Ilusi

Ilusi
BAB 6 (Part 2)


__ADS_3

...**Kejadian Malam Mencekam**...


Di dalam rumah sakit. Aku sedang bertengkar hebat dengan Greysie, namun tak sengaja melihat seseorang mengintip kami dari balik kaca kecil pintu rumah sakit.


"Rasya?" ucapku membulatkan mata.


"Em, haii" sapa Rasya. Ia berjalan masuk.


"Kamu," tatapan heran, "ngapain di sini?" tanyaku.


"Aku bilang ke Rasya tadi kalau kamu di rumah sakit" sela Greysie memberitahuku.


"Em, tadi aku nelpon kamu, tapi Grey yang angkat, katanya kamu lagi di rumah sakit, jadi.., aku khawatir" jelas Rasya, tatapan ragu.


"Em, maaf, ee.., tadi aku gak sengaja denger kalian berentem" ujar Rasya. Aku melepas genggaman tangan Greysie dariku, dia terpaksa melepaskan, sedangkan Rasya bingung melihat tingkah kami.


"Em, kalian mau ke mana?" tanya Rasya.


"Kita gak kemana-mana" jawab Greysie, dia menarik paksa, lalu menyuruh aku duduk di tempat tidur dan aku terpaksa menurutinya.


"Aku tadi.., gak sengaja denger kalian berantem, kalian okay?" tanya Rasya.


"Yaah," tersenyum, "kita gak pp, thank you" jawab Greysie.


Mereka masih berbicara, sedangkan aku hanya diam melihat mereka berdua. Dari tadi aku menahan tangis saat bertengkar dengan Greysie, ingin sekali segera pergi dari sini, menangis dan meluapkan emosiku saat ini, karena aku tak bisa jika ada orang lain yang melihat aku menangis, sebisa mungkin aku akan menghindarinya meskipun itu Greysie sekalipun. Tetapi biasanya sangat sulit untuk menahan air mata agar tidak jatuh.


"Lista, are you okay?" tanya Rasya, menatap cemas.


Mendegar pertanyaan yang di lontarkan Rasya, entah mengapa hatiku terasa amat sakit, rasanya aku seperti tak sanggup lagi untuk menahan tangis yang kupendam ini.


Saat aku merasa tak sanggup lagi menahan semuanya, saat itu juga tangis yang kupendam selama ini meledak dengan sendirinya.


Tenggelam sendiri, di lautan yang luas sangat tidak mengenakkan. Kemudian.


Isak tangis dari mulutku terdengar sakit, dadaku terasa sesak, tangisan yang aku pendam kian meledak, tak bisa di jelaskan, rasa sakit itu sungguh menyayat.

__ADS_1


Greysie melihatku dengan tatapan bersalah, dia tak tahu kalau perkataannya akan sangat melukaiku seperti ini. Kemudian aku larut dalam tangisanku, mengingat kejadian malam mencekam saat itu.


Saat Itu.


"Kamu mentang-mentang kerja sebagai manajer, udah berani nyuruh aku sekarang?!" bentak Ayahku.


"Aku gak nyuruh kamu mas," memegang tangan Ayahku, "tapi.., kamu harus berhenti minun-minum, anak kita masih kecil," tatapan memohon, "kamu gak kasihan lihat mereka?" jelas Ibuku menunjuk pintu kamar.


Ayahku melihat pintu kamarku, aku sedang mengintip mereka dari balik pintu, kemudian bersembunyi.


"Mass, pliss, ini demi anak-anak kita.., kamu harus balik kek dulu lagi.., aku gak bisa kalau kamu terus-terusan gini," tatapan memohon, "aku butuh kamu yang dulu mas buat ngurus anak-anak kita" pinta ibuku memohon.


"Kamu mau aku ngapain hah?!" bentak Ayahku menatap benci.


"Aku udah hancurr sekarang! bisnis aku bangkrutt, ide-ide aku di curi sama mereka, kamu lihat ini," menunjuk botol minuman, lihat ini!" bentak Ayahku lagi.


"Kita bisa mulai dari awal lagi mas..," tatapan penuh harap, "aku janji bakal bantuin kamu, bakal support kamu, aku bakalan terus ada di sisi kamu sampai bisnis yang kamu bangun bisa sukses lagi," pinta ibuku memohon.


Ayahku mulai luluh setelah mendengar perkataan dari ibuku, akan tetapi suara telpon miliknya tiba-tiba berbunyi, ayahku mengangkatnya.


"Mass," tatapan cemas, "kamu mau ngapain dengan pisau itu?" tanya Ibuku memegang tangan ayahku.


"Lepasin gakk!," menepis tangan, "aku bakalan bunuh mereka sekarang!" bentak ayahku.


"Jangan mass," tatapan memohon, "pliss jangan hancurin hidup kamu.., lihat anak-anak kita mass" pinta ibuku, ia menunjuk kearah kami, karena kami sudah keluar dari kamar.


Namun, ayahku telah kehilangan kesabarannya, dia sudah sampai pada titik di mana emosi mengendalikan pikirannya. Sehingga dia tak peduli lagi meskipun ada kami di sana. Ayaku ingin pergi, tetapi selalu di hentikan oleh ibuku, ia lalu mendorong ibuku sampai terjatuh.


Tiya melihatnya, lalu dia menahan tangan ayahku agar tidak pergi. Namun, tanpa melihat ke belakang, ayahku menepis kasar tangan Tiya agar terlepas dari genggaman tangannya.


Darah. Aku melihat darah, darah mengalir deras dari leher Tiya. Ayahku bergegas pergi tanpa tahu apa yang telah di lakukannya pada Tiya dengan pisau di tangannya. Pisau itu tak sengaja mengenai leher Tiya.


"Ti..yaa?," gemetar, "yahh? AYAHH!" teriakku.


Mendengar teriakanku. Sontak, membuat Ayahku menengok kebelakang. Dia juga melihat Tiya tergeletak tak berdaya, darah terus mengalir dari lehernya.

__ADS_1


"Tiyaa? Tiyaa!" panggil ibuku, membulatkan mata.


"Tiya sayang," memeluk Tiya, "sayang buka mata kamu, tiya sayang ini bunda sayang, sayang bangun," memeluk erat, "bangun sayang" ujar ibuku, menangis terseduh-seduh. Ayahku terkejut, ia segera menghampiri Tiya.


"Ti, ti, tiyaa," tatapan bersalah, "sayang?" panggil Ayahku, memegang tangan Tiya. Namun, ibuku melepaskan tangan ayahku dari Tiya, dia terlihat sangat marah.


"Jangan sentuh anak aku! ini salah kamu mass, semua ini salah kamu!" bentak Ibuku, berteriak.


"Tiyaa sayang, ini bunda sayang" ucap ibuku, sedang tangannya menahan perdarahan yang terus mengalir dari leher Tiya.


Ibuku mulai memeriksa Tiya, tetapi Tiya sudah meninggal membuat ibuku menangis pilu. Perasaan marah meliputi dirinya, tak lama setelah itu, dia pergi mengambil sesuatu di dalam kamar.


Sedangkan ayahku masih diliputi perasaan bersalah, ia terus menangis, tak percaya dengan apa yang terjadi. Aku hanya diam, tak bisa menggerakan badan. Seketika aku mematung melihat semua yang terjadi pada malam ini.


Beberapa menit kemudian. Ibuku kembali dari kamar, dia memegang pistol, lalu mengarahkan pistol pada ayahku. Itu adalah pistol milik ayahku.


"Kamu mau," mengangkat tangan, "ngapain?" tanya Ayahku, membulatkan mata.


"Kamu udah bunuh anak aku!" bentak Ibuku, ia menodongkan pistol dengan tangisan.


"Sayang, tenangin pikiran kamu, Cara ada di sini, dia lihatin kita," melihatku, "kita tenangin diri dulu, aku.. aku salah, kamu gak perlu maafin orang seperti aku, tapi aku sadar sekarang" pinta Ayahku, memohon.


Ibuku hanya menangis sambil memegang pistol yang mengarah pada ayahku. Ayahku perlahan menghampiri ibuku, ia berusaha untuk membuat ibuku meletakan pistol tersebut.


Sedangkan Ibuku masih diliputi perasaan sedih bercampur marah, ia tak ingin melepaskan pistol dari tangannya, membuat mereka saling memperebutkan pistol, tak ada yang mau mengalah antara keduanya. Aku hanya diam melihat mereka.


Selang beberapa menit memperebutkan pistol. Kaki ibuku tersandung kursi, membuat mereka terjatuh ke lantai. Namun, pisau yang tadinya masih di pengang ayahku, tertusuk ke dada mengenai jantung ibuku.


Darah mengalir deras membasahi lantai rumahku. Sedangkan mulut ibuku juga tak henti mengeluarkan darah berwarna merah kental.


Ibuku melihat ayahku, lalu melihat diriku. Air matanya menetes menatap pilu. Dia mengatakan sesuatu padaku, tetapi aku tidak bisa mendengar perkataannya. Kemudian matanya perlahan menutup, aku melihatnya dengan tatapan kosong seakan diriku menghilang.


Perlahan mataku melirik ayahku dengan tatapan kekosongan, seakan aku tidak lagi berada di sana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2