
Motorku melaju. Aku pergi dari rumah Greysie, lalu aku berhenti di suatu tempat, masuk ke dalam toiletnya.
Di dalam toilet tersebut, aku terus mencuci wajahku sambil melihat bayanganku di dalam cermin tersebut
"Mata itu!" batinku, aku mengepalkan tangan.
Besoknya.
Greysie bangun. Ia melihatku tak ada di dalam kamar, lalu ia melihat ke samping.
"Kok laptop ini...." batin Greysie, matanya membulat ketika melihat flashdisk. Ia segera memeriksa laptop miliknya.
"Raa, kamu lihat ini?" batin Greysie.
Kemudian Greysie segera mencariku, ia juga terus menelponku. Tetapi aku mematikan telpon milikku agar Greysie tak bisa mencariku.
Greysie lalu memeriksa telpon miliknya untuk memerika lokasi terkahirku. Ia pergi ke tempat dimana aku berhenti untuk membasuh wajahku. Ia juga memeriksa Cctv di sana.
Setelah itu, Greysie meminta bantuan Hendry untuk mencari tau tentang keberadaanku.
Dua hari kemudian pada pukul 11:15 malam. Suara telpon berbunyi.
"Udah ketemu om?" tanya Greysie.
"Iya Grey, Cara ada di salah satu museum Electrikal Group" jawab Hendry.
"Maksih om" ucap Greysie segera menutup telpon. Greysie beranjak pergi secepat mungkin, mobilnya melaju melewati setiap kendaraan.
Tiba di depan museum. Greysie berlari, masuk ke dalam museum tersebut. Ia mulai mencariku di semua tempat.
Beberapa saat kemudian. Aku sedang berdiri melihat foto keluarga Cassie, tanganku mengepal sedang mataku menatap benci.
"Hnh, so.. keluarga si Bryan yang ambil alih perusahaan mereka untuk sementara" batinku, tanganku mengepal, menatap benci.
"Ra....!" panggil Greysie.
"Grey..." ujarku pelan, melihat kearahnya.
Saat melihatnya, aku langsung bergegas pergi dari sana. Namun ia mengejarku.
"Ra...! Ra tunggu Ra, Raaa!" panggil Greysie terus mengejar.
Beberapa menit kemudian. Aku berhenti di dalam sebuah ruangan. Menunggu beberapa saat, kemudian keluar. Tetapi tak kusangka Greysie sedang menungguku di luar ruangan. Aku membuka pintu dan menabraknya.
__ADS_1
"Brakk........!"
"Ra, tunggu Ra" ucap Greysie, langsung memegang erat tanganku.
"Kamu kenapa pergi gitu aja? ninggalin aku tanpa sepatah kata, aku nyariin kamu kemana-mana" ujar Greysie, bertanya.
"Aku harus pergi, kamu lebih baik pulang ke rumah kamu, ngabisin waktu sama mama kamu, dari pada sama aku" ucapku berusaha melepas genggaman tangannya.
"Hey, kamu tau kan orang tua aku selalu sibuk, mau itu papa atau mama aku, mereka sama sibuknya, mama sekarang gak ada di sini, dia lagi di LA" jelas Greysie, tangannya masih menggenggam erat tanganku.
"Kamu ngapain di siniiii?" tanyaku, memberontak ingin melepaskan diri.
"Aku cariin kamu Raa, ngapain lagi, kamu pergi dan menghilang selama dua hari, emang kamu pikir aku gak khawatir?" tanya Greysie.
"Oo hooh, heh," tertawa kecil, "hawatir...?" ujarku sedikit tersenyum.
"Hah? kamu sadar ngomong gitu ke aku?" tanya Greysie.
"Udahlah Grey, gak usah pura-pura khawatir, aku tau kamu benci sama aku sekarang" tukasku, melepas paksa tanganku dari genggamannya.
"Aku gak.. aku gak ben..." ujar Greysie, belum selesai ia menjelaskan, aku langsung pergi meninggalkan dirinya. Ia mengejarku lagi.
"Hey Ra, stop!" panggil Greysie, ia langsung menangkap tanganku, lalu menggengam erat.
"What?! what the fff, hey eloo yang ngasih gua obat tidur, si anj... erghhh sialll" ucapku, tak ingin mencela dirinya dengan mengatai anj*ing.
"Coba jelasin, kamu ngapain di situ saat itu?" tanya Greysie.
"Heh, hahahah, hahahaha, fuckkk" ujarku tertawa heran. Greysie menatap heran.
"Sikap kamu yang kek gini Raa, kamu buat aku yang gak mau percaya, jadi percaya" ucap Greysie.
"Are you fuc*king serious right now? lo sengaja ya buat gua kesel? lo sengaja kan? lagi acting kan loe sekarang?" tanyaku sedikit berbisik, lalu melihat sekitar, namun tak bisa menemukan siapapun.
"Gak, gak ada siapa-siapa di sini" jawab Greysie singkat.
"Hah, hahahah, you fuc*king kidding? loe gak bo'ong kan?," wajah tak percaya, "bisa-bisanya loe, video itu.. itu emang gua, tapi foto itu.. itu bukan guaa!" jelasku.
"Kamu ngapain di situ? di tempat yang sama dengan orang yang ada di foto itu?" tanya Greysie.
"What the fuc*k is with you? Heyy! loe nuduh gua sekarang? gua yang bilang ke elo supaya kasih kesempatan, sadar gak sih? itu bukan gua Grey, ada orang yang sengaja ngejebak guaa!" ujarku, kekeh menjelaskan.
"Kalau emang kek gitu, terus kenapa kamu malah pergi tanpa berkata apapun sama aku, Ra?" tanya Greysie.
__ADS_1
"Oh may god, fuc*k! you already hate me, Grey! pantesan elo diam aja pas gua di bully sama mereka!" ucapku, membentak.
"Aku gak benc..." ucap Greysie. Namun, aku langsung memotong pembicaraan, tak mau mendengarkan.
"No, stop! you hate Grey, i know that, loe sahabat gua, gua tau lo benci ama gua, loe gak perlu bohong, i know you hate me" tukasku, mataku berkaca-kaca.
"Ra, i know you kill..." ucap Greysie. Tak selesai ia berbicara, aku langsung menhentikan dirinya.
"It's NOT ME Grey!" selaku memotong pembicaraan.
"Oh may god Raaa, sikap loe Raa! aku gak, kamu..." ujar Greysie meneteskan air mata.
"Grey... I'm nott a killer, your dad " ucapku, melembut.
"And who's that! if not you, terus siapa? and.. kenapa kamu pergi gitu aja ninggalin aku" tanya Greysie.
"Fuckk you! you hear me? Fuc-kk youu! i hate you Grey, kenapa jadi elo yang jahat sekarang sama gua? sumpah, gua bisa terima kalau itu orang lain, tapi kenapa jadi eloo yang kek gini? atau jangan-jangan mereka udah nyuci otak loe Grey, hah? kok jahat banget, aku sahabat kamu, Grey!" ungkapku, berkaca-kaca. Greysie hanya diam menatapku.
"i..., "menahan tangis, "i can't, i can't pliss, just... kill me! if that's what you want" ujarku, meneteskan air mata.
"Why should i kill you?!" tanya Greysie, menatap heran.
"Because, you already hate me now! loe udah terlanjur benci sama gua sekarang!" bentakku.
"No, Raa, i don't hate yo..." ucap Greysie.
"Stopp! gua gak mau denger, i'm leaving!" ujarku, menyela, kemudian langsung meninggalkan dirinya.
"Aku tau Raa, aku tau kamu yang bunuh papa kamu sendiri" ucap Greysie, mengeraskan suaranya.
Seketika langkahku terhenti setelah mendengar perkataan dari mulutnya. Aku merasa seperti di terjang ombak besar, serta ter-ombang-ambing di lautan yang luas.
"Ww.. w.. whaat? what did you said to me? i... i.. can't hear..." ucapku, tak mau percaya dengan apa yang barusan aku dengar.
"Say it! say it again!" bentakku.
"Aku tahu Raaa, ak-kku tau semuanya, aku tauuu" jelas Greysie.
Mendengar ucapannya, sontak membuatku tak bisa berkata-kata lagi, badanku terasa kaku, lemas seketika. Air mataku ikut menetes. Tetapi kakiku melangkah sendiri menjauh darinya, aku mendengar sesuatu namun tak jelas.
Semuanya hanya seperti gelombang suara yang memasuki telingaku, rasanya seperti aku tak sadar. Aku meninggalkan Greysie sendiri.
Malam ini sangat nenyakitkan bagi Aku dan Greysie. Tak kusangka persahabatan kami selama ini akan hancur karena kesalahpahaman yang tak berujung. Selama ini aku selalu mempercainya, tetapi mengapa ia tak begitu padaku.
__ADS_1
Bersambung...