Ilusi

Ilusi
BAB 21 (Part 3)


__ADS_3

Greysie mulai luluh setelah mendengar perkataanku, Namun genggaman tangan kiriku yang memegang tangan kanannya hampir terlepas. Rasanya tangan kami sangat licin, seperti akan segera terlepas.


"Eggh," rintihan, napas yang tertahan dariku.


"Greyy.. pegang tangan aku, pegang. C' mon Grey" ucapku, menahan tangannya sekuat tenaga.


Sedangkan Greysie berusaha untuk meraih tanganku dengan tangan kirinya.


"Emf, eghh, gak bisa Raa" rengek Greysie.


"Pasti bisa, kamu harus bisa Grey. Pliss aku udah gak kuaaat, egghh. Kalau kamu jatuh, aku juga bakal lompat!" ancamku.


Greysie berusaha sekuat tenanga untuk meraih tangaku. Namun selalu saja gagal.


"Eghh, c' mon Grey. Greyy... ayo, emff. Pegang tangan akughh" ucapku dengan suara serak.


Setelah mencoba beberapa kali lagi. Akhirnya Greysie bisa meraih tanganku sambil menggenggam erat. Hal itu membuatku bernapas sedikit lega. Lalu aku langsung menarik dirinya.


"Egghhhh.....!" (menarik sekuat tenanga).


Setelah itu, kami berdua jatuh bersamaan di atas atap gedung tinggi tsb. Napas kami sama-sama terengah, sedangkan kami terbaring berdekatan lalu saling menengok dan mulai tertawa.


"Heh, hahahahahaha," aku tertawa sambil melihatnya.


"Hahahahaha," Greysie juga tertawa sambil melihatku.


Kami beralih pandangan dan sama-sama melihat langit yang cerah, di mana cahaya bulan terlihat sangat menawan. Sedangkan bintang-bintang melengkapi keindahan langit malam.


Beberapa saat kemudian. Di dalam sebuah apartemen, tempat di mana aku tinggal di Surabaya. Aku dan Greysie sedang berbicara serius di suatu ruangan khusus yang di mana terlihat banyak foto serta catatan di papan tsb.


"Mereka udah hancurin keluarga aku. Aku bakal bales dendam sampai matti!" ucapku pelan, lalu membentak di akhir.


Aku menceritakan kepada Greysie bahwa keluarga Milstone dan Walker telah bekerja sama untuk merebut ide milik ayahku, bahkan mereka adalah penyebab utama seluruh anggota keluargaku meninggal, meskipun mereka tak membunuhnya secara langsung.


"Jadi apa rencana kamu sekarang, Ra?" tanya Greysie, serius.


"Aku bakalan jadi seorang pembunuh berantai" jawabku, dingin.


Mendengar hal itu, perlahan bibir Greysie bergerak sampai ia tersenyum puas. Ia mendekatkan wajahnya padaku dan berkata,


"Aku, sukka, itu" bisiknya pelan.

__ADS_1


"So, rencana kamu gimana?" tanya Greysie bersilang tangan sedang badannya menjauh dariku sampai ia bersender di di kursi.


Mataku menulusuri tatapan matanya, gerak-gerik, dan semua anggota tubuhnya. Tak ada senyum yang terukir di bibirku, aku hanya menatapnya dengan wajah datar.


"Kasus pembunuhan berantai ini harus terkenal. Aku harus buat itu sampai terkenal supaya bisa menjatuhkan perusahaan milik Milstone dan Walker. Mereka benar-benar harus hancur sampai akhir hayat, aku mau mereka tersiksa" jelasku dengan ekspresi datar.


"Hm," mengkerytkan bibir, "Kamu mau ngejebak mereka sebagai pelaku pembunuhan berantai kamu sendiri, tapi... Bukannya mereka bakal di penjara kalau gitu? Kamu gak mau bunuh mereka juga?" tanya Greysie, santai.


"Aku bakalan bunuh mereka semua di dalam penjara" jawabku, singkat.


"Hah? Kamu mau masuk penjara? Kalau kamu bunuh mereka saat di penjara, kamu juga bakal di penjara lama Ra.. " ujar Greysie, tak senang.


"Aku gak peduli. Biarin aja mereka semua tau kalau aku balas dendam karena udah hancurin keluarga aku" jelasku, biasa.


"Lo sebaiknya ikuti semua rencana gua atau gak sama sekali. Ngerti!" lanjutku, tegas padanya.


"Hnh, kamu kira aku bakalan biarin semua itu terjadi, Ra?" batin Greysie.


"Okey Ra, okey" jawab Greysis, singkat.


"Kamu janji?" ujarku, mengaitkan jari kelingking.


"Iya, aku janji" sambung Greysie, membalas kaitan jari kelingking.


"Iya aku janji, and.. kamu juga harus janji kalau kita bakalan selesaikan semuanya sama-sama" ujar Greysie.


"Aku janji" ucapku, tegas.


Setelah itu, kami mulai membuat rencana dengan sangat matang. Kami juga telah menetapkan orang-orang jahat ke dalam daftar hitam sebelum membunuh mereka.


********


Skip. Satu tahun setelahnya, di mana sebelumnya kami telah membunuh sekitar 15 orang yang masuk ke dalam list daftar hitam kami.


Pada saat malam pembunuhan anak presiden, seperti yang telah kami rencanakan sebelumnya. Kami sedang menunggu kedatangan anak presiden tersebut di jalan. Dia biasanya melewati jalanan itu setelah pulang dari berfoya-foya bersama teman-temannya sebelumnya.


Di saat mobilnya mendekat pada kami, Greysie melomapat ke jalan layaknya gadis muda yang tersesat dan tak berdaya. Hal tersebut membuat anak presiden itu segera menghentikan mobil miliknya secara mendadak. Ia pun keluar dari mobil dan segera menghampiri Greysie.


"Kamu gak pp?" tanya Anak Presiden, memegang pundak Greysie.


Sementara Greysie mendongak untuk melihat wajahnya dengan tatapan lesu sedang air mata mengaliri pipinya.

__ADS_1


"T, tolong, a, kuu. Pacar aku berusaha untuk lecehinn, a, kuu. Dia juga mau bunuh aku, pliss tolongin aku" ucap Greysie, gemetar.


Sementara aku sudah menyelinap masuk ke dalam mobil dan mengambil kamera dashbor di mobil tersebut.


"Di mana dia?," melirik sekitar, "kamu.. kamu ikut aku aja" ujarnya, membantu Greysie berdiri.


"Haaaa," membulatkan mata, "di, dia.. dia ada di belakang kamu" ucap Greysie, menunjuk aku.


Anak Presiden pun menengok ke belakang secara pelan, ia lalu mengeluarkan pisau miliknya. Sedangkan aku yang sedang berdiri di belakang mereka masih menunduk sehingga tudung dari jubah milikku menutupi wajahku.


Anak Presiden pun mengarahkan pisaunya padaku. Sedangkan aku mengangkat kepala dan tersenyum padanya. Sementara Greysie juga langsung melangkah kehadapan anak presiden tersebut di barengi tusukan pisau yang dalam pada perutnya.


Senyuman lebar terukir jelas di wajah Greysie. Kami lalu menyeretnya ke dalam hutan, lalu membunuhnya di sana.


"Hahaha, hahahaaaa," teriak Greysie tertawa senang, melompat-lompat layaknya anak kecil yang baru mendapatkan hadiah kesukaannya.


Greysie membunuh anak presiden tersebut secara brutal dengan cara memukul kepalanya memakai pemukul basseball berkali-kali sampai gigi dan matanya terkeluar, ia terlihat sangat senang saat membunuh orang-orang. Sedangkan aku hanya diam dan membiarkan dirinya melakukan semaunya.


Jika aku pergi berburu mangsa dengan Greysie, aku tak akan mendapat banyak bagian karena hampir semuanya itu di lakukan oleh Greysie secara brutal. Sedangkan jika aku membunuh seseorang, biasanya lebih rapi seperti sengaja memotong tangan, jari, lidah, tenggorokan, mengeluarkan jantung, membelah otak ataunpun memotong anggota tubuh lainnya.


Namun berbeda dengan Greysie yang tak teratur, ia melakukan semuanya secara tak sengaja. Biasanya jika ia membunuh menggunakan satu atau dua alat saja untuk bergantian. Misal kapak, ia akan mencincang tubuh korabannya dan tongkat bassebal, ia akan memukul sampai rasa bosannya muncul yang akan membuatnya berhenti, meskipun begitu semua anggota tubuh mangsanya juga telah hancur lebur.


Hal tersebut bisa menyebabkan gigi, mata dan tulang-tulang ataupun anggota dalam tubuh korbannya terkeluar secara paksa.


"Aaah," berhenti memukul, "bosan gue. Dia udah gak lawan, Ra. Cepet banget matinya, padahal gua masih pingin seneng-seneng" ujar Greysie, lalu memberikan tongkat bassebal padaku.


Sedangkan aku yang bersilang tangan sambil bersender di salah satu pohon sedari tadi hanya diam melihatnya, namun sesekali aku tersenyum karena ia sangat menikmati hal itu.


"Dia belum mati keknya, Grey" ujarku mengambil tongkat tsb, lalu berjalan menghampiri mayat anak presiden.


Kemudian, aku berjongkok dan memeriksa dada kirinya untuk merasakan jantungnya apakah masih berdetak atau tidak, jika ya aku akan langsung menusuk tepat di jantungnya.


"Duk, duk, duk," detak jantung lemah, hampir tak terdengar.


Namun entah mengapa telingaku bisa mendengar kuat detakan jantung tersebut, sedangkan tanganku yang memakai kaus tangan malah seperti bisa merasakan detakan kuat jantung tsb.


Mendengar itu, aku langsung mengangkat tangan kanan ke atas, lalu menusuk jantungnya sampai teriris ke bawah. Ia pun mati, namun aku malah merobek tenggorokannya dan mengeluarkan pipa pernapasannya tersebut. Lalu aku mengambilnya dan menaruhnya di kantungan plastik.


"Ayo Grey. Aku udah ngantuk, pengen tidur" ucapku santai dan beranjak pergi.


"Baru jam 02:03, Ra," melihat jam tangan, "dah ngantuk?" tanya Greysie, berjalan berdampingan.

__ADS_1


"Aku kan gak biasa tidur siang, Grey" jawabku, santai.


Bersambung...


__ADS_2