
Di dalam rumah mewah keluarga Misltone. Cassie sedang duduk di ruang tengah bersama pacarnya Bryan. Ada Ibu dan Ayah Cassie juga di sana. Wajah mereka seperti seorang manusia yang tak berdosa, padahal mereka baru saja melakukan pembunuhan terhadap seorang gadis remaja.
"Mah, dia udah mati?" tanya Cassie.
"Hm, udah di buang mayatnya" jawab Ibu Cassie, santai.
"Hn, hahahaha. Babe aku seneng banget" ujar Cassie bersender di dada bidang pacarnya tsb.
Sementara Ayah dan Ibu Cassie tersenyum sambil saling merangkul saat melihat anaknya tertawa bahagia. Di tangan mereka tentu saja, sudah ada minuman berakohol.
"Udah gak cemeberut lagi, em?" tanya Bryan, mencium Cassie.
"Mm, gak.. Hihi aku seneng banget" jawab Cassie, memeluk pacarnya dengan manja.
"Bryan. Gimana posisi baru kamu sebagai CEO di perusahaan papa kamu? Apa semuanya lancar?" tanya Monsiour, Ayah Cassie.
"Emm, lumayan sih om. Tapi aku mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Karena sebelunya aku udah siap kalau harus mimpin perusahaan papa suatu saat" jelas Bryan.
"Hmm, bagus, bagus. Itu baru menantu saya. Hahahaha" ujar Monsiour, mengangkat gelas minumannya.
Bryan mengkerutkan bibir dan mengangkat alis untuk mengkode sambil mengangkat gelas minumannya untuk menghormati Ayah Cassie.
Saat sedang asyik berbicara, salah seroang anak buah mereka menghampiri. Di luar sana Rasya bersama Angeline masih berdiri untuk menunggu di persilahkan masuk.
"Maaf mengganggu tuan. Saya ingin memberitahukan kalau di luar sedang ada tamu. Namanya Rasya, dia bersama adiknya" ujar Pria berjas hitam, berbadan kekar.
"Rasya?" tanya Bryan, keningnya mengkerut.
"Biarkan mereka masuk" ucap Ayah Cassie.
Sedangkan Ibu Cassie langsung menjelaskan pada Bryan dan Cassie. Wajah Ayah Cassie juga terlihat biasa saja, ia terlihat seperti sudah menduga hal itu.
"Kalian tau Angeline adik Rasya kan?" tanya Ibu Cassie, pada Casaie dan Bryan.
"Iya aku tau. Kita sekelas pas Sd, tapi aku gak temenan sama dia" jawab Cassie.
Sementara Bryan hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu.
"Jadi Angeline itu punya temen, namanya Vyora. mereka ketemu pas Smp. Vyora itu anak dari Hermansyah, pemilik usaha nikel. Mamanya juga yang punya bisisnis butik terkenal itu. Orang tua Vyora cerai, terus Vyora di tinggalin sendiri. Mama Papanya nikah lagi dan punya anak. Singkatnya Vyora di ajak sama Angeline untuk masuk ke sekolah Akademi Militer, jadi bisa di bilang hubungan mereka dekat. Orang yang udah buat mood kamu hilang itu namanya Vyora, temen Angeline" jelas Ibu Cassie.
__ADS_1
"Ckk! Dateng lagi orang sok pahlawan" ucap Cassie dengan mimik kesalnya.
"Permisi tuan" ucap Pria kekar.
Rasya dan Angeline berada di sebelah pria kekar berjas rapi tersebut.
"Ooh, Rasya.. Gimana kabar kamu. Silahkan duduk. Silahkan" sapa Ayah Cassie, mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.
Rasya dan Angeline duduk, begitu pula Ayah dan Ibu Cassie.
"Jadi... Ada maksud apa kamu datang di jam segini ?" tanya Ayah Cassie.
"Em.. Saya ingin bertanya terkait temen adik saya namanya Vyora..." jelas Rasya terhenti.
"Kalian apain sahabat gua?!" ucap Angeline menyela Rasya.
Sedari tadi Angeline telah mengamati satu persatu tingkah mereka. Semuanya nampak jelas di mata Angeline, mata yang tersenyum ejek itu, bibir, alis yang bergerak. Jari mereka, semuanya nampak terlihat di mata Angeline.
Wajah mereka terlihat sangat jelas sedang berpura-pura. Tangan Angeline mengepal, dia sangat marah saat ini. Terutama pada Cassie, matanya yang paling menjelaskan semuanya.
Tatapan mata Cassie seperti sedang mengejek Angeline dan seolah mengatakan iya bahwa merekalah yang telah bunuh sahabat Angeline.
"Emm.. Maafin adik saya. Jadi saya kesini untuk bertanya tentang Vyora. Vyora sebelumnya bertemu dengan Cassie dan mereka terlibat dalam pertengkaran. Apa kalian sudah membunuh Vyora?" tanya Rasya to the point, sambil ia menatap Bryan datar begitu juga Ayah dan Ibu Cassie.
Cassie nampak menahan tawa dengan mimik wajah palsunya. Hal itu membuat Angeline kehabisa kesabaran. Ia lalu berdiri menghampiri Cassie dan menarik Cassie yang berada di pangkuan Bryan tersebut. Dan.
Plaaaakkk........!
Tamparan keras melayang di wajah Cassie. Sementara wajah Angeline memerah karena marah, napasnya memberat karena emosi.
"Lo apain sahabat gua, hah?! Lo apaain sahabat gua, ta*ikkk!" cela Angeline.
Sementara Rasya langsung berdiri dan menahan Angeline karena saat ini Angeline tengah kehilangan kendali. Dia ingin menghajar Cassie, mungkin juga akan membunuh Cassie.
Cassie yang terkena tamparan memegang pipinya dan memasang wajah cemberut sambil melihat Bryan dengan tatapan sedih.
"Babe..." batin Cassie, menatap cemeberut.
Sedangkan Bryan yang memahami tatapan pacarnya itu langsung berdiri dan menghampiri Rasya dan Adiknya.
__ADS_1
Hal itu membuat Rasya harus menarik Angeline kebelakang untuk melindunginya, jadilah Rasya dan Bryan saling tatap tajam masing-masing.
Perlahan bibir Bryan terangkat, dan ia tersenyum sambil matanya melirik Angeline yang berada di belakang Rasya.
"Sorry Bro. Adik lo harus mati di tangan gua" batin Bryan, sedang ia tersenyum licik.
"Kamu gak papa, babe? Kita duduk dulu ya" ucap Bryan, menyuruh Cassie duduk kembali.
"Kak, kak.. Lepasinnn!" ujar Angeline, mencoba melepaskan tangan Rasya.
"Dek, dek.. Dengerin kakak. Ini sarang musuh dek, kamu gak boleh gegabah kek gini" ucap Rasya berusaha menenangkan Adiknya.
"Hm, pak Rasya" ujar Ayah Cassie, berdiri dan menghampiri mereka.
"Apa kamu mempunyai butki dengan kata-katamu barusan? Jika tidak, sama halnya bahwa kamu telah menuduh kami dan saya akan menuntut. Anda!" tanya Ayah Cassie biasa, tegas di akhir.
"Saat ini saya memang tidak memilik butki. Tapi saya akan segera menemukannya. Sudah lama saya menaruh perhatian pada kalian dan selalu saya biarkan karena mengingat perkataan teman saya Bryan. Tapi sekarang tidak, jika saya menemukan bukti, kalian semua harus ikut saya ke penjara. Saya akan menghukum kalian semua seberat-beratnya" ujar Rasya tagas, mengancam.
"Hn, hahaha. Baik saya akan menunggu hal itu. Saya suka semangat kamu" ucap Ayah Cassie.
Rasya segera menarik tangan Angeline untuk keluar dari rumah mereka. Namun Angeline terus memberontak ingin melapaskan diri, apalagi di saat Angeline menengok ke belakang, dia melihat Cassie tersenyum ejek.
Hal itu membuat amarah Angeline semakin menjadi.
"Kaliannn! Kalian apain sahabat gua?! Kalian sembunyiin di mana dia, hah?! Jawab gua taikkk!! Lo Cassie! gua bakal bales elo kalau sampai sahabat gua kenapa-napa!" teriak Angeline.
"Kalian apain Vyoraaa?! Taikkk! Fu*k you all! Fuc*ing bi*tch! Dasar psikopatt!! iblisss! Setan kalian semua! Anjingggg!" cela Angeline masih berteriak.
Suara Angeline mengecil saat mereka sudah berada jauh dari tempat keluarga Cassie berada.
"Kak, kak.. Kak lepasinnn, kak" ucap Angeline.
"Kak..." pinta Angeline, memohon.
"Aku harus cari temen aku sekarang kak. Pliss, kalau Vyora di sekap sama mereka gimana, kak?" tanya Angeline, berkaca-kaca.
Mereka sudah sampai di depan mobil mereka namun Angeline terus memohon untuk kembali ke dalam rumah Cassie untuk mencari Vyora.
"Sadar, Dekk! Sadar! Kakak tau kalau kamu pasti udah tau yang sebenarnya. Mereka udah bunuh temen kamu! Vyora udah mati dek! Dia udah mati. Kamu harus terima hal itu" ucap Rasya, sambil memegang kuat pundak Angeline.
__ADS_1
Bersambung...