
Kepala Greysie menjadi sangat pusing, ia juga hampir kehabisan napas saat berusaha untuk menolongku dengan cara melakukan CPR terus-menerus.
"Ra, mhuk, huk, uhuk. R, aa. Bangun Ra, uhuk" ucap Greysie gemetar terus terbatuk-batuk.
Tangannya tak berhenti melakukan Cpr padaku sehingga membuat Greysie harus berhenti sejenak karena kecapean. Napasnya mulai lemah, sedang ia terus menarik napas pendek.
"Haaaa, uhuk, uhuk, erghh, huk, uhuk, eghh" memegang leher dan memukul dada.
Kemudian Greysie mencoba melakukan Cpr lagi untuk kesekian kalinya padaku.
"Raaa" ucap Greysie sambil menahan tangis pilu.
"Huk," memuntahkan air, "haaaa, uhuk, uhuk, uhuk, uhuk, huek," aku menarik napas pendek sambil batuk-batuk.
Semantara badanku langsung memiring dengan rasa pusing luar biasa. Greysie langsung menutup mulutnya memakai lengan karena menahan batuk-batuk sambil bernapas pendek.
Kemudian Greysie berdiri, ia berjalan mendekati dinding kaca di rumahku. Aku yang masih terbaring lemas melihatnya dan berusaha untuk bangun.
Sementara itu Greysie langsung meninju dinding kaca tersebut sehingga meninggalkan retak.
Semarah apa Greysie sampai bisa membuat dinding kaca yang setebal itu bisa retak?
Tak puas meninju dinding, Greysie mengambil kursi santai di ruangan kolam renang lalu membantingya ke dinding kaca sampai berulang-ulang. Hal tersebut membuat dinding kaca di ruangan kolam renangku pecah.
Aku berusaha bangun dengan tubuh yang masih lunglai karena pusing. Di saat Greysie ingin meninju kaca lagi aku langsung memeluknya erat dari belakang sehingga hal itu dapat menghentikan pergerakannya.
"Maaf Grey. Maaf" bisikku, lirih.
Tangan Greysie mengepal sedang ia menutup mata. Darah juga terus mengalir dari tangnnya.
*******
Di dalam kamarku. Aku sedang mengobati luka di tangan Greysie akibat terkena pecahan kaca sebelumnya.
Wajah Greysie sangat tidak enak jika di pandang. Amarahnya masih menggebu jauh di lubuk hatinya.
"Aku.. N- gak tau Grey. Aku kira tadi aku masih sadar, tapi ternyata... i mean..." jelasku pelan.
"Gimana cara aku buat ngejelasain semuanya sama Grey? aku gak mungkin bilang kalau aku trauma, kalau Grey tau dia pasti nanya alasannya kenapa. Terus kalau Grey tau aku udah.. Aku udah, aku.. Aku gak mau dia sampai tau, maafin aku Grey. Maafin aku kalau aku gak bisa jujur selama ini ke kamu. Itu adalah kelemahan terbesar aku dan aku gak mau kamu sampai tau hal itu" batinku.
Greysie tak mau melihatku. Namun wajahnya nampak penasaran akan kalimatku selanjutnya.
"I mean.. Aku..." ucapku menatap muka malas Greysie.
"Grey" panggilku. Namun ia tak mau melihhatku.
"Aku cuman mau kamu tau kalau aku bener-bener peduli sama kamu. Kamu sahabat aku satu-satunya. Aku cuman punya kamu di dunia ini. Maafin aku Grey" jelasku, memeluk dirinya.
Greysie segera melepas pelukanku darinya dan menatapku.
"Gua mau maafin lo, asalkan lo mau izinin gua buat ngelakuin hal itu" ujar Greysie dengan mimik serius.
Mendengar ucapannya entah mengapa jantungku langsung berdetak cepat sedang aku bernapas terengah-engah.
__ADS_1
"Hakuu, emm.. Ta, pi.. " ucapku lirih, gemetar.
"Ayah, ayah.." lanjut batinku, sedang aku menjauh dari tempat duduknya.
"Hayah, hayah, huh, huh" lirihku bernapas lemah.
Hahahah. Hahahaha. Kau ingat aku? aku ini adalah dirimu, kau harus ingat itu. Kaulah yang membunuh ayahmu sendiri. Jangan sampai kau melupakan hal itu. Lihat pencapaianmu sekarang. Kau menjadi seorang pembumuh berantai. Apa kau tidak senang? Mengapa kau terus saja menolak hal itu? Hahahaha ayohlah, terimalah dirimu apa adanya. Ceritakan padanya kalau kau telah membunuh ayahmu sendiri. Biarkan sahabatmu itu tau kalau kau telah melakukannya. Dia juga ingin membunuh ayahnya, kenapa kau tak membiarkannya saja? Kenapa? Padahal kau juga telah membunuh ayahmu sendiri. Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Kenapa?! Kenapa?!! Kenapaaa?!!!!!
"Raa. Ra, kamu kenapa? Ra, hey!" ucap Greysie memegang kedua pundakku.
Sedangkan aku terus memgang telinga dengan isak tangis dan napas pendek.
"Mff, gak, gak, gak. Aku gak mau. Gak mau, jangan ganggu aku lagi, hmf~" lirihku sambil menangis pelan.
"Ra, Ra hey. Hey Ra sadar. Ini aku. Ini aku" ucap Greysie berusaha menenangkan.
Ayohlah, c' mon... Apa ruginya buatmu? Kau tidak melihat sahabatmu selalu tersiksa karena ayahnya sendiri? Kau ingin dia mati? Kau ingin dia mati di tangan ayahnya? Kau lebih memilih ayahnya membumuhnya atau kau yang membunuh ayahnya?! Hah?! Hah?!! Kenapa kau terus menghindar?!! Kenapa?!! Kenapa?!!!
"Gaakkk! Aku bilang gak! Gaaakkkk! Aku bilang gakk! Gakk! Enggakkkkk!! Gakkkk!" teriakku sambil membanting semua barang di dalam kamarku.
"Gak mau!! Aku gak mauuu!!! Gakk! Berhentiiii! Aku bilang berhenti!!" memegang telinga.
"Ra, tenang dulu Ra. Iya, iya maafin aku. Maafin aku. Aku gak bakalan ngomong tentang hal itu lagi. Aku beneran minta maaf. Maafin aku" ujar Greysie mendekatiku.
"Berhentiii" ucapku, lirih sambil berjongkok.
Greysie lalu memelukku yang sedang berjongkok tersebut sambil menangis.
********
Sementara itu. Di sebuah rumah mewah milik pasangan suami istri Graham Friedmen dan Elba Ritter. Mereka adalah ayah dan ibu Rasya.
Di ruang makan, mereka sedang terlibat dalam perbincangan layaknya keluarga pada umumnya.
"Ayah bangga sama kamu" ucap Graham pada Angeline yang tidak lain adalah ayah Rasya dan Angeline.
"Thank u Yaah" jawab Angeline tersenyum senang.
"Mama juga bangga," mencubit pipi Angeline, "banget sama kamu dek" sambung Elba, ibu Rasya dan Angeline.
"Mmm," mengkerut bibir, "makasih maahh" ujar Angeline dengan nada manja.
"Hm, sifat manjanya masih ada. Padahal udah latihan siap salah tiap hari" ejek Rasya pada Angeline.
"Hnh, biarin. Blee" ucap Angeline menjulurkan lidahnya pada Rasya.
Sedangkan Rasya membalas menjulurkan lidah dan menarik bawah matanya, lalu lanjut makan.
"Kamu gimana Rasya?" tanya Ayahnya.
"Aku? Em.. Iya, aku suka jadi detektive polisi. Banyak kasus yang pingin aku pecahin misterinya terutama kasus pembunuhan berantai yang di mulai dari tahun lalu itu" jawab Rasya berhenti makan saat menjelaskan.
__ADS_1
"Hmm. Kamu tertarik sama kasus itu? Sudah banyak senior kamu yang gak bisa pecahin kasus pembunuhan berantai itu, ya kan mah?" ujar Ayahnya, lalu mengkode istrinya.
"Iya, bener Mas. Udah banyak detektive yang nanganin kasusu itu, tapi mereka gak pernah bisa nangkep pelakunya sampai sekarang. Mama pernah denger dari bawahan mama kalau pelakunya itu seperti hantu atau bisa di bilang iblis yang sedang menyamar jadi manusia" jelas Ibunya.
Sementara Rasya, Angeline dan Ayah mereka serius mendengar penjelasan tersebut.
"Sampai di juluki Iblis berhati baik kan mah?" tanya Angeline, menyela.
"Mm, iya kamu bener. Bawahan mama pernah bilang kalau cara pembunuhnya membunuh seseorang bener-bener gak bisa di tebak. Bahkan saking sulitnya di tebak bawahan mama pernah bilang kalau pembunuhnya banyak, mungkin sekitar 5 atau 7 orang or maybe lebih dari itu" jelas Ibunya.
"Kok bisa mereka nebak sebanyak itu?" tanya Rasya penasaran.
"Emm. Kata bawahan mama, mereka pernah nemuin dua korban dalam satu tempat sekaligus. Tapi cara mereka membunuh dua korban itu sangat berberda, tapi.." jelas Elba terhenti.
"Tapi apa ma?" tanya Angeline juga penasaran.
"Tapi selalu ada luka yang sama di tubuh korban yang berbeda. Misal anggota tubuhnya di potong atau di iris ataupun di pukul sampai mata dan giginya terkeluar sendiri" jelas Elba dengan sedikit merinding.
"Iiiwww, aku meringding. Kejam banget mereka, kek gak punya belas kasihan" sambung Angeline, merinding.
"Hm, mau jadi tentara. Tapi kok takut?" ejek Rasya.
"Ihh, apansih. Yang namanya manusia pasti takutlahh. Itu hal normall" jelas Angeline, mukanya memelas karena kesal.
********
Sementara itu. Di dalam kamarku. Aku telah menenangkan diriku.
"Mereka gak pernah berhenti membunuh dan menyiksa orang lain" ucapku sambil melihat berita di tv.
"Gak ada jejak yang kita tinggalin di mayat korban mereka kali ini" lanjutku.
Sedangkan Greysie yang sedang menonton tv tsb malah tersenyum, lalu melirikku.
"Kamu tenang aja Ra. Mayat itu udah dari dua hari yang lalu dan aku udah ninggalin jejak kita di tubuhnya" jelas Greysie masih tersenyum.
"Really?" tanyaku, menatap biasa.
"Yaa, kamu tenang aja. Setiap korban yang mereka bunuh, semua orang tetep bakalan ngira kalau pelakunya sama, meskipun cara kita membunuh mereka itu beda-beda" jelas Greysie.
"Oh. lo pengen gua bunuh lo juga, iya? Ngapain pergi sendiri?" tanyaku, kesal.
"Hn, hahahaha. Tapi seneng kan? Semuanya berjalan seseuai rencana kita. Hahaha, semua polisi ketipu. Selalu menduga-duga kalau pelakunya banyak bukan satu/dua orang aja. Hahaha" ujar Greysie tertawa bahagia.
Hal itu membuatku tersenyum saat melihatnya bahagia. Benar apa yang di katakan Greysie, kami memang berencana untuk membuat polisi bingung, karena kami selalu ikut campur meninggalkan jejak pembunhan kami pada korban keluarga Milstone/Walker.
Sedangkan keluarga Milstone/Walker merasa bingung kenapa mayat yang mereka buang selalu di temukan luka yang bukan dari mereka ataupun dari anak buah mereka.
Bahkan mereka keheranan karena pembunuhan yang mereka lakukan selalu di kait-kaitkan dengan kasus pembunuhan berantai.
Hal itu jelas berbeda dengan tujuan mereka, karena mereka bukanlah pembumuh berantai.
Mereka membunuh hanya untuk kepentingan perusahaan mereka.
__ADS_1
Berbeda dengan pembunuh berantai yang tak mempunyai tujuan jelas. (Menurut keluarga Milstone/Walker).
Bersambung...