Ilusi

Ilusi
BAB 14 (Part 2)


__ADS_3

Di balik indahnya mentari, ia selalu datang dan pergi sesuka hatinya.


********


Riska sangat terkejut setelah mendengar apa yang di katakan Putri padanya.


"Apah?!" ucap Riska, sektika berdiri.


"Iya, bener. Udah banyak kok beritanya. Katanya ada orang yang punya dendam sama dia. Terus nembak dan nusuk dia berkali-kali sampai si Cara hampir mati. Katanya sebelumnya keadaan dia kritis and sekarang dia koma" ujar Zey, menjelaskan. Sedangkan Putri dan Mindy mengangguk setuju.


Mendengar omongan dari teman-temannya membuat Riska segera berlari keluar kelas. Ia tak peduli dengan teman-temannya yang memanggil dirinya.


"Ka, Kaa, lo mau kemana?" panggil Zey, menatap heran.


"Riska kok, kek cemas banget sama si Cara" tanya, Mindy menatap Zey dan Putri.


"Iya, heran gua. Selama ini dia juga diam aja kalau si Cara ikut campur sama urusan kita" sambung Zey, keheranan.


"Malah gua juga ngerasa dia sering ngebelain si Cara. Masa dia sama sekali gak marah soal Alfi dan Cara waktu itu. Padahal gua pengen banget kita kasih pelajaran sama cewek sok cantik itu" lanjut Putri, mukanya memalas sambil bersilang tangan. Sedangkan Mindy dan Zey mengangguk setuju dengan muka malas mereka.


Sementara itu, Riska sudah sampai di depan mobil miliknya. Ia bingung harus menelpon siapa untuk menanyakan keadaanku dan juga tempat aku di rawat. Karena meras bingung Riska mencoba untuk mencarinya di internet. Untung saja Riska menemukan artikel yang memberitahu nama rumah sakit tempat aku di rawat.


Setelah mengetahui nama rumah sakit tempat aku di rawat. Riska segera menginjak gas mobilnya, membuat mobilnya melaju menyalip setiap kendaraan yang ada. Memori-memori ingatan Riska mulai terlintas di pikirannya. Sedang wajahnya terlihat sangat cemas bersama air matanya yang ikut mengalir.


"Raa" batin Riska, sedang air matanya terus menetes, di iringi memori yang mulai terlintas kembali di pikirannya.


Saat itu, setelah aku menjelaskan tentang kesalahpahaman antara kami. Seperti perkiraanku, Riska mulai meledek aku setelah membaca chat antara aku dan Heafen.


Di atap sekolah.

__ADS_1


"Hahah, ciee. Soft banget lagi cara balas chatnya" ledek Riska.


"Ssstt, sss. Aaargh" ucapku menutup mulutnya.


"Lo kan yang nyebarin berita gua pacaran sama Haefen?"


"Hahaha, iya-iyalah. Lo gak lihat chat lo ke gua? gua ngirim foto kalian ke wa gua" ucap Riska, meledek.


"Njiirrr, ni anak, gak punya rasa bersalah sama sekali ke gua" ujarku, kesal.


"Raa. Lo jangan terlalu ikut campur sama urusan temen-temen gua. Nanti mereka makin benci sama elo. Gua jadi bingung harus belain siapa" ucap Riska, melihatku.


"Hm?, gak pp sih kalau mereka benci ke gua. Gua gak begitu peduli sama pendapat orang lain tentang gua. Gua cuman peduli kalau emang gua udah beneran salah. Dan lo belain aja temen lo itu, kan temen elo, hehe. Lagian lo kenapa ngikut mereka terus. Gua sebenarnya gak mau ikut campur soal urusan orang lain. Tapi, hati gua gak bisa" ucapku, sedikit tertawa.


"Hnf, mereka itu temen gua dari kecil. Kita udah sahabatan lama. Sama kek lo dan si Greysie. Dan gua gak bisa ngelarang mereka buat lakuin apa yang mereka mau. Itu terserah mereka mau ngapain. Makannya gua ikut, dan gua juga gak sebaik yang lo kira. Gua juga bisa lakuin hal yang mereka lakuin ke elo" ucap Riska, menjelaskan.


"Really? terus kenapa lo gak lakuin itu ke gua? why temen-teman lo gak ngebully gua juga setelah gua ikut campur urusan kalian" tanyaku, melihatnya.


"Hm, gitu ya. Tapi gak pp sih, lo gak perlu belain gua. And.. soal omongan lo tadi, lo beneran bisa lakuin yang mereka lakuin ke gua? terus kenapa gak lo lakuin aja?" tanyaku.


"Ya, gua gak mau. Gua udah berubah semenjak kenal sama elo. Lo kira gua pernah sebelumnya seterbuka ini sama orang lain? sama temen gua aja gak pernah. Tapi elo udah ngerubah gua banget. Dulu gua sering ngebully orang lain buat ngelampiasin amarah gua ke mereka, meskipun gua tau mereka gak salah apa-apa. Tapi gua sadar sekarang, kalau gua udah salah banget sama mereka" jelas Riska padaku.


"Hmm" ucapku, bertumpang dagu, melihatnya.


"Btw. Lo kenal bokap gua dari mana? kok kalian kelihatan deket banget.


"Em, gua pernah ketemu sama bokap lo di lomba seni internasional. Dan bokap lo tertarik sama lukisan gua. Terus bokap lo beli lukisan gua itu, and.. gua kan saat itu lagi buat usaha. Lo tau kan? tempat lest gua. Nah, bokap lo ngedukung gua. Jadi bokap lo jadi pendana di tempat gua. And gua terima aja, karena ternyata bokap lo juga temenan sama ayah gua. Katanya mereka temen deket pas Sma. Jadi.. ya gitu" jelasku padanya.


"Hm, jadi semua lukisan yang ada di rumah gua itu, bokap beli dari elo?" tanya Riska.

__ADS_1


"Hm, gak juga sih. Keknya ada juga yang dari pelukis terkenal luar negeri. Tapi bokap elo emang sering beli punya gua. Soalnya banyak penyuka seni dari negara lain yang kepengen punya gua, tapi karena bokap elo udah jadi langganan gua. Biasanya gua kasih ke bokap lo aja" ujarku, menjelaskan.


"Lo kasih? percuma?" tanya Riska.


"Hm, iya, emang kenapa?" ucapku, tersenyum seketika.


"Gak pp. Pantesan bokap gua mau dengerin omongan elo. Ternyata kalian udah deket banget" ucap Riska.


"Hahaha, dia itu bokap elo. Lo cemburu? Hahaha. Dia itu sayang banget ke elo. Malah bokap lo sering cerita tentang lo ke gua. And kadang nanyain kabar lo di sekolah sama gua. Ya gua jawab aja" ujarku, memberitahu.


Memori-memori kenangan saat kami bersama terus terlintas di pikiran Riska. Di mana kami tertawa, saling ejek, bahkan curhat satu sama lain. Meskipun, aku hanya membahas tentang Greysie dan Heafen padanya.


Riska tiba di rumah sakit. Ia melihat Heafen dan Aaron bertanya pada resepsionis. Lalu mereka pergi sebelum Riska bisa menyapa.


Kemudian Riska juga mempercepat langkahnya, lalu bertanya kepada resepsionis rumah sakit tersebut dengan pertanyaan yang sama.


Resepsionis memberitahu Riska kalau aku sedang berada di ruang Icu, di mana ruangan khusus yang di sediakan rumah sakit untuk merawat pasien dengan kondisi yang membutuhkan pengawasan ketat dari para dokter.


Kemudian Riska segera berlari mencari ruangan Icu. Beberapa saat kemudian, Haefen dan Aaron sudah tiba, diikuti Riska yang baru saja sampai.


Di depan ruangan Icu, terlihat Rasya sedang berbicara pada Aric. Sementara wajah cemas sangat terlihat jelas di wajah mereka. Bibi dan Lia juga tak henti mengusap air mata mereka yang terus mengaliri pipi mereka.


Greysie sedang berada di dalam ruangan icu untuk menemuiku, karena rumah sakit hanya memperbolehkan satu orang saja yang bisa mengunjungi pasien secara bergantian.


"Raa, jangan tinggalin aku pliss. Aku gak mau. Cuman kamu yang ngertiin aku selama ini. Cuman kamu yang selalu ada untuk aku. Kalau kamu pergi, ajak aku ikut kamu. Aku gak mau sendiri. Kamu udah janji kalau kita bakalan sama-sama terus. Maafin aku, aku cuman kepengen kita buat cepat selesain semuanya, supaya trauma kamu gak terlalu ngegerogoti hati kamu terus, karena aku gak bisa lihat kamu terus-terusan kek gitu. Maafin aku," ucap Greysie, gemetar. Sedang tangannya memegang tanganku.


Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Namun, ia juga terus menatap benci ketika mengingat seseorang yang telah mencelakai diriku saat itu.


"Gua bakalan balas elo berkali-kali lipat karena udah buat Cara jadi kek gini" batin Greysie, sedang matanya menatap benci.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2