Ilusi

Ilusi
BAB 22 (Part 1)


__ADS_3

Besoknya. Adik Rasya, yaitu Anneke Angeline baru selelesai melakukan pelatihan militer di sekolah khusus Akademi Militer. Kini ia tengah dalam masa libur selama tiga minggu.


Sebelumnya ia bersama teamnya berhasil melewati ujian Pra pelatihan misi khusus jika mereka telah resmi menjadi seorang abdi Negara nantinya.


Anneke Angeline sebagai Kapten dalam team yang di beri julukan White Wolf karena tak pernah gagal dalam misi/ujian pelatihannya.


Rasya sedang menunggu adik tercintanya di sebuah Bandara, di jakarta. Ia memakai celana loreng untuk menghormati adiknya, tak lupa juga memakai kacamata hitam karena sinar matahari sebelumnya sangat silau. Hal itu karena ia menggunakan mobil dengan tipe yang bisa membuka atapnya.


"Kakak di mana?" tanya Angeline, matanya melirik kesana kemari.


"Kakak ada di...," melihat Angeline, "Angeline.." teriak Rasya melambai.


"Kakak, haiiii..." sapa Angeline dengan mimik senang kegembiraan sambil melambai.


"Haii dekk" ujar Rasya masih melambai dan segera menghampiri Angeline.


Mereka berdua akhirnya berpelukan bahagia di antara kerumunan orang-orang di dalam bandara.


"Aku kengen banget sama kakak" ucap Angeline haru, memeluk erat.


"Kakak juga kangen banget sama adek" balas Rasya, tersenyum tulus.


********


Beberapa jam sebelumnya. Saat malam pembunuhan anak Presiden.


"Ayo Grey. Aku udah ngantuk, pengen tidur" ucapku santai dan beranjak pergi.


"Baru jam 02:03, Ra," melihat jam tangan, "dah ngantuk?" tanya Greysie, berjalan berdampingan.


"Aku kan gak biasa tidur siang, Grey" jawabku, santai.


Di dalam mobil.


"Grey" panggilku, pelan.


"Hm?" tanya Greysie, menengok.


"Kita.. Kita gak boleh lemah ya Grey, aku gak mau jadi orang yang lemah" ujarku sambil mengingat saat-saat diriku sedang down berat.


Seperti saat aku sedang mandi hujan semalaman, berdiam diri di dalam kamar mandi membiarkan air menyala semalaman untuk membasahi sekujur tubuh, menangis tiap malam, bahkan ada pemikiran ingin melompat dari atas gedung, dan lain halnya.


Mendengar perkataanku Greysie seketika menghentikan mobilnya. Ia merasa malu dan kecewa pada dirinya sendiri.


Isak tangis mulai terdengar dari mulutnya, ia menunduk di setiran mobil miliknya.


"Maafin, aku.." ucap Greysie, lirih.

__ADS_1


"Grey?" ucapku, memanggil sambil mengusap rambutnya.


"Aku gak ngomongin kam.. Emm, i mean.. kamu sama sekali gak lemah Grey" kataku, berusaha menenangkan dirinya.


"Malah aku yang paling lemah Grey" lanjut, batinku.


Lama Greysie tak mengeluarkan sepatah katapun. Kemudian ia bangun dari senderan dan menatapku dengan mimik memohon.


"Raa, pliss... Biarin aku, aku mau Papa.." ucap Greysie tak selesai.


"Gak!" bentakku, langsung beralih pandang, tak ingin melihatnya.


"Tapi, Ra..." ucap Greysie tak selesai.


"Aku bilang Gak mau! Gak! Kalau aku bilang gak ya gak, ngerti?!" jelasku, membentak dengan nada emosi.


Sementara tanganku langsung membuka pintu mobil. Aku ingin pergi namun Greysie dengan ceketan meraih tangan kananku, ia manahanku agar tak pergi.


"Lepas gak?!" ancamku, memelototinya.


"Okey, i'm sorry Ra. Aku gak bakalan bahas soal ini lagi. Okey?" tanya Greysie, mengkode dengan raut wajah penuh harap.


Aku menatapnya dengan mimik wajah kesal serta tatapan marah, lalu aku menutup pintu mobil dan kembali duduk seperti posisi semula, sementara tanganku juga melepas genggaman tangan Greysie dariku.


Greysie menatapku, ia lalu segera menyalan mobil miliknya. Kami pun berangkat.


Sementara Greysie sesekali melihatku dan menghela napas. Kemudian ia banting stir dan segera mengantarkan aku pulang ke rumahku.


Tiba di rumahku.


Aku segera turun dari mobil diikuti Greysie dari belakang sampai kami berada di dalam kamarku.


Dari tadi kami hanya diam di dalam mobil. Greysie tak berani menegur karena aku memasang wajah yang tak enak jika di pandang.


Di dalam kamar.


Aku melepaskan jubah, kaus tangan, dan sepatu milikku, lalu melempar semuanya. Aku melakukan hal itu hanya jika sedang marah.


Greysie hanya bisa diam. Kemudian ia segera mengambil semua barang-barang yang aku buang lalu menyimpannya. Sementara aku langsung berbaring di tempat tidur, tentu saja dengan headsed di telingaku.


Beberapa menit setelah Greysie juga melepas semua pakaian pembunuh berantainya, ia masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Greysie tak henti-henti melihat wajahnya sendiri dengan tatapan dingin di depan cermin.


"Kenapa Cara selama ini selalu menghindar kalau aku bahas soal itu? Apa jangan-jangan semua ini berhubungan sama omongan Cara pas dia mabuk tahun lalu? Apa bener Cara udah bunuh Ayahnya sendiri? Tapi.. Bukannya keluarga Milstone dan Walker yang udah.. " batin Greysie, ia terus berpikir.


"Tapi.. Cara juga gak pernah bilang kalau keluarga Milstone dan Walker yang udah bunuh keluarganya. Aku juga cuman tau dari internet kalau keluarga Cara di bunuh oleh pembunuh berantai sebelumnya. Cara juga gak pernah bilang siapa yang udah bunuh keluarganya. Dia selalu ngehindar kalau aku tanya. Gimana aku bisa tau kalau Cara terus-terusan kek gitu, apa jangan-jangan omongan Cara pas mabuk itu bener?" batin Greysie tak henti bertanya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian. Greysie keluar dari kamar mandi. Ia langsung melihatku dengan mimik wajah penuh tanya sambil tangannya bersilang. Ia lalu membuka kaus kaki miliku dan menyimpanya, sementara aku sudah tertidur pulas dengan suara headsed yang bisa di dengar oleh telinga Greysie.


"Ra, telinga kamu bisa rusak kalau tiep dengerin musik vollumenya kek gini terus" ucap Greysie pelan sambil mematikan musik, lalu mencabut headsed dari telingaku.


Greysie lalu berdiri, ia ingin mengambil gunting dari dalam laci untuk menggunting headsedku.


"Berapa kali aku harus gunting headsed ini pasti selalu di beli lagi. Cara ngapain sihh pakai headsed mulu sampai vollumenya full terus. Kalau telinganya rusak gimana" batin Greysie sambil tangannya memotong headsed tsb.


Besoknya pada pukul 08:21 pagi. Aku terbangun karena bermimpi tentang keluargaku. Ayahku, Bunda dan adikku menatap kecewa padaku.


"Kenapa kamu bunuh ayah Cara?!" tanya Ayahku.


Tanya ayahku sementara tangannya mengayunkan pisau padaku yang sedang tertidur tersebut. Aku pikir tadinya aku telah bangun namun ternyata aku masih bermimpi dan melihat ayahku berada di hadapanku sambil memegang pisau untuk membunuhku.


"Haaaa, huh, huh, huh~" bangun, menarik napas, terengah-engah.


Aku melirik ke samping. Greysie masih tertidur pulas. Hari ini adalah hari libur, jadi kami tidak bersekolah.


Perlahan aku beranjak turun dari tempat tidur agar tak membangunkan dirinya. Kakiku terus melangkah sampai aku berada di dekat kolam renang dalam rumahku.


Kepalaku sedari tadi sangat berisik. Aku melihat dunia seperti sedang memarahiku, hal itu membuat aku seperti akan kehilangan kendali terhadap diriku sendiri.


Ra, pliss, biarin aku, aku mau papa. Kenapa kamu bunuh Ayah Cara?! Bunda kecewa sama kamu, kecewa, kecewa, kecewa, kecawa. Iya aku juga kecewa sama kakak, aku benci kakak, aku benci, benci, benci. Ra.. Biarin aku, aku mau papa, biarin aku, plisss. Kenapa Cara?! Bunda kecewa. Kenapa kamu lakuin hal itu?! Aku benci kalian, bukan kalian yang harusnya benci, tapi aku. Aku juga benci sama diri aku. Hahahaha. Bunuh ayahmu juga, bunuh, bunuh, bunuh. Kenapa? kenapa? Dia tak ingin hidup lagi. Ayohlah, darahmu pasti bergejolak saat ini. Hahahaha. Hahaha. Aku benci kakak. Bunda juga benci kakak. Ayah juga benci kamu. Hahahaha ayahmu merenggut segalanya darimu. Hahaha.


Suara bisikan-bisikan itu terus berulang, saling sahut-menyahut dan menggema di dalam kepalaku. Napasku terengah, aku merasa diriku sedang menghilang sekarang. Sedangkan kakiku terus melangkah sampai aku berdiri di tepi kolam, lalu aku mompat.


Setelah melompat ke dalam molam. Aku tak lagi mendengar suara-suara itu, hanya kesunyian yang aku rasakan. Lalu aku melengkung untuk memeluk diriku sendiri.


Beberapa menit di dalam kolam tersebut, aku tak menyangka bahwa aku juga telah pingsan. Aku mengira kalau aku masih sadar karena bagiku dunia nampak sama.


Beberapa saat kemudian. Seseorang melompat ke dalam kolam renang, ia lalu menarik tanganku ke atas. Dia adalah Greysie.


Greysie berusaha membawaku ke atas kolam. Kolam tersebut lumayan dalam sehingga kaki kami tak sampai di lantai bawahnya.


Sekuat tenaga Greysie berusaha menaikan aku ke tepi kolam karena air kolam membuat Greysie merasa berat untuk mengangkatku.


Setelah berususaha sekuat tenaga, akhirnya Greysie bisa juga mengangkatku ke atas. Ia lalu naik ke tepi kolam dan langsung menekan bagian dadaku untuk mengeluarkan air yang telah masuk ke dalam.


"C' mon Ra. Raa, bangun, bangunn" ucap Greysie gemetar dengan napas terengah.


"Raa, ayoo. Kamu kenapa gini? Kenapa Ra?" ujar Greysie terus menekan bagian dadaku.


Greysie terus menekan dadaku, sesekali ia juga memeriksa pernapasan dan detak jantungku. Namun aku tak juga bangun ataupun memuntahkan air dari mulutku.


"Raaa.. Hu, uhuk, uhuk. Raa, bangunn, uhuk" ucap Greyie terbatuk-batuk dengan napas terengah.


Kepala Greysie menjadi sangat pusing, ia juga hampir kehabisan napas saat berusaha untuk menolongku dengan cara melakukan CPR terus-menerus.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2