Ilusi

Ilusi
BAB 31 (Part 2)


__ADS_3

(Bab 3, Part 2). Di dalam rumah sakit, aku terkejut karena bermimpi. Bangun dengan napas tak beraturan, tanganku gemetar, ketakutan menyelimuti seluruh tubuhku, perlahan aku melihat kedua telapak tanganku, lalu melihat ke depan.


Tepat di depanku, aku terus melihat diriku dalam ilusinasiku sendiri. Beberapa kali aku terus mencoba untuk memejamkan mata dan melihatnya kembali.


"Mata itu, senyuman itu" batinku.


"Raaa...!" teriak Greysie.


Mendengar teriakan dari Greysie, membuatku tersadar. Ia berusaha menyadarkan aku sedari tadi.


"Grey? kamu kok nangis? kamu kenapa?" tanyaku, cemas.


"Kamu dah sadar Ra, what happen to you?" tanya Greysie, langsung memelukku.


"Aku gak pp Grey, aku yang first nanya, kamu kenapa nangis? and..," melihat sekitar, "ini rumah sakit?" tanyaku melihat infus di tanganku.


"Kemarin kamu pingsan Ra, kamu sakit? kamu kan gak pernah pingsan sebelumnya, kok..." ucap Greysie terlihat bingung.


"Hah? aku juga gak tau, emang aku kenapa" jawabku juga kebingungan.


"Aku gak tau, kemarin kamu tiba-tiba aja pingsan pas aku lagi berantem sama mama, kamu kenapa sih Ra, masa gak tau sama kondisi badan sendiri" ujar Greysie, marah.


Menurut pandangan Greysie, aku memang tak pernah pingsan untuk sesuatu hal yang tak jelas seperti kemarin. Ia tak tau jika aku mempunyai trauma masa lalu, maka dari itu ia merasa bingung mengapa aku tiba-tiba saja pingsan.


Mendengar Greysie, aku berusaha keras untuk mengingat kejadian kemarin. Akan tetapi aku malah teringat kejadian sekitar 7 tahun yang lalu, di malam mencekam yang merenggut segalanya dariku (Bab 3, Part 2).


Mengingat kembali kejadian itu, membuatku sulit untuk bernapas. Sementara Greysie terus menatap prihatin, dan cemas terhadap diriku.


Matanya berkaca-kaca, ini adalah pertama kali baginya melihat keadaanku seperti ini (suatu alasan yang tak jelas, menurutnya). Karena itu, Greysie juga memutuskan untuk mencari tau tentang alasan mengapa aku berperilaku demikian.


"Gak pp, gak pp, i'm here, i'm here, kamu gak harus cerita kalau itu nyakitin buat kamu" ucap Greysie, memeluk erat.


Beberapa saat kemudian, Greysie terus memandangiku yang sedang tertidur. Begitu banyak pertanyaan yang tersirat di benaknya, ia sangat ingin tau alasan mengapa perilaku diriku sangat aneh setahun terakhir ini.


Selama ini, Greysie hanya tau tentang keluargaku yang meninggal sekitar 7 tahun yang lalu karena penyebab kematian yang tak jelas, entah siapa orang yang telah membunuh semua keluargaku (menurut pandangan Greysie).


Kemudian, Greysie segera mencari dan membaca kembali semua artikel yang menyangkut tentang kematian keluargaku sekitar 7 tahun yang lalu.


Setelah membaca semua artikel, Greysie segera menelpon sekretaris pribadi ayahnya yang tidak lain adalah Hendry.


Greysie keluar kamar untuk melelpon. Di luar, ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang dokter muda dan tampan bernama Aric Galvin Reynard.


"Aku harap... suatu saat aku bisa ketemu dia lagi" gumam Aric, tersenyum melihat Greysie dari belakang.


Di luar, Rumah sakit.


Graysie menemui Hendry dan memintanya untuk menyelidiki tentang kejadian yang menimpa keluargaku sekitar 7 tahun yang lalu. Tujuannya adalah agar ia bisa tahu lebih banyak mengenaiku karena menurutnya selama ini aku masih menyimpan banyak rahasia darinya.


Dua hari kemudian, aku berada di rumah sakit, selanjutnya aku telah di perbolehkan untuk pulang. Greysie lagi-lagi meminta diriku untuk menginap di rumahnya sedangkan aku hanya bisa menuruti kemauannya.


Selama dua minggu, Greysie berangkat sendirian ke sekolah. Sedangkan aku hanya berada di dalam rumahnya karena sebelumnya aku telah di skors selama tiga minggu karena memukuli Kesya dan teman-temannya.


Saat ini, tepatnya pada hari sabtu. Di sekolah Sma Permata, Vanya Catelyin dan Raya Jovanika anggota dari geng yang di sebut 6 Hell Angels sedang membuli seorang anak yang bernama Cassie Marletta Milstone, ia merupakan anak dari Monsieur Milstone dan Rallenda Lubis.


"Loe.. selanjutnya!" ucap Cassie, menatap Vanya penuh kebencian.


Greysie melihat Vanya dan Raya sedang membuli Cassie, ia hanya tersenyum miring lalu segera pergi dari sana.


Bell pulang berbunyi. Cassie sedang berada di dalam rumah pacarnya Bryan. Mereka sedang berbicara serius.


"Siapa yang udah buat muka cantik kamu jadi kek gini, babe?" tanya Bryan, memegang wajah Cassie dengan tatapan cemas.


"Anggota Hell's Angels di sekolah aku. Mereka temen-temen Riska" jawab Cassie.


"Oh, anak dari pemlik perusahaan I'll Group seorang investor terkenal itu?" tanya Bryan, sambil memasang hansaplast plester.


"Hm" jawab Cassie singkat, cemberut.


Bryan berusaha menenangkan Cassie. Ia memberitahu akan segera memberikan pelajaran kepada Vanya karena perbuatannya pada Cassie.


"Thank uu, babe" ucap Cassie, memeluk erat Bryan. Sedangkan Bryan mengelus pelan rambut pacar tersayangnya tsb.


Besoknya, di hari minggu, Greysie memberitahu aku terkait informasi yang menyangkut Vanya dan Raya, di mana mereka telah membully Cassie.


"Raa" panggil Greysie, menatapku.


Namun aku tak menjawabnya, mataku terpejam sedang telingaku sedang mendengar alunan musik indah di telingaku yang berjudul Ludovuco Einaudi Eksperience.


"Ckk!" Greysie mendesis kesal sambil bersilang tangan saat melihatku.


Karena merasa kesal Greysie lalu mengambil gunting dari dalam laci. Ia duduk di sampingku dan menggunting kedua tali headesd milikku. Sedangkan aku hanya diam membiarkan dirinya melakukan semaunya.


"Lagunya kalau gak sedih pasti aneh" ucap Greysie, sangat pelan. Namun aku tetap bisa mendengarnya.


Aku menatap Greysie dengan wajah datar dan segera beranjak dari tempat tidur.


"Ra, kemarin aku lihat Vanya dan Raya ngebully Cassie" ujar Greysie, membuat langkah kakiku terhenti. Ia melanjutkan perkataannya,


"Terus Cassie mukul Raya parah banget sampai Raya harus di rawat di rumah sakit" lanjut Greysie, memberitahu.


"Malam ini aku tidur di rumah aku" ucapku, sambil berjalan keluar kamar.


"Gak boleh!" ujar Greysie, berteriak. Ia segera mengejarku.


"Mau kemana lagi sih, Ra?" tanya Greysie menarik tangan kiriku, sehingga membuat aku harus menoleh ke arahnya.


"Hmf," menghela napas, "Grey, aku hauss. Mau minuum" ujarku, sambil menunjuk arah dapur.


"Gak percaya! Ntar tiba-tiba ngilang lagi. Capek aku cariin kamu, Ra! tiap saat ngilang mulu, kek emang gua salah apaaa??" keluh Greyesie, tak mau melepaskan genggaman tangannya.


Hal itu membuatku, menghela napas pelan dan segera berteriak keras.


"Bibiiiiii......!" teriakku.


Sontak bibi yang mendengar suaraku dari dapur terkejut, lalu ia segera berlari menghampiri kami. Sedangkan Greysie hanya tersenyum puas karena berhasil mengerjaiku.


"Iya, ada apa neng?" tanya bibi dengan nada takut.


"Maaf bi, aku gak maksud buat nakutin bibi. Aku cuman mau minta tolong buat ambil minuman **** di dapur. Dia gak biarin aku pergi soalnya" pintaku pada bibi.


Bbi langsung melirik Greysie, sedangkan Greysie hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahu dan kedua alis mata sambil mengerykan bibirnya.


"Oh. Iya neng. Bentar ya, bibi ambilin dulu" ucap bibi pergi ke dapur.


Setelah bibi pergi, telponku tiba-tiba bergetar. Nama seseorang yang tak asing terpampang di layar telepon milikku.


Greysie membaca nama itu, sedangkan aku hanya meliriknya sebentar dan segera menjawab panggilan tersebut.


"Mm" ucapku, menaruh hp di telingaku.


Sedangkan Greysie langsung mendekatkan telinganya ke telponku untuk mendengar percakapan kami.


"Gua mau curhat" sahut Riska di telpon.


"Hm" jawabku, singkat. Greysie mengerytkan kening sambil menatap heran padaku.


"Curhat? Maksud?" batin Greysie, sedang tangannya mulai meremas tanganku.


"Raya masuk rumah sakit gara-gara Cassie. Gua mau bales dia" jelas Riska.


"Kenapa?" tanyaku, singkat.


"Mereka ngebully Cassie kemarin. Terus si Cassie mukul Raya sampai dia harus di rawat" kata Riska menjelaskan.


"Lah, salah dia sendiri ngebully orang. Lo mau ngapain? udah gak usah ikutin temen-temen elo. Biarin aja mereka" ujarku.


"Mereka itu temen-temen gua Ra, sahabat gua. Biarpun mereka kek gitu. Gua juga gak bisa biarin orang lain nyakitin mereka. Gua mau lo supaya jangan ikut campur besok" jelas Riska, dengan nada suara terdengar kesal.


"What?! What the fu*ck?! Untuk apa si Riska ngasih tau Cara soal itu? Apa urusannya?" batin Greysie, cengkraman tangannya semakin kuat.


"Hm" jawabku, singkat.


"Jangan hm, hm doang. Jawab nying!" ucap Riska, marah.


"Iya, okey, okey. Gua gak bakalan ikut campur" kataku, mencoba menenangkan Riska.


"Awass aja lo kalau sampai ikut campur" ancam Riska, lalu menutup panggilan telpon.


Karena telpon langsung di matinkan begitu saja, membuatku segera melihat layar hpku sambil mengeytkan kening.


Setelah itu, aku melirik Greysie. Ia sudah berada di hadapanku dengan wajah yang kesal bukan main.


Sementara itu, genggaman tangannya semakin kuat, sedang matanya juga menatap tajam padaku. Hal itu membuat aku sampai menelan ludah karena merasa terintimidasi oleh tatapan matanya.


"Dia ngapain nelpon?" tanya Greysie. Aku hanya diam, dan tak mau menjawabnya.


"Dari cara kalian ngomong kek udah akrab banget. Sejak kapan?" tanya Greysi, kesal.


Cengkraman tangan Greysie semakin kuat, membuatku sampai kesakitan.


"A- aah, sakit Grey" ucapku, berusaha melepaskan cengkraman tangannya.


Greysie sangat marah, tatapannya sangat tidak suka. Sangat jelas terlihat bahwa dia tak ingin aku berteman dengan orang lain selain dirinya.


"Grey, aah sakit hey!" ujarku, membentak sambil berusaha menarik tangannya.


Kuku Greysie sepertinya menempel di kulitku, sehingga membuat kulitku tergores terkena cakaran kukunya. Itu terjadi karena aku menarik paksa tangan Greysie agar terlepas dari cengkraman kuatnya.


Greysie juga tak membiarkan aku menjelaskan semuannya, ia hanya terus menguatkan cengkraman tangannya, tak membiarkan aku untuk bisa mengeluarkan sepatah kata. Hal itu karena sifatnya yang kejam, dan tak pandang bulu meskipun padaku sekalipun. Terkadang aku memang takut jika membuatnya sampai marah seperti ini.


"Grey ceritanya panj.. a-arrgha.. panjang ceritanya Grey, plis lepasin dulu tangan, kam.. emff," menahan napas, "Grey.. gimana aku bisa jelasin kalau ka.. aargh" ucapku, langsung menunduk dan terduduk di lantai.


Tangan kiriku masih terangkat karena Greysie tak mau melepas genggaman tangannya. Setelah terduduk, aku tak mau lagi memintanya untuk melepas tanganku. Memilih diam adalah kebiasaanku, hal itu karena aku malas berdebat dengannya.


Sementara Greysie juga merasa takut jika aku sudah diam, hal itu karena biasanya jika aku sudah diam, aku tak akan menegurnya sampai berhari-hari, berminggu-minggu ataupun sampai berbulan jika ia tak berusaha mencari cara untuk membuatku mau bicara lagi padanya.


Tak lama kemudian, Greysie berhenti mencengkram tanganku. Hal itu membuat aku langsung beridiri, dan menatapnya.


Setelah itu, Bibi datang sambil membawakan minuman dan cemilan untuk kami. Bibi lalu menaruhnya di atas meja.


"Ini neng, bibi taruh di meja ya" ujar Bibi, menaruh minuman dan cemilan tersebut di atas meja.


"Bibi gak perlu bawa kue juga. Aku cuman haus doang bi, gak laper" jelasku, melihat bibi.


"Gak pp neng, siapa tau nanti neng berdua udah laper" sambung bibi, ia segera berdiri berjalan keluar kamar.


Sedangkan aku berjalan masuk, sehingga membuat Greysie ikut karena ia masih menggenggam erat tanganku.


"Makasih, ya bi" ucapku, duduk di sofa sambil mengambil remot dengan tangan kananku.


"Grey, udah donk. Bisa lepasin ini?," mengangkat tangan, "sakit tau" ujarku, mengrytkan kening.


"Gak!" ucap Greysie, sambil melihat tv di depan kami.


"Okey, okey. Gua bakal tidur di sini malam ini. Puas lo?" ujarku, bertanya dengan nada kesal.


Greysie tak memedulikanku, ia hanya terus menonton tv tersebut.


"Grey" panggilku, lirih. Namun ia tak juga memedulikan diriku.


"Aaah, kesel gua lama-lama. Mana headsed gua.. Kek.. njirr lah. Lo kalau punya dendam pribadi sama gua bilang aja Grey. Sakit tau" ujarku sambil terus melihatnya, namun tetap tak mendapatkan jawaban darinya.


"Hey?" panggilku sambil menjentik jari tepat di depan wajahnya. Namun genggaman tsb semakin kuat sampai terasa sangat perih.


"Grey, sakit tau. Aw, fuc*k!" ucapku, mencela mencoba melepaskan gengaman tangan Greysie dari lengan kiriku.

__ADS_1


"Grey, Grey.. kuku kamu nyakar tangan aku. Hey! aah, aww, fuc*k!," aku mencoba melepas setiap jari Greysie yang menempel di kulitku.


Saat jari telunjuknya lepas, darah langsung keluar dari bekas kukunya tersebut. Aku membentaknya sambil berusaha melepas jari tengah dan jari manisnya. Namun, ia malah meletakan kembali jari-jarinya ke dalam setiap bekas luka sebelumnya.


"Grey aah, Grey..." ucapku, lirih sambil menatap dengan mimik wajah yang menahan rasa sakit.


Sedangkan tanganku juga berusaha untuk melepas genggaman erat tersebut dari lengan kiriku.


"Grey, maaf. Lo bisa gak sih, sifat kejamnya di turunin dikit kalau lagi sama gua haa," menahan sakit," argh, fuc*k! fuc*k!!" ujarku, mencela sambil menahan tangan Greysie yang mencengkram.


Greysie tak membiarkanku bicara. Setiap kali aku mencoba untuk bicara maka cengkraman tangannya malah semakin kuat.


"Grey udahh. Ini sakit bangett, gak puas tadi Grey? Grey, Grey udahaa, aarhg" ucapku, sambil terus menarik tanganku.


Greysie semakin menggenggam tanganku sampai aku merasa semua kukunya masuk ke dalam dagingku. Ia sedari tadi juga hanya melihat tv dengan ekspresi datar.


Setelah Greysie mau melepas cengkraman tanganya, aku langsung menarik dan memegang lenganku, lalu berteriak kesal padanya.


"Fuc*k! ****! argh, fuc*k! Lo mau mati di tangan gua, hah?!" ujarku, langsung berdiri di hadapannya.


Aku langsung mengambil pisau lipat milikku dari kantung celana belakangku. Setelah itu, aku menginjak kaki Greysie dan menaruh bagian tajam pisau lipat ke lehernya. Namun hal itu malah membuat Greysie tersenyum.


"Kenapa gua malah temenan sama orgil satu ini?" batinku.


Sementara itu, Greysie melirik tangan kiriku yang memegang pisau. Darahku terus keluar dari bekas kukunya tersebut, dan menetes di bajunya.


"Sini, biar aku obatin" ucap Greysie, tersenyum sambil menjauhkan tangan kiriku dari lehernya.


Greysie berdiri, sedangkan aku langsung duduk secara kasar sambil menendang meja di hadapanku sampai membuat piring di atasnya terjatuh dan pecah.


Aku merasa sangat kesal di buatnya, namun ia malah bertingkah biasa saja seperti tak terjadi apa-apa.


"Gua bunuh juga ni anak" batinku.


Greysie segera mengambil kotak P3k dan langsung menghampiriku lagi. Ia duduk tepat di sebelah kananku sambil melirik tangan kiriku yang terus mengeluarkan darah. Sedangkan di sisi lain wajahku terlihat sangat tidak enak jika di pandang.


Greysie pindah posisi. Ia duduk tepat di samping kiriku, dan langsung memindahkan tangan kiriku di pangkuannya agar ia bisa mengelap darah yang mengalir tersebut.


Cairan putih itu di taruhnya ke dalam lukaku, sehingga membuat ekpresi wajahku yang tadinya kesal, berubah menjadi ekpresi yang sedang menahan rasa perih. Meskipun begitu, aku tetap tak mengeluarkan suara sedikitpun.


Setelah itu, Greysie segera menaruh betadin dan membalut tanganku dengan perban. Tangan kiriku sedari tadi masih memegang pisau lipat, hal itu membuat Greysie harus turun tangan untuk membuatku melepaskan pisau lipat tsb.


"Jam 1 biar ak..." ucap Greysie tak selesai, karena mendengar isak tangis dari mulutku.


"Kamu nangis, Ra? sakit banget ya sampai nangis?" tanya Greysie, sambil menggunting pelekat perban.


"Aku gak nangis!" jawabku, sedikit membentak dan langsung melihatnya sambil menarik ingus agar tak keluar.


"Kalau nangis air mataku ngalir, ini gak" jelasku, berkaca-kaca.


"Hm, terus kenapa sampai narik-narik ingus. Tuh di mata juga berair semua. Dikit lagi pasti ngalir. Kamu kenapa?" tanya Greysie, sambil memasang pelekat perban.


"Itu.. kasian banget mereka. Ibu dan anaknya udah terpisah selama bertahun-tahun. Mereka janjian mau ketemu, tapi sebelum bisa ketemu anaknya malah meninggal karena di tabrak truk" ujarku, sambil menunjuk tv yang menampilkan berita tsb.


Greysie hanya menggelengkan kepala, lalu ia segera memberikan sebutir obat padaku.


"Ra, minum ini" ujar Greysie, menydorkan obat tepat di mulutku.


Aku langsung membuka mulut dan menelan obat itu tanpa melihatnya.


"Minum?" tanya Greysie, memberikan minuman.


Kemudian tanpa melihatnya juga aku langsung mengambil air putih dari tangannya dan segera meminumnya.


Greysie lalu bersender di sofa sambil melihat tv dengan ekspresi biasa saja.


"Grey, aku rasa kamu berubah semenjak aku keluar dari rumah sakit kemarin" ujarku, bersender di sofa, masih menonton tv.


Greysie langsung melihat ke arahku dengan tatapan biasa. Ia tak menjawab pertanyaan dariku, malah terlihat seperti sedang berpikir sambil bermain dengan jari-jari tangannya.


"Kok ngantuk banget" batinku, sambil mataku terpejam sesekali.


"Kamu keknya trauma ya, Ra. Aku harus tau alasannya kenapa. Setelah aku tau, aku harus ngambil alih rencana kamu sepenuhnya" batin Greysie.


Entah mengapa rasanya aku sangat mengantuk, bahkan penglihatanku juga menjadi sangat buram saat melihat tv. Lalu aku menoleh ke samping untuk melihat Greysie.


"Grey" panggilku pelan sambil memegang tanganya.


"Kamu kasih aku obat ap..." tanyaku tak selesai dan langsung tertidur.


Greysie melihatku, dan segera mengangkatku ke tempat tidur.


"Maaf, Ra. Aku gak tahan saat lihat kamu di rumah sakit kemarin. Sepertinya semuanya emang berhubungan dengan kejadian yang nimpa keluarga kamu. Ucapan kamu pas mabuk dua tahun yang lalu.. aku harus cari tau soal itu. And.. untuk saat ini, biar aku yang ngurus semuanya, Ra" batin Greysie.


Greysie lalu menyalakan komputer dan mendengar penyadap suara dari rumah cassie.


Jangan sampai meninggalkan bukti. Bryan memerintah bodyguardnya.


"Hm, sepertinya dia udah mulai rencananya" batin Greysie.


Sementara itu, Vanya sedang membawa mobil miliknya. Ia baru saja pulang dari rumah sakit untuk menjenguk sahabatnya, Raya.


Di jalanan nampak sunyi, namun tiba-tiba sebuah mobil hitam mendahului mobil milik Vanya, sehingga membuat ia menghentikan mobilnya secara mendadak.


Ciiiiiiiiit..........!


Vanya ketakutan, tanganya gemetar sambil menelpon ayahnya. Namun sebelum ia bisa menelpon Ayahnya, pergerakan Vanya terhenti karena kaca mobilnya pecah akibat terkena pukulan keras dari besi yang di pegang oleh semua anak buah Bryan.


"Keluar cepat!" ancam seorang yang memakai jaket hitam, berbadan kekar.


Tangan Vanya yang gemetar perlahan membuka pintu mobil miliknya. Lalu ke empat anak buah suruhan Bryan tsb segera menarik tangan Vanya, mereka membawa Vanya masuk ke dalam mobil mereka. Sedangkan Vanya terus memberontak ingin melepaskan diri. Ia juga terus berteriak, namun salah satu anak buah Bryan langsung menamparnya sampai membuat bibir Vanya pecah dan mengeluarkan darah.


Di dalam mobil, mereka langsung memakaikan Vanya penutup kepala dan menyuntikan caiaran ke leher Vanya, membuat Vanya kehilangan kesadarannya.


Tiba di suatu bangunan tak terpakai. Tangan dan kaki Vanya telah di ikat dengan sangat kuat sampai membekas di kulitnya. Ia duduk di sebuah kursi, sedang wajahnya juga masih tertutup.


Vanya tersadar sambil menarik napas panjang akibat terkena siraman air tsb. Ia pikir tadinya ia sedang tenggelam.


Setelah Vanya membuka mata, dirinya langsung di kejutkan dengan penampakan seseorang yanv berada di hadapannya. Cassie tersenyum, lalu berbisik pada Vanya.


"Ini balasan karena udah ngebully gua kemarin" bisik Cassie, tersenyum lalu ia segera memberikan kode pada semua anak buah Bryan.


"Hmm, hmmm, hmm" Vanya berusaha berbicara, namun tak bisa karena mulutnya juga di ikat.


"Hmm, hnhnhn," rintihan tangis terdengar, sedang air mata Vanya terus mengalir.


Cassie menghampiri Bryan. Sedangkan Bryan langsung merangkul pacarnya tsb. Wajah Cassie tersenyum puas sambil ia bersilang tangan.


Kemudian, anak buah Bryan mulai menyiksa Vanya sampai ia pingsan, lalu di bangunkan lagi oleh mereka. Mereka terus mengulangi hal tersebut sampai Vanya benar-benar telah kehilangan seluruh kekuatannya.


"Gimana?" ucap Cassie, berbisik sambil menyamai posisinya dengan Vanya.


Mata Vanya sesekali terpejam. Ia sangat lemah sedangkan darah terus mengalir dari kepala dan hidungnya.


Cassie mengkode anak buah Bryan untuk membuka penyumbat mulut Vanya. Lalu ia mendekatkan telinganya ke mulut Vanya.


Vanya menarik napas pendek. Ia berusaha berbicara untuk meminta ampun pada Cassie. Namun ia tak bisa menggerakan mulutnya.


"Gua gak denger apa-apa dari mulut lo. Padahal kata-kata itu bisa buat nyelamatin diri elo sekarang. Babe, bunuh aja dia" ujar Cassie, sambil melihat Bryan.


Para bodyguard Bryan segera mengambil alat pemukul mereka untuk memukul Vanya. Namun, sebelum pukulan itu sampai di wajah Vanya, Cassie segera menghentikan mereka.


"Tunggu!" perntah, Cassie.


"Jangan bunuh dia. Ckk! Gue masih harus kuasain mereka ber 6, dia harus tetep ada di saat gue mimpin dan ambil alih kepemimpinan Riska, terus nguasain sekolah nanti" ujar Cassie.


"Serius, babe? Nanti kalau dia ngelapor gimana?" bisik Bryan.


"Dia berani lapor, babe? Kamu bisa kan buat dia bungkam?" tanya Cassie, juga berbisik.


"Hn, bisa sih. Emm, yaudah deh kalau itu mau kamu" ujar Bryan, mencubit pipi Cassie.


Bryan segera memegang wajah Vanya, tangannya menggunakan kaus tangan.


"Hm, apa lebamnya kurang? Lo masih mau di pukul?" tanya Bryan.


"Hnh, gak sanggung bicara lagi ternyata" gumam Bryan, tertawa kecil.


Bryan lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Vanya, dan membisikan seseuatu padanya.


"Orang tua lo bakal mati kalau sampai lo buka mulut. Gua juga bisa hancurin bisinis keluarga lo dengan satu perintah. Kalau lo gak mau keluarga lo hancur dan mati. Setelah ini, jangan sampai gua denger sesuatu yang gak enak. Mata-mata gua ada di mana-mana, ngerti?!" bisik Bryan, mengancam.


Cassie kemudian menghampiri Vanya lagi. Ia juga mendekatkan wajahnya ke telinga Vanya untuk berbisik.


"Gua maafin lo kali ini. Lain kali jangan di ulangi" bisik Cassie.


Bryan lalu memerintahkan anak buahnya untuk melepas ikatan pada Vanya. Kemudian mereka segera pergi dari sana.


Di perjalanan pulang.


"Babe, gimana soal si Cara? Itu beneran dia kan? Aku yakin banget kalau itu motor dia" ujar Cassie.


"Hm, motor kek gitu banyak babe. Kamu kenapa kekeh banget kalau itu si Cara yang kamu bilang? Apa cuman karena kamu benci sama dia aja?" tanya Bryan.


"Ckk! Ah, ngeselin. Kamu gak percaya sama aku?" tanya Cassie, kesal. Wajahnya memalas.


"Aku percaya dong, babe. Masa aku gak percaya sama kamu. Buktinya aku masih cari informasi tentang dia sampai sekarang. Jangan marah dong, babe. Aku kan cuman nanya tadi" ujar Bryan, mencubit pipi pacarnya.


"Terus gimana? Udah tau gak hubungannya?" tanya Cassie.


"Hm, gimana ya. Kata sekretaris aku si Cara itu orang tuanya udah meninggal dari kecil. Katanya sih orang tuanya di bunuh sama pembunuh berantai. Terus setelah itu, pas Cara masuk Sma dia buat usaha sendiri gitu, kamu tau kan?" ujar Bryan


"Cuman itu aja, babe?" tanya Cassie.


"Emm, untuk saat ini.. aku cuman tau itu aja, babe. Tapi kamu tenang aja, aku bakal nyuruh Edrick buat nyari tau lebih dalam tentang asal usul dia dan keluarganya" ujar Bryan.


********


Sementara itu, di dalam rumah Greysie. Ia sedang bersiap-siap untuk pergi ke tempat Vanya berada.


Beberapa saat kemudian, tiba di tempat Vanya. Greysie melihat Vanya masih berada di sana dengan keadaan menyedihkan, akan tetapi dia masih hidup.


Greysie mendekat, lalu berjongkok. Sedangkan Vanya berusha untuk berbicara padanya.


"T, o, lo.. Ng-inn g-gue..." ucap Vanya, lirih dengan sangat lemah. Suaranya hampir tak terdengar.


Greysie sedari tadi sudah mendekatkan telinganya ke mulut Vanya. Keningnya Greysie mengkerut setelah ia mendengarnya.


"Masih hidup lo? Gua kira udah mati. Tumben banget mereka berdua gak ngebunuh korban mereka, biasanya orang tua mereka aja yang kayak gitu. Hnh, ternyata orang tua dan anak emang sama aja" ucap Greysie, berkata sendiri.


Vanya nampak heran mendengar omongan Greysie, namun ia tak memiliki kekuatan untuk berbicara lagi


"Emm, soryy deh. Lo harus mati di tangan gua. Huff untung aja Cara gak ikut. Gak tau kenapa selama ini Cara selalu halangin gua buat ngebunuh kalian berenam. Sering banget buat gua emosi" ujar Greysie, berkata sendiri.


"Tunggu dulu, tadi kan..." lanjut Greysie, masih berkata sendiri.


Greysie mengingat saat Riska menelponku ketika kami berada di depan kamarnya.


"Ckk! Sialan! Jadi selama ini itu alasan Cara ngelarang gua buat ngebunuh kalian ber enam? Fuckk! Tu anak harus di hukum. Berani-beraninya bohongin gua dan bergaul sama mereka ini" ujar Greysie, berkata sendiri.


"Lo tau gak? Si Cassie itu kepengen nguasain geng-gengan kalian. Dia pengen gantiin si Riska buat mimpin lo ber enam. Selama ini Cara sengaja gagalin semua rencana Cassie buat masuk ke circle pertemanan gak jelas kalian itu karena Cara gak mau si Cassie sampai dapet apa yang dia mau. Tapi... Sekarang gua malah mikir kalau Cara itu sebenarnya ngelindungin kalian ber enam dari si Cassie atau dari gua juga?" jelas Greysie, memberitahu Vanya.


"Dari gua? Gua?! What?! What the fuckk?! Emang kalian siapa sampai harus dapet perlindungan itu dari sahabat gua? What the fuckk! Gua beneran kesel sekarang! Caraaaa! Awas aja lo!" ujar Greysie, sangat marah.


"Lo haru mati!" ucap Greysie, mengangkat tangan kirinya ke atas.

__ADS_1


Greysie lalu menusuk Vanya sampai merobek kulitnya. Ia menyayat dalam-dalam tubuh Vanya dan mematahkan kaki serta tangan Vanya. Tak lupa juga Greysie mengambil anggota tubuh Vanya, lalu di taruhnya ke kantung plastik kecil.


Setelah membunuh Vanya, Greysie segera menaruh mayat Vanya ke kantungan plastik yang berukuran besar, lalu di membuangnya ke sungai.


Besok paginya. Greysie keluar dari kamar mandi dan melihat aku masih tertidur sangat lelap. Kemudian, ia segera menghampiriku untuk membangunkanku.


"Ra, bangun Ra" ujar Greysie, menggoyangkan badanku. Namun aku tetap tak bangun.


"Raaaa, bangooonn" teriak Greysie memberatkan suaranya di telingaku.


"Huff, gak bangun juga" gumam Greysie. Ia lalu pergi mengambil remot untuk memutar musik dengan bass tinggi dan vollume full.


"Raaa, banguuun sekolahhhhh. Raaa" ucap Greysie, mencubit pipi, menepuk pipi, menjewer telinga, dan menggoyangkan badanku.


Namun aku tak juga bangun. Greysie juga sampai harus menutup hidung dan mulutku, namun hasilnya tetap nihil. Ia malah takut kalau aku beneran akan mati karena menutup semua aliran nafasku. Kemudian ia segera melepas tangannya yang menutup aliran nafasku.


"Hm, maybe karena efek obat semalam" batin Greysie.


Greysie memilih untuk berhenti dan langsung mengeringkan rambutnya, bermake up sampai saat ia memakai seragam sekolah miliknya. Setelah ia selesai bersiap-siap, baru aku terbangun.


"Grey! kok gak bangunin sih?!" tanyaku, emosi.


"Udah Raa, tapi kamu gak mau bangun" jelas Greysie melihatku sambil mengancing lengan jas sekolahnya tsb.


"Hah? anjirrr kok bisa? sejak kapan gua tidurnya kebo gitu?" tanyaku, ekpresi heran.


"Udah, Ra. Mandi aja sana. Ehh, jangan. Kamu gak perlu mandi, tangan kamu dua-duanya masih luka dan itu juga karena aku" ujar Greysie.


"Apalagi luka yang ke tusuk pisau kemarin. Kamu sihh, ngapain nahan pisau dengan tangan kosong? mana pake acara bisik segala lagi, you die, i die. Emang sinetron?" ejek Greysie.


"Aaah, berisikk," menutup telinga, "gak denger, gua gak dengerr, gak dengerr" ucapku, sambil berlari ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian. Aku keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk khusus. Perban di kedua tanganku juga telah basah karena terkena air.


"Greyy! Ini semua gara-gara lo. Aah, gak bersih pasti gua mandi tadi. Gantiin perbannya cepetan, gua mau ganti baju" ujarku, mengomel dan menghampirinya.


Sedangkan Greysie sedang bersender sambil bersilang tangan di depan lemari untuk menungguku sedari tadi.


"Biar aku aja yang.." ucap Greysie tak selesai.


"Gak mau!" ujarku, memberikan kedua tanganku padanya.


"Lahh, kenapa? kita kan sahabatan" tanya Greysie, melihatku dengen ekspresi mengejek.


"Udah, cepetan gantiin perbannya. Kalau lo gak mau, yaudah gua ganti sendiri aja" ujarku, langsung pergi mengambil kotak p3k.


Kemudian aku duduk di tempat tidur sambil melepaskan semua perban dari tanganku. Sedangkan Greysie masih bersilang tangan, ia juga melihatku dengan tatapan mengejek.


"Sssssh," merintih saat menuangkan cairan putih tsb ke dalam lukaku.


"Sini biar aku bantu" ujar Greysie, merebut obat tersebut. Kemudian ia segera mengobati dan membalut lukaku dengan perban.


Setelah ia selesai membalut lukaku, aku segera bersiap-siap. Lalu kami pun berangkat ke sekolah.


Di perjalanan menuju sekolah, aku sangat marah terhadap Greysie terkait kejadian semalam.


"Kenapa lakuin semuanya sendiri lagi, Grey?! Kenapa? Kenapa gak pernah dengerin omongan aku?" ujarku.


"Udah, Ra ahh! Berisik banget sih lo!" ucap Greysie, kesal.


"Eh Gua lagi marah nying, tapi kenapa elo juga ikut-ikutan marah ke gua?" ujarku, sama kesalnya.


"Berisik, Ra! Gua kesel sama lo. Lo diam aja gak usah ngomong! Atau gak pergi aja sana bareng Riska dan geng-gengnya yang gak jelas itu" ujar Greysie.


"Ckk! Sialan!" batinku.


"Apa ini masih soal Riska yang nelpon gua semalam? Ah, pusing banget gua ngeladenin sikap Grey yang kek gini. Hufff" lanjut batinku.


Aku melirik keluar jendela dan melihat banyak sekali warga yang berkerumun.


"Grey, berhenti dulu. Aku mau lihat bentar" ujarku, melihat keluar jendela.


"Harus banget?" tanya Greysie.


"Ya!" ucapku, membentak dengan ekpresi kesal.


"Ckk! Sialan!" gerutu Greysie.


Greysie lalu memarkirkan mobil miliknya. Sedangkan aku langsung keluar dari mobil untuk melihat keadaan.


Saat sedang memperhatikan sekitar, mataku langsung terfokus pada satu orang di sana, dia adalah Rasya. Aku menatap Rasya yang sedang berbicara dengan rekan satu timnya.


Tak lama setelah itu, Rasya menghampiri kami. Kamipun berbincang sedikit sebelum pergi ke sekolah. Setelah selesai berbincang, aku dan Greysie segera pamit pergi dari sana.


"Bye, hati-hati di jalan" ucap Rasya, melambai.


Tiba di sekolah (Bab III, Part 2), kami duduk ke tempat masing-masing. Suasana kelas sangat berbeda dari biasanya. Mereka berbisik-bisik tentang Cassie.


"Dia kali yang bunuh Vanya" bisik Clara pada Vindiya.


"Iya jangan-jangan dia" balas Vindiya berbisik pada Clara.


Tak lama kemudian Riska, Mindy, Putri dan Zey masuk ke dalam kelas, mereka melihat Cassie dan langsung menghampirinya.


"Loe apain temen kita hah?!" tanya Riska memegang kerah baju Cassie.


"Loe yang bunuh dia kan hah?! ngaku loe" tukas Mindy menendang meja Cassie.


"Ahh, sialan banget. Haruskah gua bunuh mereka semua?" batin Cassie.


"Berani-beraninya loe sama kita, loe lupa ya?! loe lupa kalau di sekolah ini Six Hell's Angels yang berkuasa, berani-beraninya loe sama kita" jelas Zey mendorong kepala Cassie berkali-kali.


"Iya, kita kasih pelajaran aja dia, hidup loe mulai detik ini gak bakalan bisa tenang lagi di sekolah ini" sambung Putri menuangkan bekas minumannya ke baju Cassie.


Mereka mulai memukul Cassie habis-habisan, anak-anak yang lain hanya tertawa melihat hal itu, sebagian terlihat tidak peduli dan sebagian lagi hanya bisa diam karena merasa takut pada mereka.


Sementara itu aku hanya melihat dan menatap mereka. Greysie melirik aku, ia tersenyum licik saat melirikku.


"Aaah, ide bagus. Cara lebih milih nepatin janjinya sama Riska atau milih gua" batin Greysie, ia tersenyum smrik sambil melihatku.


Tak berlangsung lama Greysie segera beridiri, membuat fokusku tiba-tiba teralihkan padanya. Greysie kemudian berjalan untuk menghampiri Mereka. Namun dengen ceketan aku langsung menarik tangannya sambil menggeleng untuk berkata tidak padanya.


"Aku gak mau kejadian kek kemarin. Papa kamu bisa bunuh kamu" ujarku, pelan.


"Tapi Ra, aku.." ucap Greysie melirik Cassie yang terlihat kesakitan karena menerima setiap pukulan dari teman-teman Riska.


"Gak. Biar aku yang urus" larangku, dengan mimik serius.


"Tapi kan. Kamu..." ucap Greysie, tak selesai. Karena aku langsung berteriak pada mereka.


"Hey!" panggilku, membuat Riska serta teman-temanya menoleh ke arahku.


Wajah Greysie terlihat cemas. Namun di dalam pikirannya ia tersenyum sumringah setelah mendengar perkataanku padanya.


Greysie kemudian tersenyum lebar sambil ia duduk di atas meja sambil bersilang tangan.


"Hnhnhnhn," Greysie tertawa kecil sambil menunduk. Ia lalu mengingat kejadian semalam saat ia menggenggam erat tanganku semalam.


"Apa? loe mau ikut campur?" tanya Riska, kesal.


"Loe punya bukti kalau Cassie yang bunuh Vanya?" tanyaku balik dengan tatapan biasa.


"Iya, buktinya orang tua dia tu pembunuh! kemarin dia juga udah mukul Raya sampai Raya masuk rumah sakit" tegas Riska padaku.


"Apasihh anj**ng, loe jangan seneng dulu yaa, karena temenan ma Greysie, kita juga bisa buat hidup loe menderita di sekolah ini" sela Zey juga sama kesalnya.


"Sialan lo Ra. Gue udah bilangin jangan ikut campur, taik!" batin Riska.


"Loh, berarti kalau gua gak temenan ma Grey kalian bakal ganguin gua juga?" tanyaku pada mereka dengan tatapan biasa.


"Jangan pikir kita takut sama loe ya, loe itu gak ada apa-apanya di mata kita" jelas Mindy terlihat amat sangat kesal.


"Ok, ok, maafin gua" ujarku menyentuh kedua telapak tanganku.


"Sssttt, kita jangan cari masalah sama dia, gua gak mau bokap gua sampai hukum gua lagi cuman gara-gara dia" bisik Riska pada teman-temannya.


"Gua kalau jadi kalian gak bakalan berani gangguin dia, coba loe pada pikir kalau emang omongan kalian tuh bener, emangnya kalian gak takut bakal jadi korban selanjutnya? yaah siapa tau besok mungkin juga sebentar loe semua bakalan ma-ti" kataku tersenyum berjalan kearah mereka.


"Kalian gak takut kalau muka cantik," menyentuh wajah Riska, "dan kulit halus kalian," meraba kulit Mindy dengan jari telunjuk, "bakalan di kuliti, bakal dimutilasi," berbisik pada Zey, "biji mata loe bakalan di congkel," menatap mata Putri, "lidah loe bakalan di potong-potong," menjulurkan lidah pada mereka, "dan isi perut loe bakalan di jadiin makanan buat anj**ng, guk, guk." melolong di depan Riska lalu tersenyum, dia menutup matanya karena terkejut.


"Ckk! Sialan" batin Riska.


"Apalagi pembully seperti kalian emang udah sepantasnya dapat hukuman, ya gak sih, apa gua salah?" tanyaku tanpa ekspersi.


"Apaan sih" jawab Riska kesal, namun wajahnya nampak sangat ketakutan.


"Tapi... Kalau omongan Cara itu bener gimana? Ckk! Siaaall... Fuckk, fuckk" batin Riska.


"Terus buat kalian," melihat seisi kelas, "enak banget ya ngancurin hidup orang? emang loe pada punya bukti apa? main nuduh-nuduh orang aja, kalau punya otak di pake buat mikir, bukan buat nuduh dan buat spekulasi sendiri tanpa tau bener apa gak, heran gua, seneng banget ya ngancurin hidup orang? coba bayangin kalau kalian lagi di posisi dia sekarang" jelasku pada mereka.


"Loe," menunjuk salah satu murid, "loe bisa milih mau lahir dari mana?" tanyaku padanya, dia menggelengkan kepala.


"Nahh kan," melihat seisi kelas, "gak bisa milih kan, terus kenapa kesalahan orang tua dia, kalian bawa ke dia juga, dewasa dikit lah umur udah segitu juga" ujarku berjalan kearah Cassie.


Mereka semua terdiam mendengar perkataanku, kemudian keadaan kembali seperti semula.


Cassie mulai menangis terseduh-seduh, aku membantunya berdiri sedangkan Greysie merapikan tempat duduknya.


"Kamu gak pp?" tanyaku.


Cassie tak menjawab pertanyaan dariku, dia hanya menangis melihatku.


"Fuckk, gua harus pura-pura nangis" batin Cassie.


"Hn, hahaha. Masih pura-pura lo Cass?" batinku.


Riska menatapku dengan mimik kesal luar biasa. Terlihat jelas jika ia sangat marah saat ini.


"Taik lo, Ra!" batin Riska.


Sementara itu Riska, Mindy, Putri dan Zey terlihat sangat kesal, mereka pergi ketempat duduk mereka dengan perasaan tak terima dan secara kasar membanting buku salah satu murid di dalam kelas. Aku dan Greysie sontak menatap mereka ber-empat tanpa ekspresi.


"Sorry, Ka. Gua gak bisa biarin Grey ikut campur lagi semenjak kejadian kemarin. Papa dia ternyata gitu kalau marah ke Grey, gua gak bisa biarin itu terjadi lagi. Dan.. Ini.. Gua juga udah selamatin elo dari cassie, kalau Cassie berbalik ingin ngebunuh elo gimana? Lebih baik lo jangan cari masalah sama dia. Kalian terlalu lemah untuk hadapin dia dan keluarganya" batinku.


Kemudian, aku melihat wajah Greysie dengan eskpresi heran.


"Dih, seneng banget ni anak" batinku.


Setelah itu, kami duduk kembali di bangku kami masing-masing. Wajah Greysie terlihat biasa, namun aku bisa melihat jelas matanya yang seolah menunjukan perasaan senang akan sesuatu.


"Kenapa senyum-senyum?" tanyaku, heran melihat Greysie.


"Hah? muka aku sama sekali gak lagi senyum, Ra" jelas Greysie keheranan.


"Gak, maksud aku.. Kamu kelihatan kek lagi senang banget. Kenapa? karena Cassie?" tanyaku, sedikit berbisik padanya.


Greysie tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya tersenyum sambil mengrykan bibir, mengangkat kedua alis serta kedua bahu miliknya. Aku juga hanya terus membatin sendiri dan melihatnya dengan ekspresi biasa saja.


Kemudian, Greysie malah menjulurkan lidahnya setelah ia melihatku lagi. Namun wajahku tetap terlihat biasa saja.


"Cewek gua tuh, keren kan" seru Alfie pada Athan, dia tersenyum sambil melihatku.


"Sejak kapan lu pacaran ma Cara bro, udah gak usah ngayal lu bro" ledek Athan.


Athan dan Alfie terus menatap aku dan Greysie. Mereka berbicara tentang cara untuk mendapatkan kami.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2