
Greysie segera membawaku ke rumah. Ia lalu membaringkan aku ke tempat tidur.
Besoknya, masih dalam hari libur. Pada jam 08:50 pagi. Aku bermimpi tentang Vyora, itu adalah ingatan saat-saat kami bersama.
Ingatanku terus membawaku sampai aku melihat mayat Vyora. Wajahnya yang bercampur darah itu nampak tak asing di mataku. Rasanya aku ingin memeluk serta menangisinya kepergiannya untuk kedua kalinya.
"Ra, kamu sebaiknya berhenti masuk ke dalam lubang iblis. Aku takut kamu gak akan bisa keluar lagi" ujar Vyora.
Di belakang Vyora terlihat cahaya yang begitu terang. Dia pun berjalan menuju cahaya itu dan melepas genggaman tanganku darinya.
"Pliss, jangan tinggalin aku juga. Bawa aku Vi," menangis sesegukan, "Bawa aku juga" pintaku, memohon dengan air mata.
"Kamu harus nemuin kebahagian, kamu Ra. Aku seneng kamu udah dapet temen yang selalu bisa bantuin dan selalu mencoba untuk memahami kamu. Aku harap kamu jangan cepet-cepet nyusul aku. Kamu harus bahagia, Ra" ujar Vyora.
"Vi. Jangan tinggalin aku. Vi, Vyoraa!" teriakku berlari kearah cahaya.
Namun aku malah terbangun. Sementara Greysie sedari tadi terus mengusap air mataku yang jatuh.
Saat aku bangun Greysie langsung memeluk erat diriku, seakan tak ingin melepaskan.
"Kenapa semua orang ninggalin aku" ucapku, lirih.
"Ra, kamu kenapa jadi gini. Huhuuu. Pliss aku gak bisa lihat kamu kek gini terus" ujar Greysie, menangis terseduh-seduh.
"Gr, eyy. Grey.. Kamu meluknya kekencengan. Grey, uhuk, uhuk" ujarku sambil menepuk pundak Greysie.
"Emf. Maaf, maaf Ra" ucap Greysie, sedang bibirnya mengkerut dan gemetar menahan tangis.
Aku segera bangun dan kembali memeluk erat Greysie.
"Grey," berhenti memeluk, "kita udahi aja rencana aku gimana? Aku.. Gak mau kamu ninggalin aku juga sama kek yang lain" ujarku, pelan.
"Kamu jelasin dulu, semalam kamu kenapa?" tanya Greysie.
"Emm, itu..." ucapku.
"Ra, bisa gak kali ini aja. Pliss ceritain ke aku" pinta Greysie, memohon.
"Emm, itu... Dia.. Vyora, emm... Semalam... Aku.. lihat mukanya mirip banget sama teman aku dulu. Dan namanya juga," gemetar, "ssamma... Dia.. Dia beneran Vyora teman aku, dan dia bener-bener udah ninggalin aku, huhuu. Kenapa semua orang ninggalin aku Grey? Apa kamu juga bakalan ninggalin aku sendiri?" tanyaku dengan isak tangis.
"Aku gak bakalan ninggalin kamu. Udah, udah gak usah nangis lagi, hm?" ujar Greysie menghapus tiap-tiap air mataku, dan tersenyum.
"Caraa. It's my best Friend, dia gak mau nangis di depan orang laaain~~ tapii~~ selalu nangis di depan aku. Huuuu~" Greysie malah bernyanyi, lalu tersenyum kecil sambil memelukku.
"Ahh!" ucapku, melepas pelukan dan mendorong Greysie menjauh dariku.
"Kalau mau bercanda lihat time Grey. Lihaatttt. Bikin mood orang ilang aja. Udah lo pergi sana!" ujarku, lalu mengusirnya.
__ADS_1
"Hn, hahahaha. I'm sorry Ra" ucap Greysie masih dengan nada mengejek.
"Berisik lo. Bedain kapan waktunya serius dan becanda. Jangan di samain mulu, ngeselin banget" ujarku, lalu bersender di tempat tidur, bersilang tangan dengan mimik kesal.
"Iya, iya. Maaf. Maaf Raa" ujar Greysie dengan mimik cerianya.
"Tau gak" ucap Greysie, sedang ia mendekatkan mulutnya pada telingaku.
"Aku gak nyangka ada orang lain yang bisa buat kamu trauma kek gitu selain aku. Apa Vyora itu lebih bergarga dari aku?" bisik Greysie, bertanya.
"Gua harus balas dendamnya Vyora sama mereka" ucapku, pelan.
Aku tak memedulikan Greysie lagi. Hal itu membuat dia sangat kesal.
"Ckk!" gerutu Greysie, menatap kesal.
Greysie duduk menjauh dariku dan bersender di tempat tidur dengan tangan bersilang. Wajah kesalnya itu terlihat sangat jelas.
Mataku meliriknya, lalu aku tersenyum kecil. Setelah itu aku mendekat sedang kepalaku, aku sandarkan di paha Greysie.
"Hmfff, kalau gak ada sahabatku yang satu ini.. Mungkin aku udah nyerah dari dulu. Mungkin.. Aku gak bisa lakuin semunya sendiri. Mungkin.. Aku bakal terus sendiri. Mungkin.. Aku bakal Mat.." ucapku tak selesai.
Greysie langsung membungkam mulutku sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku selanjutnya.
"Jangan pernah ucapin kata itu di depan gua" perintah Greysie, mendominasi.
Sedangkan aku hanya bisa mengangguki perkataanya.
********
Sementara itu. Dua pria yang akan pergi Camping/hikking menemukan mayat Vyora. Mereka lalu menelpon polisi.
Beberapa saat kemudian, Polisi datang. Di sana juga ada Rasya, Agus, dan Antoy.
"Kenapa? ...." tanya Rasya tak selesai, keingnya mengkerut.
"Kenepa pak?" tanya Agus.
"Ini seharusnya... Apa pembunuh berantai yang sudah membunuhnya? Tapi.. Aku yakin kalau keluarga Milstone yang melakukannya, tapi.. Tapi kenapa? Kenapa ini?" batin Rasya, bertanya sedang ia terus memperhatikan dua jari Vyora yang hilang.
"Atau jangan-jangan pembunuh berantai yang sebenarnya adalah keluarga Milstone?" tanya batin Rasya lagi.
"Kenapa pak?" tanya Agus sekali lagi.
"Em, ini... Perbuatan.." ujar Rasya tak selesai.
"Pembunuh berantai. Saya juga sudah menduga hal itu pak, jejak pembunuhannya sama" jelas Antony menyela Rasya.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam kamar Angline. Dia terus saja menangisi sahabatnya yang entah di mana dan bagaimana kabarnya.
Kemudian Angeline memutar tv dengan harapan dia tak akan mendengarkan berita yang tak ingin dia dengar. Tetapi dia tetap memutar berita di tv.
"Hari ini telah di temukan kembali korban pembunuhan berantai. Korban kali ini merupakan taruni Akademi Militer, namanya adalah Alea Vyora. Dia merupakan anak dari pemilik..."
Angeline langsung berlari keluar dari kamarnya dan menelpon kakaknya, Rasya.
Di Tkp Rasya mendapat telpon dari Angeline dan segera menjawabnya.
"Kakak...!" teriak Angeline di telpon.
"Kakak di mana sekarang? Kenapa gak ngasih tau aku? Kakak di manaa?!" tanya Angeline yang sedih itu namun juga emosi.
Rasya mau tak mau harus menjawab pertanyaan dari adiknya. Kemudian Angeline langsung pergi ke tempat yang di berikan Rasya.
Tiba di Tkp.
"Vyoraa...! Vi... Huhuuuu, biarin aku masuk. Kakak.. Huhuu" teriak Angeline, berusaha masuk.
"Pak, biarain dia masuk" perintah Rasya.
"Siap, pak" ucap polisi tsb.
"Vyora... Hmm, vi.." Angeline terus memanggil dan menangis.
"Dek, dek. Kamu jangan sentuh tubuhnya dulu karena masih harus di periksa, hm?" jelas Rasya.
Sedangkan Angeline terus menangis di samping mayat sahabatnya. Ia ingin memeluk sahabatnya itu namun tak bisa, jadilah ia memeluk kakaknya sambil menangis sesegukan.
Beberapa saat kemudian, setelah polisi selesai melakukan investigasi. Mayat Vyora telah di bawa ke rumah sakit untuk di Autopsi.
*Rumah sakit.
Di sana, kedua orang tua Vyora datang untuk melihat jenazah anak mereka. Mereka tak henti menangisi kepergian anaknya.
Di saat anaknya akan di baluti kain kafan barulah mereka datang, menyesal dan menangisi kepergian anaknya itu.
"Siapa yang sudah melalukan ini kepada anak saya? Siapaaa?!!" tanya Ayah Vyora, memegang kerah Rasya.
Sedangkan Ibu Vyora terus menangis sampai duduk tersungkur menatap jenazah anaknya.
Angeline juga berada di sana, ia tak henti menangis sampai jatuh pingsan.
"Dek, adek...!" teriak Rasya, menangkap adiknya.
Bersambung...
__ADS_1