Ilusi

Ilusi
BAB 34 (Part 3)


__ADS_3

Besoknya, tepatnya empat hari setelah kematian Ayah Greysie. Rasya masih menyelidiki tentang Cassie dan Bryan. Ia mengetahui bahwa Bryan menyuruh seseorang untuk menggeledah rumahku. Bryan juga menyuruh 7 orang untuk mencelakai aku dan Greysie. Namun ia tak memiliki bukti yang kuat untuk membuktikannya.


Di kantor polisi, Rasya, Antony dan Agus sedang melihat rekaman cctv. Di cctv jalanan terlihat mobil hitam menuju ke arah rumahku, itu adalah mobil pengeluaran perusahaan Bryan.


Cctv kedua merekam sebuah mobil toyota hitam mendahului mobil Greysie. Mereka melihat aku dan Greysie menghajar semua anak buah Bryan. Namun mereka tak bisa menemukan keberadaan wajah dari orang-orang yang mengejar kami, sehingga sulit bagi mereka untuk membuktikan kalau orang-orang itu adalah suruhan Bryan.


"Gua belum pernah ke rumah Lista. Selama ini dia ada di rumah Greysie terus" batin Rasya.


"Kenapa Bryan nyuruh orang untuk nyerang Lista dan Grey? Apa alasannya? Hm, sepertinya ini emang berhubungan dengan kematian semua keluarga Lista. Gua harus cari tau lagi soal ini" lanjut Rasya, membatin.


Sementara itu, di rumah Greysie. Seperti biasa, Greysie sedang duduk, menunggku untuk bangun dari tidurki.


Beberapa menit kemudian, aku terbangun dan melihat Greysie sudah siap dengan semua makanan di tangannya. Hal itu membuatku sangat marah sehingga aku langsung meminum segelas susu yang ada di tangannya.


Setelah aku selesai meminumnya. Greysie ingin mengambil gelas dari tanganku, tetapi aku malah membuang gelas dari tanganku yang membuat gelasnya sampai pecah di lantai.


Braaakk..........!


Greysie sontak melihat gelas yang aku buang, ia lalu berdiri untuk membersihkan pecahan gelas di lantai. Air matanya menetes saat membersihkan pecahan-pecahan kaca. Sedangkan aku juga langsung berbaring membelakanginya dengan air mata yang menetes, lalu akupun tertidur kembali.


Setelah membersihkan pecahan gelas, Greysie keluar kamar, ia pergi untuk membuang pecahan-pecahan gelas.


Tak lama setelah itu, Greysie kembali ke kamarnya. Telponnya berbunyi, ia pun menjawabnya.


"Halo, Mah" ucap Greysie, menaruh telpon di telinganya.


"Halo, Grey. Kamu baik-baik aja sekarang?" tanya Ibunya.


"Iya mah, aku gak pp" jawab Greysie. Tangannya memutar gagang pintu kamar. Pintu terbuka.


"Cara gimana kabarnya? dia masih sakit?" tanya Ibunya.


"Dia udah mendingan Ma, bentar lagi Cara udah bisa sekolah lagi" jawab Greysie.


"Oh iya, syukurlah. Maafin mama Grey, mama malah pergi sendiri ke LA, ninggalin kalian pas lagi butuh mama" ujar Ibunya, sedih.


"Iya, gak pp. Mama kan ngurus bisnis mama juga di sana, aku lebih suka mama di sana aja dulu bentar sampai semuanya normal lagi. Aku gak mau mama sampai jadi perbincangan terus di media" ungkap Greysie.


"Iya, mama... mama emang gak suka papa kamu selingkuh, tapi... mama juga gak mau kalau ada orang yang nyebarin foto-foto papa kamu pas lagi selingkuh. Mama kasihan sama papa kamu Grey, setelah meninggal malah jadi perbincangan orang-orang" ujar Ibu Greysie, menangis pilu.


"Iya mah, aku paham. Aku juga gak suka, aku bakal cari siapa yang udah nyebarin foto itu dan bakalan bales mereka semua" ujar Greysie.


Greysie kemudian duduk di tempat tidur sambil memandangi wajahku yang sedang tidur.


"Jangan sayang, kamu gak perlu ikut campur sayang, biar polisi aja yang urus. Mama gak mau kamu kenapa-kenapa, udah cukup papa kamu aja yang jadi korban, mama gak sanggup kalau harus kehilangan kamu juga" ujar Ibunya, makin menangis.


"Iya, iyaa... Mama jangan nangis, aku gak akan ikut campur, kok" sambung Greysie.


"Kamu janji, sayang?" tanya Ibunya.


"Iya, mah.. aku janji, kalau gitu aku tutup ya mah, mama baik-baik di sana" jawab Greysie.


"Iya, kamu juga" sahut Ibunya.


Greysie kemudian menutup telpon miliknya, lalu memperbaiki posisi tidurku dan mengelap sisa-sia air mataku.


"Aku udah jahat banget ke kamu Raa. Maafin aku, kamu mungkin udah benci ke aku, tapi... Kamu pasti akan lebih benci lagi ke aku, aku harap kamu bisa baca pikiran aku kek biasanya, meskipun aku natap benci kamu, tapi aku sama sekali gak benci sama kamu. Aku kek gini supaya mereka percaya hubungan kita bener-bener udah rusak, kamu gak perlu tau, aku mau semua orang percaya karena kamu gak lagi acting. Dan aku... Aku bakal jadi orang yang terjahat yang pernah kamu kenal" gumam Greysie, menatapku.


Setelah itu, Greysie kembali menatap laptop miliknya seharian full sampai malam untuk mendengar percakapan antar Bryan dan Cassie.


"Babe... Mau gendong..." ujar Cassie, manja.


"Ucupcupcup... Baybe aku ini kenapa?" tanya Bryan, manja.


Sedari tadi siang setelah pulang sekolah Greysie meras jijik mendengar obrolan tidal berguna antara Cassie dan Bryan, namun ia tetap melanjutkan mendengarkan karena tak ingin tertinggal sedikitpun informasi baru terkair rencana mereka.


Waktu sudah menunjukan pukul 01:02 malam. Sepertinya Bryan dan Cassie sudah tidur, hal itu membuat Greysie segera mematikan laptop. Ia pun meluncur ke tempat tidur.


"Ckk! Sialan kalian semua! Gua harus nyiksa sahabat gua sendiri karena kalian," melirikku, "Lihat aja, gua bakal bales kalian. Gara-gara kalian gua harus paksa Cara minum obat terus-terusan. Kalau dia malah jadi sakit gimana? Gimana anj*ing! Ta*ik lo semua!" batin Greysie.


Besoknya, setelah pulang dari sekolah. Greysie sudah bersiap seperti biasa. Sementara itu, setelah beberapa menit kemudian, aku terbangun lagi dan langsung di hadapkan dengan makanan dan minuman.


"Ooh... no... no... Pliss tell me this is not really happen" batinku, lirih.


"Grey....? Pliss...." batinku, menatap sedih.


Mataku menatap sayu, namun Greysie nampak tak begitu peduli. Ia hanya terus menyuruhku untuk makan. Karena merasa sangat kesal, aku pun langsung membuang piring yang ada di tangannya.


"Raa....!" bentak Greysie. Ia berdiri, lalu menaruh gelas di atas meja.


Greysie kemudian membersihkan pecahan piring yang ada di lantai. Kemudian aku melihat gelas di atas meja dan membantingnya. Greysie terkejut, langsung melihat kearahku.


"Lo mau gua matiii?!" teriakku, beranjak dari tempat tidur untuk mengambil pecahan kaca.


"Hey, hey Ra. Kamu mau ngapain? Pliss jangan, jangan" ucap Greysie berdiri, dan berusaha mendekatiku.


"Lo mau gua mati kan? Lo benci sama gua kan?" tanyaku berlinang air mata. Sedangkan pecahan gelas kaca sudah berada urat nadiku.


"Gak, gak Raa... I don't hate you, aku gak benci sama kamu" ucap Greysie, mendekatiku.


Iyaa, hahahaha.... Gua benci sama lo. Hahahaa.


Suara itu adalah ilusi yang kulihat. Aku mengira Greysie mengatakan hal itu padaku.


"Hah? Lo benci?" ucapku, melirik kesana kemari.


"Lo benci, lo benci gua, lo benci gua, lo benci, lo benci, lo benci" ucapku pelan berulang.


Kemudian, aku mulai melihat Greysie sedang memberikan obat padaku sambil berkata.


Iya, gua benci sama lo. Lo udah bunuh bokap gua. Sekarang minum obat ini, hahahahaha.


Itu hanyalah ilusinasiku saja. Yang Greysie katakan sebenarnya adalah.


"Gak Ra, aku gak benci sama kamu. Why aku harus benci? Kamu sahabat aku dan aku sayang sama kamu. Kamu tenang dulu Ra, tenang" ujar Greysie, memegang tanganku.


"Huhuuu, aku salah apa Grey? Bukan aku... Bukan aku sumpah, aku gak tau apa-apa. Bukan aku, itu bukan aku. Pliss maafin aku, itu bukan aku" ucapku, memegang kepalaku dan terduduk.


"Maksud kamu, Ra? Aku.. Kamu gak salah apa-apa, aku sama sekali gak benci sama kamu, Pliss kamu tenang dulu yaa" ujar Greysie sambil memeluk erat.


"Heh, bukan aku. Bukan aku.. bukan aku, itu bukan aku. Maafin aku, maafin aku, huhuu" ujarku, lirih dan gemetar, sedang suaraku mengecil.


"Apa aku udah bener-bener keterlaluan sama Cara? Maafin aku, Ra" batin Greysie, sedang air matanya menetes.


"Dia pasti keinget kejadian yang nimpa keluarganya dulu. Maafin aku Ra, aku cuman mau kamu diem aja bentar sampai semuanya selesai" batin Greysie.


"Bukan aku, itu bukan aku, itu bukan aku Grey, bukan aku" ucapku gemetar.


#


Sementara itu, di dalam rumah Rasya. Ia sedang duduk sambil memeriksa berkas kepolisian. Itu adalah laporan kepolisian keluargaku. Saat sedang membaca laporan, Rasya malah melamun dan teringat kejadian beberapa minggu yang lalu.


Saat itu, setelah aku pulang dari rumah sakit, Greysie terkena pannict attack karena mendengar omonganku pada Aric untuk menjaga Greysie jika aku tak ada nanti. Dan setelah kami sampai di rumahnya, Rasya ingin bicara berdua denganku.


Rasya lalu bertanya mengapa aku berkata tentang hal itu pada Aric sampai juga memintaku untuk menjadi pacarnya, namun aku malah tertidur (Bab 11 Part 1).


Setelah teringat dengan hal itu, Rasya kemudian menggelengkan kepalanya, lalu memeriksa kembali berkas kepolisian di depannya. Saat sedang serius membaca, ia melihat kejanggalan pada berkas kepolisian tersebut.


"Orang tua Lista malam itu berantem hebat?" batin Rasya.


Rasya terus membuka setiap lembaran dari laporan tersebut. Ia melihat foto telapak tangan ayahku pada itu dan mulai membaca.


"Hm, dari cara dia membunuh.. Ini sama kek perbuatan Milstone dan Rallenda Lubis, pasti ada aja anggota tubuh korban yang di potong" batin Rasya.


"Ckk! Sialan! Gua juga harus nangkep Bryan dan keluarganya. Apa salah adik gua sampai mereka bunuh dia juga? Apa? Bahkan gak punya belas kasih sampai nyiksa adik gua. Kalian robek kulitnya dengan pisau, sialan kalian semua!" batin Rasya.


Setelah itu Rasya langsung menelpon Agus, rekan detektif yang berada satu team dengannya.


"Halo, pak Agus" sapa Rasya, di telpon.


"Iya halo, Pak" sahut Agus.


"Aku mau minta tolong, Pak Agus tolong selidiki keluarga Milstone lebih jauh lagi. Setiap laporan keuangan mereka, pendidikan, kerja sama dengan perusahaan kecil atau besar. Laporan telpon mereka, bahkan semua bagian terkecil dari keluarganya" pinta Rasya.


"Baik pak, emm... kemarin saya juga sudah menyelidiki lebih dalam mengenai keluarga Bryan Walker. Emm... Mereka ternyata sudah lama bekerja sama dengan perusahaan keluarga Milstone. Saat itu perusahaan keluarga Walker dan Misltone juga sama-sama menawarkan kerja sama dengan Edie Squire, Ayah dari Cara Callista" jelas Agus.

__ADS_1


"Hmm, mereka memang mencurigakan. Aku yakin banget kalau mereka ada hubungannya dengan kematian keluarga Lista" ujar Rasya.


"Iya, pak. Saya pikir juga begitu" sambung Agus.


"Ok baiklah, terima kasih pak. Nanti aku bakal hubungin Pak Agus lagi, kita kumpulin bukti sama-sama setelah saya selesai menyelediki Bryan dan pacarnya" ujar Rasya.


"Iya sama-sama, Pak. Baik pak" balas Agus.


*Di rumah Greysie.


Setelah aku tertidur lagi, Greysie segera membaringkan aku ke tempat tidur. Ia lalu pergi lagi untuk mengamati Brayan dan Cassie secara langsung di rumah mereka, dari kejauhan. Namun Greysie tetap menggunakan headsed dan hendphone untuk mendengarkan percakapan mereka di dalam mobilnya.


Setelah berjam-jam di dalam mobil. Tak ada yang berubah. Bryan dan Cassie masih bertingkah biasanya, mereka belum memulai rencana mereka karena menunggu video dari Ezra.


Namun Greysie takut akan adanya perubahan rencana Cassie dan Bryan, makannya Greysie tak pernah menghilangkan fokusnya pada meraka.


Setelah berjam-jam kemudian. Waktu sudah menunjukan pukul 02:30 malam. Greysie pulang ke rumahnya, dan segera tidur di kamar. Ia merasa sangat kelelahan karena jarang tidur selama beberapa hari terakhir ini.


Besonya, hari ke enam setelah kematian Ayahnya. Di dalam rumah Greysie, ia bangun dan segera memasak untukku. Kemudian setelah itu ia menungguku bangun seperti biasanya.


Selang beberapa menit kemudian, aku pun terbangun. Greysie langsung memberiku 2 butir obat tidur. Mungkin dia takut aku overdosis, jadi dia mengurangi takarannya. Tanpa basa basi, aku yang duduk itu, langsung meminum obat yang ada di tangannya.


"Minum ini" ucap Greysie, melirik obat menggunakan alisnya.


Sementara itu, aku langsung meminumnya. Greysie kemudian berdiri, ia segera pergi. Namun aku langsung berteriak padanya.


"Kapan ini selesai, Grey? Kamu kenapa kek gini ke aku? Aku salah apa? Aku harus... Aku gak punya waktu untuk ini, kamu gak lakuin semuanya sendiri kan? Aku gak paham Grey, kamu kenapa?" tanyaku mengeraskan suara.


"Kamu diam aja dulu, Ra" ucap Greysie singkat dan melangkah pergi.


Hal itu membuatku makin merasa ada sesuatu yang aneh dari sikapnya. Kemudian aku beranjak dari tempat tidur, langsung memegang kakinya untuk memohon.


"Pliss Grey, aku udah gak tahan. Pliss jangan giniin aku, aku mohonn, maafin aku... Kalau kamu kek gini terus, aku jadi bingung" ujarku, memohon.


Sementara itu Greysie berusaha menahan air matanya. Ia lalu menyamai posisi badannya denganku, lalu memegang pundakku.


"Tatap mata aku, Ra. Kamu kan biasanya bisa tahu apa yang aku pikirin, hm?" ujar Greysie menatapku.


Aku menatap Greysie, namun aku hanya melihat dirinya menertawaiku dan memberikan obat padaku.


Hahahaha, lo selamanya bakal kek gini. Berani-beraninya lo bunuh bokap gua. Sekarang minum obat ini, lo bakal terpenjara di dalam kamar gua selamanya. Selamanya, selamanya, selamanya, selamanya, selamanya. Hahahahahaha, selamanya, selamanya.


Melihat ilusi itu membuat napasku tak beraturan. Akhirnya aku menutup telinha dan menutup terus memukul kepala.


Hahahaha, selamanya. Selamanya, selamanya, selamanya, selamanya...


Suara itu memenuhi isi kepalaku, membuatku terus menutupi telinga dan menggelengkan kepala dan melihat tak tentu arah.


"Gak, gak, gak. Itu bukan aku, bukan aku, gaaaakkkkkkk!" teriakku.


"Bukan....! Bukan aku, huhu....." ujarku, menangis.


Greysie langsung memelukku, aku juga sudah mulai pusing karena obat tidur. Beberapa menit kemudian aku pun tertidur lagi.


"Maafin gua, Ra" batin Greysie. Ia meneteskan air matanya, lalu mengangkatku ke tempat tidur.


"Pliss kamu tahan, Ra. Aku gak mau kamu malah trauma karena aku ngasih kamu obat terus, pliss.. kamu tahan Ra, aku yakin kamu pasti bisa" batin Greysie.


Greysie kemudian mengabil pisau dari kantung celannya. Ia tak tahan melihat keadaanku, karena merasa sangat bersalah terhadapku, ia lalu mengiris lengan sendiri. Air matanya menyucur deras. Tak lama setelah itu, ia mulai berteriak dan membanting barang-barang di dalam kamarnya.


"Fuckkk....! Fuckk....! Aaaaaaaarrghaha.... fuckk, fuckk, fuckk, fuuuuuck.....!" teriak Greysie.


"Aaaaaargh....! Huhuuuu, maafin guaaa.... Huhuuu.... Maafin aku, Ra~" tangis Greysie pecah.


Greysie menangis sambil memegang serta memukul kepalanya berulang-ulang. Setelah itu ia berdiri lagi dan mulai memukul dinding kamarnya sampai tangannya memerah, sementara darahnya juga terus menetes.


#


Beberapa jam berlalu, di lain tempat. Rasya bertemu dengan Agus. Mereka menyatukan informasi yang mereka dapatkan.


Fakta baru yang mereka temukan adalah saat malam pertengkaran kedua orang tuaku, ada seseorang yang menelpon ayahku.


Orang tersebut adalah Ayah Cassie, Ayah Cassie merebut cetak biru milik ayahku dan segera memproduksi mobil dan motor sesuai dengan cetak biru Ayahku.


Bisinis Ayahku seketika bangkrut karena banyak pelanggan yang kecewa karena ayahku telah berjanji pada pelanggannya. Namun janji itu tak pernah bisa ia tepati karena semua cetak biru dan berkas milik ayahku telah di rebut paksa oleh keluarga Milstone/Walker.


Menurut Rasya orang yang membunuh keluargaku adalah orang suruhan keluarga Cassie dan Bryan. Mereka bekerjama untuk menghancurkan bisnis ayahku, lalu membagi hasil curian mereka untuk diri mereka sendiri.


Sementara itu, setelah Greysie menenangkan dirinya. Ia lanjut memata-matai Bryan dan Cassie lagi. Tetapi kali ini Greysie juga memata-matai teman-teman Kesya, ia melakukannya pada jam yang berbeda-beda jika sudah selesai pada satu tempat mereka berada.


Beberapa jam berlalu sampai siang hari sudah berganti malam lagi. Waktu sudah menunjukan pukul 02:03 tengah malam, Greysie dalam perjalanan pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, waktu sudah menunjukan pukul 03:30 subuh. Ia baru saja sampai di dalam kamar dan langsung meluncur ke tempat tidur.


Greysie menatap lurus ke depan, air matanya menetes sampai mambuat ia menangis kecil. Greysie lalu melihatku dan segera memelukku sampai ia tertidur.


Besoknya, hari ke tujuh setelah kematian Ayah Greysie. Aku masih tertidur, sementara itu Greysie sedang menonton videoku yang telah di edit teman-teman Kesya. Itu adalah video yang ia ambil sendiri, dalam artian ia curi dengan menduplikat untuk menjadi pegangannya sebelum Bryan mengirmkan padanya nanti.


Sementara itu, aku meninggau karena bermimpi bayangan hitam datang untuk membunuhku, bayangan itu adalah Greysie.


Tatapan marah serta benci terlihat sangat jelas di mata Greysie. Wajah datar serta bibir pucatnya yang mengerucut, membuat perasaanku menjadi sangat ketakutan.


"Gak, gak, jangan, jangan" ucapku, mengigau.


"Jangan......!" teriakku, sedang kedua tanganku bersilang di depan wajahku, seperti sedang menahan serangan dari seseorang.


Aku terbangun, duduk di tempat tidur. Greysie masih menonton rekaman itu di laptop miliknya, ia terkejut setelah mendengarku berteriak.


"Raa... Hey, hey. Ini aku" ucap Greysie, memalingkan wajahku padanya.


Sementara itu aku memjamkan mata dan berusaha untuk mengatur napas baik-baik.


"Ra, kamu gak perlu mikirin apapun lagi, biar aku yang ngurus semuanya" ujar Greysie.


Mendengarnya membut keningku mengkerut. Greydie lalu menutup laptonya dan segera beranjak dari tempat tidur.


"Lo apain gua?!" teriakku, membuat langkah kaki Greysie terhenti, kemudian ia melirikku.


"Lo ngapain nying, lo ngapain?" ucapku pelan, gemetar.


"Lo apain gua Grey? Gua mau pergi dari sini, gua gak mau lagi di sini" ucapku, beranjak dari tempat tidur dan berlari ke pintu kamar.


Greysie tak senang mendengar perkataanku, ia pun mengambil obat lagi untukku. Sebenarnya ia tak ingin menyuruhku untuk meminum obat lagi. Tetapi aku menjadi di luar kendali, membuatnya terpaska untuk melakukannya.


Sementara itu aku berusaha untuk membuka pintu kamar tetapi tak bisa, hal itu karena tadinya Greysie segera mengunci pintunya.


Greysie segera menghampiriku dan membuka paksa mulutku untuk meminum obat di tangannya.


"Aku mau keluar... Lepasiinn Grey, aku mau pargi dari sini, lebih baik kamu bunuh aku aja dari pada kamu siksa aku kek gini" pintaku memohon, sedang air mataku terus mengalir.


Greysie kemudian memasukan paksa obat tidur ke dalam mulutku.


"Hmm, gak mauuu... Aku gak mau minum, aku bukan tahanan kamu, Grey. Aku... uhuk, uhuk, hueekk," terbatuk dan hampir muntah.


"Telen Raa, telenn!" perintah Greysie.


"Why you fu*king hate me? I already hate my self Greyy... Aku udah benci sama diri aku sendiri, tau gak?" ujarku, menelan pelan obat di mulutku.


Greysie hanya memberikan 1 butir obat tidur saja padaku karena ia takut aku overdosis karena terus meminum obat.


"Kenapa lo gak jawaaabb...." ucapku pelan mengeraskan suara.


Greysie masih saja diam. Kemudian aku langsung berdiri dan memeriksa laci untuk mncari obat tidur.


"Hey, Ra. Kamu mau ngapain?" tanya Greysie, melemas.


Greysie sangat kelelahan, matanya terlihat seperti sesorang yang jarang tidur. Sementara itu, setelah aku mendapatkan obat tidur dari dalam laci, aku segera membuka penutup botolnya dan langsung memasukan semua obat tidur itu ke dalam mulutku. Namun, sebelum semua obat itu masuk ke dalam mulutku, tangan kiri Greysie langsung menahan tangan kananku dan menatap kesal padaku.


"Lo mau ngapain?!" tanya Greysie, kesal.


"Mau matii, itu kan mau lo?!" bentakku.


Mendengarku sontak membuat tangan kanan Greysie bergerak secara spontan untuk menamparku.


Plaaakk.......!

__ADS_1


"Arrgh," memalingkan wajah, "Loe...! I hate yoouu so much!" ucapku, dengan isak tangis.


Greysie tersadar, ia lalu membulatkan mata karena tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan padaku.


"Raa, i'm sorr.." pinta Greysie, memohon maaf.


"Fu*k you!" selaku mencela dirinya.


Kemudian aku ingin segera pergi namun kepalaku mulai terasa pusing akibat meminum obat tidur.


"Raaa, aku..." ujar Greysie.


Tak selesai Greysie berbicara aku langsung terjatuh, membuat ia langsung menahanku. Air matanya lagi-lagi menetes bagai hujan badai.


Besoknya, hari ke delapan setelah kematian Ayahnya. Greysie terbangun karena bermimpi buruk, ia lalu menatapku yang sedang tertidur.


"Aku takut kalau kamu beneran sakit gara-gara aku, Ra. Maafin aku" batin Greysie.


Greysie lalu mendekat padaku, mulutnya di dekatkannya ke telingaku, lalu berbisik.


"Maafin aku, Raa" bisikan Greysie.


Mataku sedikit terbuka dengan perasaan yang tercampuk aduk, aku seakan tak paham dengan dunia. Seperti ada sesuatu yang berbeda dan semuanya terasasangat aneh bagiku. Aku seperti melihat Greysie berjalan keluar dan menutup pintu kamarnya. Sementara itu, mataku langsung terpejam lagi.


Sementara itu, tentu saja Greysie pergi untuk mengamati Bryan, Cassie serta teman-teman Kesya.


Beberapa jam berlalu, di rumah Greysie. Aku terbangun karena bermimpi Greysie pergi keluar kamar sebelumnya untuk meninggalkan aku sendiri.


"Grey....!" teriakku, terbangun duduk.


Setelah terbangun, aku tak melihat Greysie di dalam kamar, ia tak menungguku bangun seperti biasanya.


Kemudian aku segera beranjak dari tempat tidur, namun karena kakiku masih teras lemas dan kepalaku juga masih pusing, membuatku sempat terjatuh ke lantai.


Setelah itu, aku bangkit dan menopang diriku menggunakan dengan dinding, lemari, meja dan semua barang yang bisa aku pegang untuk membantuku berjalan. Kakiku melangkah perlahan sampai aku masuk ke dalam lift.


Kemudian aku mulai memeriksa semua lantai dengan langkah kaki yang belum sempurna, aku mencari keberadaan setiap manusia di dalam rumah besar ini. Tetapi sepertinya hanya aku saja yang berada di dalam rumah besar ini.


Entah mengapa hal itu membuat perasaanku semakin terasa tidak enak. Perasaan aneh pun mulai memenuhi isi kepalaku.


"Apa gua masih mimpi?" batinku.


"Bangun, bangun.. !," menepuk pipi, "Apa selama ini gua cuman mimpi kalau Grey lakuin itu ke gua? Gak mungkin dia lakuin itu ke gua" batinku.


Aku terus melangkah sampai di arah dapur. Namun saat sampai di dapur, lagi-lagi aku tak menemukan siapapun di sana.


"Ini nyata gak sih? Apa jangan-jangan gua ini sebenarnya gak nyata? atau Grey yang gak nyata?" batinku.


"Aaaaaargh....! Gua gak ngerti....! Gua di mana...? Ini di manaaa.....?" teriakku, membuat suaraku mennggema di dalam rumah kosong ini.


"Grey........!" teriakku sekali lagi.


"Grey kamu dimana....? Pliss jangan nakut-nakutin aku, aku beneran takut" ujarku, mengeraskan suara. Namun tak ada siapapun yang menjawab pertanyaan dariku.


"Greyy.... Huhuuu..., aku bakalan minum obat. Pliss... aku gak tau lagi apa ini nyata atau mimpi. Pliss kalau ini mimpi kamu dateng dan kasih tau aku supaya aku bangunn.... Aku takut bangett Greyyy......" ujarku berteriak, namun lagi-lagi tak ada yang menjawab.


Kemudian aku melihat bayangan Greysie lewat, ia berlari ke dalam kamar. Aku pun segera mengejar bayangan Greysie. Namun setelah aku sampai ke dalam kamar, aku tak menemukannya di sana.


Hal itu membuatku berpikir jika aku sudah benar-benar terjebak di dalam mimpiku selamanya.


"Hmfff, hmff..... Gak, gak, gak, gak....." ucapku lirih, sambil meneteskan air mata.


"Gak, gak, gak.... Bangun... Bangunnn... Bangunn... Grey huhuuuu.... Bangunin aku, aku tak-kutt, aku tak-kutt, aku takut huhuuu. Aku beneran takut.... Huhuuu" ujarku lirih, bersender ke dinding, di tempat yang sempit sambil memegang telinga dengan kedua tanganku.


Beberapa jam berlalu, di lain tempat. Greysie terus melihat jam tangan miliknya. Ia terus kepikiran soal diriku. Jarinya terus mengetuk setiran mobil, begitu juga dengan kakinya yang terus bergoyang karena gelisa.


Greysie merasa cemas karena hari ini ia tak memberiku obat tidur, ia takut aku akan pergi dan menghilang lagi. Karena merasa tak tahan Greysie akhirnya memutuskan untuk pulang dan mengecek keberadaanku.


Setelah sekitar sejaman di dalam mobil, waktu sudah menunjukan pukul 16:00 sore. Greysie baru sampai di rumahnya dan segera berlari ke arah lift.


Suara lift berbunyi, Greysie keluar dari lif dan segera mempercepat langkahnya menuju kamarnya.


Greysie melihat pintu kamar terbuka, ia pun segera mempercepat langkahnya. Mata Greysie menulusuri setiap sudut kamarnya untuk mencariku, sampai ia manangkap sesuatu. Ia melihat kakiku dan segera menghampiriku.


Sedangkan aku berada di bagian sempit meja, seperti anak-anak yang sedang bersembunyi karena ketakutan sambil menutup telinga, sementara seluruh anggota tubuhku gemetar.


Bayangan Greysie berada di depanku, hal itu membuat aku melihat ke atas. Aku melihat wajah Greysie dengan tatapan sayu, layaknya seseorang yang memeliki penyakit mental.


"Raaa... Kamu kenapa di sini?" tanya Greysie, langsung memeluk diriku.


"Dingin banget badan kamu, Ra" ujar Greysie.


Melihat Greysie membuat aku mengucek mata. Aku ingin memastikan apa yang kulihat ini adalah nyata bukan mimpi.


"Kamu beneran Grey?" tanyaku, gemetar.


"Iya ini aku, kamu kenapa di sini? kita ke tempat tidur yaa" ajak Greysie, aku mengangguk.


Greysie menyuruhku duduk menyender di tempat tidur, ia melihatku prihatin. Aku seperti orang yang memiliki penyakit mental karena terus gemetar dan melihat kesana kemari.


"Ra, ini aku Gr..." ucap Greysie, namun aku langsung menyelanya.


"Mana obat aku? Aku bakalan minum Grey, pliss jangan tinggalin aku lagi, aku takut banget" ujarku, gemetar menggigit tangan.


"Obat?" tanya Greysie, heran.


Sementara itu, aku tak menjawab dan hanya melihat kesana kemari sambil menggigit tangan.


"Oh may gat, keknya gua udah beneran keterlaluan sama Cara, dia sampai trauma kek gini. Aaaahh, siaaaal...." batin Greysie.


"Ra, amu tenang dulu yaa. Kamu gak perlu minum obat lagi, aku udah selesai, hm" ucap Greysie, tersenyum dan mengkode dengan alisnya.


Namun aku tak mengerti maksudnya, karena aku sudah kehilangan diriku sendiri.


"Kamu beneran Grey kan? Aku gak lagi mimpi kan? Kalau ini mimpi pliss bangunin aku, kalau ini nyata tolong aku, aku gak bisa bedain lagi mana mimpi dan nyata. Huhuuu tolong aku Grey... Kamu gak bakalan ngilang kan?," melihat tangannya, "Tangan kamu, huhuuu... Tangan kamu menghilang Grey...." ucapku, membulatkan mata dan gemetar dengan tangisan.


Sementara itu, Greysie merasa terheran-heran akan tingkahku ini, ia merasa sangat bersalah atas apa yang telah ia lalukan padaku.


"Grey... Grey jangan tinggalin aku. Jangan tinggalin aku huhuuu.... Aku gak mau sendiri, aku takut banget Grey, aku takuutt..." ujarku memegang kepala, menggelengkan kepala dan memukul kepala.


"Ra ini aku heyy. Aku di sini, ini nyata, ini aku Grey, maafin aku Ra, aku udah keterlaluan, maafin aku" pinta Greysie memohon maaf, namun aku malah terus menutup telinga.


Greysie berusaha untuk menenangkan aku sampai aku tertidur kembali. Ia pun segera menelpon Aric untuk datang memeriksa keadaanku. Ia juga mengabarkan Rasya.


Beberapa jam kemudian, Aric dan Rasya datang setelah mendengar apa yang di katakan Greysie pada mereka. Setelah sampai di dalam kamar, Aric langsung memeriksa keadaanku.


"Maksud kamu gimana Grey? Kamu nyuruh Lista untuk minum obat tidur selama seminggu? Untuk apa Grey?" tanya Rasya, keheranan.


"Ct,ct....," Aric menggelengkan kepala saat memeriksaku.


"Callista kelihatan trauma banget, kemungkinan ini berhubungan dengan sesuatu yang di simpan Callista dalam-dalam, tapi sesuatu itu meledak dan nyerang dirinya sendiri sampai kek gini" ujar Aric, memberitahu.


"Grey, Kamu udah keterlaluan!" ucap Rasya, marah.


"Iya, ak, aku tau... Maafin aku" jawab Greysie gemetar.


"Aku minta maaf, Grey. Tapi aku setuju dengan Rasya, kamu udah keterlaluan banget sampai buat Callista gak bisa lagi bedain antara dunia nyata dan mimpi. Dia begitu karena kamu terus maksa dia untuk tidur, dan di saat dia bangun, di mana kamu sebelumnya terus nyuruh dia untuk melakukan hal yang sama sebelum tidur. Hal itu pasti membuat Callista menjadi sulit untuk membedakan keduanya. Callista menjadi bingung apakah saat dia bangun semua itu adalah nyata? Atau mungkin dia masih di dalam mimpi yang sama" sambung Aric.


Sementara itu Gerysie hanya menangis kecil sampai terseduh-seduh.


"Kamu ngapain sampai segitunya banget untuk buat Lista Grey?" tanya Rasya, heran.


"Aku cuman mau nyelesaiin semuanya sendiri" jawab Greysie, gemetar dengan isak tangis.


"Maksud kamu?" tanya Rasya, penasaran.


"Emm, maksud aku... akuu, aku gak mau Cara sampai banyak pikiran, jadi aku... Mau nyelesaiin kasus papa aku juga" jelas Greysie, terbata-bata.


"Iya, Grey. Niat kamu emang baik, tapi coba kamu lihat Callista sekarang, dia kek gini karena ulah kamu sendiri" sambung Aric, marah pada Greysie.


Sedangkan Greysie hanya bisa menangis sambil menatapku. Beberapa saat kemudian, setelah Aric dan Rasya berpamitan pada Greysie.


Greysie kembali ke kamar, ia duduk dan mentapku dengan perasaan bersalah. Bibirnya gemetar sedang air matanya tak henti menetes.


"Maafin aku... Pliss maafin aku..." ucap Greysie, dengan isak tangis.

__ADS_1


"Setelah ini, aku bahkan akan lebih jahat dari ini. Huhuuu... Maafin aku, maafin aku...." ujar Greysie, menangis pilu.


Bersambung...


__ADS_2