
"Dari cara kalian ngomong kek udah akrab banget. Sejak kapan?" tanya Greysie dengan mimik wajah kesal. Cengkraman tangannya semakin kuat.
"A- aah, sakit Grey" ucapku, berusaha melepaskan cengkraman tangannya.
"Grey, aah sakit hey!" ujarku, membentak sambil berusaha menarik tangannya.
Namun kuku Greysie malah menempel di kulitku, sehingga membuat kulitku tergores terkena cakaran kukunya. Itu terjadi karena aku menarik paksa tangan Greysie agar terlepas dari cengkraman kuatnya.
"Aarg- ha, hmff. Grey lepasin, aaharg leppaas Grey... lepasin, ini sakiiiit" ucapku terus menarik paksa tangannya.
"Jawab makannya!" ucap Greysie dengan tatapan tajam sedang tangannya semakin mencengkram kuat tanganku.
"A- aargh. Hmf iya Grey. Lepasin duluu, ini sak.. haah, aw fuc*k!!" ucapku, membentak.
Greysie tak membiarkanku menjelaskan, dia hanya terus menguatkan cengkraman tangannya, malah tak membiarkanku untuk bisa mengeluarkan kata-kata.
"Grey ceritanya panj.. arrgha.. panjang ceritanya Grey, plis lepasin dulu tangan, kam.. emff," menahan napas, "Grey.. gimana aku bisa jelasin kalau ka.. aahargh" ucapku, langsung menunduk dan terduduk di lantai.
Sedangkan tangan kiriku masih terangkat karena Greysie tak mau melepas genggaman tangannya.
Setelah terduduk, aku tak mau lagi memintanya untuk melepas tanganku, hanya rintihan kecil serta napas pendek tertahan yang terdengar dari mulutku ketika ia sesekali menguatkan cengkraman tangannya tsb.
Tak lama kemudian, Greysie berhenti mencengkram tanganku. Hal itu membuat aku segera beridiri, sambil merintih kecil.
Setelah itu, Bibi datang sambil membawakan minuman dan cemilan untuk kami. Bibi lalu menaruhnya di atas meja, sedangkan aku langsung berjalan masuk ke dalam kamar.
Greysie mengikuti, tangannya juga telah berhenti mencengkram erat tanganku, namun tetap memegangnya.
Saat ini, Greysie tersadar dari lamunannya. Ia melihatku dengan ekspresi senang luar biasa.
Setelah merasa puas, Greysie segera menghampiri aku dan Cassie, dia mambantu memperbaiki bangku dan meja milik Cassie. Sedangkan aku melihat wajah Greysie dengan tatapan heran.
Setelah itu, kami duduk kembali di bangku kami masing-masing. Wajah Greysie terlihat biasa, namun aku bisa melihat jelas matanya yang seolah menunjukan perasaan senang akan sesuatu.
"Kenapa senyum-senyum?" tanyaku, heran melihat Greysie.
"Hah? muka aku sama sekali gak lagi senyum, Ra" jelas Greysie keheranan.
__ADS_1
"Gak, maksud aku.. Kamu kelihatan kek lagi senang banget. Kenapa? karena Cassie?" tanyaku, sedikit berbisik padanya.
Greysie tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya tersenyum sambil mengrykan bibir, mengangkat kedua alis serta kedua bahu miliknya. Sedangkan aku yang melihatnya terlihat biasa saja.
"Apa dia seneng karena gua ingker janji ke Riska? Aneh. Padahal udah jelas banget kalau gua bakal milih dia, gak mungkin kan gua lebih milih orang lain, secara dia kan sahabat gua. Ni anak kenapa dahh, cemburu?" batinku, sambil terus menatapnya dengan mimik wajah biasa.
"Why orang yang sahabatan, kek.. mereka selalu cemburu kalau sahabat mereka temenan sama orang lain. Padahal kalau gua gak bakal tuh gua ngelarang dia buat temenan sama siapapun" batinku, sambil terus melihatnya dengan ekspresi biasa.
Sedangkan Greysie malah menjulurkan lidahnya setelah ia melihatku lagi. Namun wajahku tetap terlihat biasa saja. Kejadian selanjutnya sama seperti bab sebelumnya.
********
Saat itu aku dan Greysie menginap di rumahku dan kami melihat barang-barang di dalamnya berantakan seperti baru saja kemasukan maling (Plot Kejadian Bab IV, Part 3).
Pada saat aku melihat rumahku berantakan, aku segera memeriksa ruangan rahasia di rumahku.
Malamnya, pada pukul 10:30, aku kembali masuk ke dalam ruangan rahasia, lalu mengecek cctv dan melihat sekitar tiga orang masuk ke dalam rumahku.
Meskipun wajahnya tak kelihatan di cctv, aku bisa menebak bahwa salah satu di antara mereka ber tiga adalah Cassie.
Cassie masuk ke dalam kamarku, ia membanting barang-barang di dalam kamarku, bahkan ia juga membanting semua foto keluargaku yang ada dalam kamarku tsb. Setelah puas membanting barang-barang milikku, ia segera membuka laci dan mengambil sebelah antingku, yakni anting sebelah kanan.
"Hnhnhn, hehahaha. Hahahaha, haaiiiss. Hahahahaha, haaa," tertawa puas, lalu berhenti di akhiri dengan senyum smrik.
Setelah puas tertawa, aku pergi ke kamarku untuk mengambil tas hitam tersebut. Lalu aku mengisi tas hitam itu dengan peralatan milikku, yaitu gregaji, palu, kunci inggris, gunting, dan benda tajam lainnya.
Beberapa saat kemudian, tepatnya pada pukul 02:01, aku pergi ke rumah sakit, tempat di mana Raya di rawat.
Sesampainya di dalam kamar ruangannya. Aku memilih untuk tetap berdiri bersender di dinding sambil bersilang tangan, sedang mataku juga terus mengamatinya.
Tak berselang lama, Raya terbangun dan melirik sekitar kamar yang gelap. Namun, cahaya bulan yang terpantul dari jendela berhasil membuat ruangan tsb sedikit terang, sehingga membuat Raya dapat sedikit melihat.
Setelah melihat Raya bangun, aku langsung bangun dari senderan dan melepas silangan tangan sambil berjalan pelan menghampirinya.
Raya tak melihat aku sudah berada di dekatnya, bahkan aku telah menyamai posisi badan kami.
Di saat Raya ingin menengok ke kanan, ia terkejut karena melihat wajah seseorang sudah berada tepat di depan wajahnya. Siapa lagi kalau bukan wajahku. Namun aku menggunakan jaket hitam yang memiliki tudung, serta masker dan kaus tangan serba hitam.
__ADS_1
Area kepalaku sampai rambut tak terlihat karena tertutup tudung jaket tersebut. Apalagi kamar itu juga sangat gelap, hanya depan jendela dan tempat tidurnya yang terkena sinar bulan, karena tempat tidurnya tak jauh dari jendela.
Sebelum Raya berteriak terkejut, aku langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Lalu aku menaruh jari telunjuk kananku di bagian bibirku yang berlapis masker hitam tersebut.
"Sssssst.....!"
Kemudian tanganku meraba kantung jaket untuk mengambil pisau lipat dan langsung membuka pisau tersebut. Kemudian aku menunjuk seorang wanita berumur sekitar 38 tsb dengan pisau di tanganku, tentu saja itu adalah ibu Raya.
"Kalau tak mau dia celaka. Ikuti perintahku" ucapku, berbisik.
Raya ingin menangis, dia juga sangat ketakutan sehingga membuat seluruh tubuhnya gemetar. Sementara keringat dinginnya juga ikut mengalir.
Aku meraba kantung celanaku, lalu mengambil sebuah anting. Anting itu hanya sebelah saja, tepatnya anting sebelah kiri.
"Kasih ini ke temen kamu yang namanya Riska. Bilang padanya kalau kau menemukannya di dalam toilet tempat dia di teror seseorang saat itu" perintahku dengan nada tegas, namun pelan.
"Jika kau tak mau melakukannya, maka orang yang tertidur lelap di sova itu akan segera mati. Jangan pernah berpikir untuk melapor polisi atau semua anggota keluargamu akan mendapat hukaman mati dariku" ujarku, mengancam.
"And.. satu hal lagi. Ini adalah anting milik Cassie, orang yang pernah kau bully saat itu. Jadi kau mengerti maksudku kan" lanjutku, memerintah dengan nada sopan namun terdengar mengintimidasi.
Raya tak tau kalau itu sebenarnya adalah aku, karena aku memakai alat pengubah suara saat berbicara dengannya.
********
(Bab V- Kejadian yang menimpah Ayah Greysie).
Skip. Aku menyelinap ke tempat anak buah Bryan dan meminjam telpon genggam mereka tanpa pamit dulu, handphone itu hanya berguna sebentar untukku karena aku harus menelpon seseorang yang tidak lain adalah Arya Allen Wijaya atau mungkin kalian mengenalnya dengan sebutan Ayah Greysie.
Aku sedang berada di atap apartemen sambil melihat laptop milikku yang di dalamnya terdapat sebuah rekaman cctv langsung dari setiap kamera cctv yang mengarah pada ruangan mereka. Sangat mudah bagiku untuk menghack sebuah cctv, mengingat ayahku dulu adalah seorang dengan kemampuan it yang tinggi.
Telah lama aku mengamati tingkah laku Ayah Greysie. Ia selalu membawa wanita yang berbeda-beda setiap saat. Namun, hal yang paling membuatku marah besar adalah perbuatannya terhadap Greysie.
Aku juga secara sengaja memakai hanphone milik anak buah Bryan agar mereka bisa bertemu dan aku juga bisa memanfaatkan hal itu.
"Kau terlihat sangat menyukai wanita itu" sapaku di telpon, tersenyum sambil melihat mereka menggunakan teropong.
"Siapa kamu?!" tanya Ayah Greysie, membentak sambil melirik sekitar. Setelahnya kejadian seperti di bab selanjutnya.
__ADS_1
Bersambung...