
Di markas Gotreasure. Ketua geng motor Gotresure telah mendapatkan informasi atas kepulangan musuhnya, yaitu Heafen Immanuel. Lelaki tampan bergaya potongan rambut undercut/the side blow itu bernama Rendi Aldrige Zaferino, mantan pacar Greysie.
"Besok, kita serang markas Alaska, Gotreasure" perintah Rendi tegas pada teman-teman geng motornya, ia lalu mengangkat tangan kanan ke atas, lalu di kepalkan.
"Gotreasure, huuuuu" seru semua anggota, mengagkat tangan kepalan ke atas untuk menyemangati diri mereka.
"Huuuuu" sorak meriah memenuhi markas Gotreasure.
Rendi melirik salah satu teman yang berada di dekatnya. Lelaki tampan dengan potongan rambut Taper Cut tersebut adalah Alvan, dia adalah wakil ketua geng motor Gotreasure. Alvan segera menghampiri Rendi.
"Ada apa bro?" tanya Alvan, sedikit membungkuk.
"Besok malam gua harus balas dendam sama Alaska, gara-gara ketuanya gua sampai putus sama pacar gua. Pokoknya kita harus hancurin markas mereka, gua gak mau geng motor kita di remehin sama geng motor lain" ujar Rendi, menepuk leher Alvan.
"Siap bro, tapi.. selama ini gak ada geng motor yang berani nantang Gotreasure selain Alaska, geng motor lain pada takut sama kita" kata Alvan, sesekali melirik takut pada Rendi.
Rendi tersenyum mendengar perkataan Alvan, membuat Alvan merasa seperti terintimidasi. Perlahan tangan Rendi yang masih berada di leher Alvan mencekram kuat leher Alvan, hal itu membuat Alvan menahan sakit, tetapi ia tak berdaya untuk melepaskan cengkraman tangan Rendi darinya.
"Lo... laksanain aja perintah gua. Mata lo gak bisa lihat kalau geng motor lain mandang remeh gua?! mereka pikir gua takut sama Heafen karena selama dia di Amrik gua gak pernah serang markas dia, lo ngerti gak?!" ujar Rendi, mencekram kuat leher Alvan.
"Lo ngerti kenapa gua gak serang markas dia?!" tanya Rendi pelan, namun nada suara seperti mengintimidasi lawan bicaranya.
"Ngerti bro" jawab Alvan gemetar, ia merasakan tekanan pada lehernya yang semakin sakit.
"Jelasin!" perintah Rendi, menatap mata Alvan, membuat sekujur tubuh sampai tulang-tulang Alvan ikut gemetar.
"Lo gak mau nyerang markas mereka karena gak ada Heafen bro, lo maunya nyerang pas ada ketua mereka" jelas Alvan sedikit tersentak.
"Alasannya?!" tanya Rendi menunduk mengikuti Alvan, ia ingin melihat wajah takut Alvan.
"Alasannya karena lo gak mau di remehin karena nyerang mereka pas lagi gak ada ketuanya. Lo juga gak mau hancurin markas mereka kecuali di depan mata Heafen" jawab Alvan. Ia sesekali melirik takut pada Rendi.
Alvan merasa takut jika jawabannya akan salah, jantungnya berdegup sangat kencang. Rasayanya seperti kaki dan seluruh tubuh Alvan melemas karena ketakutan. Rendi kemudian menarik tubuh Alvan mendekati dirinya, ia merangkul Alvan dan menepuk wajah Alvan.
"Baguss, itu lo tau" ucap Rendi tersenyum, lalu menepuk pipi Alvan.
#
Sekarang waktu menunjukan pukul 02:20 tengah malam, aku tertidur kembali setelah tadinya sempat terbangun dan bertelponan dengan Rasya.
Cahaya lampu di kamar Greysie sangat terang menembus penutup mata membuatku tak nyaman saat tidur. Sedangkan telingaku juga mendengar suara barang yang terjatuh.
Bayangan hitam mengejarku di dalam mimpi, tangannya membawa pisau yang di penuhi darah berwana merah mengental. Aku terbangun, kaget karena bermimpi. Lalu saat aku membuka mata, mataku membulat terkejut karena melihat wajah yang berada tepat di depanku. Ia tersenyum.
Pisau tajam sudah berada di leherku, tangan yang memegang pisau sepertinya sudah siap untuk mengiris leherku kapan saja dengan satu kali irisan yang dalam.
"Grey?" ucapku, heran. Greysie hanya tersenyum pelan padaku.
"Ngapain?" tanyaku. Aku ingin bangun dari baringku, tetapi Greysie menghentikan pergerakanku.
"Eits, kalau kamu gerak, ntar leher kamu bakal ke iris" ucap Greysie dengan ekspresi biasa, namun sedikit tersenyum. Aku menatapnya keheranan.
"Gua cuman...," memiringkan kepala, "Mau lihat, seberapa tajam pisau yang mereka pakai buat nyelakain gua" jelas Greysie, biasa.
Kemudian aku memaksa bangun dari baringku. Jika tangan Greysie tak segera menghindar, mungkin saja pisau yang di pegangnya sudah mengiris leherku.
Perlahan wajahku mendekat ke telinganya untuk berbisik, aku tersenyum dan meliriknya.
"Ya, lo bisa lihat seberapa tajem pisau itu kalau gua pake buat ngiris leher elo. Atau lo mau ngiris leher gua juga sekarang? Gak pp gua biarin" bisikku.
Sedangkan Greysie tersenyum miring setelah mendengar bisikan pelan dariku, ia tersenyum sambil melirikku dan mengangkat satu alisnya.
"Hahahaha, that's right. Boleh di coba" ucap Greysie, segera bangun dari duduknya.
"Iya, darah gua bisa habis" sambungku, lalu menyender di tempat tidur.
Perlahan aku bersilang tangan sambil menatapnya yang sedang berdiri bermain dengan pisau jenis Ak-47 CCCP tersebut.
"Heafen...," menyentuh bagian lancip pisau, "Beneran dateng besok?" tanya Greysie, matanya menelusuri bagian tajam dari pisau, ia juga sesekali mirik padaku.
"Iya, gak mungkin dia gak dateng" jawabku, melihat tangannya yang terus memainkan pisau dengan ibu jarinya.
"Hm," mengerytkan bibir, "Okey" ucap Greysie, melirikku.
"Besok!" ucap Greysie sambil menunjuk aku dengan pisau di tangannya.
"Gua mau bawa loe ke suatu tempat" ujar Greysie, tersenyum miring. Aku menatapnya biasa.
"Hn, tumben banget ngoceh pakai loe gua, biasanya gak mau. Emang loe mau bawa gua kemana? Loe mau matiin gua besok?" tanyaku, memandangnya tanpa ekspresi.
Greysie kemudian menghampiriku, ia secara langsung duduk menyamping di depanku, tangannya masih bermain dengan pisau.
Kepalanya perlahan menoleh ke samping sedang badannya mendekati tubuhku. Perlahan Greysie menaruh bagian tajam pisau ke bibirku dan berkata,
"Sec - ret, hn.. hahahaha" ucap Greysie, tersenyum lalu tertawa.
Sementara aku sedikit menunduk, melirik pisau di bibirku, kemudian aku melihat Greysie lagi.
"Hnh" ucapku, tersenyum miring melihatnya.
"Sekarang aja gak pp. Aku ikhlas" ujarku, merubah eksperesiku menjadi tatapan sendu.
Hal itu membuat Greysie diam sambil menatapku dengan dalam. Ia tak suka mendengarku jika berkata serius soal itu.
"Lo kenapa ngeselin banget, Ra? Terus kemarin juga soal Papa aku. Aku harusnya..." ujar Greysie
Namun tak selesai Greysie berbicara aku langsung menyelanya.
"Grey, kamu tau kan kalau aku gak punya siapa-siapa lagi selain kamu? Aku juga mau kamu dapatin yang terbaik, aku udah berusaha untuk nepatin janji aku, tapi aku gak bisa biarin kamu jadi pembunuh Papa kamu sendiri makannya aku buat rencana kek kemarin. Kamu tau aku bakal sendiri kalau gak ada kamu kan? Aku gak mau kamu ngerain hal yang sama seperti yang aku rasain saat ini. Kamu gak bisa ya ngerhargain sedikit aja usaha dan perasaan aku?" ujarku.
"Aku udah berusaha keras buat mikirin semua ini, Grey. Kamu gak tau kalau semua ini udah buat aku sakit, sakit banget Grey. Kamu nyerang kelemahan aku tanpa sadar. Bisa gak jangan bahas soal ini lagi? Hati aku sakiiitt. Aku ngerasa udah di ujung jurang sekarang, Grey. Pliss, jangan buat aku lompat ke dalam jurang itu" batinku.
Greysie terdiam sambil menatapku. Ia lalu menyimpan pisau ke dalam laci dan kembali duduk sambil memeluk erat diriku.
"Maafin, aku. Aku harusnya ngehargain usaha kamu. Kamu udah lakuin semuanya demi aku" ujar Greysie, memeluk erat.
Besok Paginya, waktu menunjukan pukul 09:23. Aku sedang berada di dalam kamar mandi sedangkan Greysie masih tertidur lelap.
Setelah selesai mandi, aku memakai baju kaus setengah lengan, berwarna putih bercampur hitam dan celana model chinos warna hitam.
Di depan cermin (tempat berhias), aku hanya memakai riasan seadanya karena tidak tahu cara berhias diri.
Notifikasi chat Hp berbunyi. Aku berdiri lalu mengambilnya dari atas meja, dekat dengan tempat tidur. Di layar Hp terlihat pesan chat dari seseorang bernama Heafen.
Aku bentar lagi sampai ya.
Mm...(mengetik). Namun telponku tiba-tiba berbunyi. Nama yang tak asing terlihat di layar Hp miliku, aku pun menjawab telponnya.
"Iya, halo Sya" ucapku, menaruh telpon di telingaku.
"Halo, Lista. Aku sekarang di depan rumah Grey" ujar Rasya.
"Hah?!" ucapku spontan terkaget.
"Iya, aku di depan" lanjut Rasya.
"Kamu ngapain di sini?!" tanyaku, sedikit membentak.
"Aku mau jenguk kamu" jawab Rasya.
Rasya lalu memencet tombol untuk membunyikan bell rumah. Sementara itu, aku langsung berlari kecil keluar kamar, lalu menaiki lift rumah agar cepat sampai.
"Aku kan udah bilangin ke kamu Sya, jangan ke sini hari ini!" ucapku panik, lalu mulai menekan tombol-tombol di lift.
"Oh may god, shitt!" ucapku pelan, menyibakkan rambut kebelakang dengan tangan kiri.
Pintu lift terbuka, aku keluar dan berlari. Saat keluar aku melihat bibi perlahan membuka pintu, lalu aku segera mempercepat langkahku.
"Assalamu'alaikum, Bi" ucap Rasya, sedikit menunduk.
"Wa'alai...," ucap Bibi.
"Rasya!" teriakku menyela. Mereka melihat ke arahku.
"Kamu ngapain di sini?" tanyaku, menarik tangannya keluar rumah.
Suara klakson berbunyi. Mobil Heafen terlihat memasuki pintu gerbang. Setelah itu mobilnya berhenti di depan rumah Greysie. Heafen juga melihatku memegang tangan Rasya.
"Ngapain sih anj**ng itu ke sini" batin Heafen.
"Woy, ngapain loe megang tangan Cara!" teriak Heafen, keluar dari mobil miliknya.
Sementara itu, aku segera melepaskan genggaman tanganku pada Rasya.
"Hnh, emang kenapa?" cela Rasya, membusungkan dada menghampiri Heafen.
"Anj*ng, berani lo?!" bentak Heafen mendorong Rasya.
"Heafen, udah pliss" ucapku.
"Hn, apa? lo mau apa?" ucap Rasya, mendorong balik Heafen.
"Rasya! kamu jangan ikutan" larangku menahan tangannya.
"Anj*ng!" cela Heafen langsung menonjok muka Rasya.
Bibir Rasya kembali mengelurkan cairan berwana merah. Kemudian Rasya mengelap darah di bibirnya, ia tersenyum melihat Heafen, lalu membalas menonjok Heafen.
Mereka langsung terlibat dalam perkelahian, tak ada yang mau mengalah antara keduanya.
"Heyy, stop! kalian berdua stop!" teriakku. Namun mereka tak memedulikanku.
"Aku bilang stop!" bentakku, menarik tangan Heafen.
"Rasya, aku bilang stop! stop" ucapku, juga menahan tangannya.
Rasya berhenti, begitu juga dengan Heafen. Mereka berhenti karena aku berdiri di tengah antara mereka.
"Rasya, aku kan udah bilang kamu hari ini jangan ke sini" ujarku, melihatnya.
"Iya, tapi aku cuman mau mastiin keadaan kamu aja Lista" jelas Rasya.
"Lo mau gua hajar lagi? Gak puas semalam gua hajar hah?!" sela Heafen menunjuk Rasya.
Sementara, Rasya menepis kasar tangan Heafen dari wajahnya.
"Anj*ng!" ucap Heafen, ingin memukul Rasya lagi.
"Heafen, stop! kamu stop, Stop!" bentakku, memgang dadanya, menyuruhnya mundur.
"Kamu belain orang itu, Ra?" tanya Heafen menunjuk Rasya.
"Kalian berantem semalam?!" tanyaku marah melihat mereka berdua. Mereka hanya diam menatap.
"Oh may god, you both.. oh may god" ucapku memegang kepala.
"Kalian pergi" usirku menunjuk keluar gerbang. Mereka hanya diam menatapku.
"I said, leave!" bentakku melihat mereka.
Mereka hanya diam saling melirik, seperti ingin memulai babak baru perkelahian.
"Fuckk, i said go! leave me! Get out of here! Aku gak mau lihat muka kalian" ucapku kasar manunjuk keluar gerbang.
"Gua tunggu lo di depan" ujar Heafen, menjuk Rasya.
"Lo kira gua takut?" cemooh Rasya dengan ekspresi siap untuk melawan Heafen kembali.
"Anj*ng!" cela Heafen pelan.
"Aku pergi" pamit Rasya memegang tanganku, melangkah pergi.
Melihat Rasya memegang tangaku, membuat Heafen tak suka. Ia pun memukul Rasya dari belakang.
"Anj*ng!" ucap Heafen memukul Rasya.
Rasya terjatuh dan di pukuli habis-habisan oleh Heafen. Sementara aku berusaha untuk menghentikannya.
"Heafen berhenti!" ucapku, menahan tangannya.
Kemudian Rasya bangkit dari jatuhnya, ia membalas pukulan Heafen. Mereka baku hantam tak ada yang mau mengalah.
Di saat aku berusaha untuk menghentikan perkelahian mereka. Secara tak sengaja aku malah terjatuh ke bawah tangga teras depan rumah hingga kepalaku membentur mobil Heafen.
Sementara itu, Greysie keluar kamar. Ia mencari keberadaanku. Lalu menuruni tangga dan tak sengaja melihat Heafen dan Raya sedang adu kekuatan alias baku hantam.
Mata Greysie membulat ketika melihat aku juga terjatuh dari tangga teras rumahnya.
"Aargh" merintih menahan sakit.
"Ra? Raaa!" teriak Greysie berlari.
Heafen dan Rasya sontak berhenti berkelahi. Mereka melihat keaarahku dan langsung menghampiriku.
"Ra, kamu gak papa?" tanya Heafan dan Rasya kompak dengan mimik cemas.
"Anj*ng! Lo pergi sana! gara-gara lo Cara kek gini" cela Heafen.
"Gara-gara lo" ucap Rasya tak mau mengalah.
"Die-eem!" ucapku sedikit gemetar.
"Raa, kamu gak pp?" tanya Greysie langsung menghampiriku yang terjatuh.
"Kalian!" bentak Greysie menatap marah Heafan dan Rasya.
__ADS_1
Kemudian Greysie segera membantuku untuk berdiri. Sementara Rasya dan Heafen ikut berdiri.
"Biar aku bantuin" ujar Greysie, menaruh tangan kananku ke lehernya.
"Ergh..hnf," merintih. Aku lalu melepas genggaman tangan dari perutku.
Darah sudah memenuhi telapak tanganku. Sedangkan bajuku sudah berubah warna yang di mana putih menjadi noda merah mengental kehitaman.
"Oh may.. god! luka kamu pasti ke buka lagi Ra, kita ke rumah sakit sekarang" ucap Greysie memapahku ke dalam rumah.
"Aku gak mau Grey, baru juga pulang dari rumah sakit, masa kesana lagi" pintaku memohon.
"Tapi ini harus di obatin Ra!" ucap Greysie, sedikit membentak.
"Lista, maafin aku" ujar Rasya melihatku.
"Lo, jangan deket-deket" sela Heafen memberikan tiang pemisah antara aku dan Rasya dengan tangannya.
"Kalian diem! ini semua gara-gara kalian! Kalian diem aja atau aku usir paksa kalian berdua" bentak Greysie.
"Grey, aku gak mau ke rumah sakit, kamu panggil aja Aric ke sini" pintaku lirih, menatapnya.
Greysie mengangguk setuju. Kami ber empat berjalan memasuki rumah Greysie dan menaiki lift yang berada tak jauh dari tangga rumahnya.
Sampai di kamar Greysie, ia lalu menyuruhku berbaring. Greysie kemudian mengambil Hp dari kantung celananya, dan menelpon Aric.
"Halo, Aric" sapa Greysie, di telpon.
"Iya, halo Grey" balas Aric.
"Aric, kamu bisa ke sini gak? luka Cara keknya ke buka lagi, pliss" pinta Greysie, memohon.
"Ke buka?" tanya Aric.
"Iya" jawab Greysie sedikit gemetar.
"Okay, okay, aku ke sana" ucap Aric.
"Thank u, Ric" balas Greysie.
"Ra, why u lie to me? kata kamu kemarin kamu cuman demam aja, ini apa kok bo'ong ke aku?" tanya Heafen. Ia segara duduk menyamping di depanku.
"Maaf" ujarku, lirih.
"Udah Heafen kamu jangan nanya. Kamu juga Ra gak usah di jawab!" bentak Greysie.
Greysie menatap marah Rasya dan Heafen. Ia lalu mengambil kotak P3K dan sebaskom air dengan handuk. Kemudian ia mulai membersihkan noda darah yang memenuhi tangan kiriku. Tak lama setelah itu Greysie mengusir Rasya dan Heafen dari kamarnya.
"Kalian keluar, aku mau bersihiin luka Cara" ucap Greysie melirik mereka berdua.
Rasya dan Heafen saling lirik, namun wajah mereka masih kesal satu sama lain.
"Kalian jangan berantem" larangku, memohon.
Rasya menatapku, ia mengangguk iya padaku. Sedangkan Heafen sedikit melirik Rasya, ia lalu memegang tanganku.
"Aku keluar ya" ucap Heafan, lembut padaku.
Mereka keluar kamar. Di luar Rasya sedang duduk bersilang tangan di sofa. Sedangkan Heafen yang baru saja keluar dari kamar langsung melirik tajam Rasya. Ia lalu menyender ke dinding dekat pintu kamar. Suasana ketegangan antara mereka menemani kesunyian di ruangan tersebut.
Di dalam kamar,
"Kamu mau gimana sekarang Ra? Mereka berdua udah ketemu" ujar Greysie, membersihkan darah di sekitar lukaku.
"Hnf," menghela napas, "Aku juga gak tau, keknya Rasya sengaja ke sini. Padahal aku ngelarang dia semalam supaya jangan dateng hari ini" jelasku pada Greysie.
"Sengaja?" tanya Greysie, matanya melirik ke atas untuk melihat wajahku. Sedangkan tanganya masih membersihkan lukaku.
"Iya, keknya mereka berantem semalam" jawabku.
Kemudian aku ingin mengambil Hp di meja yang berdekatan dengan tempat tidur.
"Hmmm~ Eh, mau ngapain?" tanya Greysie memegang tanganku.
Aku mengambil hp dan memperlihatkan padanya. Sementara Greysie mengerytkan bibirnya.
"Ambilin headsed aku" pintaku pada Greysie.
"Gak mau, kamu pasti dengerin musik lagi sampai volumenya full, nanti gendang telinga kamu rusak tiap hari kek gitu mulu" jelas Greysie, ia sudah selesai membersihkan lukaku.
"Music is my life Grey, tanpa music kek ada yang kurang" ucapku sedikit tersenyum ejek.
Kami masih bertengkar kecil soal musik. Sementara itu, Greysie segera menyimpan kotak P3k dan air di baskom. Di dalam toilet, ia mencici tangan sambil tersenyum saat mendengarku berteriak padanya.
"Mana headsed gua sering di gunting lagi. Habis di gunting juga gak ada tuh di ganti. Masa gua harus beli headsed mulu tiap saat" keluhku melirik kamar mandi.
Kemudian, aku mencari headsedku di dalam laci dan menemukannya. Setelah itu aku langsung memakai headsed di telingaku, lalu menyambungkannya ke telpon milikku. Kemudian tanganku menggeser layar telpon mencari satu lagu favoritku saat ini.
"Hm," tersenyum.
Aku langsung mengklik putar dan ulangi 1x pada lagu yang berjudul The Neighbourhood Unfair, lalu menyetel 95% pada volume musik. Kemudian aku memejamkan mata sambil menikmati melody indah di telingaku.
"Headsed kamu.. Aku potong kan karena kamu sendiri, siapa suruh gak dengerin aku ngomong" ujar Greysie, sambil mengelap tangannya menggunakan handuk kecil di kamar mandi.
Greysie masih menunggu jawaban dariku, tetapi aku tak menjawab sama sekali.
"Raaa?" panggil Greysie dari kamar mandi, ia lalu melangkah pelan untuk memeriksaku.
Greysie melihatku sedang memakai headsed. Ia lalu berjalan menghampiriku, tanganya bersilang sambil menggerutu.
"Ck, gua bilang juga apa" gerutu Greysie kecil.
Suara notofikasi chat masuk, di layar Hp milik Greysie terlihat chat dari Aric.
Aku udah di depan rumah kamu (chat).
Greysie tak mendengar suara notifikasi chat dari telponnya. Ia malah berjalan mencari keberadaan gunting, karena aku selalu menyembunyikan dan membuang gunting miliknya. Karena Greysie tak juga menemukan gunting miliknya, ia lalu mengambil pisau AK-47 ACCCP dari kantung celananya.
Greysie duduk meghadapku memegang pisau itu di tangannya. Pisau itu berada tepat di depan wajahku. Perlahan jempol Greysie membuka pengaman pisau, lalu di lanjuti memencet bagian bulatan kecil di pegangan pisau, membuat pisau secara otomatis memanjang alias terlepas dari pengaman pegangan. Aku membuka mataku bersamaan dengan pisau lipat yang terbuka dari pengaman tersebut.
Wajahku dengan ekpresi datar melihat Greysie, ia lalu tersenyum memainkan bibir serta alis matanya. Saat Greysie ingin mendekatkan pisau itu ke telingaku, aku menangkap tangan kanannya dengan tangan kiriku. Ekspresi datar dari wajahku membuatnya semakin tersenyum sumringah dan sedikit tertawa kecil.
"Wrong time, sekarang bukan saatnya main-main" ucapku, lantang dengan ekpresi datar. Greysie tertawa kecil menunduk.
"Hahahaha," melirikku, "Okay, i'm sorry, pliss" ucap Greysie, tersenyum ejek.
Sementara itu, beberapa saat yang lalu di luar kamar. Pintu lift berbunyi dan terbuka. Ada seseorang di dalamnya, itu adalah ibu Greysie. Ibunya berjalan menghampiri Heafen dan Rasya. Heafen bangkit dari senderannya begitu juga dengan Rasya.
"Assalamu'alaikum tante" ucap Rasya berdiri, menunduk menyatukan kedua tanganya.
"Hai, tante" sapa Heafen tersenyum. Ibu Greysie melihat mereka berdua.
"Wa'alaikumsallam," melihat Rasya dan Heafen, "Kamu di sini Heafen?" tanya Ibu Greysie.
"Ini minumanya, ayo silahkah di minum" ujar Ibu Greysie, duduk. Art datang dan memberikan cemilan pada mereka.
"Makasih, tante" ucap Heafen dan Rasya kompak, membuat mereka kesal satu sama lain.
"Em, kalau gitu tante ke bawah dulu, ya. Tante mau ngecek keadaan Papa Grey" pamit Ibu Greysie, berdiri. Heafen dan Rasya kemudian mengikutinya berdiri.
"Makasih, tan" ucap Heafen.
"Makasih, tante" ujar Rasya sedikit menunduk dan tersenyum.
Setelah beberapa menit berlalu, suara bel rumah berbunyi. Aric sudah berada di depan rumah Greysie. Tak lama kemudian Art datang untuk membukakan pintu untuknya. Aric masuk dan segera menuju kamar Greysie.
Saat Aric sudah sampai di lantai tiga, ia melihat Rasya bersama dengan seseorang berwajah asing. Kemudian Aric berjalan menghampiri Rasya yang sedang duduk di sofa tersebut.
Sedangkan Heafen, ia berada di dekat pintu kamar Greysie, berdiri dan menyender di dinding, ia hanya melirik Aric dan Rasya.
"Lo di sini, bro?" sapa Aric bertanya. Rasya mendongak karena Aric berdiri di depannya.
"Lo sampai juga akhirnya. Iya, gua ke sini jenguk Lista" jawab Rasya berdiri, berjabat pelukan pria dengan Aric.
Kemudian, mereka segera berjalan ke arah kamar Greysie. Rasya mengetuk pintu sedangkan Heafen melirik Rasya. Ia masih berdiri menyender pada dinding dengan tangan bersilang. Setelah itu, Rasya memutar gagang pintu. Pintu terbuka. Heafen bangun dari sendernya dan langsung berdiri di belakang Aric.
Sementara itu di dalam, saat aku ingin melepaskan genggaman tanganku pada Greysie, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar. Kami serentak melihat ke arah pintu tersebut. Pintu pun kamar terbuka.
"Kalian.. Ngapain?" tanya Rasya membulatkan mata. Sedangkan Heafen dan Aric terkejut menatap heran.
Mereka melihat Greysie sedang memegang pisau tak jauh dari wajahku. Sedangkan aku dan Greysie melihat mereka bertiga.
Greysie dengan santainya mengubah posisi berdiri pisau menjadi ke bawah, ia kemudian melipat kembali pisau tersebut, lalu berdiri.
"Kamu udah sampai? kok gak bilang?" tanya Greysie berjalan menghampiri Aric, sambil tangannya menaruh pisau di kantung belakang celananya.
"Em, aku udah chat kamu tadi" jawab Aric. Ia kemudian berjalan masuk di ikuti Rasya dan Heafen.
"Iya? hm, sorry aku gak ngecek hp tadi, jadi aku gak tau" jelas Greysie.
"Hm," Aric tersenyum iya pada Greysie.
Setelah itu, Aric memeriksa lukaku, mensterillkan, lalu membalut lukaku.
"Jahitannya ke buka Ric?" tanya Greysie.
"Em, gak," menggeleng melihat Greysie, "Jahitanya gak ke buka, darahnya.. cuman keluar dari sela-sela jahitan aja" jawab Aric.
Heafen dan Rasya saling melirik kesal satu sama lain. Mereka berdiri sedikit berjauhan seakan ada tembok pemisah antara mereka.
"Ini... Kamu ngapain Callista? Kok sampai berdarah lagi" tanya Aric melirikku, tangannya masih membalut perban di perutku.
"Em..." jawabku, melirik Heafen dan Rasya.
"Gara-gara mereka beruda!" sela Greysie, menatap tajam Heafen dan Rasya.
Sedangkan Aric menoleh pada Greysie, lalu melihat Greysie sedang menatap marah pada Rasya dan orang asing tersebut. Kemudian Aric melihat Rasya dengan mimik wajah bertanya, sementara Rasya mengkode dengan mengangkat satu alisnya seakan berkata setuju dengan tatapan Aric padanya.
"Ooh" batin Aric. Ia sudah selesai membalut lukaku.
"Callista, kamu tadi mandi?" tanya Aric, mengerytkan keningnya.
"Hehe, iya" jawabku tersenyum malu.
"Aku kan udah bilang, lukanya jangan sampai kena air dulu" ucap Aric mulai mengomel.
"Gak kena kok, kan aku lapis pakai perban anti air tadi" jawabku, tersenyum kecil.
"Iya, tapi gimana kalau airnya nembus? lebih baik di hindari ya, sebelum kejadian" jelas Aric masih mengomel.
"Huufff, Aric ngomel mulu kek Grey" batinku. Sementara aku tersenyum pada Aric.
"Iya, maaf" ucapku, tersenyum pada Aric.
********
Sekarang jam 14:40 siang. Di dalam sebuah rumah mewah, anak-anak sekolah Sma Harapan berkumpul untuk merencanakan sesuatu.
Rumah mewah itu adalah milik lelaki tampan dengan model rambut taper fade klasik, namanya adalah Andrian Morris. Ia merupakan pacar dari Kesya Zola sebelum Kesya meninggal.
Andrian Morris bersama dengan Elyana Wesley, Faith Bettany, Grace Chavarria, Krystal Glass, dan Zwetta Nelson yang notabenenya sebagai sahabat dari Kesya Zola. Tak lupa juga pacar mereka masing-masing yang merupakan teman dari Andrian Moris.
Mereka ber sebelas merancanakan sesuatu untuk membalas perbuatanku pada mereka, di mana aku mempermalukan mereka dengan memukul mereka sampai tak sadarkan diri.
Mereka juga ingin membalas kematian Kesya karena menurut mereka, aku lah yang membunuh telah pacar/sahabat mereka.
"Gimana, Ndri? orang suruhan kita gak cukup kuat buat ngabisin mereka berdua" seru Krystal bersilang tangan, ia lalu menyender di kursi.
"Iya, masa kalian cowok-cowok pada lemah banget, gak bisa lawan mereka, padahal kan mereka berdua itu cewek" sambung Elyana bersilang kaki, lalu melirik pacarnya Gavin dan semua cowok di ruangan itu.
"Iya..." lanjut Faith, Grace dan Zwetta. Mereka menatap tajam pacar mereka.
"Mereka itu emang cewek babe, tapi juga kuat banget" ucap Gavin pada Elyana, ia memijat pundak Elyana agar berhenti memarahinya.
"Udah ahh, lepasin" seru Elyana, ia melepas paksa pegangan tangan Gavin dari pundakknya.
"Hey, kalain tenang dulu, ini bukan saatnya buat kita berantem satu sama lain. Gua yang seharusnya paling marah di sini, karena Kesya itu pacar gua" sela Andrian menatap mereka satu per satu.
"Jadi, rencana lu sekarang apa bro?" tanya Ryan bersilang tangan, ia lalu duduk di sampaing pacarnya, Zwetta.
Andrian hanya diam. Ia terlihat sedang berpikir. Lalu Ezra yang tadinya sedang bermesraan dengan pacarnya Grace, langsung angkat bicara.
"Hm, gimana kalau kita adu domba aja mereka berdua" usul Ezra tersenyum licik.
Kemudian Grace menatap sayang lalu mencubit pipi Ezra dan berkata.
"Hm, boleh juga ide kamu babe" puji Grace, mencubit pipi Ezra.
"Iya dong demi kamu" ucap Ezra, membalas mencubit pipi Grace.
"Hm," menaruh telunjuk di dagu, "Gua setuju sama ide Ezra" sambung Leo, ia menatap Andrian.
"Leo duduk sini. Kamu gak capek apa beridiri mulu dari tadi?" perintah Krystal, lalu menepuk sofa di sampingnya.
"Tau tuh, si Nathan juga, hnh" sela Faith. Ia cemberut karena merajuk pada pacarnya Nathan.
"I'm sorry, babe" ucap Nathan berbisik, kemudian menghampiri Faith dan mengelus rambutnya dari belakang sofa.
"Hm, ok gua setuju," menjentik jari, "Ide lu boleh juga bro" kata Andrian pada Ezra.
Sementara itu, Leo pergi mengambil minuman lagi, setelah itu ia duduk bersamping dengan pacarnya, Krystal.
"Jangan cemberut dong, my baybe" seru Leo, memberikan minuman pada Krsytal. Krystal luluh, tersenyum malu.
Mereka bersebelas pun segera membuat rencana untuk mengadu domba antara aku dan Greysie.
__ADS_1
#
Sementara itu, di dalam rumah Riska. Ia merasa cemas akan keadaanku, tetapi aku tak pernah membaca chat atau mengangkat telpon darinya.
Hal itu membuat Riska merasa kesal dan sedikit frustasi. Ia ingin menjengukku, tetapi tak bisa karena terhalang teman-temannya.
Beberapa minggu terakhir ini Riska juga sering terbayang akan wajah seseorang yang berada di dalam wc bersamanya di restoran saat itu.
"Huff, sialan. Cara udah janji sama gua kalau dia bakal angket telpon dari gua. Tapi sampai sekarang gua nelpon gak di angket-angket. Apa masih parah sakitnya? Mana mereka berdua gak muncul-muncul di sekolah lagi. Gua kan khawatir sama dia" batin Riska.
"Gua juga pengen ngebahas soal kejadian di wc itu sama Cara. Dia ada di resto juga kan saat itu? Jadi dia pasti tau apa ada orang lain yang keluar dari wc setelah gua saat itu?" batin Riska.
Riska masih membatin sendiri sampai ia termenung dan membayangkan kembali saat dirinya masih latihan melukis bersamaku dua tahun yang lalu.
Falsback. Saat itu, di dalam rumahku. Riska masih latihan melukis sesuai arahanku.
"Btw. Zodiak lo apaan?" tanya Riska.
"Gak percaya sama zodiak" jawabku.
"Alasannya?" tanya Riska.
"Gk percaya aja. Tapi gua Aquarius" jelasku.
"Lahh, katanya gak percaya tapi kok tau?" tanya Riska.
"Ya karena gua pengen tes-tes aja. Gua pengen tau apa bener test itu bisa nebak karakter gua. Dan ternyata.. Yaah emang relate sih sama gua, apalagi tes mbti, itu test yang paling sesuai sama karakter" jelasku.
"Mbti? Mbti apaan?" tanya Riska, bingung.
"Lah, zodiak lo tau. Masa Mbti kaga" ujarku.
"Kagak tau gue. Emang itu apaan?" tanya Riska lagi.
"Em, itu test psikolog. Hampir sama kek zodiak. Gunanya untuk mengetahui karakter orang lain. Dan... gua emang suka sih ikutin test onlinenya psikolog. Apalagi tes psikopat, hahahaaa ternyata benn..." ujarku, terhenti dan langsung melihat Riska.
"Em. I mean... Aku dan Grey" ujarku.
"Kok aku? Lo kan gak lagi bicara sama Grey sekarang Caraa" batinku.
Riska mengkerutkan kening sambil mengangkat satu alisnya.
"Emm, maksud gua... Kita berdua sering test online kek gitu. Hehehaha" jelasku, kaku dan tertawa canggung.
Mendengar penjelasan yang kaku membuat Riska mencipitkan matanya, dan mendekat untuk menulusuri setiap inci wajahku.
"Hm, mencurigakan" bisik Riska.
"Keknya gua harus manip dia" batinku.
"Dan lo tau? Lo mau tau hasilnya apaan?" tanyaku.
"Hm? Yaa, boleh sih" jawab Riska.
"Hasilnya kita berdua 100% psikopat. Hahahaha. Lucu banget testnya. Emang ada ya psikopat yang ngaku-ngaku psikopat? Ngapain juga buat test-test kek gitu. Gak jelas banget" ujarku.
"Hmm~" ucap Riska.
"Buat tiktok yuk" ajak Riska, tiba-tiba.
"Haaah?" ucapku heran, menaikan satu alis dan mengangkat bibir kanan atas, sedikit membuka mulut.
"Loh, kenapa? Bukannya lo jago ngedance ya?" tanya Riska.
"Dihh, tau dari mana lo?" tanyaku, masih dengan mimik heran, melirik dan menaikan satu alis.
"Hnhnhee, lo pikir cuman lo aja yang tau tentang semua hal?" ujar Riska, mengejek.
"Perasaan selama ini gua gak pernah ngedance di depan orang lain selain Grey," melirik Riska, "Tau dari mana dia?" batinku, menatap heran.
"Hahahahaaa. Pasti si Cara lagi heran sekarang, padahalkan gue cuman asal nebak aja" batin Riska, ia tersenyum ejek.
"Hmm, mainin gua ni anak" batinku.
"Bikin yuk, Ra" pinta Riska.
"Gak ahh, gak mau. Ngapain buat-buat gitu, gak jelas banget. Udah lo lanjutin aja ngelukisnya" ujarku, menolak.
"Ckk! Jamet banget sih lo" ucap Riska.
"Biarin" ejekku.
"Ra, pliss. Kali ini aja" pinta Riska, memohon.
"Ckk! Ngapain sih Ka? Emang kalau udah di buat videonya bakal lo apain? Apload? Gak mungkin kan? Bisa habis gua di tangan Grey" jelasku.
"Ahh, ngeselin lo" ujar Riska, cemberut.
"Dihh" batinku.
Riska terus memasang wajah masam yang tak enak jika di pandang. Hal itu membuatku sangat kesal dan tidak tahan.
"Okay, okay. Gua mau. Mana hp lo? Cepetan" ujarku.
Mendengar hal itu membuat Riska tersenyum sumringah. Ia lalu mencari sound tiktok yang berjudul Wanna Be by Why Mona dan segera memasang waktu untuk merekam.
"Ehh, gua belum latihan dancenya anying" ujarku.
"Udah, lo dance aja ikutin iramanya, nanti gue selarasin dance kita berdua" jelas Riska.
Mendengar hal itu membuatku menghela napas pelan, dan berusaha untuk tetap sabar.
Setelah 2x take video. Aku meminta Riska untuk berhenti karena malas.
"Udah dong. Males gua. Awas aja ya lo kalau sampai apload tu video" ancamku.
"Iya gue tau. Ntar gue juga yang repot kalau temen-temen gue pada tau" ujar Riska.
"Hnh, gua mah gak peduli mau temen lo tau atau gak. Tapi kalau Grey yang tau bisa abis gua sama dia" batinku.
"Btw. Emang kalian berdua ngapain aja kalau bosen? Gue lihat-lihat lo sama Grey gak main sosmed" tanya Riska.
"Bukan cuman gak main, kita berdua emang gak buat akun sosmed" jawabku.
"Ngebosenin banget hidup lo berdua" ujar Riska.
"Enggak tuh, kita biasa karokean kalau gabut. Kadang ngedance bareng juga. Latihan karate, taekwondo, silat, kungfu, boxing, tinju, and gyim. Kalau libur kita juga sering pergi hiking buat relaxasi pikiran. Kadang juga kita sering mainin semua jenis alat musik, sering jogging juga, nonton film, bahkan kita juga sering nonton berita. And semua jenis olahraga sering kita mainin kalau bosen, apalagi kalau udah malam kita sering..." jelasku, tak selesai karena Riska langsung membukam mulutku.
"Udah gak usah di lanjutin, banyak amat kegiatan lo berdua" ucap Riska.
"Sering ngebunuh orang juga kalau malem" lanjut, batinku.
Kemudian, aku melepas tangan Riska. Lalu berbisik padanya.
"Ka, lo jangan terlalu nyaman deket-deket sama gua. Gua bukan orang yang baik. Gua juga gak pernah ngaku-ngaku kalau gua orang baik, kalian aja yang sering ngomong gitu. Nanti kalau lo tau sifat jahat gua, lo bakal kaget lagi. Lebih baik gua peringatin lo dari sekarang" bisikku.
Riska hanya diam setelah aku berbisik padanya. Ia hanya menatap biasa padaku.
"Gua pergi" pamitku.
"Lo mau kemana? Ini kan rumahnya elo?" tanya Riska.
"Emm," melihat jam tangan, "Mau nyamperin Grey. Dia gak bisa di tinggalin lama-lama. Lo selesaiin aja lukisannya, atau gak nanti lanjutin minggu depan aja" ujarku.
"Lo ninggalin gua sendiri di rumah lo? Gak punya tanggung jawab banget" sindir Riska.
Hal itu membuat langkah kakiku terhenti dan segera berjalan menghampirinya.
"Yaudah, sini gua anterin pulang. Tapi gua pakai motor" ucapku, menarik tangannya.
"Mobil gua gimana kalau lo anterin gua?" tanya Riska.
"Banyak nanya lo kek Grey. Udah sihh, nanti gua anterin. Ribet amat" ujarku.
Setelah itu, kami naik ke atas motorku dan aku segera menarik gas, melaju dengan motor. Di perjalanan pulang ke rumahnya, Riska terus membatin sendiri.
"Ra, kok lo bisa jadi tempat yang nyaman banget gitu? Gua yakin pasti semua orang yang udah deket sama elo bakal ngerasa nyaman banget sama elo. Secara lo itu baik banget ke semua orang dan gak mandang bulu, mana pengertian lagi, care juga sama semua hal. Tapi.. Di balik sikap lo itu.., apa lo nyimpen rasa sakit ya? Gak tau kenapa terkadang gua ngerasa lo itu kek.. lebih mentingin orang lain daripada diri elo sendiri. Apa Grey juga sering mikir gini?" batin Riska.
"Lo juga gak pernah terbuka sama apa-apun tentang hidup lo. Pasti si Greysie frustasi banget sama sikap lo yang gini. Pantesan sikapnya Grey gitu banget ke elo, dia pasti mikir cuman itu cara dia buat bales kebaikan lo. Gua paham sih, secara dia bukan elo yang bisa peka sama semua hal" batin Riska.
Tok, tok...
Saat ini, Riska tersadar dari lamunannya karena mendengar katukan di pintu kamarnya.
"Permisi, neng. Bibi mau ngasih tau kalau ada temen neng yang dateng" ujar bibi.
"Cara?" batin Riska, sedang ia tersenyum senang.
Riska segera bergegas untuk membuka pintu kamarnya. Akan tetapi senyuman di wajahnya tak bertahan karena yang di lihatnya bukanlah aku, melainkan sahabtnya, Raya.
"Raya?" ucap Riska.
"Em, iya" ujar Raya, kaku.
"Udah mendingan lo? Dari kemarin jarang ngomong, lo mau ngapain?" tanya Riska.
"Gue mau ngasih tau seseuatu sama lo, Ka" ujar Raya.
"Hm, apa?" tanya Riska.
"Gue mau bicara berdua aja" ujar Raya.
"Oh, bi... Bibi boleh pergi" kata Riska pada bibi.
"Oh, iya neng" ujar Bibi, pergi.
Riska lalu menutup pintu kamarnya dan menyuruh Raya untuk duduk di tempat tidurnya.
"Lo mau ngomong soal apa?" tanya Riska, berilang tangan sambil bersender di tempat tidur.
"Emm, gua mau kasih ini ke elo" ujar Raya, memberikan anting pada Riska.
Riska pun mengambil anting itu sambil menatap heran pada Raya.
"Maksudnya? Gak mungkin hadiah kan? Secara ini cuman sebelahnya aja, satunya lagi mana?" tanya Riska.
"Em, itu... Itu anting yang gue temuin di dalam toilet restauran saat itu. Btw itu antingnya si Cassie" ujar Raya.
"Hah? Pas gue di teror malam itu? Kok lo baru bilang sekarang sih?" tanya Riska.
"Em, sebelumnya gue takut. Gue takut salah ngira, tapi gue lihat si Cassie di restoran malam itu. Setelah lo buru-buru pergi, gue juga buru-buru pergi ke toilet untuk ngecek, terus gue nemuin anting itu di dalem wc" ujar Raya.
"Seriusan lo?" tanya Riska, memastikan.
"Em, iya. Setelah lo pergi dia juga buru-buru pergi. Apa gak mencurigakan?" ujar Raya.
"Lo ketemu Cara gak saat itu?" tanya Riska.
"Hah? Emm..." ujar Raya, bingung.
"Aduh, gue jawab apa ini?" batin Raya.
"Emm... Gak ada, emangnya kenapa?" tanya Raya.
"Gak pp sih, cuman nanya aja" jawab Riska.
"Btw, lo tau dari mana kalau anting ini milik si Cassie?" tanya Riska.
"Em, gua pernah lihat Cassie make anting itu" jawab Raya, kaku.
"Hm, ok. Thank u udah kasih tau. Keknya kita harus kasih pelajaran sama dia" ujar Riska.
Setelah itu, Riska menngambil hanpdone miliknya dari atas meja dan segera melakukan panggilan video grub mereka ber lima.
Tak berselang lama semua anggota gengnya segera menjawab panggilan video dari Riska.
"Kenapa, Ka?" tanya Mindy.
"Biasanya ada sesuatu nih. Udah lama banget lo gak Vc-an gini di grub" kata Zey.
"Hm, bener tu. Udah lama banget" sambung Putri.
"Kalian ke rumah gua sekarang. Gua mau ngomong sesuatu sama kalian" ujar Riska.
"Seru nih. Ok, gua otw" ujar Mindy.
"Raya mana? Kok gak masuk panggilan?" tanya Putri.
"Ini Raya lagi bareng gua" ujar Riska, memperlihatkan wajah Raya. Sementara Raya hanya tersenyum kecil.
"Wahh, gak adil. Lo kenapa gak ngajak-ngajak Ray? Udah lupa sama kita?" tanya Zey.
"Iya, mana dari kemarin lo diem mulu lagi. Vanya udah gak ada, Ray. Sekarang tinggal kita berlima. Kita harunya jangan kelihatan lemah. Apa lo takut sama si Cassie?" ujar Mindy.
Raya hanya diam dan tak menjawab pertanyaan dari Mindy.
"Mindy, lo jangan terlalu kasar sama Raya. Dia baru keluar dari rumah sakit loh" ujar Putri.
"Iya, lo terlalu kasar Ndy. Kita harusnya lebih ngertiin Raya. Dia pasti lagi butuh dukungan kita semua sekarang" sambung Zey.
"Udah kalian gak usah berantem. Gua tungguin kalian sekarang. Gua mau bahas soal si Cassie. Dia emang harus di kasih pelajaran" ujar Riska.
"Really?!" ujar mereka ber3, serempak.
Bersambung...
__ADS_1