
Dia adalah sahabat sejatimu, selalu memberikan semangat padamu untuk tetap berjuang, kata sabar untuk tetap melangkah, kata bangikt bila kau terjatuh.
Tempatmu menceritakan semua masalah, dia selalu membantumu untuk keluar dari rasa sakit yang kau rasakan. Tapi, kamu menangis tak henti saat menyadari bahwa dia sudah terbang bebas, membebaskan diri dari belenggu dunianya.
Rasa tangismu semakin menusuk jauh ke dalam lubuk hatimu. Kamu berpikir bahwa dialah yang selama ini memberi dukungan serta bantuan untukmu, tetapi kini dia telah meninggalkanmu sendiri. Kamu lupa bahwa selama ini dia terlalu ceria untuk seorang manusia yang hidup di dunia yang sama denganmu.
********
"Fakta baru yang mengejutkan adalah keluarga Milstone dan Walker sebelumnya bekerja sama untuk mencuri ide milik ayah dari Cara Callista. Kemudian tak cukup mengambil ide, mereka juga membunuh keluarga dari ayah Cara Callista. Detektif Rasya yang sebelumnya menangani kasus pembunuhan berantai selama dua tahun terakhir menemukan rekaman video saat Cassie bersama pacarnya Bryan membunuh Arya Allen Wijaya pemilik perusahaan A. City Group"
"Menurut keterangan polisi Cassie bersama pacarnya Bryan bekerja sama untuk menjebak Cara Callista agar bisa membebaskan kedua orang tua Cassie dengan cara melimpahkan semua kesalahan pada Cara Callista. Namun, naas. Setelah bebas dari penjara mereka malah saling membunuh satu sama lain karena merasa tak cukup dengan harta milik sendiri. Saat ini, warga berbondong-bondong melalukan aksi unjuk rasa untuk mengahancurkan perusahaan Electrik Group dan W. Elektrik. Bahkan, rumah mereka juga di datangi oleh amukan massa. Warga juga hampir saja membakar rumah mereka jika polisi tidak mengambil tindakan tegas untuk menghentikan amukan massa. Sedangkan mayat mereka juga tak bisa di makamkan, karena penolakan dari semua warga.
"Perusahaan milik mereka benar-benar telah hancur karena amukan massa. Polisi juga sempat kesulitan mengontrol amukan massa. Selanjutnya, di dalam rumah keluarga Milstone di temukan ruangan rahasia yang berisikan banyak sekali tengkorak hewan maupun manusia. Tak sedikit juga tubuh asli hewan serta manusia yang sengaja di awetkan dan di pajang sampai tersusun rapih seakan sudah menjadi hobi mereka sejak lama"
"Sementara itu, di dalam ruangan bawah tanah, di mana ruangan tersebut pernah di periksa oleh polisi saat penangkapan Milstone dan Lubis pertama kali. Di dalam ruangan itu juga tak kalah mengejutkan, di mana banyak tengkorak manusia juga hewan. Sebelumnya polisi mengira semuanya adalah perbuatan dari Cara Callista yang menyimpan semua anggota tubuh hewan manusia, juga tengkorak di sana untuk membalas dendam, akan tetapi itu adalah perbuatan keluarga Milstone sendiri, dan mereka sengaja menjebak, dan memanfaatkan kejadian yang menimpah keluarga Cara Callista sebelumnya dengan iming-iming pembalasan dendam"
Greysie lalu mematikan tv di kamarnya. Ia melihat jam tangan, lalu berangkat ke sekolah. Sedari tadi ia sudah bersiap-siap sambil telinganya mendengar berita di tv tersebut.
Saat ini hari senin telah tiba, kami dalam pelaksanakan ujian kelulusan. Greysie kemudian segara turun, menyalakan mobil lalu menancap gas mobil miliknya.
__ADS_1
********
Tiba di sekolah. Mata Greysie melirik sekitar, mencari keberadaan seseorang yang ia tunggu-tinggu. Siapa lagi kalau bukan diriku, karena setelah aku di penjara selama 2 minggu, kemudian di bebaskan sekitar 1 minggu yang lalu. Aku langsung menghilang bagai di telan bumi, seperti tak ada tanda-tanda dari diriku.
Greysie juga telah meminta bantuan dari Hendry, namun ia tetap tak bisa menemukan keberadaanku. Sedangkan Rasya dan Heafen juga sibuk mencariku dengan cara mereka sendiri. Bibi dan Lia sudah tak bisa di pungkiri, mereka masih diliputi perasaan sedih yang mendalam serta cemas akan keadaanku.
Di dalam kelas, guru segera membagikan soal ujian pada seluruh siswa di bantu oleh ketua kelas kami. Riska, Alfie dan Greysie bersamaan melirik tempat dudukku yang kosong.
"Permisi bu. Maaf saya terlambat" sapaku pelan, membuat seluruh siswa di dalam kelas terfokus padaku. Sedangkan Greysie langsung berdiri sambil melihatku.
"Ra" ucap Greysie lirih, bernapas lega.
"Greysie, kamu ngapain berdiri? ujian sebentar lagi akan dilaksanakan. Kamu duduk, kalian juga ssstt, diam. Sekarang saatnya ujian" ujar Guru cewek berkacamata.
"Cara kamu silahkan masuk" ucap Guru, mempersilahkan.
Kemudian aku berjalan pelan ke tempat dudukku, sedangkan semua siswa masih terfokus padaku. Aku hanya diam dengan ekspresi datar, tak ingin melihat sekitar dan tak mau peduli. Jika tidak sedang ujian, mungkin aku akan memakai headed di telingaku saat ini. Mereka sangat berisik, namun wajahku nampak tak peduli.
"Ra, kamu dari mana aja? Aku cariin kamu" bisik Greysie, melihatku.
__ADS_1
Sedangkan aku tak memedulikannya. Riska juga ingin bertanya, namun aku melirik pelan guru yang duduk di depan kelas sambil mengeluarkan headsed bluetooth, lalu segera memutar musik dengan volume 99%. Karena aku masih saja mendengar suara, aku lalu menaikan lagi volume musik menjadi 100%, guru tak tau, aku juga tak begitu peduli.
Bell istirahat berbunyi, aku langsung berdiri dan mengumpulkan lembar jawaban ujian di atas meja guru tersebut. Greysie segera mengejarku, tangannya berusaha memegangku. Namun, tanpa melihat dirinya aku selalu menghindar sehingga membuat Greysie belum juga bisa menyentuh apalagi sampai memegang tanganku.
"Ra, Raa. Ra tunggu. Tunggu Ra, kita perlu bicara. Ra, Ra tunggu" panggil Greysie, sedang aku mengabaikan.
Greysie terus mengejarku sampai ke tempat yang sunyi. Setelah itu, ia menghentikan pergerakanku dengan cara memeluk erat. Aku hanya diam membiarkan dirinya sampai ia merasa capek sendiri, lalu aku segara pergi meninggalkan dirinya lagi. Namun, Greysie langsung berada di depanku untuk menghalangi, sedang aku tak mau melihat wajahnya, terus berpaling melihat ke arah yang lain.
"Ra, maafin aku. Maafin aku pliss, maafin aku. Maafin aku, maafin aku. Maafin aku Ra. Maafin aku, aku minta maaf. Maafin aku" ucap Greysie lirih, sambil memeluk dari depan sedang air matanya menetes. Aku tak membalas pelukannya dan hanya diam dengan ekspresi biasa seakan tak mau peduli, dan tak mau tau.
"Raa, maafiin aku. Pliss maafin aku. Aku gak mau kamu hilang respect gini ke aku. Jangan gituin aku Ra, aku tau aku jahat, maafin aku" ucap Greysie memegang kedua lenganku.
Sedangkan aku hanya melihatnya dengan ekpresi biasa. Mulutku juga selalu terkunci, lalu aku pergi meninggalkan Greysie lagi. Sehingga membuat Greysie langsung terjongkok sambil menangis terseduh-seduh.
********
Di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Aku berdiri di atapnya sambil melihat pemandangan kota jakarta saat malam, di mana lampu kota memenuhi area, terasa menangkan hati.
"Bunda, Ayah, Tiya. Kalian tenang aja, aku bakal nyusul kalian" ucapku, tersenyum.
__ADS_1
Bersambung...