Ilusi

Ilusi
BAB 31 (Part 3)


__ADS_3

"Cewek gua tuh, keren kan" seru Alfie pada Athan, dia tersenyum sambil melihatku.


"Sejak kapan lu pacaran ma Cara bro, udah gak usah ngayal lu bro" ledek Athan.


"Tunggu ajalah bro, bentar lagi dia bakalan jadi milik gua, tungguin aja" jelas Alfie kekeh.


Mereka masih terus berdebat membicarakan aku dan Greysie. Tak lama kemudian guru mata pelajaran datang. Kami pun langsung melaksanakan proses pembelajaran seperti biasanya. Setelah beberapa jam kemudian.


Jadi... Kalian mengerti?


Ngerti bu...


Ok, kalau gitu kerjain soal di halalaman 42. Ibu tungguin sampai jam istrahat.


Sementara itu, wajah Riska sangat tidak enak jika di pandang. Dia sangat kesal bukan main padaku. Pulpen yang di pegangnya pun di remasnya dengan seluruh kekuatan.


"Caraaa! Gua udah bilangin jangan ikut campuuurrr. Sialan lo, Ra" umpat Riska, dalam hatinya.


Beberapa saat kemudian. Bell istrirahat berbunyi. Kami pun mengumpulkan tugas masing-masing ke meja guru. Aku melirik Riska, dia tak mau melihatku dan langsung pergi ke luar kelas.


Di luar, Riska langsung mengirimkan chat padaku sambil berjalan. Sementara itu, di dalam kelas hp milikku bergetar. Notifikasi pesan whatsapp masuk, aku membacanya.


Ke atap lo sekarang!


"Ra, aku laper. Ke kantin yuk" ajak Greysie.


"Em, Grey.. Kamu duluan aja gimana? Aku mau ke toilet bentar" ujarku.


"Yaudah, aku temenin" ucap Greysie.


"Gak usah Grey, kamu duluan aja. Nanti tungguin aku di kantin. Aku gak lama, beneran" ujarku, segera pergi dari sana.


"Tapi kan, Ra! Raa!" panggil Greysie.


"Ckk! Ngeselin banget!" batin Greysie.


Di atap sekolah. Riska telah menunggu kedatanganku. Ia sedari tadi melihat jam tangan dengan wajah masamnya.


"Cari gua, Ka?" tanyaku, menghampiri.


"Lo, anjing!" cela Riska, menarikku sampai belakangku membentur dinding.


"Sorry- sorry, Ka. Maaf sumpah" ujarku, menatap maaf padanya.


"Gua bilang apa semalam sama elo?! Lo ingker janji anjing!" umpat Riska.


"Iya, iya. Makannya gua minta maaf banget sekarang. Ini pertama kali..." ujarku, tak selesai.


"Katanya lo orangnya gak pernah ingker janji? Bisa jaga janji, tapi ini apa?! Lo ingker janji sama gua!" sela Riska, marah.


"Iya, iya gua tau... Makannya itu gua minta maaf banget sama elo. Ini pertama kalinya gua ingker janji sama orang" jelasku, berusaha menenangkan.


"Ckk! Gak peduli gua! Tau gak lo sahabat gua di bunuh, hah?! Vanya di bunuh, Ra! Gua gak bisa biarain Cassie gitu aja!" ujar Riska, sedikit berteriak.


"Maaf banget, Ka. Semalam Grey..." ujarku.


"Sialan! Kenapa juga gua mau aja di suruh minum obat itu selamam?" batinku.


"Aku beneran... I mean... Gua minta maaf banget sama elo Riska. Ini salah gua, em.. I mean..." ujarku, tak selesai.


Riska mengkerutkan keningnya, ia masih menunggu kalimat yang akan aku katakan selanjutnya.


"Aku gak bisa biarin Grey... I mean... Fuckk!" ujarku, pelan.


"Gua gak bisa biarin Grey kena masalah lagi, Ka. Kemarin papa Grey mukulin dia di depan mata aku... Maksud gua..."


"Kenapa gua salah ngomong mulu sih?" batinku.


"Papanya kemarin mukulin dia di depan mata gua. Itu pertama kalinya gua lihat bagaimana papa Grey mukulin dia selama ini. Dan itu.. Itu parah banget, aku gak bisa..." ujarku.


"Fuckk gua bicara sama siapa sih sebenarnya" gumamku.


Riska merasa semakin heran, ia mendengarku berbicara pelan.


"Ni anak kenapa lagi?" batin Riska.


"Lo tau kan kalau bokapnya Grey selalu nuntut dia ini dan itu, kek elo dulu. Elo juga tau gimana rasanya kan? Di tuntut harus bisa ini dan itu? Dan masalah Grey itu lebih parah dari elo, Ka. Papanya sampai mukulin Grey kalau dia berbuat salah sekecil apapun itu. Gua gak bisa biarin Grey kena masalah lagi. Makannya tadi pas Grey mau ikut campur sama urusan kalian gua ngehalangin dia karena pasti bakalan jadi masalah lagi, kalian pasti berantem. Jadi lebih baik gua yang ikut campur tanpa harus berantem. Pliss, maafin gua ya?" ujarku, memohon maaf.


Wajah Riska masih sangat kesal bukan main. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya sambil bersender di tembok pemisah atap.


"Maaf banget, Ka. Pliss, maafin gua?" ujarku.


"Ok, tapi ada syaratnya" ucap Riska.


"Mati gua. Ngejebak lagi ni anak satu" batinku.


"Apa syaratnya? Lo mau jadiin gua babunya elo?" tanyaku.


"Emang lo mau?" tanya Riska, mengejek.


"Gak tau. Terserah kalian mau apain gua. Dah males gua ngeladenin sikap kalian berdua" ujarku.


"Kalian?" batin Riska.


"Dih, kalau gak mau yaudah. Pergi aja sana" usir Riska.


"Cocok banget kalau mereka berdua yang sahabatan. Sama-sama ngeselin!" batinku.


"Yaudah, Sorry. Apa syaratnya?" tanyaku.


"Jadi babu gua. Seperti kata lo tadi" ejek Riska.


"Hm, lo mau gua ngapain?" tanyaku, pasrah.


"Becanda kali. Gua cuman mau elo temenin gua di saat gua mau. Kalau gua nelpon itu di angkat, jangan diliatin doang telpon gua" ujar Riska.


"Maksudnya, butuh gua di saat lo butuh? Habis tu lo buang?" tanyaku, biasa.


"Eyy, lo mau apa enggak? Kalau gak mau yaudah" ujar Riska, kesal.


"Ka, gua udah sering bilangin ke elo. Jangan terlalu nyaman saat bicara atau deket-deket sama gua. Gua gak sebaik yang lo kira" jelasku, biasa.


"Gua juga gak sebaik yang lo kira. Udah lo mau apa gak? Ngeselin banget, tinggal jawab ya atau gak susah amat" ujar Riska, kesal.


"Padahal sahabat dia banyak amat. Tapi malah seringnya curhat ke gua. Kek... Kalau Grey tau soal ini gimana anjing, ntar gua yang habis sama dia. Nyesel boleh gak sih? Kenapa juga gua bantuin dia saat itu?" batinku.


"Iya, gua pergi dulu" ujarku, melangkah pergi.


"Ehh, bilang mau atau gaknya yang jelas" ujar Riska, berteriak.


"Hm, gua mau. Terserah kalian berdua aja, gua capek" ujarku, pergi dari sana.


Tiba di kantin. Greysie tentu saja sangat kesal karena menungguku sangat lama.


"Dari mana aja, Ra? Katanya cuman ke toilet bentar kok lama banget?" tanya Greysie.


"Grey... Aku capek, pliss... Gak usah nanya dulu. Jangan buat selera makan aku hilang" ujarku, menatapnya.


Greysie diam setelah mendengarku. Ia lalu memeriksa keningku dan segera memanggil penjual di kantin sekolah.


"Nasi goreng, buk. Jangan pedes, temen aku gak suka pedes soalnya" ujar Greysie.


"Kamu sakit, Ra? Apa kita pulang aja?" tanya Greysie.


"Gak, gak pp" jawabku, pelan.


Beberapa saat kemudian, ibu penjual di kantin membawakan pesanan Greysie.


"Makan dulu, Ra" ucap Greysie, menyuruhku.


Aku hanya diam sambil memutar-mutar sendok di piring dan tak mau memakan makananku.


"Kenapa Gak di makan, Ra? Aku pesenin yang lain? Kamu mau makan apa?" tanya Greysie.


"Gak usah. Aku makan" ujarku, memakan sesendok nasi goreng.


Tak selesai aku makan nasi goreng itu, aku langsung berdiri.


"Grey, aku udah kenyang" ujarku, berdiri.


"Baru juga makan tiga sendok" batin Greysie.


"Aku mau balik kelas. Kamu udah selesai makan?" tanyaku.


"Hm, udah. Kita ke kelas" jawab Greysie, ikut berdiri.


Greysie lalu menarik aku sampai ke dalam kelas. Di dalam kelas aku langsung duduk dan membaringkan kepalaku di atas meja belajar.


Beberapa jam berlalu. Bell pulang berbunyi. Kami pun segera pulang.


Di perjalanan pulang.


"Grey, aku mau pulang ke rumah. Udah lama aku nginep di rumah kamu. Anterin aku ke rumah aku" ujarku, tak melihat Greysie.


Aku bersender di jendela mobil sambil melihat pemandangan di luar jendela.


"Yaudah, aku nginep sama kamu" ucap Greysie.


"Bisa sih, biarin aja gua sendiri dulu. Gua butuh waktu sendiri tau gak?" batinku.


********


Sementara itu, di rumah Cassie. Dia sedang marah besar sambil membanting barang-barang di dalam rumahnya.


"Sial, siaaall....! Fuckk! Fuckk!" teriak Cassie.


"Awas aja lo Riska. Gua bakalan kasih perhitungan sama elo" ujar Cassie, berkata sendiri.


"Ckk! Tapi... Gua masih harus nguasain mereka ber enam. Sialaaannn! Lihat aja ntar kalau gua udah kuasain kalian, bakal habis kalian. Gua gak bakalan nahan diri lagi buat kasih pelajaran sama kalian ber enam, sialan!" umpat Cassie.


Cassie tak sengaja melihat cctv. Ia lalu terpikirkan untuk mencari ruang kontrol cctv tersebut, ia ingin tahu alasan mengapa polisi secara tiba-tiba menangkap kedua orang tuanya.


Kemudian, Cassie mulai mencari ruang control Cctv di setiap pelosok rumahnya, namun tidak bisa menemukannya.


"Kenapa ada Cctv tapi gak ada ruang kontrolnya?" batin Cassie.


Di saat Cassie mulai menyerah, dia teringat bahwa belum memeriksa satu ruangan lagi, itu adalah kamar ayah dan ibunya.


Cassie berjalan masuk ke dalam kamar Ayah dan Ibunya untuk mencari ruang control cctv, tetapi dia tak juga menemukannya. Namun di saat cassie ingin keluar dari kamar orang tuanya, dia teringat benda yang di berikan oleh ayahnya pada hari ulang tahunnya 3 tahun yang lalu. Benda itu adalah sebuah kunci motor yang memiliki tombol misterius berukuran kecil di gantungannya.


Setelah teringat hal itu, Cassie langsung mengambil kunci motor miliknya dari dalam kantung celananya, dia melihat tombol berukuran kecil tersebut lalu memencetnya.


Sesuatu berbunyi, perlahan pintu bagian luar terbuka, Cassie melihatnya dan langsung berjalan kearah pintu itu.

__ADS_1


Setelah pintu bagian luar itu terbuka lebar, masih ada pintu lain yang terlihat di sana. Pintu kedua itu memakai sistem 'Biometrik' (alat digital pemindai iris mata dan telapak tangan).


Cassie mendekatkan matanya pada sistem biometrik itu, lalu menaruh telapak tangannya di bagian depan pintu tersebut.


Setelah selesai melakukan pemindaian, pintu kedua perlahan terbuka, mata Cassie langsung di sajikan dengan pemandangan yang mengerikan. Begitu banyak bagian tubuh asli hewan di pajang, ada juga tengkorak hewan, tengkorak manusia, bahkan jempol manusia pun di jadikan pajangan, beberapa anggota tubuh manusia tersusun rapih sengaja di awetkan.


Dinding-dinding ruangan itu juga berhiaskan banyaknya senjata laras panjang serta pedang dengan berbagai jenisnya. Jika orang biasa yang melihat ruangan ini mereka akan langsung merasa mual dan ketakutan.


Cassie melihat ruang kontrol Cctv dan mulai memeriksanya, dia mencari tanggal sehari sebelum kedua orang tuanya di tangkap oleh polisi.


Di Cctv tersebut, terlihat seseorang berjalan masuk ke dalam rumahnya, lampu sengaja di matikan, akan tetapi Cctv secara otomatis berpindah ke mode malam.


Orang tersebut berjalan dan memeriksa bagian ruang bawah tanah, entah mengapa orang itu bisa mengetahui letak dari ruangan bawah tanah tersebut, dia masuk dengan membawa sesuatu.


Di sana (ruang bawah tanah) terlihat seperti tempat untuk menyiksa orang-orang. Ada salah satu ruangan tempat untuk menyimpan pajangan tengkorak hewan dan manusia.


Saat orang yang memakai jubah berwana hitam tersebut bergegas pergi dari sana, tiba-tiba ayah Cassie memukulnya di bagian kepala, mereka terlibat dalam pertikaian, kekuatan antara ke duanya seimbang.


Sementara itu, Ibu Cassie mengambil sebuah besi dan memberikannya langsung pada suaminya.


Malam itu terlihat kacau, mereka terus baku hantam tanpa ada yang kalah atau menang, ibu Cassie mengambil kesempatan saat orang tersebut lengah, dia menyemprotkan sesuatu ke matanya membuat mata orang berjubah hitam itu terasa perih, dia mulai menutup serta mengucek matanya.


Di saat orang itu membuka matanya lagi, ayah Cassie langsung menusuknya memakai besi. Orang berjubah hitam itu berhasil menahan besi dengan tangannya, akan tetapi besi itu sudah menusuk perutnya sekitar beberapa centimeter, kemudian dia meraba sekitar dan memegang tengkorak manusia lalu memukul keras kepala ayah Cassie menggunakan tengkorak tersebut.


Setelah memukul ayah Cassie, dia bergegas meninggalkan ruangan itu. Sementara Ibu Cassie membantu suaminya untuk berdiri, karena suaminya terluka akibat terkena hantaman keras di kepalanya.


Seseorang yang menggunakan jubah berwarna hitam tersebut berjalan sambil menahan rasa sakit, dia memegang dinding di sana untuk menopang dirinya, namun tanpa di sadarinya penutup kepalanya terjatuh, masker yang dia gunakan juga terlepas saat pertikaian tadi.


Di dalam rekaman Cctv terlihat wajah seseorang nampak Familiar, itu adalah Greysie. Cassie nampak sangat terkejut saat melihat Greysie.


Hal itu adalah sesuatu yang di luar dugaan Cassie karena selama ini dia hanya menaruh perasaan curiga padaku.


"What?! what the Fuckk?! ngapain si Greysie di situ?!" ucap Cassie, melihat Cctv dengan tatapan tak percaya.


********


Sementara itu, aku dan Greysie telah sampai di rumahku. Karena merasa capek aku langsung berbaring di tempat tidur masih memakai seragam sekolah.


"Ra, ntar malam kita makan di luar gimana? Sekarang kamu istrahat aja dulu" ujar Greysie.


Aku bangun dan langsung mengganti baju sekolahku dengan baju santai. Setelah itu, aku segera pergi.


"Ra? Mau kemana?" tanya Greysie.


"Gak kemana-mana. Cuman ke bawah bentar" ujarku, segera pergi dari sana.


Aku segera pergi ke tempat ruangan rahasia di dalam rumahku.


"Udah lama banget gua di rumah Grey. Gua harus yakin kalau cctv yang ngerekam Grey saat itu beneran udah ke hapus semuanya" batinku.


Setelah masuk ke dalam ruangan rahasia. Aku langsung mengecek cctv dari rumah keluarga Milstone. Di cctv terlihat Cassie baru saja keluar dari dalam sebuah ruangan rahasia di dalam kamar ayah dan ibunya.


"What?! Ternyata di situ letak ruangannya? Pantes aja gua cari-cari saat itu gak nemu" batinku.


"Ini bahaya banget. Bisa jadi masih ada cctv berbeda yang gak bisa gua retas di dalam ruang itu. Pantesan aja dari tadi perasaan gua mulai gak enak" lanjutku, membatin.


"Saat itu..." ujarku, mengingat di saat aku mengecek rumah keluarga Milstone.


Saat itu, aku menghitung jumlah cctv di setiap pelosok rumah mereka. Jumlah cctv mereka sangat banyak sekitar 73 karena rumahnya juga sangat besar dan mewah.


"Cctv yang gua retas cuman 70, berarti masih ada 3 cctv yang... Sial, kalau muka Grey kelihatan di salah satu dari 3 cctv itu gimana?" batinku.


Aku masih memantau Cassie di cctv, dia menelpon seseorang yang tidak lain adalah Bryan, pacarnya.


Di rumah Cassie.


"Babe, aku tau sekarang kenapa orang tua aku di tangkep polisi. Kamu pliss kesini sekarang. Aku mau nunjukin sesuatu" pinta Cassie.


"Kamu nemuin sesuatu di rumah kamu, babe?" tanya Bryan.


"Iya, aku cek cctv di rumah aku. Di rekaman cctv aku lihat Grey di situ, babe. Dia di rumah aku pas malem saat orang tua aku di tangkep polisi. Ayah ternyata ngelawan dia. Yang ayah bilang ke kita saat itu ternyata Greysie, babe" ujar Cassie, mulai menangis.


"Kamu tenang dulu ya, babe. Aku kesana sekarang, hm?" ucap Bryan.


"Iya, cepetan kesini" ujar Cassie.


Sementara itu, aku juga bisa mendengar apa yang mereka bicarakan melalui headsed di telingaku kerana sebelumnya aku juga menyadap rumah mereka.


"Sialan! Aahh fuckk!" umpatku, mengacak-acak rambutku.


"Sial-sial. Siaaaalll....! Gua harus cepetan hapus remakan cctv itu. Tapi gimana? Gimana??"


Aku terus mengutak-atik komputer di depanku untuk mencari alamat IP dari beberapa cctv yang belum diretas olehku sebelumnya.


"Siaalaann anjiingg!" umpatku, berteriak.


Aku terus mencari serta menulusuri setiap alamat IP dari cctv lain yang sudah aku retas sebelumnya.


Sementara itu, Greysie menelponku terus-menerus. Ia tidak tau keberadaanku karena aku mematikan lokasi telponku


"Lokasi terakhirnya di dalam rumah ini? Tapi di mana? Cara gak ada di mana-mana" batin Greysie.


"Raa? Caraa lo di mana?" teriak Greysie.


"Jangan bilang dia lompat ke kolam renang lagi?" gumam Greysie.


Greysie segera berlari sampai ke kolam renang. Sesampainya di sana, ia tak juga menemukanku.


Di dalam ruangan rahasia. Aku masih berusaha untuk mencari cara untuk menghapus remakan cctv dengan cara memakai komputer dari dalam rumah Cassie yang berada dekat dengan ruang kontrol cctv itu berada.


Untung saja cara yang aku gunakan itu berhasil. Aku sengaja meretas semua komputer di rumah mereka dengan perangkat yang aku tanamkan melalui flasdick sebelumnya agar bisa menghindari masalah yang seperti ini.


"Huff... Syukurlah..." batinku, legah.


Setelah selesai, aku langsung ke luar dari ruangan rahasia ini dan segera menghampiri Greysie.


"Caraa!" teriak Greysie.


"Apasih Grey, teriak mulu" sahutku, tiba-tiba.


"Lo dari mana aja, Ra?!" tanya Greysie.


"Grey... Aku ngantuk banget, gak biasanya aku ngantuk siang-siang gini. Kamu kasih aku obat apa semalam?" tanyaku, tanpa menjawabnya.


"Gua nanya di jawab, Ra! Jangan balik nanya" ujar Greysie, marah.


"Aku beneran ngantuk sumpah. Dari tadi di sekolah aku udah nahan ngantuk terus, Grey" ucapku, berusaha menahan rasa kantuk.


Greysie kemudian menarik tanganku sampai ke dalam kamar. Sementara aku langsung berbaring, lalu menatap wajah Greysie yang sedang kesal sedang mataku terpejam sesekali.


"Hmmf, tadimm ituuuhh aku xuman pergi ke tempat keerjah Ayahhh Greyy" ujarku, berbicara tak jelas.


"Cara ngantuk banget, Grey jangan kemana-mana. Luka di perut Grey belum sembuhh sepenuhmmfnyaa" ujarku, langsung tertidur.


Sementara itu, di rumah Cassie. Bryan baru saja tiba. Sedangkan Cassie langsung memeluk pacarnya itu sambil menangis.


"Babe... Huhuuu. Ini semua salah mereka, babe" ujar Cassie, menangis.


Bryan memeluk Cassie. Tak lama setelah itu, mereka pergi untuk mengecek ruangan rahasia di dalam kamar orang tua Cassie untuk melihat rekaman cctv sebelumnya.


Namun, di saat Cassie mengecek kembali cctv itu, rekaman sebelumnya sudah menghilang.


"Kok gak ada? Kok gak ada? Tadi beneran ada, babe. Aku beneran lihat si Greysie di dalam rekamam itu tadi, kamu percaya kan?" ujar Cassie, dengan mimik sedih dan penuh harap


"Emm, iya aku percaya sama kamu. Tapi kenapa rekamannya bisa hilang? Apa jangan-jangan mereka yang hapus jejaknya?" ujar Bryan.


"Mereka?" tanya Cassie.


"Iya, mereka. Cara dan Greysie. Kamu tau kan kalau aku selalu percaya sama kamu, babe?" ujar Bryan.


"Hmm" ucap Cassie, masih sedih.


"Aku udah cari tau soal Cara Callista itu, babe. Ternyata... Dia anak dari Edie Squire dan Sharda Malies. Ayahnya pemilik perusahaan 'Squire C' yang idenya itu di rebut Papa dan Ayah kamu. Dulu Papa aku dan Ayah kamu kerja sama buat ngerebut ide Ayah Cara Callista, terus hal itu ngebuat bisinis ayahnya hancur. Sekarang aku tau alasan kenapa si Cara menyelinap masuk ke dalam rumah kamu, babe. Sepertinya mereka berdua kerja sama buat menjarain orang tua kamu" jelas Bryan.


"Apah?! Jadi bener dugaan aku? Si Cara itu udah ngebuat ayah dan mama di penjara? Sialan!" umpat Cassie.


"Hm, sepertinya gitu. Kita harus selidiki mereka berdua lebih dalam lagi, babe" ujar Bryan.


"Babe, aku mau bales mereka" ucap Cassie, dengan mimik khas sedihnya yang manja.


"Kamu tenang aja ya, serahin aja semuanya sama aku, hm?" ujar Bryan, tersenyum.


Bryan lalu memerintahkan kembali Edrick, sekretaris pribadinya untuk menyelidiki aku dan Greysie, tak lupa juga latar belakang keluarga kami masing-masing.


********


Beberapa jam kemudian. Waktu menunjukan pukul 20:30 malam. Aku perlahan membuka mataku, lalu melirik sekitar.


"Grey?" panggilku.


Suara air dari dalam kamar mandi terdengar. Artinya Greysie sedang mandi sekarang. Hal itu membuatku bangun dari baringku dan langsung berlari ke arah kamar mandi.


"Grey...! Aku udah bilang berkali-kali jangan mandi dulu denger gak sih?!" ujarku berteriak, mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


"Buka Grey...! Bukain gak?!" teriakku.


"Apasih, Raa... Aku masih mandi ini" ujar Greysie.


"Ya makannya itu, Bukaaa... Lo jangan mandi anying! Udah di bilangin itu luka masih belum sembuh woyy!" ujarku, memarahi.


Greysie lalu mematikan air, ia segera memakai handuk dan membuka pintu kamar mandi. Sementara aku yang melihatnya segera menarik tangannya dan menyuruhnya duduk di tempat tidur. Lalu aku mengambil kotak P3k untuk mengobati lukanya.


"Hm, udah mau ke tutup lukanya. Tapi bukan berarti gua udah izinin lo buat mandi" ujarku.


Aku segera menaruh obat di bagian lukanya serta mengganti perban di perutnya.


"Jujur deh sekarang. Ini luka dapet dari mana?" tanyaku, pura-pura tak tahu.


"Emm... Itu..." ujar Greysie.


"Kalau Cara tau gua gegabah masuk ke rumah Cassie saat itu dia pasti marah lagi sekarang" batin Greysie.


"Grey, aku harus jalanin rencana aku sekarang untuk ngebuat polisi curiga sama aku. Keluarga Milstone udah masuk penjara, tapi... Aku juga kepengen keluarga Walker masuk penjara supaya aku bisa ngebunuh mereka sekaligus" ujarku.


"Seharusnya gak gini kejadiannya. Harusnya keluarga Milstone belum ke tangkep saat itu, tapi... Kenapa semuanya malah jadi gini?" ujarku, berkata pada diri sendiri.


"Maafin aku, Ra. Semua ini terjadi kerena kecorobohan aku" ujar Greysie.


"Gak, bukan salah kamu. Itu salah aku, seharusnya aku gak ninggalin kamu malam itu" ujarku, memasang pelekat perban.


"Maaf banget, Ra. Aku harus bohongin kamu" batin Greysie.


"Udah selesai, kamu ganti baju aja sana. Nanti kedinginan" ujarku, berdiri sambil memegang kotak P3k.

__ADS_1


Sebelum aku melangkah, Greysie langsung menarik tanganku, memakasa untuk duduk.


"Luka di tangan kamu, perbannya harus di ganti juga" ujar Greysie, merebut kotak P3k.


Greysie lalu membuka perban di tangan kanan dan kiriku untuk mengganti perban akibat terkena tusukan pisau di rumah sakit saat melindunginya dari keinginan untuk bundir serta luka akibat cakaran tangannya.


Setelah selesai mengganti perban di kedua tanganku, Greysie langsung berdiri dan berjalan ke depan lemari untuk mengganti pakaiannya.


Sementara aku berjalan ke kamar mandi, tentu saja aku ingin mandi. Namun, sebelum aku bisa membuka pintu kamar mandi Greysie langsung menahan tanganku.


"Ehh, siapa bilang kalau lo juga boleh mandi?" ujar Greysie.


"Apansih" ucapku, menepis tangannya.


"Gua bilang engak ya enggak. Perban di tangan lo barusan gua ganti. Jadi lo gak perlu mandi" larang Greysie, kekeh.


"Yaudah, iye, iye. Gua cuman mau nyuci muka dan sikat gigi doang. Udah lepasin tangan lo" ujarku.


"Hnh, dikirnya gua bisa di bohongin" batin Greysie.


"Gak mau. Lo mau nyuci muka? Ayo" ujar Greysie, menarik tanganku masuk ke dalam kamar mandi.


"Udah cepetan. Malah bengong lo" tegur Greysie.


"Ni anak kenapa ngeselin banget sumpah" batinku.


"Grey, lo ada dendam pribadi sama gua? Sifatnya sumpahh, gak tahan gua lama-lama" ujarku.


"What?! Apa lo bilang barusan?!" tanya Greysie, marah.


"Salah nanya lagi gua" batinku.


"Gak" jawabku, langsung membasuh wajah.


Setelah membasuh wajah, aku langsung menyikat gigi. Sementara Greysie masih dengan tangan bersilang, ia terus melihatku.


"Udah?" tanya Greysie.


Aku mengangguk dan berjalan keluar kamar mandi di ikuti Greysie. Kemudian, aku segera mengganti bajuku.


"Kita mau makan di mana Grey?" tanyaku.


"Ada, nanti juga kamu suka. Makanannya enak-enak. And... Tempatnya juga bagus" jawab Greysie.


Setelah selesai bersiap-siap. Kami langsung berangkat mencari tempat makan yang di maksudkan Greysie.


"Grey..." panggilku.


"Emm" sahutnya.


"Pliss, jangan gegabah lagi. Jangan lakuin semuanya sendiri, Grey. Kamu ingat kan? Kita bakal lakuin semuanya sama-sama terus? Aku gak mau kamu kenapa-napa. Pliss jangan buat aku makin ngerasa bersalah sama kamu. Aku udah nyeret kamu masuk ke dalam masalah aku, dan itu buat aku gak bisa tenang tiap saat. Aku takut Grey, aku takut semuanya bakal jadi salah aku selamanya. Aku gak mau ngerasain hal yang sama untuk kedua kalinya" ujarku, mulai gemetar karena menahan tangis.


"Pliss... Kamu lihat aku, Grey. Aku gak punya siapa-siapa lagi. Kalau kamu gak ada, aku bener-bener sendiri di dunia ini. Gak ada orang yang bisa aku jadiin tempat untuk bersandar lagi. Semua orang yang deket sama aku termasuk Vyo... ra" ujarku, suaraku mengecil saat menyebut nama Vyora.


"Mereka ninggalin aku sen-diriii..." ucapku, dengan isak tangis.


"Kenapa sifat Cara malah balik lagi kek setahun yang lalu? Katanya sebelumnya hal yang seperti ini gak akan terjadi lagi, tapi... Mungkin karena ini menyangkut gua kali ya? Selain itu pas Cara di rumah sakit kemarin... Dan itu semua karena dia ngelihat papa sama mama aku berantem kan? Gua gak bisa nemuin alasan lain selain itu. Gua yakin Cara juga punya trauma. Keknya Cara juga trauma karena semua orang yang deket sama dia ninggalin dia sendiri. Kamu tenang aja Ra, aku gak akan ninggalin kamu sendiri" batin Greysie.


"Ra, aku gak akan ninggalin kamu. Udah jangan sedih lagi. Kita kan mau pergi makan" ujar Greysie, menenangkan.


Sementara itu, di rumah Cassie. Ia masih merasa kesal dengan perbuatan Riska sebelumnya. Jadi dia memutuskan untuk menakut-nakuti Riska.


Sebelumnya Cassie sudah menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki kegiatan Riska di malam ini, dan Riska sedang berada di sebuah restaurant bersama dengan temen-temannya.


Beberapa saat kemudian, aku dan Greysie baru tiba di sebuah restaurant. Kami duduk di sana.


Di sana juga telah ada Riska dan teman-temannya, namun kami tak saling melihat. Tak lama kemudian, Riska berdiri.


"Gue ke toilet bentar" pamit Riska, berdiri.


Sementara itu, Cassie juga berada di sana bersama seorang bodyguard Bryan.


"Lo matiin lampu kalau gua udah masuk ke dalam toilet ngerti?!" perintah Cassie.


"Baik" ucap Bodyguard.


Setelah Riska pergi, Cassie juga mengikutinya dari belakang. Sesampainya di depan wc, Cassie langsung memakai jubah hitam dan sepatu hitam. Sementara itu, lampu di sekitaran wc di matikan oleh anak buah Bryan.


Langkah kaki Cassie terdengar di telinga Riska. Ia segera menyalakan lampu senter hpnya. Setelah lampu senter menyala, Riska masih menghadap ke cermin, di mana ia juga langsung melihat tatapan serta senyuman mematikan dari Cassie, tangan Cassie memegang pisau.


Sementara itu, ternyata di restaurant itu juga telah ada Rendi Aldrige Zaferino, dia adalah mantan pacar Greysie. Rendi terus melihat kami yang sedang tertawa, kami memesan makanan, tak lama kemudian aku pergi untuk mengangkat telepon.


"Grey, aku ke toilet bentar" pamitku, segera pergi.


"Halo" ucapku, menaruh hp di telingaku.


Saat melihat Greysie sendiri, Rendi meminjam telpon milik temannya untuk menelpon Greysie, karena jika memakai nomornya, Greysie tidak akan mengangkat telepon darinya.


Telepon masuk (berdering), nomor baru terukir di layar telpon Greysie, Greysie menjawabnya.


"Halo?" ucap Greysie.


"Halo Grey" sahut Rendi di telepon.


"Rendi?" tanya Greysie mengerutkan alisnya.


"Aku senang kalau kamu masih inget sama suara aku" ujar Rendi.


"Ngapain nelpon? pakai nomer baru lagi, kalau gak penting aku tutup" ucap Greysie segera menutup telepon, tetapi dihentikan oleh Rendi.


"Ehh, jangan tutup dulu Grey, kamu lagi di mana?" tanya Rendi.


"Rumah!" jawab Greysie ketus.


"Oh ya?" tanya Rendi.


"Kenapa sihh, aku tutup" ucap Greysie kesal.


"Jangan dulu Grey, kamu beneran? gak lagi diluar?" tanya Rendi lagi.


"Iya, puasss?!" bentak Greysie.


"Beneran?," berjalan ke arah Greysie, "karena aku lagi lihat kamu sekarang, hai Greyy" sapa Rendi, Greysie melihat kesamping, lalu terkejut.


"Kamuu" ucap Greysie membulatkan matanya. Rendi kemudian duduk di tempatku.


"Siapa bilang kamu boleh duduk!" larang Greysie, terlihat sangat kesal.


"Kan gak ada siapa pun di sini Grey" balas Rendi lalu tersenyum.


"Itu tempat duduk Cara taukk!" bentak Greysie.


"Iya, tapi kan dianya lagi gak ada Grey" balas Rendi.


Greysie terlihat sangat tidak suka, kemudian Rendi mulai memegang tangan Greysie.


"Grey, kita gak bisa balik kek dulu lagi? aku masih sayang sama kamu" ucap Rendi.


Greysie makin merasa kesal saat melihat tangan Rendi memegang tangannya.


"Gak bisa! aku juga gak mau" jawab Greysie ketus lagi.


"Sebelumnya.. aku nyesel banget Grey, tapi aku beneran sayang sama kamu, kamu tau itu kan?" jelas Rendi memohon, dan memaksa. Lalu Greysie menarik kasar tangannya.


"Don't you 'ever' touch me! Again! mending kamu pergi atau aku yang pergi" desak Greysie terlihat marah.


"Okey, okeyy, aku yang pergi, tapi aku janji, aku pasti bakalan dapetin kamu lagi, aku akan tetap berusaha buat dapetin kamu lagi Grey," berjalan mundur, "bagaimanapun caranya" teriak Rendi membuat orang-orang di sana melihat kearah mereka.


Sementara itu, aku masih berjalan ke arah toilet sambil berbicara di telepon.


"Halo lista, kamu lagi ngapain?" tanya Rasya.


"Em, aku lagi jalan" jawabku.


"Hm, ganggu gak?" tanya Rasya lagi.


"Gak, gak kok" jawabku.


"Besok kamu ada waktu gak?" tanya Rasya.


"Hm, yaah" jawabku spontan.


"Ok, kalau gitu besok nanti aku jemput kamu yaa?" ucap Rasya terdengar senang.


"Iya" balasku lalu tersenyum.


"Oke, see u..," pamit Rasya di telpon.


Aku menutup telepon, kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepala. Namun tiba-tiba saja aku mendengar suara teriakan.


Aaaaaahh.......!


Setelah itu, aku melihat Riska keluar dari toilet dengan wajah ketakutan. Di dalam wc. Cassie tersenyum puas setelah berhasil mengerjai Riska. Cassie lalu melepas semua pakaiannya dan mamasukannya ke dalam tas miliknya.


"Dia kenapa?" gumamku, melihat Riska.


"Hey, hey," menghentikan Riska, "u okay?" tanyaku penasaran.


"Gak pp, gua pergi dulu" ucap Riska dengan wajah masih ketakutan, kemudian berlari.


"Hey," melihatnya, "tunggu, aaahhss" panggilku sedikit berteriak padanya.


Riska sudah terlalu jauh, kemudian aku berjalan mendekati toilet. Di saat aku ingin membuka pintunya, seseorang membukanya dari dalam, dia keluar, aku sedikit terkejut melihatnya.


"Cassie?" ucapku.


"Hmm, mencurigakan" batinku.


"Eeh, Raa" jawab Cassie kaku.


"Kamu.. lagi makan di sini juga?" tanyaku melihat gelagapnya yang aneh.


"Iyaa, emm" jawab Cassie kaku, matanya melihat kearah yang lain.


"Hm, btw tadi aku ketemu Riska di sini, kamu barengan sama dia or ketemu dia di dalem? dia gak apa-apain kamu lagi kan?" tanyaku, pura-pura cemas.


"Em, emang tadi ada Riska? aku gak tau, soalnya aku lagi di wc dalam, terus tiba-tiba aja lampunya mati, and.. aku kaget karena denger suara orang yang teriak, dan pas aku keluar lampunya udah nyala tapi gak ada siapa pun" jelas Cassie padaku.


"Hmm" ucapku, menaik turunkan alis.


"Aku pergi dulu yaa" pamit Cassie segera berlari.


"Yeeaah, okk, hati-ha..," melihanya berlari, "aneh banget. Pasti dia ngerjain Riska tadi" batinku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2