Ilusi

Ilusi
BAB 28 (Part 2)


__ADS_3

Mataku melotot, Greysie sedang berada di bawahku. Aku menindih tubuhnya sedang tanganku berusaha untuk menusuk jantung Greysie.


Di dalam kamarku, aku gelisah saat tidur. Hal itu karena aku terus saja bermimpi tentang kejadian sebelumnya di mana aku hampir membunuh sahabatku sendiri.


"Grey...!" ucapku, terbangun. Sedang napasku terengah.


Kemudian aku menoleh ke kanan, mataku semakin membulat. Darah, aku melihat darah memenuhi lantai rumahku. Sedangkan Greysie sudah tak sadarkan diri.


"Grey, no, no, no..." ucapku, lirih.


Aku segera beranjak turun dan menghampiri Greysie.


"Gr- rey.." melihat tangannya.


Pisau berada di samping tubuhnya, aku tau jika dia mencoba untuk bunuh diri lagi.


"Gr- rey.. Kam.." ujarku, tak bisa berkata-kata sedangkan air mataku mulai mengalir.


"Grey, ka- mu gak lakuin ini karena aku kan?" batinku, bertanya.


Aku mendekatkan telingaku ke dada kiri Greysie sementara tanganku juga mencek denyut nadi di tangan kirinya.


Duk............... Duk.......... Duk.......!


Detak jantung Greysie sangat lemah begitu juga dengan denyut nadinya.


Kemudian dengan tangan yang juga gemetar, aku mencoba untuk menutup luka di pergelangan tangan Greysie dengan kain sampai berlapis-lapis.


Aku lalu membawa Greysie ke rumah sakit, tak kupedulikan kepalaku yang sebelumnya masih terasa pusing. Aku hanya terus menancap gas mobil Greysie.


Tiba di rumah sakit, dokter langsung mengambil tindakan cepat untuk menangani kondisi Greysie.


Beberapa saat kemudian, setelah dokter selesai menangani Greysie.


"Temen saya gak pp dok?" tanyaku, lirih sambil menggit kuku.


"Emm, iya. Pasien baik-baik saja sekarang. Telat sedikit saja darahnya bisa saja habis, dan mungkin.. Semua kemungkinan buruk akan benar-benar terjadi. Untung saja kamu membawanya tepat waktu" jawab dokter, menjelaskan.


"Sepertinya ini bukan untuk pertama kalinya temen kamu mencoba untuk bunuh diri, apa benar?" lanjut, dokter bertanya.


"Em, i-iya.. Grey... Dia..." ujarku, tak bisa berkata lagi karena gemetar menahan tangis.


"Em.. Saya sarankan agar pasien mengambil pengobatan dari psikolog/psikiater. Dan.. Jangan terlalu menekan dan memaksakan pasien atas kehendak sendiri" jelas dokter.


"I-iya. Dok.." ujarku, lirih.


"Apa keluarga pasien tidak ada?" tanya dokter.

__ADS_1


"Ada dok. Tapi..." jawabku, tak melihat dokter.


Dokter menyadari raut wajahku. Ia sepertinya paham dengan situasi saat ini.


"Em, kalau gitu... Kamu jangan tinggalin temen kamu. Semoga persahabatan kalian selalu terjaga, saling melindungi dan saling membantu selamanya" ujar dokter, tersenyum.


"M, m- makasih, dok..." ucapku, menahan tangis.


"Kalau begitu, saya permisi. Mari" pamit dokter.


Setelah dokter pergi. Aku langsung duduk di kursi samping tempat tidur Greysie sambil memegang tangan kanannya.


Air mataku terus saja jatuh, sedang aku terus menatapnya, lesuh.


"Maafin aku Grey. Maafin aku. Maafin aku kalau aku egois, maafin aku. Huhuuuu" ujarku terus menangis sesegukan.


Lihat kan? hampir saja sahabatmu mati. Bagaiamana jika kita bunuh ayahnya sekarang?"


Aku terbangun. Ternyata aku sudah tertidur sedari tadi. Sedangkan Greysie sedang duduk menyender sambil menatapku.


"Grey?" ucapku, langsung memeluk erat dirinya.


"Maafin, aku. Maafin aku Grey" ujarku, sambil menangis sesegukan.


Greysie menutup mata dan membalas pelukan, air matanya juga telah jatuh menetes.


Beberapa saat kemudian. Suasana antara kami masih nampak canggung. Greysie hanya diam begitu juga denganku.


********


Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 13:40 siang. Rasya baru saja pulang dari kantor polisi dengan wajah lemas yang penuh kebencian dan kemarahan.


Tv di ruang tengah rumah Rasya masih menyala, sepertinya Art lupa mematikannya.


Rasya sedang berjalan masuk sambil memegang selembar foto di tangannya.


Berita Sela/Breaking News.


"Hari ini telah di temukan mayat seorang gadis remaja. Korban kali ini merupakan anak dari pasangan Jendral TNI Graham Friedman dan Brigjen Pol Elba Ritter. Korban di temukan oleh warha dalam keadan sudah tak bernyawa di sekitar pinggiran sungai"


"Menurut keteranvan para warga, keadaan tubuh korban sangat memprihatinkan. Seluruh tubuh korban penuh dengan luka tusukan. Luka tusukan itu juga telah merobek kulit hingga daging korban. Warga yang melihat mayat korban sebelumnya juga tak mempu melihat keadaan menyedihkan korban. Di kepala korban juga terdapat luka pukulan kuat sehingga meninggalkan luka yang besar"


"Saat ini, polisi juga telah melakukan investigasi di tempat mayat korban di temukan. Beberapa warga juga berpendapat bahwa hal ini adalah ulah pembunuh berantai. Warga percaya bahwa pembunuh ini merupakan pembunuh berantai yang asli, dan bukanlah Setiawan mantan supir pribadi Bryan Walker"


"Sebelumanya korban Angeline di laporkan menghilang bahkan karena hal itu juga keluarga Walker bersitegang dengan keluarga Jendral TNI Graham Friedman"


Rasya sedari tadi telah berlari keluar rumah meninggalkan tv yang masih menyala tersebut, ia merasa sangat marah karena tidak ada yang menghubunginya untuk memberitahukan mengenai hal ini.

__ADS_1


Tiba di Tkp.


Di sana telah banyak warga yang berkerumun di luar garis pembatas polisi. Sedang Ayah dan Ibu Rasya juga baru saja sampai.


"Rasyaa, adek kamu sayang. Huhuuu. Angeline~" ujar Ibu Rasya, memeluk sambil menangis.


Mereka bertiga memasuki garis polisi untuk melihat mayat Angeline. Tak bisa melihat hal itu, hati mereka sangat sakit saat melihat keadaan menyedihkan mayat Angeline.


Wajahnya sangat pucat, seluruh tubuhnya lebam dan banyak juga bekas luka pukulan ataupun tusukan.


Tangan Rasya mengepal, sedang matanya menatap benci. Mereka bertiga pun menangis sesegukan sambil berpelukan.


Beberapa saat kemudian. Mayat Angeline di bawah ke rumah sakit untuk di Authopsi.


Kemudian setelah Authopsi selesai di lakukan, mereka langsung membawa mayat Angeline pulang dan melangsungkan proses pemakaman untuk Angeline.


********


Sementara itu, di rumah Greysie. Aku terus melihat wajah Greysie, tak berkedip sedikitpun.


"G- Grey... Ak- kku.. mau lihat Angeline bentar boleh gak?" tanyaku, kaku karena takut ia akan merespon tidak suka.


Greysie tak menjawab. Ia hanya diam menatapku, sementara aku juga langsung menetaskan air mata, bukan karena Greysie tetapi karena aku merasa sangat bersalah terhadap Angeline.


"Hegh. Maafin ak-kku. Mma, aaf" ucapku, lirih sambil menunduk.


"Maafin aku Vi, maafin aku. Maafin aku Grey. Maafin aku Bunda, Ayah, Tiya. Maafin aku Angeline. Aku beneran minta maaf sama kalian semua. Ini semua karena aku, salah ak-kkuu. Maafin akuu, mmaafinn ak-kku" batinku.


Sementara aku menangis terseduh-seduh. Ingin rasanya aku segera mengakhiri hidupku saat ini, tetapi aku tak bisa melakukannya, apalagi Greysie selalu berada dekat denganku selama ini.


Greysie masih melihatku yang sedang menangis tersebut. Kemudian Greysie menarik tanganku, ia membawaku sampai di depan mobilnya.


Sesampainya di depan mobil, ia membuka pintu dalam artian menyuruhku masuk. Kami tak berbicara. Tangan kami juga masih sama-sama luka akibat kejadian sebelumnya di mana Greysie menculik Angeline sampai pada saat Angeline di bunuh oleh Bryan dan Cassie.


Beberapa saat kemudian. Di pemakaman,


Kami tak keluar dari mobil dan hanya melihat proses pemakaman Angeline dari kejauhan.


Aku lagi-lagi menangis sesegukan. Jujur saja ini bukanlah diriku, benar kata Greysie aku terlalu lemah untuk saat ini. Biasanya aku tak ingin menangis, tetapi sangat sulit rasanya menahan air mata agar tak keluar.


Padahal aku yang meminta Greysie agar tidak menjadi lemah, aku juga yang memintanya untuk tidak bermain-main dengan hal ini. Tetapi malah akulah yang terus terbawa perasaan, mungkin saja semua itu terjadi karena trauma masa laluku terus menghantui dan memenuhi isi kepalaku.


Seharusnya aku tidak seperti ini. Tujuanku adalah hal yang terpenting di banding semuanya. Aku sudah membulatkan tekatku, semua itu adalah keputusanku. Dan aku tidak boleh sampai berhenti di tengah jalan seperti ini.


Setelah puas menangis, aku terdiam sebentar sedang kepalaku masih menunduk.


"Grey, aku udah cukup. Maaf, ini gak akan terjadi lagi. Kita pergi sekarang" ucapku, dingin sambil melihat lurus kedepan.

__ADS_1


Mendengarku, membuat Greysie tersenyum kecil sambil melihatku.


Bersambung...


__ADS_2