
Plaaaaaak......!
tamparan keras melayang di wajahku. Hal itu membuat aku memalingkan wajah, lalu meliriknya perlahan. Secera bersamaan jari telunjukku sedikit bergerak, namun aku masih tetap diam dan tak merespon apapun.
Sementara itu Greysie hanya melihatku sebentar. Kemudian ia memalingkan wajahnya seakan tak peduli dengan apa yang terjadi.
"Fuuuck.... Bunuh gak ya?" batinku.
"Hmm, jangan deh. Gua peduli sama dia" lanjut batinku.
"Ternyata elo, yaa!" ucap Riska, jari telunjuknya menunjuk wajahku.
"Maksud?" tanyaku, singkat.
"Udah jangan pura-pura lagi lo, anj*ing!" cela Riska.
"What the fuckk is happened?" batinku.
Mindy datang dan langsung menyiramku dengan minuman cokelat. Aku melihat bajuku dengan ekpresi datar, lalu aku tersenyum padanya.
"Hmm, thank u. Gua emang mau warnai baju ini" ucapku, berterima kasih pada Mindy.
"Lihat kan Ka, dia emang ngelunjak anaknya, selama ini dia udah nginjek-injek harga diri elo Ka" ujar Mindy melihat Riska.
"Masalah apalagi sih? Gua baru masuk juga. Ni Riska kenapa ikut-ikut, udah mau dia ngebully gua sekanarang? Hnh" batinku, lalu aku sedikit ersenyum miring.
Kemudian Zey, Putri dan Raya datang untuk menghampiriku. Putri menarik paksa tangan Raya, dan ia terpaksa ikut.
"Kalian mau nuduh gua apaan, sumpah" tanyaku dengan mimik wajah biasa.
"Anjirr, ta*ik loo!" cela Zey langsung menarik tanganku, sedangkan Putri mengambil spidol berwanah milik salah satu siswi di kelas kami.
Kemudian Putri mulai mencoret bajuku dengan tulisan Pembunuh, sedangkan aku hanya diam dengan apa yang mereka lakukan.
"Pembunuh? Hnh, I'm killer? Hahaha... Pengen ketawa sumpah. Dapat info dari mana mereka," melirik Cassie, "Oowh, dari manusia sok polos itu. Hnh, hahahaha... Sialan..." batinku.
"Lo yang udah bunuh Vanya kan? Ngaku lo!" ujar Zey, sambil memegang kerah bajuku.
Sementara itu, aku langsung berbisik pada Zey lalu tersenyum biasa.
"Iya, kenapa?" bisikku, lalu tersenyum kecil.
"Anj**ng!" maki Zey lansung menamparku.
Plaaaaaak.....!
Aku memalingkan wajah dan sedikit menunduk, sementara bibirku pelan tersenyum sementara tanganku mengelap darah yang keluar dari bibirku.
"Owwh, c' moonnn.... Don't make me your villain" batinku.
Greysie melirik lagi, tetapi dia tetap diam sambil merobek kertas sampai benar-benar menjadi potongan kecil. Sedangkan Riska dan Putri penasaran apa yang aku katakan pada Zey.
"Dia bilang apa, Zey?" tanya Putri.
"Anj*ng, dia bilang iya ke gua. Dia ngaku kalau itu emang dia" jelas Zey pada mereka.
"What? Ngomong apa ni anak? Dia sengaja pengen buat temen-temen gua makin marah?" batin Riska.
"Anj*ng! udah gila kali ya" maki Riska dan Putri bersamaan.
"Kalian denger kan? Dia ngaku sendiri kalau itu emang dia" ujar Putri pada siswa-siswi di dalam kelas, membuat mereka serempak berteriak.
"Huuuuuuuuu" teriak siswa-sisiwi.
Mereka lalu mengambil kertas dan melemparkannya padaku, semua barang tertuju padaku dan aku hanya diam.
"Greysie kenapa cuman diam aja? Keknya gua emang harus main tangan, sorry Ra" batin Riska.
"Dasar pembunuh!" maki Riska.
"Punya bukti?" tanyaku pada Riska.
"Anj*ng! lupa ingatan yaa!? Barusan loe sendiri yang bilang ke gua kalau loe yang udah bunuh Vanya, gila kali ya!" sela Zey.
"Mana buktinya kalau gua bisik kek gitu, bisa jadi elo ngarang sama ucapan lo" sambungku dengan ekspresi biasa.
"Lo ngarang, Zey?" tanya Riska sedikit berbisik. Sedangkan aku hanya menyimak.
"Ya gak lahh. Masa loe lebih percaya sama dia daripada gua sih, Ka" jawab Zey, wajahnya memalas.
"Gua percaya ama lo, Zey" sahut Putri.
"Gua juga percaya" sambung Mindy.
"Ka, dia emang hobi banget mainin orang. Lo gak sadar selama ini? Kata-kata dia itu sering banget manipulatif semua orang di sekolah ini, bener atau gaknya perkataan dia, orang-orang bakal percaya" ujar Zey.
"Iya, bokap loe aja sampai hukum loe cuman gara-gara dia. Gua yakin kalau otak bokap loe juga di manip sama dia" sambung Mindy.
"Tau apa lo pada?" batin Riska.
"Kalau gitu gua duduk dulu. Thank u cokelatnya, manis" pamitku, tersenyum biasa.
Namun mereka tak suka dengan senyumanku, menurut mereka aku seperti mengejek.
"Elo, anj*ng!" cela Riska sambil menarik rambutku dari belakang. Sementara itu aku hanya menatapnya.
"Hmm," melirik Greysie, "Gua biarin lo Ka. Gua mau lihat apa Grey bener-bener udah gak peduli sama gua? Dari kemarin sikapnya aneh banget" batinku.
"Siksa gua semau lo" batinku, lalu aku tersenyum kecil.
Sementara Riska yang sedang menatapku nampak mengkerutkan kening karena merasa heran melihatku tersenyum
Riska kemudian mendorongku sampai membentur dinding kelas.
"Aaaaish, fuuuh" ucapku, menghela napas.
"Elo masa gak bisa mikir sih? Mana ada maling yang ngaku? Kalau gua ngaku berarti bukan gua" jelasku pada Riska.
"C' moon Kaaa, bully gua. Gua juga mau lihat apa lo beneran bisa main tangan gua? Kalau iya, berarti lo punya potensi untuk ngebunuh gua. Hnh, hahahaha" batinku.
"Ka, jangan percaya omongan dia. Lo jangan kemakan omongan dia lagi" bisik Zey.
"Iya, bener tu Ka" sambung Putri dan Midy, sahut- menyahut.
Riska kemudian membuatku berdiri, lalu mendorongku ke dinding. Ia memegang kerah bajuku dan berbisik padaku.
"Loe apain bokap gua sampai dia belain loe terus?" tanya Riska berbisik.
Mendengar ucapan Riska hampir saja membuatku tertawa lepas, namun aku berusaha untuk menahan senyuman di wajahku.
"Oh, god... I like this drama, hamir aja gua nangis" batinku.
"Maaf, maaf. Gak sengaja" ucapku, masih menahan senyum di bibirku.
"Hmm, lo keknya emamg sengaja main-main sama gua, Ra. Ok, gua turutin kemauan lo. Lo mau lihat sifat jahat gua kan?" batin Riska.
Kemudian Riska mulai mencekik leherku membuat wajahku menjadi memerah karena kehabisan oksigen.
Sementara itu Alfie tak tahan melihatku, ia langsung berdiri dan berteriak pada Riska serta teman-temannya.
"Stop! kalian stop!" teriak Alfie langsung menghampiri Riska dan berusaha untuk melepaskan tangan Riska.
"Uhuk, uhuk, uhuk," memegang leherku, napas tersentak.
"Si-alan... Kenapa gak di biarin aja si Riska. Gua mau lihat reaksi Grey gimana. Kenapa ni cowok ikut campur lagi" batinku.
"Kamu gak pp?" tanya Alfie, dan aku mengangguk.
"Kamu kok gak ngelawan, Ra?" tanya Alfie.
"Gak pp. Aku cuman capek aja, uhuk-uhuk" jawabku, lirih.
"Ah? sorry-sorry aku gak denger. Kamu ngomong apa barusan?" tanya Alfie lagi.
"Gak, aku gak pp" jawabku.
Kemudian Alfie berdiri dan melihat Riska serta temen-temannya.
"Kalian ngapain? Nuduh Cara sembarangan gitu hah?" tanya Alfie.
"Ckk! Sialan!" umpat Riska, dalam hati.
Muka Riska sangat tidak enak jika di pandang, wajahnya semakin malas, ia mulai mengepalkan tangan sambil menatap tak suka pada kami.
Greysie sedari tadi hanya diam, yang ia lakukan hanyalah merobek kertas bukunya sampai menjadi potongan-potongan kecil.
Tak lama setelah itu, bell pulang berbunyi dan Greysie langsung berdiri. Ia pergi begitu saja, tanpa melihatku sedikitpun.
"Owhh, shitt! Tell me this not really happen? What happen with my best friend? Is she really don't care about me?" batinku.
"Makasih Alfie, aku pergi" pamitku langsung mengejar Greysie.
"Tung..." ucap Alfie tak selesai, sambil melihat aku berlari mengejar Greysie.
"Grey, Grey...." panggilku. Namun Greysie tak mau berhenti sementara aku terus mengerjarnya.
Setelah sampai di depan mobil miliknya, Greysie ingin membuka pintu mobil, namun aku langsung menghalanginya.
"Biar aku yang nyetir" ujarku, merampas kunci mobil miliknya.
Di dalam mobil suasana terasa sangat hening. Tak ada yang berbicara di antara kami.
"Keknya gua harus ngomong dulu. Apa gua bilang aja kali ya kalau gua selama ini sering ngelakuin hal-hal aneh kalau sendiri" batinku.
"Kamu udah beberapa hari diemin aku, Grey. Gak pp kamu diemin aku, tapi pliss jaga kesehatan, aky perhatikan kamu malah terus lihatin sesuatu di laptop kamu, emang itu apaan? Aku boleh lihat gak?" tanyaku.
"Gak!" jawab Greysie, ketus. Sontak aku langsung melihat kearahnya.
"Udah mau bicara lagi?" tanyaku, namun ia lagi-lagi diam.
"Ni anak... Kok ngeselin banget" batinku.
"Hey, kok jadi loe yang marah ke gua? Harusnya gua yang marah, kalau gua udah gak bisa balik kek dulu lagi, loe mau gitu?" tanyaku.
Sementara itu Greysie langsung melirikku dengan mimik tak suka.
"Yaudah pulang aja sana, ngapain ke rumah gua lagi, barang loe udah di rumah loe semua kan? jadi ngapain ke rumah gua lagi?" jawab Greysie, dengan mimik kesal.
__ADS_1
"Nah, akhirnya bicara juga" ucapku.
"Gua balik itu karena khawatir sama loe anjirr, selama lo buat gua kek orang gilaa, ternyata bokap loe udah..." jelasku terhenti berkata.
"Udah apa? Udah mati? Gak usah di tahan, tinggal bilang aja udah mati!" sambung Greysie dengan nada suara yang sangat menjengkelkan jika di dengar.
"Oh may god! fuckk!" ucaoku, menghentikan mobil. Greysie sama sekali tak peduli.
"Uuuuff... fuuuuuh... Sabar, sabar" bisikku pada diriku sendiri.
"Grey..." panggilku, melihat kearahnya. Namun Greysie hanya diam.
Kemudian aku mulai mencurahan isi hatiku pada Greysie. Aku tak pernah berbicara banyak seperti itu sebelumnya menyangkut kelemahan atau ketakutanku. Bahkan aku mengatakan padanya tentang hal yang akan aku lakukan jika berada sendiri di rumahku saat malam tiba.
"Dunia ini emang menakutkan, Grey. Alasannya karena kita terus di paksa untuk tertawa, selalu tersenyum. Padahal saat malam... Kita sama-sama berusaha keras supaya gak ninggalin bekas-bekas goresan" lanjutku.
Greysie masih tak mau melihatku. Namun aku masih bisa merasakan perasaan darinya yang menembus tepat di hatiku, rasa sakit itu memang nyata adanya. Aku melihat bayangannya dari kaca hitam mobil setelah terkena cahaya dari kendaraan yang lewat.
Greysie tak bisa menyembunyikan dirinya yang sedang menangis setelah mendengar perkataanku padanya.
"Gua kira Grey udah gak peduli" batinku.
Setelah itu, aku tak mau lagi berbicara. Aku tak ingin memperkeruh suasana karena aku berpikir dia mungkin masih sangat marah padaku. Entah apa yang membuatnya sampai begitu marah.
Sesampainya di dalam rumah Greysie, ia langsung berbaring sedang aku duduk sambil menatapnya.
"Gua salah apa sih Grey?" batinku.
"Apa mungkin... Pas gua sakit kemarin gua ngatain sesuatu yang gak-gak ke dia? Lagian dia kenapa maksa gua untuk minum obat tidur terus? Sebenarnya dia ngapain sih?" batinku.
"Gua harus periksa laptopnya. Keknya ada sesuatu di situ" batinku.
Beberapa jam berlalu, sekarang sudah pukul 21:20 malam. Greysie sedang duduk di tempat tidur, sementara itu aku merasa sedikit gelisa sedari tadi siang. Hal itu karena lukaku terus berdenyut, namun Greysie nampak tak peduli.
"Ssshhh," merintih.
"Apa harus di ganti perbannya? Udah berapa hari ini gak di ganti? Biasanya Grey yang...," melirik Greysie, "Tu anak lupa? Atau gak gimana?" batinku.
"Gua ganti sendiri aja, dari pada harus nahan sakit semalaman" batinku.
Kemudian aku beranjak dari tempat tidur untuk mencari kotak Pk3. Sementara itu, Greysie sesekali melirikku. Setelah menemukan kotak Pk3, aku kembali ke tempat tidur dan mengganti perban di lukaku.
Perlahan aku membuka perbannya, dan membuang perbannya ke tong sampah. Lalu aku mengambil cairan anti septik dan meyiramnya ke lukaku. Tanganku seperti ragu-ragu untuk mengobati lukaku, lalu aku melirik Greysie.
"Emmf, Grey... Aku lagi ganti perban ini loh" ujarku, melihatnya.
Namun Greysie hanya diam dan tak menjawabku. Kemudian ia berbaring membelaiangiku dengan perasaan gelisa.
"Gua harus cuekin Cara, tapi apa benar kek gini? Kalau Cara sakit gimana?" batin Greysie.
Melihat Greysie membuatku menghela napas secara pelan. Aku pun segera menuangkan cairan ke dalam rukaku tanpa ragu lagi.
"Aahsshh..."
Kemudian aku segera menuangkan obat anti biotok dan mengganti perbannya.
"Hmhmm~," gemetar.
Setelah selesai, aku lalu menyimpan kotak P3k di samping tempat tempat tidur dan langsung berbaring.
"Keknya gua harus beneran periksa isi laptop Grey" batinku.
Beberapa jam kemudian, pada pukul 02:10 tengah malam, aku terbangun dan segera memeriksa laptop milik Greysie.
"Kok pakai password, sih? tumben banget" batinku.
"Hm, masang password tapi gak ada susah- susahnya, i'm your best friend Grey, easy for me" batinku, sementara aku melihat Greysie yang tidur.
"Sebenarnya apa yang Grey lihat di sini" batinku masih bertanya.
Setelah itu, aku mulai memeriksa semua file di laptop miliknya, memutar video dan melihat semua foto. Tetapi aku hanya menemukan foto dan Video kami, dan layaknya anak sekolahan pada umumnya, laptopnya hanya di penuhi tugas dari sekolah.
Namun tak lama kemudian, aku teringat akan sesuatu sekitar seminggu yang lalu, sehari setelah aku pergi dari rumah Greysie. Aku balik ke rumahnya untuk mengambil barang-barangku. Saat itu Greysie sedang sakit, jadi aku hanya sehari berada di rumahku dan memilih untuk menemaninya, meskipun aku sedang marah padanya.
Saat itu ada seseorang datang untuk mengantarkan kiriman pada Greysie. Setelah aku membuka paket itu, ternyata ada sebuah flashdick di dalamya.
Setelah aku mengingat kembali hal itu, aku langsung mencari flashdik itu, tetapi tak bisa menemukannya.
Kemudian aku melihat Greysie dan secara pelan aku mulai menggeledah dirinya, ternyata flashdisk itu ada di dalam kantung celananya.
"Kok di simpen di kantung, sih" batinku, keheranan.
Setelah itu, aku langsung memasang flashdisk tersebut ke laptop milik Greysie. Di dalamnya terdapat sebuah video dengan beberapa foto.
Melihat video dan foto itu, membuatku sangat terkejut dan mulai memikirkan semua hal-hal yang aneh.
"Kok..," membulatkan mata, "Ini kok..." batinku, lalu aku melirik Greysie.
Video tersebut memperlihatkan aku yang sedang berjalan memakai jubah berwarna hitam, sedang tanganku memegang sebilah pisau.
Beberapa foto di dalamnya memperlihatkan seseorang yang juga memakai jubah berwarna hitam sedang asyik membunuh ayah Greysie. Wajahnya tak terlihat jelas, karena foto tersebut membelakangi kamera.
"Hah? kok, ini... Grey," melihat Greysie, "Aku... itu bukan aku. Gak, itu bukan aku" batinku.
"Tapi kok video ini... tempatnya sama kek di foto ini? Oh may god Grey, jadi selama ini loe pikir gua yang ada di foto itu?" batinku, sambil melihatnya.
"Makanya loe terus diemin gua? Loe pikir itu gua, Grey?" batinku.
Motorku melaju, aku pergi dari rumah Greysie, lalu berhenti di suatu tempat. Di tempat itu aku pergi ke toiletnya. Di dalam toilet, aku terus mencuci wajahku sambil melihat bayangan diriku di dalam cermin tersebut.
"Mata itu!" batinku, lalu aku mengepalkan tangan.
Besonya, Greysie bangun. Ia melihatku tak ada di dalam kamar, lalu ia melihat ke samping.
"Kok laptop ini...." batin Greysie, matanya membulat ketika melihat flashdisk.
Greysie segera memeriksa laptop miliknya dan melihat kembali isi flashdik itu.
"Ra, kamu lihat ini?" batin Greysie.
Setelah itu, Greysie bergegas untuk mencariku sambil juga menelponku. Tetapi aku mematikan telpon milikku agar Greysie tak bisa mencariku.
"Ra, c' moon. Kok di matiin sih hanpdhonenya. Kita gak boleh ke pisah, Ra. Kalau ke pisah gini si Bryan sama Cassie akan ngambil kesempatan buat nyerang salah satu dari kita" batin Greysie.
Greysie lalu memeriksa telpon miliknya untuk memerika lokasi terkahirku. Setelah itu ia begegas pergi ke tempat dimana aku berhenti untuk membasuh wajahku, dan juga memeriksa Cctv di sana.
Setelah itu, Greysie segera meminta bantuan Hendry untuk mencari tau tentang keberadaanku.
"Om, pliss cariin Cara cepetan. Aku takut dia kenapa-kenapa" pinta Greysie.
"Iya, iya. Om akan cari secepatnya. Kamu tenang ya, om akan berusaha cari dia" ujar Hendry.
"Secepatnya om. Aku gak boleh ke pisah sama Cara, apalagi kondisi Cara sekarang belum sepenuhnya sehat" ujar Greysie.
"Iya, iya. Kamu tenang ya. Om akan usahain" ucap Hendry.
Setelah selesai menelpon Greysie juga mencariku kemana-mana. Bahkan dia mengunjungi semua tempat yang biasa kami tuju, namun tetap tak bisa menemukanku.
Besoknya, Greysie masih belum menemukanku. Ia bahkan mencariku sampai ke luar kota. Namun tak menemukan jejakku sedikitpun.
Sementara itu, aku hanya terus menghindari cctv dan mengganti semua pakaianku. Sampai sekarang aku belum tidur, lalu aku mencari sebuah tempat yang bisa aku sewakan dan terhindar dari cctv jalanan.
Di dalam kos sederhana. Aku langsung duduk bersender ke dinding sambil memegang kepala, menarik rambut, membasuh wajah dan terus mencoba untuk menenangkan.
"Hmf, sial. Sialan... Sialann... Kenapa? Kenapa semua ini terjadi? Gua gak ngerti, sebenarnya apa yang terjadi pas Grey nyuruh gua minum obat terus? Apa dia sengaja nyuruh gua minum? Bukan gua kan yang udah bunuh Papanya? Sumpah gua gak inget apa-apa selain Grey yang natap benci ke gua. Apa... Gak, gak mungkin. Gak mungkin gua. Gua yang nyuruh Grey untuk ngasih kesempatan sama Ayahnya, jadi gak mungkin gua. Tapi... Ap-pa, apa dia? Jangan-jangan gua gak sadar saat itu, gak-gak. Gak mungkin, gak mungkin, gak mungkin..." batinku.
"Gak mungkiiiinnnnn....." teriak batinku.
"Itu gak mungkin gua, gak mungkin... Gak, gak, gak, gak mungkin" batinku.
Kau ingin Ayahnya membunuhnya atau kau yang membunuh Ayahnya?
Suatu saat, aku... Akan menguasai dirimu dan aku akan membunuh sahabtmu itu, membunuh sahabatmu, hahahahahaha...
Ingatan tiba-tiba terlintas di mana aku mendengar suara-suara di kepalaku. Hal itu membuatku semakin tak sulit untuk mengendalikan diri. Aku terus memegang dan memukul kepala, sedang isak tangis kecil terdengar memebuhi ruanhan sampai aku tertidur.
Besoknya, tepatnya dua hari kemudian pada pukul 10:00 malam. Aku melihat berita tentang keluarga Bryan yang mengambil alih perusahaan keluarga Milstone untuk sementara waktu.
Hal itu membuatku sangat marah sehingga aku memutuskan untuk pergi ke salah satu museum Electrikal Gruop untuk melihat langsung seberapa besar perkembangan bisinis lain perusahaannya saat di ambil alih oleh keluarga Walker. Setelah itu, aku bergegas pergi ke tempat yang museum Electrikal.
Sementara itu beberapa saat kemudian, di rumah Bryan. Bryan dan Cassie sedang berbicara tentangku.
"Gimana babe? Udah ketemu si Cara? Aku mau, aku yang ngebunuh dia pakai tangan aku sendiri" ujar Cassie.
"Iya, barusan anak buah aku nelpon. Katanya si Cara ada di museum milik keluarga kamu" kata Bryan, menjelaskan.
"What?! Hnh, punya nyali juga dia terang-terangan muncul di tempat orang tua aku" ujar Cassie.
"Babe, aku pengen bunuh dia babe. Kita ke sana ya gimana?" pinta Cassie.
"Hmh, yaudah kita tungguin dia keluar dari museum itu dan culik dia secepatnya" ujar Bryan.
"Kalian....! Cepat siap-siap. Kita berangkat sekarang!" perintah Bryan.
Kemudian Bryan dan Cassie bersama anak-anak buah mereka segera berangkat sampai mereka berada sedikit jauh dari museum. Mereka menungguku untuk keluar, dan menunggu di tempat yang tak ada cctvnya.
Sementara itu di lain tempat, suara telpon Greysie berbunyi. Ia pun menjawabnya.
"Udah ketemu om?" tanya Greysie.
"Iya, Grey. Cara ada di salah satu museum Electrikal Group" jawab Hendry.
"Maksih om" ucap Greysie segera menutup telpon.
Kemudian Greysie begerak secepat mungkin, mobilnya melaju melewati setiap kendaraan.
Tiba di depan museum. Greysie berlari, masuk ke dalam museum tersebut dan mulai mencariku di semua tempat.
Sementara itu, aku sedang memandangi foto keluarga Cassie, tanganku mengepal sedang mataku menatap benci.
"Hnh, so.. Keluarga si Bryan yang ambil alih perusahaan mereka untuk sementara" batinku, tanganku mengepal, menatap benci.
"Sialan....!" gumamku.
"Ra....!" panggil Greysie.
Mendengar suara yang tak asing membuatku menoleh sumber suara tersebut.
__ADS_1
"Grey...?" gumamku, melihat kearahnya.
Saat melihatnya, aku langsung bergegas pergi dari sana. Namun ia mengejarku.
"Ra...! Ra tunggu Ra, Raaa!" panggil Greysie terus mengejar.
Beberapa menit kemudian, aku berhenti dan masuk ke dalam sebuah ruangan. Menunggu beberapa saat, kemudian keluar.
Tetapi tak kusangka ternyata Greysie sedang menungguku di luar ruangan. Aku membuka pintu keluar dan segera melangkah pergi namun tak sengaja menabrak Greysie.
Brakk........!
Tanpa basa basi, aku langsung bergerak cepat untuk pergi lagi.
"Ra, tunggu Ra" ucap Greysie, langsung memegang erat tanganku.
"Kamu kenapa pergi gitu aja? Ninggalin aku tanpa sepatah kata, aku nyariin kamu kemana-mana" ujar Greysie.
"Aku harus pergi. Kamu lebih baik pulang ke rumah kamu dan ngabisin semua waktu sama mama kamu, dari pada sama aku" ujarku berusaha melepas genggaman tangan Greysie.
"Hey, kamu tau kan orang tua aku selalu sibuk, mau itu Papa atau Mama aku, mereka sama sibuknya. Mama juga sekarang gak ada di sini, dia lagi di LA" jelas Greysie, tangannya masih menggenggam erat tanganku.
"Kamu ngapain di siniiii?" tanyaku, memberontak ingin melepaskan diri.
"Aku cariin kamu Raa, ngapain lagi. Kamu pergi dan menghilang selama dua hari, emang kamu pikir aku gak khawatir?" tanya Greysie.
"Oo hooh, heh," tertawa kecil, "Khawatir...?" ujarku, sedikit tersenyum.
"Hah? Kamu sadar ngomong gitu ke aku?" tanya Greysie.
"Udahlah Grey, gak usah pura-pura khawatir. Aku tau kamu benci sama aku sekarang" ujarku, sambil melepas paksa tanganku dari genggamannya.
"Aku gak.. Aku gak ben..." ujar Greysie, belum selesai ia menjelaskan, aku langsung pergi meninggalkan dirinya. Ia mengejarku lagi.
"Hey Ra, stop!" panggil Greysie, ia langsung menangkap tanganku, lalu menggengam erat.
"Kamu kenapa pergi? Kalau kamu pergi gitu aja berarti kamu ngaku kalau itu emang kamu, kamu ngaku kalau semua itu emang perbuatan kamu" ujar Greysie.
"What?! What the fff... Hey elo yang ngasih gua obat tidur, si anj... erghhh sialll" ucapku, tak ingin mencela dirinya dengan mengatai anj*ng.
"Coba jelasin... Kamu ngapain di situ saat itu?" tanya Greysie.
"Hehhahahahaha... Fuuuuckkk" ujarku, tertawa heran.
"Sikap kamu yang kek gini, Ra. Kamu buat aku yang gak mau percaya, jadi percaya" ujar Greysie.
"Are you fuc*king serious right now? Lo sengaja ya buat gua kesel? Sengaja kan? Lagi acting kan loe sekarang?" tanyaku sedikit berbisik, lalu melihat sekitar, namun tak bisa menemukan siapapun.
"Gak, gak ada siapa-siapa di sini" jawab Greysie singkat dengan wajah datar.
"Fuckk... Really? Of course wajah gua ada di video itu karena hari itu kan kita berdua sama-sama ke bangunan itu" batinku.
Aku mengira bahwa di remakan video itu memanglah diriku karena saat itu aku sudah memulai rencanaku untuk mempertemukan Ayah Greysie dengan Bryan. Bahkan Greysie juga ada di bangunan itu dan bukan aku yang telah menyiksa Ayahnya melainkan dirinya sendiri kerana saat itu aku terluka akibat perbuatan Ayah Greysie.
"Hah, hahaha... You fuc*king kidding? Loe gak bo'ong kan?," wajah tak percaya, "Bisa-bisanya loe, video itu.. Itu emang gua, tapi foto itu.. Itu bukan guaa!" jelasku.
"Kamu ngapain di situ? Di tempat yang sama dengan orang yang ada di foto itu?" tanya Greysie.
"What the fuc*k is with you?! Heyy! Loe nuduh gua sekarang? Gua yang bilang ke lo supaya kasih kesempatan, sadar gak sih? itu bukan gua Grey, ada orang yang sengaja ngejebak guaa!" ujarku, kekeh menjelaskan.
"Ni anak lagi bercanda kan? Ngapain nanya kenapa gua di situ? Jelas-jelas dia tau alasannya" batinku.
"Kalau emang kek gitu, terus kenapa kamu malah pergi tanpa berkata apapun sama aku, Ra?" tanya Greysie.
"Oh may god, fuc*k! You already hate me Grey! Pantesan lo diam aja pas gua di bully sama mereka!" ujarku, membentak.
"Aku gak benc..." ucap Greysie. Namun, aku langsung memotong pembicaraan, tak mau mendengarkan.
"No, stop! You hate Grey, i know that. Loe sahabat gua, gua tau lo benci ama gua, loe gak perlu bohong, i know you hate me" tukasku, mataku berkaca-kaca.
"Ra, i know you kill..." ucap Greysie. Tak selesai ia berbicara, aku langsung menghentikan dirinya.
"It's NOT ME Grey!" selaku memotong pembicaraan.
"Oh may god Raaa... Sikap loe Ra! aku gak, kamu..." ujar Greysie meneteskan air mata.
"Grey, I'm nott a killer your dad " ucapku, melembut.
"And who's that?! If not you, terus siapa? And.. kenapa kamu pergi gitu aja ninggalin aku" tanya Greysie.
"What the fuckk!" batinku.
"Fuckk you! You hear me? Fuc-kk youu! I hate you Grey, kenapa jadi elo yang jahat sekarang sama gua? Sumpah. Gua bisa terima kalau itu orang lain, tapi kenapa jadi elo yang kek gini? Atau jangan-jangan mereka udah nyuci otak loe Grey, hah? Kok jahat banget, aku sahabat kamu, Grey!" ungkapku, berkaca-kaca. Greysie hanya diam menatapku.
"I..., "menahan tangis, "I can't, i can't pliss, just... kill me if that's what you want" ujarku, meneteskan air mata.
"Why should i kill you?!" tanya Greysie, heran.
"'Cause you already hate me now! Loe udah terlanjur benci sama gua sekarang!" bentakku.
"No, Ra. I don't hate yo..." ucap Greysie.
"Stopp! Gua gak mau denger, i'm leaving!" ujarku, menyela, kemudian langsung pergi meninggalkan dirinya.
"Aku tau Raa... Aku tau kalau kamu yang udah bunuh Papa kamu sendiri" ujar Greysie, mengeraskan suaranya.
Seketika langkahku terhenti setelah mendengar perkataan dari mulutnya. Aku merasa seperti di terjang ombak besar, serta ter ombang-ambing di lautan yang luas.
"Ww.. w.. whaat? What did you said to me? i... i.. can't hear..." ucapku, tak mau percaya dengan apa yang barusan aku dengar.
"Say it! say it again!" bentakku.
"Aku tahu Raaa... Ak-kku tau semuanya, aku tauuu...." jelas Greysie.
Mendengar ucapannya, sontak membuatku tak bisa berkata-kata lagi, badanku terasa kaku, lemas seketika. Air mataku ikut menetes, sedang kakiku melangkah dengan sendiri menjauh untuk darinya, aku mendengar sesuatu namun tak jelas.
Semuanya hanya seperti gelombang suara yang memasuki telingaku, rasanya seperti aku tak sadar. Kemudian aku pergi meninggalkan Greysie sendiri.
Setelah aku meninggalkan Greysie sendiri, ia mulai merasa bersalah dan cemas terhadapku. Greysie segera berlari untuk mengejarku, namun ia tak bisa menemukanku. Karena merasa cemas ia mulai menelponku.
Sementara itu, aku sedang berjalan terus mengabaikan telepon darinya.
"Apa ada orang yang udah buat Grey sampai jadi kek gitu? Kenapa sikapnya berubah? Jangan-jangan Grey emang sengaja buat aku tidur? Kapan Papa Grey meninggal? Sebelum aku sakit atau sesudah aku sakit? Aku gak bisa inget, jangan-jangan Grey sengaja lagi buat aku kek gini karena dia udah benci sama aku? Atau karena dia udah tau tentang aku? Makannya dia nuduh aku sekarang? Apa aku mati aja kali ya? Tapi tujuanku belum selesai, aku harus gimana?" batinku, terus mengoceh sendiri.
Kamu tatap mata aku, Ra.
Tatap mata aku, tatap mata aku, tatap mata aku, tatap mata aku. Tatap, tatap, tatap, tatap...
Suara itu mengema di dalam kepalaku, sepertinya itu adalah ingatanku. Aku kemudian memegang kepala dengan kedua tanganku, berusaha untuk mengingat semuanaya kembali.
"Aaaaaargh...! Shitt! Aaaarghh.....! " teriakku, membanting telpon milikku.
Sementara itu, di dalam mobil Bryan. Mereka melihatku sedang membanting hp milikku.
"Babe, aku minta pistol dong" ujar Cassie
"Kamu mau ngapain, babe?" tanya Bryan, cemas.
"Udah siniin pistolnya" ucap Cassie, memaksa.
Bryan lalu memberikan pistol pada Cassie, sementara Cassie tersenyum saat memegannya.
"Alat peredam suaranya mana babe?" tanya Cassie, lagi.
"Babe, kamu mau ngapain? Kita mau nyulik dia kan babe?" ujar Bryan.
"Ckk! Udah siniin alatnya" paksa Cassie, dengan wajah kesalnya.
Bryan pun terpaksa memberikan alat peredam suara pistol padanya. Lalu Cassie mengambil pisau milik Bryan dan segera keluar dari mobil.
"Babe....! Babe tunggu...!" teriak Bryan.
"Ckk! Sialan....!" umpat Bryan, memukul setiran mobil.
Sementara itu, aku masih berjalan dengan pikiran dan perasaan yang tercampur aduk.
"Mengapa dunia sangat tidak adil padaku? Mengapa harus aku? Mengapa harus aku yang melewati semua ini? Semua orang sangat jahat, aku benci semua orang" batinku.
Kakiku terus melangkah, berjalan menuyusuri jalanan kecil. Aku masih setengah sadar, sehingga tidak memperhatikan ada Cassie yang sedang berjalan menghampiriku. Ia memakai topi dan pakaian serba hitam.
Sekitar tiga meter dari arahku, ia mulai mengeluarkan pistol dari dalam jaket miliknya. Saat itulah aku tersadar, membuat mataku membulat karena terkejut melihatnya. Cassie tersenyum, lalu menembakku berkali-kali.
Dorr....! Dorr....! Dorr.....! Dorr.....! Dorr.....!
Sementara itu, Greysie masih terus mencariku mengikuti arah Gps. Setelah ia sampai di lokasi aku membanting hanphone milkku, Greysie berbegas untuk mencariku lagi.
Di waktu yang sama aku mulai terjatuh. Cassie menghampiriku sedang aku melihatnya. Ia tersenyum lebar menandakan rasa puas yang mendalam.
"Hgssf, hegh... Cas-ssie... Hegh" ucapku dengan napas tersentak.
Aku memegang kaki Cassie. Namun hal itu membuatnya sangat kesal. Ia pun menginjak-injak tanganku sampai menendangku. Setelah itu, Cassie mengambil pisau miliknya dan menusukku berkali-kali.
"Hahahaha... Mati loe! Mati! Mati!" ujar Cassie, dengan wajah tersenyum puas.
Sementara itu, Greysie melihatku terbaring di tanah sementara seseorang menusukku berkali-kali. Matanya membulat dan ia pun segera berteriak sambil berlari.
"Heyy... Stopp!" teriak Greysie, berlari.
Cassie terhenti, ia berusaha untuk menutupi wajahnya. Kemudian ia berlari menjauh dari tempat aku berada. Sedangkan Greysie yang melihat hal itu segera menghampiriku.
"Raaaa!" teriak Greysie, menghampiriku.
"No, no, no, no... Noo... No... Raa... Raa... Ak... Maafin akuhuhu... Emgh... Huhuuu.... Help....! Hel me...! Please help me....! tolong....! Huhu... Gak, gak... Jangan tinggalin aku... Plis, plis jangan tinggalin akuhuhuuu...," Greysie menangis sampai teseduh-seduh.
Sementara itu, mataku sesekali terpejam. Sedangkan aku melihat wajah Greysie menjadi sangat buram. Aku pun berusaha untuk mengatakan sesuatu dengannya.
"Haaaa," menarik napas lemah.
"Ak... Ak..."
Namun tak selesai aku berbicara mataku langsung terpejam, sedang air mata kiriku ikut menetes.
"Ra..., no huhhhm... No, no..." gemetar.
Greysie lalu memeluk erat diriku dengan air mata yang memenuhi pipinya.
"Raa... Caraaa.... Huhuuuu, bangunn... Bangun Ra, jangan tinggalin aku sendiri... Bangunnn..." ujar Greysie, dengan tangisan.
__ADS_1
"Tolong.....! Pliss tolong aku....!" teriak Greysie, sambil menangis
Bersambung...