
Apa yang kita rencanakan, hasilnya tidak akan selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita.
********
Greysie merasa bersalah atas perbuatannya padaku. Ia terus merawatku selama seminggu, ia tak pernah meninggalkan aku sampai terus meminta izin dari sekolah. Padahal sekolah kami tak lama lagi akan melaksakan ujian kelulusan untuk siswa kelas 3 seperti kami.
Selama seminggu itu, Greysie terus menceritakan padaku semua hal bahagia, dia membantuku untuk mengingat semuanya kembali, namun meskipun aku bisa mengingatnya. Aku masih saja trauma dan merasa takut kalau semua ini hanyalah mimpiku belaka. Aku masih belum bisa membedakan mana dunia nyata dan mimpi.
Sampai saat Greysie berkata tentang janji yang kami buat bersama, membuatku seketika tersadar dan mengingat semua yang terjadi pada keluargaku. Tanganku mengepal seketika aku mengingatnya.
"Fu*k you! lo apain gua Grey, hah?!" tanyaku, membentak.
"Maaf Ra, aku lakuin itu semua demi kamu" jawab Greysie.
"Fu**k Grey, gua udah pernah bilang ke elo, kalau gua gak lagi main-main, gua gak punya waktu buat jadi gini, an**ing!" ujarku mencela, untuk pertama kalinya aku juga mencela dengan perkataan anj*ing.
Greysie hanya menatap sedih dengan tatapan bersalah padaku.
"Grey, kita udah janji buat ngelakuin semuanya sama-sama, kalau aku gak balik lagi kek dulu, gimana, Greyyyy?" tanyaku, menatap sedih padanya.
"Aku tau Ra, maafin aku... aku gak tau kalau perbuatan aku bisa bener-bener buat kamu trauma, maafin aku" ucap Greysie langsung memeluk erat diriku.
"Aku seneng kamu bisa balik jadi diri kamu lagi, Raaa" ungkap Greysie, ia menutup mata sambil memeluk erat.
Lima hari kemudian. Kami mulai bersekolah seperti biasanya. Lukaku juga sudah membaik. Semua berjalan seperti hari-hari biasanya. Namun aku baru saja bersekolah dan tidak mengetahui apapun selain Ayah Greysie yang telah meninggal.
Enam hari yang lalu, aku memasukan semua bajuku ke dalam koper kemudian pergi ke rumahku. Tetapi entah mengapa malah Greysie yang marah padaku, seharusnya aku yang marah padanya. Dia tak menegurku selama berhari-hari. Padahal aku sedang tidak ingin bertengkar, malah dia yang jadi silent treatment padaku saat ini.
Di sekolah.
"Katanya papanya di bunuh oleh pembunuh berantai" bisik sisiwa di dalam kelas.
"Iya bener," mereka sahut- menyahut.
Greysie dengan perasaan marah mengepalkan tangan, lalu memukul meja miliknya. Ia beranjak pergi dari kelas. Kemudian aku menahan, menggenggam tangannya. Ia melepaskan tangannku secara kasar dan pergi begitu saja. Sudah sekitar satu minggu sejak apa yang terjadi, ia terus diam.
"Harusnya gua yang marah, kok malah dia" batinku, aku menatapnya keluar kelas.
Beberapa menit kemudian, Greysie kembali ke dalam kelas. bola matanya melirik sekitar mencari keberadaanku.
Greysie kemudian duduk di tempatnya. Cassie sedang berbicara dengan Riska serta teman-temannya. Ini adalah hal yang tak biasa terjadi. Beberapa menit kemudian, aku masuk ke dalam kelas. Riska seketika berdiri dari tempatnya. Aku melihatnya, ia langsung berjalan ke arahku, langsung menamparku.
"Plaaaaaak......!" tamparan, membuatku memalingkan wajah. Aku meliriknya pelan. Jari telunjukku sedikit bergerak, namun aku masih terdiam, tak merespon apapun.
Greysie hanya melihatku, ia memalingkan wajah tak peduli dengan apa yang terjadi.
"Ternyata elooo, yaa!" ucap Riska, jari telunjuknya menunjuk wajahku.
"Maksud?" tanyaku singkat.
"Udah, jangan pura-pura lagi lo, anj**ing" cela Riska.
Mindy datang, langsung menyirami bajuku dengan minuman cokelat. Aku melihat bajuku dengan ekpresi datar, lalu aku tersenyum padanya.
"Hmm, thank u, gua emang mau warnai baju gua" ucapku, berterima kasih pada Mindy.
"Lihat kan Ka, dia emang ngelunjak anaknya, selama ini dia udah nginjek-injek harga diri eloo Kaaa" ujar Mindy melihat Riska.
Kemudian Zey, Putri dan Raya datang untuk menghampiriku. Putri menarik paksa tangan Raya, dan ia terpaksa ikut.
"Kalian mau nuduh gua apaan, sumpah" tanyaku dengan mimik wajah biasa.
"Anjirr, ta*ik loo!" cela Zey langsung menarik tanganku, sedangkan Putri mengambil spidol berwanah merah milik salah satu siswi di kelas kami. Dia mulai mencoret bajuku dengan tulisan Pembunuh, sedangkan aku hanya diam dengan apa yang mereka lakukan.
"Lo yang udah bunuh Vanya kan, ngaku lo!" tukas Zey memegang kerah bajuku. Aku langsung berbisik padanya, lalu tersenyum biasa.
"Anj**ng!" maki Zey lansung menamparku.
"Plaaaaaak.....!"
Greysie melirik, tetapi dia hanya diam. Lalu ia merobek kertas sampai benar-benar kecil. Sedangkan Riska dan Putri penasaran apa yang aku bisikan pada Zey.
"Dia bilang apa, Zey?" tanya Putri.
"Anj**ing, dia bilang iya ke gua, dia ngaku kalau itu emang dia" jelas Zey pada mereka.
"Anj**ng! udah gila kali, ya" maki Riska dan Putri bersamaan.
"Kalian denger kan? dia ngaku sendiri kalau itu emang dia" ucap Putri pada siswa-siswi di dalam kelas, membuat mereka berteriak.
"Huuuuuuuuu" teriak siswa serempak, mereka lalu mengambil kertas dan melemparkan padaku, semua barang tertuju padaku. Aku hanya diam.
"Dasar pembunuh!" maki Riska.
"Punya bukti?" tanyaku padanya.
"Anj**ng, lupa ingatan, yaa!? barusan loe sendiri yang bilang ke gua kalau loe yang bunuh Vanya, gila kali ya!" sela Zey.
"Mana buktinya kalau gua bisik kek gitu, bisa jadi elo ngarang sama ucapan eloo" sambungku dengan ekspresi biasa.
"Lo ngarang, Zey?" tanya Riska sedikit berbisik. Aku menyimak.
"Ya gak lahh, masa loe lebih percaya dia sih, daripada gua, Kaa" jawab Zey, wajahnya memalas.
"Gua percaya ama lo, Zey" sahut Putri.
"Gua juga percaya" sambung Mindy.
"Kaaa, dia emang hobi banget mainin orang, lo gak sadar selama ini? kata-kata dia itu sering banget manipulatif semua orang di sekolah ini, benar atau gaknya perkataan dia orang-orang bakal percaya" ucap Zey.
"Iya, bokap loe sampai hukum loe cuman gara-gara dia, gua yakin kalau otak bokap loe juga di manip sama dia" sambung Mindy.
"Kalau gitu, gua duduk dulu, thank u cokelatnya, manis" pamitku, tersenyum biasa. Namun mereka tak suka dengan senyumku, menurut mereka aku seperti mengejek.
"Elooo, anj**ng!" cela Riska menarik rambutku dari belakang, aku hanya menatapnya. Dia mendorongku sampai membentur dinding.
"Aaaaish, fuuuh" ucapku, menghela napas.
"Elo masa gak bisa mikir sih? mana ada maling yang ngaku? kalau gua ngaku berarti bukan gua" ucapku pada Riska.
__ADS_1
"Ka, jangan percaya omongan dia, lo jangan kemakan omongan dia lagi" bisik Zey.
"Iya, bener tu, Kaa" sambung Putri dan Midy, sahut- menyahut.
Riska kemudian membuatku berdiri, lalu mendorongku ke dinding. Ia memegang kerah bajuku dan berbisik padaku.
"Loe apain bokap gua sampai dia belain loe terus?" tanya Riska berbisik, membuatku menahan senyuman.
"Maaf, maaf, aku gak sengaja" ucapku, masih menahan senyum di bibirku.
Riska tak senang melihatku, ia merasa sangat di rendahkan. Lalu, ia mulai mencekik leherku, wajahku memerah karena kehabisan oksigen.
Alfie tak tahan melihatku, ia langsung berdiri, berteriak pada Riska serta teman-temannya.
"Stop! kalian stop!" teriak Alfie langsung menghampiri Riska. Ia berusaha melepaskan tangan Riska.
"Uhuk, uhuk, uhuk," memegang leherku, napas tersentak.
"Kamu gak pp?" tanya Alfie. Aku mengangguk.
"Kamu kok gak ngelawan, Ra?" tanya Alfie.
"Gak pp, aku cuman capek aja, uhuk" lirihku pelan.
"Ah? sorry-sorry aku gak denger, kamu ngomong apa barusan?" tanya Alfie lagi.
"Gak, aku gak pp" jawabku. Alfie lalu berdiri, ia melihat Riska dan temen-temannya.
"Kalian ngapain? nuduh Cara sembarangan, hah?" tanya Alfie.
Muka Riska sangat tidak enak jika di pandang, wajahnya semakin malas. Ia semakin membenciku, karena cowok incarannya malah membela diriku. Ia mengepalkan tangan sambil menatap benci padaku.
Greysie dari tadi hanya diam, yang ia lakukan hanyalah merobek kertas bukunya menjadi potongan-potongan kecil.
Tak, lama setelah itu, bel pulang berbunyi. Greysie langsung berdiri. Ia pergi begitu saja, tanpa melihat kearahku.
"Makasih Alfie, aku pergi" pamitku langsung mengejar Greysie.
"Tung..." ucap Alfie tak selesai, ia melihat yang berlari mengejar Greysie.
"Grey, Grey...." panggilku, ia tak mau berhenti. Aku terus mengerjarnya.
Setelah sampai di depan mobil miliknya, ia ingin membuka pintu mobil, namun aku menghalanginya.
"Biar aku yang nyetir" ujarku, merampas kunci mobil miliknya.
Di dalam mobil terasa sangat hening. Tak ada yang berbicara di antara kami.
"Kamu udah beberapa hari diemin aku Grey, gak pp kamu diemin aku, tapi pliss jaga kesehatan, kamu malah terus lihatin sesuatu di laptop kamu itu, emang itu apaan, aku boleh lihat gak?" tanyaku.
"Gak!" jawab Greysie ketus. Sontak, aku langsung melihat kearahnya.
"Udah mau bicara lagi?" tanyaku, namun ia lagi-lagi diam.
"Hey, kok jadi loe yang marah ke gua, harusnya gua yang marah, kalau gua udah gak bisa balik kek dulu lagi, loe mau gitu?" tanyaku. Ia melirikku dengan mimik tak suka.
"Nah, akhirnya bicara juga" ucapku.
"Gua balik itu karena khawatir sama loe anjirr, selama lo buat gua kek orang gilaa, ternyata bokap loe udah..." jelasku terhenti berkata.
"Udah apa? udah mati? gak usah di tahan, tinggal bilang aja udah mati!" sambung Greysie dengan nada suara yang sangat menjengkelkan jika di dengar.
"Oh may god! fuckk!" teriakku, menghentikan mobil. Greysie sama sekali tak peduli.
"Uuuuff, fuuuuuh, sabar, sabar" bisikku pada diriku sendiri.
"Grey..." panggilku, melihat kearahnya. Ia hanya diam.
"Kamu tau kan, aku kalau marah pasti diem, kalau punya masalah pasti diem, selalu diem dan nyimpen semua sendiri, maafin aku, aku tau kamu sahabat aku, tapi aku gak pernah mau cerita ke kamu, aku cuman ingin kamu tau, kalau aku beneran sayang ke kamu, kita udah sahabatan lama, kalau hubungan kita beneran rusak, aku gak pp, kamu gak harus terus ikutin aku, nanti malah kamu yang luka, aku gak mau kamu kenapa-kenapa" ungkapku. Greysie hanya menatap keluar jendela. Aku tak melihat wajahnya.
"Aku... cuman ingin kasih tau kamu satu hal tentang aku, kalau aku bisa jadi bener-bener lemah, kek.. aku udah gak sanggup lagi, mungkin karena terlalu banyak numpuk semuanya sendiri, bis buat aku down banget, padahal aku selalu bilang ke kamu kalau kita gak boleh lemah, tapi sebenarnya malah aku yang paling lemah. Kamu tau? aku sering keluar malem kalau lagi hujan, kamu tau aku nagapain? aku tidur di luar rumah, aku biarin dinginnya hujan buat nembus kulit sampai daging aku, terus semisal gak hujan, kamu tau apa yang aku lakuin? aku teriak di balik selimut atau bantal aku, atau aku diam di dalam kamar mandi semalaman, air krannya aku biarin nyala, meskipun gak sedingin air hujan" jelasku. Greysie masih tak mau melihatku.
"Terus..., aku... sebenarnya gak terlalu bisa denger suara yang berisik, makannya aku selalu makai headsed buat nenangin pikiran aku, musik selalu ngehibur aku Grey, misal kalau aku bawa motor terus denger suara yang keras di jalan, biasanya aku langsung nutup mata, kamu gak bakal tau karena aku gak nutup telinga. Aku juga sering mau ngelukain diri aku sendiri, tapi aku gak bisa lakuin hal itu, sayangnya aku lebih pengecut dari kamu Grey, makannya tangan aku mulus gak kek kamu, kamu bukan pengecut kek aku yang gak berani buat ngelukain diri aku sendiri. Kamu tau gak apa yang aku lakuin biasa? aku malah nampar wajah aku sendiri, aku mukul diri aku, aku nangis semalaman, nangispun suara aku kecil, pengecut kan aku?" tanyaku melihatnya, ia masih saja membuang muka dariku.
"Hmff, makannya Grey aku selalu nolak kalau kamu minta aku buat nginep sama kamu, karena kalau aku sendiri, ya pasti aku bakal lakuin semua yang aku bilang tadi, aku gak mau kamu sampai lihat aku kek gitu, aku suka sendiri karena aku bebas buat lakuin apa yang aku mau sama diri aku sendiri" sambungku, memberitahu.
"Apalagi kalau malem, kepala aku berisik banget, aku terlalu sibuk bertengkar sama diri aku sendiri, makanya terkadang aku bisa jadi cuek banget, cuman dengan dengerin musik bisa buat aku sedikit tenang. Kamu selalu motong headsed aku sebenernya gap pp, tapi... kalau musik gak bisa buat nenangin diri aku, aku takut bakal uncontrol sendiri, aku harap kamu bisa ngertiin aku" jelasku panjang kali lebar, bagi tinggi.
"Dunia ini emang menakutkan Grey, alasannya karena kita di paksa untuk tertawa, selalu tersenyum, padahal saat malam... kita sama-sama berusaha keras supaya gak meninggalkan bekas-bekas goresan" lanjutku.
Greysie masih tak mau melihatku. Namun, aku masih bisa merasakan perasaan darinya yang menembus tepat di hatiku, rasa sakit itu memang nyata adanya. Aku pelan melihat bayangannya dari balik kaca hitam mobil setelah terkena cahaya dari kendaraan yang lewat.
Greysie tak bisa menyembunyikan dirinya yang sedang menangis setelah mendengar perkataanku padanya.
Setelah itu, aku tak mau lagi berbicara. Aku tak ingin memperkeruh suasana, karena aku berpikir dia mungkin masih sangat marah padaku. Entah apa yang membuatnya sampai begitu marah.
Sesampainya di dalam rumah Greysie. Ia langsung berbaring sedang aku duduk dan menatapnya.
"Gua salah apa sih Grey?" batinku.
"Apa mungkin... pas gua sakit kemarin gua ngatain sesuatu yang gak-gak ke dia? lagian dia kenapa maksa gua buat minum obat tidur terus? sebenarnya dia ngapain sih?" batinku terus bertanya.
Beberapa jam berlalu. Aku menunggu sampai Greysie tertidur, karena aku yakin Greysie menyembunyikan sesuatu dariku.
"Gua harus periksa laptopnya dia" batinku.
Pukul 02:10 tengah malam. Aku bangun dan mulai memeriksa laptop milik Greysie.
"Kok pakai password, sih? tumben banget" batinku masih bertanya-tanya.
"Hm, masang password, tapi gak ada susah- susahnya, i'm your best friend Grey, easy for me" batinku, aku melihat Greysie yang tidur.
"Sebenarnya apa yang Grey lihat di sini" batinku masih bertanya.
Setelah itu, aku mulai memeriksa semua file di laptop miliknya, memutar video dan melihat semua foto. Tetapi aku hanya menemukan foto dan Video kami, dan layaknya anak sekolahan pada umumnya, laptopnya hanya di penuhi tugas dari sekolah.
Namun tak lama kemudian, aku teringat akan sesuatu sekitar seminggu yang lalu, sehari setelah aku pergi dari rumah Greysie. Aku balik ke rumahnya untuk mengambil barang-barangku.
Greysie sedang sakit, jadi aku hanya sehari berada di rumahku. Aku memilih untuk menemaninya, meskipun aku sedang marah padanya.
__ADS_1
Flashback seminggu yang lalu, setelah aku tersadar dari traumaku akibat obat yang di berikan Greysie. Aku langsung pulang ke rumahku, namun balik lagi untuk mengambil barang.
Di rumahnya, pada jam 15:20 sore. Seseorang datang untuk mengantarkan sebuah paket untuk Greysie. Aku berada di teras rumahnya, barang-barangku juga sudah ada di dalam taksi.
"Nanti bapak anter ke alamat itu aja, simpen aja di teras pak, nanti ada bibi yang ambilin" pintaku pada supir taksi.
"Iya neng, kalau gitu saya pamit" ujar pak sopir.
Setelah itu, aku langsung masuk ke dalam kamar. Aku melihat Greysie sedang tidur.
"Dari kemarin tidur mulu, hnh, jangan pikir gua bakal kejebak lagi" batinku.
"Hey, gua mau pulang sekarang" pamitku, langsung pergi. Namun ia tak menjawab. Aku sudah melangkah keluar, namun persaanku seperti tak enak, aku rasa dia sedang tidak berpura-pura.
Setelah sampai di depan lift, aku segera memencet tombolnya dan berusaha membuang jauh-jauh perasaanku.
"Aargh, gak, gak, loe jangan ketipu lagi Cara" batinku.
Saat pintu lift terbuka, kakiku melangkah namun perasaan ini membuatku gila, aku menjadi sangat gelisah, sehingga aku berhenti dan langsung berlari ke kamar Greysie.
Sesampainya di dalam kamar, aku langsung mengecek keninya. Dan ya, seperti kata perasaanku, dia sedang sakit.
"Lo beneran sakit?" tanyaku. Tak ada jawaban dari Greysie.
"Apa Grey sakit gara-gara ngerawat gua terus selama seminggu? waktu gua sakit itu dia... oh may god! gua lupa, Grey keknya lemes banget waktu itu, dia terus ngasih gua obat, tapi.. mukanya lesu banget kek orang yang gak tidur berhari-hari, kelihatan kecapean banget, kok bisa gua gak sadar? aaaahh, fuckk, gua gak suka sama semua yang terjadi sekarang, semuanya berantakan! kacau!" batinku meronta-ronta.
Setelah memeriksa dirinya, aku pergi mengambil basokom berukuran sedang bersama handuk kecil. Lalu aku mengompres handuk dengan air, segera ku letakan di keningnya.
"Grey..." panggilku menepuk tangannya.
"Hmm" jawabnya.
"Kamu udah makan?" tanyaku.
"Hmm" jawabnya.
"Beneran?" tanyaku memastikan.
"Hm, udah" jawab Greysie pelan, aku hampir tak mendengar suaranya.
"Kalau gitu kamu minum obat dulu" ucapku. Ia kemudian bangun dan mengambil sebutir obat dari tanganku.
"Gua baru inget semuanya sekarang, kondisi kamu waktu itu gak jauh beda dari aku, muka kamu kek udah capek banget, mungkin karena itu kamu nampar aku, maafin aku Grey, tapi aku masih belum ngerti kenapa kamu ngasih aku obat tidur terus-terusan" batinku, masih bertanya. Aku memandangnya meminum obat.
Greysie selesai meminum obat, aku langsung menyuruhnya untuk tidur. Kemudian aku pergi ke teras rumahnya, untuk memasukan motorku ke dalam bagasi rumahnya. Namun seseorang datang langsung menyapaku.
"Permisi mbak, mbak saya mau antar paket atas nama mbak Greysie, mbak Greysienya ada?" tanya Kurir.
"Hmm, dia lagi sakit, sini biar aku aja yang kasih ke dia" ucapku.
Di dalam Kamar,
"Grey, ada paket buat lo" ujarku memberikan barang tersebut.
"Hmm" sahut Greysie. Matanya masih tertutup.
"Lo masih demam?" tanyaku memegang keningnya. Aku sengaja mengejek dirinya.
"Bersikk!" bentak Greysie.
"Sihh anjiirrr, buat kesel aja ni anak" batinku.
"Hmm, masih panas badan loe" ucapku memeriksa lehernya.
"Kamu gak mau buka paket ini?" tanyaku.
"Paket apa, Ra" tanya Greysie pelan, masih dengan mata tertutup.
"Ck, giliran gua panggilnya gak pake, lo gua, jawabnya kek gitu, menyenyeyeyeye" gerutuku sendiri.
"Ini paket buat kamu, ni apaan, kamu gak mau buka?" ucapku, mimik wajah kebingungan.
"Hmm" ujar Greysie.
"Yaelah, ni anak buat kesel aja sih anjirrr, hnh" batinku. Kemudian aku mulai membuka paket tersebut, ternyata ada flashdisk di dalamnya.
"Hm, flashdisk?" batinku, aku mengrytkan kening.
"Grey, ini flash, aku simpan di atas meja" ujarku menaruh flashdisk tersebut di atas meja.
"Hmm" jawab Greysie.
Setelah aku mengingat kembali hal itu, aku langsung mencari flashdik tersebut. Tetapi tak bisa menemukannya.
Kemudian aku melihat Greysie. Secara pelan aku mulai menggeledah dirinya, ternyata flashdisk itu ada di dalam kantung celananya.
"Kok di simpen di kantung, sih" batinku, keheranan.
Setelah itu, aku langsung memasang flashdisk tersebut ke laptop milik Greysie. Di dalamnya terdapat sebuah video dengan beberapa foto. Aku terkejut melihatnya.
"Kok..," membulatkan mata, "ini kok..." batinku, lalu aku melirik Greysie.
Video tersebut memperlihatkan aku yang sedang berjalan memakai jubah berwarna hitam, sedang tanganku memegang sebilah pisau.
Beberapa foto di dalamnya memperlihatkan seseorang yang juga memakai jubah berwarna hitam sedang asyik membunuh ayah Greysie. Wajahnya tak terlihat jelas, karena foto tersebut membelakangi kamera.
"Hah? kok, ini... Grey," melihat Greysie, "aku... itu bukan aku, gak, itu bukan aku" batinku.
"Tapi kok video ini... tempatnya sama kek di foto ini, oh may god Grey, jadi selama ini loe pikir gua yang ada di foto itu" batinku, sambil melihatnya.
"Makanya loe terus diemin gua? loe pikir itu gua, Grey?" batinku. Aku langsung beranjak pergi, meninggalkan laptop yang masih menyala.
Motorku melaju. Aku pergi dari rumah Greysie, lalu aku berhenti di suatu tempat, kemudian aku pergi ke toiletnya.
Di dalam toilet tersebut, aku terus mencuci wajahku sambil melihat bayangan diriku di dalam cermin tersebut.
"Mata itu!" batinku, aku mengepalkan tangan.
Bersambung...
__ADS_1