
Rasya termenung mengingat perkataanku padanya beberapa minggu yang lalu. Ia kemudian menggelengkan kepala, lalu memeriksa kembali berkas kepolisian.
Saat sedang serius membaca, ia melihat kejanggalan di berkas kepolisian tersebut.
"Orang tua Lista malam itu berantem hebat?" batin Rasya. Tanganya membuka setiap lembaran dari laporan tersebut. Ia melihat foto telapak tangan ayahku pada berkas tersebut, dan mulai membaca.
"Hm, dari cara dia membunuh.. ini sama kek perbuatan Milstone dan Rallenda Lubis itu, pasti ada aja anggota tubuh korban yang di potong" batin Rasya.
Setelah itu Rasya langsung menelpon Agus, rekan detektifnya.
"Halo, pak Agus" sapa Rasya di telpon.
"Iya halo, pak" sahut Agus.
"Aku mau minta tolong, pak agus tolong selidiki keluarga Milstone lebih jauh lagi, setiap laporan keuangan mereka, pendidikan, kerja sama dengan perusahaan kecil atau besar, laporan telpon mereka, pokoknya semua bagian kecil dari keluarganya" pinta Rasya.
"Baik pak, emm kemarin saya sudah memeriksa keluarga Bryan Walker, emm... mereka sudah lama bekerja sama dengan perusahaan Milstone, saat itu perusahaan keluarga Walker dan Misltone juga sama-sama menawarkan kerja sama dengan Ayah Cara Callista" jelas Agus.
"Hmm, mereka sangat mencurigakan, aku yakin mereka ada hubungannya atas kematian keluarga Lista" sambung Rasya.
"Iya, pak, saya pikir juga gitu" ucap Agus.
"Ok baiklah, terima kasih pak, nanti aku bakal hubungi pak Agus lagi, kita kumpulin bukti sama-sama setelah aku selesai menyelediki Bryan dan pacarnya" ujar Rasya.
"Iya sama-sama pak, baik pak" balas Agus.
********
Hari ke enam berlalu. Di dalam rumah Greysie, ia masih menungguku bangun seperti biasanya. Selang beberapa menit kemudian, aku pun terbangun.
Greysie langsung memberiku 2 butir obat tidur. Mungkin dia takut aku overdosis, jadi dia mengurangi takarannya. Tanpa basa basi, aku yang duduk itu, langsung meminum obat yang ada di tangannya.
Greysie kemudian berdiri, ia segera pergi. Namun aku langsung berteriak padanya.
"Kapan ini selesai, Grey? kamu kenapa kek gini ke aku? aku salah apa? aku harus... aku gak punya waktu untuk ini, kamu gak lakuin semuanya sendiri kan? aku gak paham Grey, kamu kenapa?" tanyaku mengeraskan suara.
"Kamu diam aja dulu, Ra" ucap Greysie singkat, ia melangkah pergi.
Kemudian aku beranjak dari tempat tidur, langsung memegang kakinya untuk memohon.
"Pliss Grey, aku udah gak tahan, pliss jangan giniin aku, aku mohonn, maafin aku... kalau kamu kek gini terus, aku jadi bingung" ucapku memohon.
Sementara Greysie berusah menahan air matanya. Ia lalu menyamai badannya dengan badanku, lalu memegang pundakku.
"Tatap mata aku, Ra... kamu kan biasanya bisa tahu apa yang aku pikirin, hmm" ujar Greysie menatapku. Aku menatapnya, namun aku hanya melihat dirinya menertawaiku.
"Hahahaha, lo selamanya bakal kak gini, berani-beraninya lo bunuh bokap gua, sekarang minum obat ini, lo bakal terpenjara di dalam kamar gua selamanya" ilusiku, membuat napasku tak beraturan. Akhirnya aku memukul kepala dan menutup telinga.
Selamnya, selamanya, selamanya, hahahah, selamanya, loe selamnya di sini, selamnya, selamanya, selamnya, selamanya, selamanya, selamanya, hahaha, selamanya, selamanya, slemanya, selamanya...
Suara itu memenuhi isi kepalaku, membuatku terus menutupi telinga.
"Gak, gak, gak, itu bukan aku, bukan aku, gaaaakkkkkkk!" teriakku.
Greysie memelukku, aku juga sudah mulai pusing karena obat tidur. Beberapa menit kemudian aku pun tertidur lagi.
"Maafin gua, Ra" batin Greysie. Ia meneteskan air matanya, lalu mengangkatku ke tempat tidur.
"Pliss kamu tahan Ra.. aku gak mau kamu malah trauma karena aku ngasih kamu obat terus, pliss.. kamu tahan Ra, aku yakin kamu pasti bisa" batin Greysie.
Greysie kemudian mengabil pisau dari kantung celannya. Ia tak tahan melihat keadaanku, karena merasa sangat bersalah terhadapku. Ia lalu mengiris lengan tangannya. Air matanya menyucur deras. Tak lama setelah itu, ia mulai berteriak dan membanting barang-barang di dalam kamarnya.
"Fuckkk, fuckk, aaaaaaaaarrgg, fuckk" teriak Greysie.
"Aaaaaaaaaaaaarggh, huhuuuu, maafin gua, huhuuu" tangis Greysie pecah. Ia memegang serta memukul kepalanya.
Setelah itu Greysie berdiri, ia mulai meninju dinding kamarnya sampai tangannya memerah, darahnya juga terus menetes.
Beberapa jam berlalu. Rasya bertemu Agus. Mereka menyatukan informasi yang mereka kumpulkan. Fakta baru yang mereka temukan adalah, saat malam pertengkaran kedua orang tuaku, ada seseorang yang menelpon ayahku.
Orang tersebut adalah Ayah Cassie. Ayah Cassie merebut cetak biru milik ayahku, dan segera memproduksi mobil dan motor sesuai dengan desain dan ide milik Ayahku.
Bisinis ayahku seketika bangkrut, karena banyak pelanggan yang kecewa, karena ayahku telah berjanji pada mereka, namun janji itu tak bisa ia tepati karena semua cetak biru dan berkas milik ayahku telah di rebut paksa oleh mereka.
Flashback, 7 tahun yang lalu. Di malam mencekam saat itu. Suara telpon berbunyi, ayahku mengangkatnya.
__ADS_1
"Gimana? kamu tau kan akibatnya karena menolak tawaran dari saya, jika kamu menerima tawaran saya saat itu, mungkin bisnis kamu itu tidak perlu bangkrut seperti ini, hahahah, saya sengaja gak bunuh kamu, biar kamu dan keluarga kamu menderita akibat ulah kamu sendiri, hahaha" cela Ayah Cassie di telpon, membuat ayahku sangat marah. Ia kemudian pergi mengambil pisau di dapur untuk membunuh mereka.
Saat ini, Rasya sudah mengetahui alasan kenapa keluargaku di bunuh. Menurut Rasya orang yang membunuh keluargaku adalah orang suruhan keluarga Cassie dan Bryan.
Mereka bekerjama untuk menghancurkan bisnis ayahku. Lalu membagi hasil curian mereka untuk diri mereka sendiri.
*******
Hari ke tujuh kemudian. Aku meninggau karena bermimpi bayangan hitam datang untuk membunuhku, dia adalah Greysie. Tatapan marah serta benci terlihat sangat jelas di mata Greysie. Wajah datar serta bibir pucatnya yang mengerucut, membuat perasaanku menjadi sangat ketakutan.
"Gak, gak, jangan, jangan" ucapku mengigau.
"Jangan......!" teriakku, kedua tanganku bersilang di depan wajahku, seperti sedang menahan serangan dari seseorang. Aku terbangun, duduk di tempat tidur.
Greysie sedang menonton sesuatu di laptop miliknya, ia terkejut setelah mendengarku berteriak.
"Raa... hey, hey, ini aku" ucap Greysie memalingkan wajahku padanya. Aku memjamkan mata dan mengatur napas baik-baik.
"Ra, kamu gak perlu mikirin apapun lagi, biar aku yang ngurus semuanya" ujar Greysie. Aku mengrytkan kening saat mendengarnya. Ia lalu menutup laptonya dan beranjak dari tempat tidur.
"Lo apain gua?!" teriakku, membuat langkah kaki Greysie terhenti, ia melirikku.
"Lo ngapain nying, lo ngapain?" ucapku pelan, gemetar.
"Lo apain gua Grey? gua mau pergi dari sini, gua gak mau lagi di sini" ucapku beranjak dari tempat tidur.
Greysie tak senang mendengar perkataanku. Sebenarnya dia tak ingin menyuruhku untuk meminum obat lagi. Tetapi aku menjadi di luar kendali, membuatnya terpaska untuk memaksaku meminum obat tidur lagi.
"Aku mau keluar, lepasiinn Grey, aku mau pargi dari sini, lebih baik kamu bunuh aku aja dari pada kamu siksa aku kek gini" pintaku memohon, sedang air mataku terus mengalir.
Greysie kemudian memasukan paksa obat tidur ke dalam mulutku.
"Hmm, gak mau, aku gak mau minum, aku bukan tahanan kamu Grey, aku... uhuk, uhuk, hueekk"
"Telen Raa, telenn!" perintah Greysie.
"Why you fu*king hate me? i already hate my self Greyy, aku udah benci sama diri aku sendiri, tau gak?" ujarku, menelan pelan obat di mulutku.
Greysie hanya memberikan 1 butir obat tidur padaku. Dia takut aku overdosis karena terus meminum obat, tetapi semakin sedikit dosis yang di berikan maka efeknya juga akan melambat dan tidak akan bertahan lama.
Greysie masih saja diam. Kemudian aku langsung berdiri dan memeriksa laci untuk mncari obat tidur.
"Hey Ra, kamu mau ngapain" ucap Greysie melemas.
Greysie sangat kelelahan, matanya seperti orang yang jarang tidur. Harusnya aku mengetahui hal itu jika aku tidak terlalu larut dalam perasaanku sendiri. Aku tak memperhatikan dirinya lagi, karena aku merasa seperti tak bisa lagi membedakan mana dunia nyata dan dunia mimpi. Semuanya terlihat sama bagiku.
Setelah aku mendapatkan obat tidur tersebut, aku langsung membuka penutup botolnya dan segera memasukan semua obat tidur ke dalam mulutku.
Namun, sebelum semua obat itu masuk ke dalam mulutku, tangan kiri Greysie langsung menahan tangan kananku. Ia menatap kesal padaku.
"Lo mau ngapain?!" tanya Greysie menatap kesal.
"Mau matii, itu kan mau lo?!" bentakku. Sontak membuat tangan kanan Greysie bergerak secara spontan langsung menamparku.
"Plaaakk.......!"
"Arrgh," memalingkan wajah, "lo...! i hate yoouu so much!" ucapku, dengan isak tangis.
Greysie tersadar, ia lalu membulatkan mata karena tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan padaku.
"Raa, i'm sorr.." pinta Greysie memohon maaf.
"Fu*k you!" selaku mencela dirinya. Aku ingin pergi namun kepalaku mulai terasa pusing akibat meminum obat tidur.
"Raaa, aku..." ujar Greysie. Tak selesai ia berbicara aku langsung terjatuh, membuat ia langsung menahanku. Air matanya lagi-lagi menetes.
Besoknya.
"Maafin aku, Raa" bisikan di telingaku. Aku seperti melihat Greysie pergi keluar dari pintu kamarnya. Namun aku masih tertidur.
"Grey....!" panggilku, aku terbangun.
Hari ini, Greysie tak lagi menungguku bangun seperti biasanya. Aku segera beranjak turun dari tempat tidur, namun kakiku masih teras lemas sedangkan kepalaku juga masih pusing, membuatku sempat terjatuh ke lantai.
Setelah itu, aku bangkit dan menopang diriku dengan dinding, lemari, meja dan semua barang yang bisa ku pegang untuk membantuku berjalan.
__ADS_1
Kakiku melangkah perlahan, sampai aku masuk ke dalam lift. Aku mulai memeriksa semua lantai dengan langkah kaki yang belum sempurna, aku mencari keberadaan manusia di dalam rumah besar ini.
Tetapi sepertinya hanya diriku saja di dalam rumah ini, entah mengapa perasaanku sangat tidak enak, perasaan aneh mulai memenuhi isi kepalaku.
"Apa gua masih mimpi?" batinku.
"Bangun, bangun," menepuk pipi, "apa selama ini gua cuman mimpi kalau Grey lakuin itu ke gua? gak mungkin dia lakuin itu ke gua" batinku tak henti bertanya.
Kakiku melangkah ke arah dapur, namun lagi-lagi tak ada siapapun di sana. Aku telah mencari keberadaan setiap manusia di dalam rumah ini dari lantai paling atas sampai lantai paling bawah.
"Ini nyata gak sih? apa jangan-jangan gua ini sebenarnya gak nyata? atau Grey yang gak nyata? aaaaargh, gua gak ngerti, gua di mana, ini di manaaaaa!" teriakku, membuat suaraku mennggema di dalam rumah kosong ini.
"Grey........!" teriakku sekali lagi.
"Grey, kamu dimana, pliss jangan nakut-nakutin aku, aku beneran takut" ucapku mengeraskan suara, namun tak ada siapapun yang menjawab pertanyaan dariku.
"Greyyy, aku bakalan minum obat, pliss.. aku gak tau lagi mana nyata dan mimpi, pliss kalau ini mimpi, kamu dateng kasih tau aku supaya aku bangun, aku takut bangett Grey....!" ujarku berteriak, namun lagi-lagi tak ada yang menjawab pertanyaanku.
Bayangan Greysie lewat, membuatku mengejarnya. Ia berlari ke arah kamar. Namun setelah aku sampai ke dalam kamar, ia tak ada di sana, membuatku berpikir bahwa aku sudah benar-benar terjebak di dalam mimpiku selamanya.
Beberapa jam kemudian. Jam menunjukan pukul 16:05 sore. Suara lift berbunyi seperti ada seseorang yang datang. Langkah kaki menuju ke arahku, semakin mendekati kamar rumah ini.
Sedangkan aku berada di bagian sempit meja, seperti anak-anak yang sedang bersembunyi karena ketakutan. Aku menutup telinga, seluruh anggota tubuhku gemetar.
Bayangan seseorang berada di depanku, membuat aku melihat ke atas. Itu adalah Greysie.
"Raaaa, kamu kenapa di sini?" tanya Greysie langsung memeluk diriku.
"Dingin banget badan kamu, Raa" ujar Greysie. Aku kemudian mengucek mata untuk memastikan apa yang kulihat ini adalah nyata.
"Kamu beneran Grey?" tanyaku gemetar.
"Iya ini aku, kamu kenapa di sini? kita ke tempat tidur yaa" ajak Greysie, aku mengangguk.
Greysie menyuruhku duduk menyender di tempat tidur, ia melihatku prihatin. Aku seperti orang yang memiliki penyakit mental, karena terus gemetar dan melihat sekitar.
"Raa, ini aku, Gr..." ucap Greysie, namun aku langsung menyelanya.
"Mana obat aku, aku bakalan minum Grey, pliss jangan tinggalin aku lagi, aku takut banget" ujarku gemetar menggigit tangan.
"Obat?" tanya Greysie padaku, aku tak menjawab, malah melihat kesana kemari.
"Oh may gat, keknya gua udah beneran keterlaluan sama Cara, dia sampai trauma kek gini, aaaahh, siaaaal!" batin Greysie.
"Raaa, kamu tenang dulu yaa, kamu gak perlu minum obat lagi, aku udah selesai, hm" ucap Greysie mengkode dengan alisnya. Namun aku tak mengerti maksudnya, karena aku sudah kehilangan diriku sendiri.
"Kamu beneran Grey kan? aku gak lagi mimpi kan? Grey kalau ini mimpi plis bangunin aku, kalau ini nyata tolong aku, aku gak bisa bedain mana mimpi dan nyata lagi, tolong aku Grey, kamu gak bakalan ngilang kan," melihat tangannya, "tangan kamu, tangan kamu menghilang Grey" ucapku membulatkan mata.
Greysie terheran-heran melihatku, dia merasa sangat bersalah atas apa yang telah ia lalukan padaku.
"Grey... Grey jangan tinggalin aku, jangan tinggalin aku, huhuuu, aku gak mau sendiri, aku takutt Grey" ujarku memegang kepala, menggelengkan kepala dan memukul kepala.
"Raaa, ini aku heyy, aku di sini, ini nyata, ini aku Grey, maafin aku Raa, aku udah keterlaluan, maafin aku" pinta Greysie memohon maaf, namun aku malah terus menutup telinga.
Beberapa jam kemudian, Aric dan Rasya datang setelah mendengar apa yang di katakan Greysie pada mereka. Aric lalu memeriksa keadaanku.
"Grey... kamu udah keterlaluan!" ucap Rasya, marah.
"Iya, ak, aku tau... maafin aku" jawab Greysie gemetar. Aric menggelengkan kepala setelah memeriksa keadaanku.
"Aku minta maaf Grey, tapi aku setuju dengan Rasya, kamu udah keterlaluan banget sampai buat Callista gak bisa lagi bedain mana dunia nyata dan dunia mimpi" sambung Aric. Gerysie hanya menangis.
"Kamu ngapain sampai segitunya banget buat Callista untuk tidur Grey?" tanya Rasya, keheranan.
"Aku mau nyelesaiin semuanya sendiri" jawab Greysie.
"Maksud kamu?" tanya Rasya penasaran.
"Emm, maksud aku... akuu, aku gak mau Cara sampai banyak pikiran, jadi aku... mau nyelesaiin kasus papa aku juga" jelas Greysie terbata-bata.
"Iya Grey, niat kamu emang baik, tapi coba kamu lihat Callista sekarang, dia kek gini karena ulah kamu sendiri" sambung Aric. Ia juga marah pada Greysie.
Sedangkan Greysie hanya bisa menangis sambil menatapku.
Bersambung...
__ADS_1