Ilusi

Ilusi
BAB 9 (Part 3)


__ADS_3

Kata pepatah, membunuh atau di bunuh, tetapi... Entah mengapa pandanganku selalu berbeda dari orang-orang biasanya, apalagi jika hal itu menyangkut kehidupanku. Aku lebih memilih untuk membunuh dari pada aku yang harus di bunuh, meskipun pilihannya hanya dua, yaitu membunuh orang lain atau membunuh diriku sendiri, alasannya karena aku tak sudi jika harus di bunuh oleh orang lain, lebih baik aku saja yang membunuh diriku atau aku yang membunuh mereka, pilihannya ada padaku.


********


Di rumah sakit, seseorang memakai jubah berwarna hitam lengkap dengan kaus tangan dan sepatu warna hitam berdiri tepat di depan wajah Raya, ia sedikit membungkuk untuk menyamakan posisi wajahnya dengan Raya. Matanya menatap sangat tajam, tangan kirinya membungkam erat mulut Raya. Sedangkan jari telunjuk tangan kanan di taruhnya di bagian bibirnya yang berlapis masker hitam tersebut.


"Sssstt....!" ucap seseorang menatap tajam, lalu matanya melirik sofa seperti mengkode akan menyakiti ibunya jika Raya berteriak.


Raya perlahan melirik ibunya yang tidur di sofa mengikuti lirikan mata seseorang tersebut. Ia membulatkan mata dan menatap cemas, lalu menggelengkan kepala seakan memohon pada seseorang di depannya. Air mata Raya jatuh menetes memohon ampun pada seseorang di depannya.


"Kalau tidak ingin dia mati," menunjuk ibu Raya dengan pisau, "lakukan apa yang akan aku katakan!" perintah seseorang, diikuti anggukan setuju, Raya. Lalu suara terdengar di telinga Raya.


"Ray...?" panggil Mindy pelan.


Di dalam rumah Riska, Raya tersadar dari lamunannya. Ia lalu menengok Mindy dengan mimik sedih.


"Loe kenapa Ray?" tanya Mindy.


"Maafin gua" batin Raya.


********


Sementara itu, di rumah Greysie. Rasya dan Heafen masih terlibat dalam ketegangan. Aric hanya bisa diam. Greysie mengancam akan mengusir mereka dari rumahnya jika tak mau diam, sedangkan aku tak tahu harus berbuat apa pada mereka.


"Gua tungguin, lo!" cela Heafen.


"Lo kira gua takut?" jawab Rasya sombong.


"Syaa... kamu pulang aja dulu, nanti aku call kamu" pintaku dengan tatapan memohon.


"Hah?! why? why kamu harus call dia?" sela Heafen, ia terlihat tak suka.


"Kenapa emangnya? apa urusannya sama lo kalau Lista nelfon gua, emang lo siapa?" sambung Rasya, mengejek.


"Anj**ng, minta di hajar lo, t*ik!" cela Heafen, ia ingin memukul Rasya. Sedangkan Rasya memasang badan bersiap untuk menahan pukulan Heafen dan memukul balik.


"Fuckk, lo berdua! keluar dari rumah gua!" bentak Greysie menengahi mereka berdua. Aric ikut menahan Rasya.


"Bro, lo tenang bro, gak usah di ladenin" ucap Aric sedikit berbisik pada Rasya.


"Ra, aku putusin mulai sekarang status kamu masih sebagai pacar aku, ti-tik!" tegas Heafen mengeraskan volume suaranya, kemudian ia melirik Rasya.


"Ah? Heafen..." lirihku pelan, menatap sedih.


"Gak, Ra.. saat itu kita belum putus, karena aku gak setuju sama keputusan kamu" ucap Heafen menatap marah.


"Tapi kan, aku..." lirihku gemetar.

__ADS_1


"Gak! kalau emang kamu mau putus sama aku, kasih aku alasan yang jelas, kenapa kamu minta putus ke aku, kamu bisa jelasin? gak kan? kalau gak bisa, aku gak bakalan terima kata putus dari kamu, ti-tik!" tegas Heafen, jari telunjuknya menunjuk ke bawah.


"Heafen...," menatap mohon, "pliss.. kita udah sele.." lirihku pelan.


"Stop! i love you, Raa.. kamu denger? aku sayang banget sama kamu, aku masih cinta, Raa" sela Heafen, suaranya melembut.


"A, ku gak bis..." ucapku sedikit tersentak.


"Aku pergi" sela Heafen lagi, ia pergi begitu saja tanpa mau mendengar perkataanku. Sedangkan air mataku menetes melihatnya, isak tangis dari mulutku terdengar kecil. Bibirku gemetar karena menahan tangisan.


"Maafin aku, aku juga mau hidup normal kek orang-orang Heafen, aku juga sayang kamu, tapi..." batinku, membuat serpihan-serpihan ingatan pertengkaran kedua orang tuaku terlintas di pikiranku. Aku mengingat di mana mereka terus bertengkar sampai semuanya menjadi semakin kacau pada malam hari itu. Ingatanku terus berlanjut, aku mulai mengingat kejadian dua setengah tahun yang lalu.


Flashback, dua setengah tahun yang lalu. Di dalam rumahku, aku terbiasa dengan suasana yang sunyi dan damai.


Malam itu, aku berada di dalam kamarku sedang menonton tv. Jariku tak henti mengganti salurannya, sampai ada satu acara yang menyita perhatianku, membuat jariku berhenti mengganti saluran, kemudian aku menontonnya.


Di layar tv, dalam acara khusus yang di buat untuk mengiklankan perusahaan ternama di indoneisa. Acara tv tersebut memperkenalkan mobil dan motor mode terbaru bersama barang-barang elektronik yang di lengkapi sistem smart.


Fitur smart yang ada pada mobil/motor dan barang elektronik tersebut terlihat sangat canggih, sehingga dapat menyita perhatian banyak orang. Apalagi desain-desainnya sangat berbeda dari buatan perusahaan pada umumnya, sehingga terkesan unik.


Namun, mobil/motor serta barang elektronik tersebut nampak sangat familiar, membuat aku teringat akan ide ayahku.


"Kok, semua itu.. sama kek cetak biru ayah?" batinku, aku mengrytkan kening sambil mendekatkan wajahku ke tv.


"Apa.. aku salah lihat? tapi kok fitur sama desainnya juga sama semua? gumamku.


Semua terlihat sama persis seperti cetak biru milik ayahku, membuat aku teringat kejadian sekitar 7 tahun yang lalu.


Ruangan itu seperti hidup Ayahku. Ia sangat suka mendesain mobil/motor, serta idenya yang cemerlang membuat keunikan tersendiri baginya. Hal itulah yang membuat banyak perusahaan tertarik untuk berkerja sama dengan ayahku. Apalagi cetak biru milik ayahku, menjadi perbincangan para perusahaan-perusahaan terkenal, karena pelanggan mereka mulai beralih membeli pada ayahku.


Hal unik lain yang membuat banyak orang tertarik adalah ayahku menerima untuk mendesain sesuai permintaan pelanggan. Sehingga banyak perusahaan yang menawari kerja sama atau pun ingin membeli ide ayahku. Tetapi ayahku selalu menolak permintaan mereka, karena menurut ayahku, ide bukanlah sesuatu yang bisa di perjual belikan untuk orang lain. Ide adalah hak milik sendiri, setiap orang memiliki hak atas idenya.


Namun, setiap saat banyak perusahaan yang mendatangi ayahku untuk membeli ide-ide miliknya. Mereka terus menawarkan kerja sama dengan iming yang sama, membuat bisnis ayahku berkembang lebih cepat, serta mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. Tetapi ayahku tak pernah tergiur dengan hal itu, membuat ia selalu menolak tawaran yang hanya mementingkan tentang pendapatan perusahaan mereka.


Saat itu, aku sedang bersembunyi di bawah meja kerja milik ayahku, Namun aku tak sengaja bersuara, membuat ayahku menyadari keberadaanku. Ayahku lalu memeriksa bawah meja kerjanya, ia melihatku sedang menutup mulut, aku terkejut karenanya.


"Cara...? kamu ngapain di sini, sayang?" tanya Ayahku, mengintip bawah meja.


"Emm, maaf ayah" jawabku, gemetar menahan tangis karena takut di marahi.


"Jangan nangis sayang, ayah gak marah kok" ucap ayahku, ia lalu menggendongku di bagian belakang.


Setelah itu, ayahku memperlihatkan pekerjaannya padaku. Aku melihat cetak biru di meja kerja Ayahku. Banyak juga barang smart buatannya.


Cara ayahku mendesain sebuah mobil dan motor sangat canggih. Mataku berbinar karena terpesona melihat semuanya. Rasanya seperti aku di kelilingi robot canggih. Ayahku juga memperlihatkan padaku semua fitur terbaru untuk setiap desain mobil dan motor di cetak biru miliknya. Ia terlihat sangat bahagia dengan pekerjaan ini, karena merupakan impian ayahku sejak ia kecil.


Setelah aku teringat hal itu, jantungku mulai memompa darahku dengan cepat. Tanganku mulai gemetar, tatapi aku masih berusaha untuk menenangkan pikiranku, mungkin saja aku salah melihat. Kemudian aku mencoba untuk melihat lagi dengan teliti, lalu mengingat kembali saat ayahku memperlihatkan dan menjelaskan idenya padaku.

__ADS_1


"Apa aku salah lihat?" batinku.


Semakin aku mencoba mengingat perkataan ayahku, jantungku semakin berdegup kencang, apalagi saat aku mendengar setiap fitur baru yang di perkenalkan, entah mengapa semua terasa sangat familiar di telingaku. Aku berusaha untuk meyakinkan diri, bahwa aku salah melihat dan mendengar. Namun, aku malah teringat lagi dengan perkataan ayahku pada ibuku di malam mengerikan saat itu.


"Kamu mau aku ngapain hah?!" bentak Ayahku menatap benci.


"Aku udah hancur sekarang! bisnis aku bangkrut, ide-ide aku di curi sama mereka, kamu lihat ini," menunjuk botol minuman, lihat ini!" teriak ayahku membentak ibuku.


Saat teringat lagi akan hal itu, membuatku mulai menangis mengingat malam mencekam yang merenggut segalanya dariku.


"Ternyata, semua ini salah mereka" batinku, lalu aku menangis dengan rasa sakit mendalam.


Suara ayah ibuku bertengkar, serta suara penjelasan dari tv menggema di kepalaku.


Kemudian aku mulai membanting barang-barang di dalam kamarku. Berteriak tak jelas, melihat tanganku sampai aku memukul dinding rumahku berkali-kali. Rasa amarah dan benci menghantuiku.


Greysie sedang mengintip aku dari balik pintu kamarku, aku tak menyadarinya karena diliputi rasa sedih, marah dan benci. Setelau itu, aku malah mengatakan sesuatu yang tak seharusnya aku katakan padanya.


Saat ini, serpihan-serpihan ingatan yang ingin aku lupakan semakin memenuhi isi kepalaku, membuatku menangis pelan dengan isak tangis yang terdengar sakit.


Rasya dan Aric terlihat cemas, sedangkan Greysie mulai memeluk erat diriku, ia ikut menangis mendengarku. Dadaku terasa sesak, hatiku sangat sakit.


"K.. me, hmf.. iil me, rey.. Gre.. il, me" lirihku pelan dengan isak tangis, aku berbisik pada Greysie.


"Hm? kamu ngomomg apa, Ra? aku gak denger" ucap Greysie lembut.


"Pliss.. k, me, rey" lirihku pelan dengan air mata yang bercucur deras.


"Ah? aku gak denger Ra, kamu ngomong apa?" tanya Greysie pelan.


"i.., i can't, i can't do this, anymore, please.. kill me" ucapku pelan, tatapan memohon.


Mendengar perkataanku, membuat Greysie terhenti sejenak, jantungnya mulai berdegup kencang, sedang tangannya gemetar.


"Kamu ngomong apa, Ra? aku, barusan aku salah denger kan? tanya Greysie memegang kedua pundakku.


"Pliss...hmf, aku gak bisa lagi, just.. kill me Grey, aku gak pp, kalau.. itu, har- us kamu" jawabku pelan, sedang napasku tersentak karena isak tangis pilu dariku.


Gamparan masa depan yang di perlihatkan saat aku masih berada di alam rahim. Dari sekian banyak rintangan halangan, kegagalan, rasa sakit, badai menerjang, ketidak adilan dunia, tuntutan orang-orang, kelemahan dan ketidak mampuanku. Aku ingin bertanya pada diriku saat itu. Bagaimana bisa kau memilih untuk lahir dan hidup di dunia ini. Jika bisa kembali, aku memilih untuk kembali agar aku tak pernah terlahir ke dunia yang rusak ini.


Jika diriku di masa lalu memilih ya untuk hidup. Aku berharap pada diriku yang sekarang untuk mewujudkan keindahan dari pilihan saat itu. Namun, saat kakiku melangkah menuju mimpiku, aku takut akan terhenti sebelum aku bisa melihat semua keindahan dari pilihanku.


Mendengar perkataanku, membuat jantung Greysie semakin berdegup kencang, tangannya gemetar, napasnya juga tersentak tak beraturan.


Pandangan Greysie saat melihatku seperti menjauh, ia melihat dirinya semakin menjauh dariku, semakin jauh, sangat jauh, membuat pandangan Greysie semakin menghitam, hanya sedikit cahaya kecil di kegelapan, sampai Greysie melihat semuanya menjadi gelap gulita.


Greysie perlahan berdiri sambil melihatku, tubuhnya tak seimbang, ia melangkah mundur pelan, sampai ia terjatuh pingsan.

__ADS_1


"Grey...!" teriak Aric langsung menangkapnya.


Bersambung...


__ADS_2