
"Jangan pergi, Ra. Pliss jangan pergi" pinta Greysie, memeluk erat.
"Aku hampir bunuh kamu Grey. Egm aku hampir bunuh sahabat aku sendiri. Huhuu, aku hampir bunuh sahabat aku sendiri~" ujarku gemetar sambil terus menangis.
Tangisku pecah saat aku tersadar kalau aku hampir saja membunuh sahabatku sendiri. Hal ini merupakan sesuatu yang paling aku takuti, hampir saja aku menyesal untuk yang kedua kalinya karena telah membunuh seseorang yang sangat aku sayangi.
"Aku harus bunuh diri aku sendiri sebelum aku bunuh kam..." ucapku, tak selesai.
Greysie langsung membungkam mulutku dengan tangan kirinya. Posisi kami saat ini masih sama seperti sebelumnya, Greysie memeluk aku dari belakang.
Seharusnya kau biarkan aku membunuhnya. Membunuhnya, membunuhnya, membunuhnya, membunuhnya, membunuhnya, membunuhnya.
Lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya suara bisikan itu memenuhi isi kepalaku. Sedang rasa pusingku kembali datang, mungkin saja karena efek obat yang di berikan Greysie sebelumnya.
Karena merasa sangat pusing, aku pun pingsan kembali. Kemudian Greysie segera membawaku ke mobil dengan terburu-buru.
Saat ini mayat Angeline masih berada di sini, sehingga Greysie juga harus membersihkan jejak kami di sana.
Greysie juga baru mencabut besi di tangannya saat ia berada di mobil, karena hal itu bisa menjadi bukti jika sampai tertinggal di dalam bangunan tersebut.
Mayat Angeline kini tengah berada di dalam bagasi mobil Greysie. Setelah itu, Greysie segera menancap gas mobilnya, lalu ia membuang mayat Angeline di sungai yang deras.
Hal itu Greysie lakukan karena sebelumnya aku menusuk Angeline tanpa menggunakan kaus tangan milikku, bisa saja akan meninggalkan bukti sidik jariku di tubuh Angeline.
Meskipun bukan aku dan Greysie yang telah membunuh Angeline, kami akan tetap menjadi tersangka jika sampai di temukan bukti sekecil apapun di tubuh Angeline atau mungkin saja tangkapan Cctv di area sekitaran bangunan tsb.
Sementara itu, Rasya sudah berada di tempat mobil Angeline berada. Ia menemukan handhopne adiknya di sekitaran gas/gigi mobil milik Angeline.
Saat Rasya memeriksa kamera dashbor di mobil Angeline ternyata kartu penyimpanan rekamannya telah di ambil sehingga membuat Rasya semakin frustasi.
Kemudian Rasya segera memerintahkan Agus dan Antony untuk mencari tau semua lokasi yang pernah di kunjungi Angeline dengan melacak lokasi di handhpone Angeline sebelumnya.
Saat ini, Rasya sudah tau bahwa setelah Angeline berpamitan pulang di saat mereka makan malam di restaurant sebelumnya. Angeline ternyata pergi berjalan kaki mengunjungi bangunan yang tak jauh dari tempatnya berada.
Rasya juga memeriksa Cctv, ia melihat Angeline seperti sedang membaca chat dari seseorang sebelum ia pergi ke bangunan tempat tsb.
Namun, rekaman Cctv tak memperlihatkan Angeline berjalan sampai ke tempat Greysie berada sebelumnya karena di tempat itu kamera Cctv pengawas tak ada.
Rasya juga telah mengetahui bahwa saat itu, Angeline tak pulang ke rumahnya melainkan sudah di culik oleh seseorang.
__ADS_1
Mengetahui fakta di atas, Rasya yang penuh dengan emosinya itu segera pergi ke rumah Bryan.
********
Tiba di rumah Bryan.
"Keluar lo Bryan..!!" teriak Rasya.
"Keluarrrr!!!"
Tak, tuk, dug, derr, dug...!
Rasya menghajar semua anak buah Bryan, hal itu membuat salah satu anak buah Bryan segera melapor.
"Maaf, Pak. Di luar ada seseorang yang marah-marah, dia mencari pak Bryan. Dan dia juga menghajar semua anggota pak" ujar Pria berjas hitam tsb.
"Rasya?" batin Bryan.
Kemudian Bryan segera keluar untuk menemui teman sekolah/sahabatnya itu.
"Ada apa lo cari gua, bro?" tanya Bryan, santai.
"Anj*ing!!" cela Rasya, sambil menonjok wajah Bryan.
"Gua gak tau adik lo di mana dan kenapa lo nanya ke gua?" tanya Bryan, biasa.
"Anj*ing!" cela Rasya lagi sambil menonjok.
Rasya terus menghajar Bryan sampai Bryan babak belur, namun Bryan tak membalas pukulan dari Rasya.
"Kasih tau gua sekarang!! Kasih tau gua sekarang di mana adik gua?!!! Jawaabbbbb!!!" tanya Rasya, berteriak di wajah Bryan.
"Bro, gua gak tau adik lo di mana. Sumpah" ujar Bryan sambil memperlihatkan dua jari tangannya.
Suara sirene mobil polisi bergema sampai di rumah Bryan. Ada satu mobil yang berbada di belakangnya.
Di dalam mobil itu ada Ayah dan Ibu Rasya. Mereka segera turun, lalu menghampiri Rasya dan Bryan.
"Anda yang menculik anak saya?! Di mana Anda sembunyikan anak saya?!" tanya Ayah Rasya, emosi.
__ADS_1
Ayah Rasya tengah emosi, namun ia masih bisa mengendalikan dirinya. Mengingat dia adalah seorang jendral TNI.
Plakkk.........!!!
Tamparan kuat melayang di wajah Bryan. Ibu Rasya yang merupakan Brigjen Pol itu tak bisa menahan emosinya, ia menatap marah.
"Kamu apakan anak saya?! Di mana dia sekarang?!" tanya Ibu Rasya marah bercampur sedih tsb.
Tak berselang lama. Ayah dan Ibu Bryan keluar dari rumah mereka.
"Anda punya bukti jika anak saya yang telah menculik anak Anda?" tanya Ayah Bryan tiba-tiba, menyela mereka.
"Apa kalian tidak melihat seragam dan status kalian saat ini? Kalian telah menuduh anak saya tanpa bukti dan saya bisa menuntut kalian!" ujar Ayah Bryan, tegas.
Agus dan Antony datang. Mereka segera berbisik pada Rasya.
"Pak, kami menemukan rekaman Cctv. Ada satu mobil hitam keluaran dari perusahaan W. Electrik yang sedang memata-matai rumah pak Rasya. Dan setelah mobil adik pak Rasya keluar, mobil hitam itu terus mengikuti sampai pada remakan cctv terakhir. Sayangnya di tempat mobil adik pak Rasya di temukan, tak ada Cctv di sekitaran tempat itu. Dan.. wajah seseorang di dalam mobil itu juga tidak kelihatan, Pak. Wajahnya tertutup dengan tudung jubah yang dia kenakan" bisik Agus, menjelaskan.
Setelah itu, Antony juga berbisik pada Rasya sambil memperlihatkan sebuah selembaran kertas.
"Saya juga sudah menyelediki pemilik mobil hitam itu, pak. Dan ternyata transaksi pembayaran mobil itu atas nama Pak Bryan" lanjut Antony, menjelaskan.
Mendengar hal itu sontak telinga Rasya memanas, ia sangat marah saat ini. Sehingga Rasya memukul Bryan kembali habis-habisan.
Sedangkan Antony dan Agus segera memberi tahu Ayah dan Ibu Rasya, dan mereka segera memerintahkan untuk menangkap Bryan.
Antony dan Agus juga sudah membawa surat penangkapan. Mereka telah siap, dan sangat kompak dengan hal ini.
Polisi kemudian memborgol tangan Bryan, sementara ayah Bryan berbisik padanya.
"Kamu tenang. Papa akan mengurus semuanya" bisik Ayah Bryan.
"Bryann, Pahh... Lakuin sesuatu. Anak kita di bawa ke kantor polisi, Pahh" ucap Ibu Bryan, lirih.
"Kamu tenang. Aku akan urus semuanya" ujar Ayah Bryan, menenangkan.
"Aku gak pp mah" ucap Bryan pada ibunya, lalu tersenyum.
"Jika kalian terbukti bersalah, saya akan memberi perhitungan pada kalian!" ancam Ayah Rasya.
__ADS_1
Polisi segera memasukan Bryan ke dalam mobil dan membawanya ke kantor polisi.
Bersambung...