
Rasya dan Angeline sedang berada di dalam mobil mereka.
Sebelumnya. Angeline meminta bantuan Rasya yang merupakan seorang polisi untuk mencari tau tentang Dela dan Dion.
Rasya menelpon rekannya untuk memeriksa mobil Vyora di Cctv, jalanan menuju panti asuhan.
Menelpon.
"Gimana?" tanya Rasya.
"Mobil dengan plat nomor xxxx yang pak Rasya berikan sebelumya saya temukan di Cctv ini. Mobil itu juga sempat berhenti. Pengemudinya hampir menabrak seorang anak. Sepertinya yang membawa mobil itu adalah remaja yang seumuran dengan adik Pak Rasya, dia remaja cewek pak" jelas Agus.
"Terima kasih pak. Tapi.. Saya boleh minta tolong lagi gak pak?" tanya Rasya.
"Iya, tentu pak" jawab Agus.
"Apa pak Antony masih berada di kantor polisi juga saat ini?" tanya Rasya lagi.
"Iya pak, pak Antony masih membereskan beberapa berkas" jawab Agus.
"Kalai gitu.. Saya boleh minta tolong ke pak Agus dan Pak Antony lagi?" tanya Rasya lagi.
"Iya, tentu saja pak Rasya. Kita adalah rekan satu team. Sudah seharusnya saling membantu" ujar Agus.
"Terima kasih Pak. Jadi.. Saya mau minta tolong sama pak Agus dan pak Antony buat mengidentifikasi wajah dari anak kecil yang hampir tertarbak itu. Saya ingin pak Agus mencari tau tentang alamatnya" pinta Rasya.
"Tentang itu.. Tentu pak. Kami akan membantu" ucap Agus.
"Terima kasih pak. Saya tunggu infomasinya" ujar Rasya.
Selesai Menelpon.
"Gimana kak?" tanya Angeline.
"Teman kakak udah bantuin buat cari alamat mereka. Kamu tenang dek, kakak bakalan bantuin temen kamu" ucap Rasya berusaha menenangkan adiknya.
Tak berselang lama chat masuk ke telpon Rasya. Ia pun membaca chat tersebut.
Mohon maaf pak. Saya tidak bisa menelpon saat ini. Tapi kami berhasil mendapatkan informasi terkait anak kecil sebelumya. Namanya adalah Dino. Dia adalah anak dari seorang petani. Dino juga punya seorang kakak perempuan berumur 18 th, namanya Dela. Alamat mereka ada di Jalan xxxxxx (stiker hormat).
Terima kasih, Pak (balas Rasya).
"Dek, kakak udah dapet alamatnya. Kita kesana sekerang" ucap Rasya.
Mereka berdua pun pergi menuju alamat yang di berikan oleh Agus.
Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 00:01 tengah malam. Mereka baru sampai di rumah Dela.
"Ini udah malem banget. Semoga mereka masih mau bukain pintu" ucap Rasya.
Rasya lalu memarkirkan mobilnya. Lalu mereka berdua berdiri di depan rumah yang nampak sederhana tersebut.
Tuk, tuk, tuk. Permisi. Assalamu'alaikum...
Rasya mengetuk pelan pintu rumah yang terbuat dari kayu tersebut.
Dela sedang belajar di dalam kamarnya. Ia mendengar suara ketukan dan salam. Namun sekarang waktu sudah menunjukan pukul 00:05 tengah malam. Tentu saja Dela takut, itu mungkin bukanlah seorang manusia atau mungkin saja orang jahat.
__ADS_1
Dela kemudian membangunkan kedua orang tuanya. Sementara Dino juga ikut terbangun.
"Ayah, ada orang di luar rumah. Dari tadi ngetuk-ngetuk dan salam" kata Dela, memberitahu Ayah dan Ibunya yang baru terbangun dengan mata mengantuk tsb.
Sementara itu di luar.
"Gak di jawab dek, mungkin mereka masih tidur. Bagaimana kalau besok aja kita kesini lagi?" tanya Rasya, menyarankan.
"Gak! Gimana kalau temen aku kenapa-kenapa?" jelas Angeline, marah.
Lampu rumah yang tadinya mati telah menyala. Kemudian Rasya segera mengetuk lagi.
"Permisi pak, ibu. Maaf menganggu waktu tidurnya. Saya datang ke sini untuk bertanya terkait seorang remaja, namanya Vyora. Dia temen adik saya. Kami ingin bertanya sedikit pada anak kalian" jelas Rasya.
Mendengar hal itu, mata Dela membulat. Kemudian tanpa basa-basi, Dela segera membukakan pintu untuk mereka.
Sementara Ayah Dela terlihat siaga di belakangnya sambil memegang golok.
"Permisi. Maaf pak, bu" sapa Rasya, melihat wajah tegang ayah dan ibu Dela.
"Em, maaf Pak. Saya seorang detektive. Kalian gak perlu takut" jelas Rasya, lalu memberikan kartu nama miliknya.
Kedua orang tua Rasya pun menarik napas lega dan mempersilahkan Rasya dan Angeline untuk duduk.
"Saya ingin..." ucap Rasya tak selesai.
"Kamu Dela kan?" tanya Angeline, menyela.
Hal itu membuat mata tertuju pada Angeline. Sedangkan Rasya menatap keheranan karena Angeline menyelanya.
"I, iya. Namaku Dela" jawab Dela, kaku.
"Kamu tau Vyora kan?" tanya Angeline, tanpa menjawab.
"I, iya tau" jelas Dela, sedikit takut.
"Kamu bisa jelasin gak, gimana kalian sampai ketemu? Vyora sampai sekarang gak ada kabarnya. Aku perlu tau temen aku ada di mana sekarang. Pliss, aku takut dia kenapa-napa. Informasi dari kamu bakal berguna banget buat aku, pliss..." ujar Angeline, gemetar.
Mata Angeline berkaca-kaca. Ia terlihat seperti akan segera menangis.
"Em..." ujar Dela, lalu menjelaskan semua kejadian pada Angeline tanpa tertinggal sedikitpun.
"Cassie?" tanya Angeline.
"Iya, aku.. Cuman tau nama dia Cassie. Tapi Vyora kenapa? Apa Cassie itu udah lakuin seseuatu sama Vyora? Apa gara-gara Vyora belain aku tadi?" tanya Dela, takut dan merasa bersalah.
"Kak Vyora kenapa?" tanya Dino, menyela.
"Kak, bukannya Cassie pacarnya temen kakak? Itu.. Mereka pemilik perusahaan itu kan?" tanya Angeline pada Rasya, tanpa menjawab pertanyaan Dela dan Dino.
"Emm. Sepertinya iya. Kata Dela seragam sekolah mereka seperti seragam Sma Permata, mungkin.. bener Casssie anak dari keluarga Milstone" jawab Rasya, ragu.
"Jadi...? Gimana kak? Apa jangan-jangan mereka yang udah ngelakuin sesuatu sama Vyora?" tanya Angeline, cemas. Rasya tak menjawab.
"Kak..." ucap Angeline, lirih.
Air matanya segera jatuh. Angeline tau mengenai kabar-kabar tentang keluarga Milstone dan Walker. Orang-orang yang berurusan dengan mereka selalu saja hilang, hidup menderita, bahkan mati.
__ADS_1
Namun mereka semua terlihat bersih, tak pernah di temukan bukti sekalipun. Semua orang memliih untuk menghindari keluarga Milstone dan Walker, tak ingin berurusan dengan mereka.
"Kakak..." ucap Angeline lagi langsung menangis.
Sementara Rasya masih diam. Ingatan terus berputar, Rasya teringat saat bersama Bryan.
"Gua bakalan lanjutin perusahaan milik bokap gua nantinya" ujar Bryan.
"Hm, gua denger-denger keluarga kalian.. Sering ngebunuh orang-orang yang gak mau di ajak kerja sama. Apa itu bener?" tanya Rasya.
Sementara Aric juga nampak penasaran, dia menunggu jawaban dari Bryan.
"Hmm, hahahah. Kalian denger kabar dari mana?orang-orang itu sengaja buat nyebarin berita hoax, mereka benci atas pencapaian keluarga gua, jadi mereka nuduh kita atas kesalahan mereka sendiri" jelas Bryan.
"Serius lo?" tanya Rasya, memastikan.
"Iyalah. Hahah" jawab Bryan singkat.
"Ingat ya bro. Gua setelah lulus bakal masuk kepolisian, lo tau kan kalau gua pengen jadi detektive untuk mecahin semua kasus-kasus misteri pembunuhan di negara ini. Jangan sampai lo yang bakalan gua bawa ke penjara" jelas Rasya, sedikit mengancam.
"Hm, kalau itu bener. Gua gak bisa belain lo bro. Meskipun lo luka, dan gua sebagai dokter. Gua gak akan mau obatin lo, meskipun harus melanggar sumpah dokter gua sendiri. Lebih baik lo kuliah ambil jurusan yang lain dan mulai usaha atau cari pekerjaan lain untuk diri lo sendiri" ujar Aric, lalu memberi saran.
"Ct, tenang aja" ucap Bryan, tersenyum ejek.
"Kalian gak akan pernah tau" lanjut batin Bryan.
"Lo gak akan pernah bisa nangkep gua Sya, kalau lo sampai nemuin bukti, maaf tapi lo harus mati saat itu juga" batin Bryan.
"Keluarga gua bersih. Kalian berdua tenang, hn" ucap Bryan, tertawa kecil.
Saat ini, Rasya tersadar dari lamunannya. Ia lalu melihat adiknya yang telah menangis tersebut dan segera pamit.
"Emm, makasih atas waktunya pak, bu. Maaf karena udah mengganggu. Kalau gitu kita pamit pulang" pamit Rasya, berdiri.
"Kak, kak Vyora gak kenapa-napa kan?" tanya Dela dan Dion bersamaan.
"Emm, iya dia gak papa. Kalau gitu kita pamit ya" ucap Rasya, segera melangkah keluar.
Di dalam mobil.
"Kakak... Ini gimanaaa? Aku pengen ke rumah mereka sekarang!" ucap Angeline dengan nada emosi.
"Mereka harus tanggung jawab kalau sampai berani-beraninya gangguin sahabat aku" ucap Angeline penuh emosi.
"Dek... Biar kakak yang urus, kamu tenang aja. Kakak anterin kami pulang sekarang" ujar Rasya, berusaha menenangkan adiknya.
"Gak! Aku gak mau! Kita ke rumah mereka sekarang kak! kalau kakak gak mau anterin aku, aku bakalan pergi sendiri!" bentak, Angeline dengan emosi.
"Okay, okay. Kita ke sana sekarang" ucap Rasya.
*******
Plakkk......!
Tamparan keras melayang di wajah Cassie. Sementara wajah Angeline memerah karena marah, napasnya memberat karena emosi.
"Lo apain sahabat gua, hah?! Lo apaain sahabat gua, ta*ikkk!" cela Angeline.
__ADS_1
Bersambung...