Ilusi

Ilusi
BAB 9 (Part 2)


__ADS_3

Saat ini, Heafen berdiri menyender di dinding dekat pintu kamar Greysie, tanganya bersilang, ia sesekali melirik Rasya. Sedangkan Rasya sedang duduk di sofa, ia duduk menyender dengan tangan bersilang, sesekali ia juga melirik pada Heafen.


Sekitar 10 menitan berlalu. Pintu lift berbunyi, lalu terbuka. Ada seseorang di dalamnya, itu adalah ibu Greysie. Ibunya berjalan menghampiri Heafen dan Rasya. Heafen bangkit dari senderannya begitu juga dengan Rasya.


"Assalamu'alaikum tante" ucap Rasya berdiri, menunduk menyatukan kedua tanganya.


"Hai, tante" sapa Heafen tersenyum. Ibu Greysie melihat mereka berdua.


"Wa'alaikumsallam," melihat Rasya dan Heafen, "kamu di sini Heafen?" tanya Ibu Greysie.


"Iya, tan, kemarin aku baru pulang dari Amrik" jawab Heafen.


"Ooh, gimana kabar kamu sekarang?" tanya Ibu Greysie lagi.


"Aku baik tan, tante gimana kabarnya" tanya balik Heafen. Mereka masih beridiri, sedangkan Rasya terlihat masih sedikit canggung.


"Tante baik," tersenyum, "emm," melihat Rasya, "kamu temen Heafen?" tanya Ibu Greysie.


"Em, gak tante" ucap Rasya bersamaan dengan Heafen, mereka saling melirik dengan mimik tak suka.


"Nama aku Rasya tante, aku temen Grey dan Lista" seru Rasya, memberikan tangannya untuk berjabat pada ibu Greysie.


"Ooh, detektive muda itu?" tanya Ibunya, ia segera duduk di sofa.


"Em, iya tante" jawab Rasya sedikit membukuk dan tersenyum malu.


"Ayo silahkan duduk, Heafen juga duduk sini" ajak Ibu Greysie dan melambai pada Heafen.


Rasya kemudian duduk, Heafen menghampiri mereka, ia duduk di sofa sebelah kiri, sedangkan Rasya duduk di sofa sebelah kanan, membuat mereka berhadap-hadapan.


Ibu Greysie duduk di sofa depan, sofa yang khusus untuk satu orang saja, menjadi penengah antara Rasya dan Heafen.


"Kalian mau ketemu mereka? tapi kenapa di luar?" tanya Ibu Greysie.


"Em, Grey lagi obatin Cara, tan" jawab Heafen, Rasya mengangguk menyutujui perkataan Heafen.


"Ooh, kalian mau minum apa? biar tante siapin" ujar Ibu Greysie bertanya.


"Em, gak pp tante, nanti malah ngerepotin" jawab Rasya dengan nada canggung.


"Aku juga gak pp tan, tante gak usah repot-repot" sambung Heafen, membuat mereka saling melirik lagi.


"Udah, gak pp biar tante siapin, kalian tunggu di sini, ya" ucap Ibu Greysie berdiri, ia lalu berjalan ke arah dapur yang berada di lantai 3 tersebut.


Setelah Ibu Greysie pergi, Heafen dan Rasya kompak menghela napas, lalu sama-sama memasang wajah malas sambil menyender di sofa.


Di dapur,


Ibu Greysie sedang menyiapkan minuman. Tak lama kemudian, Art rumah tak sengaja melihatnya dan menyapa.


"Nyonya, biar saya aja yang nyiapin" pinta Art menghampiri Ibu Greysie.


"Udah gak pp, ini udah mau selesai" jawab Ibu Greysie menuangkan minuman ke dalam gelas kaca tersebut.


"Minumannya buat Heafen dan cowok itu, nyonya? biar saya anterin" tanya Art tersebut.


"Em, iya.. udah biar saya yang anter" ucap Ibu Greysie, ia telah selesai menuangkan minuman tersebut. Kemudian Art mengambil wadah untuk membawa gelas tersebut.


"Tadi saya udah nanya ke mereka, tapi mereka bilang gak mau minum, nyonya" seru Art, menjelaskan, tangannya memberikan wadah untuk menyimpan gelas tersebut.


"Hm, ok.. kamu bawain cemilan ke mereka, yang di meja sana cuman kue kering, gak enak, kamu bawain keik, ya" pinta Ibu Greysie menyuruh Artnya.

__ADS_1


"Baik, nyonya" jawab Art sedikit mengangguk.


Ibu Greysie kemudian pergi mengantarkan minuman tersebut, sementara Art menyiapkan cemilan, lalu mengantarnya pada mereka.


"Ini minumanya, ayo silahkah di minum" ujar Ibu Greysie, ia kemudian duduk. Art datang dan memberikan cemilan pada mereka.


"Makasih, tante" ucap Heafen dan Rasya kompak, membuat mereka kesal satu sama lain.


"Em, kalau gitu tante ke bawah dulu ya, tante mau ngecek keadaan papa Grey" pamit Ibu Greysie, ia berdiri. Heafen dan Rasya kemudian berdiri mengikutinya.


"Makasih, tan" ucap Heafen.


"Makasih, tante" ujar Rasya sedikit menunduk dan tersenyum.


"Iya, di minum ya.. minumannya, kalau gitu tante ke bawah dulu" pamit Ibu Greysie melangkah menjauh dari mereka. Namun ia berhenti sebantar dan membuka pintu kamar Greysie untuk sekedar mengecek, di dalam Greysie sedang membersihkan lukaku, ibunya sedikit mengintip lalu menutup kembali pintu tersebut, ia pun segera masuk ke dalam lift yang jaraknya hanya sekitar 10 meneter dari kamar Greysie.


46 menit berlalu, suara bel rumah berbunyi. Aric berada di depan rumah Greysie. Tak lama kemudian Art datang untuk membukakan pintu untuknya. Aric masuk dan segera menuju kamar Greysie.


Saat Aric sudah sampai di lantai tiga, ia melihat Rasya bersama dengan seseorang dengan wajah asing. Kemudian Aric berjalan menghampiri Rasya yang sedang duduk di sofa tersebut


Sedangkan Heafen, ia berada di dekat pintu kamar Greysie, berdiri dan menyender di dinding. Ia lalu melirik Aric dan Rasya.


"Lo di sini, bro?" sapa Aric bertanya. Rasya lalu melihat ke atas, karena Aric berdiri di depannya.


"Lo sampai juga akhirnya, iya.. Gua ke sini jenguk Lista" jawab Rasya berdiri, berjabat pelukan pria dengan Aric.


Mereka berdua kemudian berjalan pelan ke arah pintu kamar Greysie. Tiba di depan pintu, Rasya mengetuk pintu sedangkan Heafen melirik Rasya. Ia masih berdiri menyender di dinding dengan tangan bersilang.


Setelah itu, Rasya memutar gagang pintu. Pintu terbuka. Heafen bangun dari sendernya dan langsung berdiri di belakang Aric.


Mereka melihat Greysie sedang memegang pisau tak jauh dari wajahku. Sedangkan aku dan Greysie melihat mereka bertiga.


Greysie dengan santainya mengubah posisi berdiri pisau menjadi ke bawah, ia kemudian melipat kembali pisau tersebut, lalu berdiri.


"Kamu udah sampai? kok gak bilang?" tanya Greysie berjalan menghampiri Aric, tangannya menaruh pisau di kantung belakang celananya.


"Em, aku udah chat kamu tadi" jawab Aric, ia kemudian berjalan masuk di ikuti Rasya dan Heafen.


"Iya? hm, sorry aku gak ngecek hp tadi, jadi aku gak tau" jelas Greysie.


"Hm," Aric tersenyum iya pada Greysie.


Setelah itu, Aric memeriksa lukaku, mensterillkan, lalu membalut lukaku.


"Jahitannya ke buka Ric?" tanya Greysie.


"Em, gak," menggeleng melihat Greysie, "jahitanya gak ke buka, darahnya.. cuman keluar dari sela-sela jahitan aja" jawab Aric.


Heafen dan Rasya saling melirik kesal satu sama lain. Mereka berdiri sedikit berjauhan seakan ada tembok pemisah antara mereka.


"Ini.. kamu ngapain Callista? kok sampai berdarah lagi" tanya Aric melirikku, tangannya masih membalut perban di perutku.


"Em..." jawabku melirik Heafen dan Rasya.


"Gara-gara mereka beruda" sela Greysie langsung menatap Heafen dan Rasya. Aric menengok Greysie, ia melihat Greysie menatap marah pada Rasya dan orang asing tersebut.


Kemudian, Aric melihat Rasya dengan mimik wajah bertanya. Sedangkan Rasya mengkode dengan mengangkat satu alisnya seakan berkata setuju dengan tatapan Aric padanya.


"Ooh" batin Aric. Ia sudah selesai membalut lukaku.


"Callista, kamu tadi mandi?" tanya Aric, mengerytkan keningnya.

__ADS_1


"Hehe, iya" jawabku tersenyum malu.


"Aku kan udah bilang, lukanya jangan sampai kena air dulu" ucap Aric mulai mengomel.


"Gak kena kok, kan aku lapis pakai perban anti air tadi" jawabku tersenyum kecil.


"Iya, tapi gimana kalau airnya tembus? lebih baik di hindari ya, sebelum kejadian" jelas Aric masih mengomel.


"Huufff, Aric ngomel mulu kek Grey" batinku. Sementara aku tersenyum pada Aric.


"Iya, maaf" ucapku tersenyum pada Aric.


********


Sementara itu, Riska terus di hantui bayangan hitam dalam mimpinya. Ia terbangun karena terkejut. Mata tajam serta senyuman seseorang terus terbayang di benaknya. Dia sangat takut, sudah beberapa minggu terakhir ini, dia berusaha untuk mencari seseorang yang menakutinya di toilet restaurant itu.


Awalnya Riska berpikir kalau itu hanyalah ilusinasinya saja, akan tetapi mata dan senyuman orang tersebut selalu terbayang di benaknya, membuat Riska tak nyenyak saat tidur, ia terus merasa gelisah, apalagi jika ia mengingat kembali perkataanku pada mereka tentang Cassie, membuatnya semakin yakin kalau itu perbuatan Cassie.


Riska sudah tidak tahan, ia ingin membalas Cassie, karena menurutnya Cassie sengaja untuk menakut-nakutinya. Ia akhirnya memutuskan untuk membuat rencana bersama teman-temannya.


Di dalam rumah, Riska. Ia bersama teman-temannya sedang membicarakan tentang bagaimana cara untuk membalas perbuatan Cassie. Mereka berada di lantai paling atas (atap, ruangan santai).


"Loe yakin, Ka?" tanya Zey.


"Iya, gua yakin banget kalau itu Cassie, emang siapa lagi kalau bukan dia, kalian gak inget omongan Cara waktu itu?" jelas Riska bersilang tangan.


"Hm, iya omongan Cara emang ada benernya juga, tapi... gua kok gak percaya sama dia" sambung Mindy.


"Iya, gua juga gak percaya, dari dulu gua gak suka lihat dia, apalagi loe Ka, masa loe takut sama dia" ujar Putri menatap heran pada Riska. Ia lalu menyilangkan kaki dan menyender di sofa, mukanya terlihat kesal.


"Siapa bilang gua takut sama si Cara, hah?!" bentak Riska melihat malas muka Putri.


"Terus.. kenapa selama ini lo diam aja lihat Cara ikut campur urusan kita" sela Zey.


"Gua bukan takut sama dia, gua takutnya sama bokap gua, bokap gua ngelarang gua buat gangguin dia, entah gimana mereka sampai kenal, keknya dia ngadu ke bokap gua" jelas Riska menatap malas muka Zey.


"Hm, jadi loe bakalan diem terus kalau dia ikut campur urusan kita lagi? emang loe gak malu di remehin mulu?" tanya Mindy.


"Masalah dengan si Cara itu biar jadi urusan gua, nanti kalau udah selesai kalian lihat aja, gua bakal buat hidup dia menderita" ucap Riska.


Raya hanya diam melihat teman-temannya. Ia jadi jarang berbicara setelah keluar rumah sakit, akibat di pukuli Cassie.


"Ray.. kok loe diem aja, sih?" tanya Putri.


"Gak, pp" jawab Raya singkat, ia masih menyender di sofa. Matanya terus melihat keluar jendela, menikmati pemandangan.


"Hmmff, loe teneng aja Ray, kita bakal bales perbuatan Cassie sama loe" ucap Mindy mendekati Raya, ia lalu bersender di pundak Raya dan sedikit memeluknya.


Raya hanya diam menikmati keindahan pemandangan dari balik jendela rumah Riska, ia kemudian membayangkan saat berada di rumah sakit.


Saat itu, waktu menunjukan pukul 02:21 tengah malam. Raya terbangun. Ia melihat sekitar, tetapi sangat gelap, hanya sedikit cahaya bulan dari balik jendela yang menerangi ruangan tersebut.


"Maah?" panggil Raya. Ibunya tak menjawab karena sudah tertidur lelap.


Suara langkah kaki terdengar di telinganya, seperti sedang mengelilingi kamar rumah sakit, tempatnya di rawat. Raya kemudian menengok ke kiri dan melihat ibunya sedang tidur di sofa.


Di saat Raya ingin menengok ke kanan, ia terkejut melihat seseorang tiba-tiba saja berada tepat di depannya dan langsung membungkam mulutnya.


"Sssstttt...!" ucap Seseorang menaruh jari telunjuk kanan di bibirnya. Tangan kirinya menutup rapat mulut Raya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2