
"Pliss don't leave me... Don't leave me, it- it, it's not over. It's not over Raaa... Plis, pliss, we have to finish it, you have to. Pliss don't leave me, i need you... i need you to be here. We promise, you promise... Kamu janji Raa, kamu udah janji sama akuhuhuu... Pliss jangan tinggalin aku, maafin aku, maafin aku... Huhuuu" ujar Greysie, menangis terseduh-seduh.
Sementara itu Cassie sedang berlarian dengan perasaan senang. Ia tak berhenti tertawa.
"Hahahhahaaa... Rasain itu bi*ch!" maki Cassie, tertawa puas.
Cassie terus berlari sampai ke mobil Bryan. Setelah masuk Bryan langsung menancap gas mobilnya begitu juga dengan para Bodyguardnya.
"Babe... Kamu ngapain?! Kita harusnya nyulik dia dulu babe... Itu bahaya banget, gimana kalau ada orang yang lihat?" ujar Bryan, marah.
"Aku gak tahan babe lihat muka dia. Udah ahh gak usah berisik, bikin mood orang hilang aja. Aku lagi seneng ini, jangan buat moodku rusak!" ujar Cassie juga tak kalah marah.
"Ckk!" gerutu Bryan, dalam hati.
Kemudian Bryan segera menelpon Hendry untuk segera menghapus semua jejak cctv yang berada dekat dengan tempatku berada.
Sementara itu, Greysie terus menangis. Tangannya yang gemetar berusaha menekan lukaku untuk menghentikan perdarahan. Namun tak bisa, darahnya terus keluar bahkan di semua bekas luka tusukan dan tembakan.
"Emmff, emfff... Huhuuu... Gak, gak.... Hmfff...," Greysie terus gemetar sambil menangis.
Greysie lalu segera menelpon ambulance untuk menolongku. Tak lama setelah itu ambulance datang bersama polisi. Para medis langsung memberikan masker oksigen dan juga menekan lukaku dengan kain. Lalu mereka segera mengangkatku ke dalam mobil, sedangkan Greysie juga ikut masuk ke dalam.
"Denyut nadinya sangat lemah. Segera bawa ke rumah sakit terdekat!" ujar para medis.
"Huhuuu... Raaa..... Jangan tinggalin aku...," Greysie terus menangis.
"Mbak, tolong kami untuk menekan lukanya dengan kain ini" perintah para Medis.
Lukaku terlalu banyak sehingga para media meminta Greysie untuk membantu mereka menekan lukaku agar darahnya tak terus keluar.
Wiw... Wiw... Wiw.... Wiw...
Setelah sampai di rumah sakit, suster segera membawaku ke ruang unit gawat darurat (UGD).
"Pasien gawat darurat...! Tolong beri jalan...!" ujar Para Medis.
Dokter Aric yang menerima informasi segera bergabung bersama para medis.
"Siapkan ruang operasi segera!" ujar Aric.
"Status?!" tanya Aric.
"Kritis dok! Tiga luka tusukan dan lima luka tembakan. Pasien kehilangan banyak darah"
Mereka terus berlari ke arah ruang UGD. Sesampainya di depan ruangan mereka menahan Greysie di luar.
"Mohon maaf, silahkan menunggu di luar" ujar suster, segera masuk ke dalam.
Di dalam ruang (UGD) dokter Aric memimpin operasi, lalu menggunakan alat defibrilator untuk mencoba mengembalikan impuls listrik jantungku yang terlalu cepat dan lemah.
Tit... Tit.. Tit... Tiiiiiiiiiiit... (Komputer detak jantung berbunyi keras).
"Siapkan AED!" ujar dr. Aric mencek nadi di tanganku. Ia juga memeriksa mataku, lalu.
"CPR satu..., Duk, Duk, Duk..." Alat pengejut jantung itu di gunakan membuat Greysie kehilangan kendali. Ia menangis sampai kehilangan suaranya.
"No respon dok!" tegas suster.
Greysie menatapku dari balik kaca itu. Jantungnya berdetak sangat cepat sedang air matanya mengalir deras.
"CPR dua tambah..., Duk, Duk, Duk..." Alat pengejut jantung sekali lagi membuat seluruh tubuh Greysie melemas hingga membuatnya tak mampu lagi untuk berdiri.
Tit... Tit... Titt.. Tit Tit Tit Tiiiiittt......!
"Sekali lagi...!" ucap dr. Aric memegang erat alat pengejut jantung di tangannya.
"Plisss," tatapan penuh harap, "Jangan tinggalin aku Raa, aku mohon..." ujar Greysie gemetar.
"Sudah diisi dayanya dok" ucap suster, mengkode dokter.
"Satu, dua, tiga, Shock..., Tet nutt..." (bunyi Pea/ perangkat pengukur seberapa cepat seseorang dapat memindahkan udara keluar dari paru-paru dalam napas tunggal).
"Pijat jantungnya dan ambilkan kantung darah!" tegas dr. Aric.
"Darah sedang tidak tersedia dok" jawab suster panik.
Kemudian dengen ceketan, suster keluar untuk memberitahu Greysie terkait situasi yang sedang terjadi.
"Pasien membutuhkan donor darah segera. Saat ini rumah sakit tidak bisa menyediakan golongan darah tipe (O-). Pasien harus segera di operasi. Apakah ada dari keluarga pasien yang memiliki golongan darah yang sama?" tanya suster.
"G-gak ada sus, keluarga Cara semuanya..." jawab Greysie, menangis. Rasya datang.
"Grey... Grey gimana keadaan Lista?" tanya Rasya, cemas.
"Syaaa.. Cara butuh donor darah untuk ope-rassi..." jelas Greysie, sedikit tersentak dengan tangisan.
"Ambil darah saya aja sus, golongan darah saya (O+) Apa bisa sus?" tanya Rasya.
"Mohon maaf. Meskipun golongan darahnya sama-sama O, tetapi golongan darah O- tidak bisa menerima darah tipe (O+). Seseorang bergolongan darah O- hanya bisa menerima transfusi dari golongan darah yang sama" Ujar suster, menjelaskan.
Mendengar hal itu, membuat Greysie semakin melemas. Kemudian mereka mulai menelpon semua kerabat serta teman-teman mereka satu per-satu. Mereka juga meminta bantuan teman mereka untuk mencari serta menghubungi setiap markas PMI.
Kemudian Bibi Nur dan Lia datang. Greysie segera menceritakan keadaan saat ini pada mereka berdua.
"O-?" tanya Bibi.
"Iy-ya bi..." jawab Greysie, gemetar.
"Golongan darah bibi O- neng, Lia juga" sambung Bibi, ia sedikit lega.
Mereka semua merasa sangat bersyukur mendengarnya. Kemudian Bibi Nur dan Lia segera di periksa untuk mengecek keadaan mereka.
Sayangnya hanya Lia yang bisa mendonorkan darahnya karena Bibi Nur sedang kurang sehat. Kemudian setelah mendapatkan donor darah dari Lia dokter langsung memulai operasi. Aku kehilangan banyak darah sehingga membutuhkan tiga kantung darah. Sedangkan Lia hanya bisa memberikan satu kantung darah saja untukku. Untung saja Rasya sudah menemukan markas PMI yang masih memiliki stok darah tipe (O-).
Di dalam ruang UGD, dengan hati-hati para dokter mengeluarkan satu per satu peluru di dalam tubuhku. Namun mereka merasa kesulitan saat mengeluarka dua peluru yang berada dekat dengan jantungku. Hal itu membuat operasi dilakukan sampai berjam-jam, sampai sekarang dokter belum juga keluar dari ruang operasi. Greysie merasa sangat gelisa, ia sedari tadi hanya mondar mandir di depan pintu ruang operasi.
Beberapa jam kemudian. Dokter baru keluar dari ruang operasi. Rasya, Bibi Nur dan Lia seketika berdiri melihatnya. Sedangkan Greysie langsung bertanya pada Aric.
"Gimana Ric keadaan Cara?" tanya Greysie. Wajah cemasnya terlihat sangat jelas.
"Operasinya berjalan lancar, pasien sudah melewati masa kritisnya. Tapi..." ujar Aric, terhenti.
Aric melihat wajah lesu Greysie, ia merasa berat untuk menyampaikan hal itu pada Greysie.
__ADS_1
"Tapi apa, Ric?" tanya Greysie, penasaran.
"Pasien sekarang koma. Untuk kondisi koma... Hal ini merupakan tingkat kesadaran yang paling rendah dari seorang pasien" jelas dr. Aric.
Setelah mendengar perkataan Aric, Greysie malah semakin menangis. Aric kemudian melanjutkan perkataannya.
"Kalian harus sering berbicara dengan pasien tentang hal-hal baik dan menyenangkan. Untuk keadaan koma seperti ini yang kami takutkan adalah pasien tidak akan pernah bangun kembali. Mungkin saja jika kalian memiliki sesuatu yang bisa membuat pasien bersikeras, berusaha untuk membuatnya bangun, mungkin... hal itu bisa membuat pasien memaksa dirinya untuk bangun" jelas Aric.
Greysie melihat Aric dengan tatapan penuh harap, ia lalu bertanya.
"Apa itu bener, Ric?" tanya Greysie.
"Mari kita berharap bagitu. Semua ini tergantung Callista. Jika dia tidak menyerah, bersikeras untuk bangun ataupun menyelesaikan sesuatu, mungkin... itu bisa terjadi. Mari kita berdo'a agar alam bawah sadar Callista bisa memaksa dirinya untuk bangun" ujar Aric, menatap penuh harap.
"Kalau janji, Ric?" tanya Greysie lagi.
"Hm, ya.. Mungkin saja jika itu adalah sesuatu yang menjadi pegangan Callista selama ini, mungkin.. Itu bisa terjadi, mari kita berharap semoga Callista mau berusaha untuk bangun dan gak nyerah gitu aja" ungkap Aric.
Aric juga sedikit termenung, ia mengingat permintaanku padanya untuk menjaga Greysie jika sesuatu yang buruk terjadi padaku.
Setelah mendengar penjelasan dari Aric, Greysie juga ikut termenung, ia membayangkan saat dimana kami membuat janji bersama sekitar dua setengah tahun yang lalu.
#
Sementara itu. Di dalam sebuah apartement. Heafen sedang berbicara dengan Aaron.
"Bro, gua boleh nanya gak? Dari dulu gua penasaran, kenapa si Rendi bisa benci banget sama lo, bro" ujar Aaron, bertanya.
"Fuuuh.... Ckk!" ucap Heafen, menghela napas berat. Aaron sedikit takut karenanya.
"Dia itu kesel sama gua karena gara-gara gua dia putus sama ceweknya" jelas Heafen.
Hefen lalu menceritakan pada Aaron kejadian sekitar dua setengah tahun yang lalu pada Aaron.
Mimik wajah Aaron serius saat mendengarkan penjelasan dari Heafen, ia sesekali mengangguk paham.
"Lo kenapa bisa putus sama cewek lo bro?" tanya Aaron, mengambil rokok di kantung celananya.
Mata Heafen pelan meliriknya, membuat tangan Aaron terhenti sejenak. Aaron lupa kalau Heafen tidak suka dia merokok di depan Heafen.
"Satu batang aja, bro" ujar Aaron, sedikit memohon.
"Kalau mau ngerokok lo keluar aja, jangan di depan gua" ujar Haefen.
"Gak jadi lah bro, gua mau denger cerita lo dulu" seru Aaron, langsung bersandar di sofa tersebut.
Heafen masih dengan aktivitas yang sama, di mana ia melihat-lihat kembali foto kami. Kenangan-kenangan indah mulai terlintas di benak Heafen, membuatnya tersenyum sesekali.
"Semenjak gua putus sama cewek gua, gua jadi sadar kalau gak ada kebahagiaan yang benar-benar nyata di dunia ini" ungkap Heafen.
Aaron bangun dari sandarannya, ia duduk dengan posisi siap mendengarkan Heafen untuk bercerita padanya.
"Sesayang itu ya lo sama mantan lo, bro?" tanya Aaron serius. Heafen menghela napas berat.
"Bagi gua gak ada yang bisa gantiin Cara. Dia udah terlanjur ngisi hati gua sampai gak ada sisa buat cewek lain" jawab Heafen, ibu jarinya masih sibuk menggeser foto kami bersama. Aaron masih setia mendegar Heafen.
"Sebenarnya gua juga gak tau alasan kenapa dia sampai minta putus. Padahal semuanya baik-baik aja, malah gua pernah minta kejelasan sama dia, tapi dia bilang kalau gak ada alasan sama sekali, ya gua gak terimalah, seenggaknya gua harus tau kenapa. Tapi sampai sekarang dia gak pernah kasih tau alasannya" ujar Heafen.
"Tapi kemarin gua mutusin buat nolak keputusan sepihak Cara. Gua bilang kalau status dia masih sebagai cewek gua. Selama ini gua diem aja karena gua lihat dia juga nutup hati buat orang lain, sampai si Rasya itu datang. Ya, gua gak terimalah" ujar Heafen, ia segera tidur di sofa.
"Hm, gua dukung lo bro. Seharusnya dari dulu lo ambil tindakan tegas gitu ke cewek lo" ucap Aaron.
"Woy, dia itu cewek gua, lo pikir gua bakalan kasar ke dia?" seru Heafen, melirik marah Aaron.
"Haha, sorry bro" ucap Aaron, tertawa sedikit mengejek.
"Lo gak bakalan pernah ngerti kecuali lo ngerasain hal yang sama. Di dunia ini, ada orang yang jatuh cinta sampai cintanya bener-bener habis buat satu orang yang udah klep banget, yang udah nayaman banget" ujar Haefen.
"Hn, bucin banget lo bro hahaha" ledek Aaron.
"Gua keknya bakalan lanjutin kuliah gua di sini, gua gak bisa biarin polisi itu deketin cewek gua lagi, menurut lo gimana?" tanya Heafen.
"Hm, gua mana-mana lo aja bro. Tapi lo yakin kalau bokap lo bakal ngijinin? Kemarin aja bokap lo biarin lo di kantor polisi selama dua minggu" ujar Aaron, bertanya.
"Hm, soal bokap...Urusannya belakangan" jawab Heafen.
Heafen kemudian melihat lagi layar hp miliknya, tangannya tak sengaja mengklik pada notifikasi youtube. Namun Heafen segara bangun untuk pergi mengambil minuman, lalu menaruh hpnya di atas meja. Video yt terputar secara otomatis, setelah Heafen tak sengaja mengklik notifikasi tersebut. Iklan yt terputar. Setelah itu langsung terdengar penjelasan dari youtube tersebut.
"Cara Callista. Salah satu siswi dari sekolah Sma Permata menjadi korban kekejaman oleh pelaku yang belum di ketahui identitasnya. Polisi juga masih belum mengetahui apa motif dari pelaku sampai menembak dan menusuk korban berkali-kali. Polisi masih belum yakin apakah ini adalah ulah pembunuh berantai yang memulai aksinya baru-baru ini atau ulah seseorang yang menaruh dendam kepada korban"
Langkah kaki Heafen terhenti ketika ia mendengar penjelasan dari youtube tersebut. Aaron yang mendengar juga langsung melihat Heafen dengan wajah terkejut. Kemudian Heafen langsung berlari dan mengambil Hp miliknya, lalu membesarkan volume di video yt tersebut.
"Kondisi korban sebelumnya sangat kritis. Korban kehilangan banyak darah. Menurut keterangan polisi, korban di tusuk sebanyak tiga kali dan di tembak sebanyak lima kali. Tusukan pisau terkena di bagian dada dan bagian perut korban. Sedangkan peluru hampir saja mengenai organ vitalnya sehingga dokter harus mengoperasi korban selama berjam-jam. Sekarang keadaan korban sedang koma"
Heafen dan Aaron sedari tadi sudah berlari ke mobil mereka sambil mendengarkan berita di youtube tersebut. Aaron membaca artikel untuk mencari rumah sakit tempat aku di rawat.
Mobil Heafen melaju sampai ia menerobos lampu merah. Setelah itu, Haefen melpon Greysie. Namun Greysie tak menjawab telpon Heafen.
#
Sementara itu, di sekolah. Cassie sedang berbicara berdua dengan Riska untuk menanamkan benih-benih kebencian padaku. Mereka sedang berada di atap sekolah.
"Sekarang lo percaya kalau semua itu emang perbuatan si Cara?" ucap Cassie bertanya.
Riska masih memeriksa foto-foto di hp Cassie. Itu adalah foto tas hitam yang di mana berisikan pisau, topi, kaus tangan dan juga sepasang sepatu berwarna hitam.
Selain itu, ada juga videoku yang sedang memakai jubah hitam. Foto seseorang yang sedang asyik membunuh ayah Greysie, seperti isi flashdick Greysie, juga ada.
"Gua juga yakin kalau si Cara yang nakut-nakutin elo, karena itu bukan gua. Lo yakin gak nemuin apapun saat itu?" tanya Cassie.
"Ada! Tapi itu punya elo bukan punya Cara" jawab Riska, kesal. Ia masih ragu dengan perkataan Cassie padanya.
"Milik gua? Lo yakin? Emang apaan?" tanya Cassie, penasaran.
Riska kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Itu adalah anting-anting sebelah kiri. Cassie kemudian tersenyum, tangannya menggeledah kantung baju sekolahnya, lalu mengambil pasangan dari anting tersebut.
"Hn, lo tau siapa yang ngasih gua anting ini?" ujar Cassie memperlihatkan anting tersebut. Riska hanya menatap biasa.
"Si Cara, dia sengaja ngasih gua anting ini buat ngefitnah gua, ini bukan anting gua tapi anting dia" jelas Cassie.
Namun Riska tak langsung begitu saja percaya dengan ucapan Cassie.
"Hn, ngapain si Cara ngasih lo anting? Emang loe sahabat dia? Emang lo si Greysie?" ujar Riska, tersenyum ejek.
__ADS_1
"Ya buat ngefitah gua lah, lo aja yang gampang banget percaya sama omongan Cara" ujar Cassie.
"Emang siapa yang bilang kalau si Cara ngomong ke gua kalau itu, elo? Kenak kan lo! Lo pikir gua bisa buat lo permainin? Jangan kegeeran lo, lo pikir saat itu gua percaya sama lo? Gua cuman mau buktiin aja perkataan lo, apa bener si Greysie beneran marah ke Cara" ujar Riska, mencela.
"Tapi omongan gua bener kan? Kalau si Greysie emang beneran marah? Berarti si Cara emang salah. Greysie kan sebelumnya gak pernah kek gitu, dia gak bakalan diem aja kalau ada orang yang gangguin Cara, tapi lo udah buktiin sendiri kan si Greysie beneran gak peduli sama si Cara" ujar Cassie.
"Ya.. Siapa tau elo yang lagi fitnah si Cara sekarang. Lagian emang lo siapa sampai si Cara mau banget buat gefitnah lo? Emang lo ada urusan apa sama dia? Kegeeran banget, nying" ujar Riska, memaki.
"Njirr gak percayaan banget. Kok lo selalu ngebalin si Cara sampai segitunya? Padahal selama ini dia nginjek-injek harga diri elo" ucap Cassie, membentak.
"Nying, ngelunjak ni anak. Itu urusan gua bukan urusan elo! Lo udah selesai ngebuat cerita? Mending gua pergi. Buang-buang waktu gua aja" cela Riska.
"Okay, tunggu! Si Cara itu benci sama gua karena dia pikir ayah gua yang udah ngerampas ide ayah dia, terus dia nyalahin ayah gua atas kematian keluarganya. Makannya dia fitnah gua, dia pengen gua menderita" jelas Cassie.
"Hnh, mungkin aja bokap lo emang beneran udah nyuri ide bokap dia" ujar Riska, menatap ejek.
"Okay, kalau lo masih gak percaya. Gua punya bukti lain. Saat itu gua nyuruh orang buat geledah rumah si Cara, gua juga nyuruh mereka buat ngerekam and mereka nemuin tas yang lo liat tadi di bawah tempat tidur Cara" jelas Cassie, lalu memperlihatkan Video pada Riska.
Mimik wajah Riska seketika berubah setelah ia melihat video itu. Ia mulai percaya dengan perkataan Cassie. Kemudian tangan Riska pelan sedikit meremas hp milik Cassie.
"Jadi lo percaya sekarang kalau si Cara yang udah nakut-nakutin lo?" ujar Cassie, bertanya.
"Gak, gua gak percaya" jawab Riska, melangkah pergi meninggalkan Cassie begitu saja.
Sementara itu, Cassie malah tersenyum sambil bersender di tiang pembatas bangunan atap sekolah. Ia tersenyum miring sambil melihat Riska dari belakang.
Setelah Riska pergi, Cassie mulai tertawa pelan, lalu di akhiri senyuman miring yang mengukir bibirnya.
"Hahahahaha, Haaaaa... Hn"
"Dia pasti bakalan makin benci sama tu Cara. Tapi... Kenapa anting sebelahnya ada di dia?" batin Cassie.
#
Di dalam kelas, Riska sedang kesal. Ia tak ingin mempercayai omongan Cassie. Namun semua bukti tak bisa ia hiraukan begitu saja.
Tak lama setelah itu, Riska malah termenung. Memori terlintas di pikirannya membuat ia mengingat kembali kenangannya bersamaku dua setengah tahun yang lalu (Bab 13- Bab 14 Part 1).
Kemudian Riska tersadar dari lamunanya. Ia sedang duduk bersender di kursinya sambil melihat plafon sekolah.
"Sebenernya ada masalah apa antara Cara dan Cassie? Cara juga dulu pernah bilang ke gua kalau gua harus hati-hati sama si Cassie karena dia gak sepolos yang gue kira. Gue yakin pasti ada sesuatu yang terjadi" batin Riska.
"Lo udah tau gak, Ka?" tanya Mindy, tersenyum puas saling melirik pada Zey dan Putri.
"Hn, tau apa?" tanya Riska, masih dengan posisi duduk yang sama.
"Si Cara udah kena karmanya hahahaha" lanjut Zey, memberitahu.
"Maksud lo?" tanya Riska, melihat mereka.
"Lo pasti seneng. Si Cara udah kena karma. Hahahaha, dia sekarang koma di rumah sakiit. Rasain! Hahahaha..." sambung Putri, lalu tertawa.
"Apaah?!!" ucap Riska, seketika berdiri.
"Iya, bener. Udah banyak kok beritanya. Katanya ada orang yang punya dendam sama dia. Terus nembak dan nusuk dia berkali-kali sampai si Cara hampir mati. Katanya sebelumnya keadaan dia kritis and sekarang dia koma" ujar Zey, menjelaskan. Sedangkan Putri dan Mindy mengangguk setuju.
Mendengar omongan dari teman-temannya membuat Riska segera berlari keluar kelas. Ia tak peduli dengan teman-temannya yang terus memanggilnya.
"Ka, Kaa... Lo mau kemana?" panggil Zey, menatap heran.
"Riska kok... kek cemas banget sama si Cara?" tanya, Mindy menatap Zey dan Putri.
"Iya, heran gua. Selama ini dia juga diam aja kalau si Cara ikut campur sama urusan kita" sambung Zey, keheranan.
"Malah gua juga ngerasa kalau dia sering ngebelain si Cara. Masa dia sama sekali gak marah soal Alfi dan Cara waktu itu. Padahal gua pengen banget supayaa kita kasih pelajaran sama si cewek sok cantik itu" lanjut Putri, mukanya memalas, lalu ia bersilang tangan.
Sementara itu Mindy dan Zey mengangguk setuju pada Putri dengan muka malas mereka.
Di depan sekolah, Riska sudah sampai di depan mobil miliknya. Ia bingung harus menelpon siapa untuk menanyakan keadaanku dan juga tempat aku di rawat. Karena merasa bingung, Riska mencoba untuk mencarinya di internet. Untung saja ia menemukan artikel yang memberitahukan tentang nama rumah sakit tempat aku di rawat.
Setelah mengetahui nama rumah sakit tempatku di rawat, Riska segera menginjak gas mobilnya, membuat mobilnya melaju menyalip setiap kendaraan yang ada.
Memori-memori ingatan Riska mulai terlintas di pikirannya. Sedang wajahnya terlihat sangat cemas bersama air matanya yang ikut mengalir.
"Raa" batin Riska, sedang air matanya terus menetes, di iringi memori yang mulai terlintas kembali di pikirannya.
Saat itu, setelah aku menjelaskan tentang kesalahpahaman antara kami. Seperti perkiraanku Riska mulai meledekku setelah ia membaca chat aku dan Heafen (Bab 4 Part 2).
Bebara saat kemudian, Riska tiba di rumah sakit. Ia melihat Heafen dan Aaron bertanya pada resepsionis.
"Sus, pasien atas nama Cara Callista di rawat di ruangan mana?" tanya Heafen, wajah cemasnya terlihat sangat jelas.
Suster langsung mencek komputer di depannya, matanya mencari namaku, mencari ruangan tempat aku di rawat. Kemudian suster memberitahu mereka jika aku telah di pindahkan ke ruang ICU (intensive care unit) setelah operasi selesai di lakukan.
Mendengar hal itu Heafen dan Aaron segera berlari menuju ruang Icu. Rasa takut menyelimuti Heafen, ia sangat terkejut dengan apa yang sedang terjadi. Mereka pergi sebelum Riska bisa menyapa. Kemudian Riska juga mempercepat langkahnya, lalu bertanya kepada resepsionis rumah sakit tersebut dengan pertanyaan yang sama.
Resepsionis memberitahu Riska jika aku sedang berada di ruang Icu, di mana ruangan khusus yang di sediakan rumah sakit untuk merawat pasien dengan kondisi yang membutuhkan pengawasan ketat dari para dokter.
Kemudian Riska segera berlari mencari ruangan Icu. Beberapa saat kemudian, Haefen dan Aaron sudah tiba, diikuti Riska yang baru saja sampai.
Di depan ruangan Icu, terlihat Rasya sedang berbicara pada Aric. Sementara wajah cemas sangat terlihat jelas di wajah mereka. Bibi dan Lia juga tak henti mengusap air mata mereka yang terus mengaliri membasahi pipi mereka.
Sementara itu, Greysie sedang berada di dalam ruangan icu untuk menemuiku. Rumah sakit hanya memperbolehkan satu orang saja yang bisa mengunjungi pasien secara bergantian.
"Raa, jangan tinggalin aku pliss. Aku gak mauu, cuman kamu yang ngertiin aku selama ini. Cuman kamu yang selalu ada untuk aku. Kalau kamu pergi, ajak aku ikut kamu. Aku gak mau sendiri. Kamu udah janji kalau kita bakalan sama-sama terus. Maafin aku, aku cuman kepengen kita buat cepat selesain semuanya supaya trauma kamu gak terlalu ngegerogoti hati kamu terus karena aku gak bisa lihat kamu terus-terusan kek gitu. Maafin akuu..." ujar Greysie, gemetar. Sedang tangannya memegang tanganku.
Greysie kemudian menatap benci saat ia teringat dengan seseorang yang melukaiku sebelumnya.
"Gua bakalan balas elo berkali-kali lipat karena udah buat Cara jadi kek gini" batin Greysie, sedang matanya menatap benci.
"Kalian bakalan lebih menderita bahkan sampai mati pun! Gua akan bunuh kalian semua!" gumama Greysie, tangannya mengepal.
Greysie kemudian berdiri. Ia melepas genggaman tangannya terhadapku. Matanya menatap benci dan marah. Saat ini Greysie nampak tak sadar, ia di penuhi emosi yang menggebu.
"Gua bakal bunuh kalian semua sekarang!" batin Greysie, terus melangkah keluar kamar.
"Kalian harus mati di tangan gua. Harus mati! Harus mati! Harus mati! Harus mati!" batin Greysie.
Pintu ruangan terbuka yang di mana membuat semua mata langsung tertuju pada Greysie. Sementara itu, Greysie tak memperhatikan sekitar. Ia hanya terus berjalan dengan perasaan marah yang masih menggebu di dalam hatinya.
"Harus bunuh sekarang! Harus sekarang! Mereka semua harus mati sekarang! Gua harus bunuh mereka semua sekarang!" batin Greysie.
Bersambung...
__ADS_1