Ilusi

Ilusi
BAB 21 (Part 2)


__ADS_3

Flashback On.


Enam tahun yang lalu. Di sekolah Smp Pelita Jaya, terdengar suara tawa anak-anak remaja, aku sebagai badut yang meramaikan suasana.


"Hahaha, Cara kamu lucu dehh, lagi gila ya hari ini? Hahaha" seru Tiara tertawa lepas.


"Hahaha, iya emang kenapa? kalian lebih suka aku kek gini kan dari pada diam" jawabku bertingkah konyol.


"Iya ra, soalnya kalau kamu diam terus kita gak berani gangguin kamu" sahut Rara.


"Hahaha, that's because i'm an ambivert" ucapku.


"Eh, eh, katanya hari ini kita bakalan kedatangan murid baru loh, tapi dari tadi kok gak ada ya" sela Dila.


"Eh, iya seriusan? wah, hahaha, kita jangan kaku ya supaya dia juga bisa akrab ke kita" sambungku.


"Hm, kamu mau temenan sama murid baru Ra?" ujar Felisa.


"Hm? iya, emang kenapa?" tanyaku penasaran.


"Ya gapapa sihh" celetuk Felisa.


"Apaan dahhh" ucapku merasa heran.


Suasana makin ramai karena guru mata pelajaran tidak masuk. Kami menggila layaknya anak-anak alay di usia remaja awal.


Suara tawa anak-anak seumurku terdengar tenggelam larut dalam pikiran.


Skip. Aku sedang berjalan saat pulang sekolah, mimik wajah terlihat merenung dengan isi kepala tercampur aduk. Aku melihat keindahan bentuk awan, kemudian beralih melihat pepohonan.


Saat aku melihat salah satu pohon yang berbentuk unik tersebut, tiba-tiba seorang anak seumurku berlari dan menangis di salah satu pohon itu, aku langsung menghampirinya.


"Kamu kenapa? kok nangis?" tanyaku melihat tanganya yang di penuhi darah.


"Ak.., Aku.." jawabnya gemetar.


"Kenapa?" tanyaku pelan sambil menyamai posisi badan kami. Ia tak menjawab.


"Tangan kamu kenapa banyak darah? Luka?" tanyaku lagi.


"Emm, en- gak, aku.. udah bunuh hewan" jelasnya, menatapku dengan mata sayu.


"Hewan? Hewan apa? Alasannya kenapa sampai kamu bunuh dia? Apa dia udah jahat sama kamu?" ujarku, bertanya.

__ADS_1


Dia lalu berdiri sambil menarik tanganku, sedangkan aku hanya mengikuti dirinya.


Beberapa saat kemudian. Kami sampai di suatu bangunan kosong, seperti kosan yang terbengkalai. Di sana, tepatnya di samping kos terakhir tsb. Ada dua bangkai hewan yang terlihat, itu adalah seekor kucing dan tikus.


Tangannya menunjuk pada bangkai kedua hewan tersebut. Sedangkan mataku melirik mengikuti arah tangannya menunjuk.


Ekspresiku terlihat datar saat melihat kedua bangkai hewan tersebut. Lalu aku menengok padanya lagi dan berkata,


"Apa kedua hewan itu.. udah jahat sama kamu?" tanyaku, biasa. Sedangkan ia menggeleng dan berkata,


"Ng- gak, aku sebenarnya cuman gak suka aja kalau mereka berisik. Telinga aku sakit dengerin mereka berantem terus. Aku jadi ke inget terus sama Papa dan Mama aku yang berantem tiap hari" jelasnya, mimik sedih.


"Papa sama Mama kamu juga sering berantem? Alasannya kenapa?" tanyaku serius dengan mimik prihatin.


"Keknya gara-gara Papa aku sering bawa tante-tante ke rumah aku. Mamah jadi marah, terus mereka berantem lagi. Papa juga selalu kasar sama Aku dan Mama. Terus karena itu juga mama sering nangis. Aku juga pernah lihat mama main sama om-om lain. Jadi aku selalu sendirian di rumah, cuman bibi dan pak satpam yang sering ngajak aku ngobrol. Mereka berdua selalu sibuk" jawabnya pelan menjelaskan.


Mendengar penjelasannya, kakiku mengambil langkah sambil kedua tanganku menarik tangannya untuk mendekatiku. Aku pun memeluknya.


Setelah itu, aku mengambil sebuah batu yang berukuran sedang. Lalu aku memukul kembali bangkai-bangkai hewan tersebut sampai tak tersisa satupun anggota tubuh keduanya.


Seluruh tubuh mereka benar-benar hancur di buatku. Setelah selesai menumbuk tubuh kedua hewan tsb, aku langsung menengok ke arahnya sambil tersenyum manis. Sedangkan ia juga membalas senyum padaku. Lalu aku berdiri menghampirinya dan berkata,


"Mulai sekarang kamu gak akan sendiri lagi. Aku akan selalu ada di dekat kamu. Nama kamu siapa? Apa kamu mau temenan sama aku?" tanyaku.


"Aku Cara Callista. Sekarang kita temenan," mengait jari kelingking, "Gak akan ada orang yang bakalan bisa ngerusak pertemanan kita. Okay?" ujarku tersenyum dan di angguki oleh Greysie kecil tsb.


Setelah itu hubungan kami berdua menjadi semakin dekat saja. Aku sering mengunjungi rumahnya untuk bertemu begitupun dengannya, bahkan biasanya kami menginap sampai berminggu-minggu di rumah masing-masing.


Persahabatan kami sangat erat. Hal itu karena banyak kecocokan antara jalan pemikiran serta hal yang kami sukai. Kami juga sama-sama menyukai olahraga bela diri dan jenis olahraga berat lainnya.


Semuanya berlangsung normal sampai kami lulus dari bangku Smp. Setelah lulus kami mendaftar di sekolah Sma Permata, bahkan kami juga sampai memiliki pacar masing-masing.


Semuanya terlihat menyenangkan, berjalan seperti keadan biasa layaknya manusia normal. Meskipun Greysie sering kali melakukan percobaan bunuh diri karena merasa tak tahan dengan kelakuan ayahnya.


Skip. Enam bulan lebih kemudian, aku telah mengetahui kebenaran di balik hancurnya bisnis ayahku yang di mana membuat Ibu dan adikku meninggal, bahkan aku sampai menjadi seorang pembunuh ayahku sendiri.


Hal itu benar-benar membuatku sangat marah, rasa benci seakan mengalir dalam darahku. Aku sangat ingin membunuh mereka saat itu juga. Namun aku berpikir untuk menghancurkan bisnis mereka terlebih dahulu karena itu semua adalah hasil dari jeripayah ayahku. Mereka sama sekali tak mempunyai hak atas semua harta yang mereka dapatkan karena telah merebut ide milik ayahku.


Setelah mengetahui kebenarannya. Aku memutuskan kontak dengan semua orang, bahkan aku juga berhenti berpacaran dengan Heafen. Aku menghilang selama seminggu lebih. Sedangkan Greysie terus berusaha untuk mencari tau keberadaanku di bantu oleh Hendry, sekretaris pribadi Ayahnya.


Padahal aku sengaja menjauh dari Greysie karena aku tak ingin ia terlibat dan terluka akibat membalaskan dendamku pada keluarga Cassie dan Bryan. Tetapi, Greysie malah mengancam ingin bunuh diri di depanku. Tentu saja aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi, secara dia adalah sahabatku satu-satunya.


********

__ADS_1


Di kota Surabaya. Tepatnya di sebuah atap gedung tinggi. Aku berdiri sambil melihat pemandangan kota Surabaya saat malam hari. Badanku, aku sandarkan pada tembok pemisah tepi atap bangunan tsb, sedang tanganku berada di atasnya.


Di telingaku, tentu saja sudah ada kedua hedsed yang terpasang. Sedangkan melodi indah dari musik yang berjudul Vague003 Drowning berhasil menenangkan suasana hatiku yang sedang berkecamuk.


Tak lama kemudian, tiba-tiba Greysie datang dan langsung berteriak padaku.


"Caraaa!" teriak Greysie berlari ke arahku, sedangkan telingaku yang sensitif akan suara langsung mendengar teriakannya.


Kemudian separuh badan dan kepalaku langsung menengok arah dari sumber teriakan tersebut.


Mataku membulat ketika melihat Greysie berlari sampai ia memanjat tembok pemisah tepi atap bangunan tersebut.


"Ceritain ke gua sekerang atau lo mau gua mati?!" ancam Greysie, sedang kaki kananya sudah berada di udara.


"Greyy?! Lo.. Lo ngapainn?!" tanyaku dengan wajah cemas.


Di saat tanganku ingin mendekati untuk memegang kakinya, ia malah makin mengancamku untuk segera melompat.


"Jangan berani pegang kaki gua! Jelasin sekarang, Ra!" ancam Greysie, mimik serius.


"Grey, Grey pliss, pliss..." ucapku, tatapan memohon.


"Keknya lo lebih milih kalau gua mati, okk" ujarnya, langsung melompat.


"Greyy.....!" teriakku, menangkap tangan kanannya.


"Lepasinn, Raa!" ucap Greysie, berayun berusaha memberatkan badannya.


"Aggghh, No Greyy, aku gak mau lep- aas.. siinn" ucapku, dengan suara serak.


"Aku bilang lepassiinn!" bentak Greysie.


"Aku bakal jelasin, Grey. Mmf, haku bakal jelasin ke kamu. Aku bakal jelasin semuanya, pliss" ujarku dengan air mata yang menetes.


"Gua gak percaya sama omongan lo! Bisa jadi ini cuman akal-akalan lo doang!" kata Greysie, membentak.


"Ng- gak, Grey. Ng- gak.. aku gak bo'ong.. apa aku pernah bohongin kamu sebelumya? gak kan?" ucapku, meyakinkan dirinya.


Greysie mulai luluh setelah mendengar perkataanku, Namun genggaman tangan kiriku yang memegang tangan kanannya hampir terlepas. Rasanya tangan kami sangat licin.


"Eggh," rintihan, napas yang tertahan dariku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2