Ilusi

Ilusi
BAB 30 (Part 3)


__ADS_3

Di rumah sakit, Greysie masih belum sadar. Pikiranku menjadi sangat kacau saat melihat keadaan Greysie.


"Tenang, Ra. Tenang, saat itu lo ke rumah Riska and nginep di rumahnya. Terus, teruss... Subuhnya gua udah balik ke rumah gua dan berangkat ke sekolah. Di sekolah Grey gak ada ane gua nyusul ke rumahnya. Em, terusss di sana udah ada polisi, polisiiiii. Grey harus terlibat dengan polisi, polisi, polisii," mendongak, "oh my god! Jangan-jangan?," melirik Greysie, "ni anak ceroboh banget. Ngapain sih nyinh, udah berkali-kali di bilangin. Ahh, sialan! Kenapa juga polisi harus terlibat!" batinku terus meronta.


Rasanya aku akan berteriak saja. Namun aku hanya terus mengepalkan tangan, menggoyangkan kaki dan berusaha untuk meredahkan emosiku.


Kemudian, aku duduk di sofia. Beberapa menit berlalu, aku tak sadar jika mataku terus saja terpejam, aku pun tertidur.


********


Sementara itu, di rumah keluarga Milstone. Cassie bersama dengan pacarnya Bryan. Cassie terus saja menangisi kedua orang tuanya.


"Babe, Ayah sama mama udah di tahan polisi. Huhuuu, aku gak mau mereka di tahan. Kamu bantuin Mama sama Ayah, babe" pinta Cassie, memohon dengan tangisan.


"Iya, babe. Aku akan berusaha untuk bantu Ayah sama Mama kamu, kamu tenang aja. Papa sama Mama aku bakalan bantu kita" ujar Bryan, memegang pipi Cassie.


"Polisi kenapa sampai tau, babe? Selama ini pekerjaan Ayah selalu bersih. Tapi kenapa polisi sampai tau?" tanya Cassie, masih dengan isak tangis.


"Aku juga gak tau bagaimana cara Rasya mendapat bukti itu, aku bakal cari cara untuk bebasin orang tua kamu. Keknya kita harus cari kambing hitam untuk ini, tapi semuanya bakalan sulit banget" jelas Bryan.


"Tapi, kamu tenang aja, aku bakalan cari cara buat bebasin orang tua kamu, hm?" lanjut Bryan berkata sambil mengusap air mata Cassie.


Sementara itu, di kantor perusahaan luar negeri milik Ayah Greysie. Anak buahnya datang untuk memberikan informasi pada Ayah Greysie terkait situasi yang tengah terjadi di Indonesia, di mana rumahnya menjadi tempat penyelidikan polisi untuk kasus pembunuh berantai.


Ayah Greysie nampak sangat marah setelah mendengar laporan tentang Greysie yang terlibat dengan polisi. Ia pun membanting barang dan segera menelpon seseorang.


*Di rumah, sakit.


Aku terbangun karena bermimpi tentang pertemuan pertama kali antara aku dan Greysie.


Greysie masih belum sadar, sedangkan aku segera memutar berita di hp, dan mendengarnya menggunakan headsed.


Saat sedang serius mendengar berita, tiba-tiba handphonku bergetar. Seseorang dengan nama tak asing menelponku, aku pun menjawab telpon.


"Halo, om" sapaku, menaruh telpon di telinga.


"Kamu lagi sama Grey gak?!" tanya Ayah Greysie, emosi.


"I-iya, om" jawabku, pelan gemetar.


"Om mau bicara sama dia. Sambungin ke dia" perintah Ayah Greysie.


"Em, tap-pi om. Grey lagi gak bisa nerima telpon sekarang. Dia lagi sakit, om" jelasku, takut.


"Emang dia sakit apalagi? Saya sudah bilangin berkali-kali jangan mencari masalah! Ini apa?! Kenapa Greysie terlibat dalam masalah seperti ini? Kamu gak bilangin dia juga?!" tanya Ayah Greysie, emosi.


"Mm-maaf, om. Aku juga gak tau, ini tiba-tiba banget" jawabku, takut.


"Punya anak cuman nyusahin aja. Kalau dia bangun suruh telpon saya cepat!" perintah Ayah Greysie.


"I-iya, om" jawabku, gemetar.


Selesai menelpon tanganku gemetar, rasa takut menyeliputiku. Aku teringat kejadian di setiap ayahku marah dan membentak ibuku.


Kemudian, aku melihat Greysie dan meneteskan air mata, lalu tanganku menggenggam erat handphone di tangaku, sedang mulutku ikut gemetar.


"Maafin, aku Grey. Maafin aku" batinku.


"Aku janji bakalan bebasin kamu dari ayah kamu, aku juga janji gak bakalan jalanin rencana aku sebelum aku bisa bebasin kamu dari ayah kamu" lanjut batinku.


Sementara itu, Greysie mulai menggerakan jarinya dan ia perlahan membuka matanya.


"Grey, kamu gak pp? Yang mananya sakit?" tanyaku, cemas.


"Hn, berapa lama aku pingsan?" tanya Greysie, lirih.


"Dari kemarin, kamu gak pp?" tanyaku lagi.


"Hp aku mana, Ra?" tanya Greysie panik.


Greysie tau bahwa informasi tentang kejadian ini pasti sudah sampai pada Ayahnya. Aku sedih dan cemas, namun tak bisa berbuat apapun untuknya saat ini. Kemudian aku memberikan handphone miliknya padanya.


"H-halo, pah" ucap Greysie, gemetar.


"Udah pura-pura sakitnya?" tanya Ayah Greysie, dengan nada marah.


"Aku gak..." ujar Greysie tak selesai.


"Jangan ngebantah lagi kamu! Saya sudah bilangin berkali-kali jangan mencari masalah. Kenapa kamu terlibat dalam kasus seperti ini, hah?! Kenapa kamu sampai di panggil ke kantor polisi?! Bikin malu saya saja!" ujar Ayah Greysie, marah.


"Aku cuman..." ujar Greysie tak selesai.


"Diam kamu! Punya anak gak tau di untung! Sama aja kamu seperti Mama kamu yang gak tau di untung itu! Seharusnya kalian berdua jika tidak bisa membuat nama dan perusahaan saya makin terkenal, jangan malah membuat nama baik saya dan perusahaan saya tercemar! Ngerti gak?!" ujar Ayah Greysie, terus memarahi.


"Jawabb!!" bentak Ayah Greysie.


Greysie terkejut mendengar bentakan ayahnya, sedang mulutnya gemetar begitu juga dengan seluruh tubuhnya.


Sedangkan aku hanya bisa mengepalkan tangan, menatap prihatin pada Greysie.


"I-iya, pah. Mm-mafin Grey" pinta Greysie, memohon maaf sambil menahan tangis.


Ayah Greysie langsung mematikan telpon. Sementara tangan Greysie yang memegang telpon langsung terjatuh bersamaan dengan air mata pilunya.


Aku melihat Greysie, dia terdiam sangat lama. Tatapannya sangat kosong, jika aku menatap dalam pupil matanya, aku seakan masuk ke dalam pikirannya dan merasakan perasaan yang teramat sakit di dalam hatinya.


Namun aku tak bisa berbuat apapun untuknya, perasaan ini membuatku gila. Aku merasakan emosinya yang mengalir ke seluruh pembunuh darahku sampai menusuk hatiku, seakan aku menyerap energi kegelapan serta ketakutan yang berada jauh di dalam dirinya.


Napasku sedikit terengah karena terlalu merasakan dan ikut menyerap emosi Greysie sampai membuatku ikut gemetar ketakutan, dengan perasaan marah, benci dan sedih yang tercampur menjadi satu.


Greysie lalu mencabut infusnya dan beranjak dari tempat tidur sambil mengambil pisau di atas meja, langsung di arahkannya pada jantungnya.


Melihatnya, sontak membuat tanganku bergerak refleks untuk menghentikan dirinya.


"Grey, Grey," menahan tangannya, "Pliss, jangan. Jangan Grey" ujarku, memohon.


"Lo gak jangan ikut campur kali ini, ini bukan urusan lo!" bentak Greysie, berusaha melapas tanganku.


Aku menatap mata Greysie sangat dalam. Semua perasaan marah, benci, kecewa, takut, sedih dan sakit tercampur menjadi satu dalam tatapan matanya.


Kemudian, Greysie melepas paksa tanganku dan segera ingin menusuk jantungnya. Akan tetapi sebelum pisau itu menusuk dadanya, tanganku secara refleks bergerak menghalangi pisau itu menusuk. Aku memeluknya erat, sangat erat sambil meneteskan air mata.


"You die, i die" bisikku.


Greysie terus menusuk dan mencoba untuk tidak memedulikan tanganku, tetapi ia tak bisa melakukannya yang membuatnya harus mendorongku sambil berteriak kesal.


"Fuckk," mendorong, "fuckk you, Ra!" teriak Greysie.


Greysie melirik pisau yang menancap di tanganku. Darah terus mengalir yang mana membuat tetetasan-tetesan merah jatuh ke lantai.


"Why..?! Why, aaahh shitttt! Shiiiiitt!!" teriak Greysie, membanting barang.


"Kenapa?! Kenapa lo natap kek gitu?! Gua gak suka tatapan lo yang kek gituuu!! Itu tatapan yang paling gua benci dari semuanya!" teriak Greysie, emosi.


Aku hanya diam sambil menatap Greysie sama seperti tatapan saat aku melihatnya ingin melompat dari gedung 55 lantai sebulan lalu.


Kemudian, Greysie segera memegang tanganku sambil mencabut pisau. Sesekali dia menatapku, dan berusaha untuk tidak menangis.


Sedangkan aku hanya memberikan tatapan kosong. Perasasaan akibat terkena tusukan pun tak aku berikan, hal itulah yang membuatnya sangat marah.


"Lo..., aaahh. Shhh" ucap Greysie, tak tau lagi harus berkata apa.


Greysie merobek kain yang bisa di pakai untuk membalut tanganku. Setelah ia selesai membalut lukaku dengan kain, aku langsung melangkah dan memencet sebuah tombol agar dokter/suster datang.


Kamar nampak sangat berantakan, kami saling menatap, lalu aku segera menarik tangan Greysie dan memaksanya untuk duduk di tempat tidur.

__ADS_1


Dokter datang di saat aku masih memaksa Greysie untuk duduk. Dokter itu berasama dengan dua suster, aku pun langsung berkata.


"Dok, tolong obati pasien ini," melirik perut Greysie, "lukanya kebuka" ujarku.


"Dia juga melepas infus, tolong di pasang kembali" pintaku.


Dokter dan kedua suster itu memasang wajah heran dan kebingungan saat melihat kamar rumah sakit yang berantakan.


"Baik, dek" ucap dokter berkacamata tsb.


Dokter dan salah satu suster segera menjahit kembali luka Greysie karena sebelumnya saat aku berusaha untuk menghentikan Greysie, kami terlibat dalam adu antara ketahanan dan kekuatan. Suster yang lainnya juga segera membersihkan kamar tsb.


"Nanti obati juga luka orang itu" perintah Greysie, melirik aku.


Mendengar Greysie membuat dokter menghela napas pelan, dia sangat bingung dengan situasi ketegangan antara kami apalagi di tambah dengan kondisi ruangan yang berantakan.


"Hm, baiklah ini sudah selesai. Dek Greysie jangan banyak bergerak dulu ya" ujar dokter, lalu ia melihatku.


"Dek... Emm, Callista?" tanya dokter, pelan.


"Ya, obati di sini saja" jawabku, duduk di sofa.


Dokter itu segera menjahit luka di tanganku, ia juga sesekali melirik aku dan menatap penuh tanya.


"Ok, sudah selesai. Dek Callista lukanya jangan sampai kena air dulu ya" jelas dokter, sambil berdiri dan aku pun mengangguk.


"Baik, kalau begitu kami permisi dulu" pamit dokter beranjak pergi.


"Makasih, dok" ucapku, ikut berdiri.


Dokter dan suster pun keluar ruangan. Wajah mereka nampak kebingungan.


"Ada apa dengan anak-anak itu" guman dokter, sambil menggelengkan kepala.


Di dalam ruangan.


Aku dan Greysie masih sama-sama diam. Ketegangan di antara kami masih terasa, aku menatap datar sementara Greysie tak mau melihatku.


"Lo mau gua bunuh seseorang buat elo?" tanyaku.


Mendengar perkataanku, membuat Greysie melirik aku. Ia menatap marah dan tak menjawab sama sekali.


"Heyy" panggilku, kesal.


"Lo mau ngancurin hidup lo demi gua?" jawab Greysie sama kesalnya.


"Jawab aja pertanyaan gua jangan balik nanya" ujarku, meninggikan nada suaraku.


"Iya, terserah lo," menutup telinga, "gua gak peduli lagi" jelas Greysie, membalikan badannya, tak ingin melihatku.


Setelah berbalik badan, bibir Greysie perlahan bergerak, membuat ia tersenyum kecil.


"Cara udah izinin? Berarti dia bakal ngelakuin itu sendiri sampai dia nanya gitu?" batin Greysie, rasa senang menggebu di dalam hatinya.


Malamnya, pada pukul 01:03 tengah malam. Greysie sedang tidur dan aku meninggalkannya untuk mengurus sesuatu di rumahku.


Di dalam rumahku (ruangan rahasia). Aku sedang fokus melihat komputer, tepatnya melihat cctv keluarga Milstone.


Di dalam rekaman cctv itu terlihat Greysie sedang berjalan sempoyongan sambil memegang perutnya, hal itu membuatku mengepalkan tangan.


Aku segera membuat rencana untuk menghapus video dan memasang virus pada komputer atau handphone yang mencoba untuk mengembalikan video rekaman cctv tersebut.


Setelah itu, aku segera pergi untuk menjalankan rencanaku. Sesampainya di rumah keluarga Milstone, di sana terlihat nampak sunyi.


Tak ada siapapun kecuali Art yang sedang tidur, alasannya karena Cassie berada di rumah Bryan, dan semua anak buah keluarga Milstone juga telah di penjara dengan tuduhan membantu pembunuhan dan menyembunyikan bukti.


Hal tersebeut membuatku merasa sangat senang karena akan menjadi mudah bagiku untuk menyelinap masuk ke dalam rumah mereka.


Sudah berapa lama aku terus mencari ruang kontrol cctv di rumah mereka tetapi tak bisa aku temukan, sehingga aku memutuskan untuk memasang virus pada semua komputer di rumah keluarga Misltone.


"Apa jangan-jangan mereka juga punya ruangan rahasia?" batinku, sambil aku mencabut flashdisk dari sebuah komputer.


Kemudian, aku segera mencari ruangan rahasia tetapi tak bisa menemukannya, meskipun aku sudah meraba dinding dan memeriksa semua tempat di rumah besar ini.


"Ckk! Keknya gak ada," gumanku sambil melirik semua cctv di atas.


Cctv tak merekamku karena sebelumnya aku telah mematikannya.


Setelah itu, aku segera keluar dari rumah keluarga Milstone, dan menyalakan motorku. Akan tetapi ternyata di luar telah ada anak buah Bryan yang sudah mengawasiku.


Mereka bersembunyi saat aku keluar. Kemudian aku menaiki motor, dan segera menyalakannya.


"Ckk! Siall," melirik sekitar, "apa ada orang yang lihat gua masuk?" batinku.


Aku segera menarik gas motorku, dan melaju. Masker yang aku gunakan juga belum kulepas.


Aku sengaja tak pulang ke rumahku atau ke rumah sakit untuk memancing anak buah Bryan untuk mengikutiku ke tempat yang sunyi.


Di jalanan sunyi, motorku berhenti, begitu juga dengan dua mobil hitam di belakang.


Anak buah Bryan segera keluar dari mobil mereka dengan membawa peralatan seperti pemukul besi, pisau dan pistol.


Kemudian, aku hanya mengangkat kedua tanganku, tanda ingin menyerah karena semua pistol mengarah padaku.


Di saat mereka mendekatiku untuk mengikatku, aku segera memukul mereka. Dan terjadilah perkelahian serta tembak-menembak.


Aku sedikit kuwalahan saat melawan mereka karena jumlah mereka sekitar 14 orang, bahkan mereka juga terlatih dalam ilmu bela diri.


Salah satu dari mereka berhasil memukul wajahku dan menendang aku sampai membuatku sedikit berjalan mundur.


"Aaahh, sial" batinku, sedang tanganku ingin mengelap darah di bibirku. Ternyata aku menggunakan masker, jadi tak bisa.


Kemudian, aku segera membalas memukul kembali sampai mereka semua tergeletak lemah di jalanan.


Setelah itu, aku segera pergi meninggalkan mereka dan melaju dengan motorku.


Sementara semua anak buah Bryan mereka segera kembali dengan perasaan takut.


Tiba di rumah Bryan, mereka segera melapor pada Bryan. Di sana juga ada Cassie yang sedang duduk manis.


"Mohon maaf, pak. Dia sangat kuat dan lincah, kami tidak bisa menebak pergerakannya" ujar pemimpin Bodyguard.


Plakk......!


Tamparan melayang, Bryan menampar keras wajah pemimpin Bodyguard tersebut.


"Masa kalian semua kalah dengan satu orang saja! Dasar tidak berguna kalian!" bentak Bryan, memarahi.


"Mm-maaf, pak" ujar mereka serempak.


"Sekarang jelaskan bagimana ciri-cirinya" tanya Bryan, masih emosi.


"Dia memakai jaket hitam, semua pakaian yang dia kenakan berwana hitam. Dan saat berkelahi dengan kami dia memakai masker sedangkan seluruh area kepalanya tertutup dengan tudung jaket sehingga kami tidak bisa melihat wajah atau rambutnya, pak" jelas bos Bodyguard.


"Hanya itu yang kalian tau?!" tanya Bryan, emosi.


"Tingginya sekitar 160-an cm, pak" jawab bos Bodyguard segera dengan wajah takut.


"Dia juga memakai motor, pak" lanjutnya.


"160-an cm? Apa dia cewek?! Bentuk badannya bagaimana? Apa kalian tau dia cowok atau cewek?" tanya Bryan, masih emosi.


"Ss-sepertinya dia ce-wek, pak" jawab bos Bodyguart, ragu-ragu.


"Apahh?!" ucap Bryan, membentak.

__ADS_1


"Kalian kalah dengan cewek?! Satu cewek?! Dasar tidak berguana kalian semua!" ujar Bryan, segera menendang dan memukuli semua Bodyguardnya.


Setelah puas meluapkan emosinya pada anak buahnya, Bryan lalu menyuruh salah satu Bodyguard untuk mengambil penyimpanan kamera dashbor dari mobil mereka, ia ingin melihat sendiri bentuk badanku.


Beberapa saat kemudian, anak buah Bryan membawakan laptop dan memori penyimpanan kamera dashbor mobil.


Mereka lalu memutar rekaman saat sedang mengejarku sampai berkelahi denganku. Cassie yang juga ikut menonton terlihat fokus dengan motorku.


"Babe, aku tau ini motor siapa" ujar Cassie, tiba-tiba, menunjuk motor. Matanya membulat.


"Siapa, babe?" tanya Bryan.


"Ini motor Cara. Iya, ini motor dia. Tingginya juga sama kek tinggi si Cara itu" jawab Cassie.


"Cara yang kamu benci itu?" tanya Bryan.


"Iya, babe. Dia orangnya yang sok-sok an kek pahlawan itu" jelas Cassie.


"Kamu yakin ini motornya?" tanya Bryan, memastikan.


"Iya, aku yakin babe. Dia pernah makai motor ini ke sekolah dua tahun yang lalu. Tapi, sekarang dia udah gak pernah makai motor ini lagi ke sekolah. Fuckk, jadi dia yang udah buat orang tua aku di penjara?" ujar Cassie, mulai emosi.


"Hm, kalau bener iya. Dia pasti punya alasan kenapa dia sampai masuk ke dalam rumah kamu. Kamu tenang aja, aku bakalan cari tau tentang dia dan keluarganya" ujar Bryan, berusaha menenangkan pacarnya.


********


Di rumah sakit. Aku baru saja sampai, dan memarkirkan motorku, motor yang berbeda. Sebelumnya, aku pergi ke rumahku untuk menggantinya.


Sementara itu, di dalam kamar, Greysie sedang duduk sambil bersilang tangan.


Dari tadi ia terbangun dan melihat aku tak ada, ia juga terus menelponku. Namun ternyata handphoneku tertinggal di rumah saat aku sedang menghapus rekaman cctv, dengan menghack cctv rumah Cassie.


Pintu perlahan terbuka, dan aku langsung melihat wajah masam Greysie. Setelah aku membuka pintu dan melihat wajah Greysie, aku segera ingin keluar lagi, tak ingin ia melihat wajahku.


"Berhenti! Mau kemana lagi lo" tanya Greysie.


Langkah kakiku terhenti, sementara aku segera memasang masker di wajahku. Lalu aku segera menghampirinya.


Greysie mendongak untuk melihatku, ia menatapku dengan wajah datar.


"Buka!" perintah Greysie.


Aku hanya diam menatapnya, tentu saja aku tidak ingin membuka masker di wajahku.


"Gua bilang bukaa!" ujar Greysie, memerintah.


Aku dengan terpaksa harus membuka masker di wajahku. Setelah terbuka, terlihat lebam di wajahku, sedangkan bibirku pecah dan ada bekas darah di sana.


Greysie menelusuri wajahku dengan wajah datar, sementara tangannya yang bersilang bergerak meraih tangan kananku.


Perban berwarna putih di tangan kananku telah berubah menjadi warna merah, akibat perkelahian sebelumnya yang membuat lukaku mengeluarkan darah.


"Dari mana lo, Ra?" tanya Greysie.


Aku kemudian duduk di sebuah kursi, dekat tempat tidurnya.


"Em, ngurus sesuatu" jawabku.


"Yang jelas kalau ngomong. Sesuatu apa maksud elo" tanya Greysie, kesal.


"Cara gak lakuin itu sekarang kan? Soalnya tadi dia ngomong mau bunuh seseorang demi gua" batin Greysie.


"Aku tadi ke rumahku untuk meriksa keluarga Milstone. Terus pas balik ke sini, ada orang yang nyerang aku" jelasku.


"Nyerang? Tapi siapa? Keluarga Milstone? atau keluarga Walker? Atau jangan-jangan papah? Ckk! Aku mau nanya soal papa, tapi nanti Cara malah marah lagi. Lebih baik aku iyain aja untuk saat ini" batin Greysie.


"Kamu tau mereka siapa?" tanya Greysie, sedang aku menggeleng untuk berkata tidak.


"Yaudah, kalau gitu tangan dan muka kamu perlu di obatin. Panggil suster sekarang" perintah Greysie.


"Tumben" batinku, aku pun berdiri dan memencet sebuah tombol.


Suster datang, lalu aku memintanya untuk mengobati luka di tanganku.


"Muka dia juga di obatin sus, lebam semua" ujar Greysie.


Suster memasang mimik wajah bingung dan tanda tanya, dari kemarin ia marasa heran dengan kelakuan kami.


Beberapa saat kemudian, suster telah selesai. Ia pun pamit pergi.


Besoknya, aku sedang tidur dan bermemipi tentang bayangan hitam yang menghantuiku. Greysie yang melihatku berkeringat dingin dan terus merintih terus berusaha untuk membangunkan aku sampai harus membuatnya berteriak (Bab 2, Part 3).


Setelah aku terbangun, aku langsung pergi ke toilet. Di dalam toilet aku terus saja menatap wajahku sendiri.


Sementara itu, di dalam kamar rumah sakit. Greysie kebingungan. Ia pun berusaha untuk beranjak dari tempat tidurnya. Akan tetapi sebelum kakinya menyentuh lantai, pintu perlahan terbuka.


"Hey, mau ngapain?" tanyaku, menghampiri.


"Dari mana, Ra?" tanya Greysie.


"Ke toilet bentar" jawabku sambil mengatur tempat tidurnya, dan menyuruhnya duduk menyandar.


"Tadi kenapa? Kamu sakit?" tanya Greysie.


"Mm, gak. Gak pp" jawabku.


"Gak pp gimana, tadi kok bangun-bangun langsung pergi. Aku tadi lihat loh kamu tidur terus merintih, kek gak biasanya" ujar Greysie.


"Aku gak tau Grey, tadi itu cuman mimpi. Jadi aku kaget aja" jelasku.


"Ckk!! Sialan!" batin Greysie.


"Cara kamu kenapa sih, jadi orang susah banget untuk di tebak. Jangan terlalu gitu napa. Aku jadi ngerasa gak kenal sama kamu, apalagi aku yang orangnya emang gak peka-an gini" lanjut Greysie, membatin sendiri.


"Ra, mau nanya sesuatu" tanya Greysie, tiba-tiba.


"Kemarin gak serius kan? Soal..." tanya Greysie.


"Paan?" tanyaku, melihatnya.


"You want to kill...? Emm, someone? Maybe?" tanya Greysie.


"Grey" panggilku, pelan.


"Hm, hah?" ucap Greysie.


"Bisa bedain gak kapan aku ngomongnya serius dan bercanda?" tanyaku.


"Ya gak bisalah. Orang elo aja gak pernah terbuka sama gua. Ini si Cara beneran ya? Apa ini soal janjinya waktu itu? Apa Gua tanya aja sama dia? Tapi gua takut dia marah, sebelumnya dia udah bilang supaya jangan pernah ngomong soal itu lagi karena dia udah janji sama gua. Tapi.. Ini soal janji dia waktu itu, kan?" batin Greysie.


"Mm, i think... Emm, yeaah. I mean yeaah" jawab Greysie.


"Well, you got the answer" ujarku, tersenyum.


"Tau gak, Ra" ucap Greysie, menatapku.


"Kadang tu aku gak tau apa yang ada di pikiran kamu. Sometimes i feel like... Susah banget buat nebak, aku gak tau kenapa maybe cuman perasaan aku doang atau gimana, aku ngarasa kek aku gak tau apa-apa tentang kamu. Like.. Aku tau kamu gini dan gitu, tapi kek... Aku rasa itu bukan sepenuhnya kamu, kek masih ada sebagian dari diri kamu yang aku gak tau. Kadang aku juga mikir kamu hanya nunjukin apa yang ingin kamu tunjukin aja. Like... You have a lot of secrets?" jelas Greysie, bertanya.


"Hm, what should i answer it?" jawabku, bertanya.


"Hnh" celetuk Greysie, kesal.


"Mm, Grey. You know me, i never change. Me always me, just believe me. You are my best friend and i love you" ungkapku.


"Ckk! Gak pernah mau cerita. Gua sahabat elo woyyy! Kita udah lakuin semuanya, udah sama-sama jadi orang jahat juga Raaa. Dan elo udah tau semua tentang gua. Seenggaknya lo juga harus kasih tau gua tentang elo" batin Greysie, wajahnya memalas.

__ADS_1


"Hm, keknya Grey marah lagi" batinku, menatapnya.


Bersambung...


__ADS_2