
Sebelumnya. Setelah mendengarkan percakapan antara Bryan dengan teman-teman Kesya. Greysie menyuruh Hendry untuk meliburkan para bodyguard Ayahnya dengan alasan mereka sangat menganggu. Sedangkan ibunya sedang berada dalam perjalanan bisnis luar kota selama seminggu.
"Om, suruh anak-anak buah Papa untuk libur aja. Mereka ngeganggu" ujar Greysie.
"Em, om gak bisa lakuin itu Grey. Takutknya musuh Papa kamu bakal nyerang lagi" ujar Hendry.
"Hmmff, terpaksa gua harus turun tangan" batin Greysie.
Setelah itu, Greysie pergi dari sana sampai di dalam kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Greysie segera menyiapkan obat tidur untuk para bodyguard Ayahnya.
Greysie kemudian pergi ke dapur. Di dapur, ia mencampurkan obat tidur ke dalam semua makanan/minuman dengan dosis yang tinggi.
Beberapa saat berlalu. Semua bodyguard Ayah Greysie telah tertidur. Begitu juga dengan para bibi dan satpam. Greysie lalu menghapus cctv dan mematikan semua cctv di rumhanya.
Beberapa jam berlalu, tepatnya sekarang sudah menunjukan pukul 01:01 tengah malam. Para bodygyard Bryan menyelinap masuk ke dalam rumah Greysie. Mereka juga sengaja mematikan semua lampu.
Sementara itu, tak ada satupun bodyguard Ayah Greysie yang menjaga rumahnya sehingga hal itu memudahkan para bodyguard Bryan untuk menculik Ayah Greysie.
Setelah sampai di dalam kamar Ayah Greysie. Bodyguard Bryan segera menutup wajah Ayah Greysie menggunakan kain yang bercampur dengan obat bius.
"Hmmm, hmm, hmmm," Ayah Greysie ingin berteriak namun tak bisa.
Greysie mengintip mereka semua. Ia mengepalkan tangan, berusaha untuk menahan emosinya yang sedang naik.
"Gua bakal bales kalian semua" batin Greysie, menap benci.
Setelah Ayah Greysie pingsan, mereka segera membawa Ayah Greysie pergi dari sana. Mereka membawanya ke bangunan tua, tempat di mana kami menyekap Ayah Greysie dulu.
Tempat itu adalah milik Bryan, di tempat itu ia biasanya mengeksekusi para korban-korban mereka, termasuk Angeline.
Greysie mengikuti mereka dari kejauhan karena ia juga sudah tau letak bangunan yang akan para Bodyguard tuju.
Sesampainya di bangunan itu, mereka segera mengikat Ayah Greysie ke sabuah kursi. Sementara itu, Greysie menyelinap masuk dan mengintip mereka dari lantai atas.
Di sana telah ada Bryan dan Cassie. Kemudian para Bodyguard Bryan segera menyiram wajah Ayah Greysie yang membuatnya tersadar dari pingsannya.
"Hmmm, hnmmm" ujar Ayah Greysie, melotot.
Bryan lalu mengkode anak buahnya untuk membuka ikatan di mulut Ayah Greysie.
"Hemegh... Kalian...?!" ujar Ayah Greyse, melotot.
"Hahahahaha. Mohon maaf Arya Wijaya, kau harus mati saat ini. Kematianmu akan di kenang oleh banyak orang. Setelah ini saya juga akan membocorkan kelakuan kotormu. Saya punya fotomu bersama dengan selingkuhanmu" ujar Bryan, mengejek.
"Sialan....!" umpat Ayah Greysie.
Kemudian para Bodyguard Bryan segera menutup kembali mulut Ayah Greysie sesuai arahan Bryan pada mereka.
"Babe? Kamu pakai jubah hitam ini. Badan kamu kan badan cewek, jadi sesuai sama si Cara" ujar Bryan, memberikan jubah.
"Okay, babe..." ucap Cassie.
Sementara itu, Cassie langsung memakainya. Setelah memakai jubah hitam itu, Cassie juga memakai yang lainnya seperti, masker hitam, kaus tangan hitam, dan juga sepasang sepatu berwarna hitam.
Setelah itu, Bryan memberikan sebilah pisau pada Cassie, dan Cassie segera menusuk Ayah Greysie tanpa basa-basi. Bryan mengkode anak buahnya untuk melepas semua ikatan di tubuh Ayah Greysie, termasuk ikatan di mulutnya.
Sementara itu, seorang bodyguard Bryan segera mengambil foto Cassie yang sedang menusuk Ayah Greysie dari samping dan belakang.
"Hakhakhakahahahaha. Hahahahhmmhikhik," Cassie tertawa sampai terbahak.
Setelah menusuk Ayah Greysie. Bryan mengambil tongkat besi, lalu memukul Ayah Greysie dengan brutal. Kini tangan mereka di penuhi darah milik Ayah Greysie, sementara wajah mereka juga terkena cipratan darah. Setelah itu, Bryan dan Cassie segera pergi dari sana, begitu juga dengan para bodyguard Bryan.
Sementara itu, setelah mereka semua pergi. Greysie segera menghampiri Ayahnya. Ia memandangi wajah Ayahnya, entah bagaimana perasaan Greysie saat ini. Ia tak tahu saat ini ia sedang sedih, marah, benci atau senang.
"Uhuk, huk," Ayah Greysie memuntahkan darah.
Sementara itu, tangan Ayahnya meraih kaki Greysie, dan Greysie hanya melihat. Ia diam dan tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"To- tolo- nginn... Pa- pah Gr-rey..." ujar Ayah Greysie, lirih.
"Kalau aku nelpon ambulance sekarang mungkin Papa bisa selamat. Tapi aku gak bisa maafin Papa yang udah berani nusuk Cara saat itu. Papa kira aku gak bakalan tau? Cara itu lebih berharga di bandingkan apapun yang aku punya sekarang. Bahkan nyawa Papa sendiri gak lebih berharga di banding nyawa Cara. Kalau saat itu sahabat aku mati, Papa kira aku bakalan maafin Papa? Bahkan aku sendiri yang bakal ngebunuh Papa" ujar Greysie.
Sementara itu, Ayah Greysie menatap sendu putrinya. Ia merasa sangat bersalah, tetapi semuanya sudah terlambat.
"Apa? Mau nanya kenapa aku bisa jadi kek gini? Itu salah Papa sendiri. Aku kek gini itu karena Papa, jadi jangan heran. Aku gak pernah dapatin kasih sayang sedikitpun dari Papa selama ini. Yang ada aku malah tersiksa setiap saat, cuman Cara yang selalu ada untuk aku di saat Papa nyakitin aku. Jadi ngerti kan? Kenapa nyawa dia lebih berharga di banding nyawa Papa?" ujar Greysie, dengan ekspresi datarnya.
"Mm-maafin Papa. Sekali lag- gih... Pa- pah... Minta maaf ke ka- mu. Pa- pa sayang kamu dan ma-ma kamu. Maafin Pa..." ujar Ayah Greysie, tak selesai. Ia pun meningal.
Ayah Greysie meninggal sambil memegang erat kaki Greysie. Tanpa sadar, air mata kiri Greysie juga telah menetes. Bibirnya gemetar, sedang rasa sedih mulai masuk ke dalam dirinya. Karena tak ingin menjadi lemah, ia pun berdiri segera melangkah pergi dari sana.
Namun tangan Ayahnya masih menggenggam erat kaki Greysie dan membuat Greysie terhenti melangkah, ia secera paksa melepas genggaman tangan Ayahnya dengan cara menarik kakinya, namun tak juga bisa terlepas.
Hal itu membuat Greysie harus kembali berjongkok, dan secera tak sengaja membuatnya terus memandangi wajah Ayahnya. Sementara itu, tangan Greysie berusaha untuk melepas jari-jari Ayahnya dari kakinya.
Air mata Greysie jatuh perlahan, membuat pandangan penglihatannya tertutupi oleh air matanya. Hal itu juga membuat Greysie semakin sulit untuk melepas tangan Ayahnya dari kakinya.
Setelah Greysie bisa melepas genggaman tangan Ayahnya dari kakinya. Ia segera pergi dari sana dan juga mengambil kamera yang sebelumnya telah ia sembunyikan di bangunan tua itu.
Mobil Greysie melaju dengan kecepatan tinggi. Ia berusaha keras untuk menahan air matanya. Namun tak bisa, hal itu membuat Greysie menghentikan mobil dan ia pun menangis terseduh-seduh.
__ADS_1
Setelah puas meluapkan emosinya dengan menangis. Greysie lalu mengangkat wajahnya dari setiran mobil. Matanya menatap benci, ia pun segera melaju dengan mobil miliknya.
Beberapa saat kemudian. Setelah sampai di depan rumahnya, Greysie membuka gerbang sendiri dan ia pun masuk ke dalam.
Di depan rumahnya, Greysie keluar dari mobil dan ia pun masuk ke dalam rumah sampai ke dalam kamarnya. Ia perlahan memutar gagang pintu dan melihatku masih terbaring di tempat tidur.
Kemudian Greysie segera masuk. Ia berjalan menghampiriku dan memandangiku dengan wajah datarnya. Tangan Greysie mengepal dan ia pun segera pergi lagi.
Sementara itu, Bryan dan Cassie sedang berbicara di dalam rumah mewah mereka.
"Babe, berarti... Besok kamu bakal nyewa orang buat pura-pura nemuin mayat Ayahnya si Greysie di sana?" tanya Bryan.
"Umm, Yaa. Polisi harus ngira kalau tempat itu adalah tempat pembunuh berantai membunuh korban-korbannya dia. Jadi kita gak bisa lagi untuk pakai tempat itu kedepannya" jelas Bryan.
"Hmm, aku seneng deh babe. Semuanya berjalan lancar. Bentar lagi kita bakalan bisa bebasin orang tua aku" ujar Cassie, memeluk Bryan.
Bryan tersenyum memandangi wajah Cassie. Ia pun menyium kening pacar tersayangnya itu.
#
Sementara itu, Greysie pergi ke sebuah tempat untuk menenangkan dirinya. Ia mengambil rokok dari dalam mobilnya, menyalakannya lalu mengisapnya.
Dulunya Greysie memang sering merorok, tapi aku selalu mengambil rokok dari mulutnya, dan membuangnya. Tentu saja aku juga memarahinya karena aku tak suka dengan bau rokok.
Ini adalah pertama kalinya ia merokok lagi setelah dua setengah lamanya berhenti. Setelah selesai menghisap rokoknya, Greysie segera mematikan apinya dengan cara menaruh nyala apinya ke lengan kanannya.
Sesampainya di sebuah Villa milik keluarganya. Greysie segera mengambil beberapa botol minuman keras. Ia meminum semunya sampai mabuk. Setelah mabuk, ia pun tertidur.
Besoknya. Pada jam 11:30 pagi. Greysie terbangun. Ia lalu muntah karena mabuk semalaman.
"Hueek, hukk, huekk egrgghh...," terduduk menyender di dinding kamar mandi.
Setelah itu, Greysie keluar dari kamar mandi dan mengecek hpnya. Di hpnya banyak sekali panggilan tak terjawab dari ibunya dan Hendry, banyak juga notifikasi dari media sosial instagram yang tak pernah ia buka/gunakan. Greysie segera membuka pesan whattsap dari Ibunya.
Grey... Kamu di mana sayang? Angkat telponnya.
Grey?
Grey angkat telponnya. Papa kamu sayangðŸ˜ðŸ˜
Grey... Papa kamu meninggal sayang. Angkat telpon MamaðŸ˜
Setelah membaca chat dari ibunya. Greysie bergegas pergi ke rumahnya.
Sebelumnya orang suruhan Bryan berpura-pura menemukan mayat Ayah Greysie pada jam 06:10 pagi dan segera melapor polisi.
Saat polisi sampai di Tkp mereka langsung melakukan investigasi. Sementara itu telah banyak juga wartawan yang datang dan berita pun menjadi heboh. Setelah itu, mayat Ayah Greysie segera di larikan ke rumah sakit untuk di autpsi, dan setelah selesai di autopsi mayat Ayahnya di bawah pulang ke rumahnya.
Greysie masuk ke dalam rumahnya yang sudah di penuhi banyaknya orang. Ada Aric, Rasya, Riska serta teman-temannya, Cassie dan mantan teman-temannya, Alfie, Nathan, Bibi Nur, Lia dan hampir semua murid dari kelas kami. Guru-guru bersama kepala sekolah juga ada di sana.
Setelah masuk, bibir Greysie gemetar sedang air mata kirinya menetes. Ibunya berdiri dan langsung memeluk erat Greysie.
"Papa kamu sayang... Huhuuuu... Papa kamu meninggal... Huhuuuu...." ujar Ibu Greysie, menangis terseduh-seduh.
Mereka pun duduk di samping mayat Ayah/suaminya. Greysie nampak menahan air matanya yang membuat bibirnya gemetar.
Sementara itu, Riska nampak melihat kesana kemari untuk mencari keberadaanku.
"Cara kemana? Gak mungkin dia gak dateng saat Ayah sahabatnya meninggal. Apa masih sakit?" batin Riska.
Sementara itu, Cassie juga terus mencari kebaradaanku sambil tersenyum ejek.
"Hnh, kenapa dia? Apa udah rusak beneran lagi hubungan mereka sampai gak dateng" batin Cassie.
Sementara itu, di dalam kamar Greysie. Aku terbangun dan melihat sekeliling tak ada siapapun. Aku memeriksa lukaku ternyata masih di perban dan aku pun segera menelpon dan mencari Greysie sampai ke dapur di lantai tiga. Namun semuanya nampak sunyi, jadi aku memutuskan untuk kembali ke kamar.
Di dalam kamar, aku memeriksa hanphone Greysie yang satunya. Itu handphone kusus untuk misi pembunuhan kami berdua. Kami sama-sama mempunyai dua handphone. Satu untuk urusan sekolah, kedua untuk pembunhan berantai yang hanya beriskan satu kontak saja dengan nama kami masing-masing.
Di hanphone Greysie itu juga ada instagram karena kami pernah memakainya untuk menstalker calon korban kami. Kebetulan juga Greysie sempat login ke akun aslinya menggunakan hanohone itu. Aku memeriksa hanphonenya, nada deringnya juga telah ia ubah menjadi getar.
Terlihat sangat banyak notifikasi yang menandai Greysie di sana. Jariku tak sengaja mengklik pada notifikasi instagram. Mataku membulat ketika membacanya.
"Innalilahi wa innalilahi rojiun, turut berduka cita atas berpulangnya, bapak Arya Allen Wijaya. Semoga Greysie dan Ibunya di berikan ketabahan dan Almarhum bapaknya di ampuni segala dosanya. Amin."
Itu adalah ig story milik salah satu murid di sekolah kami yang menandai Greysie di instagram miliknya. Aku terkejut sampai menyenggol barang di meja dekat tempat tidur, lalu aku terduduk karena kakiku melemas seketika.
Kemudian aku berusaha bangun dari dudukku dan berlari pelan ke arah pintu, memutar gagang pintu dan segera berlari ke arah lift.
"C' mon, c'mon" ucapku memencet tombol, namun lift itu tak juga terbuka.
Karena merasa tak sabar, aku pun langsung berlari menuruni tangga di setiap lantai. Saat aku sampai di tangga lantai dua, aku hampir saja terpeleset dan jatuh ke bawah. Bagaimana tidak, kepalaku masih pusing karena obat tidur, aku juga baru saja bangun dan mengetahui semuanya, kemuduan langsung berlari, padahal seluruh badanku masih terasa sangat lemas.
"Arrgh" merintih sambil memegang perut.
Lalu aku berlari lagi sampai ke lantai satu. Kakiku makin terasa lemas, langkahku juga masih belum sempurna. Sementara itu, aku sudah berada di tangga lantai satu. Hal itu membuat hampir semua mata tertuju padaku yang tengah berlari.
"Cara? Cara di sini? Tapi kok baru muncul?" batin Riska, menatap heran.
"Hnh, ternyata dia di sini. Dari tadi kemana aja? Dia muncul dari tangga berarti dari tadi dia ada di dalam rumah ini dong. Tapi kok baru muncul?" batin Cassie.
__ADS_1
"Lista?" batin Rasya.
"Ckk!" garutu Greysie, dalam hati.
Greysie kemudian berdiri, sedang tangannya mengambil botol obat dari kantung celananya bersama dengan suntikan. Greysie memang selalu membawa obat dan jarum suntik untuk menghindari hal-hal seperti ini.
Semua mata kini tertuju pada aku dan Greysie. Sementara itu, aku terus menuruni tangga dengan badan yang masih lemah serta kepala yang terasa pusing. Hampir saja aku terjaruh jika Greysie tak segera menahanku.
Di waktu yang sama, Greysie menarik tangan kananku, lalau menyuntikku dengan obat penenang yang di berikan Aric sebelumnya.
"Grey?" ucapku, membulatkan mata.
Sorot mata Greysie yang aku lihat sangat berbeda dari biasanya, ia menatap benci dan marah padaku. Sementara itu, aku berusaha untuk menahan tangannya namun reaksi obat itu sangat cepat sehingga membuat aku terjatuh pelan dan pingsan. Sebelum mataku terpejam sempurna, aku melihat tatapan Greysie padaku dengan wajah datarnya.
Sementara itu, Aric, Rasya, Alfie, Riska, Bibi Nur dan juga Lia yang melihatku terjatuh sangat terkejut. Aric dan Rasya langsung berdiri, sementara Alfie juga ingin berdiri namun tak jadi karena melihat Aric dan Raya berdiri.
Sementara itu Riska juga refleks ingin berdiri, namun ia menahan dirinya. Ia melirik semua teman-temannya yang sedang berada dekat dengannya sekarang.
"Fuckk this shitt!" batin Riska.
Rasya dan Aric segera membantu Greysie, lalu Rasya menggendongku. Mereka pun segera pergi ke arah lift yang berada tak jauh dari tangga rumah Greysie.
"Sialan, Cara sakit parah? Gue khawatir banget tapi gak bisa apa-apa" batin Riska.
"Dia kenapa? Sakit? Bisa pingsan juga ternyata" batin Cassie.
Sementara itu, di dalam kamar Greysie. Rasya segera membaringkanku ke tempat tidur.
"Kamu nyuntik Callista, Grey?" tanya Aric keheranan.
"Iya" jawab Greysie, singkat.
"Itu bahaya Grey!" bentak Aric, membuat Greysie sedikit terkejut.
"Maaf, maaf Grey. Aku gak bermaksud buat bentak kamu, tapi kalau tubuh Callista terus-terusan nerima obat, itu bisa bahaya bagi dia. Aku kasih kamu obat penenang, bukan untuk di pakai sembarangan kek gini, ini udah ngelanggar aturan dokter, Grey" ujar Aric, memarahi Greysie.
"Iya, iya aku minta maaf. Aku gak bakal ulangin lagi, aku cuman gak mau Cara lihat apa yang terjadi sekarang, aku gak mau dia makin stress" jelas Greysie.
Rasya dari tadi hanya menyimak mereka berdua, ia sibuk memandangiku yang sedang tidur dengan wajah polos tersebut.
"Aku minta obat yang aku kasih kemarin, Grey. Maaf tapi aku gak bisa biarin kamu makai obat sembarangan kek gini tanpa ikut anjuran dari aku" ujar Aric.
"Iya, iya. Sekali lagi maafin aku" pinta Greysia, memohon maaf
Greysie segera mengambil kotak obat dari dalam laci, lalu memberikannya kepada Aric. Namun ia tetap menyimpan satu botol obat di dalam kantung celananya.
"Jadi, gimana tentant kasus papa aku Rasya?" tanya Greysie. Namun Rasya tak menjawab.
"Rasya!" ucap Greysie, mengeraskan suaranya.
"Hah? Emm, kami masih menyelediki. Ini aneh banget, kok papa kamu bisa berada di dalam bangunan tua itu, sepertinya itu adalah tempat Papa kamu di sekap dulu, aku masih heran kenapa pembunuh itu membunuh papa kamu sekarang. Bukannya dia pernah bilang gak akan membunuh Papa kamu, apalagi setelah tangan dan kaki Papa kamu patah sampai dia gak bisa jalan lagi" jelas Rasya.
"Aku bakal cari pembunuh Papa aku sampai dapet, dia gak akan bisa lolos dari aku" kata Greysie, menatap benci.
"Kamu gak usah pikirin soal itu, Grey. Serahin aja semuanya sama aku, aku pasti bakalan cari pelakunya" ujar Rasya.
Setelah itu, mereka ber tiga segera pergi ke lantai bawah di mana semua orang berada.
Pintu lift berbunyi. Rasya, Aric dan Greysie keluar dari dalam lift. Sementara itu, semua mata kembali tertuju pada mereka ber-tiga. Greysie kembali duduk di dekat ibunya sambil memeluk erat ibunya.
"Cara kenapa Grey?" tanya ibunya, lirih masih dengan isak tangis.
"Cara gak pp. Dia cuman kecapean aja. Udah Mama gak perlu mikirin yang lain lagi" ujar Greysie, menangkan ibunya.
Mereka pun segera mengadakan pengajian untuk Ayah Greysie. Namun semuanya menjadi sangat berisik saat mereka membaca berita. Di berita terlihat Ayah Greysie sedang bersama selingkuhannya.
Udah liat gak?
Apa? Apa?
Ayah Greysie selingkuh.
Beneran? Coba lihat.
Iya, bener. Coba cek beritanya.
Ih, beneran...
Kasian banget Grey.
Iya, kasian.
Sssst.......! Sssst......! (seseorang dan para guru nampak berusaha untuk membuat diam orang-orang yang berbisik).
"Apa Grey? Mereka bisik tentang apa? Mama gak salah denger kan?" tanya Ibu Greysie lirih, dan segera mencek hanphonenya.
"Udah, udah. Gak usah, mama gak perlu lihat. Kita sekarang harus doain Papa aja. Gak usah mikirin tentang yang lain" ujar Greysie, merebut Hp Ibunya dan menyimpannya ke kantung celananya.
"Fuckk you both! Gak puas kalian bunuh bokap gua, sekarang kalian malah permaluin juga bokap gua di hari kematiannya. Lihat aja nanti. Gua bakal buat lo dan mayat orang tua lo itu di tolak sama semua warga. Kalian bakal tersiksa bahkan setelah mati" batin Greysie, sedang tangannya mengepal.
__ADS_1
Bersambung...