
Dunia ini terus saja mempermainkanku. Aku akan balas mempermainkannya.
********
"Ra, bangun Ra!" ucap Greysie, membentak.
Dua minggu Kemudian. Saat ini, di rumah sakit Medical Houspitals, tepatnya di dalam kamar Icu. Aku terbangun karena mendengar suara Greysie.
"Haaaaa, huh, huh," (kaget, membuka mata, bernapas cepat).
Mataku melirik sekitar, badanku ikut miring ke kanan sambil tanganku melepas masker oksigen dari wajahku. Perlahan aku beranjak turun dari tempat tidur. Namun, aku terjatuh karena badanku masih merasa lemas dan kepalaku juga sangat pusing. Di waktu yang sama, Greysie membuka pintu kamar rumah sakit dan melihatku terjatuh.
"Raa!" teriak Greysie, menghampiriku.
"Ra, you okay? kamu udah sadar, aku.. kira kamu bakal tinggalin aku," memeluk, "kita ke tempat tidur ya, aku bakal panggil dokter" ujar Greysie, memapah, lalu membaringkanku ketempat tidur.
Dokter Aric datang. Ia mengecek mata, tekanan darah, denyut nadi, denyut jantung, dan komputer detak jantung.
"Lihat jari aku," (dua). "Ada berapa?" tanya dr. Aric.
"Dua" jawabku, lirih.
"Ini sebuah keajaiban, kamu bisa bangun dari koma Callista. Semuanya terlihat normal kecuali darah kamu. Darah kamu sedang naik, apa kamu sedang marah sekarang?" tanya dr. Aric.
Mataku pelan melirik Greysie. Aku menatap benci padanya. Sedangkan Greysie melihatku dengan ekspresi datar. Lalu, aku menggeleng untuk berkata tidak pada Aric.
"Sebaiknya, kamu jangan terlalu banyak mikir sekarang Callista. Stress adalah penyebab utama setiap penyakit menyerang seseorang" jelas dr. Aric, memberitahu.
Besoknya. Polisi datang, mereka langsung memintai keterangan dariku mengenai video yang tersebar di media sosial, serta bukti yang mereka temukan di dalam rumahku, yakni tas hitam yang berisikan jubah, topi, kaus tangan, sepatu dan masker serba hitam, serta pisau dan perlatan tajam lainnya.
"Saat malam pembunuhan korban Simon Hiller dan korban Hartono pada jam 01:00- 03:00. Kamu sedang berada di mana?" tanya Polisi tersebut.
__ADS_1
"Pak, apa ini gak kelewatan? temen aku barusan sadar dari koma!" ujar Greysie, sedikit membentak.
"Kamu tenang dulu, kami hanya ingin mengonfirmasi semua kasus yang melibatkan Cara Callista" ucap Polisi, menenangkan.
"Apa kamu bisa menjelaskan pada kami? tanya Polisi, padaku.
"Pagi sampai jam 11:23 malam, aku ada di rumah Grey. Terus, aku pulang ke rumah jam 12 malam, dan tidur di rumah aku sampai pagi" jawabku, lirih.
"Tapi kata saudari Greysie saat itu kamu bersama dengannya semalaman" ujar Polisi bertanya, lalu melirik Greysie.
"Grey lagi tidur, dia gak tau aku pulang" jawabku, lirih.
"Kenapa kamu pulang? Apa alasannya?" tanya Polisi, sedang tangannya terus mencatat.
"Gak ada. Aku cuman ingin pulang" jawabku, singkat.
"Kamu bisa membuktikan bahwa kamu benar-benar berada di rumah kamu semalaman?" tanya Polisi, sedang tangannya menunggu mencatat.
"Baik. Saat malam pembunuhan korban Kesya, apa benar kamu sedang berada di kantor polisi?" tanya Polisi.
"Iya. Aku di tahan semalaman karena mukul mereka" jelasku, lirih.
Polisi mengangguk, serta mencatat. Kemudian ia lanjut bertanya.
"Malam pembunuhan korban Vanya, teman kelas kalian. Saat itu kamu sedang berada di mana?" tanya Polisi lagi.
"Aku selama dua minggu nginep di rumah Grey buat nemenin dia" jawabku, lirih.
"Baiklah. Pertanyaan terakhir, saat malam pembunuhan korban Arya Allen Wijaya, malam itu kamu sedang berada di mana?
"Aku.. Aku..," melirik Greysie, "aku sama sekali gak inget. Ingatan aku gak sepenuhnya kembali saat aku sembuh dari sakit" jawabku, lirih.
__ADS_1
"Aku hanya ingat Grey terus-terusan kasih aku obat, dan sekilas aku hanya ingat mukanya yang lelah dan ben, ci" ucapku, suaraku mengecil.
"Mohon maaf, perkataan kamu yang terakhir bisa di ulangi?" tanya Polisi.
"Em, maksud, a.. ku.., Grey.. dia natap aku," melihat mata Greysie, "kenapa kamu natap aku kek gitu lagi?" ujarku, langsung bertanya.
"I'm sorry Ra. Maafin aku juga pak, aku bohong pak, soal pernyataan aku sebelumnya. Aku cuman ingin ngelindungi sahabat aku, meskipun dia udah bunuh papa aku, tapi aku gak tahan lagi. Maafin aku. Malam saat papa aku di culik, aku lihat Cara juga gak ada di rumah aku. Dia pergi entah kemana. Aku juga tau kalau malam pas pembunuhan pak Hartono dan Simon Hiller, Cara gak ada di kamar aku saat itu. Saat pembunuhan temen sekolah kami Vanya, Cara juga gak ada lagi di kamar aku malam itu" jelas Greysie, menatapku.
Sementara aku yang mendengar perkataannya nampak syok berat, rasanya seperti di khianati oleh dunia juga sahabtku sendiri.
"You really did this to me, Grey?" tanyaku, lirih. Sedangkan air mataku menetes. Greysie hanya diam sambil menatapku.
"Grey, if you hate me, just kill me. Don't did this to me, pliss. I'm beggin you" ujarku dengan air mata, menatap pilu.
"Grey, aku cuman punya kamu sebagai sahabat aku di dunia ini. Kalau kamu giniin aku, aku.. ak, aku gak bis, aku gak bisa. Pliss, don't did this to me. Why kamu gak biarin aja aku mati sebelumnya kalau kek gini jadinya, Grey" tanyaku, lirih. Sedang aku juga sibuk menahan air mata yang mencari jalan untuk keluar, membuat mulutku ikut gemetar.
Greysie hanya melihatku dengan ekspresi, aku tak bisa lagi menebak ekspresi dari wajahnya. Yang aku simpulkan hanyalah, dia menatap benci padaku. Kemudian, aku menatapnya lesuh, terasa seperti tubuhku kehilangan sebagian kekuatannya. Lalu, aku mencabut infus dari tanganku.
Tanganku bergerak cepat ke leherku, karena aku ingin mengiris leherku dengan jarum infus tersebut. Namun, dengan ceketan Greysie langsung menahan tanganku. Aku menatapnya dengan tatapan sayu, sambil menahan isak tangis yang keluar dari mulutku yang gemetar. Sedangkan air mataku tak henti mengalir. Polisi juga segera memborgol tangan kananku agar aku tak bisa lagi melakukannya.
"Kamu gak boleh mati, Ra. Kamu harus tanggung jawab atas semuanya. Kamu harus tanggung jawab atas perbuatan kamu" ucap Greysie melihatku, kami beradu pandang.
"Grey, pliss jangan hianatin aku kek gin- nni.. apa janji kita saat itu cuman perkataan belaka? kenapa lakuin ini ke aku? itu bukan aku Grey, bukan, aku yang udah bun, nuh papa kamu" ucapku lirih, tersentak karena isak tangis.
"Kamu gak inget kan? gimana kamu bisa yakin kalau itu bukan kamu? Semua bukti juga tertuju sama kamu" ujar Greysie, melepas genggaman tangannya dariku.
"Ja, ha- at. I hate yo- u, i hate m- e. Why am, i living i, n this hell, world" lirihku, tersentak sambil menangis.
Malamnya, hujan deras. Hujan seperti menutupi air mata, di mana gemuruh layaknya amarah. Angin membawa suara, memasuki gendang telinga, seperti bisikan, tawa dan hinaan. Sedangkan aku membisu seperti tenangnya malam hari.
Bersambung...
__ADS_1