
Saat ini, aku tersadar dari lamunan panjangku karena mendengar suara bell rumah terus berbunyi. Kemudian aku melangkah, berjalan ke arah pintu, membuka pintu ruangan dan segera pergi ke lantai satu untuk membukakan pintu.
Pintu terbuka, wajah seseorang yang tak asing berdiri tepat di depanku.
Tangannya memegang sebuah pistol yang di arahkan ke kepalaku, tepatnya di keningku. Aku mengerytkan kening, menatap heran dengan ekspresi biasa saat melihatnya.
Perlahan tangannya memindahkan pistol yang tadinya mengarah padaku menjadi arah kepalanya. Ia menarik pelatuk sedang jari telunjuknya bersiap untuk menembak. Secara bersamaan, tanganku refleks menghentikan hal tersebut, sehingga membuat suara pistol berbunyi keras. Mataku membulat, tekejut. Namun, aku berhasil mengarahkan pistol tersebut ke atas.
"Anj*ing! fuc*k! Lo ngapain?!" ucapku, membentak.
Greysie hanya diam sedang air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Aku segera merebut pistol dari tangannya dan menariknya masuk ke dalam rumahku.
Kemudian, aku melirik sekitar sebelum mengunci pintu rumahku rapat-rapat. Aku menarik tangan Greysie, lalu mendorongnya duduk di sofa, kemudian aku bercekak pinggang, mengibas rambut kebelakang sambil mondari mandir sedari tadi, sesekali aku melirik Greysie dan menghela napas panjang lagi berat sambil mendesik kesal.
"Aaaah, siall" teriakku sambil membanting vas bunga dengan kasar.
"Lo! aaahh," memegang rambut, "Lo gak pernah berubah! selalu gini! lo gak bisa apa biarin hidup gua tenang sebentar, hah?!," menghampiri, "hah?! jawabb! jawab anj*ing!" ucapku, memegang kasar pundak Greysie. Sedangkan Greysie hanya diam sambil menangis.
"Aaah," berdiri, "fuckk!," meninju semua benda yang bisa pecah, "fuckk Grey! fuc*k!" teriak sambil melempar, dan meninju barang.
Lama aku membanting semua barang di dalam rumahku karena perasaan marah menyeliputi. Setelah itu, aku terduduk bersandar di antara pecahan kaca sambil melihat Greysie. Tanganku gemetar karena marah sedang tanganku juga ikut mengeluarkan darah membasahi lantai rumahku.
Napasku terengah karena merasa capek. Lalu, aku memegang rambutku sambil menangis kecil. Suara isak tangis antara aku dan Greysie saling sahut-menyahut seperti sama-sama tersakiti.
Setelah itu, kami sama-sama tertidur. Greysie tertidur duduk di sofa, sedangkan aku tertidur duduk sambil bersender di dinding.
Besok paginya. Mataku pelan terbuka, lalu aku melirik sekitar di mana rumahku terlihat berantakan akibat ulahku sendiri. Barang berserakan pecah di mana-mana. Greysie masih tertidur sedangkan aku langsung berdiri, menghampirinya dan duduk bersebelah dengannya.
"Emf, ergh~" merintih sambil memegang perut.
"Erg, pasti gara-gara semalam, huff" batinku sambil menghela napas berat.
__ADS_1
"Apa luka dalemnya masih belum sembuh juga" batinku lagi-lagi bertanya.
Greysie terbangun, terkejut langsung melihatku. Sedangkan aku hanya menatapnya biasa dan segera berdiri, namun.
"Argh~" merintih sakit, memegang bagian perut.
"Ra, Ra kamu kenapa. Luka kamu masih sakit?" tanya Greysie cemas, lalu menyuruhku duduk.
"Hmfz," masih merintih sakit.
"Kok ini sakit banget anj*ing, perasaan tadi gak sakit sama sekali" batinku, bertanya.
"Raa, kita ke rumah sakit ya, kita ke rumah sakit sekarang" ujar Greysie, menaruh lengan kananku di bagian lehernya untuk membantuku berdiri. Namun, aku melepaskan dengan kasar.
"Aah, hmz," makin merintih, "oh my gat fuc*k! fuc*k! erg, fuc*k!" ucapku, memaki rasa sakit yang luar biasa.
Tanganku makin meremas bagian perut di mana asalnya rasa sakit itu datang. Greysie kemudian menggendongku di bagian belakangnya, ia membawaku ke kamar. Sementara aku makin merintih manahan rasa sakit.
"Aaah, fuc*k! argh~" tariakku, merintih sakit.
Greysie juga segera mencari kotak P3k. Setelah menemukan kotak p3k, ia langsung menghampiriku. Tangan Greysie membuka kancing baju kemejaku, alasannya karena lukaku berada di sekujur tubuh akibat ulah Cassie, jadi Greysie harus melihat semuanya.
Sebenarnya aku ingin menahan tangan Greysie, namun rasa sakit terlalu mendominasi membuatku terus merintih sakit sambil memegang perut.
Setelah kemejaku terbuka. Terlihat darah ternyata sudah menembus perban. Mata Greysie membulat karena tekejut melihatnya.
"Ini semua pasti gara-gara aku. Aric udah pernah bilang kalau luka kek gini harus bener-bener di rawat sampai berbulan-bulan supaya luka luar dan dalemnya bener-bener udah sembuh. Tapi.. aku malah buat Cara nyakitin dirinya sendiri, bahkan dia sampai di penjara gara-gara aku" batin Greysie, menatap bersalah.
"Ra, obat kamu kenapa gak pernah di minum? ini obatnya kek gak pernah di sentuh. Kamu kenapa gak minum obatnya, Ra?" tanya Greysie, cemas.
"Ergh, berisik lo! gara-gara lo tauk! gua gak mau minum obat itu gara-gara elo, lo pikir gua mau jadi orang gila lag.., erg fuc*k! argh," makin merintih.
__ADS_1
Greysie juga membuka baju kaos dalamku dengan mengguntingnya. Aku ingin memarahinya karena bertindak seenak jidat menggunting baju orang, namun rasa sakit yang kurasakan tak tertahankan, bahkan tubuhku mulai lemas sedang bibirku gemetar dan memucat.
Tubuhku di penuhi perban di semua bagian dada dan perut. Lalu Greysie melepas perban yang sudah bercampur darah merah tersebut.
Lukaku membiru, sedangkan di sela-sela jahitan keluar darah. Luka itu berdobel karena tempatnya sama dengan luka yang aku dapatkan (waktu yang sama dengan kejadian yang menimpah ayah Greysie di saat dia bertemu dengan Bryan).
Greysie juga terus membuka semua perban di bagian dadaku, di mana dua lobang akibat tembakan yang hampir mengenai jantungku tertutup oleh jahitan. Sedangkan tembakan lain terkena di bawah jantung, bagian luka atas perut, tengah dada bagian bawah dan tengah perut.
Luka tusukan lain berada di bagian dada kanan, kiri dan perut kiri yang berdobel dengan luka sebelumnya. Jahitan luka akibat tembakan juga masih sangat membiru sampai keunguan seperti tak terawat.
"Ra! kamu gak pernah rawat luka kamu?!" tanya Greysie, sedikit membentak.
"Obat kamu juga gak pernah di minum, Ra!" lanjutnya, mengomel.
"Arg, be, rrii ssik" ucapku, melemas sambil memegang bagian perut yang sakit.
Greysie kemudian segera mengobati lukaku. Cairan putih di dalam botol kecil tersebut langsung di siramnya ke dalam lukaku yang mengeluarkan darah, sehingga membuat aku berteriak kesakitan.
"Aargh, perih anj*ing! itu sakit anj*ing! haah fuc*k! fuc*k!" ucapku, mencela, dan memaki sambil menahan tangan Greysie.
Namun Grsysie malah balik menahan tanganku, dia menindis tangan kananku dengan kakinya. Sedangkan tangan kiriku di tahannya dengan tangan kirinya. Aku tak bisa banyak melawan karena tubuhku sedari tadi melemas karena menahan sakit.
"Ergh, Grey perr, riih, gak uu, ssah di, obatt, inn, argh, hmf" ucapku lirih, namun Greysie terus saja memberi obat di bagian lukaku. Sedangkan aku merasa semakin lemas.
Greysie lalu melepaskan genggaman tangannya pada tanganku. Kemudian aku pingsan, namun Greysie merasa legah, ia merasa lebih leluasa saat aku pingsan karena ia bisa dengan cepat, mengobati dan membalut lukaku dengan perban.
Greysie juga telah mengobati lukaku yang lain karena terlihat memerah, membiru, bahkan keunguan.
"Kalau aja kamu gak ngilang selama seminggu lebih, Ra. Mungkin luka kamu gak bakal separah ini. Aku bakal ngerawat kamu sampai sembuh. Selama itu kamu kemana Ra?" batin Greysie.
Bersambung...
__ADS_1