
"Angeline, Salsa" batin Vyora.
Vyora menatap langit yang penuh dengan bintang indah, sedang matanya sesekali terpejam.
Sementara semua anak buah keluarga Milstone segera bangun dan mengangkat Vyora ke mobil mereka.
"Dia belum mati, cepat kita bawa ke sana sebelum nyonya marah besar" ucap salah seorang rekan mereka yang telah bangun dengan badan yang masih lunglai.
********
Sesampainya di rumah keluarga Milstone. Mereka langsung mengikat Vyora ke satu pohon di sana.
Sementara Cassie dan Ibunya sedang duduk dengan wajah puas. Mereka tersenyum bahagia bukan main, layaknya seorang psikopat, iblis, dan setan.
Kemudian, Cassie menghampiri Vyora dan berbisik padanya.
"Ini balasan karena udah nampar gue tadi" bisik Cassie, lalu tersenyum.
Tangan Cassie meminta sebuah benda. Sementara anak buah mereka yang mengerti segera memberikan pemukul besi. Lalu Cassie memukul kepala Vyora sampai berdarah. Namun Vyora masih hidup dan bernapas lemah.
"Masih hidup? Hebat juga lo, jadi ini yang lo maksud kuat itu? Hahahaha, gak ada gunanya kalau bentar lagi lo bakalan mati" ejek Cassie.
"Mah, aku ke kamar dulu. And.. Bentar lagi Bryan bakalan dateng, aku mau keluar sama dia" ucap Cassie, sementara ia berjalan pergi.
"Hm, okay sayang" balas Ibu Cassie, tersenyum.
Vyora nampak berada di ujung hayatnya. Sedari tadi dia menarik napas lemah. Sedangkan handphone yang berada di kantung celananya terus bergetar.
Ibu Cassie melihat hal itu, dia lalu memerintahkam anak buahnya untuk mengambil hp milik Vyora.
"Sepertinya keluarganya cemas, ambilin cepat" perintah Ibu Cassie, mengkode dengan alisnya menunjuk hp Vyora.
Kemudian salah satu anak buah bergerak dan mengambilkan handphone Vyora, lalu memberikannya pada Ibu Cassie.
"Hn, Kapten? Hn, hahaha" ucap Ibu Cassie, tertawa ejek.
"Hmm, sepertinya ini anak dari Jendral Polisi dan Brigjen Pol itu. Hm, sayang sekali teman kamu bakalan mati" lanjut Ibu Cassie berkata sendiri.
"Hm, hahahaha. Gimana kabarmu di sana?" tanya Ibu Cassie, berteriak.
Mendengar ucapan Ibu Cassie, salah seorang anak buah mereka segera mengambil seember air, lalu menyiramkannya pada remaja Vyora.
Tangan salah seorang anak buah itu juga langsung meremas mulut Vyora dan mengangkat wajahnya agar ia bisa melihat Ibu Cassie.
Cassie datang. Ia hanya melirik Vyora dan segera menghampiri Ibunya.
"Mah, aku mau pergi bareng Bryan sekarang" ucap Cassie dengan wajah kesal dan cemberutnya.
"Hm? Udah dateng Bryan? Kok gak nyapa Mama dulu?" tanya Ibunya.
"Aku yang bilang ke dia supaya nunggu di mobil aja. Lagian aku males lama-lama di sini, lihatin muka dia," melirik Vyora, "bikin tambah bete orang aja" ujar Cassie dengan raut wajah manja yang kesal tersebut.
"Okay, okay. Kalian hati-hati ya" ucap Ibunya, memeluk Cassie.
"By, mah" pamit Cassie, segera pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Daah" ucap Ibunya melambai.
Setelah itu, Ibu Cassie berjalan mendekati Vyora. Telinganya di dekatkannya pada mulut Vyora.
"K, ka- li, ann.. K, ki- rra. Gue tak, ut? Hn, haha. Bunuh aja gue, gua sama sekali gak takut" ejek Vyora dengan suara serak dan lemah.
Mendengar hal itu, wajah Ibu Cassie menjadi memerah karena emosi. Dia tak terima di remehkan oleh seorang anak ingusan seperti ini.
Kemudian ibu Cassie mengkode anak buahnya. Sedangkan anak buahnya langsung mengambil sebuah Stick hockey (tongkat hoki), lalu di berikannya pada Ibu Cassie.
Tanpa basa basi, Ibu Cassie langsung mengambilnya dan langsung memukul Vyora dengan brutal. Wajahnya yang penuh amarah itu seperti sedang kemasukan iblis. Tak ada jedah, ia terus saja memukul sampai Vyora tewas di tempat.
"Buang mayatnya sekarang. Saya tidak ingin melihat wajah jeleknya itu. Menjijikan!" perintah Ibu Cassie.
Wajah Vyora penuh dengan darah dan luka. Hal itu membuat wajahnya tak bisa di kenali jika dilihat langsung seperti sekarang.
Kemudian, dua anak buah kelurga Milstone segera membuang mayat Vyora, di sekitaran hutan.
Sementara itu, di dalam rumah Angeline. Dia nampak gelisa, Angeline tak henti menelpon dan berjalan kesana kemari.
"Vi, kok gak di engket sih" gumam Angeline, mengibas rambut.
Angeline terus saja menelpon, berjalan kesana kemari. Duduk dan berdiri lagi. Memegang kepala dan menatap cemas saat melihat jam dinding di kamarnya.
Tut, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...
"Kok malah gak aktif sih" ucap Angeline.
Kemudian Angeline segera keluar dari kamarnya dan menuruni tangga.
Rasya yang baru saja masuk ke rumahnya melihat wajah cemas Angeline. Angeline nampak terburu-buru menuruni tangga.
"Em, ini... Aku," ucap Angeline menggoyangkan kaki, seluruh badannya karena cemas.
"Aku pengen nyusul teman aku ke panti asuhan. Dia dari tadi gak angket telpon aku, terus sekarang hp dia udah gak aktif lagi" jelas Angline, dengan wajah cemas dan gelisanya.
"Okay, okay. Kamu tenang, tenang dulu. Biar kakak yang anterin kamu" saran Rasya, di angguki oleh Angeline.
Mereka berdua pun naik ke mobil Rasya dan segera pergi menuju panti asuhan yang di maksud oleh Angeline.
Beberapa saat kemudian. Mereka tiba di panti asuhan. Sekarang sudah sangat malam, waktu sudah menunjukan pukul 22:30 dan keadaan di sana sudah nampak sunyi.
Sesampainya di dalam panti. Angeline masuk bersama Rasya di temani salah seorang penjaga.
"Dari tadi Salsa sedih, dia udah nungguin kakaknya tapi belum sampai-sampai" jelas Wanita berumur 40-an tahun tersebut.
"Gak dateng? Vyora gak dateng?" tanya Angeline, cemas.
Mereka masih berjalan berdampingan. Lalu duduk di kursi ruang tamu.
"Deya, panggilin Salsa" ucap pengawas Wanita 40-an tahun tersebut.
Kemudian, remaja awal berumur 15 tahun tersebut mengangguk dan segera memanggil Salsa di kamarnya.
Beberapa menit kemudian. Salsa datang, sementara Angeline yang melihat langsung menghampiri Salsa.
__ADS_1
"Kak, kakak Vyora mana?" tanya Salsa.
"Emm, tadi... Kak Vyora bilang apa sama Salsa?" tanya Angline, masih dengan wajah cemasnya.
"Tadi kakak nelpon ibu," melirik pengawas wanita, "terus ibu kasih aku buat bicara sama kak Vyora. Kak Vyora bilang, kakak mau dateng buat lihat aku. Tapi sampai sekarang kakak belum dateng. Kakak Vyora kemana kak? Kakak baik-baik aja kan?" tanya Salsa, mimik sedih khas anak kecil.
"Emm, Salsa bisa cerita lagi gak Kak Vyora bilang apa aja sama Salsa tadi?" tanya Angeline.
"Em, kakak tadi bilang mau dateng siang. Tapi kakak nelpon lagi, kata kak Vyora kakak bakalan telat, Kak Vyora bilang kalau kakak Vyora lagi bantuin Kak Dela dan Dion" jelas Salsa, mulai menangis.
"Dela? Dion?" batin Angeline, keningnya mengkerut.
"Kak Dela sama Dion siapa? Salsa tau?" tanya Angeline.
"Emm, aku gak tau.. Tapi kata kakak mereka bakal jadi temen baru aku, katanya mereka baik. Kak Vyora beneran gak papa kak?" tanya Salsa, masih menangis.
"Em, iya. Kak Vyora gak pp. Kamu jangan nangis lagi ya" jawab Angeline, berusaha menenangkan Salsa.
********
Sementara itu, di dalam rumahku. Greysie bermimpi tentang aku. Dia pun terbangun.
"Gakk..!" teriak Greysie.
"Huh, huh, huh, egm," menelan ludah, "Ra? Ra" ucap Greysie memanggil.
Aku hanya melihat lurus kedepan. Sedang kepalaku teramat sangat berisik.
Aku janji. Aku janji. Aku janji. Aku janji. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Gak sekarang. Gak sekarang. Gak sekarang. Gak sekarang. Gak. Gak. Gak. Gak. Gak. Kenapa kamu bunuh Ayah Cara??!!
"Raaaa!" teriak Greysie bersamaan dengan teriakan Ayahku.
Greysie berada di hadapanku, sedang aku tersadar.
"Haah, G, rey" ucapku, lirih.
Aku mendorongnya untuk menjauh dari tubuhku dan segera beranjak dari tempat tidur. Namun tangan kananku tertahan, sehingga aku terhenti.
Aku lupa jika tangan kananku sedang terborgol bersama tangan kiri Greysie sekarang.
"Ckk!" gerutu kesal, sambil melihatnya.
"Hey, lepass tangan gua! Apasih loh. Gua gak suka di atur tau gak?! Lupa apa gimana, bikin orang kesel aja, ta*ik" ujarku, mencela.
"Kalau gua lepas, ntar lo ngilang lagi, Atau gak udah nyebur ke kolam renang" jelas Greysie, dengan mimik yang sama kesalnya.
"Ckk! Emosi gua lama sama ni anak satu. Lo kenapa sih, Ra? Kenapa selalu lemah di depan orang satu ini? Kenapa lo biarin dia mendominasi diri lo terus" batinku.
Aku masih menatap kesal Greysie, lalu buang muka darinya. Namun Greysie segera memelukku dari belakang.
"Aku sama sekali gak bisa bantuin kamu sekarang, Ra. Tapi aku berharap kamu bisa ngerasain ketulusan aku ini," memeluk erat, "Maaf kalau aku gak bisa memahami kamu kek kamu selalu paham tentang aku. Maaf karena aku selalu gak peka. Maaf karena aku jadi sumber kelemahan kamu. Maafin aku, Ra. Tapi aku janji bakalan bantuin kamu buat nyelesaiin semuanya. Aku bakal bunuh mereka semua yang udah buat kamu jadi kek gini" batin Greysie, sedang air matanya menetes.
"Dengan tangan aku sendiri" lanjut, Greysie membatin dengan tatapan marah dan benci.
Perasaan Greysie seakan mengalir ke seluruh pembuluh daraku. Aku bisa merasakan jika saat ini dia sedang sedih karena aku. Tapi dia juga sangat marah, dan benci. Aku tau dengan benar siapa yang tengah di bencinya.
__ADS_1
Tatapan matanya selalu mengatakan bahwa dia sangat ingin membunuh keluarga Misltone dan Walker secepatnya. Namun aku terus menghalangi dirinya.
Bersambung...