Ilusi

Ilusi
BAB 14 (Part 1)


__ADS_3

Jika keramaian adalah kebahagiaan bagi seorang ektrovert. Lalu, mengapa menyendirinya seorang introvert tidak di anggap kebahagiaannya?


********


Besoknya, di sekolah. Tepatnya di atap bangunan sekolah Sma Permata. Riska sedang menungguku di sana. Ia terus melihat jam tangan, namun aku tak juga datang.


Bell masuk berbunyi. Riska merasa heran karena aku tak juga datang ke lantai atas, di atap sekolah. Setelah itu, ia bergegas pergi ke kelas.


Di dalam kelas. Guru sedang mengabsen nama-nama murid.


"Alfie Jourell Walton" ujar guru, memanggil. Sedang tangannya menunggu untuk mencatat.


"Hadir, bu" jawab Alfie, mengangkat tangan.


"Athan Delano" ujar guru, memanggil.


"Ada, bu" jawab Athan, tersenyum.


"Cara Callista" lanjut guru, mengabsen.


Tak ada jawaban. Sehingga mata guru melirik tempat dudukku.


"Ada yang tau Cara Callista ke mana?"


"Gak ada bu" jawab murid serempak. Sedangkan Riska menengok tempat dudukku.


"Tadi pagi Callista masuk gak?" tanya Guru.


"Tadi pagi dia ada, buk" jawab murid serempak.


"Terus ada yang tau dia kemana?" tanya Guru lagi.


"Gak ada, bu" jawab murid bersamaan. Guru muda berparas cantik tersebut sedikit menghela napas.


"Chloe Nayra Putri"


"Ada, bu" ujar Putri.


"Clara Jacqueline" lanjut Guru, mengabsen.


"Dir, bu" jawab Clara.


Guru terus mengabsen nama-nama siswa, sampai pada nama Greysie.


"Freya Valerie Greysie" ujar Guru, melihat bangku Greysie. Ternyata Greysie juga tak ada.


"Greysie pagi tadi masuk, gak?" seru Guru, bertanya pada semua siswa.


"Gak bu. Dia gak sekolah hari ini" jawab murid bersamaan.


Guru kemudian menghela napas sambil menggelengkan kepala, tak lupa juga tangannya mencoret buku absen di atas mejanya.


Besok paginya. Para murid sekolah berlarian karena sebentar lagi gerbang akan di tutup.


Sementara itu, di dalam kelas. Riska sedang bermain dengan hpnya. Ia terus melihat chat whattsapp yang ia kirimkan padaku, karena masih saja tercentang satu.


"Hey, lo liatin apaan?" ujar Zey, menyapa dengan menepuk pundak Riska.


Riska terkejut, membuat ia refleks menutup layar hp Galaxy Z Flipnya tersebut. Sedangkan, Zey terlihat kepo. Ia ingin melihat.


"Apasih? cowok ya?" ledek Zey.


"Kepo lo!" ujar Riska, kesal.


"Hahah, gua kan cuman mau tau aja. Siapa tau si Alfie. Apa jangan-jangan iya?" seru Zey, bertanya.


Riska hanya memasang muka malas, sedang bola matanya memutar. Bibirnya ikut menggerutu kecil, karena malas mendengar.


Beberapa menit kemudian. Bell masuk berbunyi. Semua siswa sudah berada di dalam kelas. Tak lama setelah itu, aku datang.


"Permisi bu, maaf saya terlambat. Boleh saya masuk bu?" ujarku, memohon maaf.


"Hmf, iya silahkan" ucap Guru.


Riska melihatku, wajahnya nampak diluputi pertanyaan. Aku hanya menatapnya biasa. Setelah itu, aku duduk di tempatku. Sedangkan Riska sesekali melirik padaku.


Beberapa saat kemudian. Bell istrahat berbunyi. Riska ingin menyapaku, namun ia menahannya karena tak ingin anggota gengnya sampai tahu kalau ia sering berhubungan denganku.


Tak lama setelah itu, dia pergi lagi ke lantai atas, atap sekolah untuk mencariku. Namun, aku tak ada di sana. Kemudian, Riska berdiam diri sambil melihat para siswa pemain basket berlatih.


Beberapa saat kemudian, aku datang ke atap. Riska tak menyadarinya. Ia hanya sibuk melihat pria yang di sukainya.

__ADS_1


"Lo cari gua?" ujarku, menyapa.


Riska sedikit terkejut, ia melihatku sambil memperbaiki rambutnya yang berantakan karena tertiup hembusan angin.


"Lo dari mana aja?" seru Riska, bertanya.


"Hm," mengerurkan bibir, "ada urusan bentar" jawabku singkat, sambil melihat anak basket yang sedang berlatih.


"Soal Greysie?" tanya Riska.


"Hm? tau dari mana?" ujarku, bertanya balik.


"Ya.. tau aja, lo kan sahabatan sama dia. Emang urusan apa lagi" jawab Riska.


"Hnh," tertawa kecil, "hmm" ujarku, mengangguk.


"Btw. Thank u banget soal bokap gua. Lo emang bisa di percaya" ujar Riska.


"Sanntai.." ucapku, tersenyum.


Satu minggu kemudian. Riska bersama teman-temannya sedang membully salah satu siswi di sekolah kami. Namanya adalah Alia.


"Berani-beraninya lo deketin Alfie" ujar Zey, mendorong Alia ke tembok sekolah.


"Petakilan banget lo jadi cewek, ketawa hahahihi, menyenyeyey. Cari muka banget" ujar Mindy, mengejek dan mencela. Sedang tangannya meremas bagian wajah sekitar mulut Alia.


"Iya, lo pikir lo cantik? Rasain lo" ucap Vanya, menyiram rambut Alia dengan minuman berwana merah.


"Kalau lo berani deketin dia lagi, awas aja lo!" sambung Raya, mendorong Alia sampai terjatuh.


"Ka, kok lo diam aja sih?" ucap Putri, sedang tanganya masih menjambak rambut Alia.


Riska hanya melihat mereka sambil bersilang tangan. Tak lama setelah itu, Aku dan Greysie datang menghampiri mereka.


Greysie segera melepaskan tangan Putri yang menjambak rambut Alia, lalu ia tersenyum pelan pada Putri.


"Lepasin, apaansih lo!" ucap Putri, mencela, sedang tangannya berusaha melapaskan genggaman tangan Greysie.


"Kalian masih jaman buat bully-bullyan?" tanyaku, melihat mereka.


"Lo siapa njing berani ikut campur?!" cela Mindy, bertanya.


"Hm, gua bukan siapa-siapa" ucapku, tersenyum sumringah.


"Ka, kok lo diem aja sih?" tanya Zey, wajahnya sangat kesal.


Kemudian aku dan Greysie pelan melangkah, ingin pergi meninggalkan mereka. Namun, Riska tiba-tiba saja berdiri di hadapanku untuk menghalangi langkahku.


Kami saling tatap. Wajahku biasa melihatnya, begitu juga dengannya. Greysie langsung menarik pundakku kebelakang, membuat ia berhadapan dengan Riska. Mereka saling tatap-menatap dengan mimik wajah intimidasi satu sama lain.


"Grey, udah" ucapku, menarik tangannya.


Riska tersenyum ejek. Sedangkan Greysie menatap dingin wajah Riska.


Besoknya. Aku sedang berada di lantai dua lorong kelas, menunggu Alfie selesai berbicara padaku. Meskpun aku sudah mengetahui apa yang akan dia katakan padaku.


Sementara itu, di dalam kelas. Riska dan teman-temannya sedang berbicara.


"Si Greysie itu gak bakalan ikut campur kalau gak di hasut sama si Cara, anj*ing itu" ujar Raya, memaki.


"Iya, kesel banget gua sama dia. Kepedean banget jadi cewek. Dia pikir semua cowok di sekolah ini pada suka semua apa sama dia" sambung Mindy, mencela.


"Kecentilan banget, ta*ik lah. Si Dion Axel ngapain sih ngelirik dia terus" lanjut Zey, mencela.


Riska hanya mendengarkan keluhan dari teman-temannya. Ia tak banyak bicara, hanya manjawab seadanya.


Tak lama kemudian. Putri dan Vanya datang, langsung berbisik pada Riska, membuat Riska terejut, seketika berdiri.


"What?! lo ngomong apa barusan? jangan main-main sama gua!" tanya Riska, memukul meja belajarnya.


"Iya kita lihat sendiri, ya kan, Put?" ucap Vanya, mengkode Putri.


"Iya, kalau lo gak percaya lihat aja sendiri. Mereka ada di lorong lantai dua" sambung Putri, yakin.


Mendengar hal itu, Riska langsung berlari keluar kelas, menaiki tangga dan segera mencari kami di lorong kelas lantai dua.


"Ra, aku.. sebenarnya udah suka sama kamu dari hari pertama kita masuk sekolah. Kamu, mau gak jadi pacar aku" pinta Alfie, sedang ia berlutut sambil memegang kedua tanganku.


Riska telah melihat adegan romantis tersebut. Wajahnya seketika berubah menjadi kesal, sedang tangannya mengepal sambil menatap benci padaku. Kemudian, aku melihat ke samping.


"Riska?" batinku. Aku melihatnya, membuat Riska segera melangkah pergi menjauh.

__ADS_1


"Ka, Riska tunggu!" panggilku, berteriak.


"Maaf, aku harus.. aku pergi dulu" ucapku, melepaskan tangan Alfie dari tanganku.


"Ka, Riska wait!" teriakku, mengejarnya.


Riska langsung pergi, aku tak bisa mengejarnya. Karena ia sudah pergi melaju dengan mobilnya.


Setelah itu, ia tak masuk sekolah selama beberapa hari. Aku terus mengirimkan chat dan menelponnya. Namun, ia tak membalas dan tak menjawab telpon dariku. Aku semakin overthingking dibuatnya. Karena merasa bersalah padanya, aku memutuskan untuk mengunjungi rumahnya.


Malam itu, jam 20:13. Aku duduk di sofa terus menunggunya, karena ia tak mau menemuiku. Ayah dan ibunya sedang tak ada. Ayahnya masih dalam perjalanan bisnis luar negeri, sedangkan Ibunya juga sedang syuting film terbarunya di luar negeri.


Sekitar beberapa jam aku menunggu. Seluruh tubuhku semakin terasa pegal, sedangkan aku juga merasa semakin capek karena menunggu.


Menunggu adalah hal yang peling menjengkelkan bagiku. Namun, di setiap situasi aku terus saja di buat untuk menunggu.


Pukul 23:11 malam. Greysie terus saja menelponku untuk menanyakan keberadaanku. Ia cemas karena aku mematikan lokasi hp milikku.


"Mm" ujarku, menaruh telpon di telinga.


"Lagi di mana sih, Ra? katanya tadi cuman sebentar. Sekarang udah jam 11 lewat, hampir tengah malem" tanya Greysie.


"Hm, aku tidur di rumahku malam ini" jawabku, menatap sekitar.


Riska datang. Ia melihatku sedang menelpon. Kemudian ia bersandar di tembok, bersilang tangan sambil melihatku.


"Nyebelin banget sih" gerutu Greysie, di telpon.


"Iya, sorry-sorry. Aku tutup dulu" ucapku, langsung menutup telpon.


"Eh, jan..." ucap Greysie, tak selesai karena aku langsung menutup telpon.


Setelah itu, aku langsung menghampiri Riska. Wajahnya masih terlihat malas karena kesal padaku.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Riska, menatap kesal.


"Mau ngejelasin kesalahpahaman, lo! gua gak suka sama si Alfie. Kemarin itu, gua cuman biarin dia sampai selesai ngomong aja" ucapku, menjelaskan.


Riska masih diam, sedang wajahnya masih terlihat sangat kesal dan tak peduli dengan omonganku.


"Hn, serah lo! Mending lo pergi sekarang. Lo ngeganggu pemandangan di rumah gua aja" ujar Riska, mengusirku.


"Hnf, males banget gua ngurusin masalah kek gini" batinku, aku menghela napas pelan.


"Gua gak suka sama si Alfie, Ka. Lo gak percaya? Gua udah punya pacar. Jadi, ngapain gua suka sama yang lain" jelasku.


Mimik wajah Riska seketika berubah, namun ia berpura-pura tak peduli.


"Beberapa minggu yang lalu gua di tembak sama senior kita. Namanya Heafen. Lo tau kan? Anak geng motor Gotresure, dia wakilnya" ujarku, menjelaskan.


"Hn, kalau lo pacaran sama dia, kok semua orang di sekolah pada gak tau" ucap Riska, tak mau percaya.


"Emang lo pikir setiap orang pacaran, semua orang harus banget tau? Lagian gua jarang main sosmed, Heafen juga sama. Makannya gak ada yang tau. Ntar lama-lama juga mereka bakal tau sendiri. Hmf, kalau lo masih gak percaya baca sendiri nih chat kita" jelasku, memberikan Hpku pada Riska.


Riska kemudian membaca chatku dengan Heafen, yang layaknya couple. Namun, terkesan lebih dewasa dalam berkomunikasi. Tidak seperti couple remaja pada umumnya yang saling memanggil sayang ataupun babe, bahkan panggilan romantis lainnya.


Tetapi, cara kami saling mengirimi chat sangat lembut jika di baca. Nama Heafen di Hpq juga bertuliskan Heafen❣😊. Sehingga membuat Riska tersenyum karena membacanya. Namun, aku segera merebut hp milikku darinya.


"Njirrr, nyesel gua" ucapku, merebut hp milikku.


Riska tersenyum ledek. Ia sepertinya akan sering meledekku karena hal ini.


"Udah, kalau gitu gua pergi. Nyesel gua kasih lihat chat gua" ucapku, segera pergi meninggalkan dirinya.


"Hehehe, hati- haatti" ucap Riska, tertawa pelan sambil melihatku dari belakang.


********


Saat ini. Riska tersadar dari lamunanya. Ia duduk bersender di kursinya sambil melihat plafon sekolah.


"Lo udah tau gak, Ka?" tanya Mindy, tersenyum puas, saling melirik pada Zey dan Putri.


"Hn, tau apa?" tanya Riska, masih dengan posisi duduk yang sama.


"Si Cara udah kena karmanya, hahahah" lanjut Zey, memberitahu.


"Maksud lo?" tanya Riska, melihat mereka.


"Lo pasti seneng. Si Cara udah kena karma. Hahaha, dia sekarang koma di rumah sakit, hahaha, rasain" sambung Putri, lalu tertawa.


"Apaah?!!" ucap Riska, seketika berdiri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2