Ilusi

Ilusi
BAB 34 (Part 2)


__ADS_3

Setelah melangsungkan pengajian, Ayah Greysie segera di makamkan. Semua orang berada di sana kecuali aku.


Setelah prosesi pemakaman selesai. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Greysie bersama ibunya juga pulang ke rumah mereka.


Sesampainya di rumah mereka, Greysie menyuruh ibunya untuk beristirahat. Setelah itu Greysie pergi ke kamarnya.


Di dalam kamarnya, aku masih tertidur. Greysie menatapku, ia pun meluncur ke tempat tidur dan menatap lurus saat berbaring.


"Raa~" gumam Greysie, melihatku dengan bibir gemetar menahan tangis.


Greysie lalu mendekat padaku dan langsung memelukku sampai ia tertidur.


Malamnya, Greysie terbangun. Ia melihatku masih tertidur. Kemudian Greysie segera membuka laptopnya dan mendengarkan percakapaan dari rumah Bryan.


"Gimana video Cara Callista udah ke edit belum?" tanya Bryan, di telpon.


"Emm, keknya bakalan makan waktu agak lama ni bro. Soalnya videonya harus kelihatan kek asli, jadi kita minta supaya jangan ada kesalahan sedikitpun di fotonya" jelas Andrian


"Kira-kira berapa minggu?" tanya Bryan.


"Emm, berapa bro?" tanya Andrian pada Ezra (pendengaran di telpon).


"Kemarin gua udah tanya, katanya mungkin bakal makan waktu seminggu. Soalnya dia harus ngedit dari awal sampai akhir. Mulai dari mukanya, baju bahkan semua tinggi badan dan detail-detail kecil lainnya harus perfect biar gak kelihatan kek editan" jelas Ezra.


"Hm, lo denger kan bro?" ujar Andrian pada Bryan.


"Iya, denger. Berarti gua harus nunda ngirim bukti ini ke Greysie. Kalau semuanya udah lengkap baru gua kirim semua buktinya untuk si Greysie. Supaya dia bakal curiga ke Cara, terus hubungan pertemanan mereka bakal rusak and gua juga bisa balikin keadaan yang sekarang" ujar Bryan.


"Iya, terus kalau mereka udah ke pisah. Kita juga bakal mudah untuk nyerang salah satunya" sambung Andrian.


"Iya, kalau gitu gua tutup. Nanti lo kabarin gua kalau bukti palsunya udah jadi" ujar Bryan


"Yoi, siap bro" ucap Andrian.


Sementara itu, Greysie yang mendengarnya nampak mengepalkan tangan. Ia kemudian memeriksa kamera sebelumnya yang ia simpan di bangunan tua, lalu memotong video di dalamnya yang merekam dirinya saat sedang berbicara dengan Ayahnya.


Tetapi Greysie masih menyimpan sepotong video itu. Itu di lakukannya karena di dalam rekaman itu, Ayahnya meminta maaf dan mengatakan bahwa dirinya menyayangi Greysie dan Ibunya.


Setelah itu, Greysie membereskan semuanya dan memikirkan cara untuk memberikan rekaman itu pada polisi saat waktunya sudah tiba nanti.


Setelah itu, Greysie kembali ke tempat tidur sambil menatapku. Ia lalu beranjak lagi untuk mengambil kotak P3k untuk mengganti perban di perutku. Setelah mengganti perban, ia tidur lagi sambil memeluk erat dirikku.


Besoknya, Greysie terbangun. Sementara aku masih tertidur. Ia lalu mandi dan segera berangkat ke sekolah.


Di sekolah, Greysie terus memperhatikan Cassie. Saat Cassie pergi ke kantin bersama dengan geng Riska, Greysie lalu mengambil sebuah gantungan kunci beruang yang selalu di bawah Cassie. Setelah mengambilnya, ia segera menaruhnya ke dalam tasnya.


Sementara itu, di kantin. Riska bersama teman-teman satu gengnya sedang makan.


"Greysie udah sekolah tapi si Cara belum. Apa dia masih sakit? Apa sakitnya parah banget?" batin Riska.


Di kantin itu juga terlihat mantan teman-teman Cassie nampak terheran-heran melihat Cassie makan bersama geng Riska.


"Jangan-jangan dia udah gabung sama geng Riska?" ujar Adel.


"Ckk!" gerutu Caterine dan Elsa, bersamaan.


"Berarti kemarin si Riska dan temen-temannya bukan lagi ngebully si Cassie, tapi lagi ngajak Cassie buat gabung ke geng mereka. Masuk akal sih, secara Vanya udah mati. Tapi... Apa mereka gak benci sama Cassie? Orang tuanya kan pembunuh berantai yang udah bunuh Vanya dan mukul Raya sebelumnya" sambung Violin.


"Gue rasa mereka itu lagi ngerncanain sesuatu deh untuk si Cassie" sahut Adel.


Beberapa jam kemudian, setelah bell pulang berbunyi. Semua siswa memenuhi area sekolah dan pulang ke rumah mereka masing-masing.


Greysie melaju dengan mobilnya sambil sesekali melirik jam di tangannya. Ia takut aku akan bangun terlebih dahulu sebelum ia sampai.


Tiba di rumahnya, Greysie langsung memarkirkan mobil miliknya. Ia pun segera masuk sampai ke dalam kamar dan melihatku masih tertidur.


Setelah itu, Greysie keluar kamar lagi. Ia pergi ke dapur dan melihat ibunya sedang memasak dengan wajah sedihnya.


"Mama masak?" tegur Greysie.


"Iya, untuk kamu. Udah lama mama gak masakin kamu. Cara masih sakit?" ujar Ibunya.


"Emm, iya masih. Makasih mah, tapi mama harusnya istrahat aja dulu. Aku juga bisa masak sendiri, terus kan ada bibi juga yang masakin" jawab Greysie.


"Gak pp, mama pengen masakin kamu aja" ujar Ibunya.


"Aku bantuin mama" ucap Greysie, segera membantu ibunya.


Greysie terus menatap wajah sedih ibunya itu. Sepertinya Ibunya sudah tau jika berita saat ini sedang heboh memberitakan tentang perselingkuhan Ayahnya.


"Mama gak ada kerjaan di luar negeri?" tanya Greysie, tiba-tiba.


"Emm, ada. Tapi mama pengen jagain kamu aja" jawab Ibunya.


"Mah, aku gak pp. Mama urus kerjaan mama aja dulu. Tenangin diri mama di sana. Di sini suasanya lagi gak bagus, aku gak mau mama sedih terus. Aku beneran gak pp, ada Cara juga yang buat aku sibuk" ujar Greysie.


"Tapi mama pengen jagain kamu. Lagi pula Cara masih sakit, dia gak punya siapa-siapa lagi. Cuman punya kita aja, jadi mama juga mau fokus ngurus kalian berdua aja" ujar Ibunya.


"Mah, aku sama Cara beneran gak pp. Cara juga pasti pengennya mama tenangin diri mama aja dulu. Kalau semuanya udah kembali normal, baru mama ke sini lagi. Aku tau mama pasti ke pikiran terus karena berita tentang Papa. Aku beneran gak pp Mah" ujar Greysie.


Ibu Greysie nampak terlihat sedang merenungkan perkataan Anak semata wayangnya.

__ADS_1


"Pliss lakuin ini demi Grey. Aku gak mau mama sakit karena kepikiran terus soal ini. Lebih baik mama cari kesibukan untuk hilangin stress" kata Greysie, memohon.


"Plisss...." ucap Greysie, memohon sambil memegang tangan ibunya.


Ibunya kemudian menangguk, sementara itu Greysie langsung memeluk erat ibunya.


"Aku sayang Mama" ujar Greysie.


"Mama juga sayang banget sama kamu"


"Aku yakin kalau Papa juga sebenarnya sayang sama kita" ucap Greysie.


Mendengar hal itu membuat air mata ibunya menetes dan membalas memeluk erat Greysie.


Beberapa saat, setelah selesai memasak. Greysie kembali ke dalam kamarnya dengan membawakan makanan untukku.


Di dalam kamar, Greysie mengambil obat tidur lagi dan mencampurkannya ke semua makananku. Lalu tak lama setelah itu aku terbangun dan langsung duduk di tempat tidur.


"Haahh," merintih sambil memegang kepala.


Greysie melihatku, dan segera menyodorkan sesendok bubur ke mulutku. Hal itu membuat aku langsung melihat ke arahnya dengan mimik keheranan dan tanda tanya.


"Aku baru bangun, Grey. Belum napsu makan" ujarku, mentap wajah Greysie sangat dalam.


"Kenapa.....? Aahh, pusing banget kepalaku," melihat wajah Greysie lagi, "Kenapa...? Kenapa tatapanya kek gitu?" batinku.


"Makan" ucap Greysie, menyodorkan sesendok bubur ke mulutku.


"Grey... Papa kamu..." ujarku, tak selesai.


Greysie langsung membukam mulutku menggunakan tangan kirinya. Setelah itu ia melepaskan tangannya sambil melirik sendok menggunakan alisnya, dalam artian menyuruhku untuk makan. Aku pun segera memakan semuanya sampai tak tersisa karena ia terus saja menyuapiku.


Setelah seselai makan, ia memberiku minum. Sedangkan aku terus menatap wajahnya dengan perasaan yang aneh.


"Grey... Kamu gak mau cerita ke aku?" tanyaku.


Greysie tak menjawab, ia hanya membaringkan paksa diriku. Sementara itu, mataku sesekali terpejam. Aku melihat wajah Greysie sebelum mataku bener-benar terpejam sempurna.


"Kenap-aa...." batinku, aku pun tertidur.


Setelah membuatku tertidur, Greysie pergi lagi. Ia terus mengamati Rasya yang sedang menyelediki kasus Ayahnya.


Dari kemarin Rasya tak menemukan bukti apapun terkait pembunuh Ayahnya karena di bangunan tua itu tak ada cctv, jalanan menuju bangunan tua itu juga tak ada cctv. Sedangkan jalanan yang berada jauh dari bangunan hanya terdapat beberapa cctv yang terpasang, namun tak merekam apapun yang mencurigakan.


Orang yang menemukan Ayah Greysie juga tak melihat apapun selain mayatnya, ia juga mengaku mendengar sesuatu dari dalam bangunan dan memutuskan untuk mengeceknya. Namun saat mengecek bangunan itu, ia menemukan mayat Ayah Greysie sudah ada di sana.


Rasya bahkan meminta seorang ahli untuk mendeteksi kebohongan seorang saksi itu. Saksi itu memang berkata bener bahwa ialah yang menemukan mayat Ayah Greysie. Namun mereka tak mengetahui jika saksi sebenarnya hanya mengikuti perintah dari Bryan untuk mengecek bangunan dan segera melapor ke polisi jika menemukan sesuatu di dalamnya.


Malamnya, pada jam 02:05 malam. Greysie keluar dari rumhanya. Ia menggunakan motor miliknya dan segera melaju dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di bangunan tua, Greysie segera menyimpan boneka milik Cassie di dalamnya dan menutupinya dengan beberapa dedauan/sampah.


Setelah itu, Greysie segera pergi dari sana. Namun ia tak langsung pulang ke rumahnya, ia malah singgah ke villa keluarganya untuk merokok dan mabuk-mabukan lagi.


Besoknya, saat Greysie terbangun. Matahari sudah sangat tinggi. Waktu sudah menunjukan pukul 11:30 siang.


Setelah bangun, Greysie bergegas pergi ke rumahnya. Beberapa saat kemudian, setelah sampai di rumahnya. Greysie langsung pergi ke kamarnya. Untuk saja aku masih tertidur, jadi ia merasa lega, karena jika tidak aku pasti sudah pergi dan menghilang. Ia akan merasa kesulitan menemukannku jika sudah seperti itu.


Beberapa saat kemudian, aku terbangun. Sementara itu, Greysie juga sudah duduk di tempat tidur menungguku untuk bangun. Di tangan Greysie tentu saja sudah siap dengan makanan untukku.


"Ada yang salah dengan semuanya... Ini... gua harus pergi dari sini" batinku.


Sendok itu di arahkannya ke mulutku. Sementara aku membuang muka, tak ingin makan. Greysie lalu memalingkan wajahku padanya dengan tangan kirinya.


Kemudian aku beranjak dari tempat tidur, ingin melarikan diri dari rumah Greysie karena aku merasa seperti tahanan di buatnya.


Greysie menatapku dari belakang, sementara tangannya mengepal. Sedangkan aku juga sudah memutar gagang pintu, namun pintunya ternyata terkunci. Hal itu membuat perasaanku menjadi semakin tak karuan.


Semua pikiran-pikiran negatif langsung memenuhi kepalaku, menyerangku tanpa permisi dahulu. Bibirku gemetar, kemudian aku langsung melihat Greysie, lalu berteriak padanya.


"Lo apain gua, Grey...?!" teriakku, menangis.


"Lo kenapa? Lo kenapa buat gua kek gini" tanyaku pelan terduduk, bersandar di pintu.


Greysie menghampiriku dengan membawa segelas susuh putih di tangan kanannya.


"Kamu minum aja dulu, Ra" ucap Greysie, tersenyum memberikan minuman di mulutku.


"Gak, gak mauuu. Aku salah Grey? Apa aku salah? Aku salah apa? Maafin aku" ucapku lirih sambil menangis.


Entah mengapa aku sampai menangis, aku juga tak tahu, tapi kelakuan Greysie sangat menakutiku.


Mendengarku, membuat Greysie mengambil pisau lipat dari kantung celananya. Ia menaruh gelas di lantai, lalu membuka pengaman pisau dan memencet bulatan kecil, membuat pisau otomatis memanjang. Greysie menaruh bagian tajam pisau tepat di urat nadi miliknya, seperti sedang mengancam diriku.


"Kamu minum atau aku iris tangan aku" ancam Greysie, mimik serius.


"Grey... Pliss jangan kek gini. Huhuuu, kamu buat aku takut, aku... minta maaf kalau aku salah" ujarku, memohon dengan bibir gemetar sedang air mataku terus mengalir.


"Aku bilang...," mengiris tangan, "Minuuum!" ucap Greysie, mengiris tangannya.


Hal itu membuat darahnya mengalir karena pisau sudah sedikit mengiris tangannya.

__ADS_1


"Grey, jangan. Jangan, pliss... Aku... Aku bakal minum. Aku minum sekarang, sruuk, sruukk" ujarku, langsung mengambil gelas di lantai dan meminum susunya.


"Habisiinn" ancam Greysie, matanya melirik tangannya sedang aku ikut melirik, dan melihat darah terus menetes.


Selesai meminum susu putih, aku langsung meletakan gelasnya di lantai. Greysie kemudian mengembalikan pisau lipat seperti keadaan semula dan menyimpan di kantung celanya.


Aku mentap Greysie dengan air mata yang terus mengalir. Kepalaku juga sudah mulai pusing, sedang mataku sesekali terpejam.


"Aku salah apa Grey? Kenapa natap aku kek gitu dan lakuin semua ini?" batinku.


Setelah itu, aku pun langsung tertidur. Sementara Greysie langsung menangkapku, lalu menggendongku ke tempat tidur. Ia kemudian membaringkan aku ke tempat tidur sambil terus menatapku dengan tatapan sayu.


"Bentar lagi, Ra. Kamu harus bersabar dari biasanya. Maafin aku, setelah ini... mungkin hubungan kita gak akan seperti dulu lagi. Tapi kalau kamu bisa memahami aku dan gak kebawa perasaan atas trauma kamu, mungkin kamu gak akan salah paham atas apa yang aku lakuin ini" batin Greysie.


Beberapa jam kemudian. Ibu Greysie pergi untuk melakukan perjalanan bisnis luar negeri. Greysie mengantar ibunya sampai ke bandara.


"Mama hati-hati and sehat-sehat terus. Mama jangan terlalu mikirin semua yang terjadi di sini. Nanti malah sakit, aku gak mau mama sakit" ujar Greysie.


"Iya, kamu juga jaga diri baik-baik. Titip salam sama Cara, maaf mama harus ninggalin kalian berdua" ujar Ibunya, memeluk.


"Iya, iya... Mama tenang aja..." ucap Greysie, membalas pelukan.


"Mama pergi ya... By..." ucap Ibunya, melangkah pergi sambil melambai.


"By, mah... Call aku kalau Mama udah sampai" ujar Greysie, melambai sambil tersenyum.


Sementara itu, Ibu Greysie juga melambai membalas senyum pada Greysie.


Setelah itu, Greysie pulang lagi ke rumahnya. Sesampainya di sana, ia segera duduk di depan laptopnya sampai seharian full.


Greysie ingin mendengarkan percakapan antara Bryan dan Cassie karena tak ingin melewatkan sedikitpun sesuatu yang mereka rencanakan.


Sementara itu, di bangunan tua. Rasya menemukan boneka yang di letakan Greysie di bangunan tua itu.


"Kanapa...? Apa sebelumya gua kurang fokus?" batin Rasya.


Di bangunan itu juga ada rekan seteamnya, yaitu Agus dan Antony juga beberapa polisi-polisi lain.


Malannya, di rumah Greysie.


Greysie sudah berada di depan laptopnya sampai sekarang. Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 02:30 tengah malam. Karena merasa lelah, ia lalu mematikan laptopnya dan segera naik ke atas tempat tidur, lalu tidur sambil memelukku.


Besoknya. Rasya masih terus mengikuti setiap petunjuk yang ia dapatkan, ia merasa sudah dekat dengan pembunuhnya.


Rasya menemukan keterkaitan antara pembunuh berantai dengan keluargaku yang membuatnya mulai menyelidiki lebih lanjut lagi soal latar belakang keluarga Cassie dan Bryan.


Sementara itu, di rumah Greysie. Ia terbangun dan langsung pergi ke dapur dan memasak untukku. Selesai memasak, ia segera membawa makanan untukku ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Greysie menaruh obat tidur ke makananku. Setelah beberapa saat kemudian, aku terbangun. Sementara Greysie sudah siap dengan makanan di tangannya. Melihat makanan itu membuatku merasa mual.


"Grey...." ucapku, gemetar dan menatap dengan tatapan sayu.


Namun Greysie malah menyondorkan sendok ke dalam mulutku. Tapi saat sendok memasuki mulutku, buburnya masih berdiam di dalam yang membuat aku semakin merasa mual.


"Huek," menutup mulut, "Huuk," berlari ke toilet, Greysie mengikutiku.


Di dalam toilet, aku langsung muntah.


"Hueeek, hueek, hueeek, erg"


"Hueek, erg"


Greysie menepuk belakangku. Ia lalu memberikan air putih padaku. Sedangkan aku langsung menatap marah padanya.


"Loe benci sama gua?!" tanyaku, menatapnya.


"Minum!" ucap Greysie, menaruh gelas di bibirku.


Hal itu membuat aku semakin marah sehingga aku langsung meminunya sampai habis. Tetapi karena masih merasa mual, aku langsung memuntahi baju Greysie. Ia melihat bajunya, namun tak begitu peduli.


Greysie kemudian berdiri dan pergi untuk mengambil tiga butir obat untukku, ia juga mengambil segelas air putih. Setelah itu, Greysie langsung memberikan obat padaku bersama dengan air putih di tangannya.


"Minum" perintah Greysie, melihat obat di tangannya.


"I hate you...!" ucapku, langsung meminum obat tersebut.


Setelah meminumnya, aku langsung berdiri. Greysie ingin membantuku berdiri, namun aku tak membiarkan dirinya menyentuhku.


Setelah keluar dari toilet, aku berjalan pelan ke arah tempat tidur. Semuanya menjadi sangat buram kerena kepalaku masih pusing dan tambah pusing.


Sementara itu Greysie masih berada di dalam toilet, ia bercekak pinggang, mendongak dan melihat plafon kamar mandi. Ia melalukan hal itu untuk menahan air matanya agar tak mengalir.


"Fuuuuuuh......" ucap Greysie gemetar, menghembusan napas panjang.


Brakkkk........!


Di luar, aku terjatuh di dekat tempat tidur. Greysie yang mendengarnya pun langsung berlari menghampiriku.


Kemudian Greysie segera mengangkatku ke tempat tidur. Wajahnya melihatku dengan tatapan bersalah, air matanya yang tak terhankan pun kian mengalir deras membahasahi pipinya.


"Aku beneran minta maaf" gumam Greysie, menatap pilu sampai ia menangis terseduh-seduh.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2