
Di sekitaran rumah Simon Hiller, Greysie sedang mengamati situasi. Ia melihat dua orang satpam menjaga di pos mereka yang berdekatan dengan pagar rumah Simon Hiller.
Greysie kemudian menutup kamera Cctv yang ada dekat gerbang memakai ranting pohon, sehingga daunnya menutupi fokus kamera.
Setelah itu, Greysie menyelinap masuk ke dalam rumah Simon Hiller, lalu memberi obat tidur di makanan dan minuman para pekerja di rumah Simon Hiller.
Setelah itu, para pekerja yang tak sadar jika makanan/minuman mereka telah di campurkan obat tidur langsung memakan/meminumnya.
Hal tersebut membuat mereka mengantuk, dan segera pergi ke kamar masing-masing untuk tidur.
Sementara itu di jalanan sunyi, setelah aku berbisik pada Simon Hiller, ia langsung memeluk erat diriku sambil meraba bagian belakangku.
Sedangkan tanganku yang telah mengambil pisau sedari tadi dari kantung jubahku langsung menggenggam erat pisau tersebut dengan tatapan dingin. Ingin sekali rasanya segera membunuhnya saat ini.
"Aku mau ke rumah om, boleh gak?" tanyaku berbisik pelan di telinganya.
Nafasku yang masuki telinganya membuatnya menjadi sangat frustasi bukan main. Ia langsung menarik tanganku sampai masuk ke dalam mobil miliknya.
Di perjalanan, ia terus saja melihat ke arahku sedang tangannya masih mengelus, bahkan meraba pahaku. Namun aku segera menahan tangannya sambil tersenyum manis padanya.
"Aku lebih suka di rumah om aja" ujarku, berbisik sambil tersenyum.
Hal tersebut makin membuat Simon Hiller frustasi, ia segera menancap gas mobil miliknya sampai kami berada di depan pintu gerbang rumahnya. Satpan kemudian membukakan pintu gerbang tersebut.
Setelah sampai di depan rumahnya, ia langsung merangkulku masuk ke dalam rumahnya. Namun aku tetap saja selalu menghindari pergerakan tanganya, sehingga membuat ia benar-benar merasa akan gila saja di buatku.
"Kejar aku, om" ucapku tersenyum berjalan mundur, lalu berlari kecil ke kamar di lantai satu.
Simon Hiller tersenyum dengan tatapan penuh nafsu saat melihatku, lalu ia segera mengejarku.
Setelah itu, aku masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Simon Hiller. Ia juga langsung mengunci pintu dan segera memelukku dari belakang, akan tetapi aku langsung menghindarinya lagi.
Mataku sedari tadi selalu melirik cctv yang ada di dalam rumah ini, sedang tanganku juga mengetuk-ngetuk pelan sambil berpikir.
Aku juga telah menaruh obat cair ke dalam minuman yang ada di meja, tepatnya di dekat tempat tidur tersebut.
"Eeitts!," memegang bibirnya, "gimana kalau kita minum dulu sebelum memulainya?" tanyaku tersenyum sambil menyodorkan gelas yang berisikan minuman tsb.
Sedangkan Simon Hiller langsung meneguk minuman tersebut tanpa basa basi, ia pun segera ingin menciumku.
Namun sebelum Simon Hiller dapat menciumku, aku langsung menunduk.
Perlahan tawa kecil dari mulutku mulai terdengar, sedangkan Simon Hiller menatap heran padaku.
Kemudian aku mengangkat kepala lagi, sedang mimik wajahku berubah menjadi tatapan dingin. Lalu aku berkata.
"Bukannya.., om lagi ngantuk sekarang?" tanyaku, menatap dingin.
Sontak keseimbangan tubuh Simon Hiller mulai hilang, ia juga memegang kepala karena merasa sangat pusing. Sedangkan matanya terasa sangat berat menahan rasa kantuk.
"A-ppa, yang kamu, laku-kkan pada..." ujarnya tak selesai, dan terjatuh.
Mata Simon Hiller sesekali terpejam, namun ia merasa setangah sadar.
Aku yang melihatnya langsung melangkahi dirinya. Kemudian aku pergi untuk mencari ruang kontrol Cctv dan segera menghapus rekaman Cctv dan mematikan semua kamera, mulai dari kamera depan gerbang hingga kamera cctv di dalam rumahnya.
Sementara itu, terlihat di Cctv. Greysie sedang mencari waktu yang tepat untuk menaruh obat tidur ke minuman kedua satpam di pos mereka, yang bersamping dengan gerbang masuk.
Setelah selesai mematikan dan menghapus semua rekaman Cctv, aku pun kembali ke kamar, tempat Simon Hiller berada.
Sedangkan Greysie juga telah selesai manuruh obat tidur pada minuman satpam, ia pun kembali masuk ke dalam rumah Simon Hiller.
"Om ikut aku, ya" ujakku, menaruh tangan kanan Simon untuk melingkari leherku.
__ADS_1
Saat aku sudah berada di tengah pintu kamar tersebut, aku langsung menoleh ke kiri depan sambil melempar kunci mobil pada Greysie.
Greysie tersenyum sambil menangkap kunci mobil itu dan segera pergi dari sana.
Kemudian, aku membawa Simon Hiller ke sekitaran hutan perumahan elit itu, dan mengikatnya ke salah satu pohon di hutan tersebut.
Sementara itu, Greysie berjalan ke mobil Simon Hiller, membuka pintu mobilnya dan masuk.
Setelah masuk, Greysie langsung mencabut kartu penyimpanan kamera dashbor, lalu disimpannya.
Kemudian Greysie, masuk lagi ke dalam rumah Simon Hiller sambil menelpon seseorang.
"Ambilin mobil xxxx aku di xxxx, om. Suruh anak buah om yang sebelumnya" ujar Greysie, memerintah.
"Hmm, kamu makai mobil itu? Tumben. Mobilnya kenapa emangnya?" ucap Hendry.
"Rusak tadi" jawab Greysie, singkat.
"Ok, nanti om perintahin anak buah om buat ambilin. Kamu di mana sekarang?" tanya Hendry.
"Rumah, om. Emm, kalau gitu aku tutup om. Aku mau kerja tugas bareng Cara" jelas Greysie.
"Hmm, ok by. Grey jaga kesehatan ya" ujar Hendry.
"Iya, om juga. Thank u om Hendry" ucap Greysie, menutup telpon.
Kini Greysie sudah berada di dalam kamar, tempat aku dan Simon Hiller sebelumnya.
Kemudian Greysie mengambil sapu tangannya dan mengelap gelas kaca yang berisikan minuman untuk Simon Hiller sebelumya.
Hal tersebut karena sebelumya aku tidak menggunakan kaus tangan saat memegang gelas itu, tentu saja akan meninggalkan bekww sidik jariku jika tak di hapus.
Setelah Greysie selesai memeriksa dan mengecek semuanya kembali, ia langsung bergegas ke hutan perumahan untuk menyusulku.
Sementara itu, di hutan. Simon Hiller masih setengah sadar, kemudian aku mendekatkan wajahku pada telinganya dan berbisik pelan.
Aku membuka tas hitam, tas itu telah berada di hutan itu karena sebelumnya aku dan Greysie telah menaruhnya di sana.
Tanganku meraba tas hitam itu untuk memilih peralatan yang akan aku gunakan untuk membunuhnya.
Sebuah kapak berukuran sedang keluar, namun aku malah mengerytkan bibir. Setelah itu aku mengambil gregaji, palu dan juga pisau, namun aku masih saja menggeleng kecil.
Sampai pada peralatan berikutnya, wajahku yang sbelumnya nampak bingung berubah menjadi mimik ceria karena melihat benda yang ada di tanganku. Benda itu adalah sebuah gunting rumput yang berukuran besar.
Kemudian aku mulai menusuk dan memotong bagian kem****nya. Ia meringis, menahan kesakitan yang luar biasa.
Darahnya mengalir deras, bersamaan dengan keringat dinginnya. Namun, ia tak bisa berteriak karena aku menyumpal mulutnya dengan kain.
Setelah itu, aku mengambil pisau dan memotong beberapa jarinya. Selama beberapa jam, aku membiarkan dirinya merasa tersiksa.
Greysie baru saja datang dengan membawa seember air di saat aku merasa puas menyiksa Simon Hiller.
Aku juga mengambil kapak yang berada di dalam tas hitam dan langsung menancapkannya di kepala Simon Hiller.
Darahnya memuncrat sampai mengenai wajahku, namun hal itu malah membuatku tersenyum senang dan makin bersemangat untuk membelah kepala serta otaknya tetrsebut.
Di saat sedang asyik membelah otak Simon Hiller, tiba-tiba telponku bergetar. Aku langsung terhenti dan mengambil telpon dari kantung jubahku.
Nama seseorang terpampang di layar telponku, kemudian aku melirik Greysie. Setelah itu, aku melepas kaus tanganku, melihat jam dan segera menjawab telpon tersebut.
"Hmm" ucapku, menaruh telpon di telinga.
"Gue laperrr" sahut Riska.
__ADS_1
"Makan" jawabku, singkat.
"Lo masakin gue ya? Kangen masakan elo" ujar Riska.
"Kok gua? Emang bibi lo pada kemana?" tanyaku, heran.
"Gue lagi sakit, Ra. Pengennya makan masakan buatan elo. Lagian siapa suruh waktu les lukis lo biasaain gua sama masakan elo" jelas Riska.
"Jam berapa ini, Ka. Udah tengah malam. Gua lagi ngurus sesuatu ini" ujarku.
"Ckk! Ngeselin. Dah dibilangin gue lagi sakit ini" omel Riska.
"Yaudah, iya. Iya. Gua ke sana. Ngerepo... ckk! Kalau gitu gua tutup" ujarku, langsung menutup telpon.
Greysie sedang bersender di pohon, tangannya bersilang, sedang wajah datarnya terlihat sangat kesal.
"Siapa sih" batin Greysie.
"Grey, aku bakal tidur di rumah aku malam ini. And.. Kamu bisa beresin ini sendiri kan? Aku pergi gak pp?" tanyaku, ragu-ragu.
"Ckk! Gua biarin aja Cara pergi atau gak? Tapi.. Biarin ajalah. Ini kesempatan bagus bagi gua untuk ngambil alih rencana Cara" batin Greysie.
"Boleh Grey?" tanyaku lagi.
"Hmm, yaudah" jawab Greysie, singkat.
"Tumben banget nginjinin" batinku.
"Kalau gitu aku pergi. By" pamitku, melangkah pergi.
Greysie mengangkat kedua alisnya untuk mengiyakan, lalu menatapku yang sedang berjalan menjauh darinya.
"Hmm, Cara pengennya mayatnya tetap di sini supaya seseorang bisa nemuin mayat ini dan lapor ke polisi, and terus polisi bakal meriksa semua lingkungan di sini, setelah itu rencana Cara untuk menjebak keluarga Milstone bakal berjalan" batin Greysie, sambil ia menatap mayat Simon Hiller.
"Tapi... Gua harus ubah dikit rencana Cara. Gua harus libatin polisi untuk menjebak keluarga Milstone. Hmm, i'm sorry, Ra. Yang bakal di curigain polisi nanti adalah aku, bukan mereka. Aku bakal naruh darah Simon Hiller di rumah aku. Polisi harus curiga ke aku, setelah mereka curiga sama aku, aku yang bakalan gantiin kamu buat bunuh keluarga Milstone di penjara nanti. Kamu tenang aja, aku bakal tetap ngejebak mereka sama kasus pembunuhan berantai ini" lanjut Greysie, membatin.
Greysie lalu menyiram mayat Simon Hiller, itu di lakukannya karena sebelumya aku bersalaman dengan Simon Hiller tanpa menggunakan kaus tangan milikku.
********
Besoknya paginya. Greysie mengecek kembali mayat Simon Hiller, ia ingin mengambil darah segar yang masih terisa di tubuh Simon Hiller untuk di taruhnya di dapur rumahnya.
Sementara itu, di rumahku. Aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Namun setelah aku sampai di sekolah, aku tak bisa menemukan keberadaan Greysie, lalu aku segera menelponnya.
Di hutan, setelah mengambil darah Simon Hiller, Greysie di kagetkan dengan suara seseorang yang sedang berjalan. Hal itu membuat Greysie segera bersembunyi di salah satu pohon hutan tersebut.
Orang itu adalah Hartono, pekerja keluarga baru Milstone. Ia sedang membawa sesuatu di dalam kantungan plastik, lalu membuangnya di dalam sebuah lubang.
Namun tiba-tiba telpon Greysie berbunyi, tentu saja itu telpon dariku. Greysie segera menutup panggilan dan mematikan hpnya.
Hartono yang tadinya mendengar nada dering hp Greysie sempat merasa bingung, namun ia tak terlalu menanggapi. Ia berpikir mungkin itu hanyalah gesekan besi yang tertiup oleh angin.
Di saat Hartono berjalan pulang, ia tak sengaja melihat mayat Simon Hiller yang membuatnya sangat terkejut sampai ketakutan.
Hartono ketakutan dan langsung berlari, sementara Greysie juga ikut berlari sampai ia masuk melalui pintu belakang rumahnya.
Greysie juga buru-buru melepas semua pakaian pembunuh berantainya dan menyembunyikannya dengan baik. Ia juga sudah menaruh bercak darah ke lantai dan dinding dapurnya.
Setelah itu, Greysie segera berlari sampai ke pintu gerbangnya. Suara Hartono berteriak pun telah terdengar di telinga Greysie.
"Tolong, tolong, tolong... Ada orang mati, ada orang mati" teriak Hartono.
Greysie kemudian melangkah ke depan pintu gerbang rumahnya.
__ADS_1
"Hey, pak, pak. Ada apa? Kok teriak-teriak?" tanya Greysie.
Bersambung...