
Polisi datang dan langsung membawaku ke kantor polisi untuk di introgasi. Aku menjawab semua pertanyaan mereka dengan sangat jujur. Alasan aku memukuli Kesya dan teman-temannya hanyalah karena saat itu aku sedang kesal dan mereka membuatku makin merasa kesal saja.
Bagaimana bisa mereka membully seseorang di depan mataku, apa mereka ingin segera mati di tanganku?
Besoknya, aku di bebaskan. Pacar Kesya yaitu Andrian Moris, bersama Ayah dan Ibu serta teman-teman Kesya menatap benci padaku. Mereka tak terima jika aku di bebaskan begitu saja. Namun, aku malah tersenyum saat melihat mereka, membuat mereka sangat kesal padaku.
Andrian dan ke lima sahabat Kesya ingin memukulku, namun pergerakan mereka terhenti karena di halangi oleh Rasya. Sedangkan Greysie langsung menatap tajam pada mereka semua, ia lalu menarik tanganku agar segera pergi dari kantol polisi tersebut.
Kami menginap di sebuah hotel, bernama hotel Pavillion. Setelahnya, semua kejadian seperti di bab sebelumnya.
********
(Plot Kejadian di Bab III, Part 1-2).
Selama dua hari aku berada di rumah sakit. Saat itu aku pingsan karena melihat ayah dan ibu Greysie bertengkar. Hari selanjutnya, aku telah di perbolehkan untuk pulang. Greysie lagi-lagi meminta diriku untuk menginap di rumahnya. Sedangkan aku hanya bisa menuruti kemauannya.
Selama dua minggu, Greysie berangkat sendirian ke sekolah. Sedangkan aku hanya berada di dalam rumahnya karena sebelumnya aku telah di skors selama tiga minggu karena memukuli Kesya dan teman-temannya.
Saat ini, tepatnya tiga minggu kemudian. Pada hari minggu, Greysie memberitahu diriku tentang sebuah informasi terkait Vanya dan Raya yang telah membully Cassie.
"Raa" panggil Greysie, menatapku.
Namun aku tak menjawabnya, mataku terpejam sedang telingaku sedang mendengar alunan musik indah di telingaku yang berjudul Ludovuco Einaudi Eksperience.
"Ckk!" Greysie mendesik kesal sambil bersilang tangan saat melihatku.
Ia lalu mengambil gunting dari dalam laci dan duduk di sampingku. Ia juga segera mengambil headed dari telinga kananku dan langsung di pakainya ke telinga kirinya. Hal tersebut membuat mataku terbuka dan langsung menengok ke arahnya dengan tatapan biasa.
"Lagunya kalau gak sedih pasti aneh" ucap Greysie, sangat pelan. Namun aku tetap bisa mendengarnya.
Tangan Greysie bergerak untuk menggunting headsed kananku. Sedangkan aku hanya diam sambil melihat hal tersebut.
Tak puas ia memotong headaed sebelah kananku. ia juga segera memotong headsed sebelah kiriku.
Aku hanya diam saat melihat Greysie memotong kedua tali headsed milikku. Lalu aku segera beranjak turun dari tempat tidur.
"Ra, kemarin aku lihat Vanya dan Raya ngebully Cassie" ujar Greysie, membuat langkah kakiku terhenti. Ia melanjutkan perkataannya,
__ADS_1
"Terus Cassie mukul Raya parah banget sampai Raya harus di rawat di rumah sakit" lanjut Greysie, memberitahuku.
"Malam ini aku tidur di rumah aku" ucapku, singkat sambil berjalan keluar kamar.
"Gak boleh!" ujar Greysie, berteriak. Ia segera mengejarku.
"Mau kemana lagi sih, Ra" ucap Greysie menarik tangan kiriku, sehingga membuat aku harus melihat ke arahnya.
"Hmf," menghela napas, "Grey, aku hauss. Mau minuum" ujarku, sambil menunjuk arah dapur.
"Gak percaya! Ntar tiba-tiba ngilang lagi. Capek aku cariin kamu, Ra! tiap saat ngilang mulu, kek emang gua salah apaaa??" keluh Greyesie, tak mau melepaskan genggaman tangannya.
"Bibiiiiii......!" teriakku, keras.
Sontak bibi yang mendengar suaraku dari dapur terkejut, lalu ia segera berlari menghampiri kami. Sedangkan Greysie hanya tersenyum puas karena berhasil mengerjai diriku.
"Iya, ada apa neng?" tanya bibi dengan nada takut.
"Maaf bi, aku gak maksud buat nakutin bibi. Aku cuman mau minta tolong buat ambil minuman **** di dapur. Dia gak biarin aku pergi soalnya" jelasku pada bibi.
Sontak bibi langsung melirik Greysie, sedangkan Greysie hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahu dan kedua alis mata sambil mengerykan bibirnya.
Sesaat kemudian. Bibi datang membawa minuman **** dan cemilan.
"Ini neng, bibi taruh di meja ya" ujar Bibi, menaruh minuman dan cemilan tersebut di meja.
"Bibi gak perlu bawa kue juga. Aku cuman haus doang bi, gak laper" jelasku, melihat bibi menaruh minuman dan cemilan tsb.
"Gak pp neng, siapa tau nanti neng berdua udah laper" sambung bibi, ia segera berdiri berjalan keluar kamar.
Sedangkan aku berjalan masuk, sehingga membuat Greysie ikut karena ia masih menggenggam erat tanganku.
"Makasih, ya bi" ucapku, duduk di sofa sambil mengambil remot dengan tangan kananku.
"Grey, udah donk. Bisa lepasin ini?," mengangkat tangan, "sakit tau" ujarku, mengrykan kening.
"Gak!" ucap Greysie, singkat sambil melihat tv di depan kami.
__ADS_1
"Okey, okey. Gua bakal tidur di sini malam ini. Puas lo?" ujarku, bertanya dengan nada kesal.
Greysie tak memedulikanku, ia hanya terus menonton tv tersebut.
"Grey" panggilku, lirih. Namun ia tak juga memedulikan diriku.
"Aaah, kesel gua lama-lama. Mana headsed gua.. Kek.. njirr lah. Lo kalau punya dendam pribadi sama gua bilang aja Grey. Sakit tau" ujarku sambil terus melihatnya, namun tetap tak mendapatkan jawaban darinya.
"Hey?" panggilku sambil menjentik jari tepat di depan wajahnya. Namun genggaman tsb semakin kuat sampai terasa sangat perih.
"Grey, sakit tau. Aw, fuc*k!" ucapku, mencela mencoba melepaskan gengaman tangan Greysie dari lengan kiriku.
"Grey, Grey.. kuku kamu nyakar tangan aku. Hey! aah, aww, fuc*k!," aku mencoba melepas setiap jari Greysie yang menempel di kulitku.
Saat jari telunjuknya lepas, darah langsung keluar dari bekas kukunya tersebut.
"Oh my god! Grey!!" ucapku, membentak sambil berusaha melepas jari tengah dan jari manisnya.
Namun, ia malah meletakan kembali jari-jarinya ke dalam setiap bekas luka sebelumnya.
"Grey aah, emff," menahan napas berat, Grey..." ucapku, lirih sambil menatap dengan mimik wajah yang menahan rasa sakit.
Sedangkan tanganku juga berusaha untuk melepas genggaman erat tersebut dari lengan kiriku.
"Grey, maaf. Lo bisa gak sih, sifat kejamnya di turunin dikit kalau lagi sama gua haa," menahan sakit," argh, fuc*k! fuc*k!!" ujarku, mencela sambil menahan tangan Greysie yang mencengkram.
"Grey udahh. Ini sakit bangett, gak puas tadi Grey? Grey, Grey udahaa, aarhg" ucapku, sambil terus menarik tanganku.
Greysie semakin menggenggam tanganku sampai aku merasa semua kukunya masuk ke dalam dagingku. Ia sedari tadi juga hanya melihat tv dengan ekspresi datar. Padahal aku memanggilnya, namun ia tak mau melihatku.
Tangan kananku masih berusaha melepas genggaman tersebut sampai saat Greysie mau melepasnya, sehingga membuat aku langsung menarik dan memegang lenganku sambil berteriak kesal padanya.
"Fuc*k! ****! argh, fuc*k! Lo mau mati di tangan gua, hah?!" ujarku, langsung berdiri di hadapannya.
Sedangkan tanganku juga sudah meraba kantung celana belakangku untuk mengambil sebuah pisau lipat. Setelah itu aku langsung menginjak kaki Greysie dan menaruh bagian tajam pisau lipat tersebut ke lehernya. Namun, Greysie malah tersenyum saat melihatku marah besar padanya.
Setelah itu, ia melirik tangan kiriku yang memegang pisau, sedang darahku juga terus keluar dari bekas kukunya tersebut, sehingga terkena bajunya.
__ADS_1
"Sini, biar aku obatin" ucap Greysie, tersenyum sambil menjauhkan tangan kiriku dari lehernya.
Bersambung...