


Kemudian, aku berlari sampai di depan kamar Greysie. Jantungku semakin berdetak cepat, aku takut sesuatu yang buruk mungkin telah terjadi padanya.


"Greyy! Greyy bukain pintunya! Grey kamu di dalam? Greyy, jawaab pliss" teriakku, gemetar.

__ADS_1


"Grey, pliss. Maafin aku, maafin aku karena udah ninggalin kamu semalam" batinku, sedang kakiku melemas.


Aku menangis sesegukan, namun tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki dari arah dapur. Karena itu aku memutuskan untuk mengecek dapur, sedari tadi aku juga telah menyadari polisi yang terus mengikutiku di belakang.


Di dapur, aku melihat darah. Melihat darah itu membuatku semakin merasa takut saja.


"Darah? Darah siapa? Grey? Bukan darah Grey kan? Apa semalam terjadi sesuatu?" batinku.


Sementara itu, Rasya memegang pundakku yang mana membuatku sedikit terkejut. Hampir saja aku membantingnya, untung aku sadar jika dia adalah seorang polisi.


"Ckk! Gua harus pura-pura takut" batinku, sambil menoleh ke belakang.


"Grey...?" panggilku, pelen.


"Aaaaahh! Siapa lo?" tanyaku, berjalan mundur.


"Wait, dia polisi? Kenapa gak pakai seragam polisi? Atau jangan-jangan? Dia orang suruhan keluarga Milstone? Kalau bener gua ngapain acting pura-pura takut, tapi... Kalau bener polisi bisa gawat kalau gua gegabah" batinku.


"Tapi.." melirik tampangngnya, "Gak salah lagi dia pasti udah lakuin sesuatu" batinku.


Aku terus mengintip pistol yang dia sembunyikan di balik jaket hitamnya tersebut.


"Apa lo udah bunuh orang?! jangan-jangan itu temen gua?!" tukasku, namun ia malah terus berusaha untuk memegang tanganku.


"Heyy, stop!" bentakku, menepis tangannya yang menyentuh tanganku.


"Hey, hey, calm down.., calm down, oke, gua bukan orang jahat kok" jelas Rasya.


"Oowh, detektive" batinku.


"Tenang, tenang.., aku ini detektive, aku ke sini karena menyelidiki kasus pembunuhan yang terjadi disekitar sini, ada beberapa rumah yang kami curigai menjadi tempat pelarian pembunuh berantai itu" jelas Rasya.


Rasya mengambil kartu tanda pengenalnya dari kantung belakang celananya lalu menunjukannya padaku.


"Kami juga ingin memberitahu kalian agar berhati-hati, karena sepertinya kasus pembunuhan ini berhubungan dengan kasus pembunuhan berantai yang terjadi sekitar dua tahun terakhir ini" terang Rasya.


Raut wajahku sengaja ku buat dengan mimik bingung melihat tampangnya yang terlihat muda, namun aku benar-benar penasaran dengan itu.


"Hm, dia terlihat cukup muda untuk menjadi seorang detektive polisi" batinku.


Sedangkan Rasya malah tersenyum melihat wajah heranku tersebut.


"Aku tau kok, kamu pasti heran karena aku masih terlalu muda untuk menjadi seorang detektive polisi, gak pp. Itu hal biasa, setiap aku ketemu orang-orang baru mereka juga akan berpikiran sama kek kamu" jelas Rasya.


Kemudian, Rasya mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri.


"Hn.., makasih" ujarku memegang tangannya.


"Okeh, gak takut lagi kan?" tanya Rasya, di angguki olehku, dan sedikit tersenyum.


"Kamu temannya Greysie ya?" tanya Rasya.


"Kok," menatap heran, "tau pak?" tanyaku balik, masih berpura-pura.


"Iya.., tadi kami memintai keterangan dari teman kamu terkait kasus pembunuhan yang terjadi disekitar sini" jelas Rasya.


"Hah? jadi temen aku di mana sekarang pak?" tanyaku, benar cemas.


"Dia sepertinya masih di dalam rumah ini bersama rekan saya" jawab Rasya.


"Kami menduga bahwa rumah ini menjadi tempat pelarian pelaku pembunuhan berantai, darah itu juga baru kami temukan beberapa saat yang lalu saat kami mengecek rumah ini" jelas Rasya.


Dua menit berlalu Rasya masih menjelaskan kejadian ini padaku.


Langkah kaki yang ku dengar sebelumnya semakin mendekat pada kami. Kemudian Antony, rekan detektive Rasya datang bersamaan dengan Greysie melewati pintu dapur. Mereka lalu menengok kearah kami


"Raa...?" ucap Greysie.


"Grey..." lirihku melihatnya, sontak aku langsung menghampiri dan memeluk erat Greysie


"Kamu ngapain disini?" tanya Greysie.


"Why you didn't," tatapan kesal, "answer my call!" tanyaku balik.


"Hp aku," menatap maaf, "di kamar" ucap Greysie.


Wajahku terlihat sangat kesal dan merah, aku terus diam sambil menatap wajah Greysie.


"Lo! Elo! Ini kenapa?!!" tanyaku, melalui batin.


Greysie hanya tersenyum kaku, ia hanya beralih pandang dan tak mau melihatku.


"Greysie bisa ikut kami sebentar, kami ingin memintai keterangan lebih lanjut" seru Rasya, bertanya.


"Emangnya teman aku yang bunuh tu orang pak?!" selaku kesal.


"Panggil saya dengan nama saja, nama saya Rasya" jelas Rasya, mengulurkan tangan untuk bersalaman kami.


"Kita pakai bahasa santai aja karena umur kita sepertinya gak jauh beda, umur kalian berapa?" tanya Rasya.


"19 th" jawabku ketus.


"Umur aku 21 th, salam kenal ya, dan terkait pertanyaan kamu tadi, kami belum bisa memberikan keterangan yang bersifat resmi, karena semuanya masih berupa dugaan sementara" jelas Rasya.


"Hm yaa, temen aku gak bunuh dia, jadi ngapain di bawa ke sana pak?!" ucapku tak mau tau.


"Hmm, sepertinya kamu over protektive ya" seru Detektive Rasya.


"Kalau iya emang kenapa" jawabku ketus.


"Maaf pak, maaf, temen aku emang gini, cuek banget sama orang baru, tapi dia aslinya baik kok, humoris lagi, tapi.., agak susah sama orang baru, maaf pak, ehh Ras.. em, Rasya. Aku siap jika harus di mintai keterangan lebih lanjut" sela Greysie, menjawab.


"Ckk! Sial!" batinku, sambil menatap kesal pada Greysie.

__ADS_1


"Ok baiklah, sepertinya tim kami juga sudah sampai untuk memeriksa tempat ini lebih lanjut, kalau begitu silahkan ikuti kami" ajak Rasya.


Bersambung...


__ADS_2