
Sebelumnya, tepatnya setelah aku dan Greysie mengikat Brayan bersama anak buahnya. Mereka baru tersadar keesokan harinya.
"Aaah, kepala gua pusing..." guman Bryan, bangun.
Bryan melihat sekitar di mana semua anak buahnya masih dalam keadaan pingsan. Kaki dan tangan mereka semua di ikat dengan kuat.
"Hey...! Hey bangun kalian!" ucap Bryan, menyenggol anak buahnya dengan pundaknya.
Mereka pun satu-per satu mulai sadar dari pingsannya. Kemudian, setelah nyawa mereka sudah terkumpulkan semuanya. Mereka lalu berusha untuk melepas tali yang mengingat tubuh mereka.
"Siaalan....! Gua salah perkiraan. Sialan lo Arya Wijaya. Gua bakal bales lo" umpat Bryan.
Setelah selesai melepas semua tali yang mengikat, mereka bergegas pergi dari sana. Akan tetapi saat sudah berada di luar bangunan, mereka melihat masih ada mobil milik Ayah Greysie bersama anak buahnya di sana.
"Wait...! Kenapa mobil mereka masih ada di sini? Apa mereka masih di dalam?" ucap Bryan, menghentikan semua Bodyguardnya.
"Kalian...! Cepat cari mereka!" perintah Bryan.
"Baik, tuan" seru mereka, serempak.
Para Bodyguard pun segera masuk dan berpencar untuk mencari Ayah Greysie bersama anak-anak buahnya.
Beberapa menit setelah pencarian. Bodyguard Bryan menemukan anak buah Ayah Greysie.
"Tuan, mereka ada di sini" teriak Bodyguard.
Kemudian Bryan segera berlari masuk ke tempat Bodyguard-nya berada. Di sana Bodygurd Ayah Greysie juga baru saja sadar dari pingsannya. Mereka berusaha untuk melepaskan ikatan di tubuh mereka.
"Di mana Arya Wijaya?!" tanya Bryan, memegang kerah Bodyguard Ayah Greysie.
Mereka tak mau menjawab, hal itu membuat Bryan sangar marah, ia pun menendang mereka dan menyuruh Bodyguard-nya untuk memukuli semua Bodyguard Ayah Greysie.
Kini Bodyguard Ayah Greysie sudah babak belur akibat di pukuli habis-habisan. Namun mereka tetap tak mau membuka suara.
"Saya tanya sekali lagi, di mana Arya Wijaa?!" tanya Bryan, membentak.
Mereka semua tetap tak mau menjawab. Sementara itu, salah satu Bodyguard Bryan memperlihatkan hpnya pada Bryan.
"Tuan, coba tuan lihat berita ini" ucap Bodyguard.
Mata Bryan membulat dengan perasaan bingung yang menyeliputi dirinya.
"Whatt?! Siapaa?! Siapa yang berani-beraninya mendahuli dan menghancurkan rencana saya?! Sialaann!" umpat Bryan, sambil menendang Bodyguard Ayah Greysie.
"Sialan, Pak Arya kenapa?" batin Hendry.
Kemudian Bryan terus memukuli semua Bodyguard Ayah Greysie untuk melampiaskan kemarahannya. Setelah puas melampiaskan kemarahannya. Mereka pun segera pergi dari sana.
Di perjalanan. Telpon Bryan berbunyi, terlihat sangat banyak panggilan tak terjawab dari Cassie. Lalu Bryan menjawab telpon tsb.
"Babe....!" ucap Cassie, haru.
"Kenapa, babe?" tanya Bryan, penasaran.
"Thank u banget. Kamu udah kasih pelajaran sama Ayahnya si Greysie itu... Aku seneng banget, thank u babe..." ujar Cassie, haru.
"E-eh, i-iyah. Hehe, emm sama-sama. Apasih yang gak buat kamu" ucap Bryan, kaku.
"Kamu di mana sekarang, babe? Kenapa dari semalam gak anget telpon aku? Aku khawatir, aku kira kamu kenapa-napa" tanya Cassie.
"Emm... Ini aku udah mau pulang, babe. Semalam... Emm, aku gak denger kamu nelpon, sorry yaa... Udah buat kamu cemes" jelas Bryan.
"Iya, gak pp. Yang penting kamu baik-baik aja sekarang, and... si Greysie juga udah kena karmanya" ujar Cassie.
********
Dua minggu setelahnya, setelah Ayah Greysie telah di perbolehkan untuk pulang, aku dan Greysie pergi ke rumahku.
Tiba di rumahku. Greysie sedang duduk di sofa, ia sudah menungguku sekitar 30 menit lamanya. Karena merasa bosan Greysie melihat seisi rumahku, mengecek satu per-satu barang di sana sambil sesekali melihat jam tangan miliknya.
"Hmff," melirik jam dinding, "Cara ngapain sihh lama banget" gumam Greysie, berjalan keluar rumah dan melirik sekitar.
"Aww, bosan gue," melihat jam tangannya, "Hufff" menghela napas.
Detik-detik jam dinding terdengar di telinga Greysie, ia juga terus melihat hitungan detik dari jam tangan miliknya.
"Udah 45 menit, Cara ngapain sih" batin Greysie, ia kemudian berjalan masuk dan memanggilku,
"Raaa" panggil Greysie melihat sekitar, ia berjalan perlahan menyusuri setiap pelosok rumah ini, matanya terus mencari keberadaanku.
Setelah mencariku kemana-mana, langkah kakinya terhenti di sebuah lorong. Greysie masuki lorong itu, tapi semakin ia masuk ke dalam maka semakin gelap pula rasanya.
Greysie mengambil telpon miliknya dari kantung celananya, ia kemudian menyalakan lampu senter telpon untuk menerangi jalannya.
"Raa?," melihat sekitar, "Raa? You there?" panggil Greysie, terus berjalan masuk.
Di dalam toilet. Aku sedang menahan sakit saat mengobati luka di bagian perutku.
"Aarghhh," menahan napas, "hmff," menggigit erat kain di mulut, "aarghh, hmf, fuuh, hmhg, fuckk!" ucapku sedikit berteriak, lalu aku membalut lukaku dengan perban.
Sementara itu, Greysie masih berjalan memasuki lorong, namun ia tak sengaja menggeser sesuatu di dinding. Itu adalah penutup dari sebuah tombol. Ia juga melihat ada noda darah di sekitaran tombol misterius itu. Hal itu membuat Greysie semakin curiga dengan kondisiku saat ini.
"Ini tombol apan?" batin Greysie, melihat sekitar.
"Apa ini?," menyentuh dengan jari telunjuk, "ini..," membulatkan mata, "Darah?!" gumam Greysie.
Setelah selesai mengobati lukaku, aku keluar dari toilet ruangan, dan bergegas pergi karena mengingat Greysie adalah tipe orang yang sangat mudah bosan. Namun langkahku terhenti saat melihat sesuatu di Cctv.
"Grey? ngapain dia di sini?" batinku.
Aku teringat malam itu, masih ada bekas darah di depan pintu rungan ini, aku terluka dan belum sempat membersihkannya. Namun, Greysie tak melihat darah itu, ia hanya fokus melihat noda darah di sekitaran tombol.
Saat tangan Greysie ingin memencet tombol berwana merah, telpon miliknya tiba-tiba berbunyi, ia pun menjawabnya.
"Kamu di mana?" tanyaku, melihatnya dari Cctv.
"Emm, aku..." jawabnya, kaku.
"Aku dahh selesai" kataku.
"Emm, ok aku kesana" ucap Greysie, menutup telpon, dan segera menutup kembali tombol misterius.
Saat melihatnya pergi, aku pun keluar dari ruangan rahasia ini. Dia sedang menungguku di sofa, aku menghampirinya.
"Udah, Ra?" tanya Greysie. Aku mengangguk padanya.
#
Di perjalanan menujuh rumahnya. Greysie terus melamun memikirkan kembali kejadian sebelumnya di mana ia ingin memencet tombol misterius di rumahku.
Beberapa saat semudian, kami sampai di rumah Greysie. Tiba di dalam kamar, Greysie masih di penuhi dengan sejuta pertanyaan di benaknya, ia terus melihatku yang sedang berbaring.
"Raa, Kenapa kamu penuh dengan banyak rahasia?" batin Greysie, menatap sendu.
"Raaa" panggilnya.
"Mm?" sahutku.
"Kamu okay?" tanya Greysie,
"Oh may gatt Grey... I AM OKAY. Harusnya aku yang nanya. Kamu okay sekarang?" tanyaku.
"Hehehe. Abisnya kamu dari kemarin diem mulu. Aku kira kamu sakit, soalnya muka kamu pucet banget. Kemarin aku terlalu kaget dengan kejadian yang nimpah Papa sampai gak sadar" ujar Greysie, lalu tersenyum.
"Ckk! Jangan senyum!" larangku, berbicara pelan.
"Sorry..." ucap Greysie, tak bersuara.
"Aku gak pp. So... aku lagi yang bakalan nanya, you okay now?"
"Yeahhh, i mean.. aku bakalan cari orang yang udah buat papa aku jadi kek gitu" jawabnya.
"Kamu serius dengan ucapan kamu itu?" tanyaku.
"Yesss, why not?" tanya Greysie, pura-pura.
"Nothing" jawabku, singkat.
"Hm, gua harus cari tau kenapa Cara pucet banget. Dia pasti lagi sakit" batin Greysie.
Kemudian karena merasa capek berdiri, ia pun langsung melompat ke tempat tidur dan menindihku.
"Aaaargh...Hmmff" teriak kesakitan, memegang bagian perut. Greysie terkejut lalu bangun.
"Eh, sorry-sorry, Ra. Maafin aku" pinta Greysie, memohon maaf sambil memegang tanganku.
Sementara itu, aku tak menjawabnya dan hanya sibuk memegang perutku dan merintih kecil. Greysie sangat penasaran, sehingg ia berusaha untuk melihat perutku, akan tetapi aku terus menghentikan pergerakan tangannya.
Karena merasa semakin cemas dan penasaran, ia pun memaksa untuk melihat. Setelah berhasil menahan kedua tanganku, Greysie lalu membuka bawah baju kemeja hitamku dan melihat darah sudah menembus merubah perban yang tadinya berwana putih polos menjadi merah mengental.
"Oh may god, Raa! What happen to you?!" tanya Greysie, membentak.
Aku hanya diam, tak mau menjawab pertanyaan darinya. Greysie kemudian membuka perban sedangkan aku hanya pasrah dan membiarkan dirinya melihat.
Lukaku terlihat sangat parah, hal itu membuat Greysie marah besar terhadapku.
"Heyy, Raaa! What, the, ff..." ujarnya.
Greysie bergegas mengambil kotak P3K untuk mengobati lukaku.
"Raa... Kita harus ke rumah sakiiiittt... Luka kamu parah bangeettt... Ini harus di jahit Raa... Ini kok bisa gini? ini kenapaa...?!" ujar Greysie pelan, dengan mimik cemas.
"Aku gak mau ke rumah sakit" jawabku.
"Hey, Raa!" bentak Greysie, menatap tajam.
Kemudian, Greysie memaksaku untuk pergi ke rumah sakit, lalu segera di papahnya diriku sampai masuk ke dalam mobilnya.
********
Di rumah sakit. Dokter sedang menjahit lukaku. Setelah selesai menjahitnya, Greysie bersama dokter keluar ruangan untuk berbicara.
"Gimana keadaan temen aku dok? Is she okay?" tanya Greysie.
"Pasien baik-baik aja sekarang. Tapi pasien gak boleh banyak bergerak dulu, pasien harus perbanyak istirahat" jelas dr. Aric.
"Itu luka apaan dok?" tanya Greysie.
"Itu adalah luka tusukan, apa pasien di serang oleh orang?" jelas dr. Aric, lalu bertanya.
"What? Tususkan?" batin Greysie.
"Aku juga gak tau dok" jawab Greysie.
"Sebaiknya kalian melapor ke pihak yang berwajib" saran dr. Aric.
Sementara itu, Greysie hanya diam merenung memikirkan banyak hal.
"Emm, kalau gitu.. Saya permisi dulu karena masih ada pasien yang sedang menunggu" pamit dr. Aric.
"Iya, makasih dok" ucap Greysie.
Greysie berjalan masuk. Tetapi telponnya tiba-tiba berdering ia pun segera menjawab panggilan telpon tsb.
"Halo, Grey" sapa Rasya, di telpon.
"Iya, kenapa?" tanya Greysie.
"Emm, mau nanya. Listanya ada gak? Dari kemarin nomer dia gak aktif. Apa dia lagi bareng kamu sekarang?" tanya Rasya.
"Hm, kesempatan bagus. Gua harus buat hubungan mereka makin deket. Tapi... Gua juga harus tetep pura-pura ikutin rencana Cara untuk ngebuat polisi ini curiga sama dia" batin Greysie.
"Cara ada di rumah sakit" jawab Greysie.
"Hah? Dia sakit? Sakit apa ya kalau boleh tau?" tanya Rasya, cemas.
"Em... Ada orang yang nyerang Cara. Kamu kesini aja kalau khawatir sama dia" ujar Greysie.
"Ok, aku kesana" ucap Rasya.
"Eh? Emang kamu tau rumah sakitnya di mana?" tanya Greysie.
"Eh, iya lupa. Kalian di rumah sakit mana?" tanya Rasya.
"Hmm... Cara lagi di rumah sakit Medical" jawab Greysie.
"Ok, kalau gitu aku kesana sekarang" ujar Rasya.
#
Sementara itu, di dalam kamar rumah Greysie. Ayahnya sedang tertidur dan bermimpi seseorang menyeret dirinya. Namun ia masih setengah sadar meskipun matanya terasa sangat berat menahan rasa kantuk.
Matanya melihat sekeliling, lalu ia mengambil pisau dari balik lengan bajunya. Saat merasa seorang yang menyeretnya lengah, Ayah Greysie langsung menusuk perutnya dengan pisau.
Setelah menusukku dengan pisau. Ayanya samar-samar mendengar percakapan antara aku dan Greysie. Ia mengenali suara kami berdua.
Di dalam rumah Bryan, ia sedang berbicara dengan pacarnya, mereka sedang merencanakan sesuatu.
"Babe, aku mau mereka lebih menderita dari sekarang" pinta Cassie, memohon.
__ADS_1
"Yeah, i know babe, ini baru permulaan, kita akan buat mereka dan keluarganya itu semakin menderita," memegang tangan Cassie, "ide kamu untuk membuat keretakan di antara mereka itu sangat cemerlang babe, pasti gak lama lagi hubungan mereka akan rusak dengan sendirinya" ujar Bryan.
"Hm, iya. Semoga hubungan mereka makin rusak setelah ini. And... si Greysie bakal nuduh Cara yang udah nyelakain Papanya" sambung Cassie.
"Iya, em... Babe...?" ucap Bryan.
"Iya, kenapa babe?" tanya Cassie.
"Em, aku dapet informasi dari Edric. Katanya beberapa minggu yang lalu mereka di serang oleh orang di apertemen" jelas Bryan.
"Siapa yang nyerang babe? Mereka punya musuh yang lain?" tanya Cassie.
"Iya, namanya Andrian Morris. Dia anaknya politikus. Ini kesempatan bagus, kita bisa kerja sama dengan mereka" ujar Bryan.
"Alasannya apa babe? Kenapa dia nyerang si Cara sama Greysie? Terus kata kamu tadi mereka? Maksdunya? Dia punya temen?" tanya Cassie.
"Alasannya... Cara itu pernah mukulin Kesya. Kesya ini adalah pacar si Andrian Morris. Jadi saat itu, si Cara seperti kata kamu sebelumnya kalau dia sering banget bersikap sok pahlawan kesiangan. Nah, saat itu Kesya dan 5 temennya lagi ngebully teman sekelas mereka yang namanya Mela. Di situ juga mereka bareng pacar mereka masing-masing. Terus kebetulan Cara dan Greysie lagi di taman dan gak sengaja lihat mereka ngebully si Mela. Terus si Cara ikut campur dan mulai mukulin Kesya dan temen-temenya termasuk pacar-pacar mereka sampai mereka semua luka dan di bawa ke rumah sakit. Nah, pas malemnya si Kesya di bunuh sama pembunuh berantai. Dan mulai saat itu mereka nuduh si Cara yang udah ngebunuh Kesya" jelas Bryan, panjang kali lebar bagi tinggi.
"Loh? Jangan-jangan emang bener lagi kalau si Cara yang udah ngebunuh Kesya? Atau dia kali pembunuh berantai yang sebenarnya babe? Semua ini juga berhubungan sama orang tua aku kan? Gimana kalau Cara itu bales dendam dengan jadi seorang pembunuh berantai?" tanya Cassie.
"Hm, gak babe. Gak mungkin, soalnya malam itu si Cara di penjara. Aku udah nyelidiki, dia gak kemana-mana malam itu" jelas Bryan.
"Ckk! Kalau gitu gimana? Kamu udah hubungin mereka untuk kerja sama?" tanya Cassie.
"Kamu tenang aja, serahin sama aku" ujar Bryan.
"Babe, aku mau mereka dan keluarganya lebih menderita. Kamu gak bisa yaa jatuhin perusahaan milik ayah atau ibunya itu?" tanya Cassie.
"Iya, aku tau babe, aku udah siapin bukti untuk menjatuhkan seorang Arya Allen Wijaya, tapi kamu tau kan kalau perusahaan miliknya itu adalah perusahaan ternama nomor satu di negara ini" jelas Bryan, memegang wajah Cassie.
"Gak mudah bagi aku buat jatuhin perusahaannya sekaligus babe. Kita harus lakuin secara bertahap, sekarang kondisi Arya Wijaya bisa menguntungkan bagi kita, apalagi kalau bukti ini tersebar ke media pasti akan berpengaruh terhadap perusahaan Ayahnya" jelas Bryan.
"Kenapa kamu gak sekalian patahin aja semua tulangnya babe?" tanya Cassie, kesal dan marah.
Cassie kemudian membayangkan kejadian di mana aku dan Greysie menolongnya saat Riska, Putri, Mindy dan Zey sedang membully dirinya sampai pada saat ia melihat wajah Greysie di dalam rekaman cctv rumahnya (Bab 5 - Part 3).
What?! What the fuckk?! Ngapain Greysie di situ?!
Cassie malah melamun. Sementara Bryan berusaha untuk menyadarkannya.
"Babe? Babe? Babe..!" ucap Bryan, mengeraskan suaranya.
"Hah? Em..." ujar Cassie.
"You okay babe? Aku janji bakalan buat mereka menderita karena udah buat kamu dan keluarga kamu jadi kek gini" kata Bryan.
"Kamu janji?" tanya Cassie.
"Yeah, i promise" ucap Bryan, mengait jari kelingking pada Cassie.
"Keluarga aku juga bakal bantu kita. Kamu tenang aja, hm?" lanjut Bryan.
Cassie mengangguk kemudian memeluk erat pacar tersayangnya itu.
Sementara itu. Di dalam kamar rumah sakit, Greysie terlihat sedang memikirkan banyak hal, ia mengingat perkataanku padanya. Ia ingin tahu kapan, dimana dan bagaimana aku bisa mendapatkan luka di perutku.
Lo mau gua bunuh seseorang buat lo? (Ingatan).
"Siapa?! Cassie?! Bryan?! Atau temen-temen Kesya?! Siapa di antara mereka yang udah berani celakain Cara?! Gak mungkin orang tua Cassie" batin Greysie.
"Grey?" panggilku. Ia tak menjawab.
"Grey?," memegang tangannya, "You okay?" tanyaku, memcemaskan keadaanya.
"Hah? Emm, eee... Kamu udah bangun, Ra?" ujar Greysie, memeluk.
"Hm, Kamu kenapa?" tanyaku balik.
"Emm... Gak pp. I'm okay" jelasnya, tersenyum.
"Kapan aku bisa pulang, Grey? gak betah di rumah sakit gini" tanyaku.
"Kamu sebenarnya kenapa sihh?" tanya Greysie, kesal.
"Maksudnya," mengerutkan alis, "gimana?" tanyaku balik.
"Ini kok..," menatap tanya, "Bisa giniii...?" tanya Greysie lagi.
"Emm," menatap ragu, "Aku..." ucapku. Greysie masih menunggu jawaban dariku.
"Emm, aku... Cuman.. Ehh.. Kemarin.. Kamu tau kan beberapa minggu terakhir ini kita sering di serang orang asing. Kemarin juga pas aku lagi keluar sendiri tiba-tiba aja mereka nyerang aku" jelasku, ragu-ragu.
"Kapan kejadiannya? Aku lihat luka kamu ini kek udah berhari-hari and why gak obatin di rumah sakit?" tanya Greysie.
"Emm," menatap ragu, "Kejadiannya udah seminggu.. lee..bih, maybe" jelasku.
"Hah? barengan sama papa aku? Maksudnya kapan tepatnya?" tanyanya lagi.
"Malam itu pas kamu lagi di rumah kamu" ujarku, sambil mengingat kejadian minggu yang lalu.
Setelah selesai menjelaskan pada Greysie. Ia menjadi semakin marah padaku.
"Kamu biarin luka kamu selama seminggu?! No... No..," menggelengkan kepala, "Bukan seminggu, itu udah dua minggu... DUA MINGGU, heyy!" bentak Greysie, sangat marah padaku.
"Aku udah obatin sendiri, Grey. Lagi pula dengan situasi kemarin, aku gak mau buat kamu tambah cemas, karena itu..," menatap ragu, "Aku gak mau obatin di rumah sakit ini" jelasku.
"Kenapa kamu gak obatin di rumah sakit yang lain Raa?!" tanya Greysie tak mau tau.
"Sama aja Grey, nanti kamu bakalan bingung lagi kalau aku ngilang. Aku gak mau nambah beban pikiran kamu" jelasku.
Greysie terlihat tidak terima mendengar alasanku, ia masih sangat kesal dan marah padaku.
"Kalau sekarang aku yang nanya balik gimana? Kamu bakalan jawab gak?" ujarku, tegas.
"Mau nanya apaan" tanya Greysie masih kesal.
"Saat kejadian itu, satu bulan yang lalu, kamu dari mana? mau apa? dan kenapa bisa kek gitu?" tanyaku, pura-pura tak tahu.
"You mean.. Kejadian yang waktu itu? Why baru nanya sekarang? Udah lebih dari sebulan, Ra" jawab Greysie.
"Kamu kan tau kalau aku tipe orang yang mau ngertiin orang lain dengan memberi mereka waktu. Aku gak mau langsung nanya kenapa, mengapa, bagaimana dan seperti apa" jelasku.
"You mean like me? Yang langsung nanya kejadian pada saat itu juga tanpa mikir apa kamu bisa cerita ke aku atau gak?" sambungnya.
"Hah? Aku kan gak bilang gitu Grey, aku paham kamu kok, kan tiap orang beda-beda, gak mungkin aku nyuruh kamu buat selarasin pikiran sama kek aku" jelasku, heran.
"Em, hehe" ucapnya, tertawa paksa.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku" sahutku.
"Emm, aku..." ucap Greysie, bingung.
"Grey" panggiku, pelan.
"Hah?" ucap Greysie, terkejut.
"Kok malah ngelamun, aku nanya soal kejadian waktu itu" sambungku.
"Ra?" panggilnya.
"Hmfff," menghela napas, "Yaaaa" ucapku.
"Rasya bakalan ke sini, kita acting ya?" bisik Greysie.
"Hah? Kapan?" tanyaku.
"Bentar lagi dia nyampe" jawab Greysie, memperlihatkan chat mereka padaku.
Saat sedang berbicara kami mendengar suara langkah kaki mendekat ke kamarku. Sedangkan Greysie mulai berbicara sambil mengkode dengan raut wajahnya.
"Sebelumnya aku..," menatap ragu, "Kamu jangan marah, but.. kalau kamu marah, aku bisa ngerti karena aku yakin kalau omongan aku ini bakalan nyakitin kamu, jadi..." ujar Greysie.
Rasya berada di luar kamar. Ia mendengar Greysie berbicara dan tak jadi mengetuk pintu. Padahal tangannya sudah berada di gangang pintu karena tadinya ia akan langsung membuka pintunya setelah mengetuknya.
"Grey, Kamu tau kan aku gak suka basa-basi, just say it!" ujarku, tegas.
"Okey, okey, tapi.. sebelum itu... aku mau minta maaf sama kamu. Maafin kalau aku lancang dan nyinggung perasaan kamu" jelas Greysie.
"Soal omongan kamu waktu itu... Kamu mau bunuh seseorang demi aku, apa itu Papa aku? kamu kan yang nyerang papa aku?" ujar Grersyie, sedang matanya melirik ke arah pintu.
Mendengar omongannya, aku perlahan tersenyum. Sedangkan Greysie pura-pura merasa heran saat melihatku tersenyum. Greysie mengerutkan kening, menatap takut.
"Raa?" panggilnya, pelan.
"Kamu beneran," senyum heran, "Ngomong kek gini ke aku?" tanyaku, pura-pura tak percaya.
"What?! Mereka..." batin Rasya.
"Iyaa, makannya aku say sorry ke kamu" ujar Greysie.
Mendengar pekataannya, aku seketika berhenti tersenyum sambil menatapnya. Sedangkan Greysie hanya melihatku dengan raut wajah kebingungan, bibirnya terdiam memucat, lalu perlahan menelan ludahnya. Tentu saja ia juga masih berpura-pura.
"Hnh" ucapku, tersenyum miring.
"Heh, Hahahahaaaaaish," memiringkan wajah, "Fuckk" ucapku, tersenyum memandangnya. Sementara Greysie mematung.
"Oh my god Grey?" ucapku, tatapan tak percya.
"Wow! Wow Grey!," tersenyum heran, "Aku gak nyangka kamu punya pemikiran kek gini tentang aku, hnh," ujarku, masih pura-pura tertawa heran.
"Raa" panggilnya pelan, lalu memegang tanganku.
"Stop!" bentakku menepis tangannya, lalu aku beranjak dari tempat tidur.
"Plisss..." ucap Greysie dengan tatapan memohon.
Sedangkan aku memaksa melepaskan genggaman tangannya, tetapi ia malah semakin mengganggam erat tanganku.
"Fuckk Greyy, lepasin gakk?!" bentakku.
"Maaf kalau aku egois, Ra. Tapi kamu tau kenapa aku kek gini? itu karena kamu selalu nyimpan sejuta rahasia, gak pernah cerita ke aku" ujar Greysie.
"Lebih baik gua juga bahas soal nada dering dia sekarang. Berani-beraninya dia bohongin gua saat itu. Dia pikir gua gak bakalan tau apa?" batinku.
"Mending aku pergi sekarang karena kita masih sama-sama marah. Kamu tau Grey? Aku kecewa banget sama kamu. Selama ini aku gak pernah punya pemikiran kek gini ke kamu. Padahal..." ujarku, membayangkan saat aku bersama Rasya di taman.
Saat itu, di taman. Setelah aku mengetahui jika Rasya adalah kakak dari Angeline, aku lalu bertanya padanya tentang Hartono yang menemukan mayat Simon Hiller saat itu. Itu aku lakukan kerena ingin membuktikan firasatku yang berkata bahwa ada yang aneh dengan tingkah laku Greysie.
Rasya lalu memberi tahu tentang Hartono yang mendengar suara gesekan besi yang bernada. Mendengar hal itu aku pun semakin yakin jika Greysie memang sengaja menaruh darah di dalam rumahnya saat itu.
"Nada dering? Berarti... Cara tau dong kalau hari itu gua ada di hutan. Berarti Cara juga tau kalau gua bohong soal hp gua di dalem kamar" batin Greysie.
Greysie memasang mimik wajah tanya, bingung dan juga selalu menduga-duga. Ia mulai takut saat menjelaskan padaku. Tetapi ia tetap melanjutkan actingnya karena aku memasang wajah serius padanya.
"Nada dering? kamu curiga ke aku?" tanya Greysie.
"Hah? Aku sama sekali gak pernah curiga ke kamu, malah kamu yang curiga ke aku sekarang" jawabku.
"Terus kenapa bahas soal nada dering telpon aku? kamu pasti curiga kan" ujar Greysie.
"Grey... Ituuu karena kamu nuduh aku sekarang! makanya aku bahas soal itu!" bentakku.
"Nada dering? Kenapa Lista gak bilang saat itu? Mereka berdua bener-bener mencurigakan" batin Rasya.
"Okey, okey. I'm sorry, maafin aku Ra, tapi...." ucapnya.
"Kok bahas soal ini sekarang" ucap Greysie, tak bersuara.
"Kamu mau tau soal aku kan? okay, aku bakal jelasin sekarang!" bentakku lagi.
"Hah?" ucap Greysie lagi, tak bersuara. Sedang raut wajahnya menatap heran.
"Kamu bener... aku trauma karena orang tua aku juga dulu sering berantem" jelasku.
"Lo mau tau ini kan, Grey? Gua jelasin sekarang! Lo udah berani banget bohongin dan ngerusak rencana gua, Grey. Lo harusnya ngerasa bersalah kalau gua cerita soal ini. Udah berkali-kali gua tegasin sama elo kalau gua gak lagi main-main, tapi lo... Lo malah ngerusak rencana gua dan bohongin gua soal Ayah lo malam itu" batinku.
"Semua itu terjadi saat bisnis ayah aku bangkrut. Ayah minta bunda supaya berhenti kerja karena merasa di remehkan. Tapi... Tapi bundaku gak bisa lakuin itu, bunda masih harus biayain sekolah aku dan adik aku, Greyy" jelasku, menteskan air mata.
"Ra?" batin Greysie.
"Pliss jangan nangis, Ra" batinku.
"Tapi... tapi Ayah aku malah marah ke bunda. Ayah pikir bunda gak mau denger omongannya lagi karena bisnisnya udah bangkrut. Dan gara-gara hal itu juga mereka jadi berantem terus tiap hari" jelasku, berkaca-kaca.
"Padahal..," mulai menangis, "padahal..," gemetar, "Sebelumnya keluarga aku bahagiaa" ucapku, dengan isak tangis.
"Aku..," menatapnya, "Aku sayang banget sama adik aku Grey," berkaca-kaca, "Tapi kenapa dia harus matii? Kenapa Grey?!" ucapku, membentak.
"Kamu nanya apa aku benci sama pembunuh mereka?!," menatap benci, "Yaaa! aku bencii...! Aku benci banget sama pembunuhnya, tapi aku juga sayang sama Ayah aku" jelasku, sambil menangis kecil.
"Aku sayang sama Ayah aku, Grey... Tapi..." ujarku, dengan isak tangis.
"Raaa" ucap Greysie, dengan tatapan bersalah.
"Maafin aku" batin Greysie.
Air mata Greysie menetes, sedangkan aku di penuhi perasaan marah, kesal, sedih dan juga kecewa pada diriku sendiri. Aku ingin segera pergi dari sana, akan tetapi Greysie tak membiarkan kakiku melangkah sedikit pun.
"Raaa, maafin aku. Aku gak tau kalau selama ini kamu ternyata nahan sakit kek gini sendiri. Maafin aku, aku malah nuduh kamu yang gak-gak. Pliss i'm so sorry, Raaa" ujarnya, memegang erat tanganku.
__ADS_1
"Ra, kita bahas ini lain kali aja ya? Maafin aku kerena udah..." bisik Greysie.
"Plis Grey, lepasinn!" pintaku, berusaha melepaskan tangannya.
"Ra? Pliss" batin Greysie, tatapan memohon.
"Ini gimana? Cara masih mau lanjutin ini? Tapi masalahnya suasananya udah beda sekarang" batin Greysie.
"Gak bisa, Ra. Kamu masih harus istirahaat, luka kamu nanti..." ucapnya, memohon.
"I don't care Grey!" bentakku.
"Hah? Ra? Pliss..." batin Greysie, menatap mohon.
"But i care, Ra!" ujar Greysie, menaikan volume suaranya.
"Fuckk Grey! I don't give shitt! Denger gak?! I don't give a shitt! Lepasin gak?!" bentakku lagi.
"Ra? Kamu serius?" ucap Greysie, tak bersuara dengan tatapan cemas.
Kemudian aku melihat ke arah pintu dan secara tak sengaja bertatap mata dengan Rasya yang sedang mengintip kami dari jendela kaca kecil di pintu ruangan tersebut.
Karena aku dan Rasya tak sengaja bertatap mata. Aku pun memutuskan untuk segera mengakhiri pertengkaran antara Aku dan Greysie yang di mana berisikan kebenaran di dalam kepura-puraan itu.
"Rasya?" ucapku, mebulatkan mata.
"Em, haii" sapa Rasya. Ia berjalan masuk.
"Kamu... Ngapain di sini?" tanyaku.
"Aku bilang ke Rasya tadi kalau kamu di rumah sakit" sela Greysie.
"Em, tadi aku nelpon kamu, tapi Grey yang angkat, katanya kamu lagi di rumah sakit, jadi... aku khawatir" jelas Rasya, tatapan ragu.
"Em, maaf. Eeeh, tadi aku gak sengaja denger kalian berentem" ujar Rasya.
Sementara itu, aku melepas genggaman tangan Greysie dariku dan ia juga terpaksa melepaskan. Sedangkan Rasya bingung melihat tingkah kami.
"Em, kalian mau ke mana?" tanya Rasya.
"Kita gak kemana-mana" jawab Greysie, lalu menarik dan menyuruhku duduk di tempat tidur dan aku terpaksa menurutinya.
"Aku tadi... Gak sengaja denger kalian berantem, kalian okay?" tanya Rasya.
"Yaah, kita gak pp. Thank you" jawab Greysie, tersenyum.
Rasya dan Greysie masih berbicara, sementara aku hanya diam dan tak pernah menyahuti mereka berdua.
Kalian kenapa berantem?
Gak pp, Cara cuman lagi sensitif aja hari ini.
Emm, maaf kalau aku ngeganggu kalian.
Gak, kamu gak ganggu kita kok.
Tangan dan bibirku rasanya semakin gemetar, sementara itu, aku mendengar suara mereka bergelombang dan semakin mengecil seperti menjauh dari pendengaran telingaku.
"Hnmf, jangan. Jangan di inget, Ra. Jangan... Nanti lo nangis. Pliss, pliss jangan di inget" batinku.
Rasya sedari tadi memperhatikanku saat berbicara dengan Greysie. Ia melihat tangan dan bibirku gemetar, sementara tatapan mataku seakan menghilang.
"Lista, are you okay?" tanya Rasya, cemas.
Aku tersadar setelah mendegar pertanyaan yang di lontarkan oleh Rasya. Entah mengapa pertanyaan itu membuat hatiku terasa amat sakit. Rasanya seperti aku tak sanggup lagi untuk menahan tangis yang kupendam selama ini.
Saat aku merasa tak sanggup lagi menahan semuanya, saat itu juga tangis yang kupendam selama ini meledak dengan sendirinya. Tenggelam sendiri, di lautan yang luas sangat tidak mengenakkan.
Isak tangis dari mulutku terdengar sakit, dadaku terasa sesak, tangisan yang aku pendam kian meledak, tak bisa di jelaskan.
Rasa sakit itu sungguh menyayat. Aku terus mengingat di mana kedua orang tuaku bertengkar hebat sampai pada saat di malam mencekam yang merenggut segalanya dariku.
Greysie kemudian melihatku dengan tatapan prihatin, ia juga merasa bingung dengan situasi saat ini.
"Ra, kok kamu nangis?" batin Greysie.
Ingatanku terus berjalan, aku melihat di dalam rumahku ibu dan adikku telah meninggal, meninggalkan aku sendiri.
Mengigat hal itu, membuatku menangis sampai suaraku serak dan tak terdengar lagi. Begitu menyayat hati, aku di penuhi perasaan marah, benci, sedih, takut dan trauma.
Pandanganku kian menghitam, terasa seperti dunia seakan berputar terus-menerus. Sementara itu aku tak bisa lagi mengendalikan diriku yang membuat aku pingsan saat itu juga.
Greysie terkejut melihatku, kejadian ini merupakan hal yang tak biasa bagi dirinya sejak ia mengenalku. Semuanya merupakan hal baru baginya, ia merasa bersalah karena tidak mengetahui apapun mengenai sahabat satu-satunya.
Rasya juga terlihat sangat khawatir, ia sepertinya memahami perasaanku. Rasya teringat akan dirinya dulu, kehilangan seseorang yang ia sayangi karena ulah pembunuh berantai sehingga hal itu menjadi trauma mendalam dan membekas baginya.
"Ra? Raaa!" teriak Greysie.
"Ra, Raa. Kamu pingsan? Ra, Raa" ucap Greysie.
"Cara kamu beneran pingsan atau gimana?" batin Greysie.
"Sialan, gua beneran takut. Kalau sampai ini bohongan, awas aja lo Ra" lanjut, batin Greysie.
Mereka panik kemudian segera memanggil dokter. Beberapa menit kemudian, dokter datang dan memeriksa keadaanku.
"Gimana keadaan temen aku, dok?" tanya Greysie.
"Pasien terlihat sangat lelah, sepertinya dia stres akan sesuatu. Apa pasien mempunyai trauma masa lalu?" tanya dokter. Rasya melihat Greysie dengan mimik penasaran.
"Lah? Cara beneran pingsan? Siaaall...! Ini beneran atau enggak!" batin Greysie.
"Em, i-iya dok" jawab Greysie.
"Pasien harus perbanyak istirahat dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang membuatnya stres. Saya sarankan agar pasien mengambil pengobatan dari seorang psikiater/psikolog" usul dokter berkacamata tersebut.
"Iy- iya.. terima kasih, dok" ujar Greysie, lirih dan menahan tangis.
"Terima," berjabat tangan, "kasih, dok" ucap Rasya.
Dokter keluar ruangan.
"Grey, aku.. aku boleh nanya gak, kenapa Lista sampai kek gini?" tanya Rasya, cemas.
"Hmf, hmf, dia..." jawab Greysie, menahan tangisannya.
"Gua harus jelasin ini? Ah sialan, gua jelasin aja dulu, siapa tau Cara cuman... Aahh, fuckk!" umpat Greysie, dalam hatinya.
Greysie mulai menceritakan masa laluku pada Rasya sepengetahuan dirinya. ia juga menjelaskan alasan kami bertengkar hebat sebelumnya.
Mendengar alasan kami bertengkar, Rasya terkejut, dan mengingat kembali semua kecurigaannya selama ini padaku. Ia merasa heran mengapa aku selalu saja berbicara tentang membunuh seseorang.
Rasya masih melamun, sementara itu Greysie sesekali melirik cemas padaku. Lalu Greysie segera menyadarkan Rasya dari lamunanya.
"Rasya?" ucap Greysie.
"Yaa? eh sorry-sorry, aku tadi keinget seuatu" jelas Rasya.
"But.. you okay now?" tanya Greysie.
"Yaa," tersenyum, "Ya.. ya, i'm okay" jawab Rasya.
"Oky, then.." ucap Greysie, mengangkat kedua alisnya.
Beberapa saat kemudian. Rasya berpamitan pada Greysie karena harus mengurus sesuatu. Ia ingin mempelajari kembali kasus pembunuhan berantai yang melibatkan aku dan Greysie.
"Aku balik dulu Grey, mau ngurus something soalnya" pamit Rasya, berdiri.
"Yeah, okk. Hati-hati di jalan" ucap Greysie, ikut berdiri.
"Call aku ya, kalau Lista udah siuman" pinta Rasya.
"Sure" jawab Greysie, tersenyum.
Setelah Rasya pergi, Greysie segera meghampiriku. Ia melirik aku dari atas sampai bawah sambil menggigit kukunya dengan raut wajah berpikir.
"Raaa, bangun. Rasya udah pergi" ucap Greysie, namun tak mendapatkan jawaban dariku.
"Raa, udah donk pliss. Aku minta maaf soal yang kemarin bohongin kamu" ujar Greysie.
"Raa? Ra yang serius dong, ahh. Ra? Kamu beneran?" tanya Greysie.
"Ra? Raa?," menggoyangkan badanku.
"Raa?" panggil Greysie lagi.
"Ini beneran?" batin Greysie.
Setelah beberapa kali Greysie memangil dan menggoyangkan badanku. Ia akhirnya berhenti karena aku benar-benar pingsan.
Hal itu membuat Greysie berjalan mundur dan terduduk lemas di sofa. Jantungnya berdetak sangat cepat, sedang tangannya gemetar.
"Sial, ini beneran? Fuckk! Gua harus gimana?" batin Greysie.
"Cara, lo... Lo kan gak pernah pingsan sebelumnya dengan alasan yang gak jelas kek gini. Lo kok bisa pingsan? Alasannya kenapa?" batin Greysie bertanya.
"Gua gak pernah lihat Cara lemah banget kek gini. Ini bahkan lebih parah dari setahun yang lalu. Dulu pun Cara pingsan cuman karena dia nyebur ke kolam dan trauma lihat Vyora dan Angeline. Dan, terakhir... karena Papa sama Mama berantem kan? Tapi... Tapi kali ini apa? Cara pingsan kerana apa?," Greysie terus membatin.
"Apa jangan-jangan Ini... Ini soal Ayahnya lagi? Dari tadi juga pas kita berantem Cara terus ngomongin tentang Ayahnya. Siaaaal...!" batin Greysie.
"Raa, lo kok gini sih? Gua bingung Ra, sumpah. Gua harus gimana Raaaa, lo juga gak pernah mau cerita sama gua" lanjut batin Greysie.
Besoknya, di dalam kamar rumah sakit. Greysie sedang duduk di kursi sambil menatapku.
"Raa, apa masih ada rahasia yang belum kamu ceritain ke aku?" gumam Greysie, lalu bersilang tangan.
"Padahal, aku cuman mau kamu tuh jujur ke aku, karena aku sahabat kamu, aku selalu nungguin kamu buat ceritain semua masalah kamu ke aku, tapi..." batin Greysie, ia masih menatapku.
Greysie mulai mengingat kembali kejadian sekitar dua setengah tahun yang lalu, kejadian di mana aku mendengar penjelasan dari tv mengenai perusahaan keluarga Milstone dan Walker.
Mereka mengelurakan/memasarkan mobil dan motor seperti yang ada pada cetak biru milik Ayahku. Hal itu membuat aku marah besar dan membanting barang-barang di dalam kamarku.
Setelah puas meluapkan emosiku, aku malah mabuk dan mengatakan rahasiaku pada Greysie tentang aku yang sudah membunuh Ayahku sendiri.
"Omongan Cara waktu itu... Apa semua itu bener?" gumam Greysie, masih dengan tangan bersilang.
"Hm, aku harus cari tau soal ini. Pasti omongan Cara waktu itu berhubungan sama traumanya sekarang, kemarin juga pas berantem sama aku, kok Cara aneh banget, ngomong soal dia benci sama pembunuh keluarganya tapi juga sayang sama ayahnya. Aku gak ngerti, apa jangan-jangan Ayahnya yang udah bunuh keluarganya sendiri? Terus Cara yang udah bunuh ayahnya sendiri gitu?" batin Greysie, terus bertanya.
Greysie menatapku serius, ia kemudian berdiri dan menghela napas berat, menandakan bahwa ia sedang diliputi perasaan cemas namun juga penasaran akan kebenaran mengenai diriku.
Sementara itu, aku masih tertidur dengan memimpikan kejadian mengerikan yang menimpa keluargaku.
"Haaaah" aku berteriak dan bernapas pendek.
Kemudian, aku terbangun, terkejeut karena memimpikan kejadian malam itu. Suara napas pendek terdengar cepat, aku perlahan melihat ke dua telapak tanganku. Aku juga terus melihat samping kiri kanan lalu depan, seperti sedang mencari sesuatu.
Pisau yang di penuhi darah berwarna merah segar memenuhi tanganku, lalu aku mendengar bisikan lagi di telingaku. Perasaan gelisah serta takut menyeliputi kulit menembus daging hingga tulang-tulangku.
Greysie melihatku dan segera menghampiriku. Ia berusaha untuk menyadarkan aku yang sedang tenggelam dalam pikiranku sendiri.
"Do you recognize me?" bisikan di telinga kiri, membuatku refleks menoleh ke samping kiri.
"Apa kau ingat aku?" bisikan di telinga kanan juga membuatku menoleh ke kanan.
Mendengar bisikan-bisikan, membuatku sangat ketakutan bukan main. Tak henti aku melihat sekeliling, namun tak juga menemukan apapun yang berbisik padaku. Sementara bisikan itu terdengar semakin mengacaukan isi kepalaku.
"Raaa?" panggil Greysie.
Apa kau mengenaliku? Apa kau ingat aku?
"Ra, hey Ra. Sadar Ra, ini aku," memagang wajahku, "Ini aku Ra" ucap Greysie.
"Get the fuckk," memegang telinga, "Out of my lifee....!!" teriakku.
"Haah, Ra! Raa, sadar Ra. Hey Raa ini aku. Ra, ini aku. Hey, hey, ini aku Grey, lihat aku, lihat aku" ucap Greysie.
"Grey...?" ucapku lirih, menatapnya. Aku duduk termenung.
"Kamu kenapa?" tanya Greysie, cemas.
"Ak..." ucapku, meneteskan air mata.
"Ak...Emf.." ujarku, tak bisa berkata-kata lagi.
Kemudian aku malah menangis terseduh-seduh, tangisku semakin menjadi, rasanya aku seperti baru saja di terjang ombak yang teramat besar.
Suaraku serak dan mengecil. Setiap tarikan napas dari mulutku tersentak, aku merasa seperti akan kehabisan napas.
Belenggu di dalam diriku semakain menekan dan memberat, aku tak tau lagi harus berbuat apa pada diriku sendiri. Hatiku terus berteriak tolong tapi tak pernah terdengar oleh siapapun.
"Tolong," menatap Greysie, "aku . !" teriak, batinku.
Greysie menatap pilu diriku, baru kali ini ia melihatku dengan keadaan menyedihkan layaknya terbelenggu dengan kuat.
Namun, belenggu itu tak bisa di lepaskan seakan semuanya menjadi sebagian dari diriku yang tak bisa aku terima.
Greysie memeluk erat diriku seakan tak ingin melepaskan aku dari pelukannya. Air matanya mengalir membasahi pipi sedang bibirnya juga gemetar menahan tangis.
"Gak pp, gak pp. Aku di sini, aku di sini" ujar Greysie, memeluk erat.
__ADS_1
Bersambung...