Ilusi

Ilusi
BAB 30 (Part 1)


__ADS_3

Di kantor polisi. Aku sedang duduk menunggu Greysie di ruang tunggu. Entah mengapa aku merasa sangat kesal hari ini, rasanya ingin sekali membunuh orang.


Di dalam ruang introgasi.


“Bisa kamu ceritakan kembali, bagaimana saat kamu melihat darah dan bayangan dari seseorang itu?” tanya Rasya.


“Emm, saat itu kan saya mau ke dapur pak. Tapi.. gak sengaja denger barang jatuh, jadi saya cek kedapur. Aku pikir mungkin kucing atau hewan lain, kerana di rumah aku cuman ada dua satpam itu di depan yang jagain rumah. Semua bibi juga lagi pulang kampung. Tapi pas aku pergi untuk cek, aku gak sengaja lihat bayangan orang, terus aku kejar tapi gak dapet. Dia hilang, and.. aku baru lihat darah itu setelah ngejar dia sebelumnya” jelas Greysie.


“Cara duduk, bicara dan intonasinya sangat tenang. Tatapan matanya sama sekali gak bisa di baca, semuanya terlihat sangat tenang. Dia seperti pandai berbicara, dan tidak mudah untuk terprofokasi” batin, Rasya.


“Hmm, sepertinya pembunuh itu sudah merencakan jalan pelariannya menggunakan rumah kamu, karena cctv di rumah kamu juga sengaja di matikan” ujar Rasya.


Greysie hanya mengangguk setuju dengan ucapan Rasya. Namun aslinya Greysie sedang tersenyum bahkan menertawakan kebodohan kedua polisi tersebut.


“Hahaha. Bodoh sekali. Hmm, tapi.. Kalau di lihat-lihat polisi ini ganteng juga. Aaah, gua jadi punya ide bagus. Dia sepertinya orang baik, gua harus manfaatin polisi ini. I’m sorry Cara, tapi aku bakalan buat kamu deket sama polisi ini. Dia harus jatuh cinta sama kamu sampai buat dia rela untuk lakuin segalanya demi kamu. Aku harus buat dia curiga dulu ke aku, and.. setelah dia curiga ke aku... Itu bisa dipikirin nanti aja, untuk saat ini aku harus cari cara buat ngdeketin kamu dengan polisi ini” batin Greysie.


“Greysie?” panggil Rasya, menjentik jari.


“Ya, pak, “tersenyum, “apa ada pertanyaan lain yang harus saya jawab” tanya Greysie.


“Anak ini… sangat” batin Rasya, ia memiringkan kepala.


Satu jam kemudian. Greysie berjalan keluar dari ruangan introgasi dan segera menghampiriku.


Aku menatapnya dengan mimik kesal dan mulai berpikir saat melihat wajah tenangnya itu.


"And..," menatap kesal, "why dia sangat tenang? menjengkelkan!" batinku.


Greysie Datang.


"Lama ya? duhh muka kamu gak bisa bohong, kesel kan?"


"Kamu tau kan? kok nanya lagi?"


"Iya, iya. Maaf, maaf deh"


Rasya keluar dari ruangan introgasi dan segera berjalan di lorong kantor polisi. Namun sebelum ia berbelok ke tempat di mana aku dan Greysie berada, ia tak sengaja mendengar perkataanku pada Greysie.


"Kok loe bisa terjebak dalam situasi kek gini? apa perlu gua bunuh tu polisi?"


Mendengar hal itu, membuat Rasya segera menghentikan langkah kakinya dan ia pun bersembunyi di balik tembok.


"Hey, hey," menutup mulutku, "jaga omongan" bisik Greysie.


"Ini kantor polisi tauk, dan lagi kok bilang loe gua sih, kita kan sahabatan, gak perlu bilang kek gitu kecuali ke musuh-musuh kita" jelas Greysie masih menutup mulutku.


"Emang kita punya musuh?" tanyaku melepaskan tanganya.


"Haha.., hahahah," Greysie hanya tertawa. Sedangkan aku diam menatapnya kesal.


"Oops, hehehe. Sory, sory, gak lucu yaa? maaf maaf" ucap Greysie, dengan wajah sok imut.


Setelah itu, aku dan Greysie segara pergi dari sana. Sedangkan Rasya langsung melihat kami dari belakang.


“Mereka berdua sangat mencurigakan. Itu sikap yang gak seharusnya di tunjukan oleh anak remaja apalagi cewek seperti mereka. Kenapa mereka malah saling mengejek? Apa mereka pikir ini adalah masalah sepele? Bahkan jika diperhatikan lagi, sepertinya mereka berdua sama-sama tenang. Hanya saja si Cara Callista itu.. dia.. sangat sulit untuk di jelaskan, dia tadinya beneran kaget atau tidak? Tapi dari tatapan matanya itu terlihat sangat marah dengan kejadian ini. And, kenapa dia marah? Apa alasannya?” batin Rasya.


*******


Setelah urusan di kantor polisi selesai, aku dan Greysie memutuskan untuk pergi ke taman.


Tiba di taman. Kami berjalan untuk mencari tempat duduk. Di sana terlihat Nampak sunyi, sedangkan Greysie terus saja meminta maaf padaku.


“Ra, raa. Maaf” ujar Greysie.


“Diem, Grey! lo kenapa ceroboh banget, hah? kesel gua sama lo. Udah lo gak usah bicara lagi” ujarku, emosi.


“Ra, maafin aku. Aku gak sadar kalau darahnya netes dari kantungan plastik itu. Kalau aku tau pasti udah aku bersihin dari semalam, Ra” jelas Greysie.


“Ckk! Lo jangan bohongin gua. Sengaja kan lo netesin darahnya di situ? Alasan lo apaan sampai simpen darahnya di situ?!” tanyaku, emosi.


“Raa, aku sama sekali gak tau. Aku beneran gak tau sumpah. Aku gak naruh darahnya, darahnya emang netes dan aku gak tau, Raa. Semalam, semalam papa nelpon aku, dan aku.." jelas Greysie, terhenti.


"Maafin, aku Ra" batin Greysie.


"Dan itu, itu juga salah kamu Ra! kenapa ninggalin aku sendiri?” ujar Greysie, membentak.


Mendengarnya, membuatku menghela napas sambil memegang kepala dengan tangan kanan.


“Ckk! Sial” batinku.


“Maafin aku, Ra. Aku harus lakuin ini” batin Greysie.


“Terus gimana kamu udah…” ujarku tak selesai.


“Udah, Ra. kamu tenang aja. Lubang itu udah aku tutup, jadi polisi gak akan tau sebelum waktu yang udah kita tentukan. Aku juga udah naruh anggota tubuh manajer itu di dalam...” sela Greysie, memotong pembicaraan.

__ADS_1


Perkataan Greysie terhenti setelah mendengarku mendesik kesal padanya.


“Ckk!” gerutuku, menatap datar Greysie.


“Gua gak nanyain itu” ujarku, kesal.


Greysie hanya diam, ia tak mengerti dengan kesalahannya.


“Ckk! Sial, keknya gua harus cepat-cepat nyusun rencana buat ngasih pelajaran sama papanya Grey. Sialll” batinku.


“Lo gak pp semalam? Setelah papa lo nelpon, lo gak lakuin yang aneh-aneh lagi kan? Tanyaku.


“Gak, Ra. aku gak ngapa-ngapain” jawab Greysie.


“Cara marah karena itu juga ternyata. Sial, gua lupa kalau dia sensitif soal ini” batin Greysie


Saat sedang sibuk berbicara, tiba-tiba saja seorang siswi dari Sma Harapan bernama Mela tak sengaja menyenggolku.


Brakkkk…..!


"Ah, aaiiisshh" ujarku merintih.


"Maaf, maaf, aku gak sengaja" ucap Mela, ia segera mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri.


"Kamu gak pp?" tanya Greysie sambil membantuku berdiri.


"Iya gak pp, huffff, fuckk" ucapku.


Mela hanya diam mendengarku berkata begitu. Wajahnya terlihat cemas dan ketakutan.


"Sory-sory, bukan kamu maksudnya," tersenyum, "siapa yang ngejar kamu?" tanyaku.


"Eeh, anu.. kok tau kalau aku lagi di kejer?" jawab mela kaku.


"Kelihatan dari muka kamu" jawabku singkat.


"Raa?" sela Greysie, ia mengepalkan tangan karena menahan amarah.


"Ra stop ra, cukup!" bentak Greysie.


"Hm?" ucapku tak peduli.


"Plis jangan kek gini lagi, ini bukan urusan kita, lebih baik kita pergi aja ketempat lain" pinta Greysie, manarik tanganku berusaha mengajakku pergi dari sana.


"Gakkk!" bentakku menepis tanganya.


Aku tak memedulikan mimik wajah Greysie yang seperti itu, dan hanya menatap datar padanya.


Tak lama setelah itu, siswa/siswi dari sekolah Sma Harapan muncul. Mereka datang, langsung meneriaki nama Mela.


Sedangkan Mela yang ketakutan sedikit berjalan mundur sampai bersembunyi di belakangku.


Aku melirik Mela, kemudian menatap datar pada semua siswa/siswi itu.


"Melaa, sini loe. Berani-beraninya loe lari dari kita" teriak Kesya.


"Ooh, jadi kalian yang berani bully saudara gua?" sahutku pada Kesya.


"Hah? saudara? hahahaha, emang loe punya saudara Mel?" ledek Kesya tak percaya.


"Ni saudara kembar gua, loe mau bully dia? bully dia sekarang di depan mata gua!" ujarku, menarik tangan Mela dan mendorongnya ke arah mereka.


Mendengar ucapanku, membuat mereka malah tertawa sejadi-jadinya, begitu juga dengan pacar mereka. Kemudian Kesya segera berjalan untuk menghampiri kami.


"Keknya dia ketua geng anak-anak alay ini" batinku.


Mela lalu menundukan kepala, dan meminta maaf pada Kesya.


"Maaf Kesya" ujar Mela ketakutan.


"Loe..!" ucap Kesya mendorong, memukul kepala Mela berkali-kali.


"Heh, hahahaha, Kesya?," tersenyum miring, "jadi itu nama loe? hnh" ujarku, melihat Kesya.


Mendengar ucapanku, membuat Kesya menatap dan tersenyum ejek padaku.


“Kenapa? lo mau nantangin gua?” tanya Kesya.


Aku hanya berjalan perlahan menghampiri Mela, kemudian menyamai posisi badan kami.


Setelah itu aku berbisik di telinga Mela, lalu menatap Kesya.


“Kamu.. mau aku membunuhnya untukmu?” bisikku, tersenyum.


Mendengar hal itu, mata mela membulat karena terkejut. Mela mengrytkan kening sambil menatap heran seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Akan tetapi, ia hanya bisa diam saat melihat aku yang telah berdiri.

__ADS_1


Setelah berdiri, aku langsung memukuli Kesya serta teman-temannya sampai mereka tergeletak lemas tak berdaya. Wajah mereka lebam dan terus mengeluarkan darah, sedangkan aku hanya tersenyum puas merasakan darah yang tersentuh oleh kulit tanganku.


Rasanya sulit untuk di gambarkan, jantungku berdebar kencang karena hal itu, seperti akan membunuh mereka saat ini juga. Namun aku harus mengendalikan diriku, terlalu banyak mata yang melihat.


Di saat aku melihat batu besar, aku mengambilnya dan segara memukuli pacar mereka yang berani ikut campur dengan ururanku.


Aku juga terus memukuli Kesya dengan tanganku, agar lebih terasa nyaman jika darah yang mengalir dari tubuhnya tersentuh oleh kulitku.


Dia hampir mati di tanganku jika Greysie tidak segera menghentikan diriku, semuanya nampak kacau, aku hanya tersenyum.


“Ra, Raa! Udah Ra, stop. stop, Ra!” ucap Greysie, menahan tanganku.


“Ra, kamu mau dia mati sekarang? Lihat ini kita di mana?” bisik Greysie, menatapku.


Kemudian, aku segara berhenti memukuli Kesya, lalu duduk dengan lutut di tekuk sedangkan kedua tanganku berada di atas lutut.


Napasku masih memburu karena tadinya aku sangat marah, dan kehilangan kendali.


“Ra, kita mau sampai kapan di sini? Ayok kita pergi dari sini. Kamu mau nungguin sampai polisi datang?” tanya Greysie, cemas.


“Kamu tau kan? Terus kenapa nanya? Lebih baik telpon polisi sekarang sebelum aku bunuh mereka semua” ujarku, emosi.


Mendengarku membuat Greysie menghela napas berat, kemudian ia segera menelpon ambulance.


“Hallo…” ucap Greysie.


Setelah menelpon, Greysie kemudian menatapku. Sedangkan aku juga menatapnya balik, kami beradu pandang, pikiran kami seolah berbicara dan saling memahami satu sama lain.


Mata Greysie dengan pertanyaan.


"Kamu kenapa gini lagi?"


Sedang aku menjawab dengan tatapan.


"Loe tau kan kalau gua lagi kesel hari ini"


Beberapa saat kemudian polisi datang. Dan membawaku ke kantor polisi, tepatnya di ruang introgasi.


“Kenapa kamu memukuli mereka?” tanya Rasya.


“Gua lagi kesel dan mereka malah buat gua makin kesel” jawabku, datar.


“Hanya karena alasan itu kamu sampai memukuli mereka?” tanya Rasya, lagi.


“Iya, siapa suruh ngebully orang di depan mata gua. Minta di hajar emang” jelasku, emosi.


“Berarti kamu sama sekali gak merasa bersalah atas perbuatan kamu sebelumnya?” tanya Rasya.


“Gak!” jawabku, singkat.


“Kalau begitu kamu harus di tahan. Bukti cctv juga ada. Jadi kamu harus tetap berada di kantor polisi untuk merenungi kesalahan kamu itu” ujar Rasya.


Kemudian, detective Antony membawaku keluar untuk di masukan aku ke dalam penjara yang berlapiskan jeruji besi, tempat di manaanak remaja pada umumnya.


Di luar, Greysie yang tadinya duduk langsung berdiri. Aku menatapnya, begitu juga dengannya.


Kemudian, aku berbicara tanpa mengeluarkan suara, hanya mulutku saja yang bergerak.


“Jangan berani lakuin itu sendiri. Awas aja!” ancamku, tak bersuara sambil menatap tajam Greysie.


“Gak! gak bisa” batin Greysie, ia menatapku datar.


“Greyyyy!” batinku, sementara mataku masih menatap tajam dan melotot.


Polisi terus membawaku sampai di dalam penjara anak remaja. Kemudian aku memegang jeruji besi sambil menatap kesal.


“Ckk! Sial. Apa gua harus pura-pura nyesal? Greyy! Awas aja lo” batinku.


Kemudian, Greysie segera pergi dari kantor polisi. Ia menancap gas mobilnya dengan perasaan emosi.


Sesampainya di rumah Greysie, ia segera menyusun rencana. Greysie juga menghack cctv di rumah sakit, dia ingin melihat keluarga serta teman-teman Kesya yang datang dan pergi, agar Greysie bisa memilih waktu yang tepat untuk memulai rencana pembunuhannya.


Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 01:35 tengah malam. Greysie berjalan masuk ke dalam ruangan rawat pasien.


Di ruangan itu, terlihat Kesya telah tertidur. Sementara kedua orang tuanya sedang keluar dan teman-temannya juga telah pulang sedari tadi.


Kini Greysie tengah menatap wajah Kesya, sementara tangannya sudah berada di atas sambil memegang sebilah pisau.


Greysie kemudian mengayunkan pisau itu untuk menusuk Kesya, sementara Kesya yang baru saja membuka matanya nampak terkejut.


“To.. ghggghg” ujar Kesya tak selsai.


Pisau lebih dulu menancap di tenggorokan Kesya, membuat napasnya tersentak dan sampai memuntahkan darah.


Tak puas sampai di situ, Greysie juga merobek dan mencabut tenggorokan Kesya, tak lupa juga Greysie memotong kedua telapak tangan Kesya dan mengambil salah satu jarinya untuk di bawanya pulang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2