Ilusi

Ilusi
BAB 27 (Part 2)


__ADS_3

Saat ini, Rasya sedang melihat Berita.


"Korban kali ini merupakan anak dari pasangan Jendral TNI Graham Friedmen dan Brigjen Pol Elba Ritter. Korban di temukan oleh warga dalam keadan sudah tak bernyawa di sekitar pinggiran sungai"


********


Kemarin, malam. Setelah Rasya mendapat telpon dari Angeline, Rasya segera keluar untuk mencari adiknya itu. Dia juga telah menghubungi Ayah dan Ibunya, tak lupa juga Rasya meminta bantuan rekan detektivnya untuk mencari tau lokasi terakhir Angeline berada.


Sementara itu, di bangunan tua. Greysie segera menggendongku sampai di mobilnya. Berpikir cepat, motorku ada di sana. Sedangkan Angeline telah melarikan diri. Sehingga Greysie menelpon seseorang untuk segera mengambil motorku, jika tidak mungkin hal yang tak kami inginkan akan benar-benar terjadi.


"Om. Perintahin salah satu anak buah om yang gak pernah berhubungan langsung sama om atau Papah. Itu harus dari telinga ke telinga. Ambilin motor Cara sekarang di bangunan xxxxx. Orang suruhan om itu juga harus pintar menghindari semua Cctv" ujar Greysie, memerintah.


"Em.. Om bisa lakuin itu. Tapi kamu gak kenapa-kenapa kan, Grey? Kamu gak lagi terlibat masalah, kan?" tanya Hendry, cemas.


"Aku gak pp. Om turutin aja semua kata-kata aku. Kalau om gak mau aku kenapa-kenapa, om sebaiknya selalu diam dan gak perlu nanya lagi tentang apapun yang bakal terjadi nanti" jelas Greysie.


"Hm, baiklah. Tapi kamu jaga diri baik-baik ya" sambung Hendry.


"Iya, om" balas Greysie singkat.


Greysie kemudian mematikan tolpon miliknya. Dan ia segera menancap gas mobilnya.


Sesampainya di depan rumahku. Greysie segera menggendongku sampai ke kamar. Lalu membaringkanku ke tempat tidur.


"Chat. Sialll. Chat, gua lupa Chatnya" batin Greysie.


Setelah itu, Greysie segera membuka laptop miliknya. Dan menghack hanpdhone Angeline segera. Untung saja sebelumnya Greysie telah memasang aplikasi di handhpone milik Angeline.


Aplikasi yang di pasang Greysie akan terhapus otomatis jika sudah terpasang selama 6 jam lamanya.


Setelah memasang aplikasi itu juga Greysie telah menyembunyikan letak aplikasi dan menguncinya.


Tak butuh waktu yang lama bagi Greysie untuk menghack hanphone Angeline, ia pun dapat menghapus semua jejak chat yang ia kirimkan sebelumnya.


Akhirnya, Greysie bernapas lega. Tak ada yang perlu di khawatirkan saat ini karena aplikasi itu juga akan segera terhapus kecuali Angeline yang akan membuka mulut dan membocorkan rahasia kami.


"Siaalll" batin Greysie, ia lalu melihatku.


********


Sementara itu, Setelah Angeline pergi menggunakan mobilnya. Mobil hitam yang tadinya berada sedikit jauh dari rumah Rasya, terus mengikuti mobil Angeline.


Sementara Rasya yang juga mengejar Angeline kehilangan jejaknya karena lampu merah sebelumnya, membuat mobil yang buru-buru langsung tancap gas sehingga menghalangi Rasya, membuat ia hampir bertabrakan dengan pengendara lain.


Angeline melaju dengan mobil miliknya, melewati jalanan yang gelap, sunyi, dan jauh dari keramaian, ia tak sadar kalau dirinya terlalu luput dalam rasa takut, kesedihan dan membuatnya membawa mobil tanpa melihat arah tujuan.


Namun, tiba-tiba mobil hitam mendahului mobil milik Angeline. Mobil itu berhenti secara mendadak tepat di depan mobilnya, membuat Angeline refleks menginjak rem mobil.


Ciiiiiit.........!


Angeline terkejut, ia melihat seorang yang memakai jubah berwarna hitam keluar dari mobil hitam tersebut.


Dia adalah Bryan. Setelah keluar dari mobilnya, Bryan segera menodongkan pistol ke arah kepala Angeline.


Jari telunjuk Bryan, ia taruh di bibirnya seakan berkata diam pada Angeline.


"Ssstt......" ucap Bryan.


Angeline ketakutan, lalu segera menelpon Rasya dengan tangan gemetar.


Saat ini, Angeline masih trauma dengan tatapan Greysie padanya sebelumnya. Jadi saat ia melihat Bryan, ia berpikir itu adalah Greysie.


Menelpon.


"Halo dek, kamu dimana?" tanya Rasya cemas.


"Kak.., t.., to.., tolong ak, akuu kak," ucap Angeline gemetar.


"Kamu di mana sekarang?!" tanya Rasya tegang.


"Ak..."


"Aaaaahh" teriak Angeline.


Bryan menyeret Angeline, membuat telpon milik Angeline terjatuh di mobilnya.


"Pliss, pliss, jangan bunuh aku.., kak tolong akuu!" teriak Angeline, suaranya mengecil.


"Angeline? dek.. dekk, Angeline!" teriak Rasya di telpon.


Setelah itu, Bryan membungkam mulut Angeline dengan kain dan membuat Angeline pingsan.


Kemudian, Bryan memasukan Angeline ke dalam mobilnya. Ia juga mengeluarkan kartu penyimpanan kamera dasbhor di mobil Angeline dan mengambilnya.


Sesampainya di suatu bangunan. Bryan segera mengikat Angeline, di sana juga telah ada Cassie serta anak buah Bryan.


"Hahahah, thank u babe" ucap Cassie, tersenyum senang.


"Of course, sayang. Apasih yang gak buat baybeku satu ini. Aku udah bilang bakalan bunuh dia dengan tangan aku sendiri" ujar Bryan.


Kemudian Bryan mengkode anak buahnya. Sedang mereka langsung bergerak dan menyiramkan seember air pada Angeline.


Hal itu membuat Angeline tersadar dari pingsannya, sambil ia menarik napas panjang.


"Haiii...." sapa Cassie, tersenyum senang.


"K, kaliannn......!" ucap Angeline, melotot dan penuh amarah.


"Kenapa? Gak nyangka kalau ini kita? Hahahahaha. Hahaha. Lo tau gak apa kata temen lo itu ke gue sebelum dia mati?" ujar Cassie, menjambak rambut Angeline.


"Kalau berani jangan ganggu yang lemah, cari yang kuat, menyeyeyeye, tai*kkk!," mendorong kepala Angeline, "akhirnya... Dia mati juga, he, hahahaha. Kuat apanya, lo mau tau gimana akhir hayat dia?" tanya Cassie, mengejek.

__ADS_1


"Padahal semua badannya udah kena tembak tapi gak mati-mati juga. Gue juga udah mukul kepala dan nonjok mukanya, tapi masih hidup terus. Hn, hahaha, itu maksdunya kuat? Hahahaha. Kuat itu kayak gue, kayak keluarga gue" jelas Cassie.


"Hn, hahahahahahahah," Angeline tertawa.


Hal itu membuat Cassie dan Bryan menatap heran padanya. Lalu Angeline berkata.


"Kalian semua bakal tamat di tangan mereka. Kalian mungkin bisa bunuh gue sekarang, tapi suatu saat nanti kalian bakal mati di tangan mereka. Dan mereka bakalan nertawain mayat kalian semua. Hahahaha" ujar Angeline yakin, lalu tertawa lagi.


"Anj*ing!" cela Cassie.


Cassie lalu memukul Angeline habis-habisan, ia baru berhenti setelah rasa lelahnya muncul.


Saat ini, Angeline masih hidup, ia bernapas lemah. Sedangkan darah telah memenuhi kepala, serta wajahnya sampai menyucur deras mengaliri tubuhnya.


"Masih hidup juga?" tanya Cassie.


Bryan lalu memerintahkan anak buahnya untuk melepas ikatan Angeline, sehingga Angeline terjatuh ke lantai.


Kemudian, Bryan mengambil besi yang berada di tangan Cassie. Lalu segera memukul, menendang, dan menginjak-injak Angeline sampai mati.


********


Sementara itu, di dalam rumahku. Greysie sedang mendengarkan percakapan dari kedua orang tua Cassie.


"Bryan udah bunuh Angeline?" tanya Ibu Cassie di telpon.


"Iya, mah. Dia udah mati. Kita bakalan pulang sekarang" jelas Cassie.


Setelah mendengar hal itu, bibir Greysie terangkat dan ia pun tersenyum lebar.


"Hn, hnhnhnhn," menunduk, "hnhahahaha. Hahahaha. Hehehahahaha. Hahahaha," Greysie tertawa terbahak-bahak.


Sedangkan aku terbangun karenanya, itu juga karena aku bermimpi.


"Berita bagus, gue gak perlu ngotorin tangan gua. Dan... Cara.., Cara gak bakalan marah sama gua. Hehahahaha. Hahahaha" ujar Greysie, berkata pada dirinya sendiri.


"Grey?" panggilku.


Melihatku terbangun, Greysie langsung memelukku dan berkata.


"Dia udah mati, Ra" ucap Greysie.


Mendengarnya membuat aku mendorong Greysie untuk menjauh dariku.


"Ckkk! Bukan aku yang bunuh, Ra! Tapi Bryan dan Cassie yang udah bunuh dia" jelas Greysie.


Greysie lalu memutar rekaman suara yang sebelumnya ia dengar untukku.


(Rekaman Suara).


"Bryan udah bunuh Angeline?"


"Iya, mah. Dia udah mati. Kita bakalan pulang sekarang"


Di lokasi.


"Kita harus ninggalin jejak juga sama dia" ucap Greysie sambil melihat mayat Angeline.


"Lihat sendiri. Dia mati juga kan? Bukan kita yang udah bunuh dia, tapi dia tetep mati!" jelas Greysie, membentak.


"Gak, Grey. Gak perlu. Kita pergi aja" ujarku, menarik tangan Greysie.


"Ra, Dengerin aku dulu. Kalau sampai Angeline ungkap semua rahasia kita. Semuanya bakal sia-sia, tau gak?! Aku lakuin semuanya demi kamu, supaya kita bisa cepetin selesaiin semuanya. Ngerti?! Ngertri gak?!" bentak Greysie.


"Aku paham Grey, tapi plis... udah. Plis.. gak perlu lakuin itu ke Angeline. Dia bukan orang jahat yang sama seperti orang-orang yang kita bunuh selama ini. Mereka sama sekali gak salah apa-apa Grey. Pliss, pliss dengerin aku" jelasku, memohon.


"Ckkk!" gerutu Greysie.


"Grey, dia itu temen Vyora. Pliss, jangan. Udah cukup Vyora aja Grey. Kita gak perlu ninggalin jejak kita lagi sama dia. Pliss, Grey.. pliss" pintaku, memohon menggenggam erat tangan Greysie.


"Lo bakalan lemah kalau gak ada gua, Ra! Ini gua lakuin demi elo. Lo diam aja!" ucap Greysie, membentak sambil berusaha melepas genggaman tanganku darinya.


"Noo, Grey pliss. Jangan, jangaann" larangku memohon dengan bibir gemetar.


Kemudian, Greysie melepas paksa genggaman tanganku. Sedangkan aku langsung menangis.


Setelah itu, Greysie segera menghampiri mayat Angeline dan segera memotong pergelangan tangan Angeline.


Sedangkan aku hanya membuang muka, tak ingin melihat hal itu. Namun, tiba-tiba.


Deg.


Aku terdiam, mematung. Kepalaku terangkat sambil melihat Greysie yang tengah memasukan pergelangan tangan Angeline di sebuah kantung plastik tsb.


Perlahan aku melangkah ke arah Greysie. Semuanya nampak sunyi dan kosong, aku tak mendengar apapun. Tubuhku serasa bergerak sendiri.


Kemudian aku mengambil pisau dari tangan Greysie dan berdiri di atas mayat Angeline.


Mataku menatap seperti iblis. Sedangkan bibirku pelan tersenyum lebar.


Menusuk. Aku terus menusuk seluruh tubuh Angeline sampai merobek kulitnya.


"Haaaa, hyaahahahahaha. Hahahahaha. Hahahah" terus tertawa, sambil menusuk.


"Haaaa, hahahahaha. Hahahahaha. Hahahaha"


Greysie yang sedari tadi berada di sampingku hanya menatap heran padaku. Sebelumnya ia juga terkejut melihatku. Greysie merasa tatapan mataku saat ini seolah bukanlah diriku.


"Ra?" panggil Greysie, pelan.


Mendengar suara membuat mataku pelan meliriknya, lalu melotot. Ada rasa senang yang menggebu di dalam diriku saat ini.

__ADS_1


Kemudian aku langsung menaruh ujung pisau tepat di bawah wajah Greysie sambil tersenyum lebar. Aku menatap tajam, seperti iblis.


Pisau yang aku pegang dengan posisi berdiri, seakan siap untuk menusuk mulut Greysie kapan saja.


"Hnn, hehehehehe. Hnhnhn" aku tertawa kecil.


"Ra?" ucap Greysie, gemetar.


Kepala Greysie sedikit terangkat untuk menghindari kulitnya teriris ataupun tertusuk.


Mata Greysie terus melirik pisau. Sedangkan pisau itu seperti telah siap akan menusuk mulut Greysie dari bawah.


"Ra" ucap Greysie, sekali lagi. Sedang badan Greysie terus bergerak mundur.


Aku kemudian mendorong tubuh Greysie, membuat Greysie terbaring di lantai, sedang tangan kiriku memegang depan pundaknya. Posisi kami saat ini, aku sedang menindih tubuhnya.


Sementara tangan kananku sudah berada di atas. Mataku menatap Greysie dengan tatapan iblis, sedang bibirku tak hentinya tersenyum.


Wajah Greysie nampak pasrah. Ia tak mau melawanku apalagi sampai menyakitiku.


Di saat aku ingin menusuk tubuh Greysie dalam artian ingin membunuhnya. Entah mengapa tanganku terus saja terhenti seperti ada sesuatu yang menahan. Namun tak ada siapapun yang sedang menahan tannganku.


"Hmgh, Hmgh," melotot, "Hmgh, Hmgh, egggh" ucapku terus berusaha menggerakan tanganku untuk menusuk Greysie.


Greysie hanya terdiam melihatku. Ia tak tau harus berbuat apa.


Sementara tangan kiriku yang tadinya menahan tubuh Greysie segera membantu tangan kananku untuk bergerak menusuk tepat jantung Greysie.


"Eggggggh," aku mencoba menusuk dengan kedua tangan.


Jangan berani sakitin sahabat guaa...!!!


Suara teriakan itu membuat kepalaku sakit dan membuat telingaku ikut berdengung kuat.


Aku melepas pisau dari tanganku. Pisau itu jatuh terpental. Sedangkan tanganku terus saja memegang kepalaku. Tatapan mataku seperti berubah-ubah.


"Ra?" panggil Greysie, gemetar dengan mimik cemas.


Aku membulatkan mata saat melihat Greysie, lalu tersenyum lagi. Kepalaku sangat pusing, rasanya aku akan mencekik Greysie, namun aku segera berdiri untuk menjauh darinya.


Setelah menjauh dari Greysie. Jarak kami hanya sekitar 5 meter. Aku terus saja memegang kepala, sedangkan posisi tubuhku seperti sedang bersujud namun sambil memegang kepala.


Lalu aku memukul kepalaku terus menerus. Memukul lantai dan membenturkan kepalaku pada lantai berulang kali.


Greysie yang melihat perilaku aneh dariku langsung berdiri dan segera menghampiriku.


"Ra, raa. Jangan lakuin itu. Jangan lakuin itu. Huhuuuu. Emff, janga, an Ra" ucap Greysie menangis terseduh-seduh.


Greysie berusaha menghentikan aku dan segera memeluk erat. Namun aku segera melepas pelukan Greysie dan terus memejamkan mata sambil memukul kepala.


Napasku sangat berat saat ini. Aku di penuhi emosi. Air mataku terus mengalir begitu juga dengan keringatku. Sementara mataku memerah karena amarah.


Kemudian, aku melihat besi berukuran sangat kecil di lantai. Panjangnya hanya sekitar 15 cm. Lalu aku mengambil besi itu, langsung aku arahkan ke leherku.


Namun, sebelum besi itu menusuk tepat di leherku, Greysie dengan ceketan menghentikan pergerakan tanganku. Akan tetapi saat ini kekuatanku mendominasi, sehingga membuat Greysie kesulitan untuk menahan tanganku.


"Fuuh, fuuuh, fuuh" menarik hembuskan napas berat. Sedang mataku memerah, menatap tajam Greysie yang sedang menahan tanganku.


"Ragh" ucap Greysie menahan kuat.


"Ra, hn.. jangan Ra. Jangan. Jang.. Eghhh, Raa. Ra jang- aaggghh" ucap Greysie, terus menahan tanganku.


Kekuatanku sangat mendominasi sehingga Greysie harus menggunakan kedua tangannya untuk menahan tanganku.


Namun hal itu percuma di lakukan. Besi itu semakin mendekat ke leherku, hanya sekitar beberapa centimeter lagi sebelum bisa menusuk leherku dalam-dalam.


Karena merasa putus asa. Greysie langsung menaruh tangan kanannya untuk menghalangi besi itu menusuk leherku.


"Aaghhh. Haghhh. Aghh, Ra sadar Ragh, aaghhh. Emff, heghh" ucap Greysie menahan sakit dan berlinang air mata.


Greysie lalu memelukku sangat erat. Ia terus berbisik di telingaku.


"Plis dengerin aku, Ra. Dengerin aku. Egggh, haghh. Dengerin haku pliss. Pliss dengerin aku. Raa. Aku mohonnn dengerin ak.. ghhh" ucap Greysie dengan isak tangis.


Aku tak henti menggerakan besi tsb untuk menusuk leherku. Namun, hal itu juga membuat besi hampir menembus tangan Greysie.


"Rag- haha, aghhhh. Pliss dengerin akuuu. Raa" teriak Greysie kesakitan.


"Raa" ucap Greysie, melemas.


Pikiran Greysie menjadi kalang kabut. Ia berpikir akan bunuh diri jika besi itu sampai menembus tangannya dan menusuk leherku.


"Raa. Cara, akugmm, sa- yang kamu. Kita bakal mati sama-sama" ucap Greysie, lirih.


Cara. Cara. Cara. Ra. Ra. Ra. Ra. Ra. Ra.


Suara Greysie terus menggema di dalam kepalaku. Sehingga membuatku tersadar.


Aku melirik leherku dan segera melepas tanganku yang memegang besi kecil tersebut. Kemudian aku mendorong Greysie untuk menjauh dariku.


Greysie terbaring. Sementara aku langsung berdiri, ingin pergi dari sana.


"Caraaa" panggil Greysie, lirih.


Namun sebelum aku berdiri, Greysie langsung memeluk erat aku dari berlakang.


"Jangan pergi, Ra. Pliss jangan pergi" pinta Greysie, memeluk erat.


"Aku hampir bunuh kamu Grey. Egm aku hampir bunuh sahabat aku sendiri. Huhuu, aku hampir bunuh sahabat aku sendiri~ hmm, mff" ujarku gemetar sambil terus menangis.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2